Membantah Kedustaan Sang Pencela Terhadap Imam Al-Qaeda

Bismilahirrahmanirrahim

Dan shalawat dan salam kepada Nabi yang berkata : “Seseorang masih dianggap jujur dan berusaha jujur hingga dia disebut orang yang jujur. Dan sesorang masih dianggap berdusta dan berusaha berbuat dusta sampai dicap oleh Allah dia sebagai seorang pendusta”. Amma ba’du :

Al-Adnani sudah berdusta dan terus berbuat dusta dalam statemennya yang terakhir dan kita bantah dan kita bela Imam kita Adz-Dzawahiri dan Syaikh Abu Abdillah Asy-Syami. Hari ini kita kembali membantahnya karena dia (Al-Adnani) senantiasa terus berbuat dusta dan lancang terhadap Allah dan hamba-hamba Allah yang beriman. Yang terakhir ini dia terus berdusta atas imam Adz-Dzhawahiri dan Al-Qaeda. Judul pernyatannya “Udzran Ya Amiral Qaidah” yang di dalam perkataannya terdapat keburukan, mencela dan membantah sang Doktor, Amir Al-Qaeda. Kami memohon kepada Allah taufik dan kebenaran dalam menjawab tuduhan dan dusta para pendusta.

PERTAMA : Kedustaan dalam mengingkari Bai’at Daulah terhadap Al-Qaeda

Al Adnani berkata, “Daulah, melalui Abu Hamzah Al-Muhajir telah mengirim surat kepada Al-Qaeda yang menjelaskan di dalamnya wala’ Daulah terhadap tokoh Al-Qaeda. Dan kamu katakan kepada mereka bahwa pernyataan tersebut ditujukan kepada para komandan jihad di dunia.”

Dan dia berkata : “Engkau dalam persaksianmu yang terakhir telah membuat kerancuan terhadap umat dan kamu kaburkan perkara yang mana engkau berusaha untuk mengukuhkannya dan sejatinya kamu tidak mengukuhkannya (pendapat bahwa Daulah adalah cabang Al-Qaeda) dan sesekali kamu tidak akan bisa.”

Sampai dia berkata : “Daulah bukanlah cabang dari Al-Qaeda dan tidak pernah seperti itu sama sekali.”

Dia melegitimasi surat yang dikirimkan ke syaikh Aiman  dengan sebutan (Syaikhuna, Amiruna, Qaiduna, Wali Amrina) bahwa sesungguhnya wala’ Daulah untuk tokoh Al-Qaeda adalah wala semata dan bukan bai’at.

Kalau begitu mengapa dia tidak menyebutkan surat Kementerian Penerangan Daulah yang disebutkan oleh Syaikh Adz-Dzawahiri dalam persaksian saat beliau berkata : “Para ikhwah di sini, terutama syaikh Abu Bakr Al-Baghdadi dan Majlis Syura telah sepakat bahwa pemerintahan ini hanya sementara. Apabila para masyayikh di sana mengirim siapapun—jikalau itu sebuah kemaslahatan—untuk menerima tampuk pemerintahan maka tidak masalah bagi kami. Dan semua akan senantiasa menjadi tentara baginya,dan wajib bagi para tentara untuk mendengar dan patuh padanya dan hal ini sudah disepakati oleh Majlis Syura dan Abu Bakr Al-Baghdadi—hafizhahullah”.

Kemudian Syaikh Adz-Dzawahiri berkata : “E. Kemudian setelah bayan ini petugas koresponden Daulah mengirim surat kepada  Syaikh Athiyyatullah tertanggal 22 Jumadits Tsani 1432 yang tertulis di dalamnya, “Syaikh mewasiatkan agar kami menenangkan kalian tentang keadaan di sini. Keadaan di sini berangsur membaik dan berkembang dan semakin kuat dan segala puji bagi Allah. Dan dia (Abu Bakar) meminta pendapat kalian tentang langkah yang cocok menurut kalian tentang pengumuman Amir baru Al-Qaeda. Apakah kami perlu memperbaharui bai’at secara terang-terangan atau cukup dengan sirr (sembunyi) saja sebagaimana yang telah lalu. Dan hendaklah kamu ketahui bahwa ikhwah di sini adalah anak panah yang berada di kantung panah kalian dan hubungan mereka dengan kalian sebagaimana yang disampaikan syaikh : Darah harus dibayar darah dan penghancuran harus dibalas penghancuran.”

Al-Adnani berkata : “Tidak sah bagi sebuah daulah untuk membai’at sebuah tandzim.”

Dalam surat Kemerenterian Penerangan Daulah disebutkan, jikalau kalian (Al-Qaeda) mengirimkan amir maka wajib bagi kami untuk mendengar dan mentaatinya. Maka bagaimana mungkin sebuah Daulah meminta kepada tandzhim untuk menentukan pemimpin mereka?

