Apakah Pisau Tajam ISIS Melegakan Hati Kaum Mukmin?

Leave a comment

“Sabtu 22 Februari 2014 pasukan Abul Fadl Al-Abbas, yang mengendalikan Khanaser, telah membantai 26 pemuda yang mereka tangkap pada pekan lalu. Sore hari itu, Brigade membawa anak-anak muda itu dalam kondisi mata ditutup keluar dari gedung pusat kebudayaan, yang digunakan oleh brigade sebagai markas.

Para milisi itu terus menghina dan menuduh mereka sebagai teroris dan “anak-anak Yazid”. Mereka dibariskan ke dinding lalu diberondong dengan tembakan berat. Setelah itu, mereka mengangkut mayat-mayatnya ke gunung yang terletak di dekat kota Al-Hammam di sebelah selatan Khanaser, dan membuangnya di sana.”

Abu Syahd Al-Jabburi salah satu komandan Brigade Abu Fadl Al-Abbas menggelandang dan membantai seorang kakek tua dalam peristiwa Nabek Desember 2013

Peristiwa tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kebiadaban milisi Syiah terhadap warga sipil Suriah ahli sunah selama tahun kedua Krisis Suriah sampai awal tahun ketiga. Kesaksian tersebut dituturkan oleh Haji Yassin kepada Syrian Network untuk Hak Asasi Manusia. Haji Yassin tinggal di pedesaan Aleppo selatan, wilayah pembantaian tersebut.

Brigade Abu Fadl Abbbas adalah milisi Syiah Irak yang masuk ke Suriah untuk membantai umat Islam dengan dalih membela kuil Zainab. Kelompok-kelompok Syiah lainnya dari Iran, Hizbullah Lebanon dan beberapa negara lain telah membantu rezim Suriah dalam operasi penembakan tanpa pandang bulu; membunuh, menyiksa dan membantai siapa saja. Pembantaian yang paling besar setidaknya terjadi di wilayah pinggiran Damaskus, Nabek, Qushair, dan beberapa desa di pinggiran Aleppo. Di desa Rasm An-Nafl, Ammar menggambarkan pembantaian brutal mereka:

Milisi Syiah menginjak korban perang dalam sebuah kemenangan mereka di Aleppo 2013 lalu

“Saya berada di desa ini pada Sabtu 21 Juni 2013. Kami mendengar bahwa sekelompok pejuang rezim Suriah sedang dalam perjalanan ke desa. Warga menyingkir seperti biasa yang kita lakukan ketika sekelompok pejuang rezim Suriah datang. Kami menuju ke daerah dua kilometer jauhnya dari desa. Milisi yang berafiliasi rezim Suriah datang kepada kami dan mengatakan bahwa kami tidak perlu khawatir dan bisa kembali ke desa.

Beberapa warga kembali ke desa. Mereka berkumpul di tiga rumah. Setelah itu, mereka membom rumah-rumah itu dan membunuh mereka semua dan mengumpulkan abunya. Mereka mengkhianati warga. Mereka adalah penjahat dan pembunuh.”
“Bahkan lebih mengerikan adalah apa yang mereka lakukan kepada warga yang kembali dan tidak memasuki rumah. Mereka dibom. Milisi Syiah itu membantai dengan pisau, dan melemparkan tubuh mereka di sumur. Beberapa tanda-tanda masih ada dan sumurnya juga masih ada.”
“Setelah pembantaian itu, mereka menjarah semua milik kami. Mereka mengambil semuanya; emas, uang, listrik perangkat, mobil, traktor, dan alat-alat pertanian lainnya yang mereka temukan. Mereka juga mencuri lebih dari dua ribu hewan ternak.”

