Membentuk Karakter Takwa

Takwa merupakan wasiat Allah kepada seluruh umat, baik generasi pertama maupun generasi akhir Allah swt berfirman, “semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik Allah. Wahai kaum mukmin, Kami telah memerintahkan kepada kaum Yahudi dan Nasrani sebelum kalian ddan juga kepada kalian untuk bertakwah (taat) kepada Allah. Jika mereka kafir, maka sesungguhnya seua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik Allah. Allah tidak memerlukan ketaatan manusia lagi Maha Terpuji sifat-sifat-Nya (QS. An-Nisa: 131)

Allah swt berfirman, “Wahai manusia, bertakwalah (taatlah) kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari diri yang satu, kemudian menciptakaan pasangannya dari diri yang satu itu, dari seorang laki-laki dan seorang perempuan pertama itulah Allah mengambang biakkan lak-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah, Tuhan yang menjadi tumpuan kalian ketika kalian meminta rahmat-Nya. Jagalah ikatan kerabat kalian. Allah selalu mengawasi perbuatan kalian (QS An-Nisa [4]1)

Wahai orang-orang beriman bertakwalah (taatlah) kepada Allah dan berkatalah dengan perkataan yang benar. Dengan begitu, niscaya semua yang kalian lakukan hasilnya akan menjadi baik dan dosa-dosa kalian akan diampuni Allah. Siapa saja yang bertakwa kepada Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia memperoleh kemenangan yang sangat besar (QS Al Ahzab[33]70-71)

Takwa merupakan perbuatan yang harus dilakukan terus menerus. Ia tidak bisa hanya dilakukan sekali waktu tanpa memperbaharuinya. Tanpa terus dilatih jangan harapkan ia kekal di dalam diri kita. Ibarat anak bayi yang sedang belajar berjalan tak peduli tesanduk batu atau jatuh, ia akan terus berlatih. Semakin sering belajar maka akan lekas bisa berjalan, bagitu juga dengan takwa. Allah berfriman

Wahai kaum mukmin, bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya. Janganlah kalian mati kecuali kalian sebagai muslim (QS Ali Imran 102)

Disini kita disuruh bertakwa sebenar-benarnya takwa yaitu mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya dengan sepenuhnya, tapi memang tidak mudah. Allah swt memberikan toleransi agar manusa tak terbebani dan takut tidak mencapai tingkatan takwa yang tertinggi. Hal ini terungkap dengan jelas dalam firmannya, Wahai manusia, kerena itu taatlah kepada Allah dengan segenap kemampuan kalian. (QS Taghabun[64]16)

Kemudian Allah memerintahkan bertakwa untuk seluruh umat manusia, Wahai sekalian manusia, bertakwalah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya guncangan pada hari kiamat itu sebuah malapetaka yang sangat hebat. Pada hari itu kalian menyaksiakan perempuan-perempuan yang menyusui lupa pada anak yang disusuinya. Perempuan-perempuan hamil gugur kandungannya. Kalian melihat orang-orang kafir terhuyung-huyung hendak jatuh seperti orang mabuk, padahal mereka tidak mabuk. Mereka terhuyung-huyung karena adzab Allah yang sangat hebat (QS Al-Hajj [22]1-2)

Ayat ini menunjukkan adanya keterkaitan antar takwa dan peristiwa hari kiamat. Hal itu berarti Allah swt memerintahkan kepada manusia agar membangun pembatas yang menghalangi antara dirinya dan murka Allah swr di hari itu.

Lalu Al-Qur’an menegaskan kembali, Dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang ada di langit dan di bumi dan untuki-Nyalah ketaatan itu selama-lamanya. Maka, mengapa bertakwa kepada yang selain Allah (QS an-Nahl [16]52)

Allah menceritakan tentang para penghuni neraka, sebagai janji kepada mereka yang tidak mau bertakwa kepada-Nya

Demikianlah, Allah mencakut-nakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku, wahai hamba-hamba-Ku (QS Az-Zumar[39]16)

Hasan al Basri berkata bahwa inilah ayat yang paling menakutkan yang ada dalam Kitabullah.

 

Kata takwa sering disandingkan dengan nama Allah

Bertakwalah kepada Allah yang kepada-Nya kamu akan dikembalikan. (QS Al-Mujjadilah [58]18)

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al-Hasyr [59]18)

 

Takwa dan akhlak mulia yang banyak memasukkan ke surga.

Nabi saw pernah ditanya tentang amalan yang banyak memasukan ke surga. Belaiu menjawab, Takwa kepada Allah dan berakhlak mulia (HR Tirmidzi, ahmad dan ibnu majah)

Ibnu Rahab berkata, Akhlak yang baik termasuk muatan takwa dan takwa tidak sempurna kecuali dengannya. Akhlak yang mulia disebutkan tersendiri karena ada kebutuhan mendesak untuk menjelaskannya. Ini sebab sebagian manusia mengira takwa ialah menunaikan hak Allah tanpa menunaikan hak-hak manusia memadukan antara menunaikan hak-hak Allah dengan menunaikan hak-hak manusia itu sangat sulit dan hanya orang-orang kuat saja yang mampu melakukannya yaitu para nabi dan orang-orang yang jujur.

 

Takwa disandingkan dengan jihad

Wahai Rasulullah saw, nasehatilah aku, Beliau pun bersabda, “Aku wasiatkan kepadamu agar bertakwa kepada Allah, karena takwa adalah induk segala perkara. Kamu sebaiknya juga berjihad, karena jihad adalah nafas Islam (HR Ahmad)

 

Takwa juga di pesankan oleh Rasulullah saw kepada para pebisnis

Diriwayatkan dari Rifa’ah, ia berkata, “Suatu saat kami sedang berjalan bersama Rasulullah saw tiba-tiba ada sekelompok orang yang sedang melakukan transaksi jual beli di pagi hari. Kemudian, Rasulullah saw memanggil orang-orang itu, “Wahai para pedagang! Dan, ketika para pedagang tersebut sudah memalingkan pandangan dan perhatiannya, Rasulullah pun bersabda ; Sesungguhnya, para pedagang itu nanti pada hari kiamat akan dibangkitkan dari dalam kubur dalam keadaan tercela kecuali mereka; orang-orang yang tetap bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan berkata jujur (HR Ibnu Majah)

