Hakekat kesombongan

Salah satu hal yang dapat menjadikan amal saleh rusak adalah rasa bangga pada diri sendiri, merasa bangga pada diri sendiri merasa cukup dengan itu dan bersikap sombong.

Penyakit yang berbahaya yang dapat merembes masuk untuk menjadikan jiwa manusia ternoda ini dapat menghancurkan amal saleh. Bahkan dampak bahayanya bisa masuk pada wilayah syirik khafi (samar) kepada Allah.

Artinya seorang yang bekerja dengan lelah dan sungguh-sungguh untuk melaksanakan sebuah amal saleh, kemudian penyakit sombong datang padanya, maka ketika itu pula menghancurkan amal salehnya. Kerena Rasulullah saw sudah memperingatkan, beliau bersabda. “Adapun amal-amal yang membinasakan adalah berprilaku kikir, mengikuti hawa nafsu dan membanggakan diri. (HR Thabrani)

Berbahayanya penyakit sombong ini adalah punya kemampuan menyelinap masuk dan merusak ke dalam jiwa setiap manusia dan kalangan ulama, ahli ibadah, dai, khatib, penulis dan orang yang mempunyai kemampuan talenta (bakat) dan kesuksesan. Penyakit ini tahu betul jalan yang ditempuhnya untuk masuk ke dalam jiwa-jiwa tersebut. Dapat dikatakan bahwa ia tidak akan beranjak dari tempatnya sebelum merasa yakin bahwa jiwa yang dimasukinya itu telah merasa bangga akan kehebatan dirinya sendiri.

Saudaraku ini masalah serius yang harus diperhatikan dengan seksama. Tidak boleh dianggap remeh atau menafikan keberadaannya di dalam jiwa kita. Pada hari kiamat nanti, kita tidak ingin dikagetkan dengan banyaknya amal saleh yang kita lakukan dengan susah payah, siang maupun malam, kemudian kita menampakkannya telah hancur lebur sebab terkena penyakit ini.

Nabi Saw bersabda, “Tidak masuk surga bagi orang yang di dalam hatinya terdapat satu atom satu satu zarah keseombonan (HR Muslim)

Nabi Saw bersabda, “Seseorang yang selalu angkuh (merasa tingg) dengan dirinya sendiri, maka ia dicatat bersama orang yang sombong, kemudian adzab yang menimpa mereka akan menimpanya juga. (HR Tirmidzi)

Nabi Saw bersabda, “Barangsiapa yang angkuh terhadap apa yang ada pada dirinya dan bersikap sombong dalam gaya jalannya, maka saat bertemu dengan Allah, Allah dalam keadaan murka kepadanya (HR Ahamd dan At-Tirmidzi)

Jika anda masih meragukan permasalahan ini dan pentingya upaya untuk menhindarkannya, maka renungkanlah perjalanan hidup Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Bagaimana sikap mereka yang bersungguh-sungguh untuk melawan dampak apa saja yang timbul dari penyakit ini. Mereka menutup rapat-rapat darinya serta selalau menganggap diri mereka kecil dan senantiasa bersikap rendah hati di hadapan Allah.

Ibnu Mubarak dalam kitab Az-Zuhud meriwayatkan Nabi Saw disuguhi makanan di hadapannya. Aisyah berkata kepada beliau,”Wahai Nabi, seandainya Engkau makan sambil bersandar, maka itu menjadikan engkau makan akan lebih nyaman.” Maka beliau menundukkan kepalanya sehingga hampir saja mmenyentuh tanah. Maka belaiu bersabda, “Tidak, aku makan seperti makanya seorang hamba aku juga duduk seperti duduknya seorang hamba, karena aku hanyalah seorang hamba

Ibnu Mubarak berkata, sifat sombong adalah menganggap bahwa apa-apa yang terdapat pada diri anda tidak dimiliki oleh orang lain.