Sekitar 200 warga Rasm Nafl dibakar lalu dimasukkan ke dalam sumur ini oleh milisi Syiah

Babak Baru bagi Syiah
Selama itu, milisi Syiah boleh berpesta atas kebiadaban mereka. Namun sejak Juni 2014 hingga pekan-pekan terakhir ini, mereka dipaksa untuk menghadapi kenyataan lain. Di Suriah, sejak Juli 2014, Daulah sIslam atau lebih dikenal dengan sebutan ISIS, berturut-turut menguasai Markas Tentara Bashar di Raqqah: Divisi 17, Resimen 121, Brigade 93 dan 137, serta pangkalan militer Tabqah. Tentara-tentara Assad disembelih, lalu kepalanya dipajang di pagar-pagar pinggir jalan. Sekitar 250 di antara mereka digiring dalam keadaan telanjang seperti kambing, lalu dieksekusi.

ISIS menggiring tentara Assad untuk dieksekusi dalam pembebasan Pangkalan Udara Tabqah

Di Irak, ISIS membantai 1700 tentara, polisi dan milisi Syiah. Mereka digiring, diangkut dengan truk, dibariskan di tanah, lalu diberondong dengan peluru panas. Gambaran lain yang lebih mengerikan adalah ketika tentara ISIS mengeksekusi satu per satu taruna muda itu, lalu menceburkannya ke dalam sungai Tigris. Selama sebulan setelah peristiwa itu, sekurang-kurangnya telah ditemukan 400 mayat mengambang di aliran sungai. Sebagian orang tua mereka berteriak, “Itu anak saya berada dalam video,” yang dirilis oleh ISIS.

Tentara dan polisi Syiah didor satu persatu dan dilemparkan ke sungai Tigris

Air sungai berubah merah oleh darah

Evakuasi mayat-mayat yang mengambang di sungai Tigris setelah eksekusi

Pisau tajam ISIS yang tidak mengenal tawar-menawar membuat Syiah gusar. Puluhan kuil dan tempat suci mereka hancur lebur oleh bom dan alat berat Daulah. Husaihiyah Syaikh Ibrahim di Mosul, Husainiyah Qubbah di Mosul, Husainiyah Saad bin Uqal di Tal’afar, Kuil Al Binti di Mosul, tempat ziarah Kuil Ahmad Ar Rifai di Nahiyah Mahlabiyah, dan tempat ibadah Husainiyah Qudu di Tal’afar rata dengan tanah.

Penghancuran Husainiyah Syiah di Mosul

Mengantisipasi dominasi ISIS yang semakin meluas, Rezim Irak tidak segan-segan meminta bantuan kepada Amerika Serikat. Iran sebagai otoritas yang selalu menutupi kemungkinan kerja sama dengan negeri penjajah itu pun tidak malu-malu untuk berjibaku bersama demi menyelamatkan rezim Syiah tersebut. Jerman dan beberapa negara yang sekutu Amerika serikat melihat kebrutalan ISIS harus dihentikan.

Namun, rupanya tindakan penyembelihan, memotong kepala, memamerkan dan menggantungkannya di jalan-jalan tidak hanya membuat musuh kecut, umat Islam pun merinding ngeri dan bertanya-tanya. Apakah menggorok leher dengan pisau, memajang kepala di pinggir jalan dan dipertontonkan, diunggah dan disebarkan melalui internet dan semua tindakan mengerikan itu sah secara agama? Ini adalah pertanyaan logis bagi setiap muslim. Sebab dalam ajaran Islam, ilmu mendahului perkataan dan tindakan.

Menyembelih dan membawa kepala manusia dalam konteks sejarah Islam
Sebagian ulama berpendapat menyembelih tawanan bukanlah sunah kenabian yang diwariskan. Islam mengajarkan kebaikan lebih daripada nilai-nilai kemanusiaan yang banyak disuarakan hari ini. Termasuk kepada tawanan perang.

وَيُطۡعِمُونَ ٱلطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ مِسۡكِينٗا وَيَتِيمٗا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan.” (Al-Insan: 8).

Rasulullah saw berpesan dalam urusan tawanan:

اسْتَوْصُوا بِالْأُسَارَى خَيْرًا

“Berbuat baiklah kepada para tawanan.”  (HR Thabrani, sanadnya dinyatakan hasan oleh Al-Haitsami. Al-Albani menyatakan hadits ini dhaif).

