Menghiasi hidup dengan malu

Fenomena sekarang ini sangat memprihatinkan, dari pejabat, para politikus, yang melakukan korupsi dengan tidak malu-malu, artis melakukan zina, dan terakhir akan diadakannya miss word sebagai ajang pamer aurat perempuan, dengan tidak malu-malu mareka akan tampil di depan umum. Allah mengungatkan dalam firman-Nya, “Wahai anak keturunan Adam, Kami telah menurunkan kepada kalian pakaian untuk menutup aurat-aurat kalian dan pelindung bagi kalian.lindung bagi kalian. Berpakaian menutup aurat karena taat kepada Allah adalah cara yang paling baik. Itulah diantara syariat Allah yang dijelaskan kepada manusa, supaya manusia selalu ingat untuk menutup auratnya. Wahai anak keturunan Adam, janganlah kalian tergoda oleh setan sebagaimana setan dahulu dapat mengusir ibu bapak kalian disurga. Setan telah memperdaya ibu bapak kalian sehingga setan dapat menampakkan aurat mereka berdua..(QS Al-A’raaf 26-27)

malu

Rasulullah saw bersabda,“Jika engkau tidak tahu malu lagi, perbuatlah apa saja yang engkau kehendaki.” (HR Bukhari dan Muslim).

Dapat dibayangkan, bila rasa malu itu telah hilang dalam diri seseorang, segala perilakunya makin sulit dikendalikan. Sebab, dia akan melakukan berbagai perbuatan tak terpuji, seperti korupsi, menipu, mempertontonkan aurat dengan pakaian yang seksi dan mini, berzina, mabuk-mabukan, pembajakan, pelecehan seksual, dan pembunuhan. Mereka sudah dikuasai oleh nafsu serakah. Orang yang sudah dikuasai nafsu serakah dan tidak ada lagi rasa malu dalam dirinya maka perbuatannya sama dengan perilaku hewan yang tidak punya akal, kecuali sekadar nafsu.

Hilangnya rasa malu pada diri seseorang merupakan awal datangnya bencana pada dirinya. “Sesungguhnya Allah SWT apabila hendak membinasakan seseorang, maka dicabutnya rasa malu dari orang itu. Bila sifat malu sudah dicabut darinya, maka ia akan mendapatinya dibenci orang, malah dianjurkan orang benci padanya. Jika ia telah dibenci orang, dicabutlah sifat amanah darinya. Jika sifat amanah telah dicabut darinya, kamu akan mendapatinya sebagai seorang pengkhianat. Jika telah menjadi pengkhianat, dicabutnya sifat kasih sayang. Jika telah hilang kasih sayangnya, maka jadilah ia seorang yang terkutuk. Jika ia telah menjadi orang terkutuk maka lepaslah tali Islam darinya.” (HR Ibnu Majah).

maluRasulullah saw bersabda, “Malu adalah bagian dari keimanan seseorang.” (HR al-Hakim dan Baihaqi). Hilangnya rasa malu, berarti mulai menipisnya rasa keimanan dalam dirinya. Dan, jika keimanan sudah semakin hilang, perbuatannya akan jauh dari rida Allah SWT. Naudzubillah.

Islam menjunjung tinggi sikap malu, bahkan menganjurkannya. Orang yang pemalu dipuji al-Qur’an dan as-sunnah. Al-Qur’an telah menuturkan akhlak malu yang dimiliki oleh dua putri dari seorang ayah yang saleh. Mereka dididik di rumah mulia agar menjaga kehormatan dan kesucian. Mereka mendapatkan perlindungan dan pendidikan yang baik dari ayahnya tercinta. Allah swt berfrman tentang Musa, “Ketika Musa sampai ke mata air di negeri Madyan, ia mendapati dua perempuan di luar kelompok itu, karena tidak dapat ikut antri untuk mendapatkan air. Musa bertanya kepada dua perempuan di luar kelompok itu, “Mengapa kalian berdua berada di situ? Mereka menjawab, “Kami tidak dapat ikut antri air untuk memberi minum ternak kami, sampai para pengembala laki-laki itu pergi. Bapak kami telah sangat tua, sehingga tidak dapat menggembalakan ternaknya. Musa kemudian memberi minum ternak milik kedua perempuan itu. Kemudian Musa pergi bernaung di bawah pohon lalu berdoa, Wahai Tuhanku, sungguh aku lapar, aku sangat membutuhkan rezeki dari Engkau.” Salah seorang dari dua perempuan itu datang menemui Musa dengan malu-malu. Perempuan itu berkata, “Sungguh bapakku mengundangmu. Bapakku ingin memberi balasan kepadamu, karena kamu telah memberi minum ternak-ternak kami. Tatkala Musa datang kepada bapak dari perempuan itu, Musa ceritakan segala kejadian ia alami kepadanya. Lalu orang tua itu berkata kepada Musa. “Kamu jangan takut. Kamu telah selamat dari kaum yang berbuat zhalim (QS Al-Qashash [28]23-35)

