Hadiah Kwitansi Jihad

Ilustrasi, Jihad dengan Harta di Jalan Allah

Kita tahu, bahwa kondisi umat Islam sekarang ini tengah mengalami masa-masa sulit. Di mana-mana, di berbagai belahan bumi, rata-rata umat Islam mengalami penindasan. Baik itu yang tampak mata maupun yang terselubung. Baik itu yang ditindas secara fisik, maupun yang dijajah secara tersistem di bidang ekonomi, politik, budaya atau pendidikannya. Umat Islam hari ini tengah terjajah oleh kekuatan-kekuatan dunia yang memposisikan diri mereka sebagai lawan dan penentang dakwah Islam.

 

 

Melihat ini semua, apalagi yang jelas-jelas tampak secara fisik, seperti pembantaian saudara muslim kita di Syria, Afrika Tengah, Palestina, Burma, Turkistan Timur (Xinjiang), dan tempat-tempat lainnya yang tersebar begitu luas, pastinya hati kita merasa terketuk dan terpanggil untuk memberikan bantuan. Umat Islam ini adalah sebuah konstruksi yang antar-komponennya saling menopang satu sama lain. Demikian Rasul mengajari kita tentang konsep persaudaraan sejati. Dalam analogi lain, beliau katakan umat Islam adalah satu tubuh. Jika salah satu organ ada yang sakit, baik karena faktor internal atau eksternal, maka organ lain secara otomatis akan merasakan pula rasa sakitnya. Jika perasaan ikut menderita atas kezaliman yang menimpa saudara seiman ini saja—yang merupakan standar minimal dari arti sebuah ikatan iman—tidak kita dapati dalam diri kita, maka sudah saatnya kita melakukan introspeksi dan evaluasi akan keseriusan iman kita. Jangan-jangan, iman itu mulai memudar tanpa kita sadar.

Bagi kita yang tinggal di Indonesia ini, memang banyak kendala untuk bisa hadir secara fisik mendampingi mereka yang tengah tertindas itu yang berada nun jauh di sana sebagai pemenuhan atas seruan ibadah jihad. Namun, bukan berarti ketidakmampuan itu boleh menjadi alasan untuk tidak berbuat apa-apa dan hanya rela terpaku melihat tayangan-tayangan kekejaman itu dirilis di media massa.

Ada banyak hal yang bisa dan harus kita perbuat untuk meringankan beban mereka atau membantu para pejuang muslim yang berjihad secara fisik membela saudara-saudara muslim di tempat-tempat itu. Salah satu hal penting yang bisa kita tempuh adalah berjihad dengan harta yang kita miliki. Jihad harta ini menjadi sisi amat krusial sebagai penopang keberlangsungan jihad militer. Maka, keterlibatan kita di medan jihad yang satu ini sungguh sangat berarti.

Jihad Harta

Dr. Nawwaf Takruri[1], dalam bukunya Al-Jihâd bi al-Mâl fî Sabîlillâh (Jihad Harta di Jalan Allah), mengemukakan definisi jihad harta yang dipandang secara umum dan khusus. Definisi umum jihad harta menurutnya yaitu menyumbangkan harta dalam segala bidang kebaikan yang mengantarkan kepada keridhaan Allah Ta’ala. Seperti membangun masjid, lembaga pendidikan, fasilitas kesehatan untuk umat, memberi nafkah anak-anak yatim, beasiswa belajar, menyantuni fakir-miskin dan sebagainya. Intinya, sumbangan harta itu mendatangkan maslahat di tengah-tengah umat, baik yang dirasakan secara individu maupun kolektif, bahkan umat non-muslim pun tak jarang dapat turut menerima manfaatnya.

Sedangkan secara khusus, jihad harta adalah menyumbangkan harta untuk mendukung bidang-bidang yang terkait dengan jihad militer. Seperti, membeli senjata, perlengkapan tempur, membangun pabrik senjata, gudang logistik perang, memberi tunjangan keluarga mujahidin dan lainnya yang semuanya terkait dengan pengembangan kekuatan umat Islam dalam segala bidang jihad militer yang bertujuan untuk memerangi musuh-musuh Islam.

