Konsisten dan tahan terhadap guncangan

demi meraih surga, inilah kisah para perindu surga
Tahan terhadap goncangan itu sulit. Tapi lebih sulit lagi adalah menjaga konsistensi. Disetiap medan pertempuran mengharap surga selalu ada guncangan. Pada setiap amal ada guncangannya. Bahkan pada setiap orang yang berbeda ada jenis guncangannya
Seperti yang dialami sang panglima Islam legendaris, Muzhaffar Quts, ia bersama pasukannya bergerak untuk menolong islam dan memproteksi negeri-negerinya yang suci. Ia memang tidak sendiri. Berbagai lapisan masyarakat turut serta. Maka bersama pasukannya ia keluar dari mesir dalam kondisi taubat dan bersih dalam rangka membela agama Allah. Waktu itu negeri-negeri di Syria sudah di kuasai Mongol.
Qurtas meminta kepada pasukannya untuk menunggu hingga setelah shalat jumat. “Janganlah kalian melancarkan serangan kepada mereka hingga tergelincir matahari, memberi banyang-bayang, angin bertiup dan para khatib di masjid serta manusia lainnya mendoakan kita dalam shalat-shalat dan setelah itu baru dimulai pertempuran.
Ditengah berlangsungnya pertempuran istri Quts, Julannar, mati terbunuh dalam jihad ini. Maka ia bergegas mendekatinya dengan berteriak “Oh wahai kasihku! Pada detik-detik nafas terakhir kepergian istrinya. Isterinya membalas dengan berkata kepadanya,”Jangan engkau katakan itu tapi katakanlah Waislamah (duhai islam). Setelah itu istrinyapun meninggal.
Ada peristiwa yang sangat menarik dari Ma`rakah [perang] Ain Jalut yang dicatat oleh sejarah dengan tinta emas. Pada saat Al-Muzhaffar Qutz melihat moral tentara kaum Muslimin menurun akibat pukulan dan serangan yang luar biasa dari pasukan Tartar yang dikenal sangat tangguh dan ganas itu, Al-Muzhaffar Qutz dengan cerdas menciptakan yel-yel atau syi’ar yang akan mengingatkan para prajuritnya bahwa mereka bukanlah sedang mengejar harta dan kedudukan, dan bukan pula sedang membela sejengkal tanah atas dasar nasionalisme. Akan tetapi, mereka sedang meperjuangkan Islam yang sudah diinjak-injak kesuciannya oleh pasukan Tartar sejak mereka memasuki kawasan Islam, khsusnya setelah Al-Muzhafar memilih kata “wa Islamah” yang berarti “Duhai Islamku
Maka Muzhaffar Quts segera berdiri dan mengucapka Wa Silama,”Duhai islam, duhai Islam.” Seluruh pasukan mengumandangkan teriakan yang sama ssehingga berakhir dengan kemenangan. Sebagai pemimpin dan sekaligus panglima Mujahidin, Al-Muzhaffar Qutz bukan hanya mengeluarkan syi’ar dan yel-yel itu dari atas menara dan gedung tinggi dan membiarkan prajuritnya bertempur mati-matian atas dasar perintah dari al-qiyadah al-‘ulya (pemimpin tertinggi). Akan tetapi, ia maju ke baris terdepan setelah kuda yang Beliau tunggangi jatuh terkena anak panah musuh. Dengan keyakinan yang kuat pada Allah, Beliau berjalan sambil bertempur mengahadapi musuh yang ada di hadapnya satu persatu. Melihat sang pemimpin bertindak seperti itu para perajuritnya mengatakan : ” janganlah anda membahayakan diri dengan berbuat seperti itu, kalau anda mati bagaimana dengan Islam? Ini kuda kami, silahkan anda tunggangi”
Mendengar tawaran yang logis itu, Al-Muzhaffar Qutz berkata :” Saya sedang mencium aroma syurga, mengapa harus saya berlambat-lambat menujunya? Islam itu memiliki Pelindung yang akan senantiasa menjaganya dan sungguh telah terbunuh si fulan dan sifulan..Telah meninggal Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali. Namun, Allah tetap menegakkan dan memelihara agama-Nya dengan orang lain sepeninggalan mereka”.
Inilah keteladanan seorang pemimpin sejati dalam sejarah Islam. Tidak silau dengan berbagai fasilitas duniawi, kapanpun dan di manapun. Di bawah pemimpin seperti inilah prajurit kaum Muslimin mampu mengalahkan dan menghancurkan pasukan Tartar dalam Ma`rakah Ain Jalut yang sangat terkenal itu dan dikenang sepanjang sejarah umat Islam dan tercium harumnya semerbak sampai akhir zaman.
Akhirnya Allah memberinya kemenangan. Dan kaum muslimin bisa mengejar para pasukan Mongol lalu memasuki Damaskus hanya dalam waktu lima hari. Ditinggal mati di saat genting adalah gunangan. Begitu pula mendapat ancarman-ancman dari orang yang tidak suka. Walau akhirnya Al-Muzhaffar Qutz syahid
Dimedan perang ada banyak contoh para pemburu surga, seperti yang dilakukan oleh Abdulah bin Jahsy, salah seorang shabat Rasulullah yang sangat terkenal. Saat bersiap-siap bertempur dalam perang Uhud. Rasulullah saw menempatkan pasukan pemanah diatas bukit dan berpesan agar mereka tidak meninggalkan tempat, maka saat itulah Abdulah bin Jahsy menemui Saad bin Abi Waqqah, meminta kepadanya untuk menyingkir sedikit karena dia akan berdoa kepada Allah Swt.
