Mengingat dan Mempersiapkan kematian

kematian-copySaudaraku tercinta, hari jumat yang lalu salah satu jamaah Masjid meninggal dunia. Saat masih sehat beliau rajin sholat berjamaah dan aktif ikut pengajian. Tepat hari jumat beliau meninggal, mudah-mudahan khusnul khotimah. Karena saat seseorang meninggal di hari jumat adalah salah satu tanda-tanda khusnul khatimah. Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang muslim meninggal pada hari jum’at atau malam jum’at kecuali Allah melindunginya dari fitnah kubur (HR Ahmad & At-Tirmidzi)
Tentunya peristiwa kematian bagi orang yang masih hidup, agar mempersiapkan diri datangnya kematian. Rasulullah saw mengingatkan agar mempersiapkan kematian , Abdullah ibn Umar r.a. berkata, “Aku menemui Nabi saw bersama sembilan orang sahabat. Salah seorang sahabat dari Anshar bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paing keras dalam mempersiapkan diri menghadapinya. Merekalah orang yang paling cerdas. (HR Ibnu Majah)


Sabda Nabi saw, “Perbanyak mengingat si Pemusnah Kenikmatan,” adalah kalimat yang singkat namun padat. Kalimat ini memadukan antara peringatan dan nasihat. Sebab orang yang benar-benar mengingat kematian akan serta merta kehilangan rasa nikmat yang tengah dirasakannya. Dia juga kehilangan hasrat untuk merasakan lagi dimasa depan. Dia pun merasa enggan terhadap sesuatu yang sebelumnya dia idam-idamkan.

Hasan Basri berkata, “Kematian membuka aib dunia. Ia tidak membiarkan orang yang mempergunakan akal untuk memikirkannya bergembira. Tidaklah seorang hamba memaksa hatinya untuk mengingat mati kecuali dunia akan menjadi kecil dan semua isinya tak berarti baginya.”

Imam Ibnu Jauzi mengingatkan, “Wajib atas orang yang tidak mengetahui kapan kematian menjemput untuk selalu siap, jangan terperdaya oleh kemudaan dan kesehatan, karena sedikit orang yang mati tua, kebanyakan mati muda. Karena itu, jarang orang yang mencapai usia tua. Kewaspadaan yang penting adalah kewaspadaan dari melakukan kemaksiatan karena akibatnya jelek. “

Ibnu Rajabb mengingatkan, “Wahai orang-orang yang sudah berusia 20 tahun berapa orang kalian yang telah mati, wahai orang yang telah berusia 30 tahun kalian telah menikmati masa muda tapi tidak pernah melaksanakan kewajiban, maka tidaklah kalian merasa menyesal, wahai orang-orang yang telah berusia 40 tahun masa kecil telah berlalu tapi kalian masih belum puas juga untuk bermain-main. Wahai orang yang berusia 50 tahun kalian separuh umur telah menapaki dari umur 100 tahun, wahai orang yang berumur 60 tahun kalian telah berada dimedan kematian, kematian akan segera datang. Masihkah kalian akan bermain-main dan bersenang-senang ? kematian akan sebentar lagi datang

Semua manusia pasti akan mengalami detik-detik sakaratul maut. Orang kaya, orang miskin, penguasa dan semua manusia di dunia ini. Mereka semua akan mengalami kematian

Setiap manusia telah ditetapkan ajalnya. Apabila ajal itu datang kepada manusia, tidaklah dapat ditunda atau dimajukan sedetikpun (QS Al-A’raf [7]34)

Setiap orang akan mengalami kematian (QS Ali Imran [3]185)

“Semua yang ada di muka bumi ini pasti binasa. Hanya Tuhanmu yang kekal. Tuhan yang Mahamulia lagi dimuliakan. (QS Ar-Rahman[55]2—27)

Sesungguhnya engkau pasti mati dan sesungguhnya mereka pasti akan mati pula (QS Az-Zumar 30)

Tiap-tiap sesuatu pasti binasa, kecuali Allah. Bagi-Nya-lah segala penentuan, dan hanya kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Qashahs 88)

Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh (An-Nisa 78)

kematian2

Abu Darda r.a. saat datang kematian berkata, “Adakah yang mampu menolak pergumulan sedahsyat seperti ini? Adakah yang sanggup menentang serangan kematian? Maka dari itu Allah swt mengingatkan;