Dr. Nawwaf Takruri menegaskan, semua teks (nash) umum tentang menyumbangkan harta (infak) mencakup pengertian jihad harta secara khusus, namun tidak berlaku sebaliknya. Contoh teks ayat tentang jihad harta dalam arti umum, yaitu,

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah, kemudian mereka tidak mengiringi apa yang dinafkahkannya itu dengan menyebut-nyebut pemberiannya dan dengan tidak menyakiti (perasaan si penerima), mereka memperoleh pahala di sisi Rabb mereka. Tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (Al-Baqarah: 262)

Sedangkan ayat tentang jihad harta dalam makna spesifik misalnya,

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (Al-Hujurat: 15)

Sebagai amal nyata kita yang belum mampu melakukan jihad dengan jiwa dan raga, maka jihad harta ini adalah solusi tepat. Dan semoga, jihad harta yang kita lakukan bermakna sebagai semacam ‘mukadimah’ yang akan mengantarkan kita kepada jihad total dengan nyawa dan raga, suatu saat kelak. Melihat kondisi umat Islam yang semacam ini, kita pun akan dapat menentukan prioritas target infak dan sedekah, serta zakat kita. Tentunya, yang lebih membutuhkan dan mendesak yang harus kita utamakan.

Dengan memahami konsep ini, maka marilah kita menata niat kita di setiap kesempatan ketika akan mengeluarkan infak. Jadi, jangan sekedar kita niatkan untuk memberi bantuan sukarela dan dana sosial atau kemanusiaan semata, namun dengan niat tulus untuk membiayai keperluan-keperluan jihad para mujahidin beserta aktivitas yang melingkupinya. Sehingga, insyaallah, pahala yang kita terima akan tercatat sebagai pahala jihad harta yang maksimal di sisi Allah.

Selain diri kita yang harus memulai berjihad dengan harta yang kita punya, kita pun memiliki tugas untuk juga mengobarkan semangat jihad ini di tengah-tengah umat. Dengan begitu, satu sisi kebutuhan jihad umat teringankan. Dari kepingan-kepingan uang receh yang kita kumpulkan, yang dilandasi niat ikhlas demi jihad fie sabilillah, insyaallah akan menjadi kekuatan besar yang berpadu dengan semua potensi umat. Inti kekuatannya terletak pada kualitas keikhlasan niat kita, sebelum pada nominal rupiah yang kita keluarkan.

Semoga, hati para aghniya` (orang-orang kaya) umat Islam mulai terketuk demi menyaksikan ketertindasan kaum muslimin di mana-mana. Mudah-mudahan hati mereka tergerak untuk segera menyalurkan hartanya ke medan-medan jihad di seluruh dunia. Sebab, harta itu adalah amanah dari Allah yang harus dipenuhi hak-haknya.

Lalu, bagaimana jihad harta bagi kita yang dikaruniai Allah rezeki harta yang hanya ‘pas-pasan’ menurut penilaian kita? Sebetulnya, banyak sekali ‘celah’ yang masih mungkin untuk kita siasati agar kita  bisa pula berkontribusi dalam jihad harta bersama-sama dengan para aghniya`. Berapapun besar uang yang kita mampu sisihkan dari penghasilan harian kita, itu akan sangat berarti. Syaratnya, keikhlasan demi mendapat ridha Allah, jangan pernah dilupakan. Di samping itu, kalau mau dicermati lebih jeli lagi, dari sekian banyak pos-pos pengeluaran harian kita, masih memungkinkan untuk dipilah mana-mana yang bernilai tabdzir (pemborosan) dan mana-mana yang memang merupakan kebutuhan.

