URGENSI MENDIRIKAN IMARAH DAN JAMAAH

Leader-of-Emirate

Tausiyah Amir Imarah Islam Kaukasus : “Urgensi Mendirikan Imarah dan Jamaah”


Segala puji bagi Allah SWT, shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga-keluarganya dan seluruh sahabatnya, Assalamualaikum wa rammatullah wa barakatuh.

Pembicaraan kali ini berjudul “kebutuhan untuk mendirikan Keimarahan dan jamaah”. Semua orang mengatakan bahwa ia adalah termasuk Ahlus Sunnah wal Jamaah, bahkan kaum sufi, murjiah, madkhali (salafi) dan selainnya dari sekte sesat juga mengatakan demikian. Pandangan dan konsep mereka sudah diketahui oleh kaum muslimin, namun di sana ada permasalahan dengan saudara-saudara kita para muwahhidun, yaitu orang-orang yang mengaku bahwa mereka adalah ahlus sunnah wal jamaah, namun pada kenyataannya mereka tidak ada hubungan sedikitpun dengan ahlus sunnah.

Maka dari itu saya memutuskan untuk membicarakannya kali ini dengan pertolongan Allah, saya ingin menjelaskan posisi orang-orang itu, saya juga berharap agar pembicaraan ini dapat memberikan manfaat bagi kaum muslimin dan orang-orang yang beriman. Ayat-ayat dan hadits-hadits yang membicarakan tentang kebutuhan untuk mendirikan keimarahan dan jamaah sangat banyak, namun saya hanya akan menyebutkan sebagiannya saja, di antaranya adalah firman Allah sebagai berikut:

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri).” [Qs. An Nisa’: 83]

Ayat ini menyatakan akan urgensi pengelolaan urusan kaum muslimin oleh para penguasa.

Diriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW, bahwasanya beliau bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةٍ يَكُوْنُوْنَ بِفَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ إلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ.

“Tidak boleh bagi tiga orang yang berada di padang pasir (tanah yang kosong) kecuali mereka mengangkat salah seorang sebagai amir.” [HR Ahmad, Hadits dari Abdullah Bin Umar Radhiyallahu anhuma]

Diriwayatkan juga:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila ada tiga orang yg keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” [HR. Abudaud No.2241].

Asy Syaukani dalam kitab Nailul Authar berkata di dalam bab ‘wajib mengangkat pemimpin dalam urusan peradilan dan imarah’, setelah beliau menyebutkan hadits diatas, beliau berkata: “Di dalamnya terdapat dalil bahwa yang menunjukkan bahwa disyariatkan kepada 3 orang atau lebih untuk mengangkat salah satu dari mereka sebagai pemimpin, karena pada yang demikian itu terdapat keselamatan dari perselisihan yang menyebabkan kehancuran. Dengan tidak adanya pengangkatan pemimpin, maka setiap orang akan bersikap sewenang-wenang dalam berkata dan berbuat, yang didasari dengan hawa nafsunya, akhirnya mereka akan musnah. Dengan adanya pengangkatan pemimpin maka perselisihan akan dapat dikurangi dan kesepakatan dapat diwujudkan. Jika ini saja disyariatkan kepada 3 orang yang berada di tanah kosong atau bepergian, apalagi kepada orang yang jumlahnya lebih banyak, yang mereka menempati suatu desa atau wilayah, dan butuh untuk melindungi diri dari kezhaliman serta menengahi perselisihan, maka disyariatkannya (pengangkatan pemimpin – red.) itu lebih berhak dan lebih memungkinkan. Di dalamnya juga terdapat dalil bagi perkataan orang yang berkata bahwasanya wajib atas kaum muslimin untuk memilih seorang imam, wali atau penguasa.”