Dan kenapa juga dia (Al-Adnani) tidak menyinggung surat yang dikirimkan petugas korespondensi Daulah yang isinya menanyakan perihal memperbaharui bai’at secara terang-terngan atau sembunyi sembunyi?

Al-Baghdadi dalam suratnya ke Syaikh Aiman : “Dan kami telah mendapat kabar bahwa Jaulani telah merilis pernyataan yang menyebutkan bahwa dia telah berbai’at langsung kepada kalian”.

Kenapa dia mengatakan Mubasyaroh (langsung)? Apa maksudnya? Jawaban : Karena Al-Baghdadi berbai’at kepada Syaikh Aiman dan Jaulani berbai’at kepada Al-Baghdadi dan Jaulani melanggar perintah amirnya Al-Baghdadi dan melangkahi Al-Baghdadi dengan berbai’at langsung kepada Syaikh Aiman dan mentaati perintah amir dari amirnya yaitu Syaikh Aiman.

KEDUA : Menuduh Al-Qaeda sebagai antek Iran dan sebenarnya Daulah mampu menyerang negara tetangga

Al-Adnani berkata : “Oleh karena itu Daulah sejak munculnya tidak menyerang Rafidah di Iran dan membiarkan Iran hidup dengan aman.”

Kemudian dia juga berkat : “Sejarah mencatat bahwa Al-Qaeda mempunyai hutang kepada Iran.”

Dengan tidak menyerang Iran, Al-Adnani mengira hal itu karena Iran adalah jalur logistik Al-Qaeda dan dia menganggap ini adalah bentuk ketundukan dan basa-basi kepada Iran. Padahal sebenarnya bahaya yang ditimbulkan dari menyerang Iran lebih besar. Tidak hanya membahayakan Al-Qaeda saja tapi akan membahayakan mujahidin secara umum bahkan bisa membahayakan jihad Afghan dan rakyat Afghanistan.

Orang yang kurang akal dan pemahaman ini mengatakan kalau Al-Qaeda memerintahkan untuk tidak menyerang Iran. Pertanyaannya : Apakah kamu sudah menyerang Nushairiyah sebelum terjadi revolusi, dan memindahkan medan perang ke Suriah, serta sudahkah kamu memotong jalur logistikmu satu-satunya yaitu Suriah? Kalau begitu sejarah mencatat bahwa Daulah memiliki hutang terhadap rezim Ba’ts Nushairi.

Apakah kalian mentaati Al-Qaeda untuk tidak menyerang Iran dan kalian tidak mengindahkan instruksi Al-Qaeda saat melarang kalian untuk menyerang mujahidin? Atau apakah ini bentuk pembayaran hutang kalian kepada rezim Nushairi? Kalian mentaati Al-Qaeda untuk tidak menyerang Saudi, Mesir,Libia dan Tunisia dan kalian menolak perintah Al-Qaeda untuk kasus Suriah?

Apa yang kita dapati dari memerangi awamnya kaum Syiah? Apakah nanti mereka akan membalas dengan membentuk milisi-milisi? Bukankah dengan seperti ini Majusi akan mendapatkan manfaat dari segi kembalinya semua Syiah kepangkuan mereka? Dan kemudian akan digembar gemborkan di media bahwa mujahid Sunni yang memerangi Syiah lebih dahulu, dengan memenggal leher-leher mereka, meledakkan pasar, rumah dan tempat ibadah mereka yang mana hal ini menjadi alasan kuat bagi Syiah untuk memerangi sunni di Iraq.

Kalian mengaku mampu untuk menyerangi negeri-negeri sekitar, akan tetapi sebagaimana yang disebutkan Abu Hamzah Al-Muhajir bahwa kalian tidak mampu mempersenjatai 10 ribu pasukan? Kemudian kalian juga tidak mampu membebaskan para tawanan sunni di Irak padahal mereka berada di dalam negara imajinatif kalian.

Al Adnani juga berkata : “Oleh karena Al-Qaeda jugalah, Daulah tidak beroperasi di Saudi.”

Strategi untuk tidak menyerang Saudi merupakan strategi sejak masa Usamah Bin Ladin. Syaikh Athiyyatulllah berkata : “Dan saya adalah orang yang mendukung para ikhwah yang keluar dari ketaatan pemerintah Saudi. Hal ini jika diartikan kalau makna ‘ta’yid’ mendukung yaitu mencintai, dan berharap Allah memenangkan mereka dan menolong mereka atas pemerintah Saudi. Bukan berarti makna dukungan ini adalah mendukung semua yang mereka lakukan. Saya tidak mendukung bentuk pengeboman yang terjadi di Riyadh dan pelaksanaan hal ini adalah sebuah kesalahan dan sama sekali tidak masyru’. Akan tetapi secara keseluruhan melihat mereka mereka adalah Ahlul-Haq dan musuh mereka adalah Ahlul Bathil.”