Wahai kaum mukmin, hendaklah kalian takut siksa pada hari kiamat, saat kalian dikembalikan kepada Allah. Setiap orang akan diberi balasan yang setimpal dengan perbuatan yang telah ia lakukan di dunia, setiap orang tidak akan dianiaya sedikit pun dalam mendapatkan balasan amalnya. (QS Al-Baqarah [2]281)

Allah adalah Tuhan Yang Maha Pemaksa terhadap semua hamba-Nya, Allah telah mengutus malaikat pengawas kalian sampai maut datang kepada salah seorang di antara kalian. Malaikat-malaikat Kami akan mencabut nyawa orang yang telah sampai ajalnya dan mereka tidak pernah mengabaikan amal kalian di akhirat. Semua manusia akan dikembalikan kepada Allah, Tuhan penguasa yang sebenarnya atas manusia. Wahai manusia, ketahuilah bahwa semua keputusan ada di tangan Allah. Allah sangat cepat menghitung amal di akhirat. (QS Al-An’aam[6]60-61)

Sungguh Kami telah ciptakan manusia. Kami mengetahui bisikkan apa saja dalam hati setiap manusia. Kami lebih dekat kepada diri setiap manusia daripada urat nadinya sendiri. Wahai manusia ingatlah ketika dua malaikat yang ditugaskan mencatat amal setiap manusia bertemu. Yang satu berada di sebelah kanan, dan yang lain di sebelah kirinya. Apa saja yang diucapkan oleh setiap manusia pasti diketahui dan dicatat oleh Raqib dan “Atid. Ketika sakaratul datang kepada setiap manusia pasti malaikat berkata kepadanya, “Inilah kematian yang dahulu senantiasa kamu hindari.” Kemudian sangkakala ditiup. Itulah hari yang dahulu diancamkan kepada manusia. Setiap manusia akan datang disertai melaikat yang menjadi saksi atas setiap perbuatannya didunia. (QS Qaaf[50]16-21)

Tetapi sayangnya banyak manusia yang lalai, mereka tidak sadar kecuali saat datang kematian,

Allah berfriman, “Sungguh dahulu kamu senantiasa melalaikan hari kiamat ini karena itu sekarang kami bukakan tabirnya untuk kamu. Mata kamu pada hari ini dapat melihat akhirat dengan amat tajam . (QS Qaaf[50]22) Astagfirullah

Saudaraku, hati orang yang tenggelam dalam dunia dan tertipu olehnya serta jatuh cinta pada berbagai syahwatnya sudah pasti lalai dari mengingat kematian. Apabila seseorang mengingat pada kematian, maka dai merasa tidak dan langsung menjauh darinya, Allah sudah mengingatkan dalam firman-Nya

mati
“Sungguh kematian yang selalu kalian hindari itu pasti mengejar kalian. Kalian akan dikembalikan kepada Allah, Tuhan yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata. Kemudian kelak di hari kiamat, Allah akan menjelaskan kepada kalian apa saja yang telah kalian lakukan di dunia (QS Al-Jumu’ah[62]8)

Dalam hal ini, manusia terbagi tiga, orang yang tenggelam dalam dunia, orang yang bertobat, dan orang yang mengenal Allah.

Rasulullah mengingatkan agar menghiasi hidup dengan ketakwaan saat kematian akan menjemputnya, “Jagalah lima perkara sebelum datangnya lima. Masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum datang sakitmu, kayamu sebelum datang kefakiranmu, waktu kosongmu sebelum datang sibukmu, dan hidupmu sebelum datang kematianmu (HR Ahmad & Tirmidzi)

Baliau saw juga mengingatkan, “Ada dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh banyak orang. Yaitu; kesehatan dan waktu luang

Memperbanyak mengingat mati dapat mencegah dari berbuat maksiat dan dapat meluluhkan hati yang keras. Ad-Daqqaq mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya dia dimuliakan dengan tiga hal; penyegeraan tobat, kepuasan hati, dan ketekunan beribadah. Siapa melupakan kematian, tidak ridho dengan rezki yang cukup, dan kemalasan beribadah.

Ibnu umar mengatakan, “Jika kamu berada di sore hari, maka jangan menunggu pagi hari, dan jika kamu berada di pagi hari maka jangan menunggu sore hari. Pergunakan kesehatanmu untuk sakitmu, dan hidupmu untuk matimu.

