Abdullah bin al-Mubarak ( Lahir: 118 H. – Wafat: 181 H.)

1. NAMA, KELAHIRAN, DAN TANAH AIR IBNU AL-MUBARAK

Namanya:

Abdullah bin al-Mubarak bin Wadhih al-Hanzhali at-Tamimi, maula mereka, Abu Abdurrahman al-Marwazi, al-Imam, Syaikhul Islam, alim zamannya, amir orang-orang bertakwa pada waktunya.

Dari al-Abbas bin Mush’ab, dia mengatakan, Ibunda Abdullah bin al-Mubarak adalah wanita Khuwarizmiyah dan ayahnya ada-lah orang Turki. Dia adalah budak milik seorang pedagang dari Hamdzan dari Bani Hanzhalah.

Dari al-Hasan, dia mengatakan, Ibu Ibnu al-Mubarak adalah orang Turki, dan keserupaan dengan mereka itu tampak pada diri-nya. Terkadang Ibnu al-Mubarak melepas bajunya, ternyata aku tidak melihat banyak bulu pada dada dan tubuhnya.

Kelahirannya:

Ahmad bin Hanbal mengatakan, Ibnu al-Mubarak dilahirkan pada 118 H.
Khalifah mengatakan, Pada tahun itu –yakni pada 118 H–Abdullah bin al-Mubarak dilahirkan.
Bisyr bin Abu al-Azhar mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan, Abdullah bin Idris bertanya kepadaku tentang umur, ‘Berapa usiamu?’ Aku menjawab, ‘Orang ajam (non Arab) hampir tidak menghafalkan hal itu. Tetapi aku ingat bahwa aku memakai pakaian hitam, ketika masih kecil, saat Abu Muslim muncul.’ Dia mengatakan kepadaku, ‘Engkau telah diuji dengan memakai pakaian hitam.’ Aku katakan, ‘Aku lebih kecil daripada itu. Abu Muslim memaksa semua orang untuk memakai pakaian hitam, baik anak-anak maupun dewasa’. Abu Muslim di permulaan Daulah Abbasiyah mewajibkan rakyat, baik dewasa maupun anak-anak, untuk memakai pakaian hitam, dan itu adalah simbol mereka hingga akhir masa pemerin-tahan mereka.

Tempatnya:

Marwa, yaitu salah satu kota Khurasan. Dari Abdul Aziz bin Abu Rizmah, Syu’bah mengatakan ke-padaku, Dari manakah engkau? Aku menjawab, Dari penduduk Marwa. Dia bertanya, Apakah engkau mengenal Abdullah bin al-Mubarak? Aku menjawab, Ya. Dia mengatakan, Belum pernah ada seorang pun yang datang kepada kami seperti dia. Dalam suatu riwayat, Belum pernah ada seorang pun yang datang kepada kami dari pihak kalian seperti dia.

Dari Ahmad bin Sinan, dia mengatakan, Aku mendapat kabar bahwa Ibnu al-Mubarak datang kepada Hammad bin Zaid pada permulaannya, maka dia bertanya kepadanya, Dari manakah engkau? Ibnu al-Mubarak menjawab, Dari penduduk Khurasan. Dia bertanya, Dari bagian Khurasan yang mana? Ibnu al-Mubarak, Marwa. Dia bertanya, Apakah engkau mengenal seorang laki-laki yang bernama Abdullah bin al-Mubarak? Ibnu al-Mubarak menjawab, Ya. Dia bertanya, Apa yang dilakukannya? Ibnu al-Mubarak menjawab, Dia sedang bercakap-cakap denganmu. Maka Hammad bin Zaid pun mengucapkan salam padanya, menyambutnya, dan terjalin hubungan baik di antara mereka.

2. SIFAT-SIFAT BAIK BERHIMPUN PADA DIRI IBNU AL-MUBARAK

Dari al-Hasan bin Isa, dia mengatakan, Segolongan dari sahabat Ibnu al-Mubarak berkumpul, seperti al-Fadhl bin Musa, Makhlad bin Husain, dan Muhammad bin an-Nadhr, lalu mereka mengatakan, Kemarilah hingga kita menghitung sifat-sifat Ibnu al-Mubarak berupa pintu-pintu kebaikan. Menurut mereka, dia menghimpun ilmu, fikih, adab, nahwu, bahasa, syair, fashahah, zuhud, wara’, keadilan, qiyamul lail dan ibadah, haji, perang, ke-beranian, keperwiraan, bersikap keras terhadap tubuhnya, tidak berbicara dalam perkara yang tiada gunanya, jarang menyelisihi pendapat para sahabatnya. Dia acapkali bertamsil,
Jika engkau bersahabat, maka bersahabatlah dengan Orang yang punya rasa malu, iffah dan kemuliaan Ucapannya untuk sesuatu adalah tidak, jika engkau berkata tidak

Jika engkau mengatakan ya, maka dia mengatakan ya Ibnu Hibban mengatakan, Di dalamnya berhimpun sifat-sifat kebajikan, yang tidak berhimpun pada seorang pun dari ahli ilmu pada zamannya di dunia seluruhnya.

Isma’il bin Ayyasy mengatakan, Tidak ada di permukaan bumi ini orang seperti Abdullah bin al-Mubarak. Aku tidak me-ngetahui bahwa Allah menciptakan salah satu sifat dari sifat-sifat kebaikan melainkan (pasti) Allah telah menjadikannya dalam diri Abdullah bin al-Mubarak. Para sahabatku telah menceritakan kepadaku bahwa mereka menemaninya dari Mesir ke Makkah, maka dia memberi makan puding kepada mereka, sedangkan dia berpuasa sepanjang tahun.

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Abdurrahman bin Mahdi, dia mengatakan, Aku tidak pernah melihat orang seperti Ibnu al-Mubarak. Yahya bin Sa’id al-Qaththan bertanya kepada Abdur-rahman bin Mahdi, Tidak pula Sufyan dan Syu’bah? Dia men-jawab, Tidak pula Sufyan dan Syu’bah. Ibnu al-Mubarak adalah faqih dalam ilmunya, ahli zuhud, ahli ibadah, kaya, banyak berhaji, berperang, ahli nahwu, penyair. Aku tidak pernah melihat orang sepertinya.

Dari Abdul Aziz bin Abu Rizmah, dia mengatakan, Tidak ada satu pun dari sifat-sifat kebaikan melainkan pasti sudah berhimpun dalam diri Abdullah bin al-Mubarak: Rasa malu, bermurah hati, berakhlak mulia, berteman dengan baik, bergaul dengan baik, zuhud, wara’ dan segala sesuatu.

An-Nasa`i mengatakan, Kami tidak mengetahui pada masa Ibnu al-Mubarak ada seorang pun yang lebih mulia daripada Ibnu al-Mubarak, lebih luhur, dan lebih menghimpun semua sifat terpuji daripadanya.

Al-Hafizh nengatakan, Ia adalah tsiqah, tsabat, faqih, alim, dermawan, mujahid, berkumpul padanya sifat-sifat kebaikan.

3. PENCARIAN ILMU YANG DILAKUKAN IBNU AL-MUBARAK

Ahmad bin Hanbal mengatakan, Tidak ada pada zaman Ibnu al-Mubarak seorang pun yang lebih giat menuntut ilmu daripada-nya. Dia melakukan perjalanan ke Yaman, Mesir, Syam, Bashrah dan Kufah. Dia adalah salah seorang perawi ilmu dan ahlinya. Dia menulis dari orang-orang yang lebih muda dan orang-orang yang lebih tua. Dia menulis dari Abdurrahman bin Mahdi dan dari al-Fazari. Dia menghimpun perkara besar, tidak ada seorang pun yang lebih sedikit terjatuh (dalam kesalahan) daripada Ibnu al-Mubarak. Dia adalah orang yang menceritakan hadits dari kitab, sedangkan orang yang menceritakan hadits dari kitab nyaris tidak ada yang terjatuh (dalam kesalahan). Waki’ menceritakan hadits dari hafalannya, dan dia tidak melihat dalam kitab, sehingga ada hafalan yang terjatuh (dalam kesalahan). Seberapa jauh hafalan seseorang (mampu bertahan)?!

Abu Khirasy bertanya di al-Mashishah kepada Abdullah bin al-Mubarak, Wahai Abu Abdurrahman, hingga kapan engkau mencari ilmu? Dia menjawab, Mungkin sampai batas kata yang berisi keselamatanku tidak aku dengar lagi.

Dari Muhammad bin an-Nadhr bin Musawir, dia mengatakan, ayahku berkata kepadaku, Aku berkata kepada Abdullah –yakni Ibnu al-Mubarak–, Wahai Abu Abdurrahman, apakah engkau menghafal hadits? Roman mukanya pun berubah, seraya mengatakan, Aku tidak menghafalkan satu hadits pun, tetapi aku hanya-lah mengambil kitab, lalu aku perhatikan padanya, sehingga apa yang aku sukai terpaut di hatiku.