Daulah saja tidak mampu untuk bertahan menghadapi sekutu shahawat dan Rafidah yang berhasil membuat Daulah terpinggir ke padang pasir setelah mereka membunuh dan menawan tentara Daulah. Maka bagaimana mungkin Daulah mau melancarkan serangan ke luar ?

Dia (Al-Adnani) juga berkata : “Karena Al-Qaeda jugalah Daulah tidak menyerang Mesir, Libia, dan Tunisia.”

Apkakah kalian ingin mengaburkan hakikat dengan menyebutkan kalian mampu untuk memasuki daerah-daerah yang kalian sebut diatas padahal kalian berjalan di negeri kalian (Iraq) secara sembunyi-sembunyi sambil berlari di padang pasir Anbar? Apakah kalian lupa perkataan Syaikh Aiman yang berjudul ‘Bainal amal wal alam’ (Antara harapan dan penderitaan). Saat beliau berkata bahwa di sana ada cabang baru Al-Qaeda yang akan diumumkan pada waktu yang tepat. Dan beliau juga mengirimkan nasehat untuk penduduk Sinai pada menit ke 24.30

Kemudian dia juga berkata : “Dan telah kami tinggalkan medan pertempuran bagi kalian di Tunisia, Mesir dan Libia kemudian kalian serahkan begitu saja ke kotak pemilihan umum.”

Bagiamana dengan pemilu yang terjadi di Irak? Kalian menyerang para pemilih Sunni, malah bukan menyerang pemilih Syiah!

Wahai Zawabiri Syam (Al-Adnani), bukankah mengakui perjanjian internasioanal merupakan kekufuran menurut kalian?

Lantas bagaimana kalian menjaga perjanjian penjagaan tentara Turki untuk kuburan Syah Sulaiman yang padahal kuburan tersebut berada di bawah kekuasaan kalian, justru kalian malah mempersilahkan mereka untuk lewat begitu saja bahkan kalian membantu menjaga mereka?

Bukankah sekarang kalian sudah menganggap syaikh Aiman dan Al-Qaeda sudah menyimpang? Kalau begitu kenapa kalian tidak menyerang Iran, Saudi di hadapan kalian? Habisilah Al-Sisi di hadapan kalian dan laranglah pencoblosannya. Al-Ghonusyi di depan kalian maka terapkanlah hukum Allah terhadapnya. Jika kalian masih punya waktu luang, Masjid Al-Aqsha berada di depan kalian sedang tertawan.

KETIGA : Tuduhan terhadap Syaikh Aiman Adz-Dzawahiri dengan menyebutkan sebutan-sebutan yang tidak syar’i

Al Adnani berkata : “Kami meminta kepada Anda kali kedua agar Anda memperbaiki manhaj Anda dengan menegaskan kekafiran Rafidhah yang musyrik dan najis. Tegaslah dalam menyatakan kemurtadan tentara Mesir, Pakistan, Afghanistan, Tunisia, Libya, Yaman dan tentara thaghut lainnya serta para pendukung mereka. Gantilah label antek Amerika dan sebutan lainnya dengan sebutan dari Rabb semesta alam, yaitu thaghut, kafir dan murtad. Jangan memanipulasi hukum dan lafal-lafal syar’i dengan ungkapanmu: sistem korup, konstitusi batil, dan militer antek Amerika.”

Kemudian ia juga berkata : “Dan berlepas diri Mursi dan partainya…”, sampai pada perkataannya : “Bahkan kamu menggambarkan seolah-olah dia dalam keadaan terzalimi dan kamu mengasihaninya, mendoakannya atau justru engkau ridha terhadap konstitusinya?”.

Adapun untuk membantah sudah menyimpangnya manhaj syaikh Aiman dan membantah lunaknya syaikh Aiman terhadap Mursi dan partainya dan beliau mendoakan keberkahan terhadap amaliyat yang dilakukan mujahidin di Sinai, maka telah kami bantah dengan rilis yang telah kami sebutkan: http://youtu.be/l9TVDdGvWls

Terkait tidak mengkafirkan kaum awam Syi’ah maka ini adalah pendapat Ibnu Tamiyah :

Dan ini juga merupakan pendapat syaikh Al Maqdisi yang di nukil oleh Syaikh Al Haddusy:

 

Adapun tentara Afghan, Pakistan kita tiap hari menyaksikan apa yang telah Al-Qaeda dan Taliban lakukan terhadap mereka dan sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi. Adapun tentara Yaman apakah kamu tiak menyaksikan apa yang dilakukan AQAP terhadap mereka? Lantas kenapa kalian tidak menyebutkan tentara Saudi? Atau karena mereka menjaga Hadzinah Al-Jazarowiyah?

