Nasehat

lembutKalau kita cermati belum lama ini banyak muncul nasehat-nasehat para ulama mujahid seperti Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisiy, Abu Qatadah Al-Filistini, Syaikh Sulaiman Bin Nashir Al-‘Ulwan, Syaikh Abdul Aziz At-Tharifi, Syaikh Hani As-Siba’I, Syaikh Abdul Halim Al-Qunaibi, Syaikh Aiman Al-Balawi dan ulama-ulama dunia yang lain.

Saudaraku pernahkah engkau mendengar sabda Rasulullah saw berikut ini Dari Abu Ruqoyyah Tamiim bin Aus Ad-Daari rodhiyallohu’anhu, sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam pernah bersabda: ”Agama itu adalah nasihat”. Kami (sahabat) bertanya: ”Untuk siapa?” Beliau bersabda: ”Untuk Alloh, kitab-Nya, Rosul-Nya, pemimpin-pemimpin umat islam, dan untuk seluruh muslimin.” (HR.Muslim)

Ketahuilah, hadist di atas menjelaskan bahwa sebagai orang yang beragama wajib memberi nasihat pada sesama atas nama Allah swt.

Saudaraku, sadarilah kewajiban kita sebagai orang yang beragama sebelum bangsa atau kaummu hancur karena keengganan kita memberi nasihat. Perbaikilah hal-hal yang kita anggap salah dan pantas diperbaiki sesegera mungkin. Jadikanlah agamamu sebagai pedoman untuk meluruskan yang bengkok atau menyadarkan yang khilaf. Sesungguhnya, agama itu nasihat. Saudaraku. Nasehat yang tidak penting bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi orang-orang di sekelilingmu.

Wahai kaum mukmin, kalian benar-benar umat terbaik yang ditampilkan ke tengah manusia lainnya, supaya kalian menyuruh manusia berbuat baik, mencegah perbuatan mungkar dan beriman kepada Allah (QS Ali Imran 110)

Melalui nasehat, Allah menyuruh umatnya melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan saling menasihati di jalan Allah sesuai kemampuan masing-masing. Wahai saudaraku, untuk menjadi seorang muslim sejati maka seharusnyalah kita rajin memberi nasihat. Tunjukanlah kepedulian kita kepada sesama melalui kalimat-kalimat penuh makna yang keluar dari mulut. Ketahuilah, nasihat ibarat sedekah.

Selama ini kita mungkin berpikir bahwa sedekah adalah memberi sesutu hanya dalam bentuk materi, misalnya uang, pakaian atau bahan makanan. Ketahuilah, saudaraku, arti kata “sedekah” tidak sesempit itu. Sedekah berarti amal, derma, infak, pemberian atau sumbangan untuk seseorang yang membutuhkan.

Jika kita memutuskan untuk menyedekahkan sembako pada sekelompok orang, hal itu berarti kita telah menganggap orang-orang tersebut kekurangan makanan, sehingga butuh beras sebagai bahan makanan. Hal sama juga terjadi saat kita tergerak untuk memberikan nasi hat pada seseorang. Dimata kita orang tersebut mungkin sedang terlibat kesusahan atau tersesat di jalan yang salah dan hati kita tergerak

Imam Abu Umar bin Ash Shalah mengata kan, “Nasehat adalah sebuah kalimat yang sifat nya komperhensif yang meliputi usaha seseorang dalam memberikan nasehat kepada seseorang untuk mengarahkannya pada kebaikan, baik dari segi kehendak untuk melakukan kebaikan atau yang telah direalisasikan dalam perbuatan yang nyata.

Nasehat bukan sekedar kata yang lewat begitu saja, yang disampaikan seseorang kepada orang lain dengan keyakinan bahwa ia memberikan nasehat tersebut hanya sebatas menjalankan agama saja. Akan tetapi lebih dari itu, nasehat adalah salah satu bentuk akhlak dan tata perilaku yang diajarkan. Islam kepada manusia dalam berinteraksi peranan yang sangat penting dalam masyarakat antara lain karena;

Nasehat merupakan salah satu tugas para Nabi dan Rasul

Aku sampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku dan aku memberi nasehat kepadamu. dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui (QS Al-A’raf 68)

Aku sampaikan kepada kalian ajaran-ajaran Tuhanku. Aku berikan nasehat kepada kalian. Aku mendapatkan pengetahuan dari Allah tentang hal-hal yang sama sekali kalian tidak diketahui (QS Al-A’raf7]62)

Aku sampaikan kepada kapada kalian ajaran-ajaran dari Tuhanku. Aku memberi nasehat yang dapat dipercaya kepada kalian. (QS Al-A’raf7]69)

