Amal Kebaikan Merupakan Salah Satu Penerapan Tujuan Syariat Islam Dalam Islam

Tujuan Syariat Islam Dalam Islam

Islam menaruh perhatian yang sangat besar terhadap amal kebaikan. Yang dimaksud dengan amal kebaikan adlaah mafaat bersifat materi atau nom materi yang diberikan seseorang kepada orang lain tanpa berharap imbalan materi, melainkan hanya untuk mencapai tujuan tertentu yang lebih besar. Bagi sebagain orang, tujuan itu bisa berupa pujian atau keternaran dan tujuan-tujuan keduniaan lainnya.

Sementara orang mukmin melakukan amal kebaikan demi tujuan-tujuan yang berkaitan dengan akhiat dengan harapan mendapat pahala di sisi Allah dan masuk surga. Selain itu dalam kahidupan di dunia, seseorang yang133-134) melakukan kebaikan akan mendapatkan berkah, ketenangan jiwa dan kebahagiaan batin yang tak ternilai.

kebaikan

Saking begitu sayangnya Allah sama orang Islam kadang memberi bonus untuk hari, bulan dan waktu tertentu dengan berlipat pahala. Misalkan dalam waktu dekat ini pada bulan zulhijjah.

Jabir meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Tidak satu pun amal yang lebih istimewa hari pertama Zulhijjah.” Seorang sahabat bertanya, “Rasulullah. Lebih istimewa mana antara sepuluh hari pertama Zulhijjah atau sepuluh hari berjihad di jalan Allah? Rasulullah saw bersabda, “Sepuluh hari pertama Zulhijjah itu lebih utama daripada sepuluh hari dijalan Allah kecuali bagi orang yang gugur sebagai Syahid (HR Abu Ya’la) hadist shahih

Subanallah besar sekali pahalanya padahal pahala berjihad di jalan Allah sudah sangat besar hanya bisa di kalahkan oleh orang yang gugur dimedan jihad. Kesempatan untuk melakukan banyak  amal sholeh.

Disini kira melihat bahwa Islam menyerukan :

Perbuatan  baik

Allah berfirman, “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak dihalangi menerima pahalanya; dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang  bertakwa. (QS. Ali Imran 115)

Lakukan semua kebajikan niscaya kalian kelak di akhirat akan keberuntung

(QS. Al-Hajj 77)

Perkataan baik

Allah berfirman, “Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manuia, (QS. Al-Baqarah 83)

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (Munttafaq Alaihi)

Bersegera menuju kebaikan

Wahai orang-orang mukmin bersegeralah kalian meraih ampunan dari Tuhan kalian dengan bertaubat dan meraih surga yang seluas langit dan bumi. Surga itu disediakan bagi orang-orang yang takwa, taat dan bertauhid. Orang-orang yang bertakwa adalah orang-orang yang mau mendermakan hartanya ketika masa aman (lapang) dan perang (sempit) dan orang-orang yang mampu menahan amarahnya dan mau memaafkan orang lain. Allah mencintai kebaikan semacam itu  (Ali Imran 133-134)

Mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat, menyuruh berbuat baik dan mencegah kemungkaran serta bersegera melakukan kebaikan. Mereka itulah termasuk golongan orang-orang shalih ( Ali Imran 114)

Lalu ketika menerangkan tentang orang-orang yang takut kepada Allah, Allah berfirman, “mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya. (Al Mu’minuun 61)

Berlomba dalam kebaikan

Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebaikan. (Al Maa’idah 48)

Dari Abu Hurariah ra berkata, “Beberapa orang fakir datang menemui Nabi saw mereka berkata, “Selain mendapat derajat yang tinggi orang-orang yang punya banyak harta juga mendapatkan tempat yang nyaman. Padahal, mereka shalat seperti kami. Mereka puasa seperti kami. Namun mereka punya kelebihan harta. Karena itu, mereka bisa haji dan umroh, juga berjihad dan bersedekah. Rasulullah saw bersabda, “Sudikah kalian kuberi tahu sesuatu yang jika kalian ambil akan membuat kalian menyusul orang-orang sebelum kalian dan tidak tersusul oleh mereka sesudah kalian? Kalian akan menjadi yang terbaik, kecuali ada yang mengerjakan seperti itu, yaitu : membaca tasbih tahmid dan takbir sebanyak tiga puluh tiga kali setiap habis sholat (Muttafaq alaihi)

Mengajak kebaikan

Allah berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan” (Ali Imran : 104)

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa menunjukkan pada kebaikan, ia mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakan (HR Muslim)

Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapa yang mengajak ke arah kebaikan, maka ia memperoleh pahala sebagaimana pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedikitpun dan dari pahala-pahala mereka yang mencontohnya itu, sedang barangsiapa yang mengajak kearah keburukan, maka ia memperoleh dosa sebagaimana dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya, tanpa dikurangi sedrkitpun dari dosa-dosa mereka yang mencontohnya itu.” (Riwayat Muslim)

Mengerjakan kebaikan sekecil apapun

Allah berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat balasannya. (az-Zalzalah 7)

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar (an-Nisaa : 40)

Rasulullah saw bersabda, “Satu dirham bisa mengalahkan seribu dirham.” Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana? Beliau bersabda, “Seseorang punya dua dirham, satu diantaranya ia sedekahkan. (melihat hal itu) seorang kemudian pergi mengambil hartanya sejumlah seribu dirham, lalu menyedekahkannya (HR An-Nasa’i)

Dan Rasulullah saw bersabda,” Takutlah kalian pada api neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma. Barangsiapa tidak mendapatkan sebiji kurma, maka dengan kata-kata yang baik. (Muttaq Alaihi)