Perintah Allah tersebut diejawantahkan dengan baik oleh kaum muslimin di lapangan. Bukan klaim, melainkan diakui oleh tahanan perang Badar, Abu Aziz bin Umair (Saudara Mus’ab bin Umair), “Saat makan siang atau makan malam, mereka (para sahabat) hanya makan kurma, mereka memberi aku roti karena wasiat Rasulullah kepada mereka.” (HR Thabrani dengan sanad hasan).

Salah satu perlakuan terhadap tawanan AS, Bowe Rober Berghdahl, oleh Taliban yang berakhir dengan pertukaran tahanan

As-Sarkhasi dalam Syarh As-Sair Al-Kabir mengatakan, “Bila seorang pemimpin Islam memutuskan tahanan harus dibunuh, maka ia tidak boleh menyiksanya dengan kehausan dan kelaparan, tetapi hendaknya dibunuh dengan cara yang baik.” Rasulullah saw bersabda:

إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ فَإِذَا قَتَلْتُمْ فَأَحْسِنُوا الْقِتْلَةَ وَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذَّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ

“Allah itu mewajibkan untuk berbuat baik terhadap segala sesuatu. Jika kalian membunuh maka bunuhlah dengan cara yang baik. Demikian pula, jika kalian menyembelih maka sembelihlah dengan cara yang baik. Tajamkanlah pisau dan buatlah hewan sembelihan tersebut tenang.” (HR Muslim).

Imam Nawawi ketika menjelaskan hadits tersebut mengatakan, “Ini berlaku umum bagi setiap sembelihan, dibunuh karena qishash, atau hukuman had.”

Mengomentari hadis yang sama, Ibnu Taimiyyah melihat bahwa membunuh adalah untuk manusia, sedangkan menyembelih adalah untuk binatang. Beliau mengatakan, “Hadis ini menjelaskan bahwa berbuat baik wajib dalam segala keadaan, bahkan dalam hal membunuh, baik manusia maupun binatang. Allah mengajarkan kepada beliau agar berbuat baik dalam: membunuh bagi manusia, dan menyembelih bagi binatang.”

Sebagai representasi cara yang baik dalam membunuh, yang dipraktikkan sejak dulu sampai hari ini, adalah memenggal leher dengan sekali tebas. Ibnu Qayyim mengatakan, “Memenggal leher dengan pedang adalah cara terbaik untuk membunuh dan paling cepat memisahkan nyawa dari raga. Allah pun telah mengajarkan pembunuhan terhadap orang kafir murtad dengan memenggal leher, bukan melukai tubuhnya dengan pedang.”

Selain itu, menyembelih manusia bukanlah sunnah Nabi, melainkan kebiasaan Khawarij masa lalu. Puncak kemarahan Ali terhadap Khawarij adalah setelah mereka menyembelih Abdullah bin Khabbab bin Arts. Tidak cukup itu saja, mereka juga membelah perut istrinya yang sedang hamil dan mengeluarkan isinya. Ini kejam! Ali ra. marah dan membinasakan mereka di Nahrawan.

Ayat “bila kalian bertemu dengan orang kafir (di medan perang) maka penggallah leher-leher mereka” (Muhammad: 4) adalah dalam suasana perang, saling membunuh. Maka perintahnya adalah menyabet leher-leher mereka dengan pedang, sebagai cara tercepat untuk membunuh lawan. Tabiat memutuskan kepala dengan sabetan pedang dalam situasi perang berbeda dengan memisahkan kepala tawanan dengan menyembelihnya.

Tentang hadits, “Apakah kalian mendengar wahai Quraisy, demi Zat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, kami datang kepada kalian untuk menyembelih.” (HR Ahmad). Hadits ini tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan menyembelih tawanan, karena menyembelih dalam hadits ini adalah kiasan dari membunuh. Hal ini seperti firman Allah:

وَإِذْ نَجَّيْنَاكُمْ مِنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءَكُمْ وَفِي ذَلِكُمْ بَلَاءٌ مِنْ رَبِّكُمْ عَظِيمٌ

“Dan (ingatlah) ketika Kami selamatkan kamu dari (Fir´aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. Dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu.” (Al-Baqarah: 49).