Saad menceritakan bahwa Abdulah bin Jahsy berkata kepadanya,”Tidakkah engkau ingin berdoa kepada Allah? Keduanya lalu menyingkir, Saad pun memulai doanya,”Ya Rabbi, jika aku berhadapan dengan musuh, maka pertemukanlah aku dengan seseorang yang kuat dan perkasa agar aku dapat menyerangnya dan dia pun menyerangku, kemudian berikanlah kemenangan kepadaku atas dirinya, hingga aku membunuhnya dan mengambil barang rampasan perang,” Abdulah bin Jahsy pun mengamini doa Saad
Setelah itu, gilirannya beroda,”Ya Rabbi datangkanlah kepadaku musuh yang kuat lagi perkasa agar aku dapat menyerangnya karena Engkau dan dia menyerangku, matikanlah aku dalam syahid dengan kondisi hidung dan telingaku putus. Jika kelak aku bertemu Engkau, lalu Engkau bertanya,”Karena apa hidung dan telingamu putus? Akan kujawab, ”Karena Engkau dan Rasul Engkau.” Lalu Engkau berfirman,”Kamu benar.
Setelah berbicara dengan Saad, Abdulah bin Jahsy menemui Rasulullah dan berkata,”Wahai Rasulullah, sebagaimana yang engkau lihat, oang-orang Quraisy itu sudah besiap-siap. Sementara ekau sudah memohon kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu Abdulah bin Jahsy mengisahkan apa bunyi doa tadi. Karenanya Abdulah bin Jahsy memohon kepada Rasulullah mengurus warisannya. Dan Rasul pun meniyakan
Saad berkata kepada anaknya ketika menuturkan kejadian itu,”Wahai anakku, doa Abdulah bin Jahsy lebih baik dari pada doaku. Pada siang harinya aku benar-benar melihat hidung dan telinga Abdullah bin Jahy tergantung disebuah tali.
Inilah salah satu gambaran kesungguhan mereka membela agama Allah, mereka datang jauh dari Madinah ke Mesir untuk menda`wahkan Islam di benua hitam tersebut. Adalah Shahabat Amru binul Ash datang ke Mesir untuk menda`wahkan Islam kepada penduduknya, menyelamatkan mereka dari jilatan api neraka dan meninggikan kalimat tauhid La Ilaha Illallah.
Penguasa Mesir dari bangsa Romawi yg berkuasa saat itu bernama Muqauqis. Dia menyadari betul bahwa pertempuran dengan kaum Muslimin merupakan sesuatu yang tak mungkin lagi dihindari.. Sebelum pertempuran benar-benar berlangsung, Muqauqis mengirim utusan kepada Amru binul Ash untuk melakukan perundingan. Panglima Amru binul Ash mengutus 10 orang Shahabat terkemuka yang dipimpin oleh Ubadah bin Shamit Radhiyallahu `anhu, Beliau adalah seorang yang sangat hitam, berpostur tinggi dan disegani.
Ketika utusan kaum Muslimin itu sampai, Muqauqis merasakan takut merasuki dirinya seraya berkata: “Jauhkan orang saya dari orang hitam ini – yang dimasud adalah Shahabat mulia Ubadah bin Shamit – dan suruh orang lain yang maju dan berbicara dengan saya.”
Semua anggota delegasi kaum Muslimin berkata: “Laki-laki ini adalah seorang shahabat Nabi yang mulia. Beliau adalah yang paling alim diantara kami. Beliau diangkat menjadi pemimpin kami dan kami diperintah untuk merujuk kepada perkataan dan pendapatnya. Bagi kami orang hitam atau putih sama saja, hanya taqwa dan amal shalih seseorang yang dapat unggul dari yang lainnya.”
Selanjutnya Muqauqis memberi isyarat kepada Ubadah bin Shamit untuk berbicara..Ubadah berkata: “Sesungguhnya dibelakang saya ada 1000 orang lagi Shahabat saya yang serupa dengan saya bahkan mereka lebih hitam dibanding saya. Kalau anda melihat mereka anda pasti lebih takut kepada mereka daripada saya.. Sungguh saya telah ditunjuk sebagai komandan dan saya telah meninggalkan semua kesenangan dunia. Namun demikian –dan segala puji hanya bagi Allah- saya tidak pernah takut berhadapan dengan 100 orang musuh meskipun mereka menyerang saya dalam waktu bersamaan..
Para Shahabat saya adalah orang-orang yang memiliki misi yang sama yaitu jihad fi sabilillah demi tegaknya kalimat Allah. Demi Allah.. Tidak seorangpun di antara kami yang peduli apakah ia memiliki segudang emas atau hanya memiliki satu dirham saja. Sungguh bagi kami kenikmatan duniawi bukanlah sebuah kenikmatan dan kemegahannya bukanlah kebanggaan. Itulah prinsip yang diajarkan Allah dan Rasul-Nya kepada kami”
Penuturan lantang ini sangat berpengaruh dalam diri Muqauqis sehingga ucapan ini semakin membuat nyalinya menciut. Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada disekelilingnya: “Saya prediksi bahwa orang-orang ini akan menguasai seluruh negeri di muka bumi ini”
Kemudian Muqauqis berkata: “Saya telah mendengar penuturan tuan, hanya saja saya masih yakin tujan kalian berperang hanyalah karena kecintaan kalian terhadap dunia. Pasukan Romawi dengan jumlah sangat banyak telah bergerak untuk memerangi kalian dan kami lebih memilih berdamai dengan kalian. Kami akan memberikan 2 dinar kepada setiap prajurit kalian, 100 dinar untuk setiap komandan kalian serta 1000 dinar untuk Khalifah kalian, ambillah semuanya dan kami tidak ingin melihat kalian dihancurkan oleh pasukan Romawi itu.”
