Meningkatkan Ibadah Sepuluh Hari Terakhir & Mencari Lailatul Qadr

Allah swt menurunkan Al-Qur’an pada lailatul qadri (malam yang agung) yaitu lailah muhabarakah (malam yang di berkahi). Itulah malam yang nilai ibaah pada saat itu lebih utama dari ibadah selama 1000 bulan, yaitu setara dengan ibadah 83 tahun 4 bulan. Itulah malam yang penuh kebaikan dan keberkahan. Karena besarnya kemuliaan dan keutamaan ibadah di dalamnya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mencari dan meraih lailatul qadar. Allah swt berfirman,

Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami. Sesungguhnya Kami adalah Yang mengutus rasul-rasul, sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui, Tuhan Yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini. Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menghidupkan dan Yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu. (QS Ad-Dukhan[44]3-8)

Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam yang sangat mulian di bulan Ramadhan. Wahai Muhammad apakah engkau tahu tentang malam yang sangat mulia mulia itu? Malam yang sangat mulia itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu Jibril dan para malaikat turun atas perintah Tuhan mereka untuk membawa semua ketetapan. Malam yang sangat mulia itu berlangsung terus sampai waktu subuh (QS Al-Qadr [97]1-5)

Saudara sekalian, telah turun kepada kalian sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Di dalamnya banyak sekali pahala, keutamaan dan keistimewaan.

Di antara keistimewaan sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini adalah bahwa Nabi saw senantiasa meningkatkan kesungguhan di dalam beramal, dengan melakukan alaman yang lebih banyak lagi dari hari-hari selainnya. Dalam shahih muslim disebutkan riwayat dari Aisyah bahwa Nabi saw meningkatkan kesungguhan di dalam bermal pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau pada hari yang lain.

Aisyah berkata, “Ketika teleh masuk sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, maka Rasulullah saw mengencangkan sarung, menghidupkan malam dan membangunkan keluarganya.

Beliau juga menambahkan, “Nabi saw mengisi dua puluh hari bulan Ramadhan dengan mengerjakan shalat dan menyempatkan untuk tidur. Namun ketika tiba sepuluh hari terkhir bulan Ramadhan, maka beliau bersungguh-sungguh dan mengencangkan sarung.

Saudaraku, pada bagian sepuluh hari terakhir bulan suci Ramadhan terdapat Lailatul Qadr (malam kemuliaan) yang dimuliakan Allah atas malam-malam lainnya. Allah memberikan anugerah umat ini dengan karunia dan kemurahan-Nya yang sangat besar, Allah menyebutkan keutamaan malam ini dalam kitab-Nya.

Saudaraku Nabi saw yang sudah dijamin masuk surga, yang sudah dijamin diampuni dosanya, begitu bersungguh-sungguh melakukan berbagai jenis ibadah, baik yang berupa shalat, membaca Al-Qur’an, berzikir, sedekah dan lainnya. Sebab, Nabi saw ketika itu mengencangkan sarung, yang berarti meninggalkan istri-istri beliau untuk mengisi waktu sepenuhnya dengan ibadah shalat dan zikir. Di samping itu, beliau juga menghidupkan shalat malam, membaca Al-Qur’an dan berzikir dengan lidah, dan anggota bada. Ini semua beliau lakukan karena kemuliaan malam ini, dan dalam rangka mencari Lailatul Qadr (malam kemuliaan). Sebab, malam itu merupakan kesempatan umur dan ganimah bagi seiap saja yang diberi petunjuk oleh Allah swt. Tidak selayaknya kita yang belum tentu masuk surga dan diampuni dosa-dosanya masih bersantai-santi.