Dengan arti banyak orang yang terlena di saat dirinya sehat dan waktu kosong. Kemudian mereka baru merasakan berartinya dua masa ini ketika sudah hilang dari dirinya.

mati1
Abdu Darda berkata, “Apabila diingatkan tentang orang-orang yang mati, maka persiapkanlah dirimu sebagai seorang yang akan mati seperti mereka.

Bagaimana salafus sholeh mengingat kematian

Umais al-Qarni berkata, “Jadikanlah kematian sebagai bantalmu saat kamu tidur dan jadikan ia pelupuk matamu. Jika kamu bangun berdoalah pada Allah untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada hati dan niat. Adakalanya niatmu malah berpaling darimu dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat kepada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.

Ibnu Muthi memandang rumahnya terkagum-kagum dengan keindahannya lalu ia menangis dan berkata Demi Allah jika tidak ada kematian niscaya aku senang denganmu. Jika kamu bisa menjadi penolong dari sempitnya kuburan niscaya kami senang dengan kehidupan duni kemudian ia menangis dengan keras

Muadz bin Jabal saat kematian mendatanginya diwaktu sahur, ia bertutur kepada putranya, “Keluarlah, apakah fajar telah terbit? Setelah anaknya itu melihat di langit, ia menjawab, “Belum. “Jawab puttranya. Apakah fajar telah terbit? Setelah anaknya itu melihat lagnit, ia menjawab, “Ya, fajar sudah terbut.” Maka ia berkata. “Ya, fajar sudah terbit. Maka ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari subuh menuju ke neraka. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku menyukai hidup bukan karena bercocok tanam, juga bukan karena mengalirkan sungai, atau membangun istana. Tetapi untuk apa engkau menyukai hidup, hai Abdurrahman Muadz bin Jabal? Aku menyukai hidup karena tiga hal; puasa di siang hari yang panas, qiyamulail dan berkumpul dengan orang-orang alim di majelis zikir.

Ruh hin Mudrik berkata, “Sekarang berbuat baiklah sebelum kamu sakit sehingga ringgkih (lemah), kamu tua sehingga rapuh, kamu mati lalu terlupakan kamu dikubur sehingga hancur, kamu dibangkitkan dan hidup kembali, kemudian kamu dihapadapkan dan diadili, menunggu dan menerima keputusan, atas apa yang kamu perbuat dan lakukan, kamu menghilangkan dan memusnahkan sesuatu yang merusak kejelakan-kejelekanmu syahfatmu. Sekarang berbuat baiklah saat kamu dalam keadaan sehat sejahtera

Nasihah-Kematian
Umar bin Abdul Aziz melewati kuburan. Maka ia berkata, “Wahai kematian, apa yang engkau perbuat terhadap orang-orang yang dicintai? Manakah para kekasih tercinta itu? Mana dia rekan dan teman? Mana dia saudara dan ikhwan? Manakah pendampign dan pengawal…? Wahai maut apa engkau lakukan terhadap orang-orang yang kami cintai? Tidak ada seorang pun yang hadir menjawab. Lalu dia berkata dengan air mata bercucuran. “Tahukah kalian apa yang diucapkan oleh kematian? Orang-orang menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Kematian menyatakan; aku memakan kedua bola mata, aku melumatkan dua mata, aku telah memishkan telapak tangan dari lengan, dan aku telah memisahkan lengan dari bahu tangan”

Rabi’ ibn Khutsaim menggali sebuah kuburan di halaman rumahnya. Setiap kali merasa hatinya keras, dia langsung memasuki kuburan itu dan berbaring di dalamnya untuk beberapa lama berulang-ulang mengatakan,…ya Tuhanku kembalikan aku ke dunia mudah-mudahan aku selalu beramal shalih selama Engkau hidupkan aku (QS Al-Mu’minun 99-100) akhirnya dia berkata, “Hari Rabi’, kamu telah kebali ke dunia maka beramallah! Dia juga pernah berkata, “Seandainya ingatan tentang kematian pergi menginggalkan hatiku sesaat saja, nicaya hatiku hancur!

Bisyr bin al-Haristz al-hafi suatu saat ada yang menegur, “Tidakkah engkau beristirahat karena Allah dimalam hari walau sejenak? Beliau menjawab, “Rasulullah melaksanakan sholat kaki sampai bengkak-bengkak padahal beliau diampuni dosanya yang dulu dan yang kemudian, lalu bagaimana aku bisa tidur sedangkan aku tidak tahu, apakah Allah mengampuni dosaku atau tidak meski hanya satu? Beliau ditanya kenapa tidak tidur! Jawabny, “Aku takut kematian menjemputku saat tidur. Beliau berkata, “Bersegeralah-bersegerlah, sesungguhnya setiap saat diwaktu pagi dan malam pergi membawa umur!

