Kisah Mengagumkan Bakti Ulama Kepada Ibu

Perintah untuk berbakti kepada orang tua mungkin sudah sering kita dengar. Di berbagai pengajian, buku-buku dan artikel majalah yang kita baca sudah banyak menjelaskan berbagai dalil baik dari al-Qur’an maupun hadits Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang memerintahkan dan menganjurkan untuk berbuat baik kepada orang yang telah melahirkan kita. Namun barangkali masih jarang kita dengar contoh kongkrit dan kisah-kisah bakti para ulama salafus shalih kepada orang tua mereka khususnya kepada ibu mereka. Tindakan mereka tersebut tentu tidak lepas dari baik dan dalamnya pemahaman mereka terhadap ilmu yang mereka miliki sebagai ulama. Dan sebaik-baik ilmu adalah yang diamalkan. Berikut cuplikan beberapa kisah nyata yang menakjubkan tentang bakti kepada ibu.

Dari Dawud bin Qais dia berkata, “Abu Murrah pernah mengabarkan kepadaku bahwa bila Abu Hurairah hendak pergi, setelah mengenakan pakaian, dia datang kepada ibunya lalu berkata, ‘Assalamu’alaikum! Wahai Ibuku, warahmatullahi wabarakatuh,” lalu si ibu berkata, “Semoga Allah merahmati engkau wahai ibu sebagaimana engkau mendidikku waktu kecil.” Sang ibu berkata, “Semoga Allah memberi rahmat kepadamu sebagaimana engkau berbuat baik kepadaku sewaktu kamu besar (saat ini).” Dan apabila hendak masuk rumah Abu Hurairah berbuat demikian.

Dari Mundzir ats-Tsauri dia berkata, “Muhammad bin al-Hanafiyah biasa mencuci rambut ibunya dengan al Khathmi (nama tumbuhan pembersih kutu rambut), lalu menyisirnya, mencari kutunya dan mengalirkannya.”

Abdullah bin Ja’far bin Khaqan al-Maruzi (Bandan) berkata , “Muhammad bin Basyir bin Utsman pernah berkata, ‘Pernah ketika saya bermaksud untuk keluar (setelah saya mengumpulkan hadits-hadits dari para ulama Basrah), ibu saya melarang. Saya pun mentaati larangan ibuku. Karena ketaatanku itu saya mendapatkan berkah.’”

Muhammad bin Munkadir berkata, “Pernah semalaman saya memijat kaki ibuku, sementara saudaraku Umar waktu itu semalaman juga melakukan shalat. Saya tidak menganggap amalan malam Umar lebih baik dari amalan malamku.”

Abu Ishaq ar-Riqqi al-Hanbali ketika menyebutkan biografi Abdullah bin Aun berkata, “Pernah suatu ketika dia dipanggil oleh ibunya. Tanpa disadari dia mengeraskan suara melebihi suara ibunya. Karena hal itu dia membebaskan dua orang budak.”

Dari Anas bin an-Nadhr al-Asyja’i dia berkata, “Suatu malam ibu Ibnu Mas’ud meminta air. Ibnu Mas’ud pun mengambil air, lalu dibawa kepada ibunya. Ternyata ibunya telah tertidur. Maka dia pun berdiri menunggui ibunya hingga pagi.”

Al-Akhnasi pernah berkata, “Saya pernah mendengar Abu Bakar berkata, ‘Saya pernah bersama Manshur bin al-Mu’tamir duduk-duduk di rumahnya. Tiba-tiba ibunya memanggil dengan nada agak kasar, ‘Wahai Manshur, anak laki-laki Hubairah membutuhkan kamu untuk suatu urusan. Apakah kamu enggan?!’ Manshur menempelkan jenggot pada dadanya, sedikitpun dia tidak berani mengangkat kepalanya dan menghadapkan wajah kepada ibunya.”

Suatu ketika Ibnul Hasan at-Tamimi hendak membunuh kalajengking, namun kalajengking itu masuk ke lubang. Dia beranikan diri merogohkan jari-jarinya ke lubang untuk menangkap kalajengking itu meskipun harus rela disengat. Orang-orang berkata kepadanya, “Kamu ini bagaimana?!” Dia menjawab, ‘Saya khawatir kalajengking tadi keluar lalu merayap ke tempat ibuku dan menyengatnya.’”

Suatu ketika Umar ditanya, “Bagaimana bentuk bakti anakmu kepadamu?” Umar menjawab, “Setiap kali berjalan di siang hari bersamaku, dia selalu berjalan di belakangku dan setiap kali berjalan di malam hari bersamaku, dia selalu berjalan di depanku. Begitu pula ketika tidur , dia tidak pernah tidur di atas bila saya berada di bawah.”

Dari Muhammad bin Sirin dia berkata, “Pada zaman Utsman harga kurma sangat mahal hingga mencapai seribu dirham. Meskipun begitu Usamah tetap berani membelinya. Dia beli kurma tadi lalu dia kupas kulitnya kemudian diberikannya kepada ibunya. Orang-orang berkata kepadanya, ‘Apa yang membuatmu berani membeli kurma dengan harga seribu dirham?’ Dia menjawab, ‘Saya punya prinsip, bila ibu saya meminta sesuatu yang saya mampu memenuhinya pasti akan saya penuhi.”

Zainal Abidin adalah seorang yang sangat berbakti kepada ibunya. Saking berbaktinya, ada orang-orang berkata kepadanya, “Sungguh kamu adalah orang yang sangat berbakti kepada ibumu. Tetapi kami tidak pernah melihatmu makan bersama ibumu dalam satu piring?” Dia menjawab, “Saya khawatir dia memandang pada suatu yang aku tidak mengetahui kemudian aka memakananya maka aku menjadi orang yang durhaka kepadanya.”

Sofyan bin Uyainah berkata, “Seoragn lelaki datang dari bepergian, lalu melihat ibunya sedang melakukan shalat. Dia tidak mau duduk jika ibunya beridiri. Kemudian ibunya mengerti apa yang dikehendaki anaknya, sehingga shalatnya di panjangkan agar anaknya mendapat pahala yang lebih banyak karena berdiri menunggunya.

Muhammad bin Umar berkata, “Muhamad bin Abu az Zunnad berjalan dan bertemu dengan ayahnya. Kemudian ayahnya memanggilnya, “Muhammad! Muhammad tidak menjawabnya, tapi melompat dan berdiri disbelahnya sera menjawab panggilannya. Sang ayah memeritnahnya untuk memnuhi kebutuhannya. Diapun tidak minta penjelasan kepada ang ayah tentang kebutuhan itu karena malu kepadanya. Ia menanyakan hal itu kepada orang lain yang mengetahuinya.

Semoga Allah merahmati mereka para pendahulu kita yang shalih dan menjadikan kita termasuk golongan mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s