Kesaksian dari Salah Seorang Anggota Majelis Syuro Mujahidin Iraq tentang Pembentukan Daulah Islam Iraq

MENGUAK REALITA DEKLARASI DAULAH ISLAMIYAH IRAQ

Bismillahirrahmanirrahim, kita langsung masuk ke dalam pembahasan tanpa ada pembukaan. Majelis syuro mujahidin di Iraq terdiri dari 7 orang yang mewakili 7 jamaah jihad tanpa ada perincian jamaah apa saja itu.

Sekedar memberi tahu: merinci komposisi anggota majelis membutuhkan pembahasan lagi, yang saya inginkan di sini adalah menyebutkan tiga poin yang saya rasa merupakan permasalahan inti yaitu poin-poin yang di dalamnya para pendeklarasi melakukan kebohongan.

Tiga poin tersebut adalah:

  1. Apakah deklarasi daulah melalui persutujuan majelis syuro?
  2. Apakah anggota majelis syuro kemudian bergabung di dalam daulah?
  3. Apakah bai’at pada saat itu diberikan kepada Abu Umar Al Baghdadi?

Setelah kesyahidan Abu Mush’ab Az Zarqawi, Abu Hamzah Al Muhajir memegang tampuk kepemimpinan Tanzhim. Dalam sebuah kesempatan perbincangan, Abu Hamzah berkata: “Kami telah ber-azzam untuk mendeklarasikan Daulah”.

Ketika majelis syuro mengetahuinya, mereka menolak gagasan beliau sebagaimana kami juga menolaknya dengan spontan, beliau menjawab: “Kita harus mendeklarasikan Daulah Islamiyyah sekarang, sehingga dapat menyatukan semua orang”.

Penolakan juga datang dari Jaisy Islam dan Syaikhnya, yaitu Syaikh Harits Adh Dhari. Beliau mengatakan janganlah memetik buah dari kemenangan sendirian, karena itu menunjukkan cacatnya manhaj. Maka beberapa orangpun menjadi heran dengan apa yang dikatakan oleh beliau.

Kemudian Abu Hamzah menyampaikan teguran di luar forum kepada jamaah-jamaah terkhusus Jamaah Jaisy Islami. Saat itu Jaisy Islami termasuk jamaah terbesar dan paling terkenal, dan beliau melancarkan tuduhan kepada mereka.

Kemudian Abu Hamzah mulai berbicara tentang kemenangan yang sudah dekat, tentang kita yang telah menguasai wilayah yang sangat luas di Iraq, dan beliau berbicara secara panjang lebar dalam masalah ini. Walaupun begitu majelis syuro tetap tidak bergeming dan tetap menolak deklarasi Daulah.

Kemudian nada suara Abu Hamzah mulai berubah lalu beliau berkata: “Kami akan tetap mendeklarasikan Daulah dengan atau tanpa kalian”.  beliau juga mengatakan sesuatu yang tidak pantas, dan kami tak akan menyebutkan perkataan yang merupakan sebuah aib bagi orang lain di sini.

Beliau – Rahimahullah – bersikeras dengan satu hal: mempermalukan semua orang dengan menggunakan nama Daulah. Dan jamaah apapun jika telah dideklarasikan Daulah, maka semua orang tidak mempunyai pilihan lain selain bergabung dengannya.

Kemudian beliau mulai mengeluarkan dalil untuk mendukung gagasannya tersebut, salah satunya adalah hadits : “Apabila ada dua khalifah yg dibai’at, maka bunuhlah yg paling terakhir dari keduanya.” [HR. Muslim No.3444]. Dan ketika itu banyak perdebatan yang terjadi, beberapa orang yang hadir kemudian membantahnya dengan mengatakan: “Anda berbai’at kepada Imarah Thaliban”.

Lalu Abu Hamzah berkata: “Daulah yang ingin kami deklarasikan ini akan berada di bawah kewenangan Imarah Khurasan”. Dan kemudian seperti yang beliau katakan selanjutnya, “lagipula sebenarnya Imarah Thaliban bukanlah (dipimpin oleh) orang Quraisy, sedangkan amir Daulah kami adalah seorang Quraisy”.