Syaikhul Islam Rahimahullah berkata dalam Majmu’ Fatawa, Bab Hisbah: “Setiap bani Adam tidaklah sempurna kemaslahatannya baik di dunia ataupun di akhirat, kecuali dengan berkumpul, bekerjasama dan saling mendukung. Bekerjasama dan saling mendukung itu bertujuan untuk mendatangkan hal-hal yang bermanfaat, sedangkan saling mendukung itu bertujuan untuk mengusir marabahaya dari mereka, maka dari itu dikatakan: “manusia itu pada asalnya adalah makhluk sosial”. Apabila mereka sudah berkumpul, maka ada beberapa hal yang harus mereka lakukan untuk mewujudkan kemaslahatan, dan ada beberapa hal yang harus mereka jauhi yang di dalamnya terdapat sumber kerusakan. Mereka haruslah mentaati pemimpin yang mengatur kepentingan-kepentingan (kemaslahatan – red.) tersebut dan melarang untuk mendekati sumber-sumber kerusakan tersebut, maka seluruh bani Adam haruslah tunduk kepada seorang yang dapat memerintah dan melarang. Oleh karena itu Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada umatnya untuk mengangkat seorang wali bagi mereka, dan wali tersebut memerintahkan kepada mereka untuk menunaikan amanat kepada yang berhak atasnya, apabila mereka memutuskan hukum di antara manusia, maka mereka harus putuskan dengan adil, ia juga harus memerintahkan kepada mereka agar mentaati sang wali dalam ketaatan kepada Allah, karena di dalam Sunan Abu Dawud, diriwayatkan dari Abu Said, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila ada tiga orang yg keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” [HR. Abu Daud No.2241]

Begitu juga di dalam sunannya, (ada hadits yang sama – red.) yang diriwayatkan dari Abu Hurairah. Dan di dalam musnad Imam Ahmad, dari Abdullah Bin Amru, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِثَلاَثَةٍ يَكُوْنُوْنَ بِفَلاَةٍ مِنَ الأَرْضِ إلَّا أَمَّرُوا عَلَيْهِمْ أَحَدَهُمْ.

“Tidak boleh bagi tiga orang yang berada di padang pasir (tanah yang kosong) kecuali mereka mengangkat salah seorang sebagai amir.” [HR Ahmad]

Apabila ini saja telah diwajibkan di dalam jamaah dan kumpulan yang terkecil untuk mengangkat seorang pemimpin yang merupakan salah satu dari mereka, apalagi terhadap kumpulan yang lebih besar darinya, maka ia merupakan penekanan akan wajibnya hal itu”.

Disebutkan di dalam Sunan Abu Dawud, bahwasanya Nabi SAW bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila ada tiga orang yg keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” [HR. Abu Daud No.2241]

Tuntutan untuk memilih seorang pemimpin di dalam jumlah yang kecil ini merupakan isyarat bahwa ia lebih dituntut di dalam jumlah yang lebih banyak. Syaikhul Islam Rahimahullah juga berkata di dalam buku Siayasah Syariyah: “Wajib untuk diketahui, bahwa wilayah kepemimpinan manusia adalah termasuk salah satu kewajiban agama yang terbesar, bahkan urusan keagamaan dan keduniaan tidak akan tegak kecuali dengannya, karena kemaslahatan Bani Adam tidak akan sempurna kecuali dengan berkumpul untuk saling memenuhi kebutuhan mereka satu sama lain, dan mereka harus berkumpul di bawah seorang pemimpin, bahkan Nabi Muhammad SAW bersabda:

إِذَا خَرَجَ ثَلَاثَةٌ فِي سَفَرٍ فَلْيُؤَمِّرُوا أَحَدَهُمْ

“Apabila ada tiga orang yg keluar dalam suatu perjalanan, maka hendaknya mereka menunjuk salah seorang dari mereka sebagai pemimpin” [HR. Abudaud No.2241]”.

Diriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda:

وَأَنَا آمُرُكُمْ بِخَمْسٍ اللَّهُ أَمَرَنِي بِهِنَّ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ وَالْجِهَادُ وَالْهِجْرَةُ وَالْجَمَاعَةُ

“Dan aku memerintahkan lima hal pada kalian yg diperintahkan Allah padaku, yaitu; mendengar, taat, jihad, hijrah dan jama’ah.” [HR. Tirmidzi No.2790]. Membentuk jamaah menempati posisi pertama, dan ia adalah perintah Allah dan Rasul-Nya.

Maka apa yang terjadi, kami tidak faham dengan mereka, yaitu para ikhwah yang mengklaim bahwa mereka adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah namun bersamaan dengan itu mereka tidak bergabung dengan jamaah apapun, khususnya lagi ada jamaah yang pemimpinnya pagi dan sore selalu mengajak orang-orang untuk bergabung dengannya. Jika mereka mengatakan bahwa semboyan Ahlus Sunnah wal Jamaah adalah sesuai dengan manhaj salaful ummah, maka otomatis akan timbul pertanyaan, “apakah pernah para salafus shalih hidup tanpa ada amir ataupun tanpa adanya bai’at kepadanya kecuali dalam beberapa hal yang dikecualikan?”. Sungguh tidak seribu tidak, jika mereka tidak bergabung dengan satupun jamaah dan tidak melakukan bai’at kepada seorang amirpun, maka mengapa mereka berteriak dengan skuat tenaga bahwa mereka adalah bagian dari Ahlus Sunnah wal Jamaah?!

Yang mengherankana adalah ketika mereka berkata, “mari kita berjihad”, semua orang beranggapan bahwa yang harus dilakukan adalah menenteng senjata dan masuk hutan! Tidak ada yang membutuhkan kalian di sana! Bahkan para mujahidin yang ada di sana menunggu-nunggu untuk keluar dari sana dan membiarkan hewan-hewan hidup tenang.

Orang-orang kafir ingin untuk mengusir para mujahidin ke hutan, menjauhkan dan mengucilkan mereka dari masyarakat. Dan orang-orang kafir telah berhasil melakukannya di beberapa tempat, dan Alhamdulilah, para mujahidin kini sadar akan hal itu. Mulai sekarang mereka akan hidup berdampingan dengan masyarakat secara riil, karena kaum muslimin mulai memahami hakekatnya sedikit demi sedikit dan mulai membantu para mujahidin. Ketika “pria berkumis”(Ramazan Abdulatipov, Presiden Republik Dagestan saat ini – red.) mulai memegang tampuk kekuasaan di Dagestan, ia mulai mengusir para mujahidin ke hutan, cara itu ia pelajari dari Kadirov (mantan Presiden Republik Ichkera, Chechnya – red.).

Mujahid yang merepotkan itu adalah beban wahai saudara-saudara, baik ketika ia berada di kota, maupun ketika ia berada di hutan. Kebutuhannya harus dipenuhi, makanannya, pakaiannya, amunisinya, dan lain-lain, kemampuannya terbatas dan tidak dapat bergerak dengan bebas. Sedangkan mujahid yang tidak merepotkan, maka ia adalah sebaliknya, ia dapat memenuhi kebutuhan dirinya dengan mandiri, ia dapat bergerak dengan bebas dari satu tempat ke tempat lainnya, dan tentunya faedah yang dihasilkan juga akan lebih besar.

MAKA DARI ITU WAHAI SAUDARA-SAUDARAKU YANG TERHORMAT, KETIKA KAMI MEMOMPA SEMANGAT KALIAN UNTUK PERGI BERJIHAD, ITU BUKAN BERARTI KALIAN AKAN LANGSUNG MENENTENG SENJATA, AKAN TETAPI IA ADALAH AJAKAN UNTUK MENGERJAKAN AMAL DI JALAN ALLAH, BERSAMA-SAMA JAMAAH SESUAI KEMAMPUAN SEMBARI MENTAATI AMIRNYA.

