Jabhah Nushrah Merilis Seri Kedua dari Video Pengungkapan Pembunuhan Amir Jabhah Nushrah Wilayah Idlib oleh ISIS

Pada tanggal 17 jumadil akhirah / 16 april 2014 terjadi penyerangan terhadap rumah Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih, yang dilakukan oleh anggota ISIS. Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih sendiri seorang komandan Jabhah Nushrah di daerah Idlib, seorang yang hafal Al-Quran dan memiliki sifat-sifat keutamaan dan akhlaq yang mulia. Lalu siapa sebenarnya yang berani membunuh komandan sebaik ini? Bahkan tidak tanggung-tanggung, istri dan anak beliau juga ikut dibunuh demikian juga adiknya beserta anak dan isterinya.

Sebagaimana yang biasa terjadi, pihak ISIS tidak pernah mau mengakui setiap pembunuhannya terhadap kaum muslimin dan mujahidin, walaupun para saksi dan bukti sudah membuat mereka tidak bisa mengelak lagi. Jabhah Nushrah sendiri melalui Yayasan Media Al-Bashirah telah membuat sebuah video berjudul : “Bahkan Inilah Manhaj Mereka”. Video berdurasi 20 menit ini mengungkapnya dengan menghadirkan saksi-saksi kunci dari tim pelaku pembunuhan tersebut. Video ini juga memuat “pesan” bahwa BEGINILAH MANHAJ MEREKA yang sesungguhnya,  yaitu jamaahnya para pelaku pembunuhan ini, sekaligus juga sebagai jawaban atas penyangkalan mereka sebelumnya.

Dan kali ini, Yayasan Media Al-Bashirah menghadirkan seri kedua dari video “Bahkan Inilah Manhaj Mereka” yang akan membuat para pelakunya semakin tidak bisa mengelak atas apa yang dituduhkan kepada mereka. Didalam seri kedua ini, Yayasan Media Al-Bashirah menghadirkan kesaksian ikhwan-ikhwan Jabhah Nushrah terhadap kepribadian Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih, juga yang paling penting adalah kesaksian dari pelaku utamanya yang ikut menyerbu ke dalam rumah Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih ketika terjadinya penyerangan.

Dan Tim Redaksi Muqawamah Media disini menghadirkan terlebih dahulu terjemahan tekstual dari video tersebut yang telah dirilis oleh Yayasan At-Tahaya, sebelum video terjemahannya selesai dikerjakan, insya Allah…

بسم الله الرحمن الرحيم
YAYASAN ATTAHAYA
MEMPERSEMBAHKAN

BAHKAN INILAH MANHAJ MEREKA – 2

Selesai disusun pada bulan Sya’ban 1435 H – Mei 2014

KESAKSIAN ABU HAMZAH AL-MUHAJIR

bal1
Abu Hamzah Al Muhajir

Abu Hamzah Al Muhajir: “Ya Allah, milik-Mu-lah puji-pujian hingga Engkau ridha, milik-Mu-lah puji-pujian jika Engkau ridha, dan milik-Mu-lah puji-pujian setelah Engkau ridha, serta milik-Mu-lah puji-pujian atas setiap kondisi.

Syaikh Abu Muhammad Al Fatih – Semoga Allah menerima beliau – saya mengenalnya sejak lebih dari 6 bulan yang lalu, dan saya tahu betul tentang beliau, bagaikan pengetahuan seorang saudara terhadap saudara kandungnnya, bagaikan pengetahuan seorang murid terhadap gurunya, saya telah bersama-sama dengan orang ini selama waktu tersebut, dan demi Allah yang tidak ada Ilah yang patut disembah selain-Nya, saya tidak mendapati seorang yang bersikap lemah lembut dan rendah hati terhadap saudara-saudaranya dari kalangan muhajirin melebihi dirinya, tidaklah beliau bertemu denganku kecuali beliau akan mendahulukan senyumnya yang dapat melapangkan dada. Dan demi Allah yang tidak ada Ilah yang patut disembah selain-Nya, bahwa banyak dari orang yang memiliki kebutuhan merasa malu untuk mengutarakannya kepada beliau, padahal mereka tahu bahwa beliau mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka, akan tetapi beliau adalah seorang lelaki yang tidak seperti lelaki biasa, dalam diri saya timbul rasa senang kepada beliau, hormat kepada beliau, mengakui keunggulan beliau dan mendoakan beliau tanpa sepengetahuan beliau. Beliau tidak pernah berbuat salah terhadapku, tidak pernah menyakiti diriku, dan saya tidak pernah mendapati beliau menjelek-jelekkan diriku selama aku kenal dengan sosok beliau.

