Istiqomah Setelah Ramadhan

Tidak terasa, waktu begitu cepistiqomahat berlalu, dan bulan Ramadhan yang penuh dengan keberkahan dan keutamaan berlalu sudah. Semoga kita tidak termasuk orang-orang yang celaka karena tidak mendapatkan pengampunan dari Allah  selama bulan Ramadhan, sebagaimana yang tersebut dalam doa yang diucapkan oleh malaikat Jibril  dan diamini oleh Rasulullah : “Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni (oleh Allah )” (HR Ahmad (2/254)

 

Salah seorang ulama salaf berkata: “Barangsiapa yang tidak diampuni dosa-dosanya di bulan Ramadhan maka tidak akan diampuni dosa-dosanya di bulan-bulan lainnya”(Dinukil oleh imam Ibnu Rajab dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 297).

Oleh karena itu, mohonlah dengan sungguh-sungguh kepada Allah  agar Dia menerima amal kebaikan kita di bulan yang penuh berkah ini dan mengabulkan segala doa dan permohonan ampun kita kepada-Nya, sebagaimana sebelum datangnya bulan Ramadhan kita berdoa kepada-Nya agar Dia  mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan dalam keadaan hati kita kita dipenuhi dengan keimanan dan pengharapan akan ridha-Nya. Imam Mu’alla bin al-Fadhl berkata: “Dulunya (para salaf) berdoa kepada Allah  (selama) enam bulan agar Allah mempertemukan mereka dengan bulan Ramadhan, kemudian mereka berdoa kepada-Nya (selama) enam bulan (berikutnya) agar Dia menerima (amal-amal shaleh) yang mereka (kerjakan)” (Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 174).

Oleh karena itu, para salafush shalih senantiasa berkonsentrasi dlm menyempurnakan & menekuni amalan yang mereka kerjakan kemudian setelah itu mereka memfokuskan perhatian agar amalan mereka diterima karena khawatir amalan tersebut ditolak.

‘Ali bin Abi Thalib ra mengatakan, ”Hendaklah kalian lebih memperhatikan bagaimana agar amalan kalian diterima daripada hanya sekedar beramal. Tidakkah kalian menyimak firman Allah swt “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amalan) dari orang-orang yang bertakwa.” (Al Maaidah: 27).”

Lalu muncul satu pertanyaan besar dengan sendirinya: Apa yang tertinggal dalam diri kita setelah Ramadhan berlalu? Bekas-bekas kebaikan apa yang terlihat pada diri kita setelah keluar dari madrasah bulan puasa? Apakah bekas-bekas itu hilang seiring dengan berlalunya bulan itu? Apakah amal-amal kebaikan yang terbiasa kita kerjakan di bulan itu pudar setelah puasa berakhir?  Jawabannya ada pada kisah berikut ini: Imam Bisyr bin al-Harits al-Hafi pernah ditanya tentang orang-orang yang (hanya) rajin dan sungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan, maka beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang sangat buruk, (karena) mereka tidak mengenal hak Allah kecuali hanya di bulan Ramadhan, (hamba Allah) yang shaleh adalah orang yang rajin dan sungguh-sungguh beribadah dalam setahun penuh”(Dinukil oleh imam Ibnu Rajab al-Hambali dalam kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 313).

Demi Allah, inilah hamba Allah yang sejati, selalu taat dan beramal shaleh bukan hanya di waktu satu hari, satu minggu, satu bulan satu tahun,  10 tahun  tapi sampai ajal menjemput

Imam asy-Syibli pernah ditanya: Mana yang lebih utama, bulan Rajab atau bulan Sya’ban? Maka beliau menjawab: “Jadilah kamu seorang Rabbani (hamba Allah  yang selalu beribadah kepada-Nya di setiap waktu dan tempat), dan janganlah kamu menjadi seorang Sya’bani (orang yang hanya beribadah kepada-Nya di bulan Sya’ban atau bulan tertentu lainnya)”

Maka sebagaimana kita membutuhkan dan mengharapkan rahmat Allah  di bulan Ramadhan, bukankah kita juga tetap membutuhkan dan mengharapkan rahmat-Nya di bulan-bulan lainnya? Bukankah kita semua termasuk dalam firman-Nya:

“Hai manusia, kalian semua butuh kepada (rahmat) Allah; dan Allah Dia-lah Yang Maha Kaya lagi Maha Terpuji” (QS Faathir: 15).