Kalian harus menegakkan jihad di manapun kalian berada, di kota ataupun di desa, namun kalian harus bergabung dengan jamaah, karena pada saat ini hukum jihad adalah wajib atas setiap muslim. Dan kita perlu membangun sebuah sistem untuk melawan sistem kafir di semua bidang, bidang politik, ekonomi, informatika dan bidang-bidang lainnya. Dan kita perlu memiliki orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing, agar kita dapat memerangi sistem mereka secara keseluruhan sebagaimana mereka memerangi kita secara keseluruhan. Dengan cara bersatu seperti ini, maka mungkin bagi kita untuk mengalahkan mereka.

Ketika kami berbicara dengan para ikhwah dan memompa semangat mereka untuk beramal bersama dalam satu jamaah, mereka justru berkata: “Bukankah lebih baik masing-masing orang bekerja sendiri-sendiri? Karena itu lebih aman daripada beramal melalui jamaah?”. Begitu juga perkataan para penuntut ilmu: “Bukankah sebaiknya kita menjalankan dakwah dan berinteraksi dengan masyarakat dengan tanpa menenteng senjata? Agar dalam tahap ini masyarakat tidak menutup diri mereka?”. Siapa yang akan menutup diri dari kalian? Tidak seharusnya kalian itu tertutup.

KETIKA KAMI MEMILIH PARA AMIR DAN PEMIMPIN JIHAD, KAMI MENCOBA UNTUK MEMILIH SIAPA YANG LEBIH BANYAK JASANYA, LEBIH BESAR KAPASITASNYA, LEBIH MEMILIKI BASHIRAH DAN LEBIH IKHLASH DALAM BERAMAL. Ketika ada seorang saudara datang kepadanya dan mengatakan bahwa ia ingin untuk beramal di jalan Allah, maka sang amir akan melihat kemampuan dan kapasitasnya terlebih dahulu, lalu memilihkan bidang yang paling sesuai dengannya, karena kita tahu apa yang paling kita butuhkan saat ini.

Wahai saudara-saudaraku para penuntut ilmu, kalian tidak mungkin melakukan dakwah sesempurna yang dituntut dari kalian selama kalian berada di tengah-tengah masyarakat. Dahulu ketika saya masih seperti kalian, saya juga berfikir sebagaimana yang kalian fikirkan, namun Alhamdulillah saya telah mengetahui kesalahan saya, maka dari itu wahai saudara-saudaraku yang terhormat, saya pergi berjihad dan saya telah diberi kesempatan untuk berpegang kepada kebenaran tanpa harus takut dengan celaan dari para pencela.

Maka dari itu wahai saudara-saudaraku yang terhormat, tegakkanlah jihad dan bergabunglah dengan jamaah jihad, karena itu lebih utama bagi kalian di dunia dan di akhirat. Dan seringkali saya bertanya kepada para ikhwah dengan satu pertanyaan, “ada dua jamaah, atau bisa dikatakan dua pemerintahan, yang pertama: Imarah Islam Kaukasus yang menyerukan tauhid, yang kedua adalah kafir Rusia yang mengajak kepada kekufuran, dan tidak ada yang ketiga, maka di jamaah manakah engkau berada?! Jika bukan berada di jamaah Islam, lalu di jamaah mana? Apa yang akan engkau katakan untuk membela dirimu pada hari kiamat kelak?”.

Ya Allah, tampakkanlah kebenaran itu sebagai kebenaran bagi kami, dan jadikanlah kami orang yang mengikutinya. Tampakkan pula yang batil itu sebagai kebatilan bagi kami, dan jadikanlah kami orang yang menjauhinya.

Akhir kata, Alhamdulillahi rabbil alamin.

Ali Abu Muhammad Al Qursyi Ad Dagestani hafizhahullah
Amir Imarah Islam Kaukasus
Terjemah dari bahasa Rusia ke bahasa Arab oleh: Haiah I’lamiyah li Wilayah Dagestan (Badan Informasi Wilayah Dagestan)
DIterjemahkan oleh :
logo-muqawamah-189x177

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s