Dari al-Husain bin Isa, dia mengatakan, Shakhr –teman Ibnu al-Mubarak– mengabarkan kepadaku, dia mengatakan, Kami masih kanak-kanak di al-Kuttab, lalu aku dan Ibnu al-Mubarak lewat, sedang saat itu seseorang berkhutbah dengan khutbah yang panjang. Ketika dia selesai, Ibnu al-Mubarak mengatakan kepada-ku, ‘Aku telah menghafalnya.’ Seseorang dari kaum itu mende-ngarnya, maka dia mengatakan, ‘Sampaikanlah.’ Ibnu al-Mubarak pun mengulanginya di hadapan mereka, dalam keadaan dia telah menghafalnya.

Dari Nu’aim bin Hammad, dia mengatakan, Aku mendengar Ibnu al-Mubarak mengatakan, Ayahku berkata kepadaku, Jika aku mendapati buku-bukumu, sungguh aku akan membakarnya. Aku katakan kepadanya, Hal itu tidak merugikanku, karena semuanya sudah ada di dalam dadaku.

Syaqiq bin Ibrahim mengatakan, pernah dikatakan kepada Ibnu al-Mubarak, Jika engkau telah shalat bersama kami, mengapa engkau tidak duduk bersama kami? Dia menjawab, Aku pergi untuk duduk bersama sahabat dan tabi’in. Kami katakan kepada-nya, Di manakah ada sahabat dan tabi’in? Dia mengatakan, Aku pergi untuk memperhatikan ilmuku, lalu aku melihat atsar dan perbuatan mereka. Apa yang akan aku perbuat bersama kalian sedangkan kalian menggunjing orang lain? Nu’aim bin Hammad meriwayatkan, dia mengatakan, Abdullah bin al-Mubarak banyak duduk di rumahnya, maka di-tanyakan kepadanya, Mengapa engkau menyendiri? Dia menga-takan, Bagaimana mungkin aku menyepi sedangkan aku bersama Nabi?

4. IBADAH DAN KHASYYAH IBNU AL-MUBARAK

Muhammad bin al-Wazir -seorang yang diberi wasiat oleh Ibnu al-Mubarak- mengatakan, Kami bersama Abdullah di atas pelana, lalu kami sampai di suatu tempat pada malam hari, dari sana timbullah ketakutan. Ibnu al-Mubarak pun turun lalu me-ngendarai kendaraannya hingga melewati tempat itu, lalu ketika kami sampai di sungai, dia turun dari kendaraannya. Aku pun mengambil tali kekangnya, dan aku tidur, lalu dia berwudhu dan shalat hingga terbit fajar, sedang aku memperhatikannya. Ketika telah terbit fajar, dia memanggilku dengan mengatakan, ‘Bangun-lah dan berwudhulah.’ Aku katakan, ‘Sesungguhnya aku masih dalam keadaan berwudhu (maksudnya aku tidak tidur sehingga tidak batal).’ Dia pun bersedih, karena aku mengetahui dia sedang melakukan Qiyamul Lail. Dia pun tidak berbicara denganku hingga setengah hari, dan aku sampai di rumah bersamanya.
Dari al-Qasim bin Muhammad, dia mengatakan, Kami be-pergian bersama Ibnu al-Mubarak, lalu banyak sekali yang terlintas di benakku, maka aku berkata dalam hatiku, ‘Dengan apakah laki-laki ini lebih diutamakan dibandingkan kami hingga dia menjadi masyhur di tengah manusia sedemikian rupa. Jika dia shalat, maka kami juga shalat. Jika dia berpuasa, maka kami juga berpuasa. Jika dia berperang, kami juga berperang. Jika dia berhaji, kami juga berhaji’.

Dia melanjutkan, Di tengah perjalanan kami di jalan menuju Syam, kami makan malam di sebuah rumah, tiba-tiba lampu mati, maka berdirilah sebagian dari kami untuk mengambil lampu dan keluar untuk menyalakannya. Tidak lama kemudian, dia datang membawa lampu, lalu aku melihat wajah Ibnu al-Mubarak dan jenggotnya basah karena air mata. Aku pun berkata dalam hatiku, ‘Dengan rasa takut (khasyyah) inilah, orang ini dilebihkan atas kami. Mungkin ketika lampu padam lalu menjadi gelap, dia teringat kiamat’.

Al-Marwazi mengatakan, Aku mendengar Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal mengatakan, Tidaklah Allah meninggikan Ibnu al-Mubarak melainkan karena rahasia (al-ghaibah) yang di-milikinya.

Al-Khalil Abu Muhammad mengatakan, Ibnu al-Mubarak apabila pergi ke Makkah mengatakan,

Benci pada kehidupan dan takut pada Allah telah mengeluarkanku
Menjual diriku dengan sesuatu yang tidak ada harganya Aku menimbang apa yang akan kekal dengan apa yang tidak kekal
Ternyata, demi Allah, tidak sebanding
Nu’aim bin Hammad mengatakan, Apabila Ibnu al-Mubarak membaca kitab ar-Riqaq, maka dia bagaikan sapi atau kerbau yang disembelih karena tangisan. Tidak ada seorang pun dari kami yang berani mendekatinya, atau bertanya tentang sesuatu kepadanya melainkan pasti ditolaknya.

Abu Ishaq Ibrahim bin al-Asy’ats mengatakan, Ibnu al-Mu-barak mengalami sakit, lalu dia bersedih hingga mereka melihat-nya sangat bersedih, maka dikatakan kepadanya, ‘Semua ini tidak patut bagimu, dan engkau bersedih sedemikian rupa.’ Dia menga-takan, ‘Aku sakit sedangkan aku dalam keadaan yang tidak aku sukai’. Abu Ishaq mengatakan, Al-Fudhail mengatakan pada suatu hari, saat nama Abdullah disebutkan, ‘Ketahuilah, aku mencintai-nya karena dia takut kepada Allah’.

Abu Ishaq mengatakan, ditanyakan kepada Ibnu al-Mubarak, Ada dua orang, salah satunya lebih takut (kepada Allah), dan yang lainnya terbunuh di jalan Allah. Dia menjawab, Yang lebih aku sukai di antara keduanya ialah orang yang lebih takut dari kedua-nya (kepada Allah).

Abu Khuzaimah al-Abid mengatakan, Aku menemui Abdullah saat dia sakit, lalu dia berbolak balik di atas tempat tidurnya karena kesedihan, maka aku katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, apakah ini?! Bersabarlah.’ Dia menimpali, ‘Siapa yang bersabar terhadap hukuman Allah. ‘Sesungguhnya azabNya itu adalah sangat pedih lagi keras.’ (Hud: 102).

Abu Rauh mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan, Orang yang berakal itu tidak merasa aman dari empat perkara: Pertama, dosa yang telah lalu yang tidak diketahui apa yang akan Rabb perbuat terhadapnya, kedua, umur yang masih tersisa yang tidak diketahui apa saja yang ada di dalamnya berupa perkara-perkara yang membinasakan, ketiga, keutamaan yang telah diberikan yang mungkin itu adalah tipu daya atau istidraj, keempat, kesesatan yang ditampakkan baik kepadanya lalu dia melihatnya sebagai petunjuk, dan dari kesesatan hati sesaat demi sesaat yang lebih cepat daripada sekejap mata, yang mungkin akan merampas aga-manya sedangkan dia tidak menyadarinya.

Dari Abdullah bin Ashim al-Harawi bahwa seorang Syaikh menemui Abdullah bin al-Mubarak, dan dia melihatnya duduk di atas bantal kasar dan tinggi. Dia mengatakan, Aku ingin berkata kepadanya, tapi aku melihatnya ketakutan (khasyyah) hingga aku berbelas kasih kepadanya. Tiba-tiba dia mengatakan, Allah r berfirman, ‘Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya’. (An-Nur: 30). Dia mengatakan, Allah tidak ridha kepada orang yang memandang kecantikan wanita, maka bagaimana halnya dengan orang yang berzina dengannya?! Allah r berfirman,

‘Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang’ (Al-Muthaf-fifin: 1).

dalam takaran dan timbangan, maka bagaimana halnya dengan orang yang mengambil harta seluruhnya?! Allah berfirman,

‘Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain,’ (Al-Hujurat: 12)

dan semisal (tindakan) ini, maka bagaimana halnya dengan orang yang membunuhnya?! Aku pun berbelas kasih kepadanya, dan aku tidak melihatnya mereda, sehingga aku tidak berbicara kepa-danya sedikit pun.

5. SIKAP ZUHUD DAN WARA’ IBNU AL-MUBARAK

Zuhud pada asalnya adalah kosongnya hati dari dunia, dan bukan kosongnya tangan darinya. Ibnu al-Mubarak adalah seorang pedagang, tetapi dia meniatkan dengan harta itu untuk membantu saudara-saudara seiman, melaksanakan haji, berjihad, dan kemu-liaan-kemuliaan lainnya.