Inilah makna istiqamah yang sesungguhnya dan inilah pertanda diterimanya amal shaleh seorang hamba. Imam Ibnu Rajab berkata: “Sesungguhnya Allah jika Dia menerima amal (kebaikan) seorang hamba maka Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya tersebut untuk beramal shaleh setelahnya, sebagaimana ucapan salah seorang dari mereka (ulama salaf): Ganjaran perbuatan baik adalah (taufik dari Allah  untuk melakukan) perbuatan baik setelahnya. Maka barangsiapa yang mengerjakan amal kebaikan, lalu dia mengerjakan amal kebaikan lagi setelahnya, maka itu merupakan pertanda diterimanya amal kebaikannya yang pertama (oleh Allah), sebagaimana barangsiapa yang mengerjakan amal kebakan, lalu dia dia mengerjakan perbuatan buruk (setelahnya), maka itu merupakan pertanda tertolak dan tidak diterimanya amal kebaikan tersebut”(Kitab “Latha-iful ma’aarif” (hal. 311).

Oleh karena itulah, Allah  mensyariatkan puasa enam hari di bulan Syawwal, yang keutamannya sangat besar yaitu menjadikan puasa Ramadhan dan puasa enam hari di bulan Syawwal pahalanya seperti puasa setahun penuh, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Barangsiapa yang berpuasa (di bulan) Ramadhan, kemudian dia mengikutkannya dengan (puasa sunnah) enam hari di bulan Syawal, maka (dia akan mendapatkan pahala) seperti puasa setahun penuh” (HR Muslim).

Tsauban meriwayatkan Rasulullah saw bersabda, “Allah swt melipatgandakan satu kebaikan menjadi sepuluh kali lipat. satu bulan sama dengan sepuluh bulan dan enam hari setelah Idul Fitri untuk menyempurnakan menjadi setahun (HR an-Nasai)

Di samping itu juga untuk tujuan memenuhi keinginan hamba-hamba-Nya yang shaleh dan selalu rindu untuk mendekatkan diri kepada Allah  dengan puasa dan ibadah-ibadah lainnya, karena mereka adalah orang-orang yang merasa gembira dengan mengerjakan ibadah puasa. Rasulullah  bersabda: “Orang yang berpuasa akan merasakan dua kegembiraan (besar): kegembiraan ketika berbuka puasa dan kegembiraan ketika dia bertemu Allah”(HR al-Bukhari  dan Muslim..

Ummul mu’minin ‘Aisyah  berkata: “Rasulullah  jika mengerjakan suatu amal (kebaikan) maka beliau  akan menetapinya”(HSR Muslim).

Ibnul Qayyim al-Jauzi menyebutkan bahwa di antara tanda diterimanya amal kebaikan seorang hamba bahwa hamba itu meneruskannya dengan amal kebaikan lainnya. Maka bagaimana keadaan kita pasca Ramadhan? Apakah kita telah lulus dari sekolah takwa di bulan Ramadhan? Dan apakah kita termasuk orang-orang  yang tetap punya semangat untuk terus bertaubat dan istiqomah pasca Ramadhan? Terdapat beberapa golongan manusia saat Ramadhan telah berlalu, di antaranya:

