IBADAH 1 MALAM = 1000 BULAN = 83 TAHUN

Definisi Itikaf

Diantara rangkain ibadah-ibadah dalam bulan suci Ramadhan yang dengan dipelihara dan sekaligus diperintahkan oleh Rasulullah saw adalah itikaf, setiap muslim di anjurkan (disunnahkan) untuk beritikaf dimasjid, terutama paa 10 hari terakhir bulan Ramadhan. Itikaf merupakan sarana mediatasi dan k

itikafontemplasi yang sangat efektif bagi musli dalam memelelihara keislamananya khususnya dalam era globalisasi, & materialisasi

Esensi dari itikaf adalah memurnikan hati untuk Allah semata serta serius meminta ampunan dari-Nya dan mengharap penuh kucuran ridha-Nya. Atha’ berkata, “Perumpamaan orang yang beritikaf adalah semisal seorang yang tengah mengharapkan sesuatu kebutuhan dari seorang tokoh agung, lalu dia duduk di depan pintu gerbang (rumah atau istana) tokoh tersebut seraya mengatakan bahwa ia tidak akan beralih dari situ sebelum kebutuhannya dipenuhi. Begitu jugalah, orang yang beritikaf itu duduk dirumah Allah seraya mengatakan bahwa ia tidak akan berlih sebalum dosa-dosanya diampuni.

Jadi itikaf adalah bentuk pelepasan diri dari kehidupan duniawi yang khusus, ditempat tertentu dan pada masa tertentu sebagai sarana untuk merenungi diri mengenai ketaatanya serta sebagai sarana untuk mawas diri, berintropeks, dan melakukan tafakur (pemikiran mendalam). Itulah ibadah itikaf yang secara syar’i definisinya adalah menahan diri di masjid secara khusus dengan niat taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah)

Hukum Itikaf

Ai’syah menyatakan, “Biasanya jika Nabi saw ingin beritikaf di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, aku buatkan sebuah ruang khusus di dalam masjid, sehingga beliau kemudian shalat subuh dan mulai  memasukinya (HR Bukhari & Muslim)

Rasulullah melakukan itikaf samapai wafat kecuali pada tahun wafatnya beliau melakukannya selama 20 hati terakhir. Demikian hal nya para sahabat dan istri beliau senantiasa meaksanakan ibadah yang amat agung ini. Imam Ahmad berkata, “Sepengetahuan saya tak seorang pun ulama mengatkan itikaf bukan sunnah.

Keutamaan lailatul qodr

Sesudah disyariatkannya ibadah sahum dan agar umat Islam dapat meralisasikan niali taqwa, Allah swt melengkapi nikmat-Nya dengan memberikan adanya lailatul qodar

Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam yang sangat mulia di bulan Ramadhan. Wahai Muhammad, apakah engkau tahu tentang malam yang sangat mulia itu? Malam yang sangat mulia itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu Jibril dan para malaikat turun atas perintah Tuhan mereka untuk membawa semua ketetapan. Malam yang mulia itu berlangsung sampai subuh. (QS Al-Qadr 1-5)

Mengomentari ayat diatas Anas bin Malik ra menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan keutamaan disitu adalah bahwa amal ibadah seperti shalat, tilawah al-Qur’an dan dzikir adalah bahwa amal sosial (seperti shodaqoh dana zakat), yang dilakukan pada malam itu lebih baik dibandingkan amal serupa selama seribu bulan (tentu diluar malam lailatul qodar sendiri). Dalam riwayat lain Anas bin Malik juga menyampaikan keterangan Rasulullah saw bahwa sesunguhnya Allah mengkaruniakan Lailat al qodr untuk umatku dan tidak memberikannya kepada umat-umat sebelumnya.

Sementara berkenan dengan ayat 4 surat al qodr, Abdullah bin Abbas ra menyampaikan sabda Rasulullah bahwa pada saat terjadi lailatul qodar, para malaikat turun ke bumi menghampiri hamba-hamba Allah yang sedang qiyamul lail atau melakukan dzikir, para malaikat langit dibuka dan Allah menerima taubat para malaikat turun ke bumi mengucapkan salam kepada mereka. Pada malam itu pintu-pintu bertaubat dan Allah menerima taubat dari hamba-Nya yang bertaubat.

Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa qiyam (shalat malam) pada lailat al qodr atas dasar iman serta semata-mata mecari keridhaan Allah, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa yang pernah dilakukannya. (HR Bukhari, Muslim dan al Baihaqi)

Siapa shaum di bulan Ramadhan didasari iman (keyakinan penuh pada Allah) dan ithtisab (tujuannya hana mencari ridah Allah) maka diampunkan dosanya yang lalu. (HR Imam Muslim)

Allah  berfirman, “Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, yang itikaf yang rukuk dan yang sujud (Al-Baqarah 125)

Jadi itikaf merupakan tradisi para rasul semenjak masa Nabi Ibrahim. Bapak para nabi hingga masa Nabi Muhammad saw sang penutup para nab. Momen untuk pelaksanaan ibadah ini pun beliau pilihkan pada malam-malam penuh berkah yang paling utama yaitu malam-malamnya sepuluh hari terakhir Ramadhan. Demikian banyaknya keutamaan lailatul qodar sehingga Ibnu Abi Syaibah pernah menyampaikan ungkapan al Hasan Al Basri katanya, “Saya tidak pernah tahu adanya hari atau malam yang lebih utama dari malam lainnya kecuali latilatul qadar karena lailatul qodar lebih utama dari amalan seribu bulan atau sekiar 83 tahun

Jadi tidak ada alasan kita untuk tidak bisa itikaf 10 hari terakhir Ramadhan, karena 10 hari itulah umur kita yang paling mahal nilainya. Ampunan semua dosa yang kita lakukan dan bernilai lebih baik dari 1000 bulan atau sekitar 83 tahun.

Pertanyaanya adalah, “Bukankah Rasululalh orang yang aling sibuk berdakwah, berjihad dan mengurusi umatnya? Bukankah para sahabat orang yang paling giat berdakwah dan berjihad di jalan Allah. Lalu, kenapa mereka bisa melaksankan itikaf pada 10 hari terakhir ramadhan? Padahal Rasulullah dan sahabat utama diampuni dosanya dan di jamin masuk surga, bagaiamana dengan kita, berjihad pun belum pernah?

Ibnu Qayyim berkata tentang itikaf, “Kesalihan hati dan konsistennya dalam menekuni perjalanan menuju Allah itu tergantung pada keseriusannya terhadap Allah dan ketulusannya untuk secara fokus menghadapkan diri kepada-Nya. Sebab cerai berai hati tidak akan bisa disatukan kecuali dengan fokus menghadap kepada Allah-Nya. Kelebihan makanan, meinuman, pergaulan, pembicaraan dan tidur juga termasuk penambah perusak hati. Dapat juga memutus kosentrasinya dalam menekuni perjalanan menuju Allah atau setidaknya membut diri lemah, lumpuh dan berhenti.

Sesauai dengan kemahakasihan dan kemaha-agungannya, kemudian Allah mensyariatkan kepada mereka para hamba-Nya itu ibadah shaum yang akan menghilangkan kelebihan-kelebihan makanan dan minuman serta memberisihkan noda-noda syahfat dari hati yang biasa menghalangi menekuni perjalanan kepada Allah. Ibadah shaum ini disyariatkan sesuai kadar kemaslahatan, yang mana dengan itu sang hamba akan bisa memperolah manfaat untuk dirinya didunia mapun diakhirat serta tanpa harus membahayakan dirinya ataupun membuatkan kehilangan kemaslahatan jangka pendrk ataupun jangka panjang.

Allah juga memerintahkan untuk mereka ibadah itikaf yang spirit dan esensinya adalah fokus, penyepian dan kosentrasinya hati hanya kepada Allah semata, serta pemutusan diri (untuk sementara waktu) dari kesibukan-kesibukkan yang berkaitan dengan para hamba sehingga hanya penuh disibukkan oleh urusan dengan Allah semata, dia aman (dalam kondisi tersebut) yang menjadi konsentrasi hati dan pikiran hanyalah zikir dan rasa cinta kepada ilahi. Sehingga nilai-nilai illahiah akan bisa mendominasinya, fokus perhatian akan terpusat kepada Allah semata, medan perasaan akan dipenuhi oleh zikir kepada-Nya dan arena pemikiran akan terfokus pada bagaiaman meraih keridhaan dan kedakatan kepada-Nya. Dengan demikian, kenyamanan jiwa akan dipenuhi oleh kedekatan dengan Sang Pencipta dan bukan lagi oleh kedekatan dengan para makhluk.

Kondisi inilah yang akan membuatnya siap untuk nantinya tetap nyaman ketika berada pada masa-masa kesendirian di alam kubur, di saat diam tidak lagi penghibur ataupun teman yang menyertainya selain Allah. Jadi inilah tujuan paling agung dari ibadah itikaf tersebut.

Sesungguhnya memutuskan hubungan dengan makhluk selama beberapa hari dan beberap malam disalah satu rumah Allah itu akan bsia memancarkan spirit kepolosan dan keterusterangan di dalam jiwa, sehingga dengan mudah sang jiwa itu akan tunduk untuk mau melakukan evaluasi dan intropeksi diri secara mandiri sebalum nantinya diakhirat ia dihisab. Kemudian intropeksi ini akan diiringi oleh sikip mawas diri (perasaan jiwa ini selalu diawasi oleh sang pencipta)

Umar bin Khatab pernah mengatakan, Evaluasilah dirimu sebelum nantinya kalian dihisab dan berhiaslah dengan amal saleh untuk keperluan hari perhitungan. Sesungguhnya hisab di ahirat itu hanyalah ringan bagi orang-orang yang rajin melakukan evaluasi diri ketika masih didunia.

