Makalah Sangat Berharga Rilisan As-Sahab Media yang Berjudul : “Jadilah Seperti Lebah!

By Doen Fahri October 7, 2014 08:55

Makalah Sangat Berharga Rilisan As-Sahab Media yang Berjudul : “Jadilah Seperti Lebah!”


بسم الله الرحمن الرحيم
YAYASAN MEDIA AS SAHAB
Mempersembahkan Sebuah Makalah yang Berjudul
JADILAH SEPERTI LEBAH!
Oleh: Al Ustadz Ahmad Faruq – hafizhahullah –

-Curahan hati kepada para ikhwah mujahidin di tengah
terjadinya berbagai fitnah dan ujian di sebagian medan jihad akhir-akhir ini-

Segala puji bagi Allah, shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Rasulullah, wa ba’du:

Kepada saudara-saudaraku yang tercinta, yang tetap teguh di medan jihad dan ribath, yang sabar dalam menghadapi kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan, yang mengorbankan nyawa mereka di jalan Allah, Assalamualaikum wa rahmat-Allahi wa barakatuh.

Telah disebutkan di dalam sebuah hadits hasan dari Nabi kita Shallallahu alaihi wa sallam bahwasanya beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ مَثَلُ النِّحْلَةِ ، إِنْ أَكَلَتْ أَكَلَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَضَعَتْ وَضَعَتْ طَيِّبًا ، وَإِنْ وَقَعَتْ عَلَى عُودِ شَجَرٍ لَمْ تَكْسِرْهُ

“Sesungguhnya perumpamaan seorang mukmin seperti lebah, jika ia makan, maka ia memakan yang baik, jika dia mengeluarkan, maka ia mengeluarkan yang baik, dan jika ia hinggap pada sebuah dahan pohon, ia tidak merusaknya.” [HR. Al Baihaqi, dihasankan oleh Syaikh Al Albani – Rahimahullah – di dalam Shahih Al Jami’ Ash Shaghir, No. 10785].

Shalawat ke atas Nabi kita dan kekasih kita Muhammad, dengan seribu shalawat, salam dan pujian, beliau telah merangkumkan bagi kita sebagian sifat terpenting yang ada pada orang-orang yang beriman di dalam kata-kata yang ringkas dan padat makna ini. Di antara peringatan beliau yang terpenting di dalam hadits ini adalah bahwa seorang mukmin yang sempurna (yang kualitas dirinya tinggi) terobsesi dengan kebaikan dan kebajikan, ia banyak bermanfaat dan sedikit menimbulkan madharat, tidak ada yang keluar dari apa lahir batinnya kecuali perbuatan yang baik dan amalan yang mulia, keberadaannya merupakan rahmat bagi alam ini dan memberikan manfaat bagi seluruh makhluk.

Seorang mukmin itu menyerupai lebah dalam beberapa hal:

  • Dirinya enggan melakukan perilaku rendahan dan hal-hal yang konyol, sebagaimana lebah menghindari hal-hal yang kotor.
  • Seorang mukmin berusaha dan bersungguh-sungguh untuk tidak mengeluarkan sesuatu kecuali yang memberikan manfaat bagi makhluk – sebagaimana tidak ada yang keluar dari perut seekor lebah kecuali minuman yang bermanfaat dengan berbagai macam warnanya serta mengandung obat bagi manusia – tidaklah seorang mukmin demikian, kecuali karena ia mengetahui bahwa ia merupakan seorang individu dari sejumlah individu yang mendapatkan titel umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, maksudnya: untuk memberikan mereka hidayah ke arah kebenaran, menunjukkan hal-hal yang bermanfaat bagi mereka dan mengeluarkan mereka dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya syariat Sang Maha Pengasih.
  • Ia juga menyerupai seekor lebah dalam sifatnya yang rendah hati dan tidak membahayakan, sebagaimana jika seekor lebah “hinggap pada sebuah dahan pohon, ia tidak merusaknya..”, maka seorang mukmin juga demikian, ia berlaku lemah lembut dan akrab dengan saudara-saudaranya sesama mukmin, ia tidak membahayakan mereka dengan sesuatu apapun dan ia tidak menyakiti mereka, ia bersikap rendah hati di hadapan mereka, penuh kasih terhadap mereka, dan menasehati mereka tanpa melukai!