Golongan pertama: golongan yang tetap berada di atas kebaikan dan taat, Tatkala bulan Ramadhan tiba, mereka menyingsingkan lengan baju mereka, melipat gandakan kesungguhan mereka, dan memperbanyak kebaikan, menyongsong rahmat, menyusul yang terlewati. Tidaklah Ramadhan berlalu kecuali mereka telah memperoleh bekal yang besar, kedudukan mereka menjadi tinggi di sisi Allah, kedudukan mereka bertambah tinggi di surga dan makin jauh dari neraka.  Mereka menyadari  sesungguhnya amal shaleh tidak hanya terbatas di bulan Ramadhan. Mereka selalu puasa enam hari di bulan Syawal, puasa hari Kamis dan Senin serta puasa-puasa lain yang disunahkan. Air mata selalu membasahi pipi mereka di tengah malam, dan di waktu sahur istighfar mereka melebihi orang-orang yang penuh dosa.

Golongan kedua:  golongan yang hanya khusyuk di bulan Ramadhan Golongan ini sebelum Ramadhan berada dalam kelalaian, lupa, dan bermain. Tatkala tiba bulan Ramadhan, mereka tekun beribadah, puasa dan shalat, membaca al-Qur`an, bersedekah, air mata mereka berlinang, dan hati mereka khusyuk. Akan tetapi setelah Ramadhan berlalu mereka kembali seperti semula, kembali kepada kelupaan mereka, kembali kepada dosa mereka. Mereka menjadi orang-orang yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja. Seperti perkataan sebagian ulama salaf dahulu,”Sungguh buruk suatu kaum yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja”. Sebagian lagi mengatakan,” Jadilah seorang yang “Rabbaniy” (penyembah Allah) dan janganlah menjadi hamba ramadhan (ramadhaniy)”.

Golongan ketiga : golongan yang datang dan perginya Ramadhan tiada bermakna, Kondisi golongan ini sama seperti keadaan mereka sebelum datang dan perginya Ramadhan. Tidak ada sesuatu pun yang berubah dari mereka. Tidak ada perkara yang berganti. Bahkan, kemungkinan dosa mereka bertambah, kesalahan mereka menjadi lebih besar, catatan amal mereka bertambah hitam, maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dgn kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa utk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dgn kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92).

Mereka merasa bulan Ramadhan adalah bulan berat, bulan rintangan untuk menyalurkan kesenangan duniawinya. Dan itulah orang-orang yang benar-benar merugi. Mereka tidak mengenal untuk apa mereka diciptakan, terlebih-lebih mengenal kebesaran dan kehormatan Ramadhan.

Muslim yang sadar akan makna Ramadhan adalah yang akan terus memelihara interaksinya dengan Allah Ta’ala dengan mengaplikasikan nilai-nilai kebajikan meskipun ia telah tamat dari Madrasah Ramadhaniyah. Ia sangat yakin bahwa esensi ketakwaan seharusnya dapat tetap disemai dan ditumbuh suburkan pasca Ramadhan. Ia akan tetap istiqomah berusaha untuk shaleh terhadap dirinya dan kepada sesama, meskipun tidak diiming-imingi dengan ganjaran pahala yang belipat ganda seperti dalam Ramadhan.

Setidaknya ada empat prinsip dalam mereflek sikan nilai takwa sebagai sarana untuk memaksimalkan potensi amal shaleh pasca Ramadhan di antaranya

 

1. Prinsip Fastabiqul khaerat Bersegara dalam merebut setiap peluang untuk melakukan kebaikan dan bersegera untuk melakukan kebajikan dan tidak menjadi orang yang selalu menunda amalan. Seperti firman Allah swt. “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.“ (Q.S al-Anbiyaa’: 90).

