Berhutang untuk Bantu Sahabat yang Kesusahan

IBRAHIM BIN ADHAM suatu saat menjumpai ada seseorang laki-laki berjalan melalui depan rumah beliau. Ibrahim pun bertanya kepada sahabat beliau yang saat itu sedang berkunjung ke rumah beliau yakni Syaqiq Al Balkhi,”Bukankah tadi adalah si fulan?” Maka sang sahabat pun menjawab,”Ya, benar”.

Kemudian Ibrahim menyempaikan kepada sahabat beliau lainnya,”Cari tahu, kenapa dia tidak menyalami kita!” Sang sahabat pun mendatangi laki-laki yang telah berlalu, dan laki-laki itu pun menyampaikan,”Istriku melahirkan sedangkan aku tidak memiliki apa-apa. Aku keluar seperti orang gila!”

Mengatahui hal itu Ibrahim berseru,”Innalillah…Kita telah lalai terhadap sahabat kita!” Akhirnya beliau pun meminjam uang sebanyak 2 dinar. Satu dinar untuk dibelikan kebutuhan, yang satu dinar lainnya diserahkan kepada lelaki itu.

Akhirnya sang lelaki menyerahkan uang satu dinar kepada sang istri dan sang istri pun berseru,”Ya Allah….Jangan lupa untuk Ibrahim bin Adham hari ini!” (Thabaqat Al Auliyah, hal. 11)

Burung Bulbul yang Sedih Atas Wafatnya Imam Ats Tsauri

Imam Ats Tsauri suatu saat pernah tinggal di rumah Abu Manshur sahabat beliau dan di rumah itu Imam juga Ats Tsauri wafat karena sakit. Saat tinggal di rumah itu Ats Tsauri melihat ada seekor burung bulbul yang dikurung dalam sangkar. Imam Ats Tsauri pun menyampaikan,”Burung ini terkurung, lebih baik kalau ia dikeluarkan dari sangkarnya.”

Abu Manshur pun menjawab,”Burung itu milik anakku, kalau Anda mau aku hibahkan ia kepada Anda.”

Imam Ats Tsauri pun menjawab,”Tidak, tapi aku akan membelinya dengan harga 1 dinar.”

Kemudian Imam Ats Tsauri pun melepas burung itu dari sangkarnya. Dan setelah itu burung bulbul tersebut biasa pergi di pagi hari untuk mencari makanan, namun di sore hari di pulang dan tinggal di sekitar rumah yang ditinggali Imam Ats Tsauri tersebut. Hal itu terus berlangsung di masa Imam Ats Tsauri hidup.

Sampai suatu saat Imam Ats Tsauri wafat, dan burung bulbul itu terbang ikut mengantar jenazah lantas terbang gelisah di atas makam beliau. Sejak peristiwa itu si bulbul biasa tinggal di rumah pada siangnya dan malamnya terbang menuju makam Imam Ats Tsauri, dan terkadang bermalam di sana terkadang pulang ke rumah.

Sampai akhirnya burung bulbul itu pun ditemukan tergeletak mati di atas makam Imam Ats Tsauri dan dia pun dikuburkan di tempat itu pula. (Manaqib Al Imam At Tsauri, karya Adz Dzahabi, hal. 80)

Simak Bacaan Al Qur`an Orang yang Shalat Hingga Khatam

MIS’AR suatu saat memasuki sebuah masjid, dan ia menyaksikan seseorang melaksanakan shalat, dan ia pun menikmati bacaannya. Mis’ar pun menyimaknya hingga sampai 1/7 Al Qur`an, dan ia menilai bahwa orang itu akan rukuk, namun ternyata tidak. Orang itu tetap melanjutkannya hingga 1/3 Al Qur`an, Mis’ar menyangka bahwa bahwa orang itu akan rukuk, namun ternyata tidak. Hingga sampai 1/2 Al Qur`an orang itu tetap berdiri, sampai orang itu menghatamkan Al Qur`an secara keseluruhan dalam satu rakaat.

Mis’ar pun ingin mengetahui siapa gerangan orang shalat itu, akhirnya beliau tahu bahwa ia adalah Imam Abu Hanifah. (lihat. Manaqib Al Imam Abi Hanifah, hal. 22)

Sedih Tinggalkan Dunia karena Berhenti Ibadah

MU’DZAH AL ADAWIYAH seorang ahli ibadah di Bashrah tatkala hendak wafat beliau menangis namun kemudian tertawa.

Mereka yang hadir pun bertanya kepada beliau perihal hal itu. Mu’dzah pun menjawab,  “Aku menangis karena hendak berpisah dengan puasa, shalat, dan dzikir. Sedangkan aku tertawa karena melihat Abu Shahba menunggu di halaman dengan mengenakan dua selendang hijau beserta satu kaum. Dan diperlihatkan bahwa aku tidak memiliki tanggungan shalat fardhu.”

Akhirnya Mu’adzah wafat sebelum masuk waktu shalat fardhu. Sedangkan Abu Shahba’ sendiri adalah suami Mu’adzah yang terbunuh di medan peperangan bersama putranya. (dalam Shifat Ashafwah, 4/24).*

Akhlak Ahlul Hadits

AL KHATIB AL BAGHDADI ketika membahas mengenai adab dan akhlak mereka yang menuntut hadits mengisahkan mengenai adap perawi yang bernama Ali bin Shalih bin Hayyi dan Al Hasan bin Shalih bin Hayyi.

Ali dan Al Hasan ini merupakan saudara kembar, hanya saja Ali lahir sesaat lebih dulu daripada Al Hasan. Al Hasan pun amat menghormatinya meski usia mereka hampir sama.

Al Hasan pun tidak pernah memanggil Ali dengan namanya, namun dengan kuniyahnya yakni Abu Muhammad. Jika Al Hasan duduk bersama Ali, maka Al ia tidak duduk di sampingnya, namun duduk lebih rendah dari posisi sang kakak. Al HAsan sangat hormat kepada Ali, meski umur Ali lebih tua sesaat! (Al Jami’ li Al Ikhlak Ar Rawi wa Adab As Sami’, 1/171)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s