Maka wahai saudara-saudara sekalian, jadilah kita seperti seekor lebah. Namun jika kita tidak mampu, maka minimal jadilah seperti sebatang pohon kurma, karena pohon kurma itu mengagumkan! Di dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Abdulllah bin Umar Radhiyallahu Anhuma, Nabi Shallallahu alaihi wa sallam membuat sebuah permisalan lain – yang tak kalah indah dari permisalan yang pertama – untuk menjelaskan keadaan seorang mukmin, beliau bersabda:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ مَثَلُ النَّخْلَةِ، مَا أَخْذْتَ مِنْهَا مِنْ شَيْءٍ نَفَعَكَ

“Perumpamaan seorang mukmin itu seperti pohon kurma, apa pun yang engkau ambil darinya pasti bermanfaat bagimu.” [Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Al Albani – Rahimahullah –, No. 2285].

Pohon kurma itu berbeda dengan pohon-pohon yang lain, karena buahnya dapat dimakan dan dimanfaatkan di setiap tahap pertumbuhannya – sejak keluar dari kelopaknya hingga menjadi menjadi sebutir kurma kering – dan batangnya, daunnya, dahannya, serta pelepahnya memiliki berbagai manfaat, lalu pohonnya yang baik, buahnya yang indah, dan naungannya yang meneduhkan, membuat manfaatnya semakin bertambah. Maka seperti inilah harusnya seorang mukmin itu, seperti seorang contoh nyata dari sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut ini:

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ سُرُوْرٌ يدُخْلِهُ ُعَلَى مُسْلِمٍ أَوْ يَكْشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً أَوْ يَقْضِي عَنْهُ دَيْنًا أَوْ يَطْرُدُ عَنْهُ جُوْعًا وَلَأَنْ أَمْشِيَ مَعَ أَخٍ فِي حَاجَةٍ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ أَنْ أَعْتَكِفَ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ ( يعني مسجد المدينة) شَهْرًا وَمَنْ كَفَّ غَضَبَهُ سَتَرَ اللهُ عَوْرَتَهُ وَمَنْ كَظَمَ غَيْظَهُ _ وَلَوْ شَاءَ أَنْ يُمْضِيَهُ أَمْضَاهُ _ مَلَأَ اللهُ قَلْبَهُ رَجَاءَ يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَمَنْ مَشَى مَعَ أَخِيْهِ فِي حَاجَةٍ حَتَّى تَتَهَيَّأَ لَهُ أَثْبَتَ اللهُ قَدَمَهُ يَوْمَ تَزُوْلُ الأَقْدَامُ وَإِنَّ سُوْءَ الْخُلُقِ يُفْسِدُ الْعَمَلِ كَمَا يُفْسِدُ الْخَلُّ الْعَسَلَ

“Orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah memberikan rasa gembira pada hati seorang muslim, atau mengangkat kesulitan yang dihadapinya, atau membayarkan hutangnya, atau menghilangkan rasa laparnya. Sungguh, aku berjalan bersama saudaraku untuk menunaikan kebutuhannya, lebih aku sukai daripada aku iktikaf selama sebulan penuh di masjid ini (Masjid Nabawi). Barang siapa yang menahan rasa marahnya maka Allah akan menutup auratnya (keburukan-keburukannya) pada hari kiamat. Barang siapa yang menahan amarahnya –-yang jika dia kehendaki maka bisa dia luapkan– maka Allah akan memenuhi hatinya dengan (selalu) mengharapkan hari kiamat. Barang siapa yang berjalan bersama saudaranya untuk keperluannya hingga ia siap untuk menunaikan kebutuhannya maka Allah akan mengokohkan kakinya di hari di mana kaki-kaki akan tergelincir. Sesungguhnya akhlak yang buruk merusak amal sebagaimana cuka merusak madu” [Silsilah Al Ahadits Ash Shahihah, Syaikh Al Albani – Rahimahullah –, No. 906].

Semoga Allah memberikan rezeki kepada kita berupa kualitas diri yang tinggi dan perilaku yang mulia, amin.

Saudara-saudaraku yang tercinta!

