Urgensi Akselerasi untuk Akhirat

“DAN bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa,” (Ali Imran [3]: 133).

Ada kata menarik pada ayat tersebut, yakni kata “bersegeralah”, yang secara tegas memerintahkan dan memotivasi kita untuk bersegera menuju ampunan dan surga Allah swt. Menurut hemat penulis ada tiga poin yang dapat kita ambil dari ayat tersebut, kenapa “bersegera” demi urusan akhirat, dan urgensi akselerasi dalam ketaatan kepada Allah swt.

Pertama, Menurut Nabil Hamid Ma’adz, dalam bukunya Kaifa Nasluk Thariq al-Jannah, ternyata Allah swt selalu menggunakan kata yang mengindikasikan segera, percepatan atau akselerasi (memacu kecepatan) dalam urusan demi akhirat atau raih surga-Nya. Sebaliknya untuk urusan dunia, tidak menggunakan dengan bahasa percepatan. Hal ini, dapat dilihat dalam al-Qur’an, untuk akhirat dan surga selalu menggunakan kata musara’ah (bersegera), musabaqah (berlomba-lomba), mubadarah (bergegas), dan kata sejenisnya. Sedangkan ketika membicarakan dunia, maka menggunakan kata masyyi (berjalan biasa), intisyar (bertebaranlah), qashd (bermaksud), I’tidal (seimbang), la tansa (jangan lupa), dan kata sejenisnya.

Di antaranya dapat dilihat pada beberapa ayat berikut.

Berlomba-lombalah kamu demi mendapatkan ampunan Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi. (al-Hadid [57]: 21)

Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. (al-Anbiya [21]: 90)

Dalam arti, bersainglah, berpaculah, segeralah, akselerasilah demi untuk surga dan raih kebaikan akhirat.

Dalam ayat lain disebutkan, Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. (al-Jum’ah [62]: 9)

Ulama tafsir menyatakan maksud ayat di atas, bahwa saat mendengar kumandang muadzin untuk shalat Jum’at, kaum muslimin wajib bersegera memenuhi panggilan Allah dan segera meninggalakan semua aktifitas.

Demikian pula dalam ayat lain ditegaskan, Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan. (al-Qashash [28] : 77)

Perhatikan, pada ayat tersebut, Allah swt dengan lugas meminta kita memperhatikan atau bekerja untuk akhirat dan dunia dengan bahasa berbeda. Untuk akhirat Allah menggunakan “carilah”, ada tekanan, mencari dengan memacu akelerasi. Sementara untuk dunia hanya dengan “jangan lupakan”.

Dan masih banyak ayat yang lain yang bernada sama untuk akhirat dibutuhkan akselerasi. Dalam sebuah hadits Nabi saw menyatakan, Pelan-pelan dalam segala hal adalah baik, kecuali untuk urusan akhirat (bersegeralah). (HR. Abu Daud dan al-Hakim)

Kedua, memacu akselerasi atau bersegera dalam urusan akhirat, di antaranya karena kepastian datangnya kematian tanpa dapat direncanakan. Ia potensial datang kapanpun dan dimanapun. Karena itu, memperlambat, tidak bersegera untuk urusan akhirat dengan dalih merencanakan nanti bila sudah tua, sudah pansiun, sudah tidak ada kesibukan tidak dapat dibenarkan. Pasalnya, kematian adalah pasti dan sama sekali tidak dapat direncanakan.

Allah swt berfirman, Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (al-Jum’ah [62]: Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. (al-Nisa’ [4]: 78)

Demikian cepatnya dunia sampai Nabi saw menggambarkan dunia hanya seperti seorang yang sedang berteduh di bawah sebuah pohon untuk melanjutkan perjalanan selanjutnya. Dengan demikian, tepatlah bahasa bersegera, berlomba, berpacu, berakselerasi dalam demi kepentingan akhirat.

Karena itu, Nabi saw mengingatkan kita untuk berbuat demi akhirat tanpa menanti-nantikan, tanpa menunda-nunda,  “Bersegeralah kamu sekalian untuk melakukan amal-amal yang shalih, karena akan terjadi suatu bencana yang menyerupai malam yang gelap gulita dimana ada seseorang pada waktu pagi ia beriman tapi pada waktu sore ia kafir, pada waktu sore ia beriman tapi pada waktu pagi ia kafir, ia rela menukar agamanya dengan sedikit keuntungan dunia. (HR. Muslim)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, bahwasanya seseorang pernah datang kepada Nabi saw, dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sedekah apakah yang paling besar pahalanya?” Beliau menjawab, “Yaitu kamu sedekah sedangkan kamu masih sehat, suka harta, takut miskin dan masih ingin kaya. Dan janganlah kamu menunda-nunda sehingga bila nyawa sudah sampai di tenggorokan (sekarat) maka kamu baru berkata: untuk fulan sekian dan untuk fulan sekian, padahal harta itu sudah menjadi hak si fulan (ahli waris).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Ketiga, Bersegera dan berpacu untuk akhirat adalah wajar, sudah seharusnya. Mengingat, kedudukan, nilai, dan prestise yang ditujunya: kebahagiaan akhirat dan surga. Perjuangan demi kebahagiaan akhirat amat patut diperjuangkan, dengan surga yang begitu indah dermaga akhir tujuannya; surga yang (kenikmatannya) tidak pernah terlihat oleh pandangan mata, tidak pernah terdengar dengan telinga, dan tidak pernah terdetak dalam hati manusia, demikian Nabi saw menggambarkan surga, tak pernah terbayangkan indahnya. Seperti digambarkan surah Ali Imran 133 tersebut, Surga yang luasnya seluas langit dan bumi.