Demikian lah inyi dari sifat sombong yaitu melihat bahwa diri anda memiliki sebuah kelebihan secara personal yang tidak dimiliki oleh orang lain. Misalnya anda menganggap bahwa hanya diri anda yang memiliki harta, anak, kecerdasan, bakat, pakaian tertentu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Jika anda membantah, “Tetapi kenyataannnya semua itu tidak aku temukan pada orang lain. Memang setiap kita memiliki sesuatu yang tidak ada pada orang lain. Tetapi sesuatu itu sebenarnya milik siapa?

Allah berfirman, Kepunyaan Allahlah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di dalamnya (al-maidah 120)

Semua yang ada pada diri kita, mulai yang kecil sampai yang besar adalah milik Allah semata. Dia meminjamkannya pada kita untuk dimanfaatkan dan sebagai bahan ujian.

Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang di bumi sebagai perhiasan baginya, aar Kamu menguji mereka siapakah diantara mereka yang terbaik perbuatannya.” (Al-Kahfi 7)

Seseorang selain Allah tidak memiiki apa-apa di alam ini meskipun itu seberat biji atom, “Katakan, “Serulah mereka  yang kamu anggap sebagai tuhan selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarrah pun dilangit dan di bumi dan mereka tidak mempunyai suatu saham pun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada diantara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya (saba 22)

Apabila ada dari kita meyakini bahwa harta yang ada padanya itu adalah hartanya bukan harta Allah, ia bahagia dan tenang dengan adanya harta itu bersamanya, maka ini adalah bentuk rasa bangga rasa bangga terhadap harta. Seperti yang dikatakan oleh Qarun

Memuji diri sendiri

Masud dalam katagori sombong adalah ketika seeorang melihat dirinya sendiri, meskipun itu adalah bagian yang kecil dengan puas dan senang atau apa yang telah di ketahui atau dialakukan olehnya. Selanjutnya ia memuji dirinya sendiri atas prestasinya itu dan lupa bahwa hanya Allah swt sajalah yang memiliki setiap kelebihan yang ada pada diri kita.

Al-Muhasibi berkata, “Sombong adalah memuji diri sendiri atas prestasi yang berbentuk pekerjaan atau pengetahuan dan lupa bahwa nikmat-nikmat itu berasal dari Allah swt.

Imam Ghazali juga berkata, “Sombong adalah mengagung-ngagungkan suatu kenikmatan dan cenderung kepadanya dengan melupakan penyadaran kenikmatan itu kepada Dzat yang memberikannya.

Riyad Al-Qais pernah ditanya, “Wahai Abu Muhajir! Apa yang merusak amal perbuatan? Ie menjawab, “Memuji diri sendiri dan melupakan kenikmatan.”

Kesombongan merupakan bahaya yang masuk ke dalam diri anda, menyeru anda untuk menyombongkan amal anda dan memperbanyaknya. Maka anda berkata di dalam hati, “Aku sungguh kuat, penyabar dan mampu melakukan hal itu…Aku Besungguh-sungguh melakukannya hal itu.. Aku telah kuat berpuasa di hari yang sangat panas.. Aku telah berinfak sekian…” Aku sudah mantap ilmu tauhidnya,…. Aku sudah pernah berjihad…..Seraya anda bangga dan sombong dengan potensi yang ada pada diri anda, tetapi pada saat yang sama anda melupakan nikmat Allah yang dieberikan kepada anda dalam prosesi itu semua.

Jadi sombong adalah jenis penyakt yang hampir tidak ada seorangpun yang selamat darinya. Ia sangat berbahaya, dapat menjadikan diri seseorang merasa besar. Dri sini, ia membentuk menjadi sebuah berhala internal di dalam jiwa pemiliknya dengan mengagungkan namanya.

Kesombongan adalah perusak akal pikiran, siapa pun orangnya. Ia senantiasa menyeru seseorang untuk membanggakan perkataan, pekerjaan atau pemikirannya sendiri dan memuji dirinya atas semua prestasi yang diraihnya.