Dalam hadis lain Rasulullah saw bersabda; Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ada sebuah pertanyaan yang ditujukan kepada Rasulullah saw, Ya Rasulullah, siapakah manusia yang paling mulia di sisi-Nya. Beliau menjawab adalah orang yang paling bertakwa (HR Muslim)

 

Takwa juga dikaitkan dengan akhlak contohnya adalah ghibah,

Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah olah kalian sebagian besar dari rasa curiga kepada sesama mukmin. Karena curiga kepada sesama mukmin itu dosa. Jangnlah kalian memata-matai sesama mukmin. Jangan kalian menggunjing satu sama lain. Patutkan seorang di antara kalian dengan senang hati memakan daging bangkai saudaranya? Tentu kalian benci hal itu. Bertakwalah (taatlah) kepada Allah. Sungguh Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang kepada semua mahkluk-Nya (QS Al-Hujraat [49]12)

 

Takwa juga disandingkan dengan puasa,

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (menahan nafsu) (QS Al-Baqarah [2]185)

 

Takwa juga diringi dengan perbuatan baik,

“Sesungguhnya Allah bersama  orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan (QS An-Nahl [16]128)

Rasulullah saw bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan, ia akan menghapuskannya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik (HR Tirmridzi)

 

Takwa dikaitkan dengan larangan riba

Karena riba sangat sulit dihindari karena bagian dari nafsu yang selalu mendorong mansuia untuk senantiasa mencintai harta an berharap harta bertambah banyak, Wahai kaum mukmin, bertakwalah (taatlah kepada Allah dan tinggalkan semua sisa-sisa riba yang masuh ada pada peminjam, jika kalian benar-benar beriman kepada syariat Allah (QS Al-Bawarah[2]278)

 

Takwa juga disandingkan dengan percerian,

Wahai Nabi dan kaum mukmin, jika kalian mentalak istri-istri kalian, maka talaklah mereka pada masa suci mereka sebelum disenggamai. Hitunglah masa iddah mereka. Bertakwalah kepada Allah…(QS as-Thalaq [65]1) Siapa saja yang bertakwa kepada Allah pasti Allah akan memberikan jalan keluar dari segala kesulitan (QS as-Thalaq [65]2)

 

Takwa adalah pilar dalam Islam,

Diriwayatkan dari Irbadh bin Saariyah, ia berkata, Rasulullah saw telah mendoakan kami diwaktu subuh, sambil menghadapkan wajahnya kepada kami, seraya memberikan nasihat yang begitu mengena. Ketika itu terlihat mata beliau berlinang air mata dan hatinya terasa berdebar-debar. Kamipun bertanya, Ya Rasulullah seakan akan nasihat ini adalah nasihat yang akan memisahkan kita, maka berikanlah kepada kami sebuah wasiat! Beliau pun menjawab, “Aku berwasiat kepada kalian untuk selalu bertakwa kepada Allah, serta patuh dan taat kepada-Nya. Karena pada saat nanti, akan ada seorang hamba yang menyerupai orang Habasyah dimana mereka hidup diantara kalian dengan penuh perselisihan. Maka berpeganglah pada sunnahku dan sunnah Khulafa ar-rasyidin yang telah diberi hidayah. Berpegang teguhlah pada sunnahku dengan sungguh-sungguh. Takutlah kalian akan sesuatu yang akan terjadi, karena di sebagian sesuatu yang akan terjadi itu terdapat unsur bid’ah dan setiap bid’ah (yang jelek) termasuk kesesatan (HR Ahmad)

 

Takwa dalam bepergian

Berpergianpun kita sangat dianjurkan untuk hati-hati karena harus dipersiapkan dengan takwa, diperjalanan akan menghadapi godaan yang menyenangkan atau tidak. Jika tidak dengan bekal takwa bisa terperosok dalam dosa.

Ibnu Juraikh berkata, bahwa Aku Zubair teleh menyampaikan berita kepadanya, dimana ia mendapatkan berita itu dari Ai al Azdari, bahwa sahabat Umar telah mengajarkan kepada mereka tentang Rasulullah saw. Apabila beliau telah duduk di atas untanya dan siap berangkat bepergian, beliau selalu membaca takbir 3 kali lalu berdoa,”Maha suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini untuk kami dan kami tidak akan menyembah selain Allah. Dan sungguh kami semua akan dikembalikan kepada Tuhan kami (QS Az-Zukhruf)

Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu agar bepergian kami ini adalah termasuk perjalanan yang baik dan takwa dan termasuk aktivitas yang Engkau ridhai. Ya Allah, berikanlah pertolongan dalam perjalanan kami ini dan dekatkanlah apa yang jauh. Ya Allah, Engkaulah teman dalam perjalanan kami ini, penolong bagi kelauarga kami. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dari perjalanan yang tidak baik dan dari pandangan yang tidak menyenangkan dan jeleknya kecenderungan terhadap harta dan keluarga.

Dan apabila beliau telah kembali, maka dibacanya doa yang sama dengan ditambah doa berikut

Jadikanlah kami orang-orang yang kembali, orang-orang yang bertobat, pengabdi-pengabdi-Mu dan orang-orang yang selalu memuji kepada Tuhan kami.

Saudarku, terpikirkah dalam benak kita setelah membaca doa ini akan melakukan perjalanan ke suatu tempat untuk bermaksiat kepada Allah swt.

Mu’adz bin Jabal berkata, “Pada hari kiamat nanti manusia akan dikumpulkan dalam satu tempat, kemudian mereka dipanggil, dimanakah orang-orang yang bertakwa? Kemudian orang yang bertakwa berdiri dalam lindungan Allah. Saat itu, Allah tidak terhalang dan tidak tertutup dari mereka. Seorang bertanya, “Siapakah orang-orang yang bertakwa? Nabi menjawab, yaitu kaum yang menghindari perbuatan musyrik dan penyembahan berhala. Mereka memurnikkan ibadah kepada Allah berusaha keras untuk meraih surga .

Umar bin abdul aziz berkata, “kepada seseorang, “Aku berwasiat kepadamu agar bertakwa kepada Allah yang tidak menerima selain ketakwaan, tidak akan disayangi oleh Allah kecuali ahli takwa dan tidak diberi pahala kecuali orang yang bertakwa. Sungguh banyak orang yang memberi nasihat takwa tapi melakukan sangat sedikit.