Dari Ali bin al-Fudhail, dia mengatakan, Aku mendengar ayahku saat berkata kepada Ibnu al-Mubarak, Engkau menyuruh kami berzuhud dan sedikit harta serta hidup sederhana, tetapi kami melihatmu membawa barang-barang perniagaan dari negeri Khurasan ke negeri al-Haram, bagaimana itu (bisa terjadi)? Ibnu al-Mubarak menjawab, Wahai Abu Ali, aku hanyalah melakukan hal itu untuk melindungi wajahku, memuliakan harga diriku, dan sebagai penopang untuk menaati Rabbku. Tidaklah aku melihat ada hak Allah melainkan pasti aku bersegera kepadanya hingga aku melaksanakannya.

Al-Fudhail mengatakan kepadanya, Wahai Ibnu al-Mubarak, betapa bagusnya ini bila hal itu dilaksanakan dengan sempurna!

Akan nampak jelas, insya Allah, dalam pembahasan adab dan kemurahannya, bagaimana dia menafkahkan hartanya dalam rangka menaati Allah Yang Mahabesar lagi Mahatinggi, yang me-nunjukkan kekosongan hatinya darinya. Harta itu, sebagaimana dikatakan salaf, hanyalah sarana untuk meraih kemuliaan.

Adapun tentang sikap wara’nya, maka al-Hasan mengatakan, Aku melihat di rumah Ibnu al-Mubarak burung merpati terbang, maka Ibnu al-Mubarak mengatakan, ‘Dulu kami mengambil man-faat dari anak burung ini, tapi kami tidak mengambil manfaatnya sekarang.’ Aku bertanya, ‘Mengapa?’ Dia menjawab, ‘Ia bercampur dengan merpati lainnya, lalu kawin dengannya, maka kami tidak suka memanfaatkan sedikitpun dari anaknya karena hal itu’.

Dari al-Hasan bin Arafah, dia mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan kepadaku, Aku meminjam pena di negeri Syam, lalu aku lupa tidak mengembalikannya kepada pemiliknya. Ketika tiba di Marwa, aku lihat, ternyata pena itu ada padaku, maka aku kembali lagi, wahai Abu Ali (al-Hasan bin Arafah) ke negeri Syam hingga aku mengembalikannya kepada pemiliknya.

Dari Ali bin al-Hasan bin Syaqiq, dia mengatakan, Aku mendengar Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, ‘Sungguh aku mengembalikan satu dirham karena syubhat lebih aku sukai dari-pada bersedekah dengan seratus ribu tambah seratus ribu hingga mencapai 700.000′.

Dari Ayyasy bin Abdullah, dia mengatakan, Abdullah bin al-Mubarak mengatakan, Seandainya seseorang bertakwa dalam seratus perkara sementara dia tidak bertakwa dalam satu perkara, niscaya dia bukan termasuk orang-orang yang bertakwa. Seandai-nya dia bersikap wara’ (berhati-hati) terhadap seratus perkara sementara dia tidak bersikap wara’ dalam satu perkara, maka dia bukan termasuk orang yang wara’. Barangsiapa memiliki sifat keja-hilan, maka dia termasuk orang-orang yang jahil. Tidakkah engkau mendengar Allah berfirman kepada Nuh, ketika dia mengatakan, Sesungguhnya anakku termasuk keluargaku. (Hud: 45). Lalu Allah berfirman,

Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang tidak berpengetahuan. (Hud: 46).

6. ADAB DAN KEMURAHAN IBNU AL-MUBARAK

Isma’il al-Khuthabi mengatakan, Aku mendapatkan kabar dari Ibnu al-Mubarak bahwa dia hadir di sisi Hammad bin Zaid, maka para ahli hadits mengatakan kepada Hammad, Mintalah kepada Abu Abdurrahman (Ibnu al-Mubarak) untuk menceritakan hadits kepada kami.

Maka dia mengatakan, Wahai Abu Abdur-rahman, tuturkanlah hadits kepada mereka, karena mereka memin-tanya kepadaku. Dia menimpali, Subhanallah, wahai Abu Isma’il, apakah aku (layak) menceritakan hadits sedangkan engkau ada di tengah-tengah kami? Hammad bin Zaid mengatakan, Aku ber-sumpah padamu, sungguh engkau harus melakukannya. Dia pun mengatakan, Ambillah! Abu Isma’il Hammad bin Zaid mencerita-kan kepada kami. Maka dia tidak menceritakan satu hadits pun melainkan dari Hammad.

Abu al-Abbas bin Masruq mengatakan, Ibnu Humaid men-ceritakan kepada kami, dia mengatakan, Seorang laki-laki bersin di sisi Ibnu al-Mubarak, maka Ibnu al-Mubarak berkata, ‘Apa yang diucapkan seseorang ketika bersin?’ Dia menjawab, ‘Alhamdulillah.’ Maka Abdullah mengucapkan kepadanya, ‘Yarhamukallah.’ Kami pun merasa kagum dengan kebagusan adabnya. Dia menganjurkan untuk belajar adab dan menjelaskan kepada manusia akan urgensinya.

Abu Nu’aim Ubaid bin Hisyam mengatakan, Aku mendengar Ibnu al-Mubarak mengatakan kepada para ahli hadits, ‘Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu’.

Dia mengatakan, Kami menuntut adab ketika orang-orang yang beradab hilang dari kami.

Yahya bin Yahya al-Andalusi mengatakan, Kami berada di majelis Malik, lalu dimintakan izin untuk Ibnu al-Mubarak, maka dia mengizinkan, lalu kami melihat Malik bergeser untuknya di majelisnya, kemudian mempersilakan duduk berdekatan dengan-nya. Aku tidak pernah melihat Malik menyingkir untuk seorang pun di majelisnya selainnya. Pembaca biasanya membaca di hadapan Malik, lalu terkadang dia melewati sesuatu, maka Malik bertanya kepadanya, ‘Apa yang ada padamu berkenaan dengan hal ini?’ Namun Abdullah menjawabnya dengan cara sembunyi-sembunyi, kemudian berdiri lalu keluar, ternyata adabnya itu mengagumkan Malik, kemudian dia mengatakan kepada kami, ‘Ini adalah Ibnu al-Mubarak, ahli fikih Khurasan’.

Sebagaimana dia adalah orang yang berakhlak mulia, berta-biat baik, dia juga orang yang paling dermawan, banyak berderma, dan berinfak. Kisah-kisahnya mengenai hal itu sangat masyhur, tetapi kami akan menunjukkan sebagiannya:

Di antaranya, atsar yang diriwayatkan al-Khathib dengan sanadnya dari Hibban bin Musa, dia mengatakan, Ibnu al-Mubarak dicela karena membagi-bagikan hartanya di berbagai negeri, tapi tidak membagi-bagikannya kepada penduduk negerinya, maka dia mengatakan, Sesungguhnya aku mengetahui kedudukan kaum yang memiliki keutamaan dan kejujuran. Jika mereka men-cari hadits, maka mereka mencari hadits dengan sebaik-baiknya, dan orang-orang sangat membutuhkan mereka. Jika kami mem-biarkan mereka, maka terlantarlah apa yang ada pada mereka. Jika kami membantu mereka, maka mereka akan menyebarkan ilmu kepada umat Muhammad, dan aku tidak tahu setelah kenabian ada yang lebih utama daripada menyebarkan ilmu.

Dari Ali bin Khasyram, dia mengatakan, Salamah bin Sulai-man menceritakan kepadaku, dia mengatakan, seorang laki-laki datang kepada Ibnu al-Mubarak lalu meminta kepadanya agar hutangnya dilunasi, maka Ibnu al-Mubarak menulis surat kepada wakilnya untuk melunasi hutangnya. Ketika surat itu sampai kepadanya, wakilnya bertanya kepadanya, Berapa hutang yang engkau minta kepadanya agar dilunasi? Dia menjawab, 700 dirham. Ternyata Abdullah menulis surat untuknya agar dia mem-berikan kepadanya 7000 dirham. Wakil itu mengecek kebenaran surat itu seraya mengatakan, Sampulnya sudah rusak. Maka Abdullah menulis surat kepadanya, Jika sampul telah rusak, maka umur juga telah rusak. Laksanakanlah untuknya apa yang telah aku tulis sebelumnya.

