Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri : “Pelajaran dari Jihad Chechnya untuk Arab Spring”

 

Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang

Shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah SAW, sanak saudaranya, para sahabatnya, dan para pengikutnya.

Saudara-saudaraku, semoga keselamatan, rahmat dan berkah tetap tercurahkan kepada kalian.

Saya ingin berbicara kepada Anda hari ini tentang kejahatan berat yang terjadi di Mesir yang tertindas dan diperbudak, tapi sebelum itu saya ingin mengomentari beberapa berita yang disiarkan.

Berita tersebut  bersumber dari siaran BBC, dan kita semua tahu bahwa BBC adalah anjing piaraan Intelijen Inggris. Berita tersebut disiarkan pada hari Sabtu, tanggal 5 Oktober 2013, tentang kematian Jenderal Jiyab al Vietnami [Vo Nguyen Giap] pada usia 102 tahun. Mereka berkomentar pada keterampilan militer dan kejeniusannya. Ini mengingatkan saya pada media-media barat yang selalu menutup-nutupi kehebatan mujahidin, dalam hal ini diikuti juga oleh pemerintah dunia Islam dan media-media mereka.

Dalam dunia Islam kontemporer, banyak sekali orang-orang yang  lebih berani, lebih kuat dan lebih teguh dari General Jiyab, dan kemenangan yang mereka capai untuk kita lebih besar dan banyak dari yang dicapai oleh Jiyab.

Salah satu contoh yang paling terkenal dari hal ini adalah Perang Chechnya Pertama, dari Desember 1994 sampai Agustus 1996. Jika Jenderal Jiyab seorang Menteri Pertahanan dan Komandan Umum pasukan di Vietnam utara, maka perbandingannya diantara orang-orang Chechen adalah presiden mereka, seorang syahid, Aslan Maskhadov, semoga Allah memberikan rahmat-Nya yang luas pada dirinya.

Aslan Maskhadov bukanlah satu-satunya pahlawan kontemporer di kalangan orang-orang Chechen, dalam barisan mujahid Chechnya ada banyak pahlawan pemberani, termasuk Dzhokhar Dudayev, Zelimkhan Yandarbiyev, Shamil Basayev, Salman Raduyev, dan Ibnul Khattab, semoga Allah merahmati mereka semua.

Sederhananya , jika dibandingkan, maka ditemukan perbedaan besar antara Aslan Maskhadov dan Jiyab, dan Mujahid Aslan Maskhadov muncul sebagai salah satu pahlawan terbesar dari perang pembebasan di dunia pada zaman ini.

Pembicara As-Sahab Media :

– Di wilayah Chechnya yang mewakili medan perang hampir 15.000 kilometer persegi, bandingkan dengan wilayah Vietnam yang 330.000 kilometer persegi. Chechnya benar-benar dikelilingi oleh pasukan Rusia, sedangkan Jiyab memiliki tiga negara yang mewakili kedalaman baginya, mereka adalah Laos dan Kamboja dan China, yang merupakan sekutu besarnya.

Dan Chechnya adalah negara yang tidak memiliki laut, sementara Vietnam memiliki pantai yang panjangnya sekitar 3.500 kilometer.

Heroisme dari Mujahidin Chechnya dan pemimpin mereka yang berani Aslan Maskhadov muncul jika kita menyadari kurangnya jumlah pasukan dari orang-orang Chechnya, yang berjumlah hampir 1.000.000, sedangkan Vietnam memiliki 80.000.000 pasukan.

Chechnya tidak memiliki dukungan internasional, sedangkan China, Rusia, semua negara-negara Pakta Warsawa, dan Blok Timur mendukung Vietnam utara.

Pasukan yang dipimpin oleh asy-Syahid – kama nahsabuhu- Aslan Maskhadov di wilayah geografis yang terbatas ini hanya diperkuat oleh kisaran antara 2000-3000 Mujahidin. Di daerah kecil ini, Mujahidin Chechnya yang dipimpin oleh Aslan Maskhadov menghadapi setengah juta tentara Rusia, ditambah milisi pengkhianat Chechnya.