As-Sam’ani mengatakan, “Makna firman Allah: mereka menyembelih anak-anak kalian, adalah membunuh.” Az-Zibaidi menjelaskan sabda Nabi tersebut, “Aku datang kepada kalian untuk menyembelih, maknanya adalah membunuh kalian.” Sebagian ulama melihat sabda beliau tersebut merupakan peringatan agar permusuhan mereka berkurang. Terbukti bahwa ketika Fathu Mekkah, beliau tidak menyembelihi mereka, tetapi mengampuni. Riwayat tentang pemotongan kepala Abu Jahal dan dibawa kepada Nabi saw tidaklah sahih. Al-Bukhari memang membuat bab tersendiri tentang kematian Abu Jahal di Perang Badar. Di antara redaksinya adalah:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّهُ أَتَى أَبَا جَهْلٍ وَبِهِ رَمَقٌ يَوْمَ بَدْرٍ فَقَالَ أَبُو جَهْلٍ هَلْ أَعْمَدُ مِنْ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ

Diriwayatkan dari Abdullah (bin Mas’ud) ra. bahwa ia mendatangi Abu Jahal dalam keadaan kritis pada perang Badar. Maka Abu Jahal berkata, “Apakah aku lebih celaka dari seseorang yang kalian bunuh?” [HR. Bukhari, No.3666].

فَانْطَلَقَ ابْنُ مَسْعُودٍ فَوَجَدَهُ قَدْ ضَرَبَهُ ابْنَا عَفْرَاءَ حَتَّى بَرَدَ قَالَ أَأَنْتَ أَبُو جَهْلٍ قَالَ فَأَخَذَ بِلِحْيَتِهِ قَالَ وَهَلْ فَوْقَ رَجُلٍ قَتَلْتُمُوهُ أَوْ رَجُلٍ قَتَلَهُ قَوْمُهُ

“Siapa yang mau melihat apa yang dilakukan Abu Jahal, maka berangkatlah. Maka Abdullah bin Mas’ud berangkat lalu dia mendapatkannya dalam keadaan telah ditebas oleh dua putra Afra’ hingga tubuhnya terkapar. Abdullah bin Mas’ud bertanya, ‘Kamukah Abu Jahal?’ Lalu dia menarik jenggot Abu Jahal dan berkata, ‘Apakah kamu berada di atas orang-orang yang membunuhmu atau seorang yang dibunuh oleh kaumnya?” [HR. Bukhari, No.3667].

Dan beberapa redaksi selanjutnya. Namun redaksi yang mengisahkan Ibnu Mas’ud memotong kepala Abu Jahal, lalu mengatakan, “Wahai Rasulullah, ini kepala musuh Allah, Abu Jahal” adalah tidak shahih. Hadist ini diriwayatkan oleh Ahmad, Thabrani, Ibnu Abi Syaibah, dari jalur Abu Ishaq As-Subai’i dari Abu Ubaidah. Abu Ishaq adalah perawi mudallis. Buku-buku sejarah memuat pemenggalan kepala ini sampai sabda Nabi saw, “Ini adalah Firaun umat ini.”

Kisah pengutusan Abdullah bin Unais kepada Sufyan bin Abdullah, yang kemudian Abdullah bin Zubair membawa kepala Sufyan kepada Nabi saw. Kisah Pembunuhan Ka’b bin Al-Asyraf, dan lainnya tidaklah sahih sehingga tidak bisa dijadikan dasar hukum.

Menyembelih dalam Konteks Pembalasan (Qishash)
Bagaimana bila orang kafir yang memulai kejahatan dengan memotong kepala muslim? Dalam hal ini Allah membolehkan karena masuk dalam hukum qishash dan pembalasan.

