Ayah Yang Baik Itu Bernama Al-Maqdisi

Ada sebuah konsep parenting yang sering diterapkan di luar ruang lingkup parenting itu sendiri, semisal dunia kerja dan keorganisasian. “Jangan marahi anakmu di depan umum”. Ya, ayah (pemimpin) yang baik adalah ayah yang di luar rumah senantiasa melindungi anaknya  dari lemparan batu, tapi di dalam rumah terkadang melayangkan gagang sapu dalam rangka mendidik dan memberi pelajaran tentang mana yang boleh mana yang tidak.

Membicarakan dunia jihad kontemporer, agaknya terlalu angkuh bagi kita untuk tidak menyebut Al-Qaidah sebagai entitas pelopor jihad abad ini. Al-Qaidah beserta ulama-ulama yang berafiliasi kepadanya adalah “ayah” biologis, struktural, maupun (sekadar) ideologis bagi komunitas apapun dan dimanapun di muka bumi ini yang mengklaim dirinya sedang berjihad dan yang senantiasa akan mendukung jihad.

Ada salah satu “anak” Al-Qaidah yang hari ini menjadi buah bibir masyarakat dunia secara umum. Kebaikannya maupun keburukannya seolah tiada habisnya dan tak pernah basi—setidaknya sampai detik ini—untuk digosipkan. Siapa lagi kalau bukan Islamic State (Khilafah Islam) yang digawangi Khalifah Ibrahim alias Abu Bakar Al Baghdadi. IS yang dideklarasikan pada 29 Juni 2014 lalu—yang menurut al-mustaqbal.net adalah deklarasi yang mengguncang dunia—sejatinya adalah metamorfosis tahap ketiga dari sebuah tandzim yang bernama Al-Qaidah in Iraq (AQI).

Lalu pada bulan oktober 2006 tandzim ini merubah namanya menjadi Islamic State of Iraq (ISI) di bawah pimpinan Abu Umar Al Baghdadi. Pada 18 April 2010 kepemimpinan ISI dilanjutkan oleh Abu Bakar Al Baghdadi setelah Abu Umar menemui kesyahidannya karena serangan roket dalam sebuah operasi gabungan antara tentara Amerika dan tentara Iraq versi Al Maliki. Perkembangan konflik di Suriah menginspirasi Abu Bakar Al Baghdadi untuk bermanuver, tepatnya pada 3 Januari tahun ini ISI bermetamorfosa menjadi ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria).

Tapi manuver ini bisa dibilang tidak populis dan justru “terkesan” memecah belah konsentrasi dan fokus barisan mujahidin yang telah mapan. Khususnya di Syiria, ISIS bak anak baru yang tiba-tiba mengklaim dirinya sebagai ketua kelas. Tidak sebatas memakzulkan ketua kelas lama, tetapi memaksa ketua kelas lama berlutut dan taat kepadanya.

Perilaku kurang terpuji seperti ini tentu mendapat teguran halus dari sang ayah. Terlebih ISIS bukanlah satu-satunya anak yang berdomisili di syiria. Namun teguran-teguran itu seolah masuk telinga kanan keluar telinga kiri, hingga akhirnya Al-Qaidah dan beberapa ulama yang berafiliasi kepadanya seperti Dr. Thariq Abdul Halim dan Dr. Hani As Siba’i ngambek dan menyatakan berlepas diri dari segala akibat yang ditimbulkan dari tingkah laku ISIS. Bukannya introspeksi diri, ISIS justru mbalelo. Puncaknya pada 29 juni 2014 lalu Al Baghdadi kembali bermanuver. Setelah menguasai sebagian wilayah Mosul dan Raqqa, ISIS  diupgrade statusnya menjadi kekhilafahan. Al Baghdadi sebagai khalifah kini menggelari dirinya dengan panggilan Khalifah Ibrahim.

Itu tadi hanya sepenggal kisah yang tidak lengkap dan dipenuhi asumsi pribadi saya. Tidak usah diambil hati, terutama soal ngambek dan mbalelo tadi. Meski Al-Qaidah sudah berlepas diri, tidak lantas semua ulamanya bersikap demikian. Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi salah satunya. Ulama jihadi yang 16 Juni lalu baru saja dibebaskan itu termasuk satu dari sekian ulama yang vokal menasehati ISIS. Al-Maqdisi secara tidak langsung memang mempunyai hubungan dengan ISIS. Dia dikenal sebagai mentor atau guru dari Abu Mushab Azzarqowi, pemimpin AQI. Karena itu dalam sebuah kesempatan beliau pernah menyatakan ISIS telah menyimpang dari manhaj Az-Zarqawi.