Sebaliknya, Jiyab memimpin pasukan pembebasan bersenjata, yang jumlahnya mencapai 2.000.000 pejuang, ditambah tentara Vietnam utara, yang dianggap merupakan tentara keempat terbesar dalam hal jumlah, dan salah satu tentara yang paling berpengalaman.

Dalam pertempuran yang menentukan akhir bulan Agustus 1996, yang memaksa Rusia untuk menyerah, jumlah Mujahidin Chechnya tidak lebih dari 6000 pejuang, sebenarnya hanya sekitar 800 Mujahidin yang memasuki Grozny pada Agustus 1996 – Kavkaz Centre), sedangkan di bawah kepemimpinan Jiyab, selama Serangan Tet yang terkenal pada bulan Januari 1968, ada 600.000 tentara. Pasukan Amerika dan sekutu mampu membuat mereka mengalami kerugian serius, dan memukul mundur serangan mereka setelah beberapa hari.

Dan Aslan Maskhadov, semoga Allah merahmatinya, mampu memimpin Mujahidin di Chechnya menuju kemenangan dalam 20 bulan, dari Desember 1994 sampai Agustus 1996, sedangkan Jiyab tidak mampu memimpin pasukannya menuju kemenangan kecuali setelah bertempur selama 16 tahun. Dan Allah mengizinkan Mujahidin, yang dipimpin oleh Aslan Maskhadov, berhasil membunuh 90.000 Rusia –yang diakui oleh Rusia- sementara perkiraan Mujahidin melebihi ini. Sedangkan korban di antara pihak Amerika di Vietnam  ‘hanya’ berjumlah 58.000 meninggal.

Sheikh Ayman Zawahiri melanjutkan :

– Dan meskipun kemenangan besar ini dari Mujahidin Chechnya di bawah kepemimpinan pahlawan Asy Syahid – kama nahsabuhu- Aslan Maskhadov rahimahullah, namun ada penutupan fakta dan berita tentang beliau dan umumnya perang Chechnya.
Maka muncul pertanyaan: Mengapa penutupan fakta akan pertempuran jihad ini diabaikan oleh dunia Islam selama empat setengah abad?

Alasannya adalah karena mereka Mujahid di Chechnya beragama Islam dan mereka berusaha untuk menghidupkan kembali kekhalifahan dan mempertimbangkan diri untuk menjadi bagian dari itu. Dan kesadaran yang tinggi dari mujahidin Chechnya akan diri mereka sendiri dan peran mereka di tengah-tengah umat mereka [negara Islam] ditunjukkan oleh asy-Syahid Presiden -kama nahsabuhu – Zalimkhan Yandarbiyev rahimahullah.

Siapakah Zalimkhan Yandarbiyev rahimahullah?

Zalimkhan Yandarbiyev adalah seorang penulis dan intelektual Chechnya, seorang Muslim, politikus veteran, dan asisten presiden sebelumnya asy-Syahid- kama nahsabuhu- Dzhokhar Dudayev rahimahullah. Dia adalah salah satu dari mereka yang paling yang mendorongnya [Dudayev] untuk mendeklarasikan Chechnya sebagai republik Islam atas nama Republik Ichkeria, dan menerapkan pengadilan Syariah di dalamnya.

Kemudian, beliau adalah orang yang mengambil tugas Presiden Republik setelah kesyahidan Presiden Dudayev rahimahullah. Beliau adalah presiden dari delegasi Chechnya untuk Imarah Islam Afghanistan, yang menandatangani perjanjian saling mengakui antara Imarah Islam Afghanistan dan Republik Ichkeria Chechnya. Beliau dibunuh, di Qatar di tangan agen intelijen Rusia.