 

Definis takwa

Secara bahasa, takwa berarti penjagaan atu perlindungan yang membentengi manusia dari hal-hal yang menakutkan dan mengkhwatirkan. Kata “takwa” seringkali disandarkan pada Allah (takwa kepada Allah) untuk menunjukan perlindungan yang menyelamatkan seorang hamba amarah dan siksa Allah. Perlindungan tersebut diperoleh dengan cara melakukan segala perintah dan menjauhi larangan Allah serta melakukan kewajiban dan meninggalkan sesuatu yang haram dan subhat. Termasuk didalamnya adalah melakukan sesuatu yang dimakruhkan

Takwa adalah perkara yang agung dan kedudukan yang tinggi. Ia adalah pondasi agama, tidak ada kehidupan kecuali dengannya. Kehidupan tanpanya sangat sulit, bahkan lebih rendah daripada kehidupan binatang. Tidak ada kebaikan bagi manusia kecuali dengan takwa, ia adalah harta simpanan yang mahal, jika mendapatknnya. Berarti kita mendapatkan mutiara yang mulia, kebaikan yang banyak, rezeki yang mulia, keuntungan yang besar, rampasan perang yang melimpah dan harta yang agung. Seakan kebaikan dunia dan akhirat dihimpun dan dijadikan pada satu sifat yaitu takwa. Sangat pentingnya takwa dalam Al-Qur’an telah mencatat kata takwa dalam 258 ayat

Takwa adalah takut dari Allah yang Maha Agung, mengamalkan Al-Qur’an, merasa puas dengan yang sedikit dan bersiap-siap menghadapi hari akhirat (kematian)

Umar bertanya kepada Ubay bin Ka’ab, “Apa takwa itu? Ubay menjawab, “Wahai Amirul Muninin, apakah engkau pernah melewati jalan yang penuh dengan duri? Di menjawab “Ya”

Apa yang engkau lakukan? Tanya Ubay. Umar menjawab, “Aku menyisingkan baju dari betisku, melihat tempat menapakkan kaki, memajukan satu kaki dan membelakangkan yang lain karena takut terkena duri. Maka Ubay berkata, Itulah takwa yaitu bersungguh-sungguh untuk taat, memperhatikan yang halal dan haram, hati-hati dari tergelincir, merasa khawatir dan takut dari Dzat yang Maha Agung dan Maha Tinggi

Ibnu Qayyim mendinifiskan takwa, “Hakekatnya adalah beramal dengan melakukan ketaatan kepada Allah dengan penuh keimanan dan pengharapan terhadap perintah dan larangan, mengerjakan yang diperintahkan karena mengimani yang memerintahkan, membenarkan janjinya, meninggalkan yang dilarang karena mengimani yang melarangnya dan takut dari ancaaman-Nya.

Umar abdul Aziz berkata, “Takwa kepada Allah swt bukan hanya dengan puasa pada siang hari dan shalat pada malam hari, tetapi yang disebut takwa kepada Allah swt adalah meninggalkan segala larangan dan mengerjakan semua perintah-Nya. Orang yang mendapatkan pahala dari kebaikan setelah mencapai derajat takwa akan sangat beruntung, karena kebaikan yang didapatnya adalah kebaikan di atas kebaikan.

Ibnu Abbas ra berkata orang yang bertakwa adalah mereka yang menjauhi larangan-Nya dan melaksanakan perintah-Nya.

Abu Darda berkata, “Kesempurnaan takwa adalah seorang hamba takut kepada Allah hingga dia takut dari sebiji sawi dan hingga meninggalkan apa yang dilihatnya halal karena khawatir haram. Tentu maksudnya bukan meninggalkan semua yang halal, tetapi kehati-hatian kadang-kadang menuntut untuk meninggalkan sesuatu yang mubah karena khawatir terjerumus kepada yang haram. Allah berfirman, “Barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kajahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat balasannya pula (QS Az-Zalzalah [99]7-8)

Al-Jurjani berkata ketakwaan adalah suatu tindakan melindungi, upaya pembentengan diri dengan ketaatan yang total kepada Allah dengan cara mematuhi segala bentuk hukum-hukum-Nya. Di sini posisi takwa menjadi benteng yang dapat melindungi dari segala sesuatu yang menyebabkan seseorang terkena hukuman, baik yang menyangkut sesuatu yang harus dilakukan ataupun sesuatu yang harus ditinggalkan. Al-Jujani menyebutkan dua katagori takwa yaitu takwa dalam taat dan takwa dari maksiat. Yang dimaksud dengan takwa dalam taat adalah ikhlas sedangkan yang dimaksud dengan takwa dari maksiat adalah meninggalkan maksiat dan waspada terhadapnya.

Thalq bin Hubain berkata takwa adalah beramal dengan taat kepada Allah, diatas cahaya-Nya dengan mengharapkan pahala-Nya. Meninggalkan maksiat kepada Allah diatas cahaya dari-Nya dan takut akan hukuman-Nya.

Perkataan Thalq bin Habib ini menjelaskan hakikat takwa. Bahwa di dalam takwa harus ada amal, iman, serta ikhlas; yang ketiga hal tersebut membutuhkan ilmu.

Shal at-Tustari mengatakan, “Tiada penolong selain Allah. Tiada yang memberi petunjuk selian Rasulllah, tiada bekal akhirat selain takwa. Tiada amalan selain amal yang disertai kesabaran. Orang yang ingin bertakwa dengan benar, maka hendaklah dia menginggalkan dosa.

Ada yang mengatakan, takwa adalah sedikit bicara. Pondasi takwa adalah menjaga diri dari perbuatan syirik dan munafik. Selanjutnya menjaga dari perbuatan tercela dan maksiat. Dan tingkat berikutnya adalah menjaga diri dari sesuatu yang syubhat, berlebihan dan tidak bermanfaat.