Kurang lebih setengah bulan setelah deklarasi, beliau kembali menyampaikan wejangannya. Meskipun sebelumnya sempat menyatakan perilaku mereka bak begundal jalanan, tetapi nasehatnya kali ini jauh dari kesan memvonis serta menyalahkan. Beliau bahkan menyatakan kegembiraannya akan kemenangan mereka di Iraq. Namun tak lupa beliau memberi catatan, diantaranya:

  • Mau dibawa kemana kemenangan ini?
  • Bagaimana memperlakukan sunni dan jamaah-jamaah lainnya, baik itu jamaah dakwah maupun jihad dan kaum muslimin secara umum di tempat yang berhasil mereka taklukkan?
  • Akan digunakan melawan siapa senjata-senjata berat hasil ghanimah di irak dan diangkut ke Suriah?

Menurut Syaikh, ketidak hati-hatian dalam menjawab pertanyaan di atas bisa membawa sebuah tandhim pada penyimpangan-penyimpangan terminologi semisal dalam pendefinisian istilah Rafidhah dan Murtaddin.

Namun IS dalam perkembangannya justru melakukan berbagai “terobosan” yang kontroversial. Setiap yang menyelisihi mereka dianggap sebagai pengkhianat, pelepas baiat, saluli, sururi, shahawat, berbaris dengan shahawat, pecinta shahawat, atau berjalan bersama shahawat dan seterusnya. Sehingga khilafah yang harusnya menjadi surga yang menjanjikan kenikmatan bagi setiap muslim, justru terasa bak neraka.

Menanggapi kenyataan ini Syaikh Al-Maqdisi menyatakan bahwa dirinya tidak meragukan keikhlasan banyak orang di antara mereka serta semangat keislamannya, beliau juga menegaskan kembali bahwa dirinya tidak pernah mempunyai masalah dengan deklarasi kekhilafahan Al Baghdadi. Beliau hanya mengingatkan supaya orang-orang yang terlibat di dalamnya menggunakan akal sehatnya dalam berbuat dan mempertimbangkan dampak dari pendeklarasian kekhilafahan ini.

Ekspresi “kasih sayang” Syaikh Abu Muhammad Al-Maqdisi tidak melulu dalam bentuk koreksi. Namun juga dalam bentuk ketidaksukaan kepada pihak-pihak yang menyerang IS dengan pernyataan & kritik yang tidak pada tempatnya.  Beberapa hari yang lalu, beredar rekaman Syaikh Sa’ad Asy-Syatari, mantan anggota Haiah Kibaril Ulama Saudi, berbicara tentang IS. Ia menuduh IS dengan berbagai tuduhan yang tidak selayaknya.

Syaikh Syatari menuduh IS adalah sekumpulan kaum atheis. Pengikutnya zindik karena memerangi Allah dan Rasul-Nya, syaikh Syatari juga menganggap IS lebih kafir daripada yahudi dan nashrani, bahkan lebih kafir dari para penyembah berhala. Menanggapi hal itu, syaikh Al-Maqdisi menyatakan bahwa perkataan seperti ini mengarah pada takfir. Yang selama ini beliau kritik adalah perilaku dan kebijakan IS, tidak seperti syaikh Sa’ad yang mengkritik personalnya. Beliau bahkan menghibur IS atas beberapa kekalahan yang dialami: “Kekalahan kalian adalah kekalahan Ahlu Sunnah”.

Begitulah Syaikh Al-Maqdisi, kritik dan tegurannya kepada IS tidak lain hanya sebuah ungkapan sayang seorang ayah kepada anaknya.

Tulisan ini bukan saya maksudkan untuk mendukung IS ataupun menyanjung Al-Maqdisi, namun tulisan ini hanyalah ekspresi dari sebuah harapan. Harapan agar para ulama jihadis yang lain bisa kembali menjadi ayah yang baik, ayah yang tak hanya membatasi gerak dengan larangan, tetapi juga memberi pujian atas kebaikan yang dicapai sang anak. Begitu juga dengan IS agar segera menjadi anak yang baik yang mengakui kekhilafannya. Bukankah berkata “Ah” kepada orangtua itu terhitung dosa?!

Rusydan Abdul Hadi

Mahasiswa LIPIA Jakarta

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s