Kemudian beliau mengulangi perkataannya yang telah lalu tentang diharuskannya berlomba-lomba dalam mendeklarasikan Daulah Islamiyah, karena hal tersebut dapat menyatukan barisan para mujahidin dan memecah kekuatan musuh, lagipula pendeklarasian Daulah merupakan tujuan utama didirikannya majelis syuro.

Kemudian beliau mulai mengatakan tentang sebab awal pembentukan majelis dan sesungguhnya deklarasi Daulah haruslah dimulai dari majelis tersebut, maka saat itulah semua orang yang ada di forum tersebut mulai menyadari bahwa mereka telah diperdaya, karena asal majelis tersebut adalah majelis syuro.

Dan masih banyak lagi perkataan dari beliau tentang pembahasan ini ketika itu, maka mulailah berkecamuk perdebatan di forum tersebut dan keberatan (terhadap gagasan beliau) mulai bertambah, maka Abu Hamzah pun menjawabnya. Namun jawaban-jawaban beliau saling bertentangan satu sama lain, contohnya:

Ketika dikatakan kepada beliau: “Daulah Islam itu berarti adalah sebuah kepemimpinan umum, sedangkan anda masih mengikuti kepemimpinan – sebagaimana yang anda katakan – umum di Afghanistan”, maka beliau berkata: “Daulah ini mengikuti kepemimpinan Khurasan dan Daulah memberikan bai’atnya kepada Khurasan”.

Ketika dikatakan kepada beliau: “Akan tetapi kami menolak untuk berbaiat kepada Al Qaeda, karena asal kesepakatan kita adalah bahwa Al Qaeda cabang Iraq merupakan salah satu jamaah yang terlibat dalam majelis syuro, dan Abu Mush’ab Az Zarqawi Rahimahullah menegaskan hal itu.”

Maka beliau berkata: “(namun) Abu Mush’ab menginginkan deklarasi Daulah.” Kami pun berkata: “Akan tetapi beliau telah berkata bahwa deklarasi Daulah dengan persetujuan dari majelis syuro, dan anda justru berkata ‘berbai’atlah kepada Al Qaeda’”.

Beliau berkata: “Daulah Islamiyyah Iraq bersifat independen hubungannya dengan Imarah Afghanistan”. Maka kami berkata: “Namun daulah tersebut bernaung di bawahnya!”. Lalu beliau menjawab: “Kalian beralasan!”. Maka semua orang mulai mengerti bahwa orang ini tidak memiliki jawaban.

Pembicaraan mulai panas dan tidak sehat ketika mulai membahas ‘siapa’ yang mengikuti ‘siapa’. Namun Abu Hamzah tetap memaksa dan bersikukuh untuk mendeklarasikan Daulah, dan yang beliau inginkan dari majelis adalah menjadi tameng media bagi daulah, dan semua orang menolak deklarasi tersebut.

Majelis kemudian berkata kepada Abu Hamzah: “Anda telah melanggar kesepakatan awal pendirian mejelis”, maka dari sini beliau Rahimahullah mulai mengatakan sesuatu yang tidak akan saya sebutkan di sini, beliau telah berpulang kepada Rabbnya sebagai seorang syuhada.

Pertemuan tersebut pun selesai, semua orang keluar dengan hati yang dongkol. Inilah pertama kalinya dalam pertemuan majelis seorang anggotanya menetapkan kepada majelis keputusan yang menyangkut orang banyak dengan cara yang tidak pernah ada sebelumnya.

Saya bersumpah kepada Allah, dan saya adalah orang yang jarang bersumpah, sesungguhnya majelis syuro tidak memberi keputusan pendeklarasian Daulah Islamiyah Iraq, dan Allah-lah yang tahu bagaimana saya telah banyak berdiam diri dan tidak mengeluarkan perkataan tentang hal yang menyedihkan ini.