Syaikh Athiyyatullah Al-Libbi berkata : “Orang-orang yang menggunakan kalimat itu dan kesalahan-kesalahan itu untuk mengatakan bahwa para mujahid adalah Khawarij yang menghalalkan darah kaum Muslimin dengan takfir ‘am (mentakfir seluruh yang berada di darul harb dan pasukan penguasa) dan mereka bersembunyi di balik fatwa tatarrus dan pendapat-pendapat ahlu fiqih dan bertaqiyah dengan hal ini terhadap umat dan tidak memperdulikan darah kaum muslimin maka saya katakan demi Allah yang tiada ilah selainNya ini adalah tuduhan yang tidak berdasar, dusta dan kebohongan dan kezhaliman yang menjijikkan. Kami berdoa kepada Allah untuk memberikan hidayah kepada orang yang mengatakan hal ini atau menimpakan kepadanya kehancuran dengan seburuk buruk kehancuran.”

Al-Qaeda sejak zaman syaikh Usamah, Syaikh Athiyyatullah, Syaikh Abu Yahya Al-Libi—yang dia, Al-Adnani menggunakan perkataan orang-orang tersebut—tidak pernah mentakfir tentara penguasa, bahkan mereka mengecam orang yang berpendapat seperti itu.

Terkait tuduhan Syaikh Aiman menggunakan lafadz-lafadz yang tidak syar’i, maka biarlah syaikhul Islam Ibnu Taimiyah yang menjawabnya : “Menggunakan sebuah istilah kepada orang yang biasa menggunakan istilah tersebut bukanlah suatu hal yang dilarang jika hal tersebut dibutuhkan selama makna yang dimaksud benar adanya…”, sampai pada perkataan beliau : “Adapun jika makna-makna ini sudah dibakukan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah kemudian menggunakan bahasa lain, padahal lawan bicara memahami bahasa ini agar menjelaskan lafaz mana yang benar dan mana yang tidak benar, maka hal seperti ini besar manfaatnya.”

Kemudian kami bertanya kepada Anda wahai Al-Adnani  yang bingung : Apakah lafal shahawat dan sururiyah itu adalah lafal syar’i atau bahasa serapan? Kalau Syaikh Aiman menyebut tentara Mesir dengan tentara pengikut Amerika, kamu juga menyebut Jabhah Islamiyah dengan Jabhah Saluliyah , apakah ini lafal syar’i?

Apakah Syaikh Usamah juga telah menyimpang saat beliau menyebut jihad dengan ungkapan yang beragam dalam pernyataan terakhir beliau sebelumnya?

KEEMPAT : Tuduhan bahwa Syaikh Aiman dan orang-orang sebelumnya dahulu tidak pernah bertanya tentang Daulah

Al-Adnani berkata : “Kamu tidak pernah bertanya kepada kami sebelumnya…”, sampai ada perkataan : “siapa sebenarnya amir kalian? Siapa menteri-menteri kalian? Gubernur, hakim-hakim, dan ulama-ulama kalian. Maka kalau seandainya engkau amir bagi daulah apa yang telah engkau berikan kepada daulah? Logistik apa yang kau berikan? Hal apa yang telah kamu koreksi dari Daulah? Dan kamu sudah berikan perintah apa?”. Dia juga berkata : “Sebelumnya engkau juga tidak pernah menyeru kami layaknya seruan seorang amir kepada pasukannya”.

Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri menyebutkan dalam “Risalah li hadni dima’ail mujahidin di Syam” : “Syaikh Usamah mengirim surat kepada Syaikh Athiyatullah tertanggal 24 Rajab 1431 yang isinya : “Saya ingin sekali kamu memberikan kepada kami keterangan yang lengkap tentang saudara kita Abu Bakar Al-Baghdadi yang telah ditunjuk sebagai pengganti Abu Umar Al-Baghdadi, begitu juga dengan keterangan lengkap tentang wakilnya, Abu Sulaiman An-Nashir dan lebih baik kamu bertanya ke banyak sumber dari kalangan saudara-saudara kita yang kamu tsiqah dengannya. Sehingga, perkara ini menjadi jelas dan gamblang bagi kita”.

Al-Qaeda telah mengirim 12 ribu tentara lengkap dengan pasukannya, 10 ribu pasukan dengan pasukan yang belum bersenjata lengkap. Dan cukuplah bagi kalian dengan mengumumkan keengganan untuk taat  dan mengkhianati perjanjian untuk tidak mengumumkan keberadaan Al-Qaeda di Syam dan penolakan kalian saat kalian disuruh kembali ke Irak.

Dia mengaku kalau Al-Qaeda melarang dia untuk  menyerang Iran terus dia mengatakan kalau Al-Qaeda tidak pernah memberikan instruksi kepada Daulah?