Az-Zuhri pernah menyatakan, “Aneh sekali ornag-orang muslim ini! Mereka sudah meninggalkan ibadah itikaf. Padahal sungguh Nabi saw dahulu sama sekali tidak pernah meninggalkannya semenjak beliau datang ke Madinah (hijrah) sampai Allah mencabut nyawa  beliau.”

Beribadah pada malam qadar

Ubaidah bin ash Shamit menceritakan, Rasulullah saw bersabda “Malam qadar terdapat pada sepuluh malam terakhir, siapa yang mendirikannya hanya karena mengharap ridha Allah, sesungguhnya Allah swt akan mengampuni dosa-dosanya yang berlalu dan yang akan datang. Malam itu terdapat pada malam ganjul, dua puluh sembilan, dua puluh tujuh, dua puluh lima, dua puluh tiga atau pada malam yang terakhir.”

Adapun hikmah dijelaskannya tanda-tanda setelah malam itu berlalu adalah karena pada hati itu disunnahkan untuk memperbanyak ibadah sebagaimana yang disunahkan pada malamnya.

Waktu lailatul Qadar

Lailatul Qadar terjadi pada malam 17 Ramadhan, malam diturunkannya Al-Qur’an. Hal ini disempaikan oleh Zaid bin Arqom dan Abdullah bin Zubair ra (HR Ibnu Abu Syaibah, Baihaqi dan Bukhari dlam tarikh)

Lailatul Qadar terjadi pada malam-malam ganjil disepuluh hari terkhir bulan Ramadhan. Diriwayatkan oleh Aisyah dari sabda Rasululllah saw, “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil disepuluh hari terkhir bulan Ramadhan (HR Bukhari, Muslim & Baihaqi)

Lailatul Qadar terjadi pada malam 21 Ramadhan berdasarkan hadist riwayat Abi Said al Khudri (HR Bukhari & Muslim)

Lailatul Qadar terjadi pada malam tanggl 27 bulan Ramadhan berdasarkan hadis riwayat Ibnu Umar, seperti dikutip oleh Hamd. Dsn sperti diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah, bahwa Umar bin Khatab, Huzaifah serta sekumpulan besar sahabat yakin bahwa Lailatul Qadar terjadi pada malam 27 bulan Ramadhan. Rasulullah saw seperti diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, juga pernah menyampaikan kepada sahabat yang telah tua dan lemah tak mampu qiyam berlama=lama dan meminta nasehat kepada beliau kapan ia bisa mendapatkan Lailatul Qadar. Rasulullah saw kemudian menasehati agar ia mencarinya pada malam ke 27 bulan Ramadhan (HR Thabarni dan Baihaqi)

Abu bakrah menyebutkan malam qadar, dia berkata, “Aku tidak mencarinya karena kau sudah mendengar dari Rasulullah saw kecuali pada sepuluh malam terakhir, karena aku mendengar dia bersabda, “Carilah ia (malam qadar) pada sembilan malam yang tinggal (malam kedua puluh satu) atau pada tujuh malam yang tinggal (malam kedua puluh tiga) pada lima malam yang tinggal (malam kedua puluh lima) atau tiga yang tinggal atau malam terakhir (malam kedua puluh tujuh atau malam kedua puluh sembilan).” Abu Bakrah melakukan salat selama dua puluh hari sebagaimana salatnya sepanjang tahun, tetapi bila memasuki sepuluh hari terakhir, dia  berusaha keras dan berjuang (HR at-Timidzi)

 Maka selayaknya setiap muslim berupaya selalu mendaptkan lailatul qodar pada sepanjang sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan

Tanda-tanda lailatul qadr

Rasulullah saw bersabda, “Tanda-tandanya adalah malam itu merupakan malam yang tenang dan damai, tidak panas dan tidak pula dingin dan tidak ada meteor yang jatuh pada malam itu hingga fajar terbit dan tandanya bahwa sinar matahari ketika pagi (setelah malam) qadar berlalau mengeluarkan sinar yang lembut, tidak menyengat (seperti biasa), ia seperti bulan purnama, setan-setan tidak keluar bersamanya pada hari itu (HR Ahmad)