Sungguh saya telah menuliskan kesaksian ini sebelumnya kemudian menghapusnya kembali karena beratnya perkataan ini, karena para anggota majelis adalah merupakan teman baikku dan saya menganggap semuanya adalah orang yang baik.

Lima orang anggota kemudian keluar dari forum tersebut dengan satu pandangan yang sama: “Kami tidak akan terlibat dalam deklarasi Daulah”. Namun keinginan mereka berbeda-beda, dan hati manusia memang selalu berbeda-beda, akhirnya mereka tidak satu hati lagi dalam menyikapi persoalan ini.

Lima anggota yang keluar adalah :

  1. Jamaah Thaifah Manshurah
  2. Saraya Al Jihad
  3. Saraya Anshar Tauhid
  4. Al Ahwal
  5. Jaisy Ahlus Sunnah

Sedangkan Al Ghuraba’ beserta Amirnya memiliki kisah tersendiri.

Amir Al Ghuraba’, Syaikh Muharib Al Jaburi Rahimahullah berbai’at kepada tanzhim Al Qaeda pada suatu kesempatan pertemuan, hal itu terjadi pada masa kepemimpinan Abu Mush’ab Az Zarqawi Rahimahullah, dan mengagetkan semua orang bahkan Syaikh Abu Mush’ab sendiri.

Abu Mush’ab berkata dalam pertemuan tersebut: “Demi Allah wahai saudara-saudara, saya tidak mengetahui apa niat Syaikh Muharib dalam bai’atnya tersebut”. Semua orang terdiam dan memandang Muharib dengan perasaan bingung.

Maka setelah itu beberapa orang menyalahkan Syaikh Muharib karena sikapnya tersebut dengan mengatakan: “Sebab awal pembentukan majelis syuro ini (menunjukkan bahwa anda) tidak etis jika menetapkan sebuah keputusan yang dapat membatalkan kesepakatan awal perkumpulan ini.”

Maka Syaikh Muharib Rahimahullah berkata: “Ini adalah keputusan yang dikhususkan bagi diri saya sendiri, saya memandang ini adalah sebuah keputusan yang benar, dan sebaiknya kalian membai’atnya (Abu Mush’ab) juga”. Sampai di sini semua orang mulai menyadari bahwa permasalahan ini mulai kritis.

Setelah itu seorang koordinator dari pihak Tanzhim Al Qaeda mulai mendesak kepada semua orang namun dengan mengatasnamakan dirinya sendiri agar membai’at Tanzhim, ia berbicara 4 mata dan mengatakan dengan lemah lembut kepada setiap anggota bahwa wajib hukumnya memberikan pertolongan kepada Abu Mush’ab.

Koordinator tanzhim saat  itu, Hammam orang yg terkenal licik. Kalau sekiranya tergabung dalam satu jamaah manapun, pastilah dia akan kumpulkan manusia pada jamaah tersebut. Adalah Syaikh Abu Mush’ab rahimahullah sangat baik dalam hal memilih orang dekatnya, sejatinya saya sangat mengagumi beliau.

Namun tidak ada satupun yang berbai’at walaupun sang koordinator terus mendesak agar mereka berbai’at kepada Tanzhim dengan menggunakan cara bertutur kata yang menyihir, dia memukul rata kepada semua orang agar mencintai Abu Mush’ab. Yang benar adalah bahwa Syaikh Abu Mush’ab adalah orang yang selalu menjaga pamor dan sikapnya.

Tidak pernah didapati ada seseorang yang bertemu dengan Syaikh Abu Mush’ab kecuali orang tersebut langsung mencintai beliau. Beliau selalu menundukkan kepalanya ketika berbicara dengan saudaranya, engkau akan melihat kejujuran dan keikhlasan terpancar dari wajahnya, saya rasa beliau seorang ksatria.

Hari berganti hari, Syaikh Muharib menjadi orang yang selalu menyerukan kepada orang-orang yang berada di luar majelis agar berbai’at kepada Tanzhim. Dan setelah kesyahidan Syaikh Abu Mush’ab, Syaikh Abu Hamzah mulai mendekati Muharib.

