Pernyataan Majelis Mujahidin: Daulah Al-Bahdadi (ISIS), Rekayasa Syi’ah Menggunakan Doktrin Khawarij

Pernyataan Majelis Mujahidin: DAULAH AL-BAGHDADI (ISIS)

Rekayasa Syi’ah Menggunakan Doktrin Khawarij

Alhamdulillah, kami bersyukur kepada Allah Swt. yang telah memberi kesempatan kepada para pimpinan Majelis Mujahidin untuk melawat ke bumi jihad Syam, untuk melaksanakan salah satu misi institusi.

Yaitu, “Membantu setiap perjuangan penegakan Syariah Islam oleh kaum muslimin di belahan bumi lain dengan segenap kemampuan yang kami miliki”.

Menyaksikan langsung gelora jihad yang dikobarkan para mujahidin melawan tirani Syi’ah Nushairiyah pimpinan Presiden Bashar Asad, dan berdialog dengan ulama, para pimpinan harakah jihad serta masyarakat Suriah, mengungkapkan betapa berat kondisi para mujahidin menghadapi dua tantangan sekaligus.

Pertama, melawan kezaliman tentara Bashar Asad yang terus menerus membombardir perkampungan penduduk, yang didukung rezim komunis Rusia dan penguasa Syi’ah Iran.

Kedua, menghadapi dampak buruk pasca deklarasi Daulah Khilafah Al-Baghdadi, yang sebelumnya dikenal bernama ISIS (Islamic State of Iraq and Sham), 28 Juni 2014, berhasil memukau sekaligus menipu sebagian kaum Muslimin yang hanya bernostalgia tentang Khilafah Islamiyah. Dampak buruk pasca deklarasi khilafah Al-Baghdadi yang menimbulkan bencana bagi kaum Muslimin serta berbagai penyimpangan syar’i.

Tidak satupun ulama Ahlu Sunnah dan faksi mujahidin Suriah yang representatif mau bergabung dengan khilafah Al-Baghdadi, mereka merasa di fait acompli karena pembentukannya tidak melalui musyawarah di antara mereka, tetapi hanya klaim dari kelompok ISIS.

Belum lagi tindakan-tindakan ISIS yang dzalim terhadap mujahidin dengan doktrin takfir ala khawarij. Sebagaimana testimoni salah sorang Komandan Batalyon mujahidin di Aleppo: “Ketika kami menyerukan untuk memerangi rezim Bashar Asad, semua rakyat Suriah bangkit melawan kezalimannya.

Tetapi ketika kami mengajak memerangi Daulah Khilafah Al-Baghdadi, sekalipun kebiadaban dan kejahatannya melebihi iblis, rakyat terbelah, ada yang siap memerangi tapi malah tidak sedikit yang bergabung. Energi para mujahidin Suriah benar-benar terkuras habis menghadapi berbagai musykilah yang ditimbulkan ISIS di medan jihad Suriah.”

Doktrin takfir yang dipropagandakan oleh Daulah Khilafah Al-Baghdadi, tidak saja memukau dan menipu rakyat awam.

Memperhatikan:

Propaganda jahat ISIS berhasil memukau dan menipu Muslim dengan manipulasi konsep khilafah dan slogan-slogan menawan lainnya seperti anti thaghut, syahid di jalan Allah dll.

Mengapa doktrin takfir yang merupakan ideologi kaum khawarij mendominasi serta mengendalikan pemikiran dan sikap kaum jihadis di bawah naungan Daulah Khilafah Al-Baghdadi? Inilah rekayasa Syi’ah untuk merusak citra Islam dan mengadu domba sesama Muslim.

Berbagai kebiadaban dan kezaliman ISIS, seperti membunuh ribuan kaum Muslimin yang berdemo menentang deklarasi Daulah Khilafah Al-Baghdadi di Raqah, pembunuhan ratusan kaum perempuan di Iraq. Memaksa jamaah shalat untuk berbai’at di sejumlah daerah yang dikuasainya sehingga membuat masyarakat takut mendatangi shalat Jum’at.

Tindakan mereka menyembelih manusia, sekalipun orang itu kafir tidak pernah dibenarkan oleh Syari’at Islam. Tapi di segi lain, melindungi para petani ganja, penjual kokain, narkoba, asalkan mau berbai’at.

Orientasi jihad global kini dikendalikan oleh pemikiran takfiri. Penyusupan doktrin takfir ternyata jauh lebih berbahaya dari perang yang mendera kehidupan kaum Muslimin di Suriah.

Karena orang yang sudah terprovokasi dengan ideologi kaum khawarij itu bisa menjadi mesin perang yang efektif untuk menghancurkan persaudaraan Islam. Sikap dan himbauan Kepolisian RI yang over acting, menyerukan membakar bendera ISIS yang bertuliskan kalimat Tauhid.