Apa yang perlu dilakukan pada lailatar qodar dan agar dapat mengapai lailatul qadarLebih bersungguh-sungguh dalam menjalankan semua bentuk ibadah pada hari-hari Ramadhan, menjauhkan diri dari semua hal yang dapat mengurangi keseriusan beribadah pada hari-hari iru. Daalam peribadatan ini juga dengan mengikutsertakan keluarga. Hal itulah yang di contohkan Rasulullah saw, Melakukan qiyamul lail berjamaah, dengan maksud sampai pada rakaat terakhir yang dilakukan imam sebagaiamana diriwayatkan oleh Abu Dzar, Memperbanyak doa memohon ampunan dan keselamatan kepada Alah dengan lafal, “Allahumma innaka ‘afuwun tuhibul afwa fa’fianni. Hal ini yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah ra ketika beliau bertanya, “Wahai Rasulullah, bila aku ketahui kedatangan lailatul qodar, apa yang mesti aku ucapkan (HR ahmad, ibnu majah dan tirmidzi)

Awal dan akhir itikaf

Khusus itikaf tamadhan waktunya dimulai sebelum terbenam matahari malam ke 21. Sebagaiamana sabda Rasulullah saw, “Barangsiapa yang ingin itikaf dengan ku, hendaknya ia beritikaf pada 10 hari terakhir Ramadhan (HR Bukhari). 10 (sepuluh) disini adalah jumlah malam, sedangkan malam pertama dari sepuluh itu adalah malam ke 21 atau 20. Adapun waktu keluarnya atau berakhirnya, kalau itikaf dilakukan 10 hati malam terakhir yaitu seelah terbenam matahari, hari terakhir bulan Ramadhan. Akan tetapi beberapa kelangan ualama mengatakan yang lebih mustahab (disenangi) adalah menunggu sampai shalat Ied

Hal-hal yang disunnahkan waktu itikaf

Disunnahkan agar orang yang itikaf memperbanyak ibadah taqarrun kepada Allah swt, seperti shalat, membaca Al-Qur’an, tasbih, tahmid, tahlil, takbir, istighfar, shalawat kepada Nabi Saw, doa dan sebagainya. Termasuk juga didalamnya pengajian, ceramah, ta’lim, diskusi ilmiah, telaah buku tafsir, hadist, soroh dan sebagainya. Namun demikian prioritas utama adalah ibadah-ibadah magdhah. Bahkan sebagian ulama meninggalkan segala aktifitas ilimiah lainnya dan berkosentrasi penuh pada ibadah-ibadah mahdah. Imam Ahmad berpandangan bahwa orang yang sedang beritikaf tidak dianjurkan untuk bergaul dengan orang-orang, bahkan sekalipun berupa pengajaran ilmu dan pembelajran Al-Qur’an. Yang paling utama bagi orang yang sedang beritikaf adalah justru menyendiri dan menyepi guna bermunajat kepada Rabbnya dan fokus melantukan zikir-zikir dan doa-doa kepada-Nya.

Syarat itikaf

Orang yang itikaf harus memenuhi kreteria-kreteria sebagai berikut :1. Muslim 2. Berakal, 3. Suci dari janabah (junub), haidh dan nifas, 4. Oleh karena itu itikaf tidak diperbolehkan bagi orang kafir, anak yang belum memaiyiz (mempu membedakan, orang junub, wanita haidh dan nifas)

Rukun-rukun itikaf : Niat (QS. Al-Bayinah :5) (HR Bukhari & Msulim tentang niat), Berdiam di masjid (QS. Al- Baqarah 187)

Hal-hal yang diperbolehkan bagi orang yang beritikaf      Keluar dari tempat itikaf untuk mengantar istri, sebgaiamana yang dilakukan Rasulullah saw terhadap istrinya Shofiyah ra (HR Bukhari & Muslim)2.Menyisir rambut atau mencukur rambut, memotong kuku, membersihkan tubuh dari kotoran dan bau badan.3.  Keluar dati tempat keperluan yang harus dipenuhi, seperti membuang air besar dan kecuil, makan dan minum (hika tidak ada yang mengantarkannya) dan segala sesuatu yang tidak mungkin dilakukan di masjid. Tetapi ia harus segera kembali setelah menyelesaikan keperluannya.4.           Makan, minum dan tidur di masjid dengan senantiasa menjaga kesucian dan kebersihan masjid.

Hal-hal yang membatalkan itikaf1.            Meninggalkan masjid dengan sengaja tanpa keperluan, meski sebentar, karena Meninggalkan salah satu rukun itikaf yaitu berdiam di masjid.     Murtad keluar dari agama Islam (QS. 39:65)

3.            Hilangknya akal, gila atau mabuk.

4.            Haidh

5.            Nifas

6.            Berjumpa (bersetubuh dengan isti) (QS, 2:187). Akan tetapi memang tanpa syahwat, tidak

apa-apa sebagaiaman yang dialkaukan Nabi dengan istri-istrinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s