Hasan Basri ketika memberi nasihat kepada orang-orang tua, “Wahai orang-orang yang lanjut usia! Apa yang dapat diperhatikan dari tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab, “Sudah saatnya untuk di panan.” Wahai para pemuda! Sesungguhnya tanaman terkadang mendapt bencana hamas sebelum waktu panen tiba

ingat-mati-karena-kematian-tidak-akan-melupakanmuAgar ingat dengan kematian
1. Memberisihkan hatinya dari semua kesibukan duniawi
Tidak terlalu bahagia dengan kemewahan dunia atau dengan sesuatu yang didapatkannya, serta jangan terlalu bersedih dengan problematika dunia yang dihadapi atau musibah yang menimpanya, bersikap wajar saja. Seperti dalam firman Allah,

Kami beritahukan semua ini agar kalian tidak berputus asa karena gagal meraih sesuatu atau berbangga diri karena berhasil medapatkan apa yang Allah berikan kepada kalian. (QS Al-Hadid[57]23)

2.Membiasakan dirinya untuk melayat jenazah, menziarahi kubur untuk mendapatkan nasehat dan mengingat kematian. Membiaakan dirinya untuk melhat mayat ketika dikubur dalam liang kuburnya. Karena itu akan memberikan bekas bagi orang yang mempunyai hati.

Rasulullah saw bersabda, “Dahulu aku melarangmu untuk menziarahi kubur. Namun sekarang, ziarahilah kubur karena hal tersebut dapt melembutkan hati, meneteskan air mata, dan mengingatkan kepada akhirat (HR Bukhari & Muslim)

3. Merenungi orang yang sudah meninggal dunia dan mereka meninggalkan harta warisan yang banyak. Namun, harta yang diwariskannya ini tidak bermanfaat baginya seteleh kematianya kecuali harta yang disedekahkan

Rasulullah saw bersabda, “Siapkah di antara kamu yang lebih suka kepada harta yang diwariskan daripada hartanya yang sudah di sedekahkan. Para sahabat berkata “Ya Rasulullah, tidak ada satupun dari kamu yang lebih cinta kecuali kepada harta sendiri.” Rasul berkata, “Sesungguhnya harta yang dimiliki memberikan manfaat adalah harta yang telah disedekahkan. Sedangkan harta warisan adalah harta yang ditinggalkannya

Beliau juga bersabda, “Jika manusia mati maka segala amalnya terputus kecuali tiga perkara yaitu shadawah jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendokannya (HR Bukhari)

Dalam hadis yang lain, “Orang yang meninggal dunia diikuti oleh tiga perkara; sanaak keluarganya, hartanya dan amalnya. Makayang dua perkara kembali dan yang tersisa tinggal satu perkara. Sanak keluarga dan hartanya akan kembali dan yang tertinggal hanya amalnya (HR Muslim)

4. Untuk mempersiapkan kematian maka di mulai dengan melakukan sedeka jariyah dan mengamalkan ilmu yang diketahui.

Ibnu Jauzi memberi nasehat, “Hendaklah seseorang berusaha memiliki anak yang akan berdzikir kepada Allah sepeninggalannya, sehingga pahalanya juga dapat ia rasakan. Atau hendaklah ia menulis kitab atau buku tentang ilmu. Sebab menulis ilmu ibarat anaknya yang akan tetap kekal. Dari kitabnya akan dinukil orang lain. Inilah yang tak pernah mati. Suatu kaum telah meninggal mereka masih hidup

5. Mengingat-ngingat dan membayangkan teman-temanya yang sudah meninggal dunia. Dan bertanya kepada dirinya sendiri, kapan akan berjumpa dengan mereka dan dengan keadaan bagaiamana dirinya

6. Di antara cara mengingat menulis sebuah kalimat diatas kertas kemudian ditempelkan di hadapannya atau tempat yang bisa selalu dilihatnya. Abu Ishaq saar meninggal di bawah bantalnya ada tulisan secarik kertas yang berbunyi, “Seseorang membisikkan, “Perbaikilah amalmu, sungguh telah dekat ajalmu ”Anaknya berkata, bila ayahmya merasa malas beramal ia mengeluarkan kertasnya di bacanya lagi lalu muncul kembali semangatnya.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s