Syaikh Athiyatullah Al-Libiy: Ulama Senior Al-Qaeda Pemilik Firasat Tajam

Allah SWT menganugerahkan kepada syaikh yang mulia ini hikmah, ilmu, serta rasa zuhud. Tokoh penting Al-Qaeda yang bernama asli Jamal Ibrahim Asy-Syitiwiy ini merupakan seorang laki-laki yang berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Allah SWT telah mengumpulkan di dalam dirinya ilmu syar’i, hikmah, kemurahan hati, kepemimpinan dan manajemen yang mumpungi dibarengi dengan rahmat dari Allah yang berupa sifat yang mulia, seperti ketenangan berfikir secara mendalam dan tidak pernah tergesa-gesa dalam melakukan suatu hal karena telah memahami segala resiko dan konsekuensi yang akan ditimbulkan dari ketergesaan. Hal ini dibuktikan oleh serial tulisannya yang berjudul “unfudz ‘ala rassalika” (berjalanlah dengan pelan-pelan dan hati-hati) dan dimuat dalam majalah Thalai’ Khurasan.

Selain itu, Al-Liby adalah seorang ahli dan mahir dalam manajemen serta penuh tanggung jawab dalam urusan jihad islamiyah (Afghanistan dan Pakistan), sehingga tugas berat ini diamanahkan padanya. Hal inilah yang membuat para mujahidin kagum dengan Athiyatullah Al-Libiy ditambah dengan ketajaman firasat yang ia punyai.

Sungguh, sosok ulama dan mujahid yang menjadi teladan bagi kita umumnya kaum muslimin. Maka, marilah kita sedikit mengulas dari riwayat dan perjalanan hidupnya..

Kancah Jihad Syaikh Athiyatullah Al-Libiy

Syaikh Athiyatullah Al-Libiy lahir di kota Misrata, Libya pada tahun 1969. Al-Libiy dalam bahasa Inggris lebih dikenal dengan nama Atiyah Abdur Rahman atau Atiyah Abdul Rahman. Deplu AS mensinyalir bahwa selain menjadi senior Al-Qaeda, Al-Libiy merupakan anggota kelompok mujahidin Libya dan Ansharu Sunnah. AS menghargai segala informasi yang mengarah kepada Al-Libiy dengan uang senilai $ 1 juta.

Hadiah 1 juta dollar Amerika bagi Pemberi Informasi tentang Al Libiy

Ulama asli Libya ini memulai perjalanan jihad ke Afghanistan pada tahun 1988 dan bergabung dengan tandzim Al-Qaeda di bawah pimpinan Syaikh Usamah Bin Ladin Rahimahullah. Al-Libiy adalah salah satu mujahid yang terlibat dalam peletakan batu pertama tandzim Al-Qaeda dari pembentukan hingga perkembangan sampai detik ini. Ulama Libya spesialis bahan peledak ini mempunyai kontribusi terbesar pada saat amaliyah pembebasan Khost. Selain itu, Al-Libiy juga ahli dalam menggunakan meriam dan menembakkan mortir.

Ketika Afghanistan bebas dari penjajahan komunis Uni Soviet dan muncul konflik di antara faksi-faksi mujahidin Afghan, Al-Libiy berangkat ke Sudan untuk bergabung dengan para pemimpin tandzim Al-Qaeda di sana, termasuk Syaikh Usamah bin Ladin Rahimahullah sendiri.

Pada tahun 1995 atas mandat dari Syaikh Usamah bin Ladin, Al-Libiy hijrah ke Aljazair untuk bergabung dalam kepemimpinan jihad di sana. Tetapi karena para takfiriy ekstrim seperti Antar Az-Zabiri, Djamal Az-Zaituni dan lain-lain menguasai medan jihad dan melakukan operasi pembunuhan pada Al-Libiy, maka ia pun keluar dari Aljazair. Operasi pembunuhan dilakukan karena ulama Al-Qaeda asal Libya beserta dua ulama mujahidin lainnya mengecam beberapa tindakan kelompok takfiriyah (Jamaah Islamiyah Musallahah) di Aljazair.

Sebelumnya diceritakan bahwa mereka (Jamaah Islamiyah Musallahah) membuat makar dengan menempatkan Al-Libiy di sebuah tempat untuk bertemu dengan Jamal Zatouni yang ingin menemuinya. Tetapi karena kecerdikan, ketajaman firasat Al-Libiy dan terendusnya bau pengkhianatan, maka ia bergegas melarikan diri meninggalkan al-Jazair. Dalam perjalanan panjangnya meninggalkan Aljazair, ia pun kembali tiba di Afghanistan untuk kedua kalinya.