Kita harus selalu mengingat pesan klasik bahwa seratus rupiah saja uang yang kita belanjakan untuk sebuah kemaksiatan adalah bentuk tabdzir yang akan kian mendekatkan kita pada jalan setan. Sebaliknya, jutaan rupiah yang kita keluarkan untuk biaya jihad fie sabilillah tidak pernah dinilai sebagai tabdzir oleh Allah. Justeru pahalanya akan semakin berlipat-lipat.

Dalam buku yang telah disebut di muka, Dr. Nawwaf Takruri berbagi tips dan saran yang perlu kita coba, demi menyiasati manajemen keuangan kita agar tetap mampu berjihad dengan harta meski dalam kondisi terbatas. Diantaranya, beliau tuliskan sebagai berikut.

  1. Ubahlah sistem belanja rumah tangga dari gaya kelas atas ke kelas menengah. Alokasikan dana selisih belanja itu untuk keperluan jihad dan mujahidin.
  2. Lepaskanlah perhiasan yang berlebih-lebihan. Atau, perhiasan yang tidak sepatutnya dipakai. Seperti, cincin atau kalung emas yang haram dipakai oleh kaum pria, lebih baik diinfakkan untuk mendanai kebutuhan jihad.
  3. Berusahalah untuk berpuasa sunah dan berbukalah dengan hidangan yang sederhana. Hasil penghematan pengeluaran bisa diinfakkan fie sabilillah.
  4. Hindarilah perjalanan haji dan umrah yang sunah (haji atau umrah untuk kedua kali atau lebih) dan alihkanlah dananya untuk keperluan jihad.
  5. Doronglah putra-putri Anda untuk menabung sebagian uang jajan sekolah mereka untuk disisihkan bagi keperluan perjuangan Islam.
  6. Kurangi kebiasaan mengundang teman dan kolega untuk acara makan-makan di restoran atau di rumah. Hindarilah tabdzir dalam acara pesta pernikahan, atau pesta-pesta tasyakuran yang tidak sewajarnya.

Beliau juga memberi nasehat kepada para perokok untuk berhenti merokok dan mengalokasikan uang belanja rokoknya untuk berinfak fie sabilillah. Selain mendapat pahala, orang tersebut juga akan mendapatkan badan yang sehat sekaligus. Satu hal yang cukup menarik dari saran beliau juga yaitu saran untuk mengganti bingkisan dan hadiah ucapan selamat, atau rangkaian bunga duka cita, dan lain sebagainya dengan kwitansi infak fie sabilillah.

Barangkali, untuk poin yang terakhir ini bisa kita terapkan jika misalnya kita mendapati ada saudara atau tetangga yang mengalami sakit. Biasanya, kita akan menjenguknya dengan membawakan oleh-oleh buah-buahan, makanan-makanan istimewa atau amplop berisi sejumlah uang untuk membantu pengobatannya. Jika kebetulan saudara atau tetangga kita itu orang yang secara materi sangat berkecukupan, tentunya, bingkisan apapun, atau amplop uang tidak begitu ia butuhkan. Alangkah bahagianya ia jika yang kita berikan kepadanya adalah selembar kwitansi infak jihad fie sabilillah atas namanya. Jadi, uang yang awalnya akan kita berikan kepada si sakit, kita infakkan atas namanya melalui lembaga-lembaga penyalur dana jihad, lalu kita mintakan kwitansi dengan namanya yang tertulis pada kwitansi tersebut sebagai pemberi donasi jihad fie sabilillah. Ini sekaligus sebagai terapi penyembuhan penyakit melalui sedekah. Tampaknya akan sangat indah jika umat Islam bisa mensosialisasikan cara jihad harta yang unik ini hingga menjadi ‘tren’ dan membudaya di tengah-tengah umat. Di satu sisi kita tetap bisa memberi hadiah kepada si kaya, di sisi lain benar-benar membantu saudara-saudara kita yang sangat mendesak kebutuhannya di medan-medan jihad.