2. Prinsip Mujahadah (Kesungguhan)Melakukan amal shaleh secara maksimal membutuhkan pengorbanan (tadhiyah). Ubay bin Ka’ab mengilustrasikan bahwa ketakwaan itu ibarat berjalan di jalan yang penuh duri ia butuh kehati-hatian dan kesungguhan. Ia berangkat dari niat yang ikhlas kemudian secara nyata ditunjukkan dengan amal yang serius dan penuh kesungguhan.  Allah Ta’ala memuji dan menjanjikan surga para pejuang amal shaleh yang dengan serius dan penuh kesungguhan membuktikan bahwa ketakwaan bukan hanya sekedar untaian kata-kata manis dan hiasan bibir tetapi perlu dibuktikan dan ditunjukkan kehadirat Illahi Rabbi.  Kesungguhan dalam ibadah tidak hanya nampak dalam ritual ibadah yang bersifat habluminallah tapi ia mempunyai konstribusi yang sangat kuat dalam menghidupkan ibadah yang bernuansa habluminannas dengan berbagi kepedulian terhadap kaum dhu’afa.

3. Prinsip Istimroriyah (Berkesinambungan)Nabi saw pernah ditanya: “Apakah amalan yang paling dicintai Allah? Beliau menjawab: “Amalan yang dilaksanakan secara berkesinambungan (kontinyu) walaupun sedikit” (HR. Bukhari).  Warna kesinambungan amalan nampak sangat mencolok di tengah aktivitas Ramadhan mulai dari puasa itu sendiri, shalat (wajib dan sunnah), zakat, shadaqah dan amalan-amalan lainnya .

4. Prinsip Tawazun (Keseimbangan)Maksimalisasi amal shaleh tidak berarti kita harus bersikap ekstrim dalam mengaktualisasikan ibadah-ibadah yang disyariatkan. Maksimalisasi bermakna melaksana kan ibadah sesuai dengan kesanggupan yang dimiliki asal tidak juga memandang remeh apalagi memudah-mudahkan.

Diantara balasan bagi amalan kebaikan adalah amalan kebaikan yang ada sesudahnya. Sedangkan hukuman bagi amalan yang buruk adalah amalan buruk yang ada sesudahnya.” (Al Fawaa-id hal. 35).

”Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dgn amalan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.”

 

Melanjutkan berbagai amalan yang telah digalakkan di bulan Ramadlan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dlm meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Bukankah Allah swt berfirman,”Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) & bertakwa, & membenarkan adanya pahala yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiap kan baginya jalan yang mudah.” (QS Al Lail: 5-7).

Agar tetap istiqomah, dalam beribadah kita tak sekadar mengerjakan ibadah wajib saja, tentunya kita berusahan dengan menambah ibadah sunnah lainnya seperti tuntunan Rasulullah saw. Rasulullah bersabda: “Dan tidaklah hambaKu terus-terusan mendekatkan diri kepadaKu dengan ibadah-ibadah sunat sehingga Aku mencintainya” (HR Bukhari dan Muslim)

Inilah makna istiqamah setelah bulan Ramadhan, inilah tanda diterimanya amal-amal kebaikan kita di bulan yang berkah itu, maka silahkan menilai diri kita sendiri, apakah kita termasuk orang-orang yang beruntung dan diterima amal kebaikannya atau malah sebaliknya.

“Maka ambillah pelajaran (dari semua ini), wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat” (QS al-Hasyr: 2).

Saudara sekalian, sekalipun bulan suci Ramadlan telah berakhir, namun amalan seorang mukmin tak akan berakhir sebelum ajal datang menjemput. Dan sembahlah Rabb-mu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (Al Hijr: 99)

Wahb ibnul Wardi pernah melihat sekelompok orang yang bersuka cita & tertawa di hari ‘Iedul Fitri. Beliau pun lantas mengatakan, “Apabila puasa mereka diterima di sisi Allah, apakah tindakan mereka tersebut adalah gambaran orang yang bersyukur kepada-Nya. Dan jika ternyata puasa mereka tak diterima, apakah tindakan mereka itu adalah gambaran orang yang takut akan siksa-Nya.”(dikutip dari beberapa sumber)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s