Dawud ath-Tha’i pernah ditanya, “Bagaimana menurutnya tentang orang yang mendekati para penguasa untuk menyuruh mereka pada kebaikan dan mncegah mereka dari kemungkaran? Ath-Tha’i menjawab, “Aku khawatir ia akan dicambuk. Kemudian dikatakan paanya, “Ia kuat untuk itu (maksudnya ia kuat siap menanggung resiko yang akan meimpanya demi mencari ridha Allah Ta’ala. Aku khawatir ia akan dibunuh,” kata Ath-Tha’i. Tetapi ia kuat untuk itu.” Jawab penanya. Selanjutnya Ath-Tha’i berkata, “Aku khaatir ia akan terkena penyakt yang tersembunyi, yaitu sombong.

Faktor-faktor yang membesarkan diri dan memunculkan berhala

  1. Tidak mengenal Allah
  2. Tidak mengenal diri sendiri
  3. Mengabaikan penyucian jiwa
  4. Sering sukses dalm beraktivitas
  5. Sering mendapat pujian
  6. Pengaruh pangkat dan kekuasaan
  7. Kurang bergaul dengan kaum miskin dan tidak ada yang menasehatinya pendidikan orang tua pada masa pertumbuhan yang pertama
  8. Memiliki kelemahan dalam kepribadian
  9. Tingginya popularitas di tengah masyarakat

Tidak mengenal Alllah

Sombong sebagaimana yang telah disebutkan dimuka adalah sikap seseorang yang menisbatkan kesukesan dan ketepatannya dalam beaktivitas kepada dirinya sendiri, tanpa mengingat bahwa Allah adalah Dzat yang telah membantunya dalam mencapi itu semua.

Artinya bahwa ketidaktahuan seseorang kepada Allah dapat dikatagorian sebagai faktor utama dirinya bersikap sombong. Apabila setiap orang berkeyakinan bahwa Allah swt merupakan Dzat yang telah menolongnya dalam mencapai kesuksean, ketepatan dan kebahagiaan, maka sifat sombong ini tidak akan masuk pada dirinya. Apa yang dapat dibanggakan sementara ia sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun untuk mengadakannya?

Sesunguhnya setiap shalat yang kita lakukan, setiap puasa yang kita kerjakan, setiap dzikir yag kita ucapkan, setiap doa yang kita panjatkan dan setiap nafkah yang kita keluarkan, serta bentuk-bentuk amal baik lainnya, dapat terwujud berkat karunia dan pertolongan dari Allah Swt.

Ibnu athalilah berkata, “Jika anda melihat seseorang hamba Allah swt yang selalu menjalankan wiridnya kepada Allah Swt kepada-Nya secara continue dan terus menerus bahwa kit karunia-Nya kepada para hamba-Nya yang dicintainya. Jadi kemampuan menjalankan wirid adalah sebuah anugerah besar. Banyak orang yang menginginkan dan merindukannya namun hanya sedikit yang mendapatkan.

Ibnu Athaillah juga berkata, “ Jikalau Allah swt ingin memperlihatkan karunia-Nya kepada anda maka Dia menciptakan amalan kemudian menyelamatkan anda. Ketaatan yang anda rasakan saat ini adalah nikmat Allah swt yang paling besar dan berharga buat anda. Jikalau Dia tidak menginginkan taat maka sama sekali tidak tergerak menjalankannya.

Sesungguhnya setiap shalat yang kita lakukan, setiap puasa yang kita kerjakan, setiap dzikir yang kita ucapkan, setiap doa yang kita panjatkan dan setiap nafkah yang kita kelaurkan, serta bentuk-betuk amal baik lainnya, dapat terwujud berkat karena dan pertolongan dari Allah swt.

dan Telah kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebaikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan Hanya kepada kamilah mereka selalu menyembah,
(al-Anbiyaa : 73)

Allah adalah sumber kekuatan bagi setiap kebajikan yang kita kerjakan. Dia telah menolong kita untuk melakukan kebajikan itu satu prsatu. Seandainya Dia menghandaki lain, tentu Dia akan menahan dari pelilaku itu semua. Bukankah Dia telah berfirman kepada Rasul dan kekasih-Nya

