Menyembunyikan Amal

Orang-orang yang selalu membaca Al-Qur’an, melaksanakan shalat dan mendermakan sebagain harta yang Kami keruniakan kepada mereka secara diam-diam ataupun terang-terangan, mereka mengharapkan amal shalih mereka tidak sia-sia, laksana pedagang yang tidak ingin rugi (QS Faathir [35]29)

Allah juga telah mensyaratkan di beberapa ayat tentang pentingnya beribadah secara sembunyi-sembunyi dan menginfakkan harta jauh dari penglihatan manusia

Wahai manusia, jika kalian mendermakan harta dengan terang-terangan, maka hal itu baik, jika kalian merahasiakan derma kalian, maka hal itu lebih baik. Jika kalian merahasiakannya dan kalian memberikannya kepada orang-orang kafir maka hal itu lebih baik lagi bagi kalian. Alah akan mengampuni semua kesahalah kalian dalam mendermakan hart. Allah Maha Mengetahui semua perbuatan kalian yang patut diberi pahala (QS Al-Baqarah[2]271)

amal

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini, “Jika kalian menampakan shadaqah kalian maka itu adalah baik sekali berarti jika kalia menampakkannya, maka itulah harta yang paling baik. Sedangkan firman-Nya, Dab, jika kalian menyembunyikannya dan kalian berikan kepada orang-orang kafir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagi kalian, terkandung dalil bahwa menyembunyikan shadaqah lebih baik daripada menampakkannya, karena hal itu lebih jauh dari riya. Kecuali apabila memang menampakkan shadaqah itu mendatangkan kemaslaha tan, sperti agar orang-orang mengikuti jejaknya. Sehingga menampakkannya lebih baik daripada menyembunyikannnya.

Rasulullah saw bersabda, “Orang yang membaca Al-Qur’an dengan suara nyaring seperti orang yang menampakkan shadaqahnya dan orang yang menyembunyikan bacaan Al-Qur’an seperi orang yang menyembunyikan shadaqahnya (Abu Dawud, Tirmizim dan An-Nasai)

Rasulullah saw bersabda, “Tujuh orang yang dilindungi Allah dalam lindungan-Nya pada hari yang tak ada perlindungan selain lindungan-Nya yaitu; permimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ibadah kepada Alah swt, seorang lelaki yang hatinya bergantung dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah, keduanya berkumpul lantaran cinta kepada-Nya dan berpisah juga lantaran cinta kepada-Nya, seorang lelaki yang dirayu seorang wanita cantik yang memiliki kedudukan dan cantik rupawan, namun dia berkata, “Sesungguhnya aku  takut kepada Allah dan seorang yang mengeluarkan infak (shadaqah) lalu dia menyembunyikan sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang dinafkahkan tangan kanannya dan seroang yang menyebut nama Allah dalam keadaan sendirian lalu kedua matanya meneteskan air mata (HR Bukhari & Muslim)

Rasulullah saw bersabda, “Perbuatan-per buatan kebajikan dapat menangkal serangan kebu rukan, shadaqah secara sembunyi-sembunyi dapat memadamkan kemurkaan Rabb, silahturahmi dapat memperpanjang umur dan setiap perbuatan kabaikan merupakan shadaqah dan orang-orang yang berbuat kebaikan didunia adalah orang-orang yang berbuat kabaikan di akirat (Ibid)

Sedikit riya merupakan perbuatan yang syirik. Barangsiapa memusuhi wali-wali Allah, berarti dia telah memperlihatkan permusuhan terhadap Allah. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan, bertakwa an menyembunyikan amal mereka, yang sekiranya mereka tidak ada, maka mereka tidak dicari-cari dan jika mereka hadir maka mereka tidak dikenali. Hati mereka adalah pelita petunjuk. Mereka keluar dari setiap sudut yang gelap. (HR Thabarni)

Nasihat menyembunyikan amal

Rasulullah saw bersabda, “Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.”

(Mengasingkan diri berarti amalannya pun sering tidak ditampakkan pada orang lain)

Ibnul Mubarok mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri (sehingga amalan mudah tersembunyi, pen), dan janganlah suka dengan popularitas.”

Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan, “Barang siapa yang mampu menyembunyikan amalan sholihnya, maka lakukanlah.”

Ibrahim An Nakho’i mengatakan, “Kami tidak suka menampakkan amalan sholih yang seharusnya disembunyikan.”

Sufyan bin ‘Uyainah berkata, “Sembunyikanlah amalan kebaikanmu lebih dari kamu merahasiakan keburukanmu.”

Al Fudhail bin ‘Iyadh mengatakan, “Sebaik-baik ilmu dan amal adalah sesuatu yang tidak ditampakkan di hadapan manusia.”

Basyr Al Hafiy mengatakan, “Tidak selayaknya orang-orang semisal kita menampakkan amalan sholih walaupun hanya sebesar dzarroh (semut kecil). Bagaimana lagi dengan amalan yang mudah terserang penyakit riya’?”

