Kuatkan Diri, Gapai Cita Tertinggi!

kepalan-tanganAllah Azza wa Jalla membuat kaidah hidup yang baku bagi manusia di dunia. Secara ringkas, hal ini tertuang dalam Surat Thaha ayat 123-124.

فَمَنِ اتَّبَعَ هُدَايَ فَلَا يَضِلُّ وَلَا يَشْقَىٰ ﴿١٢٣ وَمَنْ أَعْرَ‌ضَ عَن ذِكْرِ‌ي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحْشُرُ‌هُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ

“ … Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan tersesat dan celaka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha : 123-124)

Sebuah rumus hidup yang sederhana bagi manusia. Cahaya Allah begitu kentara, nikmat Islam mudah dicari, tetapi kebanyakan dari mereka telah lalai dari rumus hidup ini. Mereka lebih mencintai kehidupan dunia daripada kehidupan abadi di akhirat nanti. Rasa pekiwuh –sebagaimana orang Jawa bilang—lebih dikedepankan daripada kebenaran. Seolah hidup akan terasa lurus dan nyaman jika selalu mengikuti kebanyakan orang. Inilah rumus hidup mereka.

Agama Fitrah

Mengikuti pedoman hidup dari Allah Azza wa Jalla akan memberikan kesejahteraan, cahaya, ketenangan, ketentraman, kebahagiaan serta berbagai nutrisi hati; kecergasan dan ketekunan.

Sebaliknya, berpaling dari manhaj Allah tak lain hanya akan memberikan rasa kehilangan, kerugian, kecelakaan, kegelapan dan kesempitan dalam hidup. Kemaksiatan akan semakin banyak memberi pengaruh buruk terhadap jiwa. Sebaliknya, amal shalih pengaruh baiknya dapat bertambah tak terhingga.

Mungkin dapat kita saksikan orang-orang yang tidak terpatri dengan iman dalam hatinya. Mereka pun akan mencari kenyamanan dan kebahagiaan hidup sesuai selera masing-masing. Kita kagum dengan orang Barat yang mampu menciptakan sesuatu yang “wah”. Walaupun jika dilihat dengan mata hati, hal itu nilainya ganjil dan tidak begitu bermakna dalam hidup.

Ketahuilah ikhwah sekalian, sebenarnya mereka merindukan ketenangan, kebahagiaan dan pengakuan. Orang-orang kafir berbuat seperti itu karena menginginkan ketenangan hidup. Apakah mereka menemukan kenyamanan setelah melakukan itu semua? Tidak, sekali lagi tidak. Kenyamanan, kebahagiaan dan ketenangan akan didapat jika kita kembali kepada fitrah. Yaitu kembali kepada Islam, serta hidup sesuai aturan dari Sang Pencipta.

Hati manusia akan bercahaya dengan perantaraan amal kebajikan. Hal ini sebagaimana ucapan Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu, “Sesungguhnya amal kebajikan dapat membuat hati bercahaya, muka bersinar, badan kuat, rezki lapang dan menumbuhkan rasa cinta dalam hati manusia. Sebaliknya, amal keburukan/kejahatan hanya membuat gelapnya hati, hitamnya muka, lemahnya badan, sempitnya rezeki dan menjadikan rasa kebencian di dalam hati manusia.”

لَّيْسَ بِأَمَانِيِّكُمْ وَلَا أَمَانِيِّ أَهْلِ الْكِتَابِ ۗ

“(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak (pula) menurut angan-angan Ahli Kitab.” (QS. An-Nisa’ : 123)

images kiblat

Manusia akan selalu merasakan pengaruh dari perbuatan baik dan amal shalih di dalam hatinya. Meskipun ia sedang bekerja, dalam penjara, berada dalam medan tempur, ataupun sedang kelaparan dan kekurangan, ia akan tetap mendapat pengaruhnya. Kebahagiaan akan selalu ada dalam hatinya.