Tidak ada seorang pun yang layak untuk memiliki akhlak yang mulia seperti itu kecuali mujahidin, karena mereka adalah orang-orang yang menegakkan kalimat tauhid yang karenanya makhluk diciptakan, para rasul diutus dan kitab diturunkan. Mereka adalah para pelindung apa yang paling berharga dari alam semesta dan apa yang paling terhormat dari agama kita yang lurus, bahkan pelindung syariat samawi. Mereka juga adalah orang-orang yang mengerjakan sebuah ibadah yang dikatakan oleh Nabi mereka sebagai “Puncaknya Islam”, maka mereka harus mengetahui seberapa besar tanggung jawab dan urgensi kedudukan mereka dan agungnya urusan yang mereka tangani, sehingga mereka harus meningkatkan akhlak mereka hingga mencapai posisi yang sesuai dengan keadaan mereka ini. Karena mereka adalah para pengemban tugas kenabian yang agung ini, yaitu tugas mendakwahi makhluk kepada kebenaran, memerintahkan kepada mereka untuk mengerjakan kebajikan dan melarang mereka dari mengerjakan kemungkaran. Jadi tidak mungkin mereka mampu menjalankan tugas ini dengan benar kecuali dengan mengambil contoh dari suri tauladan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang dipuji oleh Allah di dalam firman-Nya:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٖ ٤

“Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung” [Qs. Al Qalam: 4].

Mengambil contoh dari sifat beliau yang disebutkan di dalam firman Allah:

لَقَدۡ جَآءَكُمۡ رَسُولٞ مِّنۡ أَنفُسِكُمۡ عَزِيزٌ عَلَيۡهِ مَا عَنِتُّمۡ حَرِيصٌ عَلَيۡكُم بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ ١٢٨

“sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, Amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin” [Qs. At Taubah: 128].

Dan hati beliau yang terbakar menyaksikan keadaan para makhluk, serta obsesi beliau untuk memberikan hidayah kepada manusia, seperti yang difirmankan oleh Allah:

طسٓمٓ ١ تِلۡكَ ءَايَٰتُ ٱلۡكِتَٰبِ ٱلۡمُبِينِ ٢ لَعَلَّكَ بَٰخِعٞ نَّفۡسَكَ أَلَّا يَكُونُواْ مُؤۡمِنِينَ ٣

“Thaa Siim Miim. Inilah ayat-ayat Al Quran yang menerangkan. Boleh Jadi kamu (Muhammad) akan membinasakan dirimu, karena mereka tidak beriman” [Qs. Asy Syu’araa’: 1-3].

Jadi mujahidin wajib menjadi seperti ini, yaitu seperti lebah atau seperti pohon kurma. Mereka harus terobsesi untuk menjadikan seluruh makhluk baik dan beruntung, tidak ada yang keluar dari anggota badan mereka kecuali kebaikan, mereka memerangi kekafiran dan hadits yang agung di atas menjadi pemandangan yang terpancar dari mereka. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam memberikan wasiat kepada anak pamannya sang pelopor keberanian, Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu Anhu ketika ia hendak berangkat memerangi yahudi di Khaibar:

فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ

“Demi Allah, sungguh Allah memberi hidayah kepada seseorang dengan sebab kamu lebih baik bagimu dari onta-onta yang merah” [HR. Bukhari].

Benar, mereka wajib menjadi seperti ini, mereka hidup bersama darah, potongan tubuh dan pedang, mereka tinggal di pegunungan, padang belukar dan gua-gua, namun hati mereka lebih lembut dari yang kita kira, hati mereka berdenyut bersama umat yang tengah berduka, dan mereka menaruh rasa kasihan terhadap kondisi umat. Bahkan hati mereka terobsesi untuk memberikan manfaat hatta kepada orang-orang kafir sekalipun dengan cara menunjukkan kebenaran kepada mereka, menuntun mereka kepada kebaikan, mengingatkan mereka dari bahayanya menempuh jalan orang-orang yang durhaka.

Saudara-saudaraku sekalian yang saya cintai karena Allah!