Muhammad bin Isa mengatakan, Ibnu al-Mubarak sering berkunjung ke Tharsus, dan dia singgah di Riqqah di daerah Khan. Ada seorang pemuda yang selalu datang kepadanya dan mengu-rusi keperluannya, serta mendengar hadits darinya. Suatu kali Abdullah tiba di sana tapi tidak melihat pemuda tersebut, lalu dia keluar bersama rombongan dengan bersegera. Ketika kembali, dia bertanya tentang pemuda itu, maka dia mendapat jawaban bahwa pemuda itu kini sedang ditahan karena hutang sebanyak 10.000 dirham. Dia pun minta ditunjukkan kepada pemberi utang, dan dia menimbangkan untuknya 10.000 dirham. Dia juga memintanya bersumpah untuk tidak menyampaikan kepada siapa pun selama dia (Ibnu al-Mubarak) masih hidup. Lalu dia melepaskan laki-laki tersebut, sementara Ibnu al-Mubarak telah berangkat, maka pe-muda itu mengejarnya setelah menempuh jarak dua marhalah dari Riqqah. Melihat pemuda itu, Ibnu al-Mubarak bertanya kepada-nya, Hai pemuda, di mana engkau berada? Aku tidak melihatmu. Dia menjawab, Wahai Abu Abdurrahman, aku sebelumnya di-tahan gara-gara hutang. Ibnu al-Mubarak bertanya, Bagaimana engkau bisa bebas? Dia menjawab, Seorang laki-laki datang untuk melunasi hutangku, sedangkan aku tidak mengetahuinya. Abdullah bin al-Mubarak berkata, Pujilah Allah. Orang itu tidak mengetahuinya hingga setelah kematian Abdullah.

Dari Umar bin Hafsh ash-Shufi di Manbij (sebuah desa di Syam), dia mengatakan, Ibnu al-Mubarak keluar dari Baghdad hendak menuju al-Mishshishah, lalu dia diikuti oleh Shufiyyah , maka dia mengatakan kepada mereka, Kalian adalah jiwa yang malu diberi nafkah oleh orang lain (maksudnya malu meminta dan diberi sedekah). Wahai bujang (yakni budaknya), berikan bejana besar. Lalu dia menaruh sapu tangan di atasnya, kemudian me-ngatakan, Hendaknya masing-masing orang dari kalian menaruh apa yang dibawanya di bawah sapu tangan. Maka mulailah sese-orang menaruh sepuluh dirham, dan yang lainnya menaruh 20 dirham, lalu dia membelanjakan untuk mereka hingga sampai di al-Mishshishah. Kemudian, dia mengatakan, Ini adalah negeri musafir, maka kita bagi-bagikan apa yang masih tersisa. Dia pun memberi masing-masing orang 20 dinar, maka orang itu mengata-kan, Wahai Abu Abdurrahman, aku hanyalah memberi 20 dirham. Dia mengatakan, Apa yang akan engkau pungkiri bila Allah mem-berkahi nafkah orang yang berangkat berperang?

Muhammad bin Ali bin Syaqiq menuturkan dari ayahnya, Ibnu al-Mubarak, apabila tiba musim haji, maka saudara-saudara-nya dari penduduk Marwa berkumpul kepadanya seraya mengata-kan, Kami akan menemanimu wahai Abu Abdurrahman. Dia mengatakan kepada mereka, Bawalah nafkah kalian. Dia pun mengambil nafkah mereka lalu meletakkannya di dalam kotak dan menguncinya. Kemudian dia menyewakan (kendaraan) untuk mereka dan membawa mereka keluar dari Marwa ke Baghdad. Dia senantiasa menafkahi mereka, memberi mereka sebaik-baik makanan dan sebaik-baik manisan. Kemudian dia membawa mereka keluar dari Baghdad dengan pakaian terbaik dan muru`ah (adab) yang sempurna hingga sampai di Madinah Rasulullah. Ketika mereka telah sampai di Madinah, dia mengatakan kepada masing-masing orang dari mereka, Keluargamu minta dibelikan oleh-oleh apa kepadamu dari kota Madinah? Dia menjawab, De-mikian. Kemudian membawa mereka pergi ke Makkah. Ketika mereka telah sampai di Makkah, dan telah melaksanakan haji mereka, dia mengatakan kepada masing-masing dari mereka, Keluargamu minta dibelikan oleh-oleh apa kepadamu dari kota Makkah? Dia menjawab, Demikian, dan demikian. Dia pun membelikan untuk mereka. Kemudian dia membawa mereka keluar dari Makkah. Dia terus memberi nafkah mereka hingga mereka sampai di Marwa. Ketika mereka telah tiba di Marwa, dia mengapur pintu dan rumah mereka. Setelah tiga hari, dia membuat walimah (pesta) untuk mereka dan memberi mereka pakaian. Ketika mereka telah makan dan minum, dia minta agar kotak itu dibawakan kepadanya, lalu dia membukanya, dan memberikan kepada masing-masing orang dari mereka kantongnya setelah menuliskan namanya padanya.

7. TAWADHU IBNU AL-MUBARAK DAN MENJAUHI KEMASYHURAN Di samping pada dirinya berhimpun sifat-sifat kebaikan, dan dia menghimpun berbagai keutamaan, ternyata Allah juga menghiasinya dengan ketawadhuan, dan tidaklah seseorang bertawadhu karena Allah melainkan Allah pasti meninggikan derajatnya.

Al-Hasan mengatakan, Saat dia berada di Kufah, dibacakan padanya kitab al-Manasik yang berakhir pada hadits yang di dalamnya disebutkan, ‘Abdullah mengatakan, ‘Inilah yang kami pegang.’ Dia mengatakan, ‘Siapakah yang menulis ini dari pendapatku?’ Aku menjawab, ‘Sekretaris yang menulisnya.’ Maka dia tidak henti-hentinya menghapusnya dengan tangannya hingga terhapus, kemudian mengatakan, ‘Siapakah aku hingga kata-kataku (harus) ditulis’.

Di dalamnya berisikan adab yang baik bagi orang-orang yang menyelisihi para ulama terkemuka dengan pendapat mereka dan menyalahkan mereka, padahal mereka belum mencapai kadar wajib dari ilmu-ilmu syar’iyah.

Al-Hasan mengatakan, An-Nadhr bin Muhammad menikah-kan putranya, lalu mengundang Ibnu al-Mubarak. Ketika datang, Ibnu al-Mubarak bangkit untuk melayani orang-orang. Namun Abu an-Nadhr menolak membiarkannya, dan dia bersumpah padanya sehingga dia duduk.

Al-Hasan juga berkata, Rumah Ibnu al-Mubarak di Marwa sangat besar, bagian tengah rumah sekitar 50 hasta kali 50 hasta. Tidaklah engkau ingin melihat di rumahnya terdapat orang berilmu, ahli ibadah, atau orang yang memiliki muru`ah dan kedudukan di Marwa, melainkan pasti engkau melihatnya di rumahnya. Mereka berkumpul setiap hari membentuk beberapa halaqah untuk mudza-karah, hingga ketika Ibnu al-Mubarak keluar, maka mereka ber-kumpul kepadanya. Tatkala Ibnu al-Mubarak berada di Kufah, dia tinggal di sebuah rumah kecil. Dia selalu keluar menuju tempat shalat, kemudian kembali ke rumahnya, yang hampir tidak pernah keluar darinya, dan tidak pula seorang pun datang kepadanya. Maka, aku katakan kepadanya, ‘Wahai Abu Abdurrahman, apakah engkau tidak merasa kesepian di sini bila dibandingkan saat engkau berada di Marwa?’ Dia menjawab, ‘Aku hanyalah melarikan diri dari Marwa karena sesuatu yang aku melihatmu menyukainya, dan suka di sini karena apa yang aku melihatmu tidak menyukainya untukku. Saat aku di Marwa, tidak ada satu urusan pun melainkan mereka pasti datang kepadaku, dan tidak ada satu persoalan pun melainkan mereka mengatakan, ‘Tanyakanlah kepada Ibnu al-Mubarak.’ Sementara aku di sini terbebas dari hal itu’.

Dia mengatakan, Aku bersama Ibnu al-Mubarak pada suatu hari, lalu kami tiba di tempat pengambilan air sementara orang-orang minum darinya. Ketika dia mendekat hendak minum, se-dangkan orang-orang tidak mengenalnya, maka mereka mendesak-nya dan mendorongnya. Ketika dia keluar, dia berkata kepadaku, ‘Kehidupan itu tidak lain hanyalah seperti ini. Yakni, bila kita tidak mengenalnya, maka kita tidak menghormatinya’.

8. JIHAD DAN KEBERANIAN IBNU AL-MUBARAK Bersama keilmuan, kezuhudan, kedermawanan dan ibadah-nya, maka di antara tabiatnya yang masyhur ialah jihad dan kebe-raniannya.