Boleh jadi ia kehilangan semua harta yang dimiliki, namun tidak akan pernah kehilangan diri dan hatinya. Bagaimana mungkin orang yang telah menemukan Rabbnya akan kehilangan diri dan hatinya?!!

Sebaliknya, kita melihat penduduk dunia bergelimang dalam kenikmatan. Mereka makan berbagai jenis makanan yang lezat, berpakaian bagus, mengendarai mobil-mobil mewah, dan hidup di apartemen-apartemen yang menjulang tinggi. Mereka mengaku Muslim tetapi hidup dengan budaya Barat.

Seorang Muslimah masa kini memang sudah terbalut dengan jilbab yang rapat, tetapi jilbab keimanan kadang malah diabaikan. Banyak dari mereka tidak sadar akan masalah ini, bahwa hal itu ternyata dapat menambah dosa dan penyakit. Demikian pula, para suami yang membiarkan istri mereka “telanjang” di muka umum.

Syubhat pakaian berkembang begitu dahsyat, berkedok jilbab modern, jilbab modis, hijab gaul atau entah namanya jelas hal itu jauh dari aturan syariat. Sebuah kain memang sudah terbalut di kepala, lantas apakah sudah seluruhnya menutupi tubuh kecuali telapak tangan dan muka?

Dengan Apa Allah Menambah Kekuatan Seseorang?

Imam Ahmad bin Hanbal pernah menasehati seorang penakut, “Jika hatimu sehat, pasti engkau tidak akan takut.” Jadi jika hati seseorang sehat, ia tidak akan merasa takut kepada seorang pun. Sebab perbuatan jahat itu bagaikan racun. Ia akan melemahkan hati sebagaimana racun melemahkan (merusak) perut dan usus. Sedangkan kebaikan itu seperti makanan, ia akan menghidupkan hati dan menyinarinya. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

مَثَلُ الْبَيْتِ الَّذِي يُذْكَرُ اللَّهُ فِيهِ وَالْبَيْتُ الَّذِي لَا يُذْكَرُ اللَّهُ فِيْهِ مَثَلُ الْحَيِّ وَالْمَيِّتِ

“Perumpamaan rumah yang selalu disebut nama Allah di situ dengan rumah yang tidak pernah disebut nama Allah di situ adalah seperti orang hidup dan orang mati.”(HR. Bukhari)

Adapun kekuatan jasmani, Allah Azza wa Jalla berfirman melalui lisan Hud Alaihis salam

وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَىٰ قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ

“Dan (Hud berkata), “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Rabbmu lalu tobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud : 52)

Dalam kitab Al-Fawaid, Ibnul Qayyim menulis sebuah pasal yang menarik. Diterangkan bahwa memandang sesuatu yang diharamkan akan melemahkan mata, mencuri dapat melemahkan tangan, berjalan untuk mendatangi hal-hal yang haram akan melemahkan kaki dan memakan barang haram akan melemahkan badan/jasmani. Melemahkan secara indrawi bukan maknawi.

Sesungguhnya perbuatan baik akan menguatkan anggota badan dengan kekuatan yang bersifat lahiriyah bukan maknawiyah. Kekuatan jasmani dan kekuatan hati hanyalah datang dari amal. Sedangkan lemahnya jasmani dan hati, muncul dari perbuatan-perbuatan yang menyelisihi kehendak Dzat Yang Maha Mengetahui perkara-perkara yang ghaib.

Ini adalah suatu hal yang alami menurut undang-undang Ilahi. hati telah dibentuk menurut satu aturan, dia tidak akan berfungsi optimal dan kuat tanpa nutrisinya. Hati menjadi kuat dengan takwa. Jadi marilah kita berlomba untuk beramal saleh, karena itulah nutrisi hati, penguat rohani dan penyegar jasmani. Rasakanlah kenikmatan dan ketenangan hati setelah melakukan amal saleh.