Kewajiban menerima nasehat

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila ada seseorang yang meminta nasehat kepadamu, maka nasehatilah (HR Ahmad)

Sesungguhnya satu persatu dari kalian adalah cermin bagi yang lain, apabila ia melihat penyakit di dalamnya, maka singkirkanlah darinya (HR Thabrani)

Pada suatu waktu, seorang sahabat datang dan berkata pada Rasulullah saw aku telah berjanji setia kepada Rasulullah saw untuk melakukan tiga hal. Pertama mendirikan shalat, kedua menunaikan zakat dan ketiga, selalu memberi nasehat kepada sesama Muslim (HR bUkhari)

Kemudian pula salah seorang sahabat yang berkata, “Suatu ketika aku pergi menghadap Rasulullah saw untuk berjanji setia memeluk Islam, lalu aku bertanya, “Wahai Rasulullah, aku telah berjanji setia kepada Islam, maka berilah aku syarat untuk aku penuhi. Lalu Rasulullah saw berkata, “Berilah nasehat kepada saudaramu sesama Muslim (HR Bukhari)

Wahai saudaraku, bayangkan seandainya engkau sendiri yang datang menghadap Rasulullah saw dan berjanji setia kepada beliau lalu beliau menyuruh untuk selalu memberi nasihat demi Allah. Relakah kita melaksanakan nya? Bisakah engkau selalu taat kepada Allah swt dan Rasul-Nya, meski dalam kondisi bagaimanapun?

Setelah sahabat mendengar perintah Rasulllah Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam untuk selalu memberi nasehat, di pun berkata, “Demi Allah, aku akan selelu memberi kalian nasehat hingga ajal datang menjemputku.”

Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Seorang hamba yang memberi nasehat demi tuannya akan mendapatkan dua ganjaran (HR Bukhari)

Dalam hadist tersebut, beliau saw mengajarkan kepada umatnya agar saling menasehati, baik yang muda kepada yang tua atau sebaliknya begitu ula yang lemah kepada yang berkuasa atau sebaliknya bahkan seornag hamba sahaya yang hina berhak menasihati tuanya. Sesungguhnya Nabi shollallohu ‘alaihi wasallam menginginkan agar umatnya tidak tinggal diam saat melihat kemungkaran, tetapi hendaklah saling menasehati agar mendapat kebaikan.

Umar bin Khatab berkata, “Tidak ada kebaikan bagi umat yang tidak memiliki seorangpun pemberi nasehat dan tidak ada kebaikan bagi umat yang tidak mau menerima nasehat. Beliau juga berkata, “Allah swt akan merahmati orang yang mampu menunjukkan kekuranganku.

Menyimak kata-kata Umar, tahukah engkau mengapa ia bertanya tentang kekurangannya sendiri pada orang lain?

Ketahuilah, saudaraku, hal tersebut dilakukan Umar karena ia menyakini bahwa jika ia mampu menerima pendapat seseorang tentang kekurangnnya terlebih lagi jika orang tersebut memberikan nasehat untuk memperbaiki kekuarangan itu maka hal yang sebaliknya akan berjalan dengan mudah. Yaitu, saat Umar balik mensehati orang tersebut atas kesalahan atau kekhilafan yang mungkin dilakukannya maka niscaya orang itu akan menerima dengan senang hati dan tanpa penolakan.

Berilah nasehat demi Allah, Rasul-Nya kirab-Nya, para pemimpin serta seluruh umat Muslim. Nasehat yang dilakukan demi semua hal di atas adalah nasehat yang “tidak kosong” dalam arti punya tujuan dan pedoman yang jelas serta demi kebaikan seluruh umat Islam.

Ketahuilah saudaraku, jika engkau memberi nasehat demi Allah berarti engkau telah melakukan sebuah ibadah. Yang dimaksud ibadah di sini melakukan segala sesuatu yang berhubungan dengan-Nya, mengagungkan-Nya, melaksanakan seluruh perintah-Nya, menghindari larangan-Nya, melaksanakan hukum-Nya, menaati-Nya, serta membela agama-Nya. Inilah yang disebut dengan memberi nasehat demi Allah swt. Dari sini, maka semakin jelas terlihat bahwa yang dimaksud dengan agama sebagai nasehat adalah agama Islam secara keseluruhan.