Abu Hamzah bukanlah seperti Abu Mush’ab. Abu Hamzah selalu mengajak manusia untuk berbai’at dengan cara-cara yang manis maupun dengan cara intimidasi. Padahal supir pribadi Abu Mush’ab bahkan tidak berbai’at kepadanya! Beliau tidak pernah meminta kepada seorang pun agar berbai’at kepadanya.

Setelah pertemuan yang para anggota majelis menolak permohonan deklarasi Daulah oleh Abu Hamzah, beliau mulai menemui setiap anggota majelis untuk menyatakan memisahkan diri dari majelis, saat itu saya tengah pergi umrah.

Ketika umrah itulah saya kemudian menyaksikan deklarasi Daulah beserta parade militernya yang mengundang decak kagum semua orang di TV. Kemudian saya bergumam dalam hati : “Bagaimana mungkin mereka mendeklarasikannya tanpa melalui persetujuan dan keikutsertaan kami?”

Kemudian saya pulang dari umrah dan semua orang menanyai saya tentang deklarasi tersebut, maka saya jawab, “saya tidak tahu”. Lalu saya bertemu dengan Abu Hamzah Rahimahullah dan menanyakan kepadanya tentang hal ini, beliau lalu menjawab: “Seluruh anggota majelis menyetujui, dan semuanya bergabung”.

Saya pun terheran-heran dan berkata dalam hati, “Bukankah sebelumnya kita semua telah bersepakat untuk tidak bergabung? Apa yang telah terjadi?!”. Maka Abu Hamzah mulai mengiming-imingi saya dengan jabatan di Daulah, dan saya hanya tetap diam dengan pikiran kacau, saya tidak menjawabnya dan langsung keluar.

Kemudian saya bertemu dengan beberapa orang saudara yang merupakan anggota majelis, maka orang yang merupakan anggota yang paling tua dan berasal dari jamaah yang paling besar berkata kepadaku: “Kami tidak menyetujuinya, dia (Abu Hamzah) sendiri yang memutuskan hal itu, dan dia juga telah berjanji kepada kami: “kami akan membenahi kondisi Tanzhim jika kalian bergabung bersama kami”.

Sang sesepuh dari jamaah terbesar tersebut melanjutkan: “Dan saya melihat tidak ada alternatif lain bagi kami kecuali bergabung, Terlebih lagi kami lah yang akan menempati posisi kepemimpinan”. Maka saya berkata: “Namun orang ini (Abu Hamzah) pernah berjanji kepada kita dan tidak ditepati”.

Berkata orang yang tertua diantara kami : “Pemimpin saraya jihad masuk bergabung ke tanzhim, sementara dia adalah orang yang dekat dengan syaikh, dan dalam diri syaikh ada sesuatu keraguan tentang orang ini, dan tidak seorangpun yang kosong dari perasaan semacam ini kecuali yang dirahmati Allah”. Dan berlangsunglah pembicaraan yang panjang.

Setelah itu saya menjumpai kordinator Tanzhim di sebuah wilayah yang ternyata rawan. Saat itu Syaikh Muharib sedang berada di wilayah yang tak jauh dari kami, lalu tiba-tiba pesawat musuh menjatuhkan bom terhadap kami, serta merta kami meraih senjata sedangkan terdapat anak-anak muda saat itu yang bersama kami.

Dalam penyerangan tersebut Syaikh Muharib menemui kesyahidannya, dan kami berhasil mengeluarkan anak-anak muda tersebut dari area tersebut setelah berhasil melewati pertempuran yang dahsyat tersebut. Saat itu si Koordinator mengambil keuntungan dari situasi itu dengan caranya sendiri.

Ia mulai membujukku agar bergabung dengan Daulah sebagaimana bujukan Abu Hamzah, namun saya tetap pada pendirian, lalu saya mengabarkan kepadanya: “Sesungguhnya saudara-saudaraku dari jamaah kami telah berbai’at dan bergabung dengan Daulah, saya merasa kagum!”.

