Hal-hal yang menyebabkan orang menjadi sombong

Menurut Imam al-Ghazali, ada tujuh yang menyebabkan orang menjadi sombong

Ilmu pengetahuan

Demikian cepatnya kesombongan menjangkit para ulama (kaum intelktual) sehingga seorang berilmu pengetahuan mudah merasa tinggi dengan ilmu pengetahuan, merasakan keindahan dan kesempurnaan ilmu pengetahuan dan merendahkan orang lain. Ia menganggap mereka bodoh dan menunggu agar mereka yang memulai salam, berdiri atau memenuhi panggilannya maka ia menggapi hal itu sebagai bhakti dan dukungan kepadanya yang harus disyukurinya. Ia menganggap dirinya paling mulia diantara mereka, ia meminta dilayani oleh setiap orang yang berinteraksi dengannya. Jika mereka kurang memberikan layanan, ia menghardik mereka seperti budak atau pekerjanya; seoalah-olah pengarahan ilmu yang sampaikannya merupakan jasa besar dari dirinya. Ini menyangkut urusan dunia.

Sedangkan menyangkut perkara akhirat, maka kesombongan ialah dengan memandang dirinya lebih tinggi dan lebih utama di sisi Allah ketimbang mereka, sehingga ia lebih banyak mengkhawatirkan mereka ketimbang mengkhawatirkan dirinya dan lebih banyak harapan untuk dirinya ketimbang orang berilmu, bahkan ilmu yang hakiki adalah ilmu yang dengannya manusia bisa mengenak dirinya dan Tuhannya.

Mungkin anda bertanya; Kenapa sebagian orang bertambah ilmunya tetapi bertambah pula kesombongannya?

Imam Al-Ghazali menegaskan, ketahuilah bahw ahal itu karena dua sebab :

Pertama, karena ia menekuni apa yang disebut ilmu, bukan imu yang hakiki. Ilmu yang hakikii adalah ilmu yang mengenalkannya kepada Tuhan dan dirinya. Hal ini pada gilirannya akan menimbulkan rasa takut dan tawadhu, bukan kesombongan dan rasa aman dari siksa. Allah berfirman :

Sesungguhnya takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama (QS. Fahir 28)

Kedua, karena ia menggeluti ilmu dengan batin yang kotor, jiwa yang buruk dan akhlak yang tidak baik. Ia tidak memperhatikan terlebih dahulu pensucian jiwannya dan membersihkan hatinya dengan berbagai macam mujahadah, juga tidak menempa jiwanya dalam ibadah kepada Tuhannya, sehingga batinnya tetap kotor. Jika ia menggeluti ilmu-ilmu apa saja maka ilmu itu berhadapan dengan ruang yang buruk di dalam hatinya sehingga hasilnya tidak pernah baik dan tidak tampak pengaruh kebaiknnya. Dengan kata lain, hanya sekedar “rekreasi mental”, hanya sekedar ilmuwan, pamer ilmu. Tetapi ilmunya belum mampu mengubah perilaku sosialnya. Inilah yang disebut akrobatik intelektual.

Amal badah

Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa orang-orang yang zuhud dan para ahli ibadah tidak terlepas pula dari nistanya kesombongan, kepongahan, dan tindakan memikat hati manusia. Kesombongan itu menyelinap ke dalam diri mereka baik menyangkut urusan agama ataupun dunia.

Dalam urusan dunia. Ia memandang orang lain lebih pantas untuk menziarahi dirinya ketimbang ia menziarahi orang lain. Ia mngharapkan orang lain memenuhi kebutuhannya, menghormatinya, melapangkan tempatnya di dalam berbagai acara, menyebut-nyebut kewaraan dan ketakwaannya dan mengutamakannya ketimbang semua orang dalam berbagai pembagian hingga semua hal yang. Imam Al-Ghazali sebutkan ada hak para ulama seolah-olah ia memandang ibadahnya sebagai karunia atas makhluk. Astagirullah.

