Waspada Terhadap Ekstremisme Agama

kepalan-jpg
Dr. Abdul Aziz ibn Muhammad Ali Abdul Latif 

Sungguh Nabi kita Muhammad shallallahu alaihi wasallam merupakan manusia yang paling pintar, paling fasih dan paling senang memberi nasehat. Terbukti dengan sabdanya :

«أيها الناس! إياكم والغلو في الدين، فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين»

“Wahai manusia! waspadalah terhadap sikap ekstrem dalam beragama. Orang-orang terdahulu sebelum kalian itu binasa karena sikap ekstrem mereka dalam beragama”. [HR. Ahmad, Juz I, hal. 215; an-Nasai, No. 268; Ibn Majah, No. 3029]

Dalam menjelaskan hadits ini, Abul Abbas Ibn Taimiyah menyatakan bahwa : “Sabda Nabi : “Waspadalah terhadap sikap ekstrem dalam beragama”. Berlaku umum dalam perkara aqidah dan amalan.

Ekstremisme yang dalam bahasa Arab disebut al-Ghuluw adalah sikap melampaui batas berupa melebihkan pujian ataupun celaan dari batas yang wajar. [Al-Iqtidha, Juz I, hal. 289]

Al-ghuluw dan al-ifrath/ekstrem sama dengan at-taqshir dan at-tafrith/lalai karena keduanya melampaui batas yang ditetapkan syariat dan menyimpang dari jalan yang lurus. Oleh karena itu Makhlad ibn Husain rahimahullah berkomentar : “Allah tidak menyerukan sesuatu kepada hambanya kecuali Iblis menghalangi mereka dengan salah satu dari dua hal. Yaitu bersikap ekstrem atau bersikap longgar di dalamnya. Sikap mana saja di antara keduanya diambil, Iblis tetap menang.” [Hilyah al-Auliya’, Juz VIII, hal. 266]

Jiwa yang ditimpa sifat ekstrem selalu mengarahkan kehidupan dunia ini untuk mengkultuskan orang-orang hidup yang tidak ma’shum, dan memenuhi angkasa dengan seruan dan teriakan demi untuk perkara-perkara ijtihadiyah yang memungkinkan terjadinya khilaf di dalamnya.

Demikianlah realitasnya, jika ilmu berkurang maka kejahilan menyebar, jika keadilan hilang maka muncullah kezhaliman. Sedang jiwa yang diserang penyakit ghuluw terguncang diantara kejahilan yang nyata dan kezhaliman yang parah.

Sikap esktremisme selalu mengantar jiwa memburu kepentingan dan meremehkan orang lain. Karena tabiat jiwa manusia senantiasa mencintai kedudukan, sehingga cenderung egois dan tampil berbeda dari manusia umumnya, baik dalam hal makanan, minuman, pakaian, kendaraan, maupun dalam perkara pemikiran, sikap keagamaan ataupun ibadah. [Lihat : al-I’tisham, Juz I hal. 49 & 215-217, editor Masyhur;Dar al-Ta’arudh, Juz VIII, hal. 86]

Orang-orang yang bersikap ekstrem itu senantiasa diliputi sikap ghurur/sombong, dibarengi sifat kagum terhadap diri sendiri, dan dikuasai oleh pendapat sendiri.

Sebagaimana ditegaskan oleh Ibnal-Wazir rahimahullah dalam pernyataannya : “Sikap yang dominan pada diri para pelaku bid’ah adalah sikap kagum yang berlebihan terhadap diri sendiri, padahal sikap seperti ini termasuk diantara sanksi yang diberikan Allah. Sungguh banyak atsar yang menerangkan bahwa sikap kagum terhadap diri sendiri merupakan salah satu faktor yang mendatangkan kebinasaan. Salah satu bukti bahwa sikap tersebut merupakan sanksi dari Allah adalah anda dapat melihat bahwa pelaku kesesatan itu orang yang paling banyak membinasakan dan meremehkan orang lain”. [Diadaptasi dari : Itsar al-Haq ‘ala al-Khalq, hal 429]

Keangkuhan dan sikap merendahkan umat Islam lainnya ini akhirnya menanamkan perasaan dan sikap sebagai perwalian bagi orang lain, hak untuk menguji orang lain dan eksplorasi atas apa yang ada dalam dada mereka, dan investigasi terhadap para pelanggar! Seperti yang terjadi pada diri kaum Khawarij dan semacamnya.