Dan Sesungguhnya jika kami menghendaki, niscaya kami lenyapkan apa yang Telah kami wahyukan kepadamu (Muhammad), dan dengan pelenyapan itu, kamu tidak akan mendapatkan seorang pembelapun terhadap kami. Kecuali Karena rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya karunia-Nya atasmu (Muhammad) adalah besar.(AL-Israa: 86-77)

Jika bukan karena karunia Allah, kita tidak akan shalat, puasa, bersedekah, juga tidak akan menjadi seorang muslim dan beriman.

Dalam hadist qudsi, Allah berfirman, “Wahai hamba-hama-Ku! Sesungguhnya semua amalmu telah Aku hitung untukmu. Kemudian Aku penuhi balasannya. Maka siapa yang medapatkannya baik, hendaklah ia memuji kepada Allah. Dan siapa yang mendapatinya tidak baik, maka jangan sekali-kali ia mencela kecuali pada diriny sendiri (HR Muslim)

Bahkan setiap goresan isi hati manusia yang mengajak pada kebaikan itu merupakan rahmat dari Allah swt. Dala sebauah hadist qudsi disebutkan, “Didalam hati terdapat dua kelompok besar. Kelompok pertama berasal dari seorang malaikat, ia mengembalikan manusia pada kebaikan dan mengimani kebenaran. Siapa yang menemukan kelompok ini (didalam hatinya), maka ia harus mengethaui bahwa itu adalah (rahmat dari Allah swt dan hendaknya ia memuji kepada-Nya. Kelompok yang kedua berasal dari musuh, ia mengembalikan manusia pada keburukan, mendustakan kebenaran dan mencegah dari kebaikan. Siapa yang menemukan kelaompok ni (didalam hatinya), maka ia harus meminta perlindungan kepada Allah dan godaan setan yang terkutuk. HR. At-Tirmidzi)

Tidak mengenal Diri Sendiri

Tidak ada seorang manusia, siapapun dia, dengan sendirinya dapat sukses atau bahagia. Demikianlah Allah menciptakan kodrat manusia, dalam hal ini, para nabi, para rasul dan segenap makhluk, semuanya sama, “Wahai Muhammad, katakanlah, “Sedikit pun aku tidak mengethaui sesuatu yang dapat memberi manfaat dan mudharat kepada diriku sendiri kecuali yang sudah diberikan (dikehendaki) oleh Allah kepadaku. (Al-Ara’f 188)

Kita semua mendapat kekuatan dari Allah ntuk melakukan perbuatan satu persatu dari waktu ke eaktu. Memang benar, Allah telah menganugerhakn kepada kita sebab musabab, bakat dan keahlian untuk mencapai apa yang diinginkan, seperti kecerdasan, kemampuan dalam berdiplomasi dan kehebatan dalam berotorika. Tetapi kapabilitas tersebut tidak bernilai apa-apa tanpa ada kekuatan aktif dari Allah Swt.

Pernahkah ana melihat seorang anak kecil yang masih menyusui mempu memberi makan atau minum

Mengabaikan Penyucian Jiwa

Diantara faktor yang menjadikan seseorang besar adalah tidak adanya kesadaran untuk menycikan jiwa sedari awal. Berikutnya, ia tidak memiliki kewaspadaab dalam menghadapi penyakit ini dan membiarkannya merasuk ke dalam jiwanya.

Seorang penuntut ilmu, tidak menjadi plajaran pertama dalam pembelajaran dan pendidikannya, maka ilmu yang telah diperolehnya akan menjadi pintu lebar bagi sifat sombong untuk masuk dalam jiwanya. Seorang dai, terkadang menjadi mangsa bagi penyakit sombong ini, begitu pula seoang guru, penulis, pengusaha, khatib dan setiap orang yang berprofesi terpuji dan mendapat penghargaan di tengah masyarakat/

Mereka jika tidak berul-betul memelihara diri menyucikan sedari awal, maka penyakit sombong akan menemukan sasaran yang empuk melalui proses itu untuk masuk ke dalam jiwanya. Ia akan menggelemungkan rasa banga di dalam dirinya agar bisa bersikap sombong dan membesarkan diri sendiri dihadapan orang lain.