Iniah dia agama kita yang kita ketahui berasal dari Al Kitab dan As Sunnah, dari perjalanan para sahabat yang mulia, dan dari buku-buku para ulama salafus shalih. Dan inilah yang telah kita pelajari dari para syaikh-syaikh pergerakan jihad kontemporer dan para komandannya serta para ahli ilmunya, saya khususkan dengan menyebutkan beberapa di antara mereka di sini. Ada sang pembaharu yang menyerukan untuk melaksakan kewajiban yang hilang, yaitu Syaikh Asy Syahid Abdullah Azzam – Rahimahullah –, Amirul Mukminin, sang pelopor pembangkit kehormatan dan kemuliaan umat, Al Mulla Muhammad Umar Mujahid – semoga senantiasa ditolong oleh Allah –, lalu sang Syahidul Ummah, sang penggertak Amerika, Syaikh Usamah bin Laden – Rahimahullah –, ada pula sang Hakimul Ummah, Syaikh Ayman Azh Zhawahiri – hafizhahullah –, Syaikh Asy Syahid Al Abid Az Zahid, Mushthafa Abu Al Yazid – Rahimahullah –, Syaikh Al Mujahid sang Pendakwah sang Pengayom, Athiyyatullah Al Libi – Rahimahullah –, Syaikh Al Alim Al Qaid Abu Yahya Al Libi – Rahimahullah –, Syaikh Al Alim Al Mujahid Abu Al Laits Al Qasimi – Rahimahullah –, Syaikh Al Asir Ash Shamid Abu Qatadah Al Filishthini – semoga Allah segera membebaskan beliau –, Syaikh Al Asir Abu Muhammad Al Maqdisi – semoga Allah segera membebaskan beliau –, Syaikh Al Mujahid Al Khatib Ad Daiyah Al Farid, Al Ustadz Muhammad Yasir Al Afghani – Rahimahullah –, Syaikh Al Mujahid, sang pemilik gudang informasi Abu Mushab As Suri – semoga Allah segera membebaskan beliau –, Syaikh Al Alim Al Faqih Al Qadhi Abu Al Walid Al Filishthini – hafizhahullah –, Syaikh Al Alim Al Abid Manshur Asy Syamiy – Rahimahullah –, Syaikh Ad Daiyyah Anwar Al Awlaqi – Rahimahullah –, dan masih banyak lagi selain mereka yang Allah masih memuliakan kita dengan hidupnya sebagian dari mereka, sehingga kita dapat mengambil faedah dari buku-buku mereka, pertemuan-pertemuan ilmu bersama mereka, arahan-arahan mereka. Maka semoga Allah memberikan balasan kepada mereka dengan balasan yang baik, karena mereka telah menerangkan jalan ini bagi kita, mereka telah menguraikan rangkuman dari pengalaman perjuangan dakwah dan jihad selama 40 tahun yang dijalankan oleh pergerakan-pergerakan jihad kontemporer di berbagai belahan dunia Islam, mereka juga telah mngingatkan kepada kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang telah diketahui keparahan dari akibatnya, mereka memberitahukan kepada kita mengenai sebab-sebab datangnya kesuksesan dan kemenangan serta faktor-faktor kegagalan dan kerugian, amalan mereka menjadi pelajaran bagi kita sebelum perkataan mereka.

Kami memandang pribadi mereka, kerja keras mereka, jihad mereka, dakwah mereka, buku-buku mereka, serta karangan-karangan mereka itu berdasarkan pemahaman yang benar terhadap Islam, berdasarkan persepsi sebenarnya yang jelas terhadap ajaran Islam, yaitu Islam dengan seluruh kekuatannya, kegamblangannya, dan ketegasannya, beserta kemudahannya, sikapnya yang moderat, dan keindahannya. Maka orang yang paling beruntung adalah orang yang pernah menyertai dan menemani mereka, semoga Allah menerima orang yang telah gugur dari mereka dan juga kaum muslimin sebagai syuhada’. Dan semoga Allah meneguhkan langkah mereka yang masih hidup di kalangan mereka dan mematikan kami serta mereka dalam husnul khatimah.