Al-Khathib meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdah bin Sulaiman –yakni al-Marwazi–, dia mengatakan, Kami berada dalam satu pasukan detasemen bersama Abdullah bin al-Mubarak di negeri Romawi, lalu kami tiba-tiba bertemu dengan musuh. Ketika kedua barisan bertemu, seorang dari musuh keluar (dari barisan) dan mengajak perang tanding, maka keluarlah seseorang kepadanya, tapi dia membunuhnya. Kemudian keluarlah yang lainnya tapi dia membunuhnya. Kemudian dia mengajak perang tanding, maka keluarlah seseorang kepadanya, lalu orang itu ber-hasil mengusirnya sesaat, lalu dia menikam dan membunuhnya. Orang-orang pun berkerumun kepadanya, dan aku adalah salah satu dari mereka yang mengerumuninya. Ternyata dia menutupi wajahnya dengan kerah bajunya, maka aku memegang ujung kerah bajunya lalu membentangkannya, ternyata dia adalah Abdullah bin al-Mubarak. Dia mengatakan, Dan engkau, wahai Abu Amr, termasuk orang yang memburukkan kami (maksudnya membongkar identitasnya, padahal dia tidak ingin dikenal, Ed).

Dari Abdullah bin Sinan, dia mengatakan, Aku bersama Ibnu al-Mubarak dan al-Mu’tamir bin Sulaiman di Tharsus, lalu orang-orang berteriak, ‘Perang, perang.’ Ibnu al-Mubarak dan al-Mu’tamir pun keluar, dan orang-orang juga keluar. Ketika kaum Muslimin dan musuh telah berbaris, maka keluarlah seorang dari pasukan Romawi mengajak perang tanding. Maka keluarlah se-orang Muslim lalu kekalahan menimpa orang Muslim itu sehingga terbunuh, sampai akhirnya terbunuh enam orang dari kalangan kaum Muslimin lewat perang tanding. Kemenangan tersebut semakin membuatnya berlagak di antara kedua barisan sambil mengajak perang tanding, tapi tidak ada seorang pun yang keluar kepadanya. Ibnu al-Mubarak pun menoleh kepadaku seraya me-ngatakan, ‘Wahai Abdullah, jika kematian menimpaku, lakukanlah demikian.’ Dia pun menggerakkan kendaraannya, dan keluarlah seseorang untuk melakukan perang tanding, maka dia bertarung sesaat dengannya lalu membunuhnya. Dia mengajak perang tanding lagi, maka keluarlah peserta lainnya lalu dia membunuhnya, hingga membunuh enam orang lewat perang tanding. Dia meng-ajak perang tanding lagi, tapi seakan-akan mereka takut kepada-nya, lalu dia memukul kendaraannya dan memandang di antara dua barisan lalu pergi. Sementara aku tidak menyadarinya, tiba-tiba aku bersama Ibnu al-Mubarak di tempat sebelumnya. Dia mengatakan kepadaku, ‘Wahai Abdullah, jangan ceritakan ini kepada siapa pun semasa aku masih hidup.’ Aku pun tidak menceritakan hal itu kepada seorang pun saat dia masih hidup.

Sebagaimana dia masyhur dengan keberanian, muru`ah, dan turut serta dalam jihad, dia juga menyerukan kepadanya dengan kata-kata dan syairnya.

Dari Muhammad bin Ibrahim bin Abu Sakinah, dia mengata-kan, Abdullah bin al-Mubarak mendiktekan kepadaku dengan bait-bait ini di Tharsus, dan aku melepaskan kepergiannya. Aku mengirimkan bait-bait itu kepada al-Fudhail bin Iyadh pada 170 H, dan mengutarakannya kepada Abu al-Ghana`im pada 77. Wahai Abid al-Haramain, sekiranya engkau melihat kami Niscaya engkau tahu bahwa engkau main-main dalam beribadah Siapa yang mewarnai pipinya dengan air matanya Maka leher kami bersimbahkan dengan darah kami Atau yang memenatkan kudanya dalam kebatilan Maka kuda kami penat pada esok hari Angin menyemburkan debu kepada kalian, sedangkan kamilah yang menyemburkan

debu dengan kaki-kaki kuda kami, dan debu yang lebih baik

Sungguh telah datang pada kami dari ucapan Nabi kami Sabda yang shahih, jujur, tidak dusta

Tidak sama debu kuda Allah di hidung seseorang dengan asap api (neraka) yang menyala-nyala

Inilah kitab Allah yang berbicara di tengah-tengah kami Syahid itu tidak mati, dan ini bukan dusta Aku bertemu al-Fudhail bin Iyadh di Masjidil Haram dengan membawa suratnya. Ketika dia membacanya, keduanya matanya mengalirkan air mata, kemudian mengatakan, Abu Abdurrahman benar. Dia pun menasihatiku, kemudian dia bertanya, Apakah engkau termasuk orang yang menulis hadits? Aku menjawab, Ya, wahai Abu Ali. Dia mengatakan, Tulislah hadits ini: penyewa membebanimu dengan surat Abu Abdurrahman kepada kami, dan al-Fudhail mendikte kepadaku:

أَخْبَرَنَا مَنْصُوْرُ بْنُ الْمُعْتَمِرِ عَنْ أَبِيْ صَالِحٍ عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ، أَنَّ رَجُلًا قَالَ: يَا رَسُوْلَ اللّٰهِ، عَلِّمْنِيْ عَمَلًا أَنَالُ بِهِ ثَوَابَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ: هَلْ تَسْتَطِيْعُ أَنْ تُصَلِّيَ فَلَا تَفْتُرَ وَتَصُوْمَ وَلَا تُفْطِرَ، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللّٰهِ، أَنَا أَضْعَفُ مِنْ أَنْ أَسْتَطِيْعَ ذٰلِكَ. ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ a: فَوَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَوْ طُوِّقْتَ ذٰلِكَ مَا بَلَغْتَ فَضْلَ الْمُجَاهِدِيْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ، أَمَا عَلِمْتَ أَنَّ فَرَسَ الْمُجَاهِدِ لَيَسْتَنُّ فِيْ طِوَلِهِ فَتُكْتَبُ بِذٰلِكَ حَسَنَاتِهِ.

Manshur bin al-Mu’tamir mengabarkan kepada kami, dari Abu Shalih, dari Abu Hurairah, bahwa seseorang berkata, ‘Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku suatu amalan yang dengannya aku akan mendapatkan pahala Mujahidin di jalan Allah.’ Maka Nabi mengatakan kepadanya, ‘Apakah engkau mampu mengerjakan shalat tanpa merasa jemu dan puasa tanpa berbuka.’ Dia menjawab, ‘Wahai Nabi Allah, aku terlalu (lemah) dari mampu melakukan hal itu.’ Kemudian Nabi bersabda, ‘Demi Dzat yang jiwaku di Ta-nganNya, sekiranya engkau diberi kemampuan melakukan hal itu, maka engkau tidak akan dapat mencapai keutamaan Mujahidin di jalan Allah. Tidakkah engkau tahu bahwa kuda Mujahid benar-benar berlari dalam (penguasaan kendali) tali kekangnya lalu kebajikan-kebajikannya ditulis dengannya’.

9. PUJIAN ULAMA KEPADA IBNU AL-MUBARAK

Di antara kabar gembira yang disegerakan bagi orang Muk-min, ialah mendapat pujian manusia dan kecintaan mereka.

قِيْلَ لِلنَّبِيِّ: اَلرَّجُلُ يَعْمَلُ الْعَمَلَ يَرْجُو بِهِ وَجْهَ اللّٰهِ فَيُحِبُّهُ الْخَلْقُ، وَفِيْ رِوَايَةٍ: فَيَثْنِي عَلَيْهِ الْخَلْقُ. فَقَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

Pernah ditanyakan kepada Nabi, ‘Seseorang melakukan amalan karena mengharapkan Wajah Allah, lalu dia dicintai oleh makhluk.’ Dalam suatu riwayat, ‘Lalu para makhluk memujinya.’ Maka beliau menjawab, ‘Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi orang Mukmin’.

Alim kita, alim dunia, Abdullah bin al-Mubarak telah mendapatkan bagian yang sempurna dari hal itu. Telah disebutkan perkataan al-Fudhail, Ketahuilah, aku mencintainya karena dia takut kepada Allah.

Adz-Dzahabi mengatakan, Demi Allah, aku mencintainya karena Allah, dan aku mengharapkan kebaikan dengan mencintai-nya, karena anugerah yang Allah berikan kepadanya berupa ke-takwaan, ibadah, keikhlasan, jihad, keluasan ilmu, kesempurnaan, pengorbanan, kedermawanan, dan sifat-sifat terpuji lainnya.

Tidak diragukan lagi bahwa cinta ini adalah anugerah dari Allah, Dia berfirman,

Allah meluaskan rizki. (Ar-Ra’d: 26).

Inilah yang Allah janjikan kepada para hambaNya yang beriman dan mengerjakan amal shalih, sebagaimana Dia berfirman,

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka kasih sayang. (Maryam: 96).