Yang sangat membekas pada diriku adalah, karena kepergian beliau tidaklah seperti kepergian seorang pun, kepergiannya menyebabkan kita semua terluka, baik kalangan muhajirin maupun anshar, namun semua itu diobati dengan firman Allah Ta’ala:

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup disisi Tuhannya dengan mendapat rezki. Mereka dalam Keadaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bergirang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” [Qs. Ali Imran: 169-170]

Beliau terbunuh di tangan orang-orang yang curang dan berkhianat, beliau terbunuh di tangan mereka, yaitu para penumpah darah.

 

KESAKSIAN ABU MUHAMMAD ASY-SYAMI

bal2
Abu Muhammad Asy Syami

Abu Muhammad Asy Syami berkata : “Semenjak saya kenal dengan saudara kita Abu Muhammad Al Fatih hingga beliau terbunuh – saya memohon kepada Allah agar Ia menerima beliau disisi-Nya –, 3 jam sebelum pembunuhan Syaikh, atau lebih sedikit, wallahu a’lam, saya menghubungi beliau, akhir wasiat beliau Rahimahullah adalah : “wahai ikhwah, perhatikanlah para pemuda, kepada para ikhwah yang tinggal bersama mereka, perhatikanlah latihan-latihan mereka serta tempat tinggal mereka”. Demi Allah saya tidak pernah mengetahui dari orang ini mulai dari dulu hingga saya kenal dengan beliau, sejak kita bersama-sama dalam sebuah kelompok beroperasi bersama hingga beliau terbunuh – saya memohon kepada Allah agar menerimanya, merahmatinya dengan rahmat yang luas – kecuali ia pasti mewasiatkan dengan kalimat “ikhwah”, maka ini adalah… Subhanallah Yang tiada Ilah selain Dia Yang Maha esa.

Saya tidak pernah melihat orang seperti beliau, beliau adalah seorang yang tidak bersikap kecuali dengan sikap yang sangat wara’ dan bertaqwa, dengan keilmuannya yang dalam, yang demi Allah saya saksikan di banyak kesempatan, beliau adalah orang yang berilmu dan menghafal banyak matan, beliau hafal Kitab Allah Azza Wa Jalla, Allah memeberikannya anugerah sehingga beliau senantiasa membaca Al Quran sejak kami berada di dalam penjara, kemudian Allah juga menganugerahkan kepada beliau untuk menghafal banyak matan, saya duduk bersama beliau, saya menyaksikan beliau, saya juga mendengar dari beliau banyak matan dan saya juga terkadang menyimak beliau, kita mengulang matan bersama, dan belajar bersama, saya banyak belajar dari beliau.

Saya juga bersaksi kepada Allah, bahwa beliau adalah orang yang menguasai berbagai bidang keilmuan, dari ilmu tata bahasa hingga ilmu keduniaan, beliau juga mahir berbahasa inggris, menonjol dalam masalah keilmuan, bahkan dalam banyak masalah keilmuan. Subhanallah, ilmu perang, ilmu strategi dan lainnya, beliau menguasai banyak makna kata-kata, meskipun ilmunya banyak begitu juga dengan ilmu syar’inya, namun beliau tetap bersemangat untuk bertanya kepada ahli ilmu, beliau bersemangat untuk bertanya kepada masyayikh, seakan-akan beliau meminta fatwa tentang segala sesuatu terhadap para ikhwah.

Beliau orang yang banyak bermusyawarah meskipun beliau adalah pengambil keputusan, beliau adalah orang yang kritis, maka semoga Allah merahmatinya karena demi Allah saya tidak pernah melihat seseorang layaknya beliau, tegarnya dan kuatnya beliau dipadu dengan kecerdasan dan kelemah lembutannya, (baiknya) adab serta akhlak dan tawadhu’nya diiringi dengan kebiasaan meletakkan sesuatu sesuai pada tempatnya, saya memohon kepada Allah agar Ia merahmatinya dengan rahmat yang luas dan mengasihinya, saya juga meminta kepada Allah agar menghukum orang yang terlibat dalam pembunuhan terhadap beliau ini, demi Allah saya katakan bahwa musibah kami karena kehilangan saudara kita Abu Muhammad ini adalah musibah yang besar, ini bukanlah musibah karena kehilangan seseorang, demi Allah, ini adalah musibah bagi jamaah dan kaum muslimin secara umum.