وَإِنْ عَاقَبْتُمْ فَعَاقِبُوا بِمِثْلِ مَا عُوقِبْتُمْ بِهِ وَلَئِنْ صَبَرْتُمْ لَهُوَ خَيْرٌ لِلصَّابِرِينَ

“Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar.” (An-Nahl: 126).

Penganiayaan terhadap seorang ulama di Burma

Ibnu Taimiyyah mengatakan, “Bila orang kafir merusak tubuh kaum muslimin, maka kaum muslimin berhak membalasnya. Mereka boleh melakukannya agar sama dan terbalas. Atau mereka tidak melakukannya dan bersabar. Ini lebih utama.” (Fatawa Al-Kubra, IV/610).

Perlu disebutkan bahwa ulama memasukkan tindakan memotong kepala ke dalam mustlah. Mutslah adalah merusak tubuh hewan atau manusia dan menyiksanya dengan memotong bagian tubuhnya, seperti hidung, telinga, membelah perut dan semacamnya, baik dalam keadaan hidup maupun mati. (Nihayah fi Gharib Al-Hadits wal Atsar, IV/294).

Larangan mutslah sangat tegas disampaikan oleh Nabi saw dalam wasiat beliau kepada pasukan, “… janganlah kalian memutilasi (mutslah) dan membunuh anak-anak.” (Jami’ Ash-Shaghir; Shahih)

Dalam Syarh Fathul Qadir (V/452) dijelaskan lebih jauh bahwa mutslah adalah menyiksa atau memotong-motong mayat atau orang hidup bukan dalam pertempuran. Tabiat perang jelas membolehkan hal itu seperti disebutkan dalam banyak ayat Al-Qur’an.

Menyembelih, Membawa dan Memublikasikan Kepala Musuh
Buku-buku fikih menjelaskan bahwa memotong kepala, lalu memamerkan dan membawanya dari satu negeri ke negeri lainnya tidaklah dibolehkan. Ibnu Qudamah di Al-Mughni IX/261: Makruh membawa kepala orang kafir dari satu negeri ke negeri lainnya, atau melemparkannya dengan manjaniq karena ini termasuk mutslah (mutilasi). Diriwayatkan dari Uqbah bin Amir bahwa ia menghadap Abu Bakar dengan membawa kepala pemimpin Romawi. Maka Abu Bakar tidak menyukainya. Dikatakan kepadanya, “Wahai Khalifah Rasulullah, mereka melalukan ini pada kita.” Abu Bakar menjawab, “Apakah kita akan meniru kebiasaan Persia dan Romawi? Jangan membawa kepala. Cukuplah surat dan kabar saja.”

ISIS memajang kepala para tentara Divisi 17 Raqqah

Namun, ulama membolehkan hal itu bila ada maslahat yang mendukungnya. Imam Asy-Syaukani menjelaskan, “Bila membawa kepala itu bisa menguatkan hati orang beriman atau melemahkan kekuatan kaum kafir, maka ini tidaklah terlarang. Itu merupakan tindakan yang baik dan kebijakan yang benar. Tidak menjadi alasan tidak boleh karena itu najis karena membawanya bisa dilakukan tanpa menyentuhnya.” (Sailul Jarar, IX/568)

Lebih detail, menurut ulama madzhab yang empat, hukum ini tidak lepas dari kemungkinan haram, makruh, dan boleh dengan catatan (alasan). Para ulama Malikiyah kebanyakan berpendapat haram. Membawa kepala dari satu negara ke negara lain menurut Malikiyah termasuk mutslah (mutilasi) yang diharamkan. Ulama Mazhab Syafi’i dan Hambali memakruhkan membawa kepala musuh. Dalilnya adalah hadits Uqbah bin Amir yang membawa kepala kepada Khalifah Abu Bakar As-Shidiq.

Ulama Mazhab Hanafi mengatakan, “Tidak apa-apa (boleh) membawa kepala orang musyrik bila itu bisa membuat mereka jera. Misalnya kepala pembesar mereka. Allah berfirman, “Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai-beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Anfal: 57).