Jika hal itu dilakukan, tidak bisa dibayangkan terjadinya konflik horizontal, karena kalimat tauhid ‘Laa Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah’ bukan milik kaum ISIS melainkan milik umat Islam.

Bagaimana jika dengan alasan membakar bendera ISIS yang jahat itu, non Muslim ikut membakar dan umat Islam balik membakar lambang agama lain, atau membakar gereja.

Apakah aparat keamanan akan dapat mengendalikannya? Sikap koalisi anti ISIS (KOIIN) dari berbagai ormas keagamaan, bisa menjadi bumerang. Membentuk koalisi anti ISIS tapi bekerjasama dengan sekte Syi’ah yang kejahatannya terhadap Islam jauh lebih dahsyat sangat berbahaya.

Memutuskan:

Deklarasi Daulah Khilafah Al-Baghdadi, jelas sesat dan menyesatkan, setidaknya karena dua alasan:

Pertama, iftiraa-un ‘alal khilafah (berdusta atas nama khilafah).

Mengangkat dirinya sendiri, hanya dibai’at oleh sekelompok orang, sedangkan bagian terbesar kaum Muslimin menolak. Hal ini berpotensi memicu perang saudara di antara kaum Muslimin yang setuju dan yang menentang.

Mengangkat khalifah wajib berdasarkan musyawarah kaum Muslimin secara keseluruhan, bila tidak maka yang bersangkutan halal dibunuh. Ketika terjadi perselisihan antara Anshar dan Muhajirin dalam pemilihan khalifah, kedua belah pihak melakukan musyawarah untuk mencapai kesepakatan bersama.

Hal ini membuktikan bahwa pengangkatan khalifah oleh satu kelompok saja tidak bisa dibenarkan, sebagaimana dikatakan Khalifah Umar bin Khattha ra

: عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ … قَالَ عُمَرُ : وَإِنَّا وَاللهِ مَا وَجَدْنَا فِيمَا حَضَرْنَا مِنْ أَمْرٍ أَقْوَى مِنْ مُبَايَعَةِ أَبِي بَكْرٍ . خَشِينَا إِنْ فَارَقْنَا الْقَوْمَ وَلَمْ تَكُنْ بَيْعَةٌ أَنْ يُبَايِعُوا رَجُلًا مِنْهُمْ بَعْدَنَا ، فَإِمَّا بَايَعْنَاهُمْ عَلَى مَا لَا نَرْضَى وَإِمَّا نُخَالِفُهُمْ فَيَكُونُ فَسَادٌ . فَمَنْ بَايَعَ رَجُلًا عَلَى غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنْ الْمُسْلِمِينَ فَلَا يُتَابَعُ هُوَ وَلَا الَّذِي بَايَعَهُ تَغِرَّةً أَنْ يُقْتَلَا .

“Dari Ibnu ‘Abbas, … Umar berkata, “Demi Allah, tidaklah kami temui urusan kami yang jauh lebih sulit daripada pembai’atan Abu Bakar.Karena ketika itu kami khawatir, sekiranya ada suatu kaum yang kami tinggalkan dalam pembai’atan Abu Bakar, kemudian mereka membai’at orang lain yang tidak kami ridhai atau kami yang menyalahi keinginan mereka, sehingga terjadi bentrokan. Oleh karena itu, siapa saja yang membai’at seseorang tanpa musyawarah kaum muslimin, maka orang yang membai’at dan yang dibai’at tidak boleh diikuti. Sebab dikhawatirkan kedua orang itu akan dibunuh orang lain.” (HR. Bukhari, no. 6328)

Jika di masa khalifah rasyidah saja, pengangkatan khalifah berdasarkan musyawarah dan kesepakatan kaum Muslimin, lalu apa otoritas kelompok ISIS mendeklarasikan khilafah secara sepihak?

Apakah Abu Bakar Al-Baghdadi yang hidup di masa penuh fitnah ini merasa lebih utama (afdhal) dari Umar bin Khatthab?

Na’udzubillahi min dzalik! Pesan Khalifah Umar bin Khatthab ra kepada kaum Muslimin, siapa pun yang menyeru umat Islam untuk memilih dirinya menjadi khalifah atau orang lain tanpa musyawarah kaum Muslimin maka orang itu boleh dibunuh.

عَنِ الْمَعْرُورِ بْنِ سُوَيْدٍ ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ ، قَالَ : مَنْ دَعَا إِلَى إِمَارَةِ نَفْسِهِ ، أَوْ غَيْرِهِ مِنْ غَيْرِ مَشُورَةٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ فَلا يَحِلُّ لَكُمْ إِلا أَنْ تَقْتُلُوهُ .