Al Adnani berkata : “Sebelumnya engkau juga tidak pernah menyeru kami layaknya seruan seorang amir kepada pasukannya.”

Tuduhan ini sudah dijawab oleh syaikh Aiman : “Terkait sifat keputusan dalam masalah ini, apakah itu perintah dari seorang amir bagi tentaranya atau keputusan dalam perselisihan khusus antar pihak yang bertikai yang mengadu kepada hakim, saya telah jelaskan perkara ini dengan rinci dalam surat saya yang cukup panjang kepada ikhwah saya di ISIS tertanggal 28 Syawal 1434 didalamnya saya menegaskan bahwa ini adalah keputusan seorang amir dalam menyelesaikan permasalahan di antara pasukannya bukan keputusan seorang hakim terhadap dua pihak yang bertikai dalam kasus tertentu.”

KELIMA : Hanya Allah penolongmu, wahai Daulah yang tertindas, yang menolak pengadilan Syariah

Adnani mengatakan : “Jika Anda mengatakan, ‘Kalian telah membunuh fulan atau fulan,’ kami bisa juga mengatakan, ‘Mereka telah membunuh orang-orang kami berkali-kali’.”

Ia juga mengatakan : “Jika Anda mengatakan, ‘Kalian membunuh kelompok muslim,’ kami mengatakan, ‘Demi Allah, mereka memulai perang melawan kami!’.”

“Adapun pengadilan independen yang dituntut, kami katakan kepada Anda: Hal ini tidak mungkin, dan bahkan mustahil. Sebab, itu adalah permintaan yang lemah dari orang yang suka berimajinasi. Mengapa? Karena Anda telah memecah kaum muslimin menjadi dua kubu, dan tidak ada yang ketiga; satu kubu bersama Daulah dan pendukungnya serta satu kubu lain bersama kelompok penuntut pengadilan independen. Di muka bumi ini tidak ada otoritas independen ini yang diterima oleh kedua pihak.”

“Selanjutnya, maukah aku tunjukkan yang lebih baik dan mudah kepadamu?”

“Ini adalah perkara yang bila dikerjakan oleh kaum muslimin, mereka akan mendapatkan kemenangan. Bukankah di antara umat Islam ada orang salih? Bukanlah di antara mereka ada orang yang pantas?”

“Bukankah di bumi ini ada orang berakal? Umat Islam telah memilihnya dan telah mengumumkan kepada publik tentang sikapnya yang mengkafirkan thaghut, dan berlepas diri dari kekafiran dan kesyirikan beserta pelakunya. Ia juga menyatakan perang terhadap mereka. Lalu kita membai’atnya atas hal itu dan mengangkatnya sebagai khalifah…”,  dan seterusnya sampai pada ungkapan : “Solusi mudah yang tidak bertentangan dengan satu pun dalil syariat.”

Jika jamaah Daulah benar-benar terzhalimi, maka sudah berkali-kali ditawarkan inisiatif penghentian konflik antara mereka dan para mujahidin. Mestinya bukan ditanggapi dengan penolakan atau mengatakan, “Hentikan menyerang kami, maka kami pun berhenti menyerang kalian”. Bila demikian, siapa yang akan mengembalikan hak dan menyelesaikan urusan nyawa orang lain?

Jika benar-benar terzhalimi, Daulah mestinya menerima inisiatif Ahrar Syam untuk diadakan pengadilan dan Syaikh Al-‘Ulwan—sebelum dipenjara lagi—yang akan menjadi penengahnya. Di sini anggota Dewan Syuro Ahrar Syam telah menegaskannya ketika Al-Adnani mempermainkan urusan darah Al-Binsyi dan Muhammad Faris.

Jika mereka merasa terzhalimi, tentu mereka mau menerima Syaikh Ar Rubaisy, pemimpin dan rujukan syariat Al-Qaeda Yaman, seperti disebutkan dalam kesaksian Syaikh Al-Muhaisini.

Tidak ada yang membunuh seorang pun di antara kalian kecuali setelah kalian membunuh banyak tokoh dan pemimpin. Dan kalian telah berkali-kali diminta penyelesaiannya dalam pengadilan independen bersama, dan setelah dikeluarkan beberapa statemen untuk menuntut pengadilan tersebut.

Bahkan, pengadilan bersama pun pernah ditawarkan, yang dalam hal ini Al-Adnani menyatakan menerima, tetapi kenyataannya ditolak oleh Al-Uraidi bersama dewan syariah Daulah. Terakhir juga ditolak setelah disetujui bersama.