Namun menyembelih dan memamerkan kepala di media menjadi makruh atau bahkan haram bila dampak buruknya lebih besar daripada maslahat yang hendak dicapai. Misalnya menjadi sebab bersatunya musuh melawan kaum muslimin. Atau membuat masyarakat muslim awam menjauh dari mujahidin. Hal ini dijelaskan oleh Syaikh Hamid Al-Ali (ulama Kuwait) ketika menjelaskan kondisi kedua bolehnya menyembelih: yaitu bila bisa merealisasikan maslahat yang muktabar secara syariat, misalnya menghinakan, nasihat, menimbulkan teror ke dalam hati mereka, kapok dari memusuhi, dan memecah persatuan mereka. Misalnya yang dibunuh adalah pembesar dan pemimpin mereka. Selain itu adalah melegakan hati orang beriman.

Kondisi tertentu telah membuat beberapa hal yang dilarang menjadi boleh. Rasulullah saw dibolehkan oleh Allah membakar perkebunan kurma milik bani Nadhir saat mengepung mereka. Hal ini dijelaskan secara lengkap dalam surat Al-Hasyr. Imam Asa-Syaikani membuat bab: Menghindari mutslah, membakar (pohon), merusak tanaman, dan menghancurkan bangunan kecuali ada keperluan dan maslahat. (Al-Muntaqa, III/321).

As-Sarkhasi mengatakan, “Kebanyakan guru-guru kami —semoga Allah merahmati mereka— berpendapat bahwa bila tindakan itu bisa membuat rugi dan dongkol musyrikin atau melegakan hati kaum muslimin, contohnya yang dibunuh adalah para pemimpin orang-orang musyrik dan tokoh utama mereka, maka ini tidak dilarang.” (Asy-Syarh Al-Kabir: I/110).

Dalam hal melempar kepala dengan manjaniq ke tempat musuh, Ibnu Qudamah mengatakan, “Makruh melemparnya dengan manjaniq. Ahmad menyebutkan teksnya. Namun bila mereka melakukannya karena ada maslahat, maka ini boleh. Dasar kami karena Amr bin Al-Ash ketika mengepung Iskandariyah, musuh merasa menang dengan mendapatkan kepala seorang muslim. Mereka mengambil kepala ini dan membawa kepada kaumnya untuk menyemangati. Maka Amr berkata kepada kaum muslimin, Ambillah seorang dari mereka lalu potonglah kepalanya, lalu lemparkanlah kepada mereka dengan manjaniq. Mereka pun melakukannya, sehingga penduduk Iskandariyah mengembalikan kepala muslim kepada kaumnya.” (Al-Mughni: XX/262).

Dapat disimpulkan bahwa selain dalam kondisi perang, menyembelih dan menunjukkan kepala kepada publik dibolehkan dalam dua keadaan. Pertama karena qishash. Kedua, ada maslahat yang jelas. Catatan ulama, menentukan kebijakan berdasarkan maslahat menjadi pertimbangan para pemimpin, bukan personal.

Apa yang dilakukan ISIS barang kali tidak jauh daripada tindakan balasan atas semua kebiadaban terhadap umat Islam selama bertahun-tahun. Hati orang beriman resah dan gelisah karena melihat musuh-musuh Allah memerangi Alah dan Rasul-Nya. Orang-orang kafir itu berusaha mematikan cahaya Allah. (Lihat tafsir As-Sa’di, I/331). Tidak ada yang hendak mereka padamkan kecuali tegaknya syariat Islam. Ketika sejumlah umat Islam di tengah padang pasir Afrika Tengah menunjukkan cahaya syariat Islam, kekuatan kafir Prancis datang untuk membasminya. Bila bukan karena Islam, kekayaan apa yang hendak diraih dari negeri itu?

Tentara Bassar Assad menghadapi pedang ISIS dalam pembebasan Pangkalan Udara Tabqah, Raqqah.