Ubadah bin Shamit menyadari bahwa itu hanyalah omong kosong dan tipu daya terhadap kaum Muslimin, sehingga mereka akan berdecak kagum dengan pemikiran materelis yang menuhankan harta dan kekayaan.
Dengan semangat keislaman Ubadah bin Shamit yang mulia ini mengatakan: “Tuan, jangan sekali-kali tertipu dengan orang disekeliling anda. Ancaman yang anda ucapkan tidak akan pernah menyurutkan langkah kami. Harta anda yang melimpah takkan membuat kami berpaling, jika anda berperang hingga tetes darah kami yang terakhir hal itu justru lebih baik bagi kami, demi negeri akhirat kami dan itu lebih memungkinkan kami mendapatkan ridha Allah dan syurgaNya yang penuh kenikmatan…”
“Sepanjang hari, pagi dan petang setiap orang dari kami selalu berdoa dan memohon dengan penuh harap kepada Allah agar Dia menganugrahkan syahid dan agar Allah tidak mengembalikan setiap kami ke tanah air dan sanak keluarga.. Anda hanya punya tiga pilihan : Masuk Islam, membayar jizyah atau perang. Inilah yang diperintahkan Khalifah dan Komandan kami, demikian pula yang diperintah oleh Allah dan RasulNya kepada kami..” Lalu Muqauqis bertanya: ” Tidak adakah pilihan selain tiga hal itu?”
Ubadah bin Shamit menunjukkan jari tangannya ke arah langit sambil berkata: ” Demi Rabb langit, tidak ada lagi, pilihlah salah satu dari ketiga hal itu untuk kalian..”
Muqauqispun tunduk, akan tetapi para elite kepemimpinan lain tidak menerima, akhirnya mereka terjun dalam arena peperangan dengan semangat orang-orang yang kalah. Ketika kaum Muslimin berhasil menguasai benteng-benteng mereka di bawah kumandang Takbir, tahta kekaisaran Romawipun seolah berguncang hebat. Lalu, kecongkakan dan arogansi bangsa Romawipun hancur di tangan prajurit Muslim yang telah penuh ikhlas menjual nyawa dan hartanya untuk agama Allah dan kepentingan akhirat mereka.
Muqauqis berkomentar: “Jika kaum ini berhadapan dengan gunung-gunung yang kokoh dan tinggi menjulang, niscaya mereka mampu melenyapkan gunung-gunung itu dari tempatnya”
Beda lagi dengan semangat pemuda disaat Rasulullah dimasjid dan dimimbar berkata,”Apakah akan kita lawan orang-orang kafir Quraisy di uhud ataukah di Madinah?. Mereka menjawab,”Kita lawan mereka di kota Madinah.
Selanjutnya, berdirilah seorang pemuda dari kalangan Anshar ang ada di barisan paling akhir, lalu ia berkata”Wahai Rasulullah, janganlah engkau halangi aku untuk masuk surga. Demi Allah yang tidak ada Tuhan, selain Dia sungguh aku benar-benar akan masuk surga.” Rasulullah bertanya,”Dengan apakah engkau masuk surga. Pemuda itu menjawab,”Dengan dua niat karena aku mencintai Allah dan RasulNya dan aku tidak akan lari dari medan pertempuran sampai titik darah penghabisan, maka berlinanglah air mata beliau, lalu bersabda,”Jika engkau benar kepada Allah dan Allah akan benar kepadamu *HR. Nasai, Abdur Razzaq, Thabrabi, Hakim dan Baihaqi) Merekapun berangkat ke medan perang uhud dan ternyata pemuda itu adalah orang yang mula-mula gugur.
Suatu ketika sahabat yang bernama Ibnu Rawahah ra menjulurkan tangannya ke arah Rasulullah saw untuk dibi’ah, tapi sebelumnya ia berkata,’Wahai Rasullah untuk apa engkau memba’at kami? Beliau menjawab,”Agar kamu sekalian menolong dan melindungiku sebagaimana kamu menolong dan melindungi istri dan anak-anakmu.” Ia bertanya lagi, ”Apakah imbalannya jika kami telah melakukannya dengan baik? Beliau saw menjawab, ”Anda sekalian akan memperoleh surga. (Perhatikanlah bahwa disini Rasulullah sat tidak menjawab bahwa mereka akan mendapatkan dunia, melainkan akan mendapatkan surga). Maka Ibnu Rawwahah ra berkata,”Demi Allah, ini adalah sebuah transaksi perniagaan yang sangat menguntungkan, kami tidak akan membatalkannya dan tidak akan meminta untuk dibatalkan.”
Abdullah ibnu Rawahah yang puasa lagi berjihad itu mengatakan: “Hai manusia, sesungguhnya kita keluar untuk salah satu diantara dua kebaikan, yaitu gugur di jalan Allah dan mati syahid atau beroleh kemenangan dan kejayaan bagi Islam. Demi Tuhan ang jiwa Abdullah ibnu Rawwahah berada dalam genggaman kekuasaan-Nya, aku tidak mau pulang sebelum mati syahid atau Islam beroleh kemenangan”.