Akan tetapi wahai saudara-saudaraku tercinta, kita sedang menjalani hidup di tahun-tahun yang penuh tipuan, kebaikan seseorang dijelek-jelekkan dan keburukannya disanjung-sanjung, dan sayangnya beginilah keadaan kami yang disikapi oleh sekelompok orang yang tidak mendapati dari diri kami beserta pimpinan dan manhaj kami kecuali kejelekannya saja, itu semua karena kami:

SATU:
Kami mencintai umat kami yang tengah menderita, kami bersikap rendah hati kepada mereka, kami ingin memberikan kebaikan kepadanya, kami ingin mengembalikan mereka kepada agama Allah dengan sempurna tanpa cacat dan kami mencari dukungan mereka – tentunya setelah dukungan dari Al Maula Azza wa Jalla – dalam amal jihad kami melawan orang kafir, dan kami mengambil segala perantara yang tersedia yang itu dianjurkan oleh syariat.

Namun ada sebagian penentang – semoga Allah memberikan hidayah kepadanya – yang memandang bahwa problem terbesar dari Jamaah Qaidatul Jihad adalah bahwa orang-orang yang bergabung dengannya “ingin menyertakan kafilah mereka (Jamaah Qaidatul Jihad) ke dalam kendaraan kafilah umat yang tengah melakukan revolusi”, maka Maha Suci bagi Sang Pencipta, apakah ini sebuah keutamaan ataukah kehinaan?!

DUA:
Kami memandang bahwa vonis kafir adalah hukum syariat yang memiliki urgensi terpenting, karena ia menjaga Islam dan ajarannya serta memisahkan antara Islam dengan kekafiran, serta mencegah timbulnya pencampuran atau kekacauan antara Islam dan kufur seminimal mungkin.

Namun pada saat yang sama kami juga mengingatkan akan bahaya berlebih-lebihan dalam menvonis kafir, kami juga menegaskan akan pentingnya memegang teguh kewaspadaan yang diajarkan oleh para salafush shalih terhadap pembahasan ini. Kami tidak sependapat dengan usaha untuk merubah ketentuan hukum ini menjadi sekedar permasalahan hitung-hitungan yang ditekuni oleh setiap orang bodoh yang buta huruf dalam masalah a-z ilmu syariat atau setiap penuntut ilmu yang baru mendapatkan secuil ilmu yang berbicara mengenainya lalu ia mulai menerapkan hukum ini kepada siapa saja yang ia sukai dan dengan cara yang ia sukai pula, tanpa mengaplikasikan aturan-aturan syariat yang telah ditetapkan oleh para ahli ilmu.

Karena kami menerapkan sikap waspada yang dituntut dan sikap disiplin yang terpuji, maka kami menuding sebagian orang yang ghuluw sebagai seorang murjiah, sebagaimana kami menuduh orang yang murjiah sebagai seorang yang berlaku ghuluw berdasarkan prinsip yang kami pegang pada poin satu. Maka kepada Allah-lah kami mengadu atas tuduhan dan kedustaan ini!

TIGA:
Kami mengeksploitasi pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari para ulama umat, kami mencintai mereka, menghormati mereka, memandang bahwa mereka adalah para pemimpin yang sebenarnya bagi umat ini, dan kami mengajak umat untuk merapat ke sekitar mereka.

Kami memandang bahwa umat akan menjadi baik dan kembali kepada jalan petunjuk apabila kelompok ahli ilmu dan kelompok ahli jihad bersatu dan menutup kesenjangan di antara keduanya. Maka dari itu kami berusaha semaksimal mungkin untuk tidak berbicara yang buruk terhadap kelompok para ulama dalam konteks umum.

Kami memandang apabila ada sebuah kondisi yang kemaslahatan syariat menuntut agar keburukan seorang ahli ilmu dari kalangan para ulama su’ dibuka, maka kami akan berbicara mengenai individu orang ini, kami akan menjelaskan kesesatannya kepada orang-orang, kami akan memperingatkan umat untuk tidak mengikutinya dan kami akan mengarahkan umat untuk mengikuti para ulama rabbani – kami tidak akan mengarahkan umat untuk merujuk kepada para pelajar setengah jadi dan para penulis anonim di dunia internet –.

Namun sayangnya ada orang-orang jihadis yang merusak hubungan antara dua kelompok ini dengan perkataan dan perbuatannya, dan ia mendesak orang-orang untuk mengikuti pendapatnya dalam permasalahan kontemporer dan dalam pembahasan ilmu yang paling penting, sedangkan item keilmuannya masih sedikit – atau katakan saja banyak tidak mengertinya –. Kami melihat golongan ini tidak ragu-ragu mencaci para ulama rabbani – yaitu para ulama yang sudah dikenal akan ketulusan mereka, keteguhan mereka, pembelaan mereka terhadap kebenaran, dan pengorbanan mereka demi kalimat Laa Ilaaha Illa Allah –, hanya karena perbedaan pendapat dalam suatu pandangan atau karena berbeda pendapat dalam permasalahan yang tidak menjerumuskan seseorang pada dosa.