Sedangkan yang dimaksud dengan memberi nasehat demi Rasulullah adalah dengan selalu mencintai, menghormati, memuliakan dan menolong beliau, hidup atau mati. Kemudian yang dimaksud dengan memberi nasehet demi kitab-Nya adalah menggunakan kitab tersebut sebagai tuntunan dan pedoman, membacakan isinya di hadapan orang lain, melaksanakan segala yang terkandung di dalamnya. Orang-orang yang mendengarkan Al-Qur’an adalah orang-orang yang cerdas dan yg diberi petunjuk oleh Allah

“Hamba-hamba-Ku itu adalah orang-orang yang mendengarkan firman-firman-Ku lalu mengikuti anjuran yang yang sangat baik. Mereka adalah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah. Mereka itulah orang-orang yang berakal sehat (AzZumar 18) terjemah tafsiriyah

Tidak menyembunyikan nasehat

Rasulullah saw bersabda, “”Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam,” Lalu salah seorang sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu? Beliau menjawab, “Apabila kamu bertemu dengannya, maka ucapakanlah salam kepadanya, apabila ia mengundangmu maka penuhilah, apabila ia meminta nasehat kepadamu, maka berilah ia nasehat, apabila ia bersin lalu mengucapkan Alhamdulilah maka jawablah, apabila ia sakit maka jenguklah dan apabila ia meninggal dunia, maka iringilah jenazahnya.” (HR Muslim)

Imam Nawawi mengomentari hadist tersebut, berarti jika orang meminta nasehat kepadamu, maka nasihatilah dia. Jangan mencuranginya. Jangan menyembunyikan nasehat.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Seseorang tidak mendapatkan status yang tinggi di antara kami dikarenakan sering shalat sunnah atau puasa sunnah, melainkan mendapatkannya karena kemurahan jiwa, kelapangan dada, dan ketulusan dalam memberi nasehat.

Contoh nyata adalah saat kekhalifahan di pegang oleh Ali bin Abu Thalib saat itu Ibnu Abbas hanya sendiri menasehati 6000 orang khawarij akhirnya yang sadar dan bertaubat sekitar 2000 orang

Berikan nasihat dengan bahasa yang santun dan dengan tulus

Cobalah kita renungkan kisah berikut, pada suatu hari, seorang laku-laki pergi menemui Khalifah Harun al-Rasyid untuk memberi nasi hat. Sesampai di depan sang khalifah ia pu mulai menasihatinya dengan kata-kata kasar, “Wahai Khalifah! Engkau telah melakukan ini dan itu, padahal itu seharusnya begini dan begitu!

Mendengar hal demikian kasar, Harun al-Rasyid tak tahan untuk bertanya, “Wahai saudaraku, apakah engkau merasa dirmu lebih hebat dai Musa? Tidak, jawab laki-laki itu. Lalu, apakah aku itu lebih jahat dan lebih buruk dari Fir’aun? Sang Khalifah kembali bertanya. Tentu saja tidak,” jawab laki-laki itu lagi. “Kalau begitu, apakah engkau tidak mengetahui bahwa Allah pernah berfirman kepada Musa dan Harun

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (QS Thaha 44)

Subhanallah memberi nasehat terhadap orang kafir saja harus lemah lembut. Apalagi terhadap saudara seiman sendiri? Bagaimana balasan Fir’aun terhadap Nabi Musa as dan para pengikutnya?

Wahai saudaraku, dari kisah di sini engkau dapat memetik sebuah pelajaran. Yaitu islam tidak menghendaki para pemeluknya berkata-kata dengan berbuat kasar, sebaliknya selalu bijaksana dan santun dalam berkata serta berperilaku.

Luruskan niat kita saat memberi nasihat. Jangan berharap mendapat kehormatan atau imbalan atas kata-kata keluar dari mulut. Jangan pula merasa lebih benar atau lebih mulia dari orang yang engkau beri nasehat. Niatkanlah demi memperbaiki kedaan umat dan demi menjalankan kewajibanmu sebagai seseorang yang beragama.

Adab memberi nasehat ada lima; berbicara dengan sopan dan lemah lembut, merendahkan atau memelankan suara, niat yang tulus dan ikhlas, mempertimbangkan keadaan, yakin bahwa hal yang ingin kita perbaiki betul-betul terjadi ditengah umat.

Ancaman yang orang yang tidak mau menerima nasehat

Orang-orang yang tidak mau menerima nasehat karena merasa dirinya paling benar, paling suci dan sombong, dan merasa orang lain lebih bodoh, lebih rendah, bahkan mengatakan yang menasehati adalah orang yang menyimpang dari Manhaj, dengan mudahnya mengkafirkan dan membunuh yang memberi nasehat (mendamaikan) maka Allah mengancam memasukkan ke neraka Jahanam

Jika ada orang yang mengingatkannya. Takutlah kamu kepada Allah, maka orang itu dengan sombong (congkak) meneruskan perbuatan dosanya. Cukuplah baginya neraka Jahanam. Neraka Jahanam adalah tempat tinggal yang sangat buruk (QS Al-Baqarah 206) terjemah tafsiriyah

(Abu Azzam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s