Kami tidak pernah mengetahui ada orang yang melebihi beliau dalam memperhatikan urusan kaum muslimin, bersungguh-sungguh untuk menaati Allah, menghasilkan hal yang baik untuk kaum muslimin dan melindungi kaum muslimin dari keburukan dengan mengorbankan dirinya, hartanya dan anaknya, barangsiapa yang ikut andil dalam pembunuhan beliau maka saya memohon kepada Allah agar membalasnya dengan neraka Jahannam. Demi Allah, saya tidak pernah mendapati ahli bid’ah pada masa lalu yang seperti mereka para pembunuh Syaikh yang agung ini, kami tidak pernah mendapati kaum khawarij yang seperti ini, karena kaum khawarij memandang bahwa orang yang berdosa adalah kafir dan mereka memandang bahwa kebohongan akan menyebabkan kekafiran. Namun mereka (para pembunuh Abu Muhammad) adalah pendusta, suka membunuh, perilakunya hina dan najis serta bodoh, mereka mengumpulkan semua keburukan tersebut dan menggabungkannya dengan perilaku mereka yang mengkafirkan kaum muslimin, beserta menghalalkan penumpahan darah (kaum muslimin) dan menghalalkan segala sesuatu. Pemandangan yang kami saksikan dalam pembunuhan Syaikh dan keluarganya, demi Allah adalah pemandangan yang pedih dan tidak dapat dilukiskan, maka cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung dari mereka, saya meminta kepada Allah agar membalas kejahatan mereka”.

 

KESAKSIAN DARI IBUNDA ABU MUHAMMAD FATIH

bal3
Ibunda dan Anak Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih yang menjadi korban

“Saya tiba di depan kamar, maka saya dapati bahwa anak-anak dan cucu-cucu saya sebagian sudah tidak bernyawa, sebagian lagi terluka, maka saya bergegas menuju tetangga dan meminta pertolongan dari mereka seraya berkata, “kemarilah kalian, evakuasi anak-anak saya, mereka membunuh anak-anak saya.”

Insya Allah mereka berada di jannah-jannah yang penuh dengan kenikmatan, dan yang membunuh mereka Insya Allah berada di kerak Jahannam, Ya Allah.. Ya Allah.. Engkau telah memberikan keputusan yang tepat, kami menyerahkan mereka kepada Allah, kami menyerahkan mereka kepada Engkau wahai Rabb. Engkau manampakkan kebenaran dan memperlihatkannya kepadaku dengan perantara mereka pada hari yang tidak akan mereka lupakan dalam hidup mereka (pembunuh – red.) (perkataan asli dari ibunda beliau diucapkan dengan menggunakan bahasa pasaran, kami mengubahnya ke dalam bahasa arab yang fasih).

 

WAWANCARA DENGAN SALAH SEORANG YANG TERLIBAT DALAM PEMBUNUHAN KOMANDAN ABU MUHAMMAD FATIH BESERTA KELUARGA BELIAU

bal4
Abu Umar At-Tunisi, salah seorang pelaku penyerangan rumah Syaikh Abu Muhammad Al-Fatih

Nama panggilan saya adalah Abu Umar At Tunisi, nama asli saya adalah Ramzi bin Ibrahim bin Sulaiman, terakhir kali saya bergabung dengan Abu Mush’ab, saya katakan : “Dengan siapa nantinya kita akan melaksanakan operasi?”. Dia berkata : “kamu akan melakukan operasi dengan Abu Mush’ab”. Kemudian dia berkata : “(targetnya – red.) adalah seorang komandan di Jabhah Nushrah”. Maka saya berkata : “Mari kita laksanakan”.

Penanya : “Apakah kamu telah beristkharah kepada Allah Azza Wa Jalla sebelum melaksanakan operasi?”.

Abu Umar : “Demi Allah, wahai Syaikh, saya belum beristikharah”.

Penanya : “Apakah kamu telah bermusyawarah dengan salah seorang pakar syariat?”.

Abu Umar : “Tidak ada pakar syariat di sana, markas para pakar syariat jauh dari tempat kami, Al Adnani mendatangi kami dan berbicara dengan kami.”

Penanya : “Apa yang ia katakan kepada kalian?”

Abu Umar : “ia menceritakan kepada kami tentang Al Jaulani dan Jabhah Nushrah, ia telah diusir oleh Al Jaulani, dia memendam kebencian kepada Al Jaulani. Anda faham maksud saya?”

Penanya : “Apa lagi yang ia ceritakan kepada kalian?”

Abu Umar : “ia tidak berlama-lama dalam bermajelis dengan kami, ia mendo’akan kami agar mendapatkan taufik dari Allah”.

Penanya : “Dimana dia mendatangi kalian?”

Abu Umar : “Dia mendatangi kami di markas khusus pasukan keamanan”.