 
 Al-Muhaisini menawarkan inisiatif Pengadilan Bersama

Al-Kadzabbani (Al-Adnani,-red) telah menyebutkan bahwa tidak ada di muka bumi ini lembaga independen yang layak untuk mengadili. Kemudian ia langsung menawarkan seorang laki-laki yang berakal untuk diterima sebagai khalifah. Saya tidak tahu manakah laki-laki ini, yang tiba-tiba menjadi seperti Imam Mahdinya Rafidhah. Bagaimana orang yang ditawarkan bisa diterima, bila kalian telah mengkhianati Al-Zawahiri, membunuh Abu Khalid As-Suri, memerangi para penolong Islam, menolak para ulama umat Islam dan inisiatif-inisiatif mereka. Kalian menuduh mereka tidak memahami realitas. Bila kami tidak menyetujui orang yang akan mengadili urusan antara kita, bagaimana kami akan menyetujui sebagai khalifah. Ini tawaran yang sangat aneh. Hanya hawa nafsu yang akan menerimanya.

Ibnu Taimiyyah berkata : “Pokok kesesatan mereka—yakni Khawarij—adalah akidah mereka tentang imam dalam kebenaran dan jamaah kaum muslimin. Bahwa mereka telah keluar dari keadilan dan sesat.”

KEENAM : Tanggapan atas celaan Adnani kepada Syaikh Al-Jaulani

Adnani mengatakan : “Lalu engkau memaksa kami untuk menanggung dosa kejahatan memecah belah barisan mujahidin dan menumpahkan darah mereka. Padahal Anda sendiri penyebabnya, yaitu karena Anda menerima bai’at dari pengkhianat, penipu dan pengingkar baiat (maksudnya ialah Abu Muhammad Al-Jaulani; red). Ini adalah satu hal!”

Kami jawab : Bukankah Abu Hamzah Al-Muhajir, pemimpin cabang Al-Qaeda di Irak telah membai’at kalian tanpa konsultasi atau memberitahu Kepemimpinan Umum Al-Qaeda? Dan Al-Qaeda tidak menyebutnya sebagai pengkhianat, penipu, ataupun pembatal bai’at!

Al-Jaulani mengetahui rahasia kalian ketika kalian mengumumkan perluasan wilayah tanpa konsultasi ataupun musyawarah kepadanya (Al-Jaulani) ataupun Majelis Syuro Jabhah Nushrah. Ia juga tahu ketika kalian mengkhianati kepemimpinan dan mengumumkan perluasan wilayah tersebut. Sudah menjadi kesepakatan antara jamaah Daulah dan Kepemimpinan Umum Al-Qaeda untuk tidak mengumumkan Al-Qaeda di bumi Syam.  Maka Al-Jaulani menyatakan pembaruan bai’at kepada amirnya (Al-Qaeda) ketika amirnya (Al-Baghdadi) berkhianat kepada amirnya (Al-Qaeda pusat). Al-Jaulani pun menaati Al-Zawahiri sebagai pemimpin.

Al-Adnani menyebut Syaikh Al-Jaulani sebagai anak kecil yang belum bisa berpikir. Al-Adnani lupa bahwa Usamah (bin Zaid) pada usia 17 tahun telah memimpin pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar. Dan Muhammad Fatih pada usia 22 tahun telah memimpin perang membebaskan Konstantinopel.

Jangan lupa wahai Juru Bicara resmi bahwa yang mengirim “anak kecil itu” ke Suriah adalah Al-Baghdadi.

Di video ini, Imam Al-Zawahiri menyebutkan pengkhianatan jamaah Daulah atas kesepakatan bersama dalam persoalan Suriah. Di menit 15:50.

KETUJUH : Siapakah cucu-susu Ibnu Muljam dan bagaimanakah cucu-cucu Husain?

Adnani mengatakan : “Kami bertanya: Siapakah keturunan Ibnu Muljam yang engkau sebut-sebut dalam pidatomu sebelum ini?”… sampai pada ungkapan : “Dan jika kami menarik diri ke Irak, secara pasrah dan melarikan diri, maka kami menjadi ahli sunnah mujahidin, cucu-cucu Husein…(?).”

Raja Yordania dan Maroko juga keturunan Husain. Al-Baghdadi adalah cucu Husain secara nasab tidak lantas menghalanginya menjadi cucu Ibnu Muljam secara manhaj. Perhatikanlah ini!

Rasulullah saw bersabda : “Siapa yang diperlambat (masuk surga) oleh amalnya, maka nasabnya tidak akan bisa mempercepatnya.” (HR Muslim)

Imam Al-Zawahiri mengatakan kepada mereka : “Kembalilah ke Irak”, tidak bermakna bahwa mereka berada dalam manhaj ahli sunnah ketika di Irak dan ketika di Suriah menjadi khawarij. Maksudnya ialah bahwa itu merupakan pengembalian kepemimpinan dan ketaatan kepada amir mereka. Dengan langkah ini pula, Al-Zawahiri memiliki kesempatan untuk membersihkan Daulah dari pemikiran dan oknum yang merusak (dari dalam).

