Anak Kecil Takut Neraka

Pada suatu hari, ada seorang lelaki tua berjalan-jalan di tepi sungai. Ketika sedang menimati keindahan sungai itu dia melihat seorang anak kecil yang sedang berwudhi sambil menangis

Wahai anakkku. Kenapa menangis?

Wahai Paman, aku telah membaca ayat Al-Qur’an sampai pada ayat yang berbunyi …..Yaa ayyihal ladziina aamanuu quu anfusakum wa ahliikum naar.  “Jagalah dirimu dari dan keluargamu dari api nerka (QS At-Tahriim [66]4) Aku manangis karena aku takut dimasukkan kedalam api neraka.”

Wahai Anak kecil, janganlah kamu takut !! Sesungguhnya, kamu terpelihara dan kamu tidak akan dimasukkan ke dalam api nereka, jawab orang tua itu menghibur.

Wahai Paman, engkau orang yang berakal. Tidakkah paman melihat kalau orang menyalakan api, yang pertsma kali mereka bakar adalah ranting kayu yang kecil dahulu, baru kemudian mereka meletakkan kayu yang lebih besar? Jadi, tentulah aku yang kecil ini akan dibakar lebih dahulu sebelum orang dewasa dibakar.

Orang tua itu tertegun. Kemudian, dia menangis sambil memuji anak kecil yang takut akan api nereka itu. “Sesungguhnya anak kecil ini lebih takut api nereka daripada orang-orang dewasa. Maka, bagaiamanakah keadaan kami nantinya

Menutup Lembaran Amal dengan Al Qur`an

IMAM AL JUNAID AL BAGHDADI di saat hendak wafat dan saat itu Jumat malam, beliau berpayah-payah dengan terus-menerus membaca Al Qur`an, hingga sahabat beliau Abu Muhammad Al Hariri merasa kasihan dan menyampaikan,”Hendaklah engkau mengasihani dirimu sendiri.”

Imam Al Junaid pun menjawab,”Wahai Abu Muhammad, aku melihat tidak ada seorang pun yang lebih membutuhkan hal itu dibanding diriku dalam kondisi seperti ini, dialah yang menutup pembaran-lembaran buku amalanku”. (Shifat Ash Shafwah, 2/273)

Adegan Sakaratul Maut Dan
Panggilan Malaikat Maut

Al-Qurtubi berkata, “Buatlah peran tentang dirimu hai yang terpedaya, sewaktu sakaratul maut datang kepadamu, rasa sakit dan penderitaan tiba padamu, lalu ada yang berkata bahwa si fulan telah berlalu berwasiat dan hartanya telah dihitung, yang lain berkata bahwa si fulan lisannya susah berkata, sehingga ia tidak kenal tetanggannya dan tidak dapat berkata kepada saudaranya seakan-akan saya melihatmu sedang mendengarkan pembicaraan namun kamu tidak mampu memberi tanggapan. Berkhayallah tentang dirimu hai anak Adam, apabila kamu diambil dari tempat tidurmu dibawa ke papan pemandian, lalu kamu dimandikan dan dipakaikan kain kafan, keluarga dan tetangga merasa asing denganmu, para sahabat dan saudara menangisimu. Yang memandikan berkata, “Mana istri sifulan yang engkau kawini, mana anak-anak yaitu yang ditinggal bapak-bapaknya, engkau tidak akan melihatnya lagi setelah hari ini untuk selamanya

Al ghazali berkata, “Sudah selayaknya membuat hidup seorang hamba menjadi waspada, kegembirannya menjadikan nya murung, melakukannya persiapan dengan matang, terlebih jika kematian sudah ada disisi setiap jiwa sebagaimana sebagian ahli hikmat berkata, “Kesulitan kematian berada pada selainmu, engkau tidak tahu kapan ia menimpamu.

Luqman berkata kepada anaknya, “Hai anakku, ada suatu perkara yang engkau tidak tahu kapan menjumpaimu, maka buatlah persiapan menghadapinya sebelum ia mengejutkan mu.

