Masih Kecil Punya Semangat Berjihad

Ketika suatu hari Rasulullah hendak berperang, Usamah bin Zaid berkeinginan untuk ikut serta bersama Rasulullah dan pasukan kaum muslimin. Usianya belum sampai sepuluh tahun. Maka ketika ia mengajukan keinginannya, Rasulullah menolaknya dan mengatakan bahwa seusia dia itu belum diwajibkan untuk berjihad. Maka kembalilah ia dengan sangat sedih dan menangis. Kemudian ia meminta izin kedua kalinya. Tetapi oleh Rasulullah tetap tidak dizinkan. Akhirnya ia kembai lagi dengan menangis dengan penuh kesedihan.

Setelah itu, ia menangis mengulangi lagi untuk yang ketiga kalinya. Akhrnya Rasulullah mengizinkannya akan tetapi tugasnya adalah membantu mengurusi mereka yang terluka.

Maka bergembiralah Usamah bin Zaid dana segera kembali untuk bergegas mempersiapkan diri mengikuti Rasulullah dalam jihadnya yang mulia.

Disebuah tanah lapang diperkampungannya, Mu’awiyah yang masih kecil bermain-main dengan anak-anak sebayanya. Ia bermain perang-perangan. Maka dibariskannya teman-temannya itu menjadi dua baris saling berhadapan-hadapan untuk kemudian melakukan perang tanding menggu nakan pedang dan tombak mainan yang terbuat dari kayu. Mu’awiyah sibuk mengatur pasukan. Dibaginya bagian tengah, kiri dan kanan. Serta menetapkan setiap bagian serang pemimpin.

Setelah itu ia memperintahkan teman-temannya itu untuk memulai peperangan. Pada saat itu Mu’awiyah mengarahkan titik kelemahan yang terjadi dan membenahinya. Menunjukkan cara menghindar, cara mengepung, cara mundur serta cara memanfaatkan peluang. Siapa yang terkena dan dianggap mati dalam pertempuran mainan itu harus mundur dan minggir agar tinggal tersisa jumlah yang lebih banyak dari dua kelompok itu dan itulah sebagai pemenangnya.

Selama bermain itu seorang laki-laki berkata kepada orang-orang yang ada di sekitarnya, “Aku tidak yakin anak ini akan memimpin kaumnya.” Perkataan ini didengar oleh ibunya Hindun yang juga menyaksikan anaknya yang sedang bermain itu. Mendengar itu maka ibunya berkata, “Lebih baik dia mati kalau nanti ada yang memimpin kaumnya selain Mu’awiyah”.

Akhirnya semua ini terbukti ketika ia menjadi pemimpin ummat islam. Dan menjadi raja pertama dalam sejarah Islam.

Kulihat saudaraku, “Umair bin Abu Waqqash, bersembunyi sebelum Rasulullah saw memeriksa kami menjelang peperangan Badar. Aku bertanya, “Hai saudaraku, kenapa kamu bersembunyi? Dia menjawab, Aku khawatir bila Rasullah saw melihatku akan menolakku bergabung dengan pasukan padahal aku ingin berangkat. Mudah-mudahan Allah menganugerahiku kematian yang syahid. Said melanjutkan, “Kemudian ditampilkanlah dia kepada Rasulullah saw dan ternyata beliau menolaknya tetapi dia menangis. Akhirnya, Rasulullah membolehkan ikut serta. Sa’ad bin Abu Waqqash mengatakan, “Aku sendirilah yang membantunya mengikat sarung pedangnya karena dia masih kecil dan ia maju ke medan peperangan, sedang usianya baru meninjak 16 tahun.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s