Ketika umat Islam menyaksikan kebrutalan musuh terhadap saudara-saudara mereka, maka tanggung jawab untuk membalaskan ada di pundaknya. Ia selalu ingat kekejaman itu. Mereka tidak lupa kebiadaban terhadap muslim di Burma, Taliban, Irak, Suriah dan lainnya. Belum lagi kezaliman terhadap napi yang disebut sebagai teroris di penjara-penjara thaghut dan Amerika Serikat.

Pembantaian santri dan ustadz pondok pesantren walisongo poso, Juli 2000 (foto PKPU)

Dalam skala lokal, pembantaian umat Islam di Talang Sari, tragedi Tanjung Priok, pembantaian di Ambon, penyiksaan terhadap tahanan terorisme, kezaliman terhadap keluarganya bukanlah perkara yang mudah dilupakan. Hal-hal yang tidak adil seperti ini barang kali dianggap berlalu begitu saja, tetapi bagi umat Islam yang tidak rela kehinaan menimpa Islam, ia akan selalu ingat.

Di sisi lain, keyakinan umat bahwa Islam mulia dan unggul, tidak ada yang mengungguli. Allah tidak rela kehinaan terhadap Islam dan umat Islam mengakar dalam hati setiap muslim yang memiliki kecemburuan terhadap agamanya. Sejarah masa lalu menjadi contoh bagi mereka.

"Cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka (Al-Anfal: 57), sebuah judul video ISIS sebagai peringatan bagi musuh.

Maka apa yang dilakukan ISIS yang dianggap sadis itu tidak lepas dari ulah dan kebiadaban musuh-musuh Islam. Mereka hanya membalas. Maka ada penyembelihan dan pembantaian karena qishash itu diwajibkan. Karena ada kehidupan bagi umat Islam dalam qishash.
Ya, ada kehidupan. Inilah keadilan Allah. Allah menunjukkan cintanya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman dan memperhatikan keadaan mereka, hingga membuat syariat yang salah satu tujuannya adalah melegakan hati orang beriman, dan menghilangkan kesesakan dada mereka. (Tafsir As-Sa’di). Allah berfirman:

قَٰتِلُوهُمۡ يُعَذِّبۡهُمُ ٱللَّهُ بِأَيۡدِيكُمۡ وَيُخۡزِهِمۡ وَيَنصُرۡكُمۡ عَلَيۡهِمۡ وَيَشۡفِ صُدُورَ قَوۡمٖ مُّؤۡمِنِينَ ١٤ وَيُذۡهِبۡ غَيۡظَ قُلُوبِهِمۡۗ … ١٥

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin.” (At-Taubah: 14-15).

"Melegakan hati orang-orang beriman" sebuah pesan mengikuti penyembelihan wartawan AS, James Foley, oleh ISIS

Penutup
Allah memiliki cara untuk melegakan hati kaum mukminin. Allah mempekerjakan hamba-hamba-Nya yang terpilih untuk memenangkan agama dan meninggikan kalimat-Nya; memuliakan dan menolong orang-orang beriman. Apakah Daulah Islam (IS/ISIS) dengan caranya memperlakukan musuh melegakan hati kaum mukmin? Kami tinggalkan Anda untuk berkomentar! (Agus Abdullah)

 

Daftar Kumpulan Foto Mujahidin yang Dibunuh oleh ISIS

Leave a comment

By Doen Fahri August 31, 2014 12:44

Daftar Kumpulan Foto Mujahidin yang Dibunuh oleh ISIS


Berikut ini adalah foto-foto sejumlah mujahidin yang telah dibunuh oleh ISIS. Foto-foto ini berasal dari berbagai tweet yang menggunakan hashtag : #مجاهدون_قتلتهم_داعش More

Sampai Kapan Kita Terus Berkutat dengan Dampak-dampak yang Ada tanpa Beranjak untuk Memperhatikan Sebab-sebabnya?