Selanjutnya, ia mengambil sarung pedangnya dan mematahkannya dengan lututnya. Sikap ini menurut tradisi orang-orang Arab adalah sangat berbahaya atau siap mati. Zaib ibnu Haritzah maju sebagai panglima, lalu gugur, kemudian digantikan oleh Ja’far dan ia pun gugur pula. Selanjutnya, datang giliran Abdullah ibn Rawwahah untuk memegang panji, yait panji “laa ilaaha illallah”, bertepatan dengan mendekatnya saat mentari tenggelam yang sinarnya mulai menguning, sedang Abdullah ibnu Rawwahah dalam keadaan puasa. Dia tidak merasakan adanya ludah di mulutnya karena kekeringan, sedang dia masih berada diatas kudanya.
Ketika ia dipanggil, langsung menjawab: “Ya!”. Manakala mereka berkata bahwa Ja’far telah gugur, maka ia segera maju menggantikan perannya. Ia berkata: “Berikanlah kepadaku suatu makanan untuk menguatkan tubuhku, karena sesungguhnya hari ini aku sedang berpuasa”. Mereka pun memberinya sepotong daging dan ia langsung mengambilnya untuk dimakan. Ketika hendak menguyahnya, ternyata ia tidak merasakan apa pun dari makanan itu mengingat para shahabat banyak yang mati kepala mereka banyak dibabat dari atas kuda. Dia meliaht anak paman Rasulullah, Ja’far, ditebas dan dibunuh dihadapannya, dan dia melihat Zaid ibn Haritzah dibunuh dan ditebas.
Ia mengambil pedangnya dan mengucapkan bait-bait syair berikut:
“Aku bersumpah, wahai diriku, engkau harus turun tangan atau engkau akan dikalahkan, jika orang-orang telah bersumpah, dan telah menencangkan tali kendali kudanya, mengapa kulihat engkau tidak suka kepada Surga, padahal tiada lain engkau hanyalah berasal dari nufthfah yang hina”.
Waktu perang mu’tah, beliau menentukan tiga orang sebagai komandannya. Mereka adalah Zaid bin Haritsah, Jafar bin Abu Thalib dan Abdullah bin Rawwaha beliau berpesan ,” Apabila Zaid gugur, maka digantikan oleh jafar, dan apabila jafar gugur maka digantikan oleh Ibnu Rawwahah (HR. Bukhari melalui hadist ibnu umar)
Saat berangkat mau berangkat saat mau berangkat perang masih, Abdullah ibnu Rawwahah sengaja berangkat siang padahal yang lain sudah sejak pagi berangkat
Setelah selesai sholat jumat Rasulullah saw, Abdullah ibnu Rawwahah mengucapkan salam, maka Rasulullah saw bertanya, “Tidakkah engkau berangkat bersama-sama temanmu berjihad dijalan Allah?
Abdullah ibnu Rawwahah, menjawab wahai Rasulullah saya sengaja untuk berangkat siang agar bisa melihat diatas mimbar sebagai akhir pertemuanku dengan engkau dan aku ingin berpamitan kepadamu.
Rasulullah saw mencucurkan air mata begitu juga Abdullah ibnu Rawwahah mengucapkan bait syair,”
Tinggalah salam untuk seseorang yang sangat kukasihi
Yang aku harus berpamitan kepadanya di Nakhtalh (kota dimekah)
Dengan pamitan yang sebaik-baiknya
Ibnu Rawwahah bermaksud bahwa yang belum dilakukannya adalah mengucapkan salam pamitan kepada Nabi Muhammad saw di Nakhlah, bagian kota Madinah, maka Rasulullah bersabda,”Sesungguhnya berpagi hari atau berpetang hari di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan segala isinya
Pertempuran berlangsung di bumi Amman (Yordania), tetapi Allah membuka hijab bagi Nabi Shallahu alaihi wassalam, sehingga beliau shallahu alaihi wassalam dapat melihat pasukan kaum muslim, jalannya peperangan, dan kekuatan mereka. Orang-orang pun berkumpul, sedang beliau shallahu alaihi wassalam menangis di atas mimbarnya dengan suara tangisan yang disembunyikan seraya bersabda:
“Sesungguhnya telah berlalu dihadapanku tiga buah dipan (katil), sedang pada dipan Abdullah ibnu Rawwahah terdapat suara gemuruh dan sesungguhnya mereka masuk Surga semuanya. Semoga Alah meridhai mereka dan membuat mereka puas”. (HR. Thabrani)
Ketika Ibnu Rawahah keluar dari masjid Nabawi untuk ikut serta dalam perang Mu’tah, para sahabat lain berpesan kepadanya,”Semoga engkau kembali dengan selamat! Tapi ia menjawab,”Tidak ia menjawab,”Tidak, aku tidak ingin keselamatan. Aku hanya memohon ampunan kepada Allah dari setiap tikaman becabang yang kuterima dari pedang-pedang musuh. Bahkan aku menginginkan kematian, agar aku tergolong kepada para syuhada yang gugur membela agama Allah. Ia pun dalam pertempuran tersebut, lalu beberapa orang sahabat melewati kuburannya, mengucapkan salam dan berkata sambil menagis karena terharu, “Sungguh Allah swt telah memberinya petunjuk sehingga ia telah memilih berjuangt di jalanNya dan mati karena-Nya