Setelah serangan 11 September yang penuh berkah dan menyingkirnya para mujahidin imarah Afghanistan di negara tetangga Afghanistan, jihad Al-Libiy tetap berlanjut sampai berhasil kembali bersama saudaranya ke wilayah di Afghanistan yang aman.

Tahun 2006, ketika AS mulai menancapkan taringnya ke Iraq dan memulai invasi yang curang, Syaikh Usamah bin Ladin menugaskan Al-Libiy hijrah ke Iraq dan memimpin amaliah jihad di sana mendampingi singa Iraq, Abu Mus’ab Az-Zarqowi Rahimahullah. Namun, Allah belum memudahkan langkah Al-Libiy untuk berhijrah ke Iraq yang di dalamnya tersembunyi hikmah dari Allah.

Al-Libiy kembali memerankan peran penting dan utama dalam kepemimpinan selama lima tahun terakhir (2006-2011). Sedangkan Syaikh Musthafa Abul Yazid Rahimahullah menjadi wakil dari pemimpin umum Al-Qaeda (wilayah Khurasan: Afghanistan dan Pakistan).

Posisinya menjadi semakin penting ketika Al-Qaeda kehilangan dua ulama mereka yang mulia, yaitu Syaikh Usamah bin Ladin dan Syaikh Musthafa Abu Al-Yazid Rahimahumallah. Al-Libiy menjadi pemimpin umum Al-Qaeda wilayah Khurasan dan menjadi orang kedua di Al-Qaeda setelah syahidnya kedua ulama Al-Qaeda tadi (orang pertama adalah Syaikh Aiman Az-Zhawahiri).

Al-Libiy memang pantas mendapatkan posisi ini karena ia dikenal sebagai seorang yang bijaksana, negarawan, mempunyai pengalaman dalam memimpin dan seorang ahli politik. Dengan kemampuan dan keahlian yang ia miliki, tentu telah memenuhi syarat dan layak menjadi salah satu petinggi dalam Al-Qaeda –padahal masih banyak tokoh-tokoh lain Al-Qaeda yang lebih berumur— lebih awal berhijrah dan berjihad.

Akhlak dan Kepribadian Syaikh Athiyatullah Al-Libiy

Ia adalah seorang ahli ibadah. Malam-malamnya selalu hidup dengan qiyamul lail dan tahajud. Apalagi setelah masuk ke dalam jajaran pemimpin Al-Qaeda, Al-Libiy semakin meningkatkan ketergantungannya hanya kepada Allah SWT. Hal ini dapat kita lihat dari beberapa risalah yang ia tulis berisi nasihat tentang kesabaran dan tawakal di saat kesusahan dan selalu husnudzon kepada Allah. Selalu yakin bahwa pertolongan Allah akan tiba dan kemenangan akan diraih walaupun kesulitan selalu mendera. Memberikan dorongan pada manusia untuk menyisihkan sebagian hartanya sesuai dengan kemampuan.

Ulama Libya yang banyak dikagumi para mujahidin ini termasuk orang yang paling serius menjaga baitul mal kaum muslimin (kas mujahidin Al-Qaedah). Ia tidak akan membelanjakan harta kaum muslimin kecuali dengan kadar yang baik sesuai kebutuhan. Al-Libiy memegang harta kaum muslimin namun tidak mempergunakannya untuk membeli sesuatu hal yang murah harganya, semata-mata demi menjaga amanat yang berat tersebut.

Al-Libiy sangat serius mendidik anak-anaknya secara langsung sekalipun tugas-tugas besar diembankan di pundaknya. Hal ini memberikan teladan bagi kita bahwa seberapapun sibuknya aktivitas, kita harus mempunyai waktu untuk mendidik anak secara langsung. Karena keluarga adalah madrasah bagi anak dan ibulah pemegang peranan utama ini.