Maka tidak sepantasnya jika seorang mukmin yang cerdik dan berakal membuat kesempatan yang berharaga ini untuk dirinya maupun keluarganya. Bukkankah malam penuh berkah ini hanya berlangsung beberapa malam, di mana pada saat itu manusia akan memperoleh anugerah dari Allah sehingga yang menjadikannya berbahagia di dunia dan akhirat? Sungguh merupakan kerugian yang besat jika kaum muslimin menghabiskan waktu-waktu yang sangat berharga ini untuk sesuatu yang tidak berguna. Mereka begadang menghabiskan waktu malam untuk permainan batil, akibatnya ketika waktu mengerjakan shalat malam tiba, mereka mulai tidur yang mengakibatkan mereka kehilangan kebaikan yang sangat banyak. Padahal bisa saja mereka tidak bertemu lagi dengan malam-malam penuh berkah ini pada tahun mendatang. Ini merupakan bagian dari bentuk permainan dan tipu daya yang dilancarkan oleh setan terhadap mereka, serta serta tindahkan setan untuk menghalangi mereka dari jalan Allah dan penyesatan terhadap mereka. Allah berfirman,

Hamba-hamba-Ku tidaklah dapat kamu sesatkan sedikitpun, kecuali orang-orang yang sesat yang mengikuti kamu. (QS Al-Hijr [15]42)

Orang-orang berakal tentu tidak mau menjadikan setan sebagai wali selain Allah, padahal ia tahu bahwa setan itu selalu memusuhinya, tindakan seperti itu bertentangan dengan akal sehat dan keimananannya. Allah berfirman,

Apakah kalian akan menjadikan iblis dan anak keturunannya sebagai panutan selain Allah, padahal iblis dan anak keturunananya adalah musuh kalian? Sungguhya sangat buruk sikap orang-orang kafir yang menukar ketaatan kepada Allah dan dengan ketaatan kepada iblis. (QS Al-Kahhfi [18]50)

Sungguh setan adalah musuh bagi kalian. Wahai manusia karena itu hendaklah kalian tetap jadikan setan sebgai musuh. Setan hanya megnajak pengikut-pengikutnya agar menjadi penghuni neraka Sa’ir (QS Faathir[35]6)

Di antara keistamewaan sepuluh hari terakhr dari bulan Ramadhan ini adalah bahwa Nabi mengerjakan itikaf di dalamnya. Itikaf adalah menetap di dalam masjid dengan memanfaatkan waktu sepenuhnya untuk ibadah sunah yang di dasarkan pada kitab Allah dan sunah Rasul-Nya. Allah berfirman, “Janganlah kalian berkumpul dengan istri kalian ketika kalian beri’itikaf di masjid. (QS Al-Baqarah[2]187)

Rasulullah saw dan para sahabat melaksanakan itikaf, begitu juga kaum msulimin sesudah mereka. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya aku beritikaf pada sepuluh hari pertama bulan Ramadhan untuk mencari malam ini (lailatul qadar). Kemudian aku beriktikaf sepuluh pertengahan bulan Ramadhan, kemudian aku diberi wahyu oleh Allah, lalu dikatakan kepadaku, “Sesungguhnya ia (lailatul qadr) ada pada sepuluh hari hari terkhir bulan Ramadhan.” Maka dari itu, siapa saja di antara kalian yang ingin beritikaf silakan melakukannya (HR Muslim)

Aisyah ra berkata, Rasulullah melakukan itikaf pada sepulh hari terakhir bulan Ramadhan sampau beliau diwafatkan oleh Allah swt. Sesudah itu istri-istri beliau beritikaf pula sepeninggal beliau. Ia berkata, “Nabi saw mengerjakan itikaf pada setiap bulan Ramadhan selama sepuluh hari. Beliau pernah melakuakan setahun tidak melakukan itikaf. Maka, ketika tahun berikutnya tiba, beliau beritikaf dua puluh hari (HR Ahmad dan Timrdzi)

Keutamaan Lailatul Qadar

Pertama; DI dalamnya Allah swt menurunkan Al-Qur’an yang dengannya umat manusia mendapatkan petunjuk serta meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat. “Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada malam yang sangat mulian di bulan Ramadhan. (QS Al-Qadr [97]1)