Abu Hamid Al-Ghazali berkata, “Seorang hamba, jika dari awal dia tidak sibuk untuk memberishkan jiwanya dan mensucikan hatnya dengan berbagai macam mujahadah (perang melawan hawa nafsu), maka inti jiwanya telah kotor. Ketika ia menyelami sebuah disipln ilmu, maka ilmu itu akan menampati posisi yang kotor di dalam hatinya, tidak membuahkan hasil dan tidak memunculkan nilai-nilai kebaikan darinya. Orang-orang yang telah menghafal sebuah disiplin ilmu, kemudian mereka memolesnya sesuai dengan target pencapain mereka, maka ilmu tersebut akan menjadi kanorang yang sombong bertambah sombong dan menjadikan orang yang tawadhu bertambah tawadhu.

Imam Syafii berkata, “• Takabur ( sombong ) adalah akhlak tercela.

Saudaraku! Kuperingatkan kau agar tidak sombong. Ingatlah bahwa Allah swt se nantiasa mengawasimu. Oleh karena itu jangan sekali-kali menghina seseorang atau menolak kebenaran yang disampaikan kepadamu. Allah swt murka kepada seseorang yang bersikap demikian dan ia akan merendahkan mereka yang menyombongkan diri. Bagaimana kau dapat menghina seorang Muslim, padahal kau tidak pernah tahu bagaimana akhir usiamu dan usia nya kelak. Di samping itu kau juga tidak menhetahui, kelak engkau akan masuk ma na, surga atau neraka?

Jika mau bersikap jujur, maka yang paling pantas untuk kau hina adalah dirimu sendiri. Sudahkah kau teliti keburukan-keburukan dirimu dan kekotoran jiwamu yang tidak diketahui orang lain, sehingga kau sucikan hati orang lain dank au cela dirimu sendiri?
Sesungguhnya kau dilarang untuk memuliakan dan menyucikan dirimu sendiri. Perbuatan ini haram bagimu, jika kau lakukan, kelak di hari kiamat kau akan berada di bawah telapak kaki orang-orang yang kau hina di dunia. Renungkanlah ini dan memohonlah kepada Allah swt untuk menolongmu menghapuskan kesombongan dari hatimu. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari sifat sombong ini.( Syekh Harits Al-Muhasibi )

Sering sukses dalam beraktivitas

Al-Hasan Bashiri berkata, “Seandainya ada seorang manusia yang semua perkataannya benar dan semua perbuatannya baik, maka ia mendekati pada kerugian.” Kemudian ada yang bertanya, “Bagaimana ia bisa merugi?” Al-Hasan menjawab, “Disebabkan kesombongannya terhadap diri sendiri.”

Al Hasan juga pernah berkata, “Seandainya ada seorang manusia yang semua perkataan dan perbuatannya itu benar, maka sungguh ia telah tertutup.

Banyak keberhasilan yang dicapai oleh seorang manusia dalam berbagi aktivitasnya, jika ia tidak waspada, maka semua itu akan membentuk sebuah alasan yang kuat untuk masuknya penyakit sombong pada dirinya. Begitu mudahnya ia terkena penyakit ini. Dalam faktanya, memang ia termauk orang yang mempunyai kelebihan dibanding yang lainnya. Kurang apa? Setiap kali ia berbicara, ucapannya selalu memberikan pengaruh kepada orang-orang yang mendengarnya, ia selalu menunaikan shalat fardu di masjid. Agenda hariannya teratur rapih pergaulannya luwes, dan sikapnya dinilai lembut. Ia pun termasuk berhasil dalam mendidik anak-anaknya dan mampu mengelola dengan baik setiap bidang kehidupannya.