Imam Asy Syafi’i berpesan siapa saja yang menginginkan agar Allah membukakan pintuatau menyinari hatinya, maka hendaklah ia meninggalkan perkataan yang tidak memberikan manfaat apapun, menghendari kemaksiatan dan hendaklah ia memiliki suatu amalan yang disembunyikan antara dirinya dengan Allah.

Sufyan ats-Tsauri berkata, “Aku mendengar berita bahwa ada seorang hamba yang selalu beramal seara diam-diam. Maka setan akan terus menggodanya hinga dia terkalahkan. Ketika berada dalam kondisi terang-terangan, setan pun masih terus menerus menggodanya, hingga dia lebih suka untuk dipuji dan di hapus dari rasa malunya, kemudian dia masuk dalam katagori orang sombong.

Al-Haris al-Muhasibi berkata, “Orang jujur adalah yang tidak peduli jika semua kemampuan yang dimiliki lenyap demi untuk memperbaiki hatinya. Dia tidak senang jika manusia mengetahui kebaikan amalnya walaupun sekecil biji atom.

Contoh gambaran orang-orang terdahulu menyembunyikan amal shalihnya

Ketika siang hari, Ibnu Sirin selalu tertawa. Adapun jika malam menjelang, dia selalu menangis seakan-akan dia telah menduduk penduduk desa.

Sufyan ats-Tsauri salah seorang murid Manhur berkata, “JIka kamu melihat bagaimana Manhur melakukan shalat Manhur berkata, “Sungguh masa ini telah berhanti.” Zaidah bin Quddamah, seorang murid Manhur yang lain juga berkata, Manhur berpuasa selama empat puluh tahun dan melakukan qiyamulail pada malam harinya. Waktu malamnya dia habiskan untuk menangis. Ketika pagi menjelang, dia menggunakan celak pada matanya, membasahi  bibirnya dan menecat rambutnya (agar terlihat segar). Ibunya berkata kepadanya,”Apakah kamu telah membunuh seseorang? Karena ibunya selalu melihat dia sering menangis, takut dan tekun beribadah kepada Allah. Manshur menjawab, “Aku lebih tahu atas apa yang telah aku perbuat.

Muhammad bin Ziyad mengisahkan bahwa suatu ketika dia pernah melihat Abu Umamah yang mendatangi seorang di dalam masjid. Lelaki tersebut bersujud sambil menangis dan berdoa kepada Tuhannya. Melihat hal itu Abu Umamah berkata, “Hai fulan, alangkah lebih baiknya jika perbuatanmu ini kamu lakukan di rumahmu sendiri agar tidak diliahtorna lain?

Muhammad bin Wasji berkata, “Andai saja ada seseorang yang selama dua puluh tahun menangis sedangkan istri yang kedua tidur bersamanya tidak mengetahui hal itu.

Dalam perkataannya yang lain disebutkan, “Aku pernah Menemui beberapa lelaki. Salah seorang diantarnya selalu meletakkan kepalanya di sebuah bantal, sementara istrinya tidak mengetahui tangisan suaminya tersebut. Pada saat yang lain ada seorang lelaki yang berdiri di barisan shalat. Air matanya mengalir membasahi pipinya namun orang-orang di sekelilingnya tidak menegerti jika di sedang manangis.

Diriwayatkan dan Ibnu Abid Adiy bahwasanya Dawud bin Abi Hind pernah menjalani puasa selama empat puluh tahun sedangkan keluarganya tidak mengetahui. Dia selalu membawa bekal makanan yang diberikan oleh keluarganya. Lalu dia mensedekahkannya di jalan-jalan. Ketika sore tiba, dia pulang dan berbuka bersama keluarganya.

Qasim bin Muhammad bercerita, “Suatu ketika kami pernah bepergian bersama Ibnu Mubarak. Dia adalah orang yang selalu menjadi perhatinku. Aku bertanya-tanya pada diri sendiri, “Dengan apa lelaki ini lebih diunggulkan daripada aku sehingga ketenarannya sangat dikagumi oleh masyarakat? Jika dia adalah orang yang rajin menjalankan shalat, aku pun juga menjalankannya. Jika dia menunaikan puasa, aku juga berpasa. Jika dia berperang, aku juga berperang. Jika dia pergi haji, aku juga menunaikannya.

Kami tiba di kawasan menuju Syam pada malam hari akhirnya kami pun berhenti sejenak di sebuah rumah yang lampunya mati. Salah satu diantara kami pergi unutk menagmbil lamu. Setelah lampu dinyalakan, dia berhenti sejenak dan saat lampu itudinyalakan, dia berhenti sejenak dan saat itu aku sempat melihat wajah Ibnu Mubarak dan jenggotnya basa dengan air mata. Aku bergumam dalam hati, “Barangkali basa dengan air mata. Aku bergumam dalam hati. Barangkali karena sifat inilah dia lebih unggul daripada aku. Mungkin saja ketika lampu padam dan dalam kondisi gelap gulita. Ibnu Mubarak menyempatkan diri mengingat hari akhir.