Kepemimpinan Al-Libiy Dalam Jihad

Al-Libiy adalah seorang yang brilian, terampil dan banyak makan asam garam dalam jihad. Mampu melaksanakan amaliyah-amaliyah jihad dengan segala kerumitan di dalamnya serta mempunyai keyakinan dan azam yang kuat. Syaikh Az-Zarqawi pernah mengatakan, “Al-Akh Athiyatullah adalah seorang kakak bagi saudara kalian yang lebih muda ini, ia adalah seorang syaikh sedangkan saya hanyalah seorang laki-laki di antara seluruh laki-laki muslim, hanyalah seorang mujahid dari sekian banyak para mujahidin, kesalahanku lebih banyak dari pada benarnya. Aku memohon pada Allah agar senantiasa meneguhkan diriku dalam Islam, memberikanku khusnul khotimah. Sungguh jauh perbedaan antara orang-orang yang menghabiskan umurnya untuk gurauan serta kemaksiatan, dengan orang yang jenggotnya tumbuh dan tulang belakangnya mengeras di bumi jihad.

Statement Az-Zarqawi ini tertuang dalam tulisannya yang berjudul “Da’uu Athiyatallah fa huwa a’lamu bimaa yaquulu” (Biarkanlah Athiyatullah, sebab ia lebih mengetahui apa yang ia katakan). Tulisan ini semakin membuktikan akan segala kebaikan yang ada dalam diri Al-Libiy. Tulisan ini juga bantahan untuk menghentikan lisan-lisan yang suka mencaci maki dan mencela para ulama. Secara tidak langsung hal ini juga mengajarkan kepada generasi Islam akan sikap menghormati para ulama dan mujahidin. Sebuah pengakuan pribadi yang diberikan Az-Zarqawiy dan merupakan sebuah penghormatan kepada salah satu ulama sekaligus petinggi dan ulama senior Al-Qaeda.

Al-Libiy merupakan seorang ulama dan mujahid yang sangat bersemangat untuk mengembangkan kemampuan diri dalam segala bidang. sehingga dengan kemampuan itu ia dapat menguasai beberapa kondisi jihad yang beragam. Sekaligus menjadi tuntutan bagi seorang amir dan komandan yang seharusnya memiliki kemampuan tinggi dalam ilmu serta amal atau teori dan prakteknya. Kemampuan firasat beliau tersimpan hikmah yang dalam. Terkadang suatu perbuatan yang dirasa baik secara lahiriah, Al-Libiy melarang perbuatan itu. Akan tetapi, setelah direnungi secara mendalam ternyata bentuk larangan itu tersimpan kebenaran dan hikmah yang besar.

Sebagai bukti bahwa Al-Libiy adalah komandan yang brilian adalah operasi serangan yang menggoncangkan Dinas Intelijen Amerika (CIA) dan pemerintahan Gedung Putih yaitu operasi Hudzaifah bin Yaman yang dilakukan oleh Abu Dujanah Al-Khurasani di pangkalan militer Khost. Operasi ini berhasil menewaskan delapan perwira CIA. Dari segi pelaksanaan serta perencanaannya membuktikan bahwa Al-Libiy adalah seorang arsitek jihad yang inovatif.

Syahidnya Syaikh Al-Libiy

Selain pimpinan Al-Qaeda pusat Usamah bin Ladin, Al-Libiy merupakan tokoh senior Al-Qaeda yang paling diburu AS kendati perannya yang cukup signifikan dalam tandzim Al-Qaeda. Akhirnya, syahid menjemput senior Al-Qaeda ini di Pakistan pada tanggal 22 Agustus 2011. Al-Libiy syahid karena tindakan pengecut AS yang mengirimkan predator pesawat tak berawak CIA. Syaikh Aiman Az-Zawahiri selaku pimpinan pusat Al-Qaeda pengganti Syaikh Usamah yang syahid sebelum Al-Libiy (3 Mei 2011) memberikan statement akan syahidnya Al-Libiy dalam sebuah video pada tanggal 1 Desember 2011.

Belasungkawa Syaikh Aiman Az Zawahiri atas syahidnya Syaikh Athiyatullah Al Libiy

Al-Libiy syahid dalam usia emas seorang laki-laki, yaitu 43 tahun (ada juga yang menyebutkan ketika 40 tahun). Syaikh Athiyatullah Al-Libiy telah menyumbangkan segala apa yang dipunyai dari harta, waktu, jiwa bahkan nyawanya untuk Islam. Harta Al-Libiy yang paling berharga adalah ikut gugurnya kedua putranya, yaitu Ibrahim yang berumur 15 tahun dan gugur dua tahun sebelum ayahnya dan Isham yang berumur 14 tahun, gugur bersama dengan ayahnya, semoga Allah merahmati mereka semua.

Penulis: Dhani el-Ashim

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s