Habiskan Usia Untuk Jihad

 

Usia telah senja, hidup bersahaja, tanpa kedudukan dan harta

Namun dada tetap bergelora, kobaran jihad di medan laga

Tak pernah ia menepuk dada, mengungkit jasa mengumbar cerita, tentang pengorbanan harta dan tenaga sebagai kader generasi pertama

Kini genderang perang telah berdentang. Kumpulkan para pejuang, siap berkorban kalah atau menang, tumbangkan Romawi yang sedang menjulang.

Yazid bin Muawiyah jadi komandan, anak muda yang belum pengalaman, bukan itu yang jadi ukuran untuk kesertaan di medan juang

Walau rambut sudah memutih, semangat pantang merintih, siapapun yang jadi fatih, pemimpin itu untuk ditaati, bukan dicaci atau dikerdili

Demikian gambaran jiwa  Abu Ayyub Al Anshori, masuk Islam di awal generasi, ketika di malam sepi,  mengendap temui nabi,  untuk serahkan diri dalam bai’at suci, bersama 70 mukmin sejati ulurkan tangan ucapkan janji, bela Islam sampai mati. Hanya mengharap ridho Ilahi, bukan kedudukan harta duniawi

Allah mengkaruniakan usia panjang, habiskan usia dalam jihad membentang, bersama Rasulullah dan para pendatang, kaum Muhajirin yang jadi panutan

Hingga Rasulullah wafat, Abu Bakar lalu dibai’at, ikrarkan diri untuk taat, bersamanya perangi kaum murtad

Abu Bakar wafat Umar dibai’at, Tangan ikut menjabat, ucapkan tekad naikkan derajat. Islam jaya sepanjang abad

Umar berganti utsman, pedang tetap ditangan, ke leher musuh diayunkan, siapapun jadi komandan kesetiaan tetap pertahankan. Harta bukan tujuan. Bela Islam tetap didepan.

Utsman berganti Ali, fitnah melanda negeri. Abu Ayyub Al Anshory tetap setia memegang janji.

Predikat Syahid muliakan Ali. Muawiyah pegang kendali sebarkan Islam ke penjuru Romawi, Abu Ayyub Al Anshory tetap berbakti, tunjukkan cinta sejati, gelar syahid masih dinanti.

Muawiyah bangun angkatan laut, untuk perangi Romawi yang pengecut. Abu Ayyub tetap ikut walau kulit sudah keriput, mati syahid ingin dijemput

Dalam pertempuran menderita luka, namun semangat tetap membara

Saat maut datang menjemput, tak ingin jasad terluput, saksikan kemenangan meski sejumput melihat Romawi bertekuk lutut

Abu Ayyub tutup usia, habiskan umur di medan laga

Minta dikubur di tanah terjauh, di medan musuh yang akan jatuh, berapapun jarak akan ditempuh,  kobarkan semangat meski raga telah rapuh

Tulisan ini untuk mengingatkan kembali akan kisah kepahlawanan di sepanjang sejarah, tentang pengorbanan dan kesetiaan menjemput syahid di seluruh hidupnya

Abu Ayyub Al Anshory, Allah muliakan dengan keimanan di awal dakwah nabi, ketika cahaya Islam masih diselimuti jahili. Ia termasuk satu dari 70 orang yang berbai’ah mengikat janji untuk menyebarkan Islam di Madinah yang suci, sebarkan cahaya Ilahi.

Mari kita teladani, sahabat yang penuh inspirasi, di rumahnya unta nabi berhenti, saat hijrah selamatkan diri dari kejaran kuffar Quraisyi

Nabi menginap tidur seatap, penuh keimanan dakwah tertancap, semangat jihad kian meluap kumandang azan di setiap tempat

Tujuh abad Ayyub menanti, datang derap kaki, pasukan al Fatih taklukkan negeri, hancur Romawi oleh Turki, janji Rasul telah terbukti , Konstantinopel jadi Islami

Lonceng gereja berganti azan, cinta Islam sepanjang zaman, mari teruskan perjuangan, muliakan Islam dengan pengorbanan.

Buat sahabat tercinta para kader dakwah, mari bercermin kepada sosok Abu Ayyub Al Anshory. Beliau beriman ketika bai’ah aqobah ke 2 tahun ke 13 dari kenabian (juni 622M), Dalam bai‘at tersebut tak secuilpun harta dunia yang dijanjikan Rasulullah kecuali surga, sementara mereka berjanji setia membela agama yang baru diyakininya sampai titik darah penghabisan.

