Iman Melahirkan Revolusi Dan Pembaharuan

Membangun perusahaan gedung sekolah, bendungan serta pembangunan lain yang bersifat fisik adalah mudah dilaksanakan. Tetapi membangun menimantal manusia dan mengubah pandangan hidupnya adalah pekerjaan yang teramat sulit. Bukan pekerjaan yang ringan membentuk manusia agar sanggup menguasai nafsunyanya, sanggup mengekang syahfatnya, mau memberi disamping mau menerima, membayarkan kewajiban disamping menuntut haknya, yang mengetahui kebenaran dan mempercainya serta bersedia menegakkannya. Bukan perkara yang mudah membentuk manusia sampai mengetahui kebaikan dan mencintai kebaikan untuk orang lain, sebagaimana mencintai dirinya sendiri. Yakni manusia yang mau bersusah payah berjuang memperbaiki mana yang rusak menyeru menyeru orang lain kepada kebaikan, mencegah kemungkaran dan rela berkurban dengan diri dan harta benda di jalan hak. Sungguh membentuk mental manusia merupakan pekerjaan yang berat dan memerlukan kesabaran ekstra.

 

Berhadapan dengan ini maka iman adalah satu-satunya perangkat yang benar-benar dahsyat dan menakjubkan. Iman menjadikan mental manusia siap menerima pokok-pokok pikiran yang baik, meski di dalam kebaikan ini tersimpan, taklif dan kewajiban, pengorbanan dan kesulitan. Iman adalah satu-satunya unsur yang dapat mengadakan perubahan dalam jiwa manusia dan menjadikan manusia dalam bentuk baru, sehingga berubah tujuan hidup dan jalan yang ditempuhnya, berubah tingkah laku, pandangan hidup, perasaan dan pertimbangnnya. Misalnya saat orang tadinya kafir kemudian berubah menjadi beriman, dari yang belum bertaubat menjadi yang bertaubat, dari yang berakhlak buruk menjadi berakhlak baik. Iman memberikan pengaruh yang cepat, tanpa memandang usia dan tingkat penghidupan. Para pakar psikologi menetapkan umur tertentu bagi seorang, untuk menerima dan membentuk tingkah lakunya yaitu masa kanak-kanak. Apabila seseorang telah dalam suatu sifat dan keadaan yang khusus, maka kata mereka sukar untuk merubah, karena telah menjadi kebiasaan dan sifat yang tetap. Apa yang mereka tetapkan tersebut harus diakui tak berlaku bila dikaitkan dengan iman dan pengaruh keagamaan.

Apabila iman telah mendalam dan telah bersemi di dalam jiwa, niscaya ia sanggup merubah tujuan hidup seseorang, merubah pandangannya tentang alam dan kehidupan, tujuan hidup, terha dap segala materi dan segala pekerjaan. Iman memperluas tingkah lakunya berhadapan dengan Allah dan sesama manusia. Tak mempertim bang kan usia kanak-kanak atau remaja, dewasa atau telah manjadi manula.

Sebagai contoh kita lihat para dedengkot sihir Firaun sebagaimana firman Allah swt,

“Musa lalu melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat itu benar-benar berubah menjadi ular besar. Musa mengeluarkan tangannya dari saku atas bagian dalam bajunya. Tiba-tiba dari tangannya memancar cahaya putih berkilau yang dapat disaksikan oleh orang banyak. Kemudian firaun berkata kepada para pembesar yang mengelilinginya. “Orang ini benar-benar tukang sihir yang sangat mahir. Dengan sihirnya ini, Musa ingin mengusir kalian dari negeri Mesir. Karena itu apa yang kalian usulkan kepadaku untuk menghadapi Musa? Para pembesar fir’aun berkata. Tahanlah Musa dan saudaranya Harun untuk sementara waktu. Kirimlah utusan ke berbagai kota untuk mengundang para ahli sihir agar berkumpul di istana. Para utusan akan datang kepadamu dengan membawa serta ahli sihir yang mahir. Para ahli sihir pun dkumpulkan pada hari yang telah ditentukan. Kemudian ditanyakan kepada orang-orang banyak. Apakah kalian telah berkumpul semua?

Kita berharap para ahli sihir kita menang melawan Musa supaya kita dapat mengikuti agama kita. Tatkala para ahli sihir datang mereka berkata kepada Fir’aun, “Wahai Fir’aun, jika kami dapat mengalahkan Musa, apakah kami benar-benar akan mendapatkan upah? Fir’aun menjawab, “Ya benar. Jika kalian mengalahkan Musa, kalian mendapatkan kedudukan yang dekat denganku? Musa berkata kepada ahli sihir, “Keluarkanlah sihir apa saja yang dapat kalian keluarkan. Para ahli sihir lalu melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya bersumpah, “Demi keagungan Fir’aun kami pasti akan menang atas Musa. Musa lalu melemparkan tongkatnya. Tiba-tiba tongkat itu menelan semua ular jadian para ahli sihir. Kemudian para ahli sihir itu semua bersumpah dihadapan Musa,. Para ahli sihir berkata, “Kami beriman kepada Tuhan yang mengusai alam. Tuhan Musa dan Tuhan Harun.

Firaun berkata, “Wahai para ahli sihir, apakah kalian beriman kepada Musa sebelum aku berikan izin kepada kalian? Wahai para ahli sihir, ternyata Musa adalah tokoh kalian yang telah mengajarkan sihir kepada kalian. Karena itu kalian akan tahu akibat dari perbuatan kalian akan tahu akibat dari perbuatan kalian ini. Sungguh akan aku potong tangan kalian dan kaki kalian berselang-seling. Sungguh kalian semua akan aku salib.  Para ahli shir berkata, “Wahai Fir’an, kami tidaklah mau menyerah karena ancamanmu. Sungguh kelak kami semua akan kembali kepada Tuhan kami. Sungguh kami sangat berharap bahwa Tuhan kami akan mengampuni kami atas segala dosa-dosa kami yang telah lalu. Kami ingin menjadi golongan orang yang pertama beriman kepada Tuhan Musa. (QS Asy Syu’araa [26] 32-51)

Firaun melancarkan ancaman kepada ahli sihirnya seteleh mereka beriman, “Fir’aun berkata “Apakah kalian beriman kepada Tuhan Harun dan Musa sebelum kalian aku beri izin? Sungguh Musa adalah tokoh besar kalian yang mengajarkan sihir, pada kalian. Karena itu pasti akan aku potong tangan dan kaki kalian berselang-seling lalu aku akan salib di atas pohon kurma, supaya kalian tahu siapa yang paling berat dan paling kekal menderita siksaan. Ahli-ahli sihir Fir’aun itu berkata kepada Fir’an, “Kami tidak akan memilih tawaranmu, jika kami harus meninggalkan bukit-bukti kebenaran yang datang kepada kami dari Tuhan yang menciptakan kami. Silakan kamu menghukum kami menurut keinginan kamu. Sesungguhnya hukuman kamu hanya menimpa kami di dunia ini saja. Sungguh kami beriman kepada Tuhan kami. Kami berharap Tuhan mengampuni semua kesalahan dan perbuatan sihir kami yang kamu paksakan kepada kami untuk menghadapi sihir Musa. Pahala Allah lebih baik dari apa yang kamu berikan kepada kami dan adzab-Nya lebih kekal. (QS Thaha 71-73)

Lihat bagaimana besarnya perubahan yang timbul dalam diri para dedengkot sihir itu setelah mereka beriman! Pendangan dan pertimbangan mereka telah berubah, bagai perubahan siang dengan malam. Sebelum beriman, yang menjadi tujuan dan cita-cita mereka berkutat seputar harta benda  mereka meminta bayaran yang cukup besar  kedudukan dengan keahlian sihirnya. Harapan mereka untuk menang digantungkan kepada kebesaran, kedudukan dan kedigdayaan Fir’aun.

Tetapi setelah merasakan manisnya iman dengan tegas dan berani menjawab ancaman Fir’aun dengan suatu pendirian yang berdasarkan keyakinan, “Kami tidak akan memilih tawaranmu, jika kami harus meninggalkan bukit-bukti kebenaran yang datang kepada kami dari Tuhan yang menciptakan kami. Tujuan hidup mereka berubah dari mencari keuntungan duniawi beralih kepada mengharapkan ampunan Tuhan. Terbukti dari ucapan mereka .. Kami berharap Tuhan mengampuni semua kesalahan kami. Berubah dari bersumpah dengan nama, kebesaran dan kedigdayaan Fir’aun, bertukar dengan ucapan mereka, dari Tuhan yang menciptakan kami. Bahkan mereka rela untuk disiksa asalkan diampuni dosa-dosanya dan masuk ke surga . Subhanallah sedemikian besar perubahan yang ditimbulkan oleh keimanan.

Perubahan luar biasa juga di alami bangsa Arab setelah iman menerangi mereka. Bukan berpuluh atau beratus tahun, melainkan dalam tempo tak lebih dari dua puluh tahu. Perubahan ini terjadi karena perubahan iman, yang ditanamkan oleh Nabi Muhammad saw dalam jiwa para sahabat dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpindah dari masa jahiliyah ke zaman Islam. Dari menyembah berhala kepada menyembah Dzat Yang Esa. Dari suku-suku terasing menjadi umat yang menoreh tinta emas dalam lembaran sejarah dunia.

Wahai kaum mukmin, teguhkanlah diri kalian dalam melaksanakan Islam secara utuh. Janganlah kalian mengambil sebagian syariat, tetapi meninggalkan sebagian lainnya. Ingatlah nikmat Allah kepada kalian, ketika kalian masih kafir pada jaman jahiliyah kalian bermusuhan. Kemudian Allah satukan hati kalian dengan Islam, sehingga kalian menjadi bersaudara. Pada jaman jahiliyah kalian mengalami masa kerusakan moral, lalu Allah selamatkan kalian dari kerusakan moral itu. Demikianlah Allah menjelaskan syariat-Nya kepada kalian supaya kalian memperoleh petunjuk untuk hidup bersaudara (QS Ali Imran [3]103)

Pengaruh iman bagi pembaharuan tidak hanya terbukti dalam kehidupan masyarakat, umat dan bangsa dalam sejarahnya. Akan tetapi juga bagi kehidupan indivisu-individu. Umar bin Khatab saat masih jahiliyah menyembah patung yang terbuat dari adonan roti. Kemudian setelah perutnya lapar sembahan itu pun dimakannya. Demikian rasa kemanausiannnya benar-benat telah sirna, hingga tega mengubur putri kandungngya hidup-hidup.

Tetapi setelah berubah ke islam, kelembutan dan kehalusan perasaanya, setelah dia berada dalam penagkuan Islam. Kita banyak tahu tentang bagaiamna khalifah yang gagah perkasa ini mengurus dan memperhatiakan nasib rakyat dan kaum papa. Bahkan kepatuhan jiwanya kepada Allah, tak sekedar menumbuhkan perasaan asih dan tanggung jawab terhadap umat manusia, akan tetpai juga terhadap binatang. Dialah sosok yang mengatakan, sekiranya ada unta yang terjatuh di tepi sungai Eufrat, niscaya engkau lihat aku bertanggung jawab tentangnya dihadapan Allah, “Kenapa tak kubangun jalan untuk tempat lalunya?

Akan halnya dengan wanita bernama Khansa. Dimasa jahiliyah saudaranya seayah yang bernama Shakhr mati terbunuh. Khansa pun meratap, meraung dan menghiba dari lisannya. Dia bersyair;

Kukenang Shakhr setiap mentari terbit

Pun ketika datang saat terbenamnya.

Andai saja

Tak banyak disekelilingku

Orang-orang yang merapai saudaranya

Bunuh diri bagiku adalah niscaya.

Keadaan berubah setalah Khansa telah memeluk Islam, dia bukanlah Khansa yang sebagaimana jaman jahiliyah. Perbedaannya jauh seperti perbandaan bumi dan langit. Dikisahkan Khansa turut terlibat dalam perang Qadisiah, sebuah perperangan antara kuam muslimin dengan pasukan persia dimana kaum muslimin di bawah komando Sa’ad bin Abi Waqash, turut bersama Khansa adalah keempat putrannya. Saat malam khansa duduk bersama putra-putrannya, dia memberi nasehat kepada mereka agar bertempur dengan semangat penuh, tanpa perasaan gentar maupun takut, dia berkata

Wahai anak-anakku! Sesungguhnya memeluk agama Islam dengan suka rela dan berhijrah dengan kemauan sendiri pula.

Kalian telah mengetahui apa yang telah disediakan Allah untuk orang-orang muslim, yaitu pahala yang cukup karena berperang melawan orang-orang kafir. Ketahuilah, bahwa kampung yang kekal lebih baik dari kampung yang fana! Tuhan telah berfirman, “Wahai orang-orang beriman, bersabarlah kalian. Tingkatkanlah kesabaran kalian dalam menghadapi musuh dan bersiagalah kalian untuk memerangi orang-orang kafir. Taatlah kepada Allah, pasti kalian akan beruntung di akhirat (QS Ali Imran [3]200)

Apabila kalian telah memasuki waktu pagi, In sya Allah dalam keadaan selamat, cepat perangi musuh kalian dengan jiwa yang tegar! Semoga dengan pertolongan Allah kalian dapat mengalah kan musuh kalian. Apabila perang telah berkeca muk, maka lancarkan serangan kepada musuh dan serbe pemimpinannya dengan kebarnian penuh! Kalian akan memetik keberunungan di perkampungan yang kekal abadai..!

Ketika pagi telah tiba keempat putra Khansa segera terjun ke medan pertempuran dengan gagah beranai dan semangat berkobar-kobar. Jika salah seorang dari mereka ada yang terlihat menendur semangatnya maka saudara-saudara yang lain memperingatkan dengan pesan ibunya kemudian mereka maju kembali menyerbu musuh dengan penuh keberanian; menerkam bagai singa, dengan kecepatan penuh bagaikan anak panah dan menerjang bagiakan gajah. Dari tangan mereka banyak musuh yang terjungkal dan tewas, semen tara mereka menerjang dan terus menerjang, hingga satu demi satu gugur sebagai syuhada.

Saat Khansa mendengar berita akan kematian keempat putranya, dia tak meratap, tak menam par-nampar pipi, merobek-robek baju dan memu kul-mukul dada saat dilakukan dimasa jahiliyah. Tidak! Keimanan yang telah memenuhi dadanya justru mengeluarkan kata-kata, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah memberian kemuliaan kepadaku dengan terbunuhnya putra-putraku. Aku mengharap kurnia dari-Nya untuk mengumpulkan aku bersama mereka dalam rahmat dan nikmat-Nya.

Oleh karenannya pribadi mukmin adalah pribadi yang jika ia usahawan maka menjadi usahawan yang lurus, kalau ia seorang karyawan maka menjadi karyawan yang disiplin dan jujur, kalau dia seorang hartawan maka menjadi hartawan yang dermawan dan gemar memberikan bantuan. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa dia menjadi pribadi yang senantiasa disinari oleh ruh keimanan. Maroji : al-iman wal halhayat, Yusuf Qardhawi 1999, Abu Azzam

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s