Penanya : “dimana letaknya markas ini?”

Abu Umar : “Kota Al Bab, Aleppo”

Penanya : “dia bermajelis dengan kalian di markas?”

Abu Umar : “Iya, dia bermajelis dengan ditemani kami, kemudian dia shalat zhuhur dan ashar lalu meninggalkan tempat, kegiatannya adalah mengadakan pertemuan dengan Amirul Mukminin”.

Penanya : “Berapa lama ia bermajelis dengan kalian?”.

Abu Umar : “Sekitar setengah jam, atau 45 menit, pertama kali bertemu dengannya, ia memakai topeng ski, saya tidak mengetahui wajah Al Adnani, karena ia selalu memakai topeng tersebut bahkan ketika shalat ia juga tidak melepaskannya”.

Penanya : “Bagaimana ia mengabarkan kepadamu bahwa darah ini (Abu Muhammad) adalah boleh ditumpahkan? Maksudnya jikalau kamu mengatakan kepada dirimu sendiri untuk pergi membunuh Nushairiyah, (kemudian kamu justru membunuh Abu Muhammad – red.) maka apakah ini diterima?”

Abu Umar : “Mereka menafsirkan kepada kami bahwa mereka (Jabhah Nushrah – red.) adalah para pembangkang, dan bahwa Jabhah Nushrah adalah bagian dari Jamaah Daulah, mereka juga berkata bahwa Jabhah Nushrah adalah khawarij. Mereka mengabarkan kepada kita bagaimana Jabhah Nushrah tersebut masih merupakan bagian dari Jamaah Daulah dan bagaimana Jabhah Nushrah bisa memisahkan diri dari mereka, bagaimana Syaikh Abu Bakar (Al-Baghdadi ,-red) mengutus Al Jaulani kemudian terjadi permasalahan di sana lalu pecah, dan saat itu juga mereka menjadi khawarij karena mereka telah keluar dari Daulah, mereka memisahkan diri dari Amirul Mukminin, mereka berkata kepada kami bahwa Jabhah Nushrah adalah bughat. Demi Allah kami sebenarnya ingin bertanya tentang tafsir ayat : “Dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang..” [Qs. Al Hujurat: 9] kami bermaksud menanyakan tafsir ayat tersebut, dan tentang bughat, serta tentang berhukum dengan syariat Allah Azza wa Jalla, maka berjalanlah bersama kami karena mereka khawarij dan bughat dan mereka (Jabhah Nushrah) memerangi kami”.

Abu Umar : “..27 tahun, Abu Mush’ab berumur 36 tahun, Abu Hafsh berumur saya kira 24 tahun, dan Abu Thalhah berumur 27 tahun, sedangkan umur saya adalah 19 tahun, saya yang paling muda. Pertama kali dia mengetuk pintu rumah (Abu Muhammad Fatih), lalu di bertanya kepada mereka, “apakah Abu Said ada?,” seorang bocah mendekati pintu, kemudian ia ditanya : “Apakah Abu Said ada?”. Si bocah menjawab : “Tidak ada”. Maka ia ditanya lagi : “Siapa yang ada?”. Saya tidak ingat nama siapa yang disebutkan oleh si bocah kepada mereka (para pelaku, termasuk Abu Umar – red), si bocah berkata: “Abu Muhammad ada”, maka ketika dia mendengar namanya (nama Abu Muhammad), ia memegangi si bocah namun ia berhasil masuk ke dalam rumah dan berhasil ditembak oleh Abu Hafsh, maka setelah itu dimulailah baku tembak di dalam rumah, saya masuk namun langsung terkena dua tembakan di bahu saya.”

Penanya : “Dari mana kamu terkena tembakan?”.

Abu Umar : “Demi Allah wahai Syaikh, saya tidak tahu, pertama kali teman-teman masuk rumah, mereka langsung menembaki sebuah kamar, kemudian kamar-kamar berikutnya yang saya tidak ingat jumlahnya, yang saya ingat adalah itu rumah tingkat, saya melepaskan senjata saya kemudian saya keluar dari rumah, diikuti oleh teman-teman, kami menaiki mobil kemudian pergi.”

Penanya : “Pertama kali mereka masuk kedalam rumah apa yang mereka lakukan?”.

Abu Umar : “Yang saya ingat adalah setelah memegangi si bocah dan berhasil menembaknya, maka dimulailah baku tembak, dan saya terkena peluru kemudian saya pergi keluar rumah”.

Penanya : “Kamu pergi keluar rumah?”.

Abu Umar : “Sebenarnya saya belum masuk ke dalam rumah, saya hanya berdiri di pintu depan rumah saja”

Penanya : “Apakah kamu (kemudian) duduk di mobil?”.