Ketika seruan berperang melawan Romawi dikumandangkan, Ibnu Mubarak seorang ahli hadist yang dikenal sangat zuhud yang tengah mengajar murid-muridny adi Masjidil Haram segera keluar meninggalkan majelis tersebut untuk mengambil hewan tunggangannya beserta pedang dan baju besinya, lalu langsung bertolak ke medan perang. Penduduk kota Mekkah berkata kepadanya,”Tetaplah engkau disini wahai Ibnu Mubarak, bukanlah banyak orang selainmu yang telah ikut berperang? Namun ia menjawab dengan membacakan sebuah syair berbunyi
Kebencian hidup dan takut kepada Allah telah mengeluarkanku
Untuk menjual diriku dengan yang tidak terukur nilainya
Aku telah menimbang yang abadi dengan yang fana
Demi Allah ternyata keduanya tidak sama
Murid-murid Ibnu Mubarak mengisahkan bahwa ia termasuk orang yang sangat pemberani, dimana dalam hari pertama perang tersebut ia telah berhasil membunuh tujuh orang prajurit musuh yang menghadangnya
Ditengah-tengah berkecamuknya perang, ia Ibnu Mubarak menerima sepucuk surat dari Imam Fadhail ibn Iyadh, rekan beliau mengajar di Masjid Haram yang sisinya sebagai berikut,”Wahai Ibnu Mubarak mengapa engkau kelaur dari Masjidl Haram dan meninggalkan mengajarkan ilmu? Maka ia membalasnya dengan menuliskan sebuah syair yang berbunyi
Hai penyembah di Haramain
Bila kau tahu kami
Tentu beranggapan
Ibadahmu sekedar permainan
Orang beribadah melumuri leher dengan air mata
Sedang kami,melumuri leher dengan merah darah
Apabila banyak kuda berpayah, membela kebatilan
Maka kuda-kuda kami berbelah di hari pertempuran
Harum wewangian untuk kalian
Sedang untuk kami
Tombak-tombak dan debu-debu perang lebih harum
Telah datang pada kita semua ungkapan yang nyata
Yaitu perkataan jujur yang tidak ada dusta padanya
Tak akan bertemu debu kuda Allah yang menempel
Dihidung pejuang dan asap neraka yang menyala
Inilah kitab Allah
Yang telah berbicara pada kita tanpa dusta
Bahwa orang yang syahid tidak mati

Takalah balasan surat yang berisi syair itu sampai tangan Imam Faldh ibn Iyadh, berlinanglah air matanya dan pun sadar akan kebenaran yang disampaikan Ibnu Mubarak
Abdulllah bin Hudzaifah, salah seorang sahabat Rasulullah saw, yang ditawan tentara Romawi, lantas dibawa menghadap raja mereka untuk dilaporkan. Mereka berkata,”Ini adalah salah seorang sahabat Muhammad.
Raja Romawi berkata kepadanya,”Maukah engkau menjadi seorang Nasrani, hingga kusertakan engkau dalam kerajaan dan kekuasaanku
Abdulllah bin Hudzaifah menjawab, “Andaikata engkau memberikan seluruh yang kau miliki dan seluruh yang dimiliki bangsa Arab, agar aku murtad dari agama Muhammad saw sekejab mata saja, maka aku tidak akan melakukannya.
Raja mengatakan,”Bila begitu aku akan membunuhmu
Abdulllah bin Hudzaifah menjawab,”Terserah engkau!
Raja memerintahkan agar ia disalib dan berkata kepada para pemanah,”Panahlah dia di dekat kedua tangannya dan dekat kedua kakinya! Sementara sang raja tetap memberikan penawan, namun oa tetap menolak.
Raja memerintahkan untuk dihadrikan panci besar yang diisi air dan diletakkan di atas tungku hingga mendidih. Kemudian dihadirkan dua tawanan kaum muslimin. Raja memerintahkan agar salah satu tawanan tersebut dilembarpkan ke dalam paci tersebut, sembari memberi tawaran pada Abdullah untuk menjadi Nasrani, namun ia tetap enggan. Setelah itu raja memeintahkan agar dia diemparkan ke dalam paci tersebut. Akan tetapi, ketika digiring untuk dilemparkan, Abdulllah bin Hudzaifah menangis
Sang prajurit melaporkan kejadian itu kepada raja, hingga sang raja menyangka bahwa dia sedih dan menyesal. Raja memerintahkan agar ia dikembalikan dan ditawarkan kepadanya untuk menganut agama nasrani. Akan tetapi, dia tetap menolak.