Kemudian saya kembali menuju wilayah yang dikuasai oleh jamaah kami, bahkan kota di wilayah tersebut hampir sepenuhnya telah direbut oleh jamaah kami. Lalu amir kami yang berada di wilayah tersebut berkata kepadaku: “Katakan padaku, anda telah bergabung (dengan Daulah) kan?”.

Maka saya menjawab: “Kami belum bergabung dengan Daulah dan belum berbai’at!”. Kemudian saya kembali kepada Abu Hamzah dan berkata kepadanya: “Kami tidak akan berbai’at”, lalu beliau berkata: “Anda jangan menahannya (jamaahmu agar berbai’at)”. Disini saya melihat seorang anggota jamaah Anshar Tauhid, dan saya sungguh menghormatinya.

Maka setelah saya selesai bermajelis, saya berwudhu dan berbincang dengan orang dari Anshar Tauhid tadi, saya berkata: “Apakah anda telah berbai’at?”. Dia menjawab: “Tidak akan, sungguh!”. Lalu saya berkata: “Demi Allah, berikanlah saya rekomendasi”. Dia berkata: “Kita sedang berada di tengah-tengah masalah yang besar”.

Maka saya berkata: “Bukankah kita bersepakat bahwa kita adalah anggota syuro?”. Dia menjawab: “Mereka memaksa amir jamaah yang tidak berbai’at kepada jamaah mereka”. Saya berkata: “Mereka juga telah melakukan hal tersebut ke atas jamaah kami”. Maka dia berkata: “Maka keputusan tetap berada di tanganmu”. Saya barkata: “Maksudmu saya?”. Dia kemudian berkata: “tidak”.

Aku berkata : “Takutlah pada Allah akan saudaramu”. Dia berkata : “Wahai abu fulan, perkara ini rahasia dan kenapa engkau memaksa ingin tau?”. Setelah aku terus mendesaknya dan diantara kami memang ada rasa saling mencintai krn Allah, akhirnya dia mengabarkan padaku bahwa dia tdk berbai’at dan rela keluar dari jamaahnya.

Saya berkata kepadanya: “Saya tidak faham, tolong jelaskan secara rinci”. Dia berkata: “Saya telah bersepakat dengan Abu Hamzah bahwa saya tidak berbai’at kepadanya.

Saya berkata: “Anda melakukan seperti itu?!”. Dia berkata: “Persoalannya lebih besar dari pada hanya sekedar jamaah kami, lagi pula mereka berkata bahwa siapa yang tidak bersama kami maka dia berseberangan dengan kami”. Saya menghormatinya, maka saya berasumsi bahwa ia meninggalkan kekuasaan demi menyelamatkan jiwanya dari bahaya yang ia ketahui.

Maka saya kembali lagi kepada Abu Hamzah dan saya berkata: “Saya tidak akan berbai’at dan bekerjasama dengan kalian dalam tiga bulan ini, dan kami akan memberikan keputusan final setelahnya, lalu dia menyetujuinya. Pada pertemuan tersebut saya melihat Abu Umar Al Baghdadi turut hadir.

Saat itulah untuk pertama dan terakhir kalinya saya melihat Abu Umar, selain itu Amir Saraya Al Jihad dan Abu Sulaiman Al Utaibi juga hadir. Abu Sulaiman duduk di pojok ruangan namun menyita perhatian saya.

Saya bertanya kepada teman-teman mengenai dirinya, maka mereka menjawab: “Beliau adalah Abu Sulaiman, anggota majelis syar’i Daulah, ia telah hafal Kutub Tis’ah”. Lalu saya bagaikan baru saja menemukan barang saya yang hilang, serta merta saya mendekati beliau dan berkata: “Apa kabar wahai Syaikh?”. Beliau menjawab: “Baik”, lalu ia diam.