Sedangkan dalam urusan agama, ia memandang kebinasaan bagi orang lain dan memandang dirinya selamat, padahal dengan pandangannya tersebut ia memastikan dirnya binasa. Nabi bersabda ;

Apabila kamu mendengar orang mengatakan, “Orang-orang telah binasa, maka dialah orang yang paling binasa di antara mereka (HR Muslim)

Nabi bersabda demikian karena perkataan orang tersebut menunjukkan bahwa ia melecehkan makhluk Allah sehingga ia merasa aman dari siksa-Nya dan tidak takut pembalasan-Nya. Bagaimana ia tidak punya rasa takut, padahal pelecehannya terhadap orang lain itu sudah cukup menjadikan dirinya sebagai orang jahat? Nabi bersabda, “Cukuplah seseorang dinilai telah berbuat kejahatan bila ia merendahkan saudaranya sesama Muslim (HR Muslim)

Betapa besar perbedaan antara dia dan orang yang mencitanya karena Allah, menghormatinya karena ibadahnya dan mengharap kebaikan untuk dirinya. Orang-orang mendapatkan keselamatan dengan menghormatinya karena Allah, mereka mendekatkan diri kepada Allah dengan mendekatinya tetapi dia sendiri terancam murka Allah karena menjauhi mereka, seolah-olah ia enggan duduk bersama mereka. Sungguh pantas jika Allah mengangkat mereka kederajat tinggi, lantaran mereka mencintainya karena Allah  dan sungguh pantas jika Allah mengabaikannya lantaran ia meremehkan mereka.

Nasab

Orang yang punya nasab keturunan yang mulia menganggap hina orang yang tidak memiliki nasab sepertinya, sekalipun ia lebih tinggi ilmunya dan amalnya. Kadang-kadang sebagian mereka menyombongkan diri lalu menganggap orang lain sebagai pengikut dan budaknya, sehingga ia enggan bergaul dan duduk bersama mereka.

Imam Al-Ghazali menegaskan, akibatnya dalam lisan ialah membanggakan nasab keturunannya. Ini merupakan hal yang mengakar sangat kuat dalam jiawa, tidak dapat terlepas sarinya orang yang berketurunan mulia,  sekalipun ia orang saleh atau berakal sehat. Hanya saja hal itu tidak mengimbas kepadanya jika tetap dalam kondisi yang baik. Jika emosi telah mendominasinya maka hal itu akan memadamkan cahaya bashirah-nya dan megimbas kepadanya.

Diriwayatkan dari Abu Dzar bahwa ia berkata; “Aku pernah mendebat seseorang dihadapan Nabi lalu aku berkata kepadanya : “Wahai anak orang hitam! Kemudian Nabi bersabda: “Wahai Abu Dzar anak kulit putih tidak punya keutamaan atas anak kulit hitam. “Abu Dzar berkata aku berbaring dan aku berkata kepada orang itu. “Berdirilah dan injaklah pipiku (Diriwayatkan oleh Ibnu Mubarak)

Dalam riwayat Ahamd disebutkan bahwa Nabi bersabda, “Lihatlah, sesungguhnya kamu bukanlah lebih baik dari orang yang berkulit merah ataupun hitam kecuali kamu mengunggulinya dengan takwa.”

Diriwayatkan bahwa dua orang yang bertengkar saling membanggakan diri dihadapan Nabi, lalu salah seorang berkata kepada yang lain, “Saya adalah Fulan bin fulan, lalu siapakah dirumu? Kemudian Nabi bersabda, “Ada dua orang slaing membanggakan diri di hadapan Nabi Musa lalu salah seorang berkata, “Aku adalah Fulan bin Fulan sampau menyebutkan sembilan keturnunan. Kemudian Allah mewahyikan kepada Nabi Musa agar mengatkan kepada orang yang membanggakan itu, “Bahkan embilan keturunan itu termasuk penghuni neraka dan kamu orang yang kesepuluhnya (HR Ahmad)

Rasulullah bersabda, “Hendaklah orang-orang meninggakan kebanggan terhadap nenk mpyang mereka yang telah menjadi batu bara di neraka Jahanam atau (jika tidak) meeka akan menjadi lehih hina disi Allah dari kumbang yang hidupnya mengeluarkan kotoran.”