Imam Al-Zawahiri telah mengungkapkan dalam suratnya yang jelas bahwa Al-Baghdadi berhak memimpin selama satu tahun dan setelah itu akan diputuskan apakah ia tetap memimpin atau diganti.

KEDELAPAN : Penipuan Adnani dengan memakai kaidah-kaidah dan hukum yang bersifat umum untuk hukum khusus

Adnani mengatakan : “Syaikh Abu Mus’ab Al-Zarqawi rahimahullah mengatakan tentang pendekatan demokrasi dan para pengusungnya : “Dengan alasan ini dan lainnya, maka saya menyatakan perang habis-habisan melawan pendekatan kotor ini. Kami telah menjelaskan hukum para pengusung akidah yang batil dan metode palsu ini. Maka siapa yang berusaha menegakkan pendekatan ini dengan memberikan bantuan atau dukungan, maka ia telah memberikan loyalitas kepada demokrasi dan pengusungnya. Hukumnya seperti hukum para penyeru demokrasi dan para pendukungnya. Orang-orang yang mencalonkan diri dalam pemilu adalah orang-orang yang mengklaim rububiyah dan uluhiyah pada dirinya. Dan orang-orang yang memilih mereka berarti telah mengambil mereka sebagai tandingan dan sekutu bagi Allah. Hukum mereka dalam agama Allah adalah kafir dan murtad dari Islam.”

Ya Allah, apakah aku sudah menyampaikan (amanah)? Ya Allah, saksikanlah!” [kutipan selesai]

Adnani telah melakukan tipuan memakai kaidah-kaidah dan hukum yang bersifat umum untuk hukum khusus. Ini adalah cara-cara Khawarij di setiap zaman.

Ia tidak memilih pidato-pidato para tokoh Al-Qaeda kecuali yang ada takfir dan murtad saja. Seolah-olah tidak ada di Al-Qaeda kecuali takfir dan murtad saja. Apakah ini berarti ada pemahaman yang salah dan pergeseran di otaknya?

Jawaban atas kebohongan keji ini adalah perkataan-perkataan Syaikh Athiyatullah Al-Libbi dalam persoalan Hamas dan pemerintahannya. Beliau mengatakan : “Kesalahan yang dilakukan oleh Hamas, kami berharap mereka mendapatkan udzur karena salah takwil dan mengambil fatwa-fatwa para ulama yang mereka percaya.  Kami tidak menghakimi mereka sebagai orang-orang kafir. Menurut keyakinan kami, mereka adalah muslim yang bersalah. Kita berupaya menasehati dan mengarahkan mereka, seperti yang kita lakukan kepada setiap muslim. Kita mengingkari apa yang kita lihat sebagai suatu kemungkaran, menjelaskan apa yang kita lihat salah dan keliru dalam perbuatan mereka. Dan kami tidak menipu mereka dan demikian pula terhadap umat Islam lainnya.”

Dan seterusnya sampai pada ungkapan : “Tetapi, kita melihat masuknya Hamas ke dalam permainan demokrasi dan Dewan Legislatif dan segala konsekuensinya merupakan perbuatan yang menyelisihi agama. Ini belum termasuk sejumlah pemikiran dan tindakan lain yang menyelisihi syariat. Ini adalah kemungkaran, kebatilan, dan kerusakan yang besar. Kita berlepas diri kepada Allah dari itu. Kita mengingkari dan menasehati saudara-saudara kita di Hamas untuk bertaubat kepada Allah dan menjauhi demokrasi. Perbaikilah diri kalian dan berpegang teguhlah kepada Allah semata.”

Beliau juga mengatakan : “Adapun pertanyaan, apakah menurut syariat, boleh menyebut Hamas sebagai pengkhianat, atau murtad dan semacamnya?” Jawabannya, “Tidak. Tidak boleh menyebut mereka murtad atau menuduh mereka kafir. Ini adalah kesalahan yang dalam hal ini kita wajib mengingatkan para pemuda kita di mana pun agar mereka berhati-hati dalam hal ini dan tidak tergesa-gesa memvonis seseorang sebagai orang kafir, karena kesalahan dan takwil dalam persoalan semacam ini. Walaupun kesalahan dalam hal ini sangat besar. Namun, itu tidak lepas dari kemungkinan udzur di dalamnya. Kita memohon kepada Allah agar kesalahan itu tidak terjadi. Kita memohon keselamatan darinya.”

Beliau juga mengatakan : “Adapun menyebut mereka (Hamas) sebagai pengkhianat, maka kami tidak berpendapat seperti itu. Keyakinan kami tentang mereka atau dengan ungkapan yang lebih rinci tentang kebanyakan dari para pemimpin dan panutan mereka yang mulia, bahwa mereka sebenarnya menginginkan kebaikan; berusaha menolong agama ini. Mereka berpegang kepada agama sesuai kemampuan mereka. Mereka, Alhamdulillah, bukanlah pengkhianat atau mendekati itu. Itu tidak mungkin dan kita berlindung kepada Allah.