Ini pula yang dimaksudkan oleh hadits,

Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Dia memanggil Jibril seraya berfirman, ‘Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Jibril pun mencintainya, kemudian Jibril berseru kepada penduduk langit, ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan, maka cintailah dia.’ Penduduk langit pun mencintainya, kemudian dia mendapatkan penerimaan di dunia.

Adapun pujian manusia yang diperoleh imam ini maka sangatlah melimpah dan sangat harum. Nyaris namanya tidak disebut melainkan dengan pujian yang paling baik. Ini adalah sebagian dari pernyataan ulama sekedar sebagai isyarat (tentang keberadaannya), bukan membatasi.

Syu’aib bin Harb mengatakan, Tidaklah Ibnu al-Mubarak bertemu seorang pun melainkan pasti Ibnu al-Mubarak lebih utama daripadanya.

Al-Mu’tamir bin Sulaiman mengatakan, Aku tidak pernah melihat orang seperti Abdullah bin al-Mubarak. Kami mendapat-kan di sisinya sesuatu yang tidak diperoleh di sisi seorang pun.

Dari Abdul Wahhab bin al-Hakam, dia mengatakan, Ketika Abdullah bin al-Mubarak meninggal, aku mendapatkan kabar bahwa Harun Amirul Mukminin mengatakan, ‘Penghulu para ulama telah meninggal’.

Abdurrahman bin Zaid al-Jahdhami mengatakan, Al-Auza’i bertanya, ‘Apakah engkau pernah melihat Ibnu al-Mubarak?’ Aku menjawab, ‘Tidak.’ Dia mengatakan, ‘Seandainya engkau melihat-nya, niscaya hatimu terhibur’.

Dari Ubaid bin Junadah, dia mengatakan, Atha` bin Muslim mengatakan, Wahai Ubaid, apakah engkau pernah melihat Abdullah bin al-Mubarak? Aku menjawab, Ya. Dia mengatakan, Aku tidak pernah melihat orang sepertinya, dan tidak pula akan terlihat orang sepertinya.

Abdurrahman bin Mahdi mengatakan, Mataku tidak pernah melihat orang yang lebih tulus kepada umat ini daripada Abdullah bin al-Mubarak.

Yahya bin Ma’in mengatakan saat nama Abdullah bin al-Mubarak disebutkan di sisinya, Salah seorang penghulu kaum Muslimin.

Dari Ahmad bin Abdah, dia mengatakan, Fudhail, Sufyan, dan seorang Syaikh duduk di Masjidil Haram, lalu muncullah Ibnu al-Mubarak dari jalan di celah-celah bukit, maka Sufyan menga-takan, ‘Ini adalah seorang laki-laki dari penduduk Masyriq.’ Al-Fudhail mengatakan, ‘Ini adalah seorang laki-laki dari penduduk Masyriq, penduduk Maghrib, dan di antara keduanya’.

Dari Syafi’ bin Ishaq, dia mengatakan, Aku katakan kepada Sa’id bin Manshur, Mengapa engkau tidak menulis hadits dari Syu’bah dan Sufyan? Dia menjawab, Aku bertemu Ibnu al-Mubarak. Ketika aku melihatnya, maka orang lain menjadi rendah bagiku.

Ali bin al-Madini mengatakan, Ilmu berpuncak kepada dua orang; kepada Abdullah bin al-Mubarak, dan orang sesudahnya berpuncak kepada Yahya bin Ma’in.

Kharijah mengatakan kepada saudara-saudaranya, Barang-siapa dari kalian yang suka memandang seseorang seakan-akan dia adalah salah seorang sahabat, maka pandanglah Abdullah bin al-Mubarak.

Abdullah bin al-Hasan mengatakan, Jika Abdullah berjalan dari Marwa pada malam hari Maka berjalanlah darinya cahaya dan keindahannya Jika berita-berita disebutkan di semua negeri Maka mereka adalah bintang-bintang di sana sementara engkau bulan sabitnya

Ibrahim bin Musa mengatakan, Aku berada di sisi Yahya bin Ma’in, lalu datanglah seseorang seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Zakaria, siapakah perawi yang paling tsabat dalam periwayatan dari Ma’mar, Abdurrazzaq ataukah Abdullah bin al-Mubarak?’ Saat itu Yahya bin Ma’in bersandar, lalu dia duduk dengan lurus seraya berkata, ‘Ibnu al-Mubarak itu lebih baik daripada Abdur-razzaq dan keluarganya’.

Dari Syu’aib bin Harb, dia mengatakan, Sufyan mengatakan, Sesungguhnya aku benar-benar menginginkan dari seluruh usia-ku menjadi satu tahun saja dalam keadaan seperti Abdullah bin al-Mubarak, tetapi aku tidak mampu melakukannya, bahkan tiga hari pun.

Yahya bin Adam mengatakan, Ketika aku mencari perma-salahan-permasalahan detil, lalu aku tidak menemukannya dalam kitab-kitab Ibnu al-Mubarak, maka aku berputus asa.

Aswad bin Salim mengatakan, Ibnu al-Mubarak adalah seorang imam panutan. Dia adalah orang yang paling tsabat dalam Sunnah. Jika engkau melihat ada orang yang mencela Ibnu al-Mubarak, maka curigailah keislamannya.

10. DI ANTARA PERNYATAAN DAN SYAIR IBNU AL-MUBARAK

Ini adalah kata-kata mutiara darinya, dan petikan syair-syair-nya yang menunjukkan kesempurnaan akalnya dan ketinggian kedudukannya. Sebab seorang hamba jika dirinya telah terdidik, dan kepribadiannya telah sempurna, maka dia berbicara dengan hikmah dan kata-kata yang jelas.

Di antara kata-kata yang diriwayatkan darinya, ialah: Barangsiapa bakhil dengan ilmu, maka dia tertimpa tiga malapeta: Kematian, lupa, atau bergabung dengan penguasa.

Abu Wahb al-Marwazi mengatakan, Aku bertanya kepada Ibnu al-Mubarak tentang kibr (kesombongan), maka dia menjawab, ‘Engkau menghinakan orang lain.’ Aku bertanya kepadanya ten-tang ujub, maka dia menjawab, ‘Engkau merasa memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain’.

Dari Rustah ath-Thalqani, dia mengatakan, Seorang laki-laki bangkit menuju Abdullah bin al-Mubarak seraya mengatakan, ‘Wahai Abu Abdurrahman, pada perkara apakah aku (seharusnya) menaruh sisa hariku (waktu luang); dalam mempelajari al-Qur`an atau menuntut ilmu?’ Dia menjawab, ‘Apakah engkau membaca al-Qur`an yang dengannya shalatmu menjadi sempurna?’ Dia menjawab, ‘Ya.’ Ibnu al-Mubarak mengatakan, ‘Taruhlah untuk menuntut ilmu yang dengannya al-Qur`an dikenal’.

Bisyr bin al-Harits mengatakan, Seorang laki-laki bertanya kepada Ibnu al-Mubarak tentang hadits saat dia sedang berjalan. Dia mengatakan, (Tindakan) ini bukanlah bentuk penghormatan kepada ilmu. Bisyr mengatakan, Aku pun menyatakan (pendapat)-nya bagus sekali.

Dari Ibrahim bin Syammas, dia mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan, Jika seseorang mengetahui kadar dirinya, maka bagi dirinya, dia lebih hina daripada anjing.

Dari Abdullah bin Khubaiq, dia mengatakan, Pernah di-tanyakan kepada Ibnu al-Mubarak, ‘Apakah tawadhu itu?’ Dia menjawab, ‘Takabbur pada orang-orang kaya’. Dari Abdullah bin Umar as-Sarakhsi, dia mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan kepadaku, Aku tidak bersedih karena suatu pun sebagaimana aku bersedih karena aku tidak mendapat-kan saudara fillah.

Dari Sa’id bin Ya’qub ath-Thalqani, dia mengatakan, Sese-orang berkata kepada Ibnu al-Mubarak, ‘Apakah masih ada orang yang memberi nasihat?’ Dia menjawab, ‘Apakah engkau mengenal orang yang sedang menghadapimu?’

Abu Bakar bin Abdullah bin Hasan mengatakan, Ibnu al-Mubarak mengatakan, Kami menuntut ilmu demi agama, lalu ia menuntun kami untuk meninggalkan dunia.