Membangun kesadaran infak fie sabilillah, memang hal yang tak mudah. Ada banyak faktor duniawi yang membuat kita lupa hal itu. Lupa akan saudara-saudara kita di belahan bumi lain yang hidup dalam pengungsian dengan fasilitas serba terbatas, tanpa sandang dan makanan yang memadai. Terkadang, tidur pun cukup beralas kardus beratap langit. Lebih menyedihkan lagi jika ada bayi-bayi yang turut menjadi korban keganasan dan kekejaman orang-orang kafir di pengungsian. Bayi-bayi mungil itu harus berjuang melawan hawa dingin, panas, atau segala perubahan kondisi cuaca yang tak menentu.

Dengan menghadirkan bayangan-bayangan itu dalam benak kita, rasa empati akan terefleksi dalam batin kita sehingga memunculkan semangat bekerja dan berinfak sebanyak-banyaknya untuk kepentingan perjuangan Islam. Selain itu, kita juga perlu membanding-bandingkan semangat kita dengan semangat musuh-musuh Allah dalam memperjuangkan keyakinan mereka yang batil. Yahudi, misalnya. Mereka itu, jangan ditanya soal kedermawanan dan solidaritasnya antar-sesama Yahudi.

Orang Yahudi sangat akrab dengan kata tzedekah (Arab: shadaqah). Anak-anak Bar Mitzwah (baligh dalam konsep Yahudi: usia 13 untuk laki-laki dan 12 tahun untuk perempuan) diwajibkan untuk memiliki pushke (kotak sedekah—tzedekah box) pribadi. Penanaman nilai kedermawanan di kalangan Yahudi sangat ditekankan. Sehingga, sejak kecil, anak-anak mereka terbiasa hidup dengan sikap berhemat, bersedia menunda kenikmatan, dan keterpanggilan untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan sosial dan kemanusiaan. Dalam hal pengumpulan dana, orang Yahudi termasuk orang yang sangat dermawan (khususnya untuk membantu kalangan mereka sendiri). Hal-ihwal kedermawanan Yahdudi kepada sesama mereka ini disinggung oleh Toto Tasmara dalam bukunya, Yahudi: Mengapa Mereka Berprestasi.

Lembaga-lembaga pengumpulan dana sosial Yahudi dikelola secara profesional sehingga mampu menyedot donasi lebih banyak daripada lembaga-lembaga lainnya. Diantara donatur-donatur besar mereka, tersebut nama George Soros. Dengan Yayasan Quantum yang dikelolanya, George Soros tidak hanya memberikan hartanya untuk penjajahan Israel atas negeri muslim Palestina, tetapi juga memberikan beasiswa kepada pelajar dan mahasiswa Israel yang berprestasi sebagai generasi penerus ke depan.

Kalau orang kafir yang bakal menyesal di akhirat saja berantusias tinggi untuk melakukan “jihad harta”, mengapa kita yang yakin dengan sekian banyak ayat Allah tentang kemulian berjihad dengan harta belum juga tertantang untuk memasuki arena kompetisi?

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan. Dan ke dalam Jahannam-lah orang-orang yang kafir itu dikumpulkan.” (Al-Anfal: 36)

Untuk soal pahala infak fie sabilillah, ayat-ayat Al-Quran dan sunah-sunah Rasulullah telah menguraikannya dengan panjang-lebar. Dan kebanyakan umat sudah mengetahuinya. Sekarang yang menjadi tugas mendesak adalah bagaimana memulai merealisasikannya dan menemukan keajaiban-keajaiban dahsyat di balik ibadah yang satu ini.*

*Hafidz Abu Imron, adalah seorang penggiat dakwah yang berdomilisi di daerah Sukoharjo. Sebuah daerah yang bersebelahan dengan kota Solo. Kini beliau aktif dalam tulis-menulis dalam berbagai media Islam. Jika ingin berhubungan dengan penulis bisa menghubungi laskarpena007@yahoo.com atau di akun FB: Laskar Pena