Intelektual besar ini menulis sebuah buku penting yang berjudul “Chechnya: Kebijakan dan Realitas” (kemungkinan besar itu adalah buku “Chechnya :berperang untuk kemerdekaan” KC). Saya menyerukan kepada setiap Muslim, dan tentu saja kepada setiap orang terhormat yang menolak ketidakadilan di dunia ini, untuk membacanya, dan terutama mereka yang sedang melanjutkan perjuangan dalam revolusi Arab sehingga mereka dapat mencapai perubahan yang diinginkan.

Pembicara As – Sahab Media :

-Asy-Syahid –kama nahsabuhu- presiden Zalimkhan Yandarbiyev rahimahullah. Dari awal perang tidak pantas untuk membandingkan antara dua kekuatan, Rusia yang mengerahkan setengah juta pasukannya di pertempuran melawan mereka, dilengkapi dengan keahlian bersenjata, yang didukung oleh pesawat-pesawat tempur dan helikopter dan artileri dan sistem rudal dari semua jenis. Meskipun demikian, dan meskipun sumber daya yang tak terbatas yang dimiliki Rusia, mereka tidak mampu mematahkan perlawanan beberapa ribu Mujahidin Chechnya dengan persenjataan ringan, sebagian besar senjata mereka dapatkan dari pertempuran mereka dengan Rusia.

Senjata-senjata mujahidin Chechnya memang ringan, tetapi iman mereka kepada Allah sangat kuat. Dari sudut pandang ini, kita dapat menafsirkan tantangan mujahidin Chechnya terhadap kekuatan yang tidak seimbang ini dan kemampuan mereka untuk mengalahkannya.

Dan kita dapat melihat Allah berada di pihak mereka dalam perang ini, di mana musuh memiliki pasukan lengkap yang melebihi kemampuan mereka, dan berperang dengan rasa kebencian dan kekejaman terhadap Islam.

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Kemenangan yang dicapai oleh orang-orang Chechen pada tahun 1996, dan perjuangan heroik mereka di hari ini, mengingat perbedaan-perbedaan yang luar biasa, adalah bukti dan tanda yang jelas di depan mata kita, bahwa beriman kepada Allah dan tetap teguh di jalan yang lurus membuat segala sesuatu menjadi mungkin, termasuk mengalahkan musuh-musuh kita, tidak peduli sekuat apapun mereka.

Demi mengajak umat Islam kepada semangat keislaman, dan kepercayaan mereka akan kasih, karunia dan kekuatan Allah, membuat mereka tidak takut siapa pun. Maka restorasi (kebangkitan kembali) kejayaan masa lalu umat adalah suatu hal yang dapat dicapai jika kita menerima apa yang Allah tentukan kepada kita, dan memulai hal-hal yang bisa kita capai.

Dan pertanyaan sesungguhnya adalah: Apakah kita, sebagai Muslim, siap untuk mengikuti jalan mujahidin Chechnya, dan mendaftarkan diri di barisan pejuang yang berjuang atas nama Allah?”

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Apakah umat Islam perlu bukti lain untuk membuktikan bahwa agresi Rusia adalah bagian dari kampanye perang salib, dan dengan kata lain, pertempuran yang dilakukan agar kampanye itu gagal adalah jihad. Ini adalah jihad sejati, bukan hanya karena jihad untuk membebaskan Chechnya, tetapi juga jihad untuk membela umat Islam”.

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Mengenai pertanyaan terkait dengan bagaimana memahami kata jihad di Kaukasus dan dunia Islam, dapat dikatakan bahwa jihad harus dipahami sebagai jihadnya seluruh kaum muslimin. Jihad di Chechnya dipandang sebagai bagian dari jihad yang mulia, yang mengembalikan kepada sejarah saat di mana kegemilangan kekhalifahan Islam. jihad ini bertujuan untuk menghidupkan kembali persatuan Islam, dan hanya itulah alat dan metode di mana umat Islam, di seluruh dunia, akan dibebaskan dari belenggu setan”.