Raja bertanya,”Lantas apa yang membuatmu menangis? Abdulllah bin Hudzaifah menjawab,”Saya menangis karena sya mengatakan pada diriku, Engkau akan dilemparkan ke dalam panci ini sesaat, lalu engkau akan segera musnah. Padahal, aku ingin agar jasad ini dilemparkan ke dalam paci itu berkali-kali sejumlah rambutku ini, karena mencari keridhaan Allah
Raja yang diktator itu berkata kepadanya, “Maukah engkau mencium kepalaku, hinagga aku akan membebaskanmu? Abdullah menjaab,”Juaga seluruh tawanan dari kaum muslimin? Raja menjkawabm “Dan seluruh tawanan dari kaum muslimin
Abdullah berkata, Aku berbisik pada diriku,”Aku mencium kepala salah satu musuh Allah, lalu ia akan membebaskanku dan seluruh tawanan dari kaum muslimin… Aku tidak peduli! Lalu ia mendekat kepada sang raja dan mencium kepalanya maka seluruh tawanan dari kaum musimin dibebaskan. Kemudian ia membawa mereka menghadap Umar untuk menceritakan aa yang terjadi kepadanya. Maka Umar
Anas bin malik mengisahkan bahwa ketika pamannya Haram bin Milhan ditusuk pada peristiwa bi’rul ma’unah (kisah para penghafal Al Qur’an yang diutus Rasulullah saw untuk mengajarkan Al Qur’an kepada suatu akamum atas permintaan mereka, lalu para penghafal itu dikhianati dan dibantai), ia mengusapkan darahnya pada wajah dan kepalanya seraya berkatan, “Sungguh aku beruntung, demi Rabbnya Ka’abh (HR Bukhari)
Seorang penyair terkenal di masa jahiliyah dan dimasa Islam Khansa, dengan bangga menyambut kabar kematian keempat putranya dalam perang Qadisiah, ia berkata,”Segala puji bagi Allah yang telah memuliakan saya dengan terbunuhnya mereka dalam surga yang penuh dengan rahmat-Nya. Padahal dimasa Jahiliyah ia pernah meratapi saudaranya yang meninggal
Sayid Quthub berkata,”Sesungguhnya fikrah-fikrah dan kata-kata kita hanya menjadi bangkai yang membeku, sampai kita (bersedia) mati karena membelanya dan menyiraminya dengan darah. Saat itu, fikrah akan hidup dan mengalir pada orang-orang hidup. Maka para thogut menjebloskannya dalam penjara dan memutuskan hukuman mati untuknya. Para thogut mengintrusikan kepada orang-orang yang dekat dengan thogut untuk membujuk Sayyid Quthub agar meminta maaf dan memohon grasi kepada penguasa, maka Sayyid menjawab dengan tegas dan lantang, ”Sesungguhnya jari yang setiap shalat bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah melainkan Allah dan bahwa Muhammad adalah rasul-Nya, tidak mungkin menulis sebaris pun kata-kata kehinaan. Bila aku dipenjara atau dasar kebenaran, maka aku ridha pada hukum yang benar. Namun, bila aku dipenjara atas dasar kabatilan (dizalimi), maka aku tidak akan meminta belas kasihan kepada kebatilan. Beliau juga pernah berkata, sebutir pelurumu yang nanti menembus kepalaku hanya akan membunuhku. Tapi tulisan dan buah pikiranku akan menembus ratusan, ribuan, jutaan kepala orang. Beliau juga berkata, “Saudaraku, engkau merdeka meski berada di balik jeruji penjara. Saudaraku, engkau merdeka meski diborgol dan dibelenggu. Bila engkau pada Allah berpegang teguh. Maka tipu daya musuh tidak membahayakanmu. Wahai saudaraku, pasukan kegelapan akan binasa dan fajar baru akan menyingsing di alam semesta lepaskan kerinduan jiwamu. Engkau akan melihat fajar dari jauh telah bersinar. Saudaraku, engkau jangan jenuh berjuang engkau lemparkan senjata dari kedua pundakmu. Siapakah yang akan mengobati luka-luka para korban dan meninggikan kembali panji-panji jihad? Akhirnya beliau pun syahad di tiang gantungan pada 29 agustus 1966 m. Dalam suatusi kesempatan Sayyid Qutub mengumangkan sebuah nasyaid
Saudaraku,
Kamu merdeka meski di balik jeruji
Saudaraku
Kamu meredeka meski terblenggu
Apabila kamu hanya bergantung kepada Allah
Maka, makar manusia tidak membahayakanmu
Qathr bin Fuja’ah pernah gentar menghadapi musuhnya yang kuat, karena para pengikutnya gugur dan sebagian lagi melarikan diri. Tetapi, ia yakin bahwa kematian tidak dapat dielakan, baik ia tetap berperang atau melarikan diri, maka ia tetap tegar dalam peperangan, sambil menyenandungkan syair :
Kukatakan pada diriku yang lari karena ketakutan
Pada musuh perkasa,”Celaka kamu, jangan takut!