Ayat-ayat tersebut menunjukkan etika agung yang dimiliki nabi Musa dan betapa pemalunya dia. Hal ini bisa dilihat dari dialog antara Musa dan kedua putri nabi Syu’ab. Musa hanya berkata, “Apa Maksudmu? Tidak lebih dari itu. Musa tidak menanyakan nama keduanya dan kondisi orang tua mereka. Dia juga tidak menanyakan tentang apakah kambing yang mereka bawa milik ayah mereka atau orang-orang yang di sekitar sumur ikut memilikinya. Dari mulutnya tidak terlontar pertanyaan apakah keduanya atau salah seorang dari mereka sudah menikah atau masih gadis dan pertanyaan-pertanyaan lain, sebagaimana yang dilakukan oleh pemuda-pemuda zaman sekarang ini.

Para pemuda sekarang ini menganggap pertanyaan-pertanyaan tersebut sebagai sesuatu yang wajar, sesuai tuntutan zaman, bagian dari etika berkomunikasi dan bermasyarakat. Demikian pula sikap kedua putri Syu’aib, dimana keduanya menjawab sesuai pertanyaan Musa. Mereka menjawabnya dengan singkat, padat dan berupapaya untuk menyudahi percakapan.

Mereka berdua hanya menjawab, “Kami tidak dapat memberi minum kambing kami, sebelum pengembala itu pulang, sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut usianya. Dengan jawaban ini, mereka seoalah-olah menutup dilanjutkannya percakapan. Mereka berdua atau salah seorang dari mereka tidak mereka tidak menanyakan nama Musa dari mana asalnya, perihal kehidupan masa lalunya, apakah dia sudah menikah atau  belum.

Begitu juga ketika salah seorang dari keduanya mendatangi Musa, dia hanya berkata, “Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan sebagai imbalan atas kebaikanmu memberi minum ternak kami.

Al-Qur’an juga menggambarkan perilaku kedua gadis itu, yang mana mereka berdua berjalan menuju Musa dengan penuh malu, perasaan malu seorang wanita mulia yang banyak mendaptkan pendidikan yang baik, berkepribadian mulia dan suci. Al-Qur’an menggambarkan cara berjalannya. Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan dengan malu-malu.

Seolah-olah al-Qur’an menjadikan sifat malu sebagai pijakan sesorang ketika berjalan. Umar bin Khatab menafsirkan ayat tersebut, Bahwa anak Nabi Syuaib bukanlah tipe wanita yang tidak sopan terhadap laki-laki, tidak sering keluar rumah dengan bebas. Tetapi dia datang dalam keadaan menutup aurat. Dia menutup wajahnya dengan kain penutup karena malu.

DSCN1950

Wajah yang terlindungi oleh rasa malu bagaikan intan permata yang tersimpan di dalam kaca. Seorang perempuan tidak akan memakai perhiasan yang lebih indah dan memukau dari pada perhiasan rasa malu. Rasulullah saw bersabda, “Tak ada sesuatupun yang bisa dilakukan olah sifat malu kecuali ia akan menghiasinya (HR Tirmidzi)

Aisyah meriwayatkan, “Aku sering masuk ke dalam rumah dengan melepas pakaianku, padahal Rasulullah dan Abu Bakar dimakamkan di dalamnya. Karena sesungguhnya dia adalah suami dan ayahku sendiri. Ketika Umar dimakamkan di tempat yang sama demi Allah Aku tidak pernah masuk ke dalamnya kecuali jika aku tertutup rapat dengan mengenakan pakain karena merasa malu dari Umar.

Jika cerita ini sebagai bukti nyata dari rasa malu yang dimiliki Aisyah terhadap orang yang telah mati, maka bagaiamana rasa malunya terhadap orang yang masih hidup?

Hudzaifah berkata, “Orang yang tidak memiliki rasa malu kepada orang lain, maka dia tak akan mendapatkan kebaikan sedikitpun dalam dirinya.

Orang yang biasanya melakukan keburukan akan dicegah oleh rasa malu. Rasa malulah yang bisa mencegah dirinya tidak membalas permusuhan terhadap orang bodoh dengan balasan yang serupa. Rasa malulah yang bisa mencegah dirinya untuk tidak menolak ratapan peminta-peminta. Rasa malulah yang bisa menjaga lisannya dari pembicaraan atau perlakuan yang tidak bermanfaat dalam sebuah majelis. Orang yang dalam dirinya memiliki rasa malu, maka ia akan mendapatkan pengaruh baik seperti ini. Dia adalah orang yang memiliki perangi terpuji.

Melepaskan diri dari sifat malu merupaka kehancuran dan kemerosotan harga diri dari satu tingkat ke tingkat yang lebih rendah, sampai-sampai manusia menjadi orang yang bermuka tebal (tidak punya malu), kehilangan akhlak Islam, suka melakukan hal yang dilarang oleh anjuran agama Islam dan tidak mempedulikan hal yang diharamkan. Tentu saja disana terdapat hubungan yang lazim antara menutup aurat yang diwajibkan oleh Allah dan ketakwaan. Keduanya merupakan pakaian bagi manusia. Takwa bisa menutupi aurat hati dan menghiasanya. Sedangkan rasa malu bisa menutupi aurat jasad dan juga menghiasinya. Kedua hal itu akan selalu beriringan dan saling melengkapi.