Sufyan ats-Tauri berkata, “Mereka dinamakan Muttaqin karena mereka menjaga diri dari sesuatu yang sebenarnya tidak perlu dihindari. Maksudnya menjaga diri dari perbuatan halal, karena takut terperosok dalam sesuatu yang syubhat ataupun haram. Dalam haids disebutkan, “Seorang hamba tidaklah mencapai derajat orang-orang yang bertakwa hingga dia meninggalkan sesuatu yang tidak dilarang baginya, karena takut melakukan perkara yang dilarang (HR Ibnu Majah dan Timridsi)

Maimun bin al-mahrin berkata, “Orang yang bertakwa sangat perhitungan terhadap dirinya dibanding perhitungan orang yang bakhil terhadap rekan bisnisnya

Orang yang bertakwa menghindar dari perkara-perkara yang halal karena takut terjerumus kepada yang haram, hingga Allah menamai mereka orang yang bertakwa.

Takwa dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan terdiri dari  tingkatan

  1. Menjaga diri dari siksa yang kekal yaitu syirik dan kekufuran. Dilakukan dengan mengikuti tauhid dan kalimat tauhid. Inilah yang dimaksud dengan firman-Nya, “Allah mewajibkan kepada mereka kalimat takwa
  2. Menjaga dari setiap penyebab azab di neraka, walaupun hanya sekejap, baik berupa dosa besar maupun dosa kecil yaitu yang dikenal dalam ilmu syariah
  3. Seorang hamba yang menghindarkan diri dari perkara yang akan menyibukkannya dari Allah, walaupun perkara tersebut itu mubah, menghalanginya untuk berjalan menuju Allah atau memperlambatnya. Ini aalah tingkatan yang sempurna dan tinggi. Karena seorang hamba sibuk dengan perkara-perkara mubah yang menyibukkan hati dari Allah, yang mungkin mengakibatkan kekerasan hati, berikutnya jatuh kepada yang makruh, yang makruh mengakibatkan jatuh kepada yang diharamkan.

Seorang pemberi nasehat berkata ketahuilah bahwa takwa menurut ungkapan para ahli “bengkel hati” adalah membersihkan hati dari setiap dosa hingga terwujud pada dirimu kekuatan tekad untuk meninggalkannya sebgai penjaga bagi dirimu dari seluruh kemasiatan dan mengokohkan dirimu untuk meninggalkan setiap keburukan.

Takwa bukanlah hati semata sebaliknya takwa adalah sifat positif yang menggerakkan seluruh anggota tubuh untuk patuh terhadap perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Cahaya ketakwaan memancar dari budi pekerti dan amal ibadah seseorang muslim. Jika kita melihat umat islam terdahulu sifat takwa tercermin dalam hubungan mereka dengan istri, anak-anak, keluarga dan tetangga mereka, dalam jual beli, dalam keadaan aman maupun perang dan dalam setiap urusan kehidupan didunia.

Rasulullah Saw. memberi arahan kepada para sahabat tentang cara memandang orang lain. Dari Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi, dia mengatakan bahwa seorang laki-laki lewat di hadapan Rasulullah Saw. Maka berkatalah beliau kepada seseorang yang sedang duduk di sampingnya, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Orang itu menjawab, “Seorang laki-laki dari kalangan terhormat. Orang ini, demi Allah, kalau meminang layak dinikahkan dan kalau ia meminta untuk orang lain pasti berhasil.” Sahl bin Sa’id mengatakan, maka Rasulullah Saw. diam. Kemudian lewatlah seseorang. Rasulullah Saw. berkata lagi, “Bagaimana pendapatmu tentang orang ini?” Dia menjawab, “Ya Rasulullah, ini dari kalangan orang-orang muslim yang fakir. Orang ini jika meminang layak ditolak, jika meminta tidak akan diberi dan jika berbicara layak tidak didengarkan kata-katanya.” Maka berkatalah Rasulullah Saw., “Orang (yang miskin) ini lebih baik dari orang seperti itu sepenuh bumi.” (H.R. Bukhari)

Ini karena Rasulullah Saw. meman­dang­nya dengan kaca mata iman dan takwa dan parameternya pun iman dan takwa. Orang yang hatinya busuk akan melihat orang lain hanya dari sisi buruknya saja dan tidak mampu melihat dari sisi baik dan positifnya. Pantaslah Rasulullah Saw. bersabda:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali (HR Muslim)

Di sinilah letak sulitnya merealisasikan takwa yang hakiki, kecuali bagi orang-orang yang dimudahkan oleh Allah Ta’ala, karena kalau anggota badan mudah kita kuasai dan tampakkan amal baik padanya, maka tidak demikian keadaan hati, sebab hati manusia tidak ada seorangpun yang mampu menguasainya kecuali Allah Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,

“Dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi (menghalangi) antara manusia dan hatinya.” (Qs. al-Anfaal: 24)

Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya semua hati manusia berada di antara dua jari dari jari-jari ar-Rahman (Allah Ta’ala), seperti hati yang satu, yang Dia akan membolak-balikkan hati tersebut sesuai dengan kehendak-Nya”, kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berdoa: “Wahai Allah Yang membolak-balikkan hati (manusia), palingkanlah hati kami untuk (selalu) taat kepad-Mu.” (HR Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Takwa itu terletak di sini”, sambil beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjuk ke dada/hati beliau tiga kali (HR Muslim)

Imam an-Nawawi ketika menjelaskan makna hadits di atas, beliau berkata, “Artinya: Sesungguhnya amalan perbuatan yang tampak (pada anggota badan) tidaklah (mesti) menunjukkan adanya takwa (yang hakiki pada diri seseorang). Akan tetapi, takwa (yang sebenarnya) terwujud pada apa yang terdapat dalam hati (manusia), berupa pengagungan, ketakutan dan (selalu) merasakan pengawasan Allah Ta’ala.”[5]

Makna takwa yang hakiki di atas sangatlah jelas, karena amal perbuatan yang tampak pada anggota badan manusia tidak mesti ditujukan untuk mencari ridha Allah Ta’ala semata. Lihatlah misalnya orang-orang munafik di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, mereka menampakkan Islam secara lahir, dengan tujuan untuk melindungi diri mereka dari kaum muslimin, padahal dalam hati mereka tersimpan kekafiran dan kebencian yang besar terhadap agama Islam. Allah Ta’ala berfirman:

Orang-orang munafik selalu menyangka bahwa Allah dapat ditipu. Padahal sebanarnya orang-orang munafiklah yang tertipu oleh anggapan mereka sendiri. Apabila orang-orang munafik shalat, mereka melakukan dengan bermalas-malasan karena sekedar ingin mencari pujian manusia. Hanya sedikit sekali kam munafik yang mau mengingat Allah (Qs. An-Nisaa’: 142)

Demikianlah keadaan manusia dalam mengamalkan agama Islam secara lahir, tidak semua bertujuan untuk mencari ridha-Nya. Bahkan di antara mereka ada yang mengamalkan Islam hanya ketika dirasakan ada manfaat pribadi bagi dirinya, dan ketika dirasakan tidak ada manfaatnya maka dia langsung berpaling dari agama Islam.