Leave a comment

Oleh : Syaikh Abu Bashir Ath Tharthusi
Semua orang berbicara tentang koalisi internasional yang diproyeksikan untuk memerangi  apa yang mereka namakan sebagai ‘terorisme’, dengan alasan untuk memerangi Jamaah Daulah “ISIS”. Mereka bertanya-tanya apa hukumnya bagi orang yang bekerjasama dan berkomplot dengan koalisi ini untuk mencapai tujuannya? Namun mereka tidak memperhatikan sebab-sebab yang membantu terbentuknya koalisi antara negara-negara kafir internasional serta negara-negara munafik untuk memerangi negeri-negeri kaum muslimin.

Semua orang terlibat ingin mengklasifikasikan orang-orang, dan mengkafirkan siapa saja yang bekerjasama atau berniat untuk bekerjasama dengan koalisi internasional ini, namun mereka tidak melihat siapa sebenarnya yang menyebabkan terwujudnya koalisi ini? Siapa sebenarnya yang membantu akan terbentuknya koalisi ini, dan siapa sebenarnya yang mempermudah misinya, dan hingga kini masih terus membantunya?! More

Syaikh Yusuf Qardhawi mengecam koalisi AS untuk perangi ISIS

Leave a comment

Senin, 22 Zulqa’dah 1435 H / 15 September 2014 21:57
Syaikh Yusuf Qardhawi mengecam koalisi AS untuk perangi ISIS

Egyptian-born cleric Sheikh Yussef al-Qaradawi talks during a news conference in Algiers March 28, 2007. Qardawi attended the fifth International Al-Quds conference in Algeria. REUTERSZohra Bensemra (ALGERIA)

Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah, tabir mimpi sang syuhada’ Malaysia tertunai sudah

Leave a comment

Senin, 22 Zulqa’dah 1435 H / 15 September 2014 19:12
Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah, tabir mimpi sang syuhada' Malaysia tertunai sudah

Ustadz Lotfi Ariffin rahimahullah

Ayah Yang Baik Itu Bernama Al-Maqdisi

Leave a comment

Ada sebuah konsep parenting yang sering diterapkan di luar ruang lingkup parenting itu sendiri, semisal dunia kerja dan keorganisasian. “Jangan marahi anakmu di depan umum”. Ya, ayah (pemimpin) yang baik adalah ayah yang di luar rumah senantiasa melindungi anaknya  dari lemparan batu, tapi di dalam rumah terkadang melayangkan gagang sapu dalam rangka mendidik dan memberi pelajaran tentang mana yang boleh mana yang tidak.

More

Keutamaan Jihad Media

Leave a comment

Publikasi: Sabtu, 11 Zulqa’dah 1435 H / 6 September 2014 08:56

Jihad Media Islam

An-najah.net – Jihad akan senantiasa ada sampai datangnya hari kiamat. Bahkan sekarang ini muncul istilah baru namanya jihad media, yang pada akhirnya muncul sebutan Mujahid Media. Mujahid media mereka yang menjalankan peranan Al Qur’an dalam membentuk opini yang menguntungkan Islam dan kaum muslimin. Mereka mendidik umat, menyebarkan ilmu syari’at, memotivasi kaum muslimin, memberikan solusi-solusi kehidupan praktis, melakukan upaya pemberdayaan dan sebagainya. (AM. Waskito, Invasi Media Melanda kehidupan Umat, hal 186).

Syeikh Al Qardhawi berkata tentang pentingnya jihad media; “Karena itu termasuk dalam jihad lisan adalah jihad dengan pena, sebab pena adalah salah satu dari dua lisan, sebagaimana dikatakan orang Arab. Pena di era sekarang adalah percetakan dan yang sejenisnya, komputer, setiap peralatan yang dapat digunakan untuk menulis, seperti misalnya jaringan internet. Termasuk media yang penting dalam jihad dimasa kita sekarang ini adalah jaringan informasi internasional yang terkenal dengan nama internet, dimana jangkauannya sangat luas dari hari ke hari dan berpuluh-puluh bahkan berates-ratus juga manusia dari timur dan barat dapat mengambil manfaat dan pelajaran darinya. Penulis yakin, bahwa jihad seperti inilah yang terpenting dan harus diperhatikan dimasa sekarang”.

More

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.