“Dari Ma’rur bin Suwaid dari Umar bin Khatthab, ujarnya:“Siapa saja yang mengajak umat untuk mengangkat dirinya atau orang lain menjadi imam tanpa musyawarah kaum muslimin, maka dihalalkan bagi kalian membunuh orang itu.” (HR. Abdul Razzaq, juz 5 hal. 445 no. 9759)

Kedua, doktrin takfir.

Doktrin takfir muncul dari ideologi kaum khawarij, dan eksistensi kaum khawarij lahir dari sekte Syi’ah. Kaum Syiah ‘Alawiyyin sebagai cikal bakal kaum khawarij semula adalah pendukung setia Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib ra.

Ketika terjadi perselisihan antara Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib dengan Gubernur Syam ketika itu, Mua’wiyah yang berakhir dengan kesepakatan dengan menunjuk dua orang hakim, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dari pihak Ali ra dan ‘Amru bin Ash dari pihak Mu’awiyah, yang terkenal dengan peristiwa tahkim.

Maka kelompok pendukung Ali, Syi’ah Alawiyyin berbalik memusuhi dan mengafirkan Ali sekaligus mengafirkan Mu’awiyah karena dianggap telah berhakim kepada manusia dan meninggalkan hukum Allah.

Mereka menggunakan alasan yang benar untuk tujuan kebathilan, dengan memanipulasi ayat Qs. Al-An’aam, 6:57 … إِنِ الْحُكْمُ إِلَّا لِلهِ … “…Semua keputusan hukum adalah milik Allah…”

Kini, alasan yang sama juga digunakan oleh kelompok Al-Baghdadi alias ISIS untuk mengafirkan kaum muslimin yang menolak kekhalifahan yang dideklarasikan secara sepihak.

Dan mengafirkan kaum muslimin yang berada dalam pemerintahan yang didominasi oleh hukum-hukum selain syariat Islam. Sikap ini sesat, karena menolak berbai’at dan belum tegaknya syariat Islam bukan syarat keimanan, dan bertentangan dengan fakta sejarah yang syar’iy, antara lain: Ketika Abu Bakar ra dibai’at sebagai khalifah pertama oleh kaum Muslimin, seorang sahabat dan tokoh Anshar bernama Sa’ad bin Ubadah tidak mau membai’at Abu Bakar hingga beliau wafat.

Tapi khalifah Abu Bakar ra tidak memeranginya, dia tetap hidup aman. Dan tidak ada satupun sahabat yang mengafirkannya. Artinya, orang Islam yang tidak mau berbai’at kepada khalifah yang tidak mereka setujui bukan dosa.

Lalu atas dasar apa Al-Baghdadi mengafirkan, memvonis murtad, bahkan membunuh serta memerangi kaum yang menolak membai’atnya, seperti terlihat dalam video yang mereka sebar luaskan?

Jika kelompok Al-Baghdadi mengafirkan kaum Muslim hanya karena tidak berbai’at kepadanya, lalu pantaskah mereka disebut Muslim sementara mereka menyembelih kaum Muslim yang dikafirkan secara sepihak? Ketika Ali bin Abi Thalib dibai’at menjadi khalifah; sahabat Nabi seperti Mu’awiyah, Aisyah dan Zubair bin Awwam menolak pembai’atannya. Ali bin Abi Thalib tidak memvonis mereka kafir.

Dibandingkan Ali bin Abi Thalib, siapakah Abu Bakar Al-Baghdadi? Pada saat perjanjian Hudaibiyah, Umar bin Khatthab menentang kebijakan Rasulullah Saw. Tetapi Rasulullah Saw. tidak mengafirkan Umar walaupun dia bersikap menolak (oposisi) atas keputusan Rasul, yang membuatnya menyesali sikapnya itu seumur hidup. Menjelang futuh Makkah, salah seorang sahabat Nabi bernama Khatib bin Abi Balta’ah membocorkan hal ini pada orang musyrik Makkah, bahwa Rasulullah Saw. akan menaklukan Makkah. Khatib bin Abi Balta’ah adalah veteran perang Badar, ketika surat yang dikirimkan tertangkap, Rasulullah tidak mengafirkan dan menghukum dia atas kesalahan yang dilakukan itu.

Begitu pun seorang wanita kurir Khatib tidak divonis kafir, dan tidak dibunuh. Berdasarkan dalil naqliyah dan aqliyah yang telah disebutkan di atas, maka Majelis Mujahidin menyerukan kepada kaum Mukmin hendaknya menghadapi orang kafir yang memerangi Islam secara massif dan berkelanjutan dengan berpedoman Al-Qur’an dan tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan benar.

Pemerintah Indonesia, organisasi dan gerakan Islam perlu mewaspadai gerakan Daulah Al-Baghdadi yang menjadi proxy force (agen antara) gerakan takfiri, khawarij dan Syiah di Indonesia.

Jakarta, 13 Syawwal 1435 H/9 Agustus 2014 M

Lajnah Tanfidziyah Majelis Mujahidin

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s