Mereka inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala,

Ada segolongan manusia yang selalu berubah-ubah pendirinya dalam menyembah Allah. Apbila dalam mejalankan agamanya mendapatkan keuntungan dunia, hatinya senang. Apabila dalam menjalankan agmanya mendapat rintangan berat, dia menjadi kafir kepada Allah. Orang semacam itu rugi di dunia dan diakhirat. Kerugian di akhirat adalah kerugian yang sebenarnya  (Qs. al-Hajj: 11)

 

Kedudukan takwa

 

Takwa adalah pakain terbaik.

Ibnu Jauzi menceritakan, “Suatu hari, seseorang bertanya kepada Hasan al-Basri, “Wahai Abu Sa’d, pakaian apakah yang paling anda sukai? Jawab Hasan al-Basri, “Yang paling kasar dan paling jelek menurut pandangan manusia.” Lalu orang itu bertanya lag, Bukankah Rasulullah saw pernah bersabda, “Bahwa Allah Maha Indah dan menyukai keindahan? Jawab Hasan al-Basri, “Wahai sepupuku, keindahan menurut Allah itu bukan pada pakaian. Sebab jika keindahan menurut Allah itu adalah pakaian, maka orang-orang durhaka (kafir) akan lebih mulia menurut Allah ketimbang orang-orang yang baik. Keindahan itu adalah mendekatkan diri kepda Allah dengan amal-amal shalih, menjauhi maksiat, serta berkhlak baik dan mulia. Rasulullah saw,Sesunguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia (HR Malik)

Allah berfirman. Wahai anak keturunan Adam. Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup aurat-aurat kalian dan pelindung bagi kalian. Berpakaian menutup aurat karena bertakwa (taat) kepada Allah adalah cara berpakaian yang paling baik. Itulah di antara syariat Allah yang dijelaskan kepada manusia suapaya manusia supaya manusia selalu ingat untuk menutup auratnya. (QS Al-Araaf [7]26)

 

Takwa adalah bekal yang paling baik.

Suatu hari Ali ra masuk ke kuburan dan berkata, “Wahai para penghuni kubur, apa kabar yang ada pada kalian? Sesunguhnya kabar yang ada pada kami, harta kalian telah dibagikan, rumah-rumah kalian telah ditinggalin istri-istri kalian telah dinikahi,”kemudian dia menangis. “Demi Allah, andai mereka mampu menjawab pasti mereka akan berkata “Sesunguhnya kami mendapatkan bahwa sebaik-baik bekal adalah takwa.

Hendaklah kalian menyiapkan bekal perjalanan ke akhirat. Bekal perjalanan ke akhirat yang terbaik bagi manusia adalah ketakwaan (ketaatan) kepada-Ku. Oleh karena itu, bertakwalah (taatlah) kalian kepada-Ku (QS Al-Baqarah [2]197)

Bekal dan pakaian atau perhiasan adalah takwa bukan emas atau pakaian dari sutra. Maka mulai sekarang persiapkanlah bekal kita itu. Allah berfirman

Apakah orang yang membangun masjid dengan dasar takwa kepada Allah dan mencari keridhaan-Nya itu lebih baik? Ataukah orang-orang yang membangun masjid dengan dasar kemunafikan lalu mereka meluncur bersama bangunananya itu ke dalam nereka jahanam? Allah tidak memberi hidayah kepada kuam muncak karen kezhalaimannya (QS At-Tuabh [9]109)

Dalam ayat ini yang ingin dijelaskan oleh Allah swt adalah bahwa takwa haruslah selalu menjadi prinsip dasar dalam kehidupan umat manusia. Seumpama pondasi dari sebuah bangunan, takwa adalah bahan dan bentuk pondasi yang paling kuat

 

Orang yang bertakwa adalah para kekasih Allah yang sejati

“Wahai manusia, ketahuilah bahwa orang-orang yang menjadi kekasih Allah tidak mempunyai rasa takut menghadapi siksa akhirat dan rasa sedih kehilangan dunia. Para kekasih Allah adalah orang-orang yang beriman dan selalu takwa kepada Allah. (QS Yunus [10]62-63)

Para kekasih Allah adalah orang-orang yang bertakwa (taat) kepada Allah. Akan tetapi kebanyakan kaum musyrik tidak mau menyadari kesesatan mereka (QS Al-Anfaal [8]24)

 

Takwa adalah timbangan yang menentukan keunggulan di antara manusia.

Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujuraat [49] 13)

Takwa merupakan hak Allah yang diwasiatkan kepada orang-orang terdahulu dan orang-orang kemudian, seluruh Rasul mewasiatkan ketakwaan sebagaimana difirmankan Allah :

Semua yang ada di langit dan di Bumi hanyalah milik Allah. Wahai kaum mukmin, Kami telah memerintahkan kepada kaum Yahudi dan Nasrani sebelum kalian dan juga kepada kaluan untuk bertakwa kepada Allah. Jika mereka kafir, maka sesungguhynya semua yang ada di langit dan di bumi hanyalah milik Allah, Allah tidak memerlukan ketakwaan manusia lagi Maha Terpuji difat-sifatnya (QS An-Nisa [4]131)

Ketika suadara mereka Nuh berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? (QS Asy Syu’ara 106)

Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? (QS Asy-Syu’ara 124)

Ketika saudara mereka, Shaleh, berkata kepada mereka, “Mengapa kamu tidak bertakwa? (QS Asy-Syu’ara 142)

Ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka, Mengapa kamu tidak bertakwa? (QS Asy-Syu’ara 161)

 

Sifat orang-orang yang bertakwa

1. Beriman kepada yang gaib dengan keimanan yang mantap,

Itulah AL-Qur’an yang tidak diragukan kebenarannya datang dari Allah menjadi petunjuk bagi orang-orang yang takwa, taat kepada Allah dan bertauhid yaitu orang yang beriman kepada yang ghaib,melaksanakan shalat dan mengneluarkan zakat dari harta yang Kami karuniakan kepada mereka (QS Al-Baqarah 2-3)