Ahmad bin az-Zibriqan mengatakan, Aku mendengar Ab-dullah bin al-Mubarak mengatakan, Orang-orang shalih di masa lalu, jiwa mereka menyelarasi mereka dalam kebaikan, sedangkan jiwa kita sekarang nyaris tidak menyelarasi kita kecuali dalam perkara yang dibenci. Karena itu, kita sepatutnya membencinya. Di antara syair-syairnya,

Di antara bala, dan bala itu ada tandanya Ialah engkau tidak menyelisihi hawa nafsumu Budak adalah budak nafsu dalam mempertautkan keinginannya Dan orang merdeka itu kadangkala kenyang dan kadangkala lapar Di antara syairnya,

Bagaimana tenang dan bagaimana seorang Muslim merasa nyaman

Sedangkan wanita-wanita Muslimah bersama musuh yang melam-paui batas

Mereka menampar pipi mereka dengan tangis seruan yang memang-gil nabi mereka Muhammad

Mereka mengatakan, ketika mereka takut melakukan jihad dengan kata-kata secara terang-terang, Duhai sekiranya kita tidak pernah dilahirkan

Engkau dan dia tidak bisa melakukan siasat Kecuali menutupi dirinya dari sudaranya dengan tangan Dari Abu Umayyah al-Aswad, dia mengatakan, Aku men-dengar Ibnu al-Mubarak mengatakan, ‘Aku mencintai orang-orang shalih sedangkan aku bukan termasuk golongan mereka, dan aku membenci orang-orang yang durhaka sedangkan aku lebih buruk daripada mereka.’ Kemudian dia bersenandung,

Diam itu lebih baik bagi pemuda Daripada berbicara di luar waktunya Jujur dalam kata-kata itu lebih indah bagi pemuda Daripada sumpahnya

Ketenangan bagi pemuda adalah
Tanda yang menyemburat di keningnya
Adakah yang tersamar olehmu
Jika engkau melihat teman dekatnya
Adakalanya seseorang merasa yakin
Ternyata celaka mendominasi keyakinannya
Lalu dia menghilangkannya dari pikirannya
Lalu dia membeli dunianya dengan agamanya
Salm al-Khawwash bersenandung dari Ibnu al-Mubarak,
Aku melihat dosa-dosa mematikan hati
Lalu diikuti kehinaan demi kehinaan
Sedangkan meninggalkan dosa adalah kehidupan hati
Dan lebih baik bagi dirimu untuk menentang dosa
Tidaklah ada yang mengganti agama melainkan para raja Ulama buruk dan ahli ibadahnya
Mereka menjual jiwa sehingga mereka tidak beroleh laba Dalam jual beli itu tidak ada yang mahal harganya Sungguh kaum itu telah jatuh menjadi bangkai Yang jelas kebusukannya bagi siapa yang memiliki akal Muhammad bin Hatim al-Marwazi mengatakan, Suwaid bin Nashr menyenandungkan kepada kami syair Abdullah bin al-Mubarak,
Wahai Rabbku, wahai Yang memiliki Arasy, Engkau Maha Penyayang
Engkau Maha Mengetahui apa yang tersembunyi dalam dada Wahai Rabbku, berilah aku dariMu suatu kesabaran
Karena aku melihat kesabaran yang tidak membuat orang yang sabar menyesal
Di antara syairnya,
Berilah aku dariMu suatu tekad dalam takwa Yang aku akan jalankan di tengah mereka sedemikian rupa Ketahuilah, bahwa takwa kepada Allah itu adalah kedudukan paling mulia
Dengannya dia menjadi mulia saat dalam keadaan senang Jika engkau menyaingi seseorang atas perkara takwa Niscaya engkau keluar dari dunia dalam keadaan selamat Aku melihatmu sebagai orang yang mengharapkan ampunan Allah
Sedangkan engkau melakukan apa yang tidak disukaiNya Seseorang itu bila manusia tidak bisa mengharapkan maafnya
dan mereka tidak merasa aman dari gangguannya, niscaya dia itu hina
Sampai kapan engkau bermaksiat kepada Tuhan
Sampai kapan engkau melawan Rabbku, sesungguhnya Dia benar-benar Maha Penyayang
Sungguh engkau pasti akan berbantalkan tanah dan tidur beralas-kan dengannya
Sungguh engkau akan kembali ke tempat di mana kerabat tidak melambaikan tangannya padamu
Shalih al-Rarra` mengatakan, Aku mendengar Ibnu
al-Muba-rak mengatakan,
Seseorang itu seperti bulat sabit ketika dilihat Dia tampak kecil dalam pandanganmu kemudian menghilang Hingga ketika engkau tidak melihatnya, kemudian diikuti oleh
Lingkaran baru yang terus berkurang kemudian hilang

11. GURU DAN MURID IBNU AL-MUBARAK

Gurunya:

Adz-Dzahabi mengatakan, Syaikh yang paling dahulu dia temui adalah ar-Rabi’ bin Anas al-Khurasani. Dia melakukan siasat untuk bisa menemuinya di penjara, lalu dia mendengar darinya sekitar 40 hadits. Kemudian dia melakukan perjalanan pada 141 H, dan mengambil ilmu dari para tabi’in yang masih hidup, dan memperbanyak melakukan perjalanan.

Ibnu al-Jauzi mengatakan, Abdullah bin al-Mubarak melihat segolongan tabi’in, di antaranya: Hisyam bin Urwah, Isma’il bin Abu Khalid, al-A’masy, Sulaiman at-Taimi, Humaid ath-Thawil, Abdullah bin Aun, Khalid al-Hadzdza`, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Musa bin Uqbah, dan selainnya.

Ibnu Asakir mengatakan, Dia tiba di Damaskus dan men-dengar dari al-Auza’i, Sa’id bin Abdul Aziz, Abu Abdi Rabb az-Zahid, Abdurrahman bin Yazid bin Jabir, Hisyam bin al-Ghaz, Utbah bin Abu al-Hakam al-Hamdani, Ibrahim bin Abu Ablah, Abu al-Mu’alla Shakhr bin Jandal al-Bairuti, Shafwan bin Umar, Umar bin Muhammad bin Zaid al-Asqalani, al-Hakam bin Abdullah al-Abla, Yahya bin Abu Katsir, Ibnu Lahi’ah, al-Laits bin Sa’ad, Sa’id bin Abu Ayyub, Harmalah bin Imran, Abu Syuja’ Sa’id bin Yazid, al-A’masy, Isma’il bin Abu Khalid, Yunus bin Abu Ishaq, Mujalid bin Sa’id, Hisyam bin Urwah, Za`idah bin Qudamah, Yahya bin Sa’id al-Anshari, Yahya bin Ubaidullah bin Mauhab, Usamah bin Zaid al-Laitsi, Ibnu Ajlan, Ibnu Juraij, Ma’mar, Yunus bin Yazid, Musa bin Uqbah, Hisyam bin Sa’ad, Muhammad bin Ishaq, Abdullah bin Sa’id bin Abu Hind, Malik bin Anas, Sufyan ats-Tsauri, Hammad bin Zaid, al-Mubarak bin Fadhalah, Sulaiman at-Taimi, Humaid ath-Thawil, Auf al-A’rabi, Syu’bah, Hisyam bin Hassan, Ashim bin Sulaiman al-Ahwal, Abdullah bin Aun, Khalid al-Hadzdza`, dan selain mereka.

Lihat guru-gurunya dalam Tahdzib al-Kamal, karya al-Hafizh al-Mizzi (16/ 6-10). Kami mencukupkan apa yang telah kami sebut-kan karena khawatir terlalu panjang lebar. Apa yang disebutkan oleh al-Mizzi berupa guru-gurunya meskipun sedemikian banyak-nya, itu bukanlah menyebutkan semua gurunya, karena adz-Dza-habi menyebutkan dari Ibrahim bin Ishaq dari Ibnu al-Mubarak, dia mengatakan, Aku membawa ilmu dari 4000 guru, dan aku meriwayatkan dari seribu orang di antara mereka. Al-Abbas bin Mush’ab mengatakan dalam Tarikhnya, Aku menemukan 800 orang dari gurunya. Al-Mizzi menyebutkan 227 orang dari gurunya dalam Tahdzib al-Kamal.

Muridnya:

Adz-Dzahabi mengatakan, Sejumlah orang yang tidak ter-hitung dari berbagai penjuru daerah menceritakan hadits darinya, karena dia semenjak dari mudanya tidak pernah merasa lelah me-lakukan perjalanan.

Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, Sementara yang meri-wayatkan darinya ialah ats-Tsauri, Ma’mar bin Rasyid, Abu Ishaq al-Fazari, Ja’far bin Sulaiman adh-Dhab’i, Baqiyyah bin al-Walid, Dawud bin Abdurrahman al-Aththar, Ibnu Uyainah, Abu al-Ahwash, Fudhail bin Iyadh, Mu’tamir bin Sulaiman, al-Walid bin Muslim, Abu Bakar bin Ayyasy, dan selain mereka dari kalangan guru dan sejawatnya. Kemudian Muslim bin Ibrahim, Abu Usamah, Abu Salamah at-Tabudzaki, Nu’aim bin Hammad, Ibnu Mahdi, al-Qaththan, Ishaq bin Rahawaih, Yahya bin Ma’in, Ibrahim bin Ishaq ath-Thalaqani, Ahmad bin Muhammad Mardawaih, Isma’il bin Aban al-Warraq, Bisyr bin Muhammad as-Sakhtiyani, Hibban bin Musa, al-Hakam bin Musa, Zakaria bin Adi, Sa’id bin Sulaiman, Sa’id bin Amr al-Asy’atsi, Sufyan bin Abdul Malik al-Marwazi, Salamah bin Sulaiman al-Marwazi, Sulaiman bin Shalih Salmawaih, Abdullah bin Abu Utsman Abdan, Abu Bakar dan Utsman kedua putra Abu Syaibah, Abdullah bin Umar bin Aban al-Ju’fi, Ali bin al-Hasan bin Syaqiq, Amr bin Aun, Ali bin Hajar, Muhammad bin ash-Shalt al-Asadi, Muhammad bin Abdurrahman bin Sahm al-Anthaki, Abu Kuraib, Abu Bakar bin Ashram, Manshur bin Abu Muzahim, Muhammad bin Muqatil al-Marwazi, Yahya bin Ayyub, dan banyak lainnya, dan yang terakhir dari mereka ialah al-Hasan bin Dawud al-Balkhi. Lihat juga apa yang disebutkan oleh al-Mizzi berupa murid-murid imam ini dalam Tahdzib al-Kamal (16/ 10-14), karena dia menyebutkan 143 orang dari muridnya. Disebutkan pula segolongan dari guru dan muridnya, di mana Ibnu al-Mubarak meriwayatkan dari mereka, dan mereka juga me-riwayatkan darinya. Inilah yang disebut dalam ilmu al-Mushthalah dengan Mudabbaj, diambil dari دِيْبَاجَتَيِ الْوَجْهِ (dua sisi wajah), di anta-ranya: dua orang Sufyan (ats-Tsauri dan Ibnu Uyainah), Abu Bakar bin Ayyasy, Dawud bin Abdurrahman al-Aththar, dan Ma’mar bin Rasyid. Demikian pula disebutkan segolongan muridnya, sementara mereka adalah sejawatnya, di antaranya Baqiyyah bin al-Walid, Mu’tamir bin Sulaiman, al-Walid bin Muslim, Abu Ishaq Ibrahim bin Muhammad al-Fazari.

12. KARYA TULIS IBNU AL-MUBARAK

1. At-Tafsir, sebagaimana disebutkan ad-Dawudi dalam Thabaqat al-Mufassirin (1/250), terbitan Dar al-Kutub al-Ilmiyyah.

2. Al-Musnad, berdasarkan riwayat al-Hasan bin Sufyan bin Amir an-Nasawi (wafat 303 H.), sebagiannya ditemukan dalam bentuk manuskrip di perpustakaan azh-Zhahiriyah, kumpulan 18/5, bagian 2, 3 dari 107 a – 124 b, pada abad ketujuh hijrah, se-bagaimana disebutkan dalam Tarikh at-Turats (1/138), karya Fu`ad Sazkin.

3. Kitab al-Jihad, sudah dicetak dengan tahqiq Dr. Nazih Hammad, profesor di Universitas Malik Abdul Aziz, Makkah al-Mukarramah, Silsilah al-Buhuts al-Islamiyyah (serial kajian ke-islaman).

4. Kitab al-Birr wa ash-Shilah, disebutkan oleh Ibnu an-Nadim, al-Baghdadi, dan Fu`ad Sazkin dalam Tarikh at-Turats (1/138). Kutipan darinya bisa ditemukan dalam al-Ishabah (1/764, 4/362).

5. As-Sunan, disebutkan oleh ad-Dawudi (1/250). Disebutkan pula oleh Ibnu an-Nadim dan al-Baghdadi dengan nama as-Sunan fi al-Fiqh. Lihat juga mukadimah Dr. Nazih Guest untuk buku al-Jihad karya Ibnu al-Mubarak (hal. 14).

6. Kitab at-Tarikh, sebagaimana disebutkan Ibnu an-Nadim dan al-Baghdadi.

7. Arba’in fi al-Hadits, disebutkan al-Baghdadi dan Haji Kha-lifah dengan nama al-Arba’in.

8. Riqa’ al-Fatawa, sebagaimana disebutkan Haji Khalifah dan al-Baghdadi.

9. Kitab az-Zuhd wayalihi ar-Raqa`iq, sudah dicetak dengan tahqiq dan ta’liq Syaikh Habiburrahman al-A’zhami, berdasarkan riwayat al-Marwazi. Dia menambahkan di akhir naskah, Apa yang diriwayatkan Nu’aim bin Hammad lebih daripada apa yang diriwayatkan al-Marwazi dari Ibnu al-Mubarak dalam kitab az-Zuhd. Kitab ini dicetak oleh Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, Beirut, kemudian buku ini dicetak dengan tahqiq dan ta’liq dari Mushannif (penulis).

13. WAFAT IBNU AL-MUBARAK

Ibnu Asakir meriwayatkan dengan sanadnya dari Ibnu al-Madini, dia mengatakan, Orang-orang terbaik di bumi meninggal pada tahun yang sama: Malik, Hammad, Khalid, Sallam bin Sulaim Abu al-Ahwash, dan Abdullah bin al-Mubarak, 179 H.

Namun dia menilai keliru pernyataan ini, kemudian dia mengatakan, Dan yang terpelihara ialah apa yang diriwayatkan oleh Abdan bin Utsman. Dia mengatakan, ‘Abdullah pergi ke Irak, awal kepergiannya pada 141 H, dan meninggal di Hait atau Anat pada hari ketiga belas yang tersisa dari bulan Ramadhan 181 H.

Al-Hasan bin ar-Rabi’ mengatakan, Aku menyaksikan kema-tian Ibnu al-Mubarak, dia meninggal pada 181 H, bertepatan pada bulan Ramadhan, pada sepuluh hari yang telah lewat dari bulan tersebut. Dia meninggal karena disihir, dan kami menguburkannya di Hait.

Aku katakan: Hait adalah sebuah sudut di Irak (Liwa` ad-Dailam), ketika kafilah menyeberangi sungai Eufrat di perjalanan-nya antara Baghdad dan Halb. Di dekatnya terdapat sejumlah ladang minyak.

Sedangkan Anat, atau Anah, ialah kota masyhur yang terletak antara Riqqah dan Hait.

Al-Hasan mengatakan, Aku pernah bertanya kepada Ibnu al-Mubarak sebelum meninggal, dia mengatakan, Aku berusia 63 tahun.

Shalih bin Ahmad mengatakan, Abu Abdillah menceritakan kepadaku, dia mengatakan, ketika Abdullah bin al-Mubarak sedang sekarat, seseorang mentalqinnya, Ucapkanlah, ‘La ilaha illallah’. Maka dia mengatakan kepadanya, Engkau bukanlah orang yang berbuat baik. Aku khawatir engkau mengganggu seorang Muslim sepeninggalku. Jika engkau mentalqinku, lalu aku mengucapkan la ilaha illallah, kemudian aku tidak mengucapkan apa-apa setelahnya, maka tinggalkanlah aku. Namun, jika aku mengucapkan kata-kata lainnya, maka talqinlah aku hingga itu menjadi akhir ucapanku.

Ada yang meriwayatkan, Abdullah bin al-Mubarak membuka kedua matanya ketika hendak meninggal, lalu tertawa seraya me-ngatakan,

Untuk kemenangan seperti ini hendaklah orang-orang yang bekerja berusaha. (Ash-Shaffat: 61).

Muhammad bin Sa’ad mengatakan, Dia meninggal di Hait sepulang dari perang pada 181 H, dalam usia 63 tahun. Dia dilahir-kan pada 118 H. Dia menuntut ilmu, meriwayatkan dengan riwayat yang banyak, dan mengarang banyak buku dalam berbagai cabang ilmu. Karangan-karangannya dibawa darinya oleh suatu kaum, dan orang-orang menulisnya dari mereka. Dia mengucapkan syair tentang zuhud dan anjuran berjihad. Dia datang ke Irak, Hijaz, Syam, Mesir dan Yaman, serta mendengar ilmu yang sangat banyak. Dia adalah tsiqah, terpercaya, imam, hujjah, dan banyak hadits.

Dengan kematiannya, lenyaplah mentari yang baik ini setelah menyinari dunia dengan sinarnya yang terang, dan tanah telah mengubur jasad suci ini yang senantiasa bergerak dalam berbagai ketaatan: Menuntut ilmu, mengajar, berjihad, berderma, berbuat kebaikan, haji, umrah, dan menyelesaikan hajat kaum Muslimin. Dan yang masih tersisa adalah nama yang baik dan kecintaan yang memenuhi hati kaum Muslimin, karena jasa-jasa-nya yang dia persembahkan bagi Islam dan pemeluknya berupa kebaikannya yang besar.

Sumber : Biografi 60 Ulama Ahlussunnah

penulis Syaikh Ahmad Farid

penerbit Darulhaq

harga Rp 135.000,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s