Diantara tanda bahwa seseorang itu takut dan malu kepada Allah adalah anggapan terhadap perbuatan membuka aurat atau perasaan malunya untuk membuka aurat Allah swt berfirman, “Wahai anak keturunan Adam, Kami telah menurunkan kepada kalian pakian untuk menutupi aurat-aurat kalian dan pelindung bagi kalian. Berpakaian menutupi aurat karena taat kepada ALlah adalah cara berpakain yang paling baik. Itulah di antara syariat Allah yang dijelaskan kepada manusia, supaya manusia selalu ingat untuk menutupi auratnya. (QS Al-A’raaf [7] 26)

Wahab bin Munabbih berpendapat, “Iman itu diumpamakan dengan sesuatu yang masih telanjang, pakaiannya adalah takwa perhiasannya adalah sifat malu dan hartanya adalah penjagaan diri (iffah)

malu2

Apa yang dilakukan oleh Adam dan Hawa untuk segera menutupi aurat dengan dedaunan merupakan bukti bahwa rasa malu merupakan sifat dasar yang tertanam dalam fitrah manuisa. Ole karena itu, manusia harus memperhatikan, menjaga dan memeliharanya agar tidak hilang. Jika rasa malu dan keselamatannya berhasil dijaga, maka penjagaan dan penyelamatan fitrah manusia dari noda dan peyimpangan berhasil di wujudkan.

Ibnu Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah pernah berjalan melewati seorang pemuda dari golongan anshar. Pemuda itu sedang menasihati saudaranya dikarenakan sifat malu yang dimilikinya berlebihan, hingga dia tidak mendapatkan hak-haknya. Dalam satu riayawat disebutkan bahwa pemuda itu menegur saudaranya karena malu dengan perkataannya. “Kamu sungguh orang pemalu, hingga seakan-akan dia berkata malu itu telah membahayakan dirimu. Kemudian Rasulullah berkata kepadanya, “Biarkanlah saudaramu. Sesungguhnya malu itu sebagai dari iman (HR Bukari dan Muslim)

Malu dan iman merupakan dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Umar meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda, “Malu dan imam adalah dua sisi yang selalu bersama. Jika salah satunya hilang dari keduanya maka yang lain juga ikut hilang (HR al-Hakim)

Ath-Thayyibi berpendapat bahwa di dalam hadist tersebut terdapat tanda-tanda tajrid. Diamana Rasulullah memisahkan sebuah cabang dari asalnya, yaitu rasa malu yang dipisahkan dari iman, namun secara majas ia disandingkan dengan iman, seakan-akan keduanya adalah dua puting susu yang sedang menyusui bayi. Keduanya selalu berbagi hingga tidak dapat di pisahkan.

Ibnu Abbas berkata, “Malu dan iman berada dalam satu anyaman erat yang tak bisa dipisahkan. Seakan-akan keduanya telah diikat dalam sebuah tali. Jika salah satu diantara iman dan malu itu dicabut dari diri seorang hamba, maka yang lain akan mengikutinya.

Diriwayatkan dari nabi sulaiman, bahwa beliau pernah berkata. Malu itu merupakan penyangga iman. Jika penyanggannya rusak maka semua yang ada di dalamnya akan hilang.

Malik bin Dinar berkata, “Allah tidaklah menghukum hati seseorang dengan lebih keras kecuali saat ia melepaskan sifat malunya.

Diriwayatkan dari Sulaiman, dia berkata, “Sesungguhnya Allah jika menghendaki seorang hamba-Nya terjerumus, pastilah Dia akan mencabut rasa malunya. Jika telah dicabut rasa malunya, maka yang ia jumpai hanyalah keburukan yang menjijikan.

Fudhail bin Iyadh berkata., “Lima hal yang merupakan tanda-tanda kesengsaraan, yaitu keras hati, mata yang kering tanpa pernah mengeluarkan air mata, sedikit malu, cinta akan dunia dan banyak berangan-angan.

Abu Hatim berpendapat, “Jika ada seorang yang selalu sifat malu maka dampak-dampak baik dibaliknya akan terwujud. Seperti halnya jika ada sesorang yang berperangai buruk dan senantiasa melakukan keburukan, maka kebaikan pun tak bisa diharapkannya darimya. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya yaitu berbagai akibat buruk akan datang. Karena bagaimana pun, malu merupakan dinding penghalang antara seseorang dan segala hal yang dilarang. Dengan kekuatan malu itulah kemampuan manusia untuk meninggalkan larangan semakin bertambah. Sebaliknya, dengan sedikit rasa malu, dia akan semakin berani melanggar larangan. (Abu azzam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s