 

2. Yang menahan marah dan yang memberi maaf dan berlapang dada,

Mereka mampu menahan rasa marah dan mau memaafkan kesalahan orang lain. Allah mencintai orang-orang yang melakukan kebaikan semacam itu. Orang-orang takwa yaitu orang-orang yang setelah berbuat dosa kecil, mereka segera bertaubat kepada Allah, kemudian mohon ampun atas segala dosa mereka. Tiada yang dapat mengampuni dosa-dosa manusia selain Allah. Kemudian mereka tidak mengulangi dosa-dosa yang lalu itu untuk seterusnya, mereka menyadari dosa-dosanya itu. Orang-orang yang takwa itu mendapatkan pahala berupa pengampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga. Dibawah surga mengalir sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Surga itu sebagai pahala yang baik bagi orang-orang yang beramal shalih (QS Ali Imran [4]133-136)

“Dan untuk memberi maaf itu lebih dekat dengan takwa (QS Al-Baqarah 237)

 

3. Tidak melakukan dosa besar dan tidak terus menerus dalam dosa-dosa kecil.

Cepat sadar saat melakukan dosa dan segera bertobat, “Sungguh orang-orang yang takwa, bila dibisiki keraguan oleh setan, maka mereka menyebut nama Allah. Dengan begitu orang-orang mukmin segera dapat menyadari kesalahan mereka (QS Al-A’raaf [7]201)

 

4. Berusaha keras untuk senantiasa jujur dalam perkataan dan perbuatan

Wahai kaum mukmin, hakikat al-bir, taat kepada Allah itu bukanlah sekedar menghadapkan diri ke arah timur dan barat. Orang yang bertakwa kepada Allah yang sebenarnya adalah orang yang beriman kepada Allah hari akhirat, para malaikat, kitab-kitab-Nya dan para nabi-Nya, dia memberikan harta yang dicintainya kepada kaum kerabat, anak-anak yaitm, orang miskin orang-orang yang terlantar dalam perjalanan, orang-orang yang memenuhi janji-janji mereka bila berjanji, serta bersabar menghadapi melapetaka, bencana dan saat terjadi peperangan, orang-orang itulah yang dikatakan benar-benar beriman, mereka itulah orang-orang yang takwa, taat kepada Allah dan bertauhid (QS Al-Baqarah [2]177)

 

5. Berlaku adil dan menghukum dengan adil,

“Wahai kaum mukmin, nyatakanlah kebenaran karena Allah, dan jadilah saksi yang adil. Janganlah kebencian kalian kepada suatu kaum menyebabkan kalian berbuat tidak adil kepada mereka. Berlaku adilah kalian karena keadilan itu menjadikan manusia lebih dekat dengan Allah, sungguh Allah akan memberitahukan balasan atas semua perbuatan kalian. (QS Al-Maaidah [5]8)

Imam Ibnul Qayyim membawakan ucapan seorang ulama salaf yang menafsirkan sikap adil dalam ayat ini, beliau berkata, “Orang yang adil adalah orang yang ketika dia marah maka kemarahannya tidak menjerumuskannya ke dalam kesalahan, dan ketika dia senang maka kesenangannya tidak membuat dia menyimpang dari kebenaran.”

Kebanyakan orang bisa bersikap baik dan adil kepada orang lain ketika dia sedang senang dan ridha kepada orang tersebut, karena ini sesuai dengan kemauan hawa nafsunya. Tapi sikap baik dan adil meskipun dalam keadaan marah/benci kepada orang lain, hanya mampu dilakukan oleh orang yang memiliki ketakwaan dalam hatinya.

 

6. Mengikuti jalan para nabi, orang-orang jujur

Wahai Kaum Mukmin bertakwalah kalian pada Allah dan jadilah orang-orang yang jujur (QS At-Taubah 119)

 

7. Mengagungkan syir’ar-syiar Allah.

Demikianlah perintah Allah. Dan barang siapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati (QS Al-Hajj 32)

 

8. Menafkahkan harta dalam keadaan lapang dan sempit,

Orang-orang yang mendermakan hartanya karena mencari keridahaan Allah dan menguatkan iman dalam diri mereka laksana sebuah kebun yang tanahnya subur, kemudian hujan lebat turun menyirami kebun itu, lalu tanamannya menghasilkan buah berlipat dua kali. Sekiranya tanah subur itu tidak tersentuh oleh hujan lebat dan hanya tersiram germis, maka tanamannya tetap menghasilkan buah. Allah Maha Mengethaui niat kalian dalam berderma (QS Al-Bawarah [2]295)

Artinya perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya alam keadaan apapun, baik kaya dan miskin, ibarat kebun yang terletak di dataran tinggi. Bila hujan turun dengan lebat, pohon-pohon di kebun itu akan berbua berlipat ganda. Apabila hukan gerimis pepohonan di kebun it akan tetap terjaga dan berbuah.

Qatadah berkata, Ini adalah perumpamaan yang dibuat oleh Allah untuk menggambarkan amanlan orang mukmin. Pahala kebukaikannya tida akan pernah berhanti. Sperti halnya buah buahan yang dihasilkan oleh kebun dalam keadaan apapun, baik terkena siraman hujan lebat ataupun gerimis

 

 

Buah dan faedah takwa di dunia dan akhirat

 

  1. Bertambahnya ilmu,

Dan bertakwalah kepada Allah. Allah akan mengajarimu dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS Al-Baqarah 282).

 

  1. Akan selalu bersama Allah,

Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa. (QS Al-Baqarah 194).

