Rumah dibawah bumi atau rumah diatas bumi?

 

Anak adam mempunyai dua rumah hunian; Rumah hunian yang berada di atas bumi dan rumah hunian yang berda di bawah bumi. Mereka berusaha mempercantik dan memperindah rumah hunian yang berada di atas bumi, mereka membuat pintu-pintu menghadap sebelah kiri, pintu-pintu menghadap sebelah kanan dan mereka berusaha membuat penghangat untuk musim dingin dan membuat pendingin (sekarang ac) untuk musim panas. Kemudian berusaha membuat rumah hunian yang berada di bawah bumi, ternyata malah merusaknya. Lalu ada yang datang berkata, “Sudahkah kamu berfikir? Rumah yang berada di atas bumi sementara kamu bangun dengan megah. Berapa lama kamu tinggal di dalamnya? Dia menjawab, “Tidak tahu secara persis. Dan sedangkan rumah hunian berada di bawah bumi kamu rusak, berapa lama kamu akan tinggal di tempat itu? Dia menjawab, “Aku akan tinggal di tempat itu hingga hari kiamat.” Maka orang tersebut berkata kepadanya, “Bagaimana kamu bisa merasa tidak bersalah dengan tindakanmu itu, sementara kamu seorang hamba yang berakal sehat?” (Abdullah bin Aizar)

Jangan malas melakukan kebaikan

Ibnu Jauzi Rahimamullah berkatam “Malas untuk melakukan kebaikan adalah teman yang paling jelek. Cinta istirahat akan menghasilkan penyesalan yang akan menghilangkan semua kenikmatan. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa jiwamu. Menyesallah atas kelalaianmu yang telah berlalu panjang. Cepatlah beribadah selagi kemauan masih bergelora, ingatlah hari-harimu yang telah kamu sia-siakan, maka hal itu cukup menjadi nasehat, menjauhkan dirimu dari hinanya kemalasan dan hilangnya kemuliaan.

Imam Ahmad berkata, “Banyak pemuda yang terlena dengan masa mudanya. Pada mulanya, mereka mempunyai kemauan dan kemampuan yang besar namun akhirnya hilang ditelan masa tua

Nasehat al ghazali

Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.

Menanam Kebaikan

Hari-hari didunia ini seumpama ladang tempat menanam dan manusia seolah diseru dengan perkataan, “Setiap benih yang kamu tanam hari ini akan berbuah seribu kali. Karena itu apakah orang yang berakal layak berhenti atau bermalas-malasan untuk menanam? Ketahuilah waktu tak layak disia-siakan sekalipun sesaat (sedetik) (Ibnu Jauzi)

Jangan Mengulur Waktu

Hasan Basri menegaskan, ”Jauhi sikap mengulur-ulur karena kamu dengan harimu bukan dengan esokmu. Apabila kamu mempunyai hari esok hari, maka bersikap cerdiklah (manfaatkanlah), seperti kau bersikap cerdik di hari ini. Dan apakah hari esok di hari. Dan apabila hari esok bukan untukmu maka kamu tidak menyesal atas kelalaian di hari ini.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s