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Dan lebih dari itu, selain Dagestan dan Chechnya, wilayah kaukasus juga merupakan bagian tak terpisahkan dari negara Kekhalifahan Islam. Berdasarkan hal ini, jihad hari ini adalah fardhu ain agar supaya membebaskan negara ini dari invasi ateis (Rusia), dan masing-masing dari kita harus memenuhi perannya dengan mengharap ridho Allah, Tuhan semesta alam”.

Dan beliau rahimahullah juga mengatakan :
“Jihad di Chechnya bukanlah hal yang baru, akan tetapi itu adalah salah satu tahap dari tahapan jihad, yang sejarahnya kembali pada saat perang Badar, di bawah kepemimpinan Nabi Muhammad, atau bahkan sebelum itu, pada saat pertempuran nabi Dawud dengan Jalut. Berjuang untuk Chechnya adalah halaman lain dari halaman jihad yang selalu ada sehingga tercapainya keadilan sejati yang diridhoi Allah”.

Syaikh Ayman az Zawahiri melanjutkan :

Dalam pengertian Islam dan jihad yang elegan, yang ditetapkan oleh pemimpin besar Zalimkhan Yandarbiyev rahimahullah, kepada para pengikut dan rakyatnya, sehingga bangsa Chechen mampu, sampai hari ini, untuk menahan invasi Rusia selama empat setengah abad.

Oleh karena itulah, media-media barat dan dunia barat bersikeras untuk menutupi kepahlawanan, ketabahan, dan kemenangan mereka.

Dan setelah kemenangan bangsa Chechen atas Rusia dalam peperangan pertama,dan Insya Allah  mereka akan menang dalam peperangan kedua yang sedang berlangsung saat ini. Saya katakan bahwa kemenangan bangsa Chechen mirip dengan kemenangan pejuang dari wilayah Rif/Maghrib (Maroko), yang dipimpin oleh Mujahid Muhammad Ibn Abdul Karim Al – Khattabi rahimahullah, di beberapa pertempuran melawan Azwad (angkatan darat spanyol dari afrika), yang paling terkenal di antaranya dan terbesar yaitu pertempuran di Anwaal. Dalam pertempuran itu, sekitar seribu mujahidin dihadapkan dengan 25.000 pasukan Azwad. Mereka (Mujahidin) mengalahkan mereka dengan telak dan membunuh 16.000 dari mereka.

Saya yakin bahwa sebagian besar orang Arab dan Mesir tidak tahu apa-apa tentang Anwal, dan tidak mempelajari di sekolah mereka melainkan hanya diajarkan pelajaran sejarah yang sudah dipotong, meskipun fakta bahwa sejarawan perang gerilya menyebutkan bahwa perang tersebut adalah satu perang pembebasan terhebat dalam pertempuran melawan kolonialisme. Memang, Syaikh Abu Mus’ab As-Suri, semoga Allah membebaskannya, menyebutkan dalam bukunya bahwa Mao Tse-Tung mengatakan bahwa Abdul Karim Al – Khattabi rahimahullah, adalah salah satu guru militer terbesar dalam perang gerilya.

Seseorang mungkin bertanya-tanya apa kaitannya dari Mujahidin Chechnya dan apa yang terjadi di sana dengan apa yang terjadi di Mesir, Tunisia dan Libya, dan ini adalah pertanyaan yang saya ingin jawab.

Kaitan antara mereka adalah bahwa bangsa Chechnya sabar dan tabah oleh karena itu mereka menang, yang bersabar dan berpegang teguhlah yang akan menang. Chechnya tidak hanya bersabar untuk satu atau dua tahun, tetapi mereka bersabar selama empat setengah abad, dan penyebabnya sangat jelas, mereka ingin merdeka agar supaya bisa mendirikan negara Islam.

 

Ayman Azh-Zhawahiri, dari pidato “Emansipasi (bebas) dari kesia-siaan dan Kegagalan”

Diterbitkan oleh As- Sahab Media , Rabiul Awwal 1435/January 2014.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s