Buah dan Akibat dari Perbuatan Maksiat

Bermaksiat kepada Allah artinya menyelisihi aturan dasar pembentukan dan penciptaan hati. Suatu alat tidak dapat berfungsi optimal jika tidak dijalankan sesuai aturan pembuatnya. Demikian pula hati manusia, tidak akan beroperasi dengan baik, tidak cepat bergerak dan tidak akan merasa lapang jika tidak dijalankan sesuai manhaj Sang Pencipta.

Sesuatu yang tidak dijalankan sesuai dengan tuntutan Ilahi akan berdampak buruk. Jika manusia tidak menggunakan hukum Allah dalam kehidupan, tinggal menunggu saat kehancurannya. Ini adalah sebuah keniscayaan sesuai logika manusia, bahwa yang diciptakan harus mengikuti pencipta-Nya.

Bahkan berbagai peristiwa alam seperti malapetaka, gempa bumi dan kefakiran; ditafsirkan oleh para sahabat sebagai akibat dari dosa menyelisihi manhaj Allah. Menyelisihi manhaj Allah yang berkaitan dengan alam semesta dalam kehidupan.

Pernah suatu ketika terjadi gempa bumi di zaman pemerintahan Umar bin Khatthab. Lalu para sahabat mengirim seseorang kepada ‘Aisyah Radhiyallahu anha untuk menanyakan sebab yang menjadikan gempa bumi tersebut. Lalu oleh ‘Aisyah pertanyaan tadi dijawab, “ Ada orang-orang yang melakukan dosa di kota Madinah.” Begitu Umar mendengar berita dari ‘Aisyah, maka segera dia naik mimbar dan berkata, “Wahai manusia, demi Allah, kalau sekiranya perbuatan dosa itu terulang sehingga terjadi gempa lagi, maka aku tidak mau hidup berdampingan dengan kalian di kota ini.”

Kuatkan Diri dengan Amal Saleh

Semoga Allah merahmati Ibnu Taimiyah, ketika seluruh penduduk bumi menentangnya, beliau malah berujar, “Apa yang bisa diperbuat musuh-musuhku atas diriku? Jika mereka memenjarakanku, maka sesungguhnya penjara adalah tempatku berkhalwat dengan Allah. Jika mereka membunuhku, kematianku adalah kesyahidan. Dan jika mereka mengusirku, pengusiran itu merupakan perjalanan tamasya bagiku.”

kblat

Meskipun berada dalam penjara yang gelap gulita, beliau berkata, “Sekiranya emas sepenuh penjara ini aku berikan pada orang yang memenjarakanku, aku belum memberikan balasan yang setimpal padanya atas apa yang telah diberikan Allah padaku.”

Sekiranya aku memberikan emas sepenuh penjara ini, itu tidak akan setimpal dengan apa yang telah Allah bukakan untukku di penjara. Dunia yang lapang, rezeki yang mudah, hati dan wajah yang bercahaya.

Adapun orang-orang yang durhaka, kegelapan dosanya akan membuat hitam kelam wajahnya sebagaimana dosa-dosa tersebut telah membuat padam cahaya yang bersinar dalam hati dan kalbunya. Sementara orang-orang yang selalu berhubungan dengan Allah ‘Azza wa Jalla, hatinya terang dan wajahnya bercahaya.

Marilah kuatkan diri dengan amalan saleh. Biarlah musuh-musuh Allah secara kasat mata berjaya dan kuat dari sisi materi, tetapi mereka rapuh hatinya. Anugerah terindah dari Allah berupa pertolongan dan kekuatan akan kita dapatkan, jika kita senantiasa bertaqarub pada-Nya. Kuatkan dan tempalah diri dengan amalan saleh, singkirkan kemaksiatan penyebab kekalahan. Melangkah bersama menuju kemenangan yang hakiki di dunia dan akhirat nanti.

 

Penulis: Dhani el_Ashim

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s