Seorang tabi’in bernama Sa’id bin Musayyib pernah menyatakan, “Seandainya dunia itu emas dan akhirat itu hanya keramik, tentu akhirat lebih utama. Tapi sejatinya, dunia adalah keramik dan akhirat adalah emas, tentu akhirat lebih utama.” Bahkan dalam pandangan Allah swt, “Seandainya dunia ini ditimbang, maka nilainya di sisi Allah seperti salah satu sayap seekor nyamuk. (HR. Tirmidzi).

Dari kajian di atas, tentu Islam tidak bermakna meremehkan demi kepentingan dunia, atau agar manusia tidak respek dengan dunia. Namun, jangan sampai dunia memperdaya, jauh lebih diutamakan dari akhirat, dan tetap harus dengan meyakini, bahwa akhirat lebih baik dan lebih kekal daripada dunia. Karena itu, tidak ada masalah bila dapat meregulasikan urusan dunia tapi demi orientasi akhirat. Ia tetap dinilai berjalan demi akhirat. Bila dunia dapat disandingkan untuk kepentingan akhirat.

Menarik pragmen berikut yang disebutkan dalam kitab Nahj al-Balaghah, hlm 257, suatu hari Ali bin Abi Thalib mengunjungi rumah al-A’la bin Ziyad. Ketika Ali melihat rumah Ziyad yang megah, beliau berkata, “Mengapa Anda membangun rumah semegah ini di dunia, padahal Anda lebih membutuhkannya di akhirat?” Ali melanjutkan, “Tapi tidak ada masalah, jika Anda berharap mendapatkannya juga di akhirat, maka Anda bisa mendapatkannya bila rumah ini juga diperuntukan untuk menghormati tamu, menyambung silaturahim, memberikan hak orang lain di rumah ini (berkumpul, diskusi demi umat, pengajian, untuk kebaikan, dll).”

Dalam artian, kita harus cerdas dalam mencari demi dunia, ia amat diperkenankan bila ia mendukung proses pencarian kebahagiaan di akhirat. Islam bukan agama antidunia, bahkan memotivasi ke arah sana. Tapi tidak dunia yang tanpa akhirat, dunia yang berlebihan dengan melupakan akhirat, dunia yang jadi nomer satu dan akhirat jadi nomor belakang.

Allah swt mengingatkan, Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya? (al-An’am [6]: 62)

Maksudnya, kesenangan-kesenangan duniawi itu hanya sebentar dan tidak kekal. Jangan terperdaya dengan kesenangan-kesenangan dunia, serta lalai dari memperhatikan urusan akhirat.

Seorang pernah bertanya kepada orang zuhud bernama Abu Shafwan ar-Ru’ini, “Dunia seperti apa yang dikecam Allah dalam al-Qur’an dan seharusnya dijauhi oleh orang mukmin?” ia menjawab, “Seluruh yang Anda lakukan di dunia dan Anda kehendaki untuk dunia, maka itu hina. Sedangkan seluruh yang Anda peroleh dari dunia, tapi Anda kehendaki untuk akhirat, maka itu tidak hina, bahkan mulia.” Ibnu Rajab dalam kitabnya Jami’ al-‘Ulum wa al-Hikam menuturkan, Sa;id bin Jubair pernah menegaskan, “Perhiasan (kenikmatan) yang menipu adalah yang melalaikanmu dari akhirat. Sementara yang tidak menghalangimu dari akhirat, bukan termasuk yang menipu. Sebaliknya, bahkan itu adalah perhiasan yang akan menghantarkan pelakunya pada sesuatu yang lebih baik.

Semoga kita termasuk golongan hamba-hamba-Nya yang senantiasa bersegera menuju ampunan Allah dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, serta dapat menjadikan dunia jembatan menuju bahagia dunia dan akhirat. Akhirnya, Rabbanaa aatinaa fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaaban naar.

Wallahu ‘alam.

————————————————————-

H. Atik Fikri Ilyas, Lc, MA

Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo & Universitas Amer Abdel Kader Aljazair, mahasiswa program Doktoral Tafsir Hadits UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s