Hal itu merupakan faktor yang kuat bagi seseorang secara perlahan untuk menyombongkan dirinya.

Al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, “Dawud tidak tertimpa lagi ujian setelah masalah takdir kecuali sifat sombong. Ia telah menyombongkan dirinya sendiri dalam perkataannya, “Wahai Tuhanku, tidak ada satu saat pun, baik siang atau malam, kecuali ada seorang hamba dari keluarga Daud yang beribadah kepada-Mu, shalat untuk-Mu, membaca tasbih, atau takbir. Daud pun menyebut banyak jenis ibadah lainnya.

Ternyata Allah tidak suka dengan ungkapan daud tersebut. Allah berfirman, “Hai Daud, semua itu tidak terjadi kecuali dengan karunia-Ku. Seandainya tidak ada pertolongan-Ku, maka engkaupun tidak akan kuat melakukannya. Demi keagungan-Ku, suatu hari sungguh Aku akan menjadikanmu memakan dirimu sendiri.” Daud berkata, “Wahai Tuhan, tolong beritakanlah hal itu kepadaku.”Maka pada hari itu juga fitnah menimpanya (Al Hakim menyatakan adist ini shahih, Adz Dzahavu pun menyetujuinya)

Sering mendapat pujian

Memuji langsung di hadapan orang termasuk faktor yang paling dominan untuk menjadikan orang yang dipuji berbesar kepala. Hal ini telah kita ketahui bersama. Rasullah saw merasa risau ketika melihat seseorang yang memuji temannya dihadapan orangnya langsung, beliaupun menasehatinya, “Celakalah, engkau telah membinaskan agama temanmu, kalau ia mendengarnya, maka ia tidak menjadi orang yang beruntung (HR Bukhari & Muslim)

Kenapa ia tidak beruntung? Sebab ia akan berusaha menelaraskan perilaku dirinya sesuai dengan

 

Keinginan nafsu

Keinginan nafsu terbagi menjadi dua :

Keinginan yang berisifat jelas (kongkrit), seperti keinginan untuk makan dan minum, memliki harta, istri, emas dan isi rumah tangga.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang.(QS. Ali Imran 14)

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak[186] dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (Ali Imran 14)

Keinginan yang bersifat samar (abstarak), yaitu seperti ingin berbeda dengan yang lain, memiliki derajat yang tinggi dan berharap anak-anaknya berprestasi. Jika anda ingin mendapat contoh lebih kongkrit dari keinginan yang bersifat samar ini, maka anda dapat memeprolehnya dengan membayangkan sesuatu yang terjadi pada anda ketika seseorang memuji anda. Bukankah anda merasa bahagaia dan senangm seraya selalu mengingat kalimat-kalimat dari orang yang memuji anda itu dengan penuh perhatian.

Perasaan-perasaan yang masuk pada jiwa kita seperti diatas dapat dikatagorikan sebagai keinginan yang bersifat samar. Artinya bahwa nafsu tidak akan menyuruh tuannya kecuali untuk melakukan sesuatu yang ia inginkan. Ketika seseorang melepas tali kekang nafsunya dan berprasangka baik kepada nafsunya, maka dapat dipastikan dia akan menjadi tawanan nafsunya.

Saat berbicara, nafsu akan menyuruhya untuk membicarakan tentang kesuksesan-kesuksesan yang telah diraihnya. Saat shalat malam, nafsu akan mendorongnya untuk bangga dengan amalnya dan menganggap bahwa dia lebih utama daripada orang lain yang tidur lelap. Saat amar makruf atau nahi munkar, nafsu akan mendesaknya untuk memperbaiki metode penyampaian dan merasa puas atas dakwah yang telah dilakukan.

Dari sini, kita mendapat penjelasan tentang karakter nafsu. Apabila karakter tersebut tidak deiketahui oleh seorang hamba, maka penyakit sombong akan menelusup masuk kepadanya dan bercokol di dalam jiwa.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s