Maksud dari kebersamaan dini adalah pertolongan, dukungan dan bimbingan yang Allah berikan kepada para nabi dan orang-orang bertakwa,  “Wahai Musa dan Harun, janganlah kamu takut. Sungguh Aku senantiasa melindungi kamu berdua. Aku mendengar dan mengawasimu kamu berdua (QS Thaahaa [20] 46)

Musa berkata, “Tidak! Sungguh, aku bersama Tuhanku dan Tuhanku akan memberi petunjuk kepadaku menghadapi kejaran Fir’aun dan pasukannya (QS Asy-Syu’araa [26] 62)

Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa kepada Allah serta selalu berbuat kebaikan (QS An-Nahl [16]128)

Dan hari itu didekatkanla surga kepada orang-oran gyang bertakwa (QS Syu’ara[26]90)

 

  1. 3.      Tidak merasa takut dan sedih didunia dan akhirat,

Wahai anak keturunan Adam, rasul-rasul Allah dari kalangan sendiri telah datang kepada kalian. Rasul-rasul itu mengajarkan syariat-Ku (ayat-ayat-Ku) kepada kalian. Siapa saja yang bertakwa kepada Rasul Allah dan beramal shalih, mereka tidak takut menghadapi siksa akhirat dan tidak pula bersedih hati kehilangan kesenangan dunia (QS Al-Araaf [7] 35)

Ingatlah, sesungguhnya wal-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula merka bersedih hati. Yaitu orang=orang yang beriman dan mereka selelu bertakwa (QS Yunus[10]62-63)

 

  1. 4.      Keluar dari kesulitan-kesulitan dunia,

Siapa saja yang bertakwa pasti Allah akan memberikan jalan keluar baginya dari segala kesulitan. Allah memberikan rezeki kepada orang mukmin dari arah yang tidak disangka-sangka. Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, cukuplah Allah menjadi penjamin orang mukmin. Allah pasti mengabulkan permohona nnya, Allah menetapkan apa saja dengan ukuran tertentu (QS Thalaaq [65]2-3)

Ayat ini turun saat orang-orang musrik menawan Auf bin Malsik al-Asuja’i yang merupakan anak satu-satunya dan menjadi tulang punggung serta penjamin kesejahteraan hidup keuda orang tuanya, maka ayah ‘Auf datang kepada Rasulullah saw untuk mengadukan anaknya yang belum pulang. Maka Rasulullah saw tidak banyak memberi jawabanselain mengatakan. Sabarlah dan bertakwalah kepada Allah. Perbanyak membanyak membaca “Laa haula walaa quuwata illah billah.” Setelah pulang ke rumah, ayahnya ‘Auf menceritakan kepada istrinya apa yang dipesan Rasul kepadanya. “Apa yang dicuapkan Rasulullah saw itu benar! Kata istrinya. Tidak lama datanglah ‘Auf memanggil manggil di depan pintu. Maka ibunya berkata, “Demi Rabb pemlihara Ka’bah, “Auf pulang. Ternyata orang-orang mendapati ‘Auf naik untuk dengan sekawanan unta diepean memenuhi pelataran rumah. ‘Auf rupanya telah behasil lolos dari tangan-tangan orang musyrik. Ketika ia lolos ia mendapati unta orang, lalu ia membawanya. Ditengah perjalanan ia menjumpai sekawanan unta orang-orang musyrik, maka unta itu ikut kepadanya. Menyaksikan hal itu ayahnya melaporkan kepada Rasul, Nabi saw bersabda, “Berbuatlah sesukamu terhadap untuk unta itu, adalah milikmu. Kemudian turun ayat diatas

 

  1. Menambah rezeki,

“Sekiranya penduduk berbagai negeri mau beriman dan takwa (taat) kepada Allah, niscaya Kami akan bukakan pintu-pintu berkah kepada mereka dari langit dan dari bumi. (QS Al-A’raaf [7]96)

 

  1. 6.      Mendapat Surga

Wahai kaum mukmin, bersegeralah kalin meraih ampunan dari Tuhan kalian dengan bertaubat dan meraih surga yang seluas seluruh langit dan bumi surga di sediakan bagi orang yang takwa, taat kepada Allah dan bertauhid (QS Ali Imran [3]133)

Orang-orang yang takwa itu mendapatkan pahala berupa pengampunan dari Tuhan  mereka dan surga-surga. Dibawah surga mengalir sungai-sungai, mere ka kekal di dalamnya. Surga itu sebagai pahala yang baik bagi orang-orang yang bermal shalih (QS Al-Baqarah 136)

Pada hari kiamat surga didekatkan kepada orang-orang yang bertakwa. Surga tidak jauh dari hadapan mereka (QS Qaaf [5]31)

Ingatlah pada hari Kami kumpulkan orang-orang yang bertakwa, untuk mengambil pahala surga dari Tuhan yang Mahabelas kasih. (QS Maryam 85)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa, kelak berada dalam surga-surga dan mata air mata air. Dikatakan kepada mereka, “Masuklah ke dalam surga dengan aman dan sejahtera. Kami menghilangkan perasaan dengkai kepada saudaranya dari hati yang orang-orang yang bertakwa kepada Allah. Mereka duduk berhadap-hadapan di surga (QS Al-Hijr[15]45-47)

Adapun orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka, mereka diantar masuk surga bebondong-bondong. Saat orang-orang mukmin tiba di depan surga, pintu-pintunya dibuka. Malaikat penjaga surga berkata kepada mereka, “Selamat berbahagialah kalian. Masuklah kalian dalam surga. Kalian kekal tinggal di dalam surga (QS Az-Zumar [39]73)

Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa (QS Maryam[19]63)

Dan sesungghnya kampung akhirat adalah lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (QS Yusuf[12]109)

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada di dalam taman-taman dan di mata air surga (adz-Dzariyat[51]15)

Untuk orang-ornag yang bertakwa kepada Allah pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sunagi merka kekal didalamnya (QS Ali Imran[3]15)

 

  1. Selamat dari api neraka,

“Wahai manusia sungguh setiap kalian pasti akan melewati jembatan di atas neraka. Yang demikian itu sudah menjadi ketetapan Tuhanmu. Kemudian akan Kami selamatkan orang-orang yang bertakwa (taat) kepada Kami, dan Kami biarkan orang-orang yang zhalim tercebur di jurang neraka dalam keadaan berlutut (QS Maryam [19] 71-72)

Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa kepada-Nya dari adzab neraka. Karena mereka telah menang melawan hawa nafsu mereka didunia. Adzab akhirat tidak akan menyentuh orang-orang yang ketika hidup di dunia bertakwa Mereka tidak merasakan kesedihan di akhirat (QS Az-Zumar [39]61)

 