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa bersedekah seukuran satu kurma dari hasil kerja yang baik-dan Allah hanya menerima yang baik-maka Allah menerimanya dengan tangan kanan-Nya. Kemudian Dia mengembangkannya bagi yang mengerjakan, sebagaimana seseorang dari kalian mengembangkan anak kuda betina hingga menjadi seperti gunung. (HR Bukhari Muslim)

Dan Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang membantu orang yang berjihad di jalan Allah, walau pun hanya dengan segelas air susu yang di peras dari seekor onta, maka balasannya adalah surga (HR. Ahmad)

Niat berbuat kebaikan

Barangsiapa tidak mampu berbuat kebaikan, cukuplah ia berniat melakukannya. Bisa jadi niat seseorang lebib baik dari perbuatannya. Dalam hadist Abu Kabsyah Al-Anmari disebutkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw bersabda, “Dunia ini milik empat golongan : (pertama) hamba yang diberi rezeki oleh Allah swt berupa harta dan ilmu, kemudian keduanya ia bertakwa kepada Tuhan, menyambung silaturahmim dan mengetahui hak-hak Allah didalamnya. Inilah kedudukan yang paling baik.

(Kedua) hamba yang diberi rezeki oleh Allah swt berupa ilmu, tetapi tidak diberi harta. Kemudian dengan niat yang tulus ia berkata,”Andaikata aku punya harta, aku akan melakukan sesuatu seperti yang di perbuat si Fulan.” Maka, dengan niatnya itu, pahala berdua sama.

(Ketiga) hamba yang diberi rezeki oleh Allah berupa harta tetapi tidak diberi ilmu, alhasil, harta itu ia belanjakan tidak berdasar ilmu. Selain, itu, harta itu tidak digunakan untuk bertakwa kepada Tuham dan menyambung silaturahmim. Dan, ia tidak mengetahui hak-hak Allah di dalam harta itu tidak mengetahui hak-hak Allah di dalam harta itu. Inilah kedudukan paling buruk.

(Keempat) hamba yang tidak diberi rezeki oleh Allah swt, baik berupa harta maupun ilmu. Kemudian ia punya harta maupun ilmu. Kemudian ia berkata, “Aku punya harta, aku akan melakukan seperti si Fulan.” Maka, dengan niatnya itu, dosa mereka berdua sama (HR Ahmad)

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa yang memohon mati syahid kepada Allah dengan segala ketulusan, Maka Allah akan menghantarkannya ke tempat-tempat kaum syahid meskipun ia mati diatas ranjang (HR Muslim)

Dan Rasulullah saw bersabda,”Barangsiapa yang pergi tidur sambil berniat akan bangun dan shalat malam, namum matanya tetap lelap terpejam hingga pagi menjelangm maka telah ditulislah untuknya pahala perbuatan yang diniatkankannya (HR AN-Nasai, Ibnu Majah)

Celaan bagi mereka yang tidak mau berbuat kebaikan

Al-Qur’an memuji orang-orang yang mengajak dan melakukan kebaikan. Sebaliknya, Al-Qur’an sangat mencela orang-orang yang tidak mau beramal baik. Maka, mengenai celaan terhadap beberapa orang musrik yang memusuhi Rasulullah saw dan musuh dakwahnya, Allah swt berfirman, “Dan janganlah kamu ikuti setiap orang yang banyak bersumpah lagi hina, yang banyak mencela, yang kian ke mari menghambur fitnah, yang banyak menghalangi perbuatan baik, yang melampaui batas lagi banyak dosa,(Al-Qalam: 10-12)

Orang musrik yang hina memiliki beberapa sifat buruk antara lain : banyak menghalangi perbuatan fitnah, banyak menghalangi perbuatan baik, memusuhi dan berdosa. Jadi, menghalangi perbuatan baik termasuk salah satu sifat buruk yang dicela Al-Qur’an. Sama halnya sekarang ada tipe orang yang hanya kerjanya mencela saudaranya padahal dirinya tidak malakukan kebaikan sama sekali.

Allah berfirman  “Dan yang menyertai dia berkata : ” Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku.” Allah berfirman :” Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, (Qaaf : 23-25)

Bekerja sama dalam berbuat kebaikan adalah wajib.

Allah swt berfirman, “Dan tolong-menolonglah kalian dalam hal kebaikan dan takwa (Al-Maa’idah:2)

Dan Allah swt berfirman melalui lisan Dzulkarman, yaitu ketika ia menolak sekelompok orang yang mengutarakan akan membayar pajak kepadanya asalkan mereka di lindungi. Dzulkarnain berkata, “Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka (Al-Kahfi 95)

Itulah bentuk kerjasama antara penguasa yang saleh dengan rakyatnya.

Sambil merekatkan jemari tangan yang satu dengan yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Seorang mukmin dengan mukmin yang lain seperti bangunan yang saling menguatkan satu sama lain (HR Bukhari & Muslim)

Kerja sama yang dimaksud adalah kerjasama antara pemilik harta dengan lembaga-lembaga yang bergerak di bidang kebaikan atau organisasi yang memperhatikan kaum lemah, penderita penyakit tertentu, kaum cacat dan orang-orang terlantar, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah, “Sesungguhnya Allah akan membantu seorang selama orang itu membantu saudaranya (HR. Muslim)

Menganjurkan kebaikan

Bentuk kabaikan yang paling benar adalah memberi makan orang miskin sehingga tidak mati kelaparan, sementara orang di sekitarnya makan hingga kekenyangan.

Allah swt berfirman, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin. (Al-Maun 1-3)

Berkenan dengan orang-orang yang pantas masuk neraka jahanam, Allah swt berfirman, “Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. (AL-Haqqah : 33-34). Islam menolak masyarakat jahiliyah karena mereka meningalkan kewajiban ini.

Allah swt berfirman, “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, (Al-Haqqah 33-34)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s