Maka kami menyaksikan bahwa mereka menggunakan kata-kata yang tidak beradab terhadap para ulama besar tersebut, ini menunjukkan akan rusaknya hati orang yang mengatakannya. Dua syaikh yang tertawan, yaitu Abu Qatadah Al Filishthini dan Abu Muhammad Al Maqdisi – semoga Allah segera membebaskan keduanya – tidak luput dari kelancangan lisan mereka, begitu juga dengan sang hakimul ummah Syaikh Ayman Azh Zhawahiri – hafizhahullah –, sebagaimana para ulama ummat lainnya yang terkenal tidak luput dari keganasan lisan mereka.

EMPAT:
Kami sangat berhati-hati dalam urusan darah kaum muslimin dan kami merasa perih setiap kali setetes darah mereka tumpah secara zhalim, karena kami tidak keluar dari rumah kami kecuali karena kemarahan kami akan kondisi kaum muslimin yang tertindas, karena kami ingin melindungi agama mereka, kehormatan mereka, jiwa mereka dan harta mereka.

Kami juga meyakini bahwa kehormatan darah kaum muslimin itu hukumnya pasti, maka haknya tidak akan hilang kecuali dengan bukti yang pasti dan jelas pula, sejelas pancaran sinar mentari yang tak ada noda di atasnya, kami memperingatkan dengan sangat untuk tidak menghalalkan darah mereka dengan alasan yang mengada-ada atau keluar dari batas pembahasan masalah Tatarrus tanpa mentaati aturan-aturan syariat yang telah ditetapkan di dalam buku-buku para ahli ilmu yang terpercaya (Di antara buku-buku tersebut adalah risalah berharga dari Syaikh saya yang tercinta sekaligus ustadz saya yang mulia, Syaikh Abu Yahya Al Libi – Rahimahullah – dengan judul: “Permasalahan Tatarrus (Perisai Hidup) Di Dalam Jihad Modern”), atau membuat-buat tuduhan terhadap mereka tanpa ada kejelasan dan bukti atau dengan menganggap seorang yang keluar dari sebuah jamaah jihad sebagai seorang yang keluar golongan umat ini (murtad – red.) serta sebagai pembangkang yang berhak dibunuh.

LIMA:
Kami memandang pentingnya untuk mengingat keadaan-keadaan sulit yang pernah dialami oleh umat kita yang terdahulu – dan sampai sekarang masih dialami – di antaranya adalah jatuhnya kesultanan Islam, kezhaliman yang dilakukan oleh pemerintahan murtad terhadapnya, upaya untuk sengaja menjauhkannya dari agamanya, paksaan untuk menerapkan kurikulum sekuler di dalam sekolah-sekolah yang mendidik generasi lalu untuk dengan keyakinan yang rusak dan pemahaman yang berbenturan dengan ajaran syariat, memaksa umat dengan kekuatan senjata untuk tunduk di hadapan undang-undang buatan manusia yang Allah tidak akan memberikan kekuasaan dengannya, mempersempit bidang para pendakwah dan ahli ilmunya dengan tujuan mencegah mereka dari membela kebenaran dan menyampaikan hukum-hukum syariat dalam bentuk nyata kepada kaum muslimin yang awam. Kumpulan faktor-faktor ini berakibat pada tersebarnya kebodohan di tengah-tengah masyarakat kita dan hilangnya hukum-hukum syariat dari pikiran kaum muslimin. Semua ini menuntut kita untuk memperlakukan umat kita dengan perlakuan yang bersahabat, bersikap lemah lembut, lapang dada terhadap orang-orang yang tidak mengerti agama, mengajaknya untuk kembali kepada agamanya dan mendakwahinya kepada Allah secara bertahap.

Akan tetapi pada hari ini kami mendapati ada orang yang membatasi Islam dan ikatan loyalitas keimanan ke dalam lingkup yang sangat sempit