Andai kau minta tetap di bumi, meski hanya sehari
Dan ketetapan ajalmu, tentu tidak akan dikabulkan
Bersabarlah dengan sebenarnya di medan kematian
Sebab tidak seorang pun mampu kekal di muka bumi
Khalid berkirim surat kepada para pemimpin Persia, Bisamillahirahmanirrhaim. Dai Khalid bin Walid untuk para pemimpin Persia. As Salamu ‘ala man ittba’al huda (semoga kesejahteraan terlimpah pada orang yang mengikuti petunjuk) sesungguhnya aku memuji Allah tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah, dengan pujian yang dapat melemahkan keteguhan kalian, memperorak-porandakan kebutuhan kalian, membuat kalian tidak berdaya dan merampas milik kalian. Apabila suratku ini telah sampai pada kalian, maka yakinilah jaminan perlindungan dariku, bayarlah jizyah padaku dan kirimlah harta jaminan. Bila tidak, maka demi Allah yang tidak tuhan yang berhak di ibadahi kecuali Dia, aku akan datang menemui kalian dengan membawa pasukan yang cinta kematian sebagaimana kalian mencintai kehidupan. Semoga kejahteraan terlimpah pada orang yang mengikuti petunjuk”
Ketika Ali bin Abu thalib tiba di shiffin, beliau tersenyum melihat seorang sahabat lain yang menantangnya berlaga. Ditanggalkannya baju besi yang dipakainya lalu berkata, “aku akan berdual melawanmu tanpa baju besi. Tapi sebelum duel itu berlangsung, beliau membacakan syairnya
Mana antara dua hari yang aku takuti
Hari yang telah atau belum ditentukan
Yang belum ditentukan tidak akau takuti
Takut tak selamatkan aku dari ketentuan
Dalam pertempuran Sa’id bin Mu’adz berkata kepada Sa’ad ibnu Rabi’ yang darah mengalir deras dari tubuhnya akibat terluka,” Apakah yang engkau inginkan saat ini, wahai Sa’ad ibnu Rabi ? Ia menjawab, “Sampaikan saja salamku kepada Rasulullah saw dan katakan semoga Allah membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan yang diberikan kepada seorang nabi. Demi Tuhan yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, sungguh kami telah mendapati apa yang telah Engkau janjikan kepada kami, ya Allah. Ketika itu ia belum melihat surga yang sesungguhnya namun ia telah melihat tanda-tandanya
Suatu hari, beliau saw naik ke atas mimbar lalu berpidato dengan suara lantang guna memicu semangat juang para sahabatnya untuk berperang melawan pasukan abu sufyan. Pada saat itu, sebenarnya beliau dan para pembesar sahabat menginginkan agar pasukan musuh dihadapi dari dalam kita madinah saja karena strategi seperti itu biasanya cukup efektif dalam menghadapi musuh dihadapi dari dalam menghadapi musuh. Akan tetapi karena beliau menghargai keberanian seorang pemuda anshar yang mengusulkan agar peperangan diadakan di luar madinah saja, beliau pun menyetujui usul pemuda tersebut. Pemuda itu pun berkata,”Wahai Rasulullah, keluarlah bersama kami ke bukit uhud dan janganlah engkau halangi aku dari masuk surga, karena demi Tuhan yang nyawaku berada di dalam gengaman-Nya, aku pasti akan masuk surga. Rasulullah saw dari atas mimbar tersemyum mendengarnya seraya bertanya,”Dengan apakah kamu akan masuk surga? Ia menjawab dengan dua perkara pertama bahwa aku mecintai Allah dan Rasul-Nya dan yang kedua aku tidak akan pernah mundur saat berlaga dengan musuh. Pemuda ini akhirnya menjadi orang pertama yang gugur sebagai syahid dalam pertempuran itu, maka Rasulullah pun berkata, Ia sungguh yakin kepada Allah, maka Allah pun mengabulkan cita-citanya
Seorang laki-laki tua yang dikenal dengan nama Khatsmah Abu Sa’d bin Khatsmah berkata kepada Nabi saw, ketika beliau sedang bermusyawarah dengan para sahabat ra dalam perang uhud, “Wahai Rasulullah, telah terlewatkan dariku perang badar, padahal aku sangat menginginkan untuk mengikutinya. Keingiananku itu sangat besar hingga terpaksa aku berundi dengan anakku untuk berangkat (badar), namun yang keluar adalah bagian anakku. Allah memberi anugerah syahid kepadanya dan sungguh saya adalah orang yang sangat merindukan ke-syahidan. Tadi madam saya (bermimpi) melihat anakku dalam sebaik-baik bentuk, ia tengah bersuka ria menikmati buah-buahan dan sungai-sungai surga, seraya berkata, susullah dan temanilah kami disurga! Sungguh aku telah menepati bahwa apa yang dijanjikan Tuhan-ku adalah benar adanya. Wahai Rasulullah, demi Allah, pagi harinya aku benar-benar rindu untuk menaminya di surga. Usiaku sudah telah tua, tulangku telah lemah dan aku ingin bertemu Tuhan-ku, maka doakanlah aku agar Alah memberikan rezeki ke-syahidan kepadaku, agar aku dapat menemani Sa’d (puterkau) di surga, wahai Rasulullah! Maka Rasulullah saw berdoa untukny dan ia menjadi suhada perang uhud
Seorang lelaki tua pincang, bernama Amr bin Jamuh, mempunyai empat anak pemberani, mereka selalu ikut bersama Rasulullah saw dalam berbagai peperangan. Pada saat perang uhud mereka berusaha mencegah ayahnya untuk tidak ikut berperang, mereka berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan ruhsah (alasan untuk tidak ikut dalam peperangan) kepda ayah karena Uszur! Maka ia datang menmui Rasulullah dan berkata, “Sesungguhnya anak-anakku hendak menghalang-halangiku untuk berperang bersamamu. Padahal demi Allah sesungguhnya aku ingin menginjakkan kakiku yang pincang ini disurga! Rasulullah saw berkata kepadanya, “Sesungguhnya Allah telah memberikan udzur padamu maka tiada kewajiban untuk berjihad (perang) atasmu. Rasulullah saw juga berkata kepada anak-anak amra r.a, “Kalian tidak mempunyai hak untuk menghalang-halangi, boleh jadi Allah menganugerahkan mati syahid padana ! akhirnya, “Amar ra berangkat berjihad bersama Rasulullah saw lalu ia terbunuh sebagai syuhada pada perang uhud.