 

 

Menulis buku ibarat anak yang sholeh

Hendaklah seorang berusaha memiliki anak yang akan berdzikir kepada Allah Ta’ala sepeninggalannya, sehingga pahalanya juga dapat ia rasakan. Atau hendaklah menulis kitab tentang ilmu. Sebab menulis ilmu ibarat anaknya yang akan tetap kekal. Dari kitabnya akan kekal. Dari kitabnya akan dinukil sesuatu yang dapat diikuti orang lain. inilah yang tak pernah mati. Suatu kaum telah meninggal sedangkan ditengah-tengah

Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam kitab Induk yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS Yaasin 12)

Pada hari itu manusia diberitahu perbuatan apa saja uamg telah ia lakukan  di dunia dan amal shalih apa saja yang telah ia abaikan (QS Al-Qiyamah[75]13)

Apabila manusia meningal dunia maka semua amalnya akan terputus kecuali tiga hal, sedekah jariayah, ilam yang bermanfaat atau anak shaleh yang selalu mendoakannya (HR Muslim, tarmidzi, ahmad)

Takut Kalau Amal Baiknya Ditolak

Hasan Basri mengatakan, “Aku menemukan segolongan kaum yang paling zuhud dari kalian terhadap apa yag dihalalkan, bila dibanding dengan kezuhudan kalian terhadap apa yang diharapkan kepada kalian terhadap apa yang diharamkan kepada kalian dan aku menjumpai kaum yang lebih khawatir kalau amal baik mereka ditolak, sedangkan kalian khawatir kalau dosa tak diampuni. Sungguh generasi seperti mereka tidak akan terulang lagi, mereka tidak seperti kita yang bernifaq dan sholat beberapa rakaat saja, sudah menganggap dirinya sampai pada tujuan.

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik (halal) dan amal yang diterima

Waktu mahal saudaraku

Dua kenikmatan yang banyak dilalaikan orang adalah kesehatan dan kesempatan.” (HR. Bukhari)

“Waktu adalah harta yang paling mahal yang pernah anda jaga, namun saya melihat, waktu paling mudah untuk anda sia-siakan.” (Ibnu Jauzi)

“Sudah saatnya berhenti untuk mengutuk dan mencaci masa lalu. Karena, semua itu tidak akan pernah kembali lagi kepada kita. Dan berhentilah memuji dan mendewakan segala kebaikan dan kesejahteraan yang kita angan-angankan di masa yang akan datang. Karena itu semua belum tentu akan kita dapatkan. Namun, kesempatan yang ada bagi kita adalah waktu dimana kita berada sekarang.”

Ibnu Qoyyim pernah berkata,”Pemikiran yang paling cemerlang dan mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah di akhirat bermacam-macam. Diantaranya, berpikir bagaimana mengisi dan menggunakan waktu seefisien mungkin dan mencurahkan segala perhatian untuk mengatur waktu. Orang yang paham adalah orang yang tahu akan nilai waktu, apabila ia menyia-nyiakannya berati ia telah menyia-nyiakan kemaslahatan hidupnya, sebab kemaslahatan dan keberhasilan diperoleh karena penggunaan waktu yang efisien, dan waktu yang telah berlalu mustahil untuk diulang kembali.”

Ahmad Syauqi pernah berkata dalam syairnya,”Denyut jantung manusia selalu berkata kepadanya, “Sesungguhnya kehidupan ini hanyalah beberapa saat saja. Maka angkatlah nama baikmu untuk bekal apabila kamu mati, karena nama baik bagi manusia adalah umur baru.” Maka dari itu, sudah saatnya dan waktunya kita menjadi manusia sholeh karena mungkin esok atau lusa kita akan terlambat untuk menjadi Manusia Sholeh

Waktu adalah harta yang paling mahal yang pernah anda jaga, namun saya melihat, waktu paling mudah untuk anda sia-siakan.” (Ibnu Jauzi)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s