Ketika Rasulullah tiba di Madinah pada awal Hijrah, semua kabilah menginginkan Rasulullah singgah di rumah mereka, sementara sampai masjid selesai dibangun. Namun Rasulullah membiarkan unta untuk berhenti dengan sendirinya. Ketika akhirnya sang unta berhenti, ternyata di rumah Abu Ayyub Al Anshory, sungguh sebuah penghormatan dan kemuliaan bagi Ayyub untuk tidur satu atap Bersama Rasulullah manusia mulia.

Abu Ayyub selalu ikut berjihad bersama nabi dalam hampir semua peperangan dan penaklukkan. Selama Rasulullah berada di Madinah tidak kurang dari 28 kali peperangan yang beliau lakukan dan pimpin langsung sebagai komandan. Sedangkan jika dihitung dengan peperangan dan ekspedisi yang  tidak beliau pimpin langsung maka jumlahnya akan lebih dari itu. Mereka berkorban harta dan jiwa untuk kemuliaan agama.

Kalau hari ini kita menganalogikan perjuangan Rasulullah seperti perjuangan kita dalam pilkada di berbagai daerah yang menguras waktu pikiran, tenaga dan harta kita, sungguh penganalogian ini sangat tidak setara. Namun hari  ini  kita melihat banyak kader yang mulai jenuh, banyak yang mulai berfikir untuk istirahat. Merasa penat seolah pengorbanannya paling banyak.

Alangkah malunya kita dengan sosok Abu Ayyub. Dalam usianya yang panjang dan penuh berkah, Abu Ayyub melintasi zaman ke zaman. Sejak bai’ah aqobah yang penuh rahasia sampai gemerlap Islam di zaman Muawiyah, ketika kemewahan dunia benar-benar berlimpah di depan mata. Banyak sahabat yang jadi gubernur di daerah penaklukkan. Abu Ayyub tetap bersahaja. Tak pernah menuntut balas apa-apa walau sekedar balas jasa atas jihadnya sepanjang usia. Abu Ayyub tetap setia dengan jihadnya. Yang dirindu justru surga, iri kepada para syahid yang telah mendahuluinya.

Jangan ada teman kita yang merasa sesak dada, karena  namanya tak berada di nomor urut jadi, sehingga menyisihkan diri dari liqa tarbawi. Seperti kecewanya seorang kader pada pemilu 2009 karena namanya digeser dari nomor jadi ke nomor bawah lantaran ada drooping kader Jakarta. “Kader daerah yang kerja keras siang malam, mendatangi pelosok desa, yang jadi  aleg kader Jakarta, punggung kita jadi batu pijakannya”. Bahkan ada yang melepaskan diri dari kehadiran liqa, meniti karir ke Jakarta, mendekati Senayan dengan cara “berbeda”

Wahai saudaraku, Allah tak pernah lengah atau lupa. Setiap amal ada catatan dan balasannya. Kalau kita ingin disegerakan balasan di dunia, khawatir surga malah menjauhi kita.

Mari kita kembali bercermin dari Abu Ayyub Al Anshory. Beliau pernah mendengar sabda Nabi ”Bahwa Konstantinopel akan takluk ke pangkuan tentara Islam. Sebaik baik panglima adalah panglima itu sebaik-baik pasukan adalah pasukan itu”.

Beliau sangat terobsesi dan ingin menjadi bagian dari hadist  tersebut. Maka ketika Muawiyah membangun armada laut, untuk menaklukkan konstantinopel, seta merta beliau mempersiapkan diri untuk ikut. Walau ketika itu usianya sudah lanjut. Walau pasukan dipimpin Zaid bin Muawiyah yang masih muda, namun Ayyub tak merasa lebih senior, tak merasa lebih pantas, tak merasa lebih pengalaman. Tak peduli siapapun pemimpinnya kewajibannya hanya taat kepadanya.

Saat beliau terluka parah di medan laga, pesan beliau terakhir adalah agar jenazahnya dikubur di titik terjauh daerah musuh yang mampu dijangkau oleh pasukan muslimin. Agar jasadnya dapat turut merasakan derap langkah kuda yang memasuki benteng saat konstantinopel jatuh ke pangkuan Islam.

Betapa agung jiwa Abu Ayyub al Anshory, bahkan setelah matipun masih bergelora semangat juangnya. Jiwanya seakan penasaran ingin saksikan bendera Islam berkibar sambil mendengar suara azan di puncak menara benteng Romawi.

Kalau tak ada jiwa-jiwa pemberani seperti Abu Ayyub Al Anshory, tentu hadits nabi tak memberi arti, Romawi tak kan jatuh, konstantinopel tak akan ditaklukkan ,kumandang azan tak akan digaungkan. Mari teladani Abu Ayyub Al Anshory, menjadi spirit dan energy. Untuk selalu perbaharui semangat dakwah kader sejati.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s