Ibn Sirin rahimahullah menyatakan : “Pertanyaan seseorang kepada saudaranya; apakah anda beriman itu merupakan ujian bid’ah sebagaimana orang-orang Khawarij.” [Al-Lalakai,Ushul al-Sunnah, Juz VI, hal. 988]

Ibrahim ibn Husain ibn Dizal, (wafat tahun 281 H) : “Banyak protes dan bertanya adalah agama orang-orang Khawarij.” [Al-Zahabi,al-Siyar, Juz XIII, hal. 189]

Selain itu, mengagumi pendapat pribadi yang tertanam dalam diri orang-orang ekstrimis menyebabkan mereka intoleransi, memusuhi, senang debat, banyak bertanya dan protes.  Al-Mubarrid mengomentari orang-orang Khawarij dan menyatakan : “Di tengah kaum Khawarij terdapat orang-orang yang senang  protes terhadap sejumlah besar penyair dan ahli pidato mereka.” [Al-Kamil, Juz II, hal 162]

Nafi’ ibn al-Azraq pernah mendatangi Ibnu Abbas untuk bertanya hingga Ibnu Abbas bosan dan nampak kemarahannya. [Ibid, Juz II, hal. 168]

Sikap tersebut menyebabkan mereka banyak berselisih dan berpecah. Karena orang-orang ekstremis itu adalah kelompok yang paling mudah berpecah dan berkonflik di banding dengan kelompok-kelompok lainnya. Sebagai contoh orang-orang Khawarij terpecah menjadi dua puluh sekte [Lihat: Al-Bagdadi,al-Farq baina al-Firaq, hal 72]. Satu sekte mereka seperti Ibadhiah terbagi lagi menjadi beberapa sekte kecil, dan seterusnya.

Perpecahan merupakan perkara yang menetap pada kelompok ekstremis sebagaimana telah nyata pada masa klasik maupun masa kini. Meski mereka gagah dan pemberani, sayangnya sikap ekstrem dan perpecahan mereka menjadikan pandangan dan warisan ilmiah mereka lemah. Sekte al-Azariqah misalnya yang merupakan sekte yang paling ekstrem muncul sekitar tahun 64 dan bubar pada tahun 77 H. [Lihat: al-Sa’wi,al-Khawarij; Ammar al-Thalibi,Ara’ al-Khawarij al-Kalamiah]

Jiwa ekstrem bukanlah jiwa yang normal dan stabil sehingga ia senantiasa diliputi kegoncangan dan rasa bimbang. Akibatnya sering kali jiwa seperti ini menggabungkan antara hal yang kontradiktif dan mendukung pandangan yang saling berlawanan.

Bagi orang yang menelaah buku-buku tentang agama dan pemikiran seperti pemikiran Khawarij misalnya, akan banyak menemukan fenomena seperti itu.

Hal seperti itu juga terjadi pada pemikiran Mu’tazilah yang tergolong ke dalam kelompok wa’iediyah / mengedepankan nash-nash ancaman. Sekte ini menyatakan bahwa pelaku dosa dari kalangan orang-orang beriman kekal di dalam neraka seperti tertuang dalam “pancasila” mereka. Tetapi di antara mereka terdapat sekte yang dikenal dengan Murji’atul Mu’tazilah yang menyatakan bahwa orang-orang kafir tidak kekal di dalam neraka. [Lihat: Ibn Katsir,al-Bidayah, Juz XI, hal. 322]

Sikap ghuluw juga dapat memicu lahirnya kezhaliman dan agresi kepada pihak lain. Selanjutnya kezhaliman tersebut membawa mereka ke dalam jurang kebinasaan dan kemusnahan. Sebagai contoh, Khawarij misalnya, pada saat mereka menempuh cara anarki maka mereka diperangi oleh Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu hingga mereka binasa dan musnah.

Hal seperti itu dikomentari oleh Ibn Taimiyah bahwa : “Apabila manusia mengikuti keadilan niscaya ia akan menang atas lawannya. Sebaliknya jika manusia melenceng dari keadilan maka musuhnya akan serakah padanya.” [Al-Dar’u, Juz VIII, hal. 409]

Kenyataan ini disadari oleh al-Muhallab ibn Abi Shufrah sehingga ia berani bertarung dengan orang-orang Khawarij selama dua puluh tahun. Ia pernah menyatakan kepada putra-putrinya : “Jangan mulai menyerang mereka hingga mereka yang memulai agar mereka tidak mengalahkan kalian, karena kalau mereka yang memulai perang terhadap kalian niscaya kalian akan mendapat pertolongan dan memenangkan perang atas mereka.” [Al-Mubarrid,al-Kamil, Juz II, hal. 277]