Kedua; lebih baik dari seribu bulan. Malam yang sangat mulia itu lebih baik daripada seribu bulan. Malam yang sangat mulia itu lebih baik daripada seribu bulan. QS Al-Qadr [97]3

Ketiga; Para malaikat dipimpin oleh malaikat Jibril turun ke dunia dengan membawa kebaikan dan keberkahan. Firman Allah, “Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabbnya untuk mengatur segala urusan.” (QS. Al-Qadr (97): 4). Tentang makna ayat ini, imam Al-Baghawi menulis: “Para malaikat beserta malaikat Jibril turun pada malam lailatul qadar dengan izin Rabb mereka, yaitu dengan membawa seluruh perkara kebaikan dan keberkahan.” Imam Ibnu Katsir menulis, “Para malaikat banyak turun pada malam tersebut karena banyak kebaikan dan keberkahannya. Sesungguhnya para malaikat turun bersamaan dengan turunnya keberkahan dan rahmat. Hal itu seperti saat mereka turun saat pembacaan Al-Qur’an, mengelilingi majelis ilmu dan menaungi dengan sayap-sayap mereka orang yang menuntut ilmu secara sungguh-sungguh.”

Keempat; Malam itu dipenuhi dengan keselamatan dan salam penghormatan sampai terbitnya fajar. Firman Allah, Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al-Qadr (97): 5). Imam Abu Muzhaffar As-Sam’ani dan Ibnu Al-Jauzi menerangkan bahwa ayat ini memiliki dua pengertian. Pertama, seluruh malam itu penuh dengan kesela matan, sehingga tidak ada satu penyakit pun yang turun, tidak ada satu perbuatan dukun dan setan pun yang terjadi. Kedua, seluruh malam itu penuh dengan ke baikan dan keberkahan. Pada malam itu para malaikat mengucapkan salam keselamatan dan penghormatan kepada setiap mukmin yang beramal kebajikan.

Kelima; Shalat tarawih dan witir yang dikerjakan atas landasan iman dan ikhlash mencari ridha Allah SWT semata pada malam itu dapat menggugurkan dosa-dosa kecil yang telah lampau. Berdasar hadits, Dari Abu Hurairah dari Nabi SAW bersabda, “Barang siapa melakukan shalat malam (tarawih dan witir) pada lailatul qadar karena iman dan mengharapkan pahala di sisi-Nya, maka dosa-dosa kecilnya yang telah lampau akan diampuni.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Keenam; Pada malam tersebut Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk menyalin dari Lauh Mahfuzh ke dalam buku takdir tahunan catatan segala rizki, umur, perbuatan, nasib, dan hal yang akan terjadi selama satu tahun penuh. Firman Allah, “Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah, (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami.” (QS. Ad-Dukhan (44): 4-5). Ibnu Abbas berkata, “Pada malam tersebut Allah menjelaskan segala perkara yang akan terjadi di dunia sampai setahun berikutnya, baik berupa kehidupan, kematian, maupun rizki.”Pendapat serupa dikemukakan oleh Mujahid, Qatadah, Hasan Al-Bashri, Abu Abdurrahman As-Sulami, dan lain-lain.

Lailatul qadar adalah sumber kebaikan dan keberkahan yang agung. Ia adalah malam yang begitu mulia. Ia harus menjadi ‘buruan utama’ setiap muslim di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan ini. Amat merugilah kita bila tidak mendapat karunia agung ini, sebagaimana dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW,

“Telah datang kepada kalian Ramadhan, bulan yang penuh berkah. Allah mewajibkan atas kalian shaum dalam bulan ini…Dalam bulan ini, Allah memiliki satu malam yang lebih baik dariada seribu bulan. Barangsiapa terhalang dari kebaikan malam tersebut, niscaya ia telah terhalang dari kebaikan yang agung.” (HR. An-Nasai no. 2079 dan Ahmad no. 6851)

Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang menunaikan puasa di bulan ini dan mendapatkan Lailatul Qadr serta beruntung dengan meraih pahala yang banyak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s