Muhammad bin A’yun adalah sahabat Ibnu al_Mubarak dalam perjalanan. Dia adalah orang yang terhormat di mata Ibnu Mubarak. Muhammad bin A’yun menceritakan bahwa pada suatu malam kami sedang berperang melawan tentara Romawi. Suatu ketika Ibnu Mubarak merebahkan kepalanya dan dia mengatakan kep. Ditu aku hanya bisa memandangnya. Ketika fajar menyingsing dia datang dan mebangunkanku. Dia menyangka bahwa aku masih tidur dan berkata, “Wahai Muhammad, cepat bangun.” Aku menjawaba terus beribadah hingga fajar tiba. Saat adaku kalau dia mau tidur. Lalu aku duduk, sementara kedua tanganku memegang tombak. Aku letakkan kepalaku di atas tombak dan aku pun berpura-pura tidur seperti dia.

Ibnu Mubaraik menyangka jika aku telah tertidur. Setelah itu, dia bangun dan melaksanakan shalat malam. Dia terus beribadah hingga fajar menyngising dia datang dan membangunkanku. Dia menyangka bahwa aku masih tidur dan berkata, Wahai Muhammad, cepat bangun.” Aku menja wab, “Sesungguhnya aku belum tidur.”

Mendengar jawabanku, dia kaget dan semenjak peristiwa itu dai tidak pernah menajakku bicara dan tidak lagi memberiku kesempatan untuk ikut dalam perangnya. Setelah kejadian itu aku masih saja melihat Ibmu Mubarak melakukan aktivitas Qiyamulailnya hingga meninggal dunia.

Ada seorang pemuda sering membanti Ibnu Mubarak untuk menyelesaikan pekerjaannya. Pemuda itu juga belajar hadis dariya. Suatu saat pemuda itu tidak datang di kajian hadistnya, dan beliau menanyakan kepada sekelompok orang, tentang pemuda itu. Mereka menjawab, “Pemuda itu ditahan dengan harga tebusa sebesar sepuluh dirham. Kemudian Ibnu Mubarak menebus pemuda itu dengan hara sepuluh dirham. Dia mensyarakatkan agar tidak ada yang memberitahu poada seorang tentang hal itu selama dia masih hidup. Seelah itu bebasalah pemuda tersebut.

Lalu Ibnu Mubarak bertanya kepadanya, “Wahai pemuda, selama ini dimanakah kamu berada? Aku tidak pernah melihatmu. Pemuda tadi menjawab, Wahai Abu Abdurrahman aku tertahan karean memiliki hutang. Ibnu Mubarak bertanya lagi, “Lalu, bagaimana kamu bisa bebasa? Pemuda itu menjwab, “Ada seseorang yang datang dan menebus hutangku tetapi aku tidak tahu siapakah dia. Ibnu Mubarak berkata, “Bersyukurlah. Pemuda itu tidak mengetahui siapa yang menebus hutangnya kecuali setelah kematian Ibnu Mubarak.

Sa’d bin Ibrahim pernah berkata,“Aisyah biasa menutup pintunya kemudian shalat dhuha yang amat panjang .“

Muhammad bin Ziyad berkata,“ Aku pernah melihat Abu Umamah menemui seseorang di dalam mesjid yang sedang sujud sambil menangis dan berdo’a. Abu Umamah berkata kepada orang itu, “ Jika engkau melakukan hal semacam itu, lakukanlah didalam rumahmu

Ibnu Munkadir berkata,“ Suatu malam aku pernah menghadap ke mimbar ini untuk berdo’a. Tiba-tiba kulihat seorang yang kepalanya menekur kebawah. Kudengar sayup-sayup ia berkata,“ Ya Robbi, sesungguhnya musim paceklik dan kelaparan menimpa hamba-hamba-Mu. Aku bermohon kepada-Mu ya Robbi, kiranya Engkau menurunkan hujan kepada mereka.” Tak seberapa lama kemudian muncul awan, kemudian Allah menurunkan hujan yang lebat.

Ibnu Munkadir merasa bahwa orang tersebut tentulah orang yang dimuliakan Allah SWT, sehingga dia perlu merahasiakan keberadaanya sebagai orang yang baik. Setelah imam mengucapkan salam, orang itu langsung bangkit dan pergi. Aku membuntutinya hingga tiba di rumah Anas. Dia masuk rumah dengan tawadhu’, membuka pintu dan masuk kedalam. Setelah matahari meninggi, aku menemuinya dan kukatakan kepadanya, “Bolehkah aku masuk ?“

Dia menjawab ,“ Silahkan masuk !“Aku bertanya ,“ Bagaimana keadaanmu pagi ini ? Semoga Allah memberi kemaslahatan kepadamu .“Dia menjawab ,“ Aku kira kemaslahatan itu terlalu besar bagiku . “Aku berkata ,“ Aku mendengar do’amu semalam kepada Allah. Wahai saudaraku, apakah engkau mempunyai nafkah yang membuatmu kecukupan sehingga engkau menyendiri untuk akhirat ?”

Dia menjawab ,“ Tidak ada . Tapi saya mohon janganlah engkau menceritakan hal ini kepada siapapun hingga aku meninggal dunia dan janganlah engkau menemui aku lagi wahai Ibnu Mundzir , karena jika engkau menemui aku , maka hal itu bisa membuatku dikenal banyak orang


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s