Namun demikian, seandainya ada orang yang menyebut mereka pengkhianat, dalam konteks agar mereka menjauhi perbuatan mereka yang keliru itu atau karena sangat mengingkarinya, misalnya mengatakan, ‘Kalian telah mengkhianati urusan kaum muslimin dan amanah dari Allah dalam jihad.” Maka ini adalah ungkapan pengingkaran yang serius dan upaya amar makruf nahi mungkar. Bila ungkapan seperti ini keluar dari orang yang tulus, ingin menasehati, ungkapan pembelaan dan fanatisme bagi agama ini dengan didasari keadilan, tanpa melebihi batas dan tidak zhalim, maka ini dibolehkan. Adapun bila semua syarat itu ada yang dihilangkan, maka yang bersangkutanlah yang bertanggung jawab atas risikonya.”

Beliau juga mengatakan : “Kami tidak mengatakan bahwa gerakan Hamas atau bahkan pemerintahannya telah menjadi thaghut. Sebab, mereka adalah muslim yang mencoba berbuat baik, namun keliru. Karena thaghut adalah segala sesembahan, yang diikuti atau yang ditaati selain Allah, yang dengan itu seorang hamba melampaui batas. Apakah ini bisa diterapkan kepada Hamas wahai saudara yang mulia? Tidak bisa diterapkan.”

Syaikh Athiyatullah Al-Libbi mengatakan tentang orang yang ikut pemilu : “Adapun sisi pertama dari pertanyaan Anda terkait orang-orang yang ikut dalam pemilu (yaitu orang-orang yang ikut dalam pemilu sebagai anggota parlemen, presiden dan semacamnya), maka mereka harus dirinci dalam realitasnya. Karena siapa yang memilih wakil rakyat yang akan membuat undang-undang selain hukum Allah agar ia sibuk membuat undang-undang selain hukum Allah tersebut maka ia telah kafir, ini adalah hukum secara teori.  Demikian pula orang yang memiliki penguasa murtad untuk memimpin kaum muslimin di negeri mereka maka ia kafir.

Akan tetapi bila kita beralih ke dalam realitas, masalahnya menjadi tidak semudah itu. Sebab tidak semua orang melakukan itu atas dasar pengetahuan dan pengakuan bahwa mereka memilih pembuat undang-undang selain hukum Allah atau memilih penguasa yang murtad. Maksudnya bahwa harus ada rincian. Sehingga kita tidak mengkafirkan manusia dengan itu secara umum dan siapa saja yang melakukan itu langsung divonis sesat dalam kesesatan yang nyata.  Ini adalah tindakan yang keluar dari dasar-dasar ilmu dan fikih. Ini akan mengarah kepada vonis kafir terhadap seluruh umat Islam, dengan tuduhan yang tidak terjadi pada mereka. Kita memohon kepada Allah agar terhindar dan selamat dari hal ini. Semoga Allah memberikan taufik kepada kita.”

KESEMBILAN : Beberapa poin umum

a. Kembali ke manhaj Usamah (bin Ladin)

Adnani mengatakan : “Kami di sini mengulurkan tangan kepada Anda agar orang-orang yang datang kemudian menjadi baik seperti para pendahulunya. Syaikh Usamah telah menyatukan para mujahidin dalam satu kata.”

Kami jawab : Orang-orang Khawarij pendahulu Anda juga mengatakan seperti itu. Mereka mengklaim Ali telah sesat dan mendoakan kebaikan untuk Abu Bakar dan Umar.

b. Adnani mengatakan : “Karena para prajurit Jabhah Al-Jaulani dan para prajurit Jabhah Abu Khalid As-Suri setelah statemen Anda terakhir, malah mengatakan: Syaikh (Al-Zawahiri) telah ngelantur (akalnya rusak karena sudah tua)!”.

Siapa yang mengatakan demikian wahai Zawabiri (anak kemarin sore yang bodoh dan suka menyelisihi)? Bukti ini akan mematahkan Anda :

c. Adnani mengatakan : “Kesimpulannya bahwa perselisihan antara Daulah Islam dan pemimpin organisasi Al-Qaeda adalah perselisihan manhaj sebagaimana yang telah dikatakan oleh Amirnya sendiri di wawancara terbarunya dengan As-Sahab.”

Kalau memang begitu, bagaimana Anda mengatakan di awal bahwa perbedaan ini adalah karena “penerimaan bai’at pengkhianat?”. Ternyata pernyataan di akhir berbeda dengan pernyataan di awal.

Dan semoga salawat dan keberkahan dilimpahkan kepada nabi kita Muhammad


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s