Anas bin Malik ra mengisahkan bahwa ketikia pamannya Haram bin Mulhan ra ditusuk pada peristiwa bi’rul ma’unah, ia mengusapkan darahnya pada wajah dan kepalanya seraya berkata,”Sunguh aku beruntung, demi Rabbnya Ka’bah! (Bukharai)
Abu Hurairah meriwayatkan,”Ketika Hubaub bin Al Art ra ditawan kaum musrikin quraisy dan di bawa keluar dati tanah haram (makkah) untuk dibunuh, ia berkata kepada mereka, “Biarakan aku melakukan shalat dua rakaat! Kaum Quraisy pun memberi izin. Lantas ia pun melakukan shalat dua rakaat kemudian berkatakepada mereka, “Demi Allah, andai aku tidak khawatir kalauan tudah berkelauh kesah dan takut, maka akan kutambah rakaat shalatku. Setelah itu ia berdoa, “Ya Allah, hitunglah mereka satu persatu, hancurkan mereka sehancut-hancurnya dan jangan sisakan seorangpun dari mereka, kemudian ia emnyambung ucapannya dengan syairnya
Aku tak peduli saat terbunuh sabagai muslim
Apapun caranya, kematianku karena Allah
Untuk meraih ridha Rabb-ku an bila Ia mau
Adakan diberkahi potongan-potoangan dagingku (HR Bukhari)
Sai’id Nursi seorang mujahid dari Turki saat berjuang dengan teman-temanya sebanyak 15 orang pengikutnya di jatuhi hukuman mati oleh pengadilan Turki, hakim Hurshid Pasha berpaling ke arah Badi’us zaman Sa’id Nursi . “Apakah saudara juga menginginkan berlakunya hukum Islam di negeri ini? Tanya hakim. Badi’uz zaman menajawab dengan tegas dan berani, “Sekiranya saya memiliki seribu nyawa, dengan senang hati saya akan mengorbankan semuanya demi Islam. Segala sesuatu yang asing bagi Islam tidak dapat saya terima. Sekarang saya sudah siap melkaukan perjalanan keduani lain untuk bergabung bersama teman saya melalui tiang gatungan. Saya ingin sekali dan sudah tak sabar menanti. Saat plodoinya dengan keberanian seorang mujahid di depan pengadilan subsversi ia berkata,”Cobalah anda membayangkan seorang desa dari sebuah desa yang seumur hidupnya tidak pernah mengenal kesnangan, kemewahan dan kemegahan kota Istambul, maka akan tahu bagaimana ketidaksabaran saya untuk menuju akhirat itu.
Saat perang dengan Rusia beliau ditangkap dan dikunjungi oleah jendal Nicholas dari Rusia serta merta semua tahanan bersujud memberi hormat kepadanya, keculai satu orang dialah Sai’id Nursi. Beliau ditanya, apakah tahu siapa diri saya? Tanya sang jendral. “Ya satu tahu anda adalah Nicholas Nikolavih. Itu tidak jadi masalah, saya seorang muslim dan lebih unggul daripada orang kafir. Saya hanya menyembah Allah. Saya tak mau menta’zimkan anda,”jawabnya berani. Pada saat itu juga ia dibawa dan dituntut ke pangadilan perang. Ketika dijatuhi vonis human mati, ia hanya dizinkan untuk shalat dua rakaat sebelum ditembak. Kawan-kawan sesama tahanan menganjurkan agar minta maaf saja pada sang jendral. Tapi ia tidak mau, ”Mungkin hukuman ini bisa menjadi paspor bagiku untuk masuk surga yang abadi katanya yakin. Penglima Rusia itu kemudian mendekatinya dan berkata,”maafkan saya, karena keteguhan iman dan keberanian anda maka hukuman mati anda dengan ini saya batalkan,”kata sang Jendral
Khatab pahlawan afganisatan dan cheknya dari umur 18 tahun sudah berjihad di afgan, terus ke cheknya dan akhirnya syahid pada umur 32 tahun di racun sama pengkianat, saat masih sekolah beliau menulis di buku pelajaran
Racun akan membunuhmu
Menjadikanmu tak mamput berbuat apapun
Kehidupan adalah perjuangan
Menyelamatkan dirimu dri tetesan itu
Tetap menuju fana
Pilihlah cara yang baik bagi matimu
Membawa kemuliaan di surga dan
Sampai kau mati hanya karena urusan
Yang akan melemparkanmu ke neraka
Ustad abdulah saat di tahan di Nusa Kambangan sebelum di eksekusi menulis menulis syair dengan judul “Kata” ditemukan di kertas bekas rokok
Tiada kata yang akan dikata
Semuanya pernah berkata
Apalah artinya bertutur kata
Seikiranya hanya di ujung kata
Intan permata mudah dicari
Singgasana raja gampang dicapai mahligai cinta indah di belai
Nikmat syurga sudahkah dicapai
Dan ditemukan sajak di sel beliau di LP Batu
Nusa indah bunga pujaan
Nusa pulau idaman
Musakabangan pulau pesranggahan
Nusantara nun jauh jangkauan

Usah kau kenang masa yang lampau
Usah ku renang di lautan yang beku
Usah kau remang, masa dijangkau
Usah kau bimbang jauh di rantau

Syahdu teras kicauan burung
Shaid di mata rinduan pejuang
Salam shalawat isian peluang
Shaut menyihir nyanyian di ruang

Alankah bahagiannya hidup terasa
Alunan gelombang merebah pusara
Ali mata menambah cita rasa

Abu azzam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s