  1. Mendapat kabar gembia ,

Wahai manusia, ketahuilah bahwa orang-orang yang menjadi kekasih Allah tidak mempunyai rasa takut menghadapi siksa akhirat dan rasa sedih kehilangan dunia. Para kekasih Allah adalah orang-orang yang beriman dan selalu takwa kepada Allah. Mereka gembira di dunia dan diakhirat kelak. Semua janji Allah tidak ada yang berubah. Itulah kemenangan yang besar bagi kaum mukmin (QS Yunus [10]62-64)

 

  1. Mendapatkan kemuliaannya,”

Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS Al-Hujuraat [49] 13)

 

  1. Mendapatkan keuntungan,

Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kaian. Tingkatanlah kesabaran kalian dalam menghadapi musuh dan bersiagalah kalian untuk memerangi orang-orang kafir. Bertakwalah kepada Allah, pasti akan beruntung di akhirat (QS Al-Baqarah [2]200)

 

  1. Dapat tempat tinggal yang aman,

Sungguh orang-orang yang bertakwa kepada Allah berada dalam tempat tinggal yang aman (QS Ad-Dukhaan [44]51)

 

  1. Akan mendapat rahmat,  dan  hidayah

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Alah dan berimanlah kepada Rasul-Nya, niscaya Allah akan memberikan rahmat-Nya dua kali lipat kepada kalian. Allah akan memberikan hidayah kepada kalian untuk menjalani kehidupan di dunia. Allah akan mengampuni semua dosa kalian, Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang kepada semua makhluk-Nya (QS Al Hadid [37]28)

 

  1. Dihapuskan dosanya,

“Siapa saja yang bertakwa kepada Allah semua dosanya dihapuskan dan pahalanya akan diperbanyak (dilipatgandakan) (QS Thalaaq [65] 5)

 

  1. Dijanjikan pahala oleh Allah,

Kehidupan dunia ini bagi orang-orang kafir hanyalah untuk bersenang-senang dan hiburan. Wahai manusia, jika kalian benar-benar beriman dan bertakwa (taat) kepada Allah, maka Allah akan memberikan pahala kepada kalian. Allah tidak akan meminta harta kalian sedikitpun (QS Muhammad [47]36)

 

  1. Dikasih oleh para kekasih teman-teman di surga, ‘

Orang-orang kafir yang di dunia berteman akrab kelak pada hari kiamat saling bermusuhan. Sedangkan orang-orang yang bertakwa kepada Allah kelak tidak bermusuhan (QS Az-Zukukhuf [43]67)

 

  1. Keselamatan siksa dunia,

Dan Kami selamatkan orang-orang yang beriman dan mereka adalah orang-orang yang bertakwa. (QS Fuslihat [41] 18)

 

  1. 16.  Dapat membedakan antara hak dan yang batil ,

Wahai kaum mukin, jika kalian taat kepada Allah, pasti Allah akan memberian kepada kalian furqaan, kecerdasan untuk membedakan antara yang benar dengan yang batil, Allah akan menghapuskan semua dosa kalian dan mengampuni kalianm Allah memiliki rahmat yang sangat besar (QS Al-Anfal [8]29)

 

  1. 17.  Mendapatkan cinta Allah, penghuni langit dan manusia

Sebenarnya siapa yang menepati janji (yang dibuat)nya dan bertakwa, Maka Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertakwa. (QS Ali Imran [3]76) Jika Allah mencintainya, lalu orang tadi dicintai oleh seluruh penduduk langit dan penduduk bumi.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam hati mereka rasa cinta dan kasih sayang kepada mereka (QS Maryam [19]96)

 

  1. 18.  Mendapatkan penjagan dari tipu daya para musuh

Jika kalian sabar, rela menerima musibah dan tetap takwa kepada Allah, maka tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sedikitpun, Allah mengetahui secara rinci apa yang mereka lakukan (QS Ali Imran [3]120)

 

  1. 19.  Sebab diterimanya amal  

Allah hanya mau menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa (ikhlash) (QS Al-Maidah [5]27)

 

  1. 20.  Allah akan menjaga anak orang-orang yang bertakwa

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (QS An-Nisa 9)

Di bawah pagar rumah itu ada harta simpanan berharga milik du anak itu. Dahulu ibu bapaknya adalah orang-orang shalih. Tuhanmu ingin agar kedua anak itu mencapai umur dewasa dan keduanya dapat mengeluarkan harta simpanan berharga itu sebagai rahmat dari Tuhanmu (QS Al-Kahfi [18]82) Allah menjaga kemaslahat karena kashalihan orangtuanya.

 

  1. 21.  Mempunyai kedudukan yang mulia dan tinggi atas segala makhluk

Orang-orang kafir itu tertipu oleh kesenangan dunia. Mereka mencemooh orang-orang beriman. Pada hari kiamat kelak, orang-orang yang bertakwa kepada Allah itu lebih mulia daripada orang-orang kafir. Allah memberikan karunia tanpa batas kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (QS Al-Baqarah [2]212)

 

  1. 22.  Dinikahkan dengan bidadari

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa akan selamat dari api neraka, mereka akan dimasukkan surga yang dikelilingi oleh kebun-kebun dan buah anggur, gadis-gadis yang montok yang umur dan tingginya sama (QS An-Naba [78]31-33)

 

  1. 23.  Berada disisi Allah serta bertemu dan melihat-Nya

Orang-orang yang bertakwa kepada Allah masuk kedalam surga yang mempunyai taman-taman dan sungai-sungai. Penghuni surga duduk di tempat-tempat yang disenangi di sisi Allah, Maharaja yang memiliki kekuasaan tak terkira besarnya (QS Al-Qamar [54]54-55)

Nabi saw berdoa, “Ya Allah aku memohon kepada-Mu petunjuk dan ketakwaan kesucian diri dan kekayaan.

“Ya Allah aku memohon kepada-Mu dalam perjalanan ini kebaikan dan takwa, serta amal shalih yang Engkau ridhai.

Ya Allah, berikanlah kepada jiwa-jiwa kami ketakwaannya dan kesuciannya, sesungguhnya Engaku sebaik-baik yang mensucikan. Engkau kekasih dan pelindungnya.

Maroji : Amalan hati, Syikh Muhammad Dalih al-munajjid 2004, Kunci Mencari Rezeki yang halal 2003, Abu Dzar Al Qilmani dan Menjadi Kekasih Allah, Amr Khaled 2007 dll


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s