Kecantikan

Imam AL-Ghazai menegaskan, hal ni kebanyakan terjadi di kalangan kaum wanita dan menimbulkan cacian, gunjingan dan menyebutkan aib-aib orang. Diantaranya apa yang diriwayatkan opleh Aisyah dalam ebuah hadeist shahih bahwa ia berkata, “Ada seorang wanita mau menemui Nabi lalu akau berkata dengan tangaku begini, yakni ia pendek, lalu Nabi bersabda, “Kamu sungguh telah menggunjingnya.’ Pangkal timbulnya hal ini adalah terselubungnya kesombongan, karena seandainya juga pendek niscaya ia tidak akan menyebutkannya pendek. Seoah-olah Aisyah ujub dengan postur tubuhnya dan menganggap pendek wanita itu dibandingkan dengan dirinya, lalu ia mengatakan apa yang telah dikatakannya.

Harta kekayaan

Hal ini biasanya terjadi di kalangan para raja yang membanggakan harta simpanan mereka, para tuan tanh membanggakan tantah-tanah mereka, sehngga orang yang kaya merenadahkan orang yang miskin dan menyombongkan diri kepadanya seraya berkata, “Kami melarat dan miskin sedangkan aku kalau mau bisa memberli orang sepertimu dan memperkerjakan oran yang lebih mulia dari kamu siapakah dirimu? Apa yang kamu miliki tidak lebih banyak dari perabot rumahku. Dalam sehari aku membelanjakan harta sebanyak yang kamu makan sebulan atau setahun.

Semua itu karena ia membanggakan kekayaan dan mengangap remeh kemiskinan. Semua itu akibat salah pandang tentang harta.

Allah berfirman, “Dan dia mempunyai kekayaan besar, Maka ia Berkata kepada Kawannya (yang mukmin) ketika bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat” (QS. Al Kahfi 34)

Dan Mengapa kamu tidak mengatakan waktu kamu memasuki kebunmu “maasyaallaah, laa quwwata illaa billaah (sungguh atas kehendak Allah semua Ini terwujud, tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah). sekiranya kamu anggap Aku lebih sedikit darimu dalam hal harta dan keturunan. Maka Mudah-mudahan Tuhanku, akan memberi kepadaku (kebun) yang lebih baik dari pada kebunmu (ini); dan Mudah-mudahan dia mengirimkan ketentuan (petir) dari langit kepada kebunmu; hingga (kebun itu) menjadi tanah yang licin.   Atau airnya menjadi surut ke dalam tanah, Maka sekali-kali kamu tidak dapat menemukannya lagi”. (QS. Al Kahfi 39-41)

Demikianlah, ia menyombongkan diri dengan harta dan anak, kemudian Allah menjelaskan akibat perbuatannya itu dengan firman-Nya, “Aduhai kiranya dulu aku tidak memepersekutukan seorang pun dengan Tuhanku (QS. Al Kahfi )

Termasuk kedalam hal ini adalah kesombongan Qarun Allah berfirman menceritakan kesombongannya. Maka keluarlah Karun kepada kaumnya dalam kemegahannya. berkatalah orang-orang yang menghendaki kehidupan dunia: “Moga-moga kiranya kita mempunyai seperti apa yang Telah diberikan kepada Karun; Sesungguhnya ia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”.(QS. Al-Qashash 79)

Semua ini adalah gambaran orang-orang yang hatinya diselimuti oleh kesombongan dengan harta. Seolah-olah harta itu dapat mengekalnya, padahal semua yang kita miliki akan sirna dan kembali kepada-Nya.

Kekuatan dan keperkasaan

Hal ini dilakukan terhadap orang yang lemah. Sehngga orang yang lemah itu tidak punya daya sama sekali. Akhirnya, yang kuat itu akan melakukan seenaknya sendiri dan mengesploitasi tenaga orang-orang yang lemah. Dia tidak menyadarinya bahwa kekuatan dan keperkasaan hanyalah milik Allah. Salah satu bukti yang konkrit dalam sejarah adalah raja Namrud, seorang yang perkasa namum tidak mampu melawan nyamuk yang kecil hingga ia meninggal dunia.

 

 

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s