Abu Umar : “Tidak, ada beberapa warga di sana, saya berlari di antara mereka, dan teman-teman memanggil namaku “Abu Umar! Abu Umar!” saat itu banyak darah yang keluar dari tubuhku, lalu saya menaiki mobil dan jatuh pingsan, saya naik mobil dengan ditemani Abu… Abu Mush’ab. Sedangkan dalam hal mengkafirkan Jabhah Nushrah dan Ahrar Syam, maka saya katakan : “Bertaqwalah kalian kepada Allah terhadap diri mereka, tidak ada yang namanya mengkafirkan Jabhah Nushrah”. Saya katakan : Kami telah melakukan kesalahan, saya sebagai seorang manusia telah melakukan kesalahan (…) kalian mungkin akan mengira bahwa saya mengulur-ulur waktu dan bermain-main dengan kalian, saya telah mengadukan urusanku kepada Allah, dan Dia lebih mengetahui apa yang ada di dalam hati. Sedangkan secara pribadi, maka saya berpendapat bahwa sebaiknya menjauhi pemikiran Jamaah Daulah, saya bersumpah dengan nama Allah, saya menasehati setiap orang lebih baik agar mereka ber-istikharah terlebih dahulu, sebagai seorang manusia, saya merasa sangat menyesal dan beristighfar kepada Allah Azza Wa Jalla, atas setiap apa yang kami lakukan”.

Penanya : “Mengapa menyesal?”

Abu Umar : “Di sana terdapat banyak kesalahan yang kami terhasut untuk mempercayainya, salah kami juga mengapa kami tidak memeriksanya terlebih dahulu “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti..” [Qs. Al Hujurat: 6] saya hendak memberitahukanmu suatu hal wahai Syaikh, anda hanya akan mendapatkan keraguan sebagaimana yang akan seluruh manusia dapatan, karena saya telah bermain-main, akan tetapi Allah Azza wa Jalla mengetahui apa yang ada di dalam hati, saya juga membicarakannya dengan dada yang lapang dan santai, saya sebagai seorang manusia memberikan penjelasan kepada Daulah agar mereka bertaqwa kepada Allah dalam diri mereka, untuk tidak mengkafirkan manusia, karena memerangi rezim lebih utama dari memerangi FSA, demi Allah wahai Syaikh, cukuplah Allah sebagai pelindungku, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung, saya meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya.”

 

KESIMPULAN YANG DIAMBIL DARI CERAMAH SYAIKH ABU QATADAH AL FILISHTHINI DENGAN JUDUL “SEBAB TERTUNDANYA TAMKIN (EKSISTENSI: PENEGAKAN NEGARA ISLAM)”

abu-qatada
Syaikh Abu Qatadah Al-Fillisthini

“Sedangkan kerusakan kedua juga lebih besar, yaitu terjadinya keburukan dan kerusakan dengan mengatasnamakan agama, maka ini adalah kerusakan yang besar, membuat kerusakan di muka bumi dengan mengatasnamakan Rabb yang Maha Terhormat dan Mulia. Jika sebuah jamaah dianugerahi dengan eksistensi (penegakan daulah), namun jamaah tersebut tidak layak untuk mendapatkan eksistensi tersebut dari segi keilmuan dan pengetahuan, bukan dari segi kemampuan fisik, karena apabila Allah memberikan kekuasaan, maka Dia juga akan memberikan kemampuan, karena eksistensi tidak mungkin ada jika tanpa kemampuan. Akan tetapi saya berbicara tentang segi ilmu, jika Rabb kita – Subhanahu wa Ta’ala – memberikan anugerah kepada suatu umat, kemudian Dia memberikan kekuasaan kepada umat tersebut lalu Dia memberikan kepada umat tersebut kemenangan, kejayaan dan kemuliaan dengan nama-Nya, kemudian setelah itu jamaah ini mempraktekkan perbuatan mereka terhadap manusia dengan disokong oleh eksistensi dan anugerah ini, maka apa yang akan dihasilkan dari orang-orang bodoh tersebut? Apa yang akan mereka lakukan terhadap kaum dhuafa’ yang leher mereka telah terkekang?

Tidak ada yang akan terjadi kecuali kerusakan, dan kerusakan ini dampak buruknya menjadi berlipat, karena dilakukan dengan mengatasnamakan Allah dan Islam. Sedangkan terjadinya kerusakan dengan menagatasnamakan islam akan menjadi tabir terbesar yang menghalangi manusia untuk melihat hakekat agama Allah.”

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s