Keterbatasan ilmu dan hilangnya sikap adil dari orang-orang ghuluw ditambah dengan sikap sensitif yang berlebihan terhadap orang yang menyelisihi mereka menyebabkan lahirnya sikap antipati. Sejumlah pemikiran mereka lahir dari sikap antipati dan merupakan hasil pemikiran dan sikap terhadap berbagai kasus yang dihadapi. Misalnya mungkin sifat bangga diri dan kebencian yang berlebihan terhadap para pemimpin, itulah yang menyebabkan sekte Annajadat yang beraliran Khawarij itu berpendapat bahwa : “Manusia tidak harus memiliki pemimpin, cukup mereka mengusung dan menjaga kebenaran di antara mereka saja.” [Lihat: Ibn Hazm,al-Fishal, Juz I, hal. 149]

Nampaknya sikap bangga diri dan kejahilan terhadap sunnah Nabi shallallahu alaihi wasallam menyebabkan sekte Assyabibah yang juga beraliran Khawarij itu berpendapat membolehkan wanita menjadi pemimpin mereka. Dimana mereka mengklaim Gazalah Ummu Syabib sebagai pemimpin mereka pasca terbunuhnya Syabib. [Lihat: Al-Bagdadi,al-Farq baina al-Firaq, hal 110]

Catatan :   Anehnya kader wanita Khawarij itu memiliki pengaruh yang kuat. Sebagai contoh, Imran ibn Hatthan menikah dengan kader Khawarij dengan maksud menariknya kembali ke dalam mazhab Ahlus Sunnah tetapi ternyata istrinya lebih kuat pengaruhnya hingga ia masuk ke golongan Khawarij dan menjadi satu da’inya.

                      Contoh lain, Ibn Muljim menikah dengan kader Khawarij yang lumayan cantik dengan perjanjian ia harus membunuh Ali ibn Abi Thalib radhiyallahu anhu. (lihat:al-Bidayah, Juz VII, hal. 326).

                      Dalam kitabal-Tanbih, al-Multhi menceritakan bahwa kader-kader wanita Khawarij itu berperang dengan menunggang kuda yang tersembunyi.

                      Dalam kitabal-Sunnah hal. 48, Muhammad ibn Nashr al-Marwazi menyebutkan bahwa al-Rubayyi’ pernah ditanya kalau ada wanita Khawarij yang mengklaim bahwa di zaman Nabi terdapat kaum wanita yang berperang dan membunuh bersama Nabi. Ia menjawab: Kami dahulu ikut berperang tetapi tidak membunuh musuh.

Kalau jiwa yang ekstrem itu selalu dibarengi penyimpangan, baik dalam perkara aqidah atau amalan karena sikap wara’ yang palsu dan berlebihan melahirkan penyimpangan dalam agama Islam [Lihat: Ibn taimiah,al-Fatawa, Juz XXIX hal. 312,Minhaj al-Sunnah, Juz III, hal. 400], maka berlebih-lebihan dalam melawan sikap ghuluw dan mengikis ekstremisme serta melalaikan sikap acuh dan apatis juga dapat membawa seseorang kepada sikap apatis dan acuh sebagaimana telah banyak terjadi dan nyata dalam kehidupan.

Oleh karena itu, maka yang harus dilakukan adalah meniti jalan tengah nan lurus dengan tetap komitmen kepada sunnah Nabi, mendalami ilmu syar’i, bersikap adil dan imbang antara sikap ekstrem dan apatis. Menyusul bantahan dan solusi terhadap sikap ekstrem dan apatis tanpa berlebih-lebihan ataupun meremehkan. Tetapi memberi solusi terhadap setiap penyimpangan secara proporsional.

Kalau orang-orang ektremis itu jahil terhadap syariat dan berlaku zhalim kepada yang lain, maka Ahlus Sunnah benar-benar memahami sunnah dan menyayangi orang lain. Mereka senantiasa mengusung kebenaran, membela dan menyebarkannya, dan pada saat yang sama mereka juga menyayangi orang lain dan mencintai kebaikan dan keselamatan baginya.

Dengan demikian cahaya agama memupus hawa nafsu dan menghapus bid’ah. Dan dengan keadilan akan terwujud sikap menempatkan orang lain sesuai dengan posisi yang layak baginya dan pada akhirnya akan terwujud kemenangan dan kejayaan.

Wabillahi at-taufiq

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s