Saya pun bertanya kepada Syaikh Abu Sulaiman Al Utaibi tentang tentang perkara itu, dan aku ingin mengetahui sikap orang ini, karena saya tahu bahwa Tanzhim telah banyak mengadopsi pemikirannya. Maka jawaban beliau adalah : “Hal itu tidak diperbolehkan”.

Saat itu saya akhirnya mengetahui bahwa orang ini berbeda dengan kebanyakan orang. Maka mulailah terjadi perbincangan yang baik antara saya dengannya, dari situ saya akhirnya mengetahui bahwa Abu Sulaiman merupakan Qadhi bagi Daulah dan memiliki perbedaan prinsip dengan Abu Hamzah.

Abu Sulaiman tidak suka dengan cara Abu Hamzah dalam metode mengambil bai’at untuk Daulah. Kalau orang khusus dan penting kepada Syaikh Usamah dan Mulla Umar, sementara kalangan awam pada Abu Umar Al Baghdadi.

Beliau melihat bahwa di dalamnya terdapat unsur penipuan dan menyebabkan timbulnya permasalahan secara syar’i, namun beliau tetap berprasangka baik terhadapnya (Abu Hamzah). Pada saat itu Abu Hamzah belum berbenturan dengan satu orang pun yang berhubungan dengannya, terkhusus para muhajirin.

Terdapat perbedaan pendapat antara Abu Sulaiman dengan Amir Saraya Al Jihad, namun pada akhir-akhir Abu Hamzah selalu bersikap baik dengan sang Amir, terutama yang berupa pemberian materi, maka Al Utaibi menilai bahwa hal semacam itu tidak diperbolehkan.

Saya kemudian mohon izin kepada Al Utaibi dan pergi kepada Abu Hamzah, saya berkata kepadanya: “Saya bertanya, apa kedudukanmu di dalam Daulah? Sedangkan anda adalah Amir Tanzhim Al Qaeda cabang Iraq”. Maka beliau menjawab: “Saya adalah Amir Al Qaeda di Syam dan Iraq”.

Saya berkata: “Bagaimana (bisa)?”. Beliau menjawab: “Daulah merujuk kepada Al Qaeda, dan Al Qaeda merujuk kepada Imarah Khurasan, dan saya adalah Amir Al Qaeda di Syam dan Iraq, sedangkan Abu Umar adalah Amir Iraq”.

Saya berkata: “Akan tetapi sekarang kepemimpinan Iraq merupakan kepemimpinan umum dan Abu Umar adalah Amirul Mukminin!”. Beliau berkata: “Itu hanya untuk di media (permukaan) saja, sedangkan secara struktural, kami tergabung di dalam Imarah di Khurasan”.

Kemudian Abu Hamzah berkata: “Sekarang anda hanya cukup membai’at Syaikh Usamah dan Mulla Umar sebagaimana yang telah dilakukan oleh saudara-saudaramu yang lainnya”. Maka saya berkata: “Apakah pemikiran (ide pembentukan) Daulah berasal dari Syaikh Usamah dan Imarah Khurasan?”.

Beliau menjawab: “Asal engkau tahu, ini adalah ide dari Abu Mush’ab Rahimahullah”. Maka saya berkata: “Yang saya maksud apakah mereka (Syaikh Usamah dan Imarah Khurasan) memberikan persetujuan atas Daulah?”. Beliau menjawab: “Insya Allah saya akan menyampaikannya kepada Syaikh”. Lalu saya berkata: “Lho, tapi kalian telah mendeklarasikannya!”. Lalu beliau berkata: “Segala sesuatu itu ada urutannya!”.

Maka dari sini saya mulai mengetahui bahwa orang ini tidak peduli dengan akibat dari sesuatu apa yang ia kerjakan, namun saya hanya memendamnya di dalam hati dan tidak mengatakannya, lalu beliau berkata: “Wahai Abu Fulan, berbai’at lah kepada saudaramu yang tercinta, Usamah!”.

Kemudian beliau sedikit menyibukkan diri, lalu si koordinator Tanzhim datang dan membisikkan ke telingaku : “Sesungguhnya Syaikh telah berkata kepadaku, bahwa jika engkau berbai’at, maka beliau berniat menjadikanmu sebagai Gubernur (Daulah) di Baghdad”, saya hanya tersenyum namun hati saya merasa jengkel.

Kemudian Abu Hamzah kembali lagi kepadaku dan berkata: “Secara umum anda nantinya adalah merupakan penanggung jawab terhadap wilayah yang besar di Baghdad, yang terdapat banyak tentara Daulah di dalamnya”.

Aku telah melihat dgn mata kepalaku….aku melihat suara gemuruh mesin penggiling gandum tp tdk mengeluarkan tepung akan tetapi justru darah suci yg mengalir di Jalan Jalan Baghdad Atas nama baiat pada daulah baghdadi …..yg sejatinya adalah kedustaan yg paling besar

Dan saya telah melihat dengan mata kepala saya sendiri… Saya melihat bahwa suara gemuruh mesin penggiling gandum tapi tidak mengeluarkan tepung, akan tetapi justru darah suci yang mengalir di jalan-jalan Baghdad atas nama bai’at pada Daulah Baghdadi, yang sejatinya adalah kedustaan yang paling besar.

 

Saya bersaksi kepada Allah bahwa Abu Hamzah hanya meminta kepada saya agar berbai’at kepada Syaikh Usamah dan Syaikh Mullah Umar saja, ini adalah yang terjadi pada diriku. Sedangkan yang terjadi pada orang-orang yang telah bergabung dengan Daulah, (saya tidak mengetahuinya) dan mereka jumlahnya banyak.

Diantara mereka yang saya saksikan secara langsung ada 3 orang petinggi jamaah yang tergabung di dalam Majelis syuro berbai’at kepada Syaikh Usamah, sedangkan saya dan seorang anggota dari Saraya Anshar Tauhid, maka kami sama sekali tidak bergabung maupun berbai’at kepada Daulah.

Saya bersaksi dengan nama Allah, sesungguhnya Abu Umar Al Baghdadi tidaklah dipilih melalui majelis syuro mujahidin, dan sosoknya tidak diketahui kecuali setelah deklarasi Daulah yang hanya diselenggarakan oleh Abu Hamzah saja, semoga Allah mengampuni dan merahmamatinya.

Saya bersaksi, sesungguhnya Daulah didirikan diatas dasar pemaksaan terhadap manusia agar berbai’at kepadanya dengan cara yang tidak mengenakkan dan membebani, kemudian menyatakan barangsiapa yang tidak bersama kami berarti dia adalah berseberangan dengan kami. Inilah manhaj mereka terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka.

Sedangkan janji-janji manis, maka tidaklah apa yang dijanjikan oleh orang yang tamak kecuali berbalik kepada dirinya sendiri. Sedangkan tentang manhaj bermuamalah Jamaah Daulah yang baru terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka, maka ia menyediakan sungai penuh darah (bagi mereka).

Inilah kesaksianku, yang saya lihat dan dengar dengan mata telinga saya sendiri. Di dalamnya (menuliskan kesaksian ini) saya selalu berusaha bersikap netral semampu saya, jika tidak maka sesungguhnya saya telah banyak menutup mulut. Saya menceritakannya dengan meminta pertolongan dan kekuatan kepada Allah.

 

Ditulis oleh : Abdullah *********** (@55abdallah55)

Disunting oleh : Rabiyah As Silah (@safaa159)

 

Nb : Akun Twitter Abdullah ********** (@55abdallah55) telah difollow oleh :

  1. Syaikh Abu Mariyah Al-Qahthani (Ketua Dewan Syariah Jabhah Nushrah) : @alghreebmohajer
  2. Hassan Aboud (Amir Harakah Ahrar Syam dan Ketua Badan Politik Jabhah Islamiyah) : @HassanAbboud_Ah
  3. Syaikh Dr. Abdullah Al-Muhaisiny : @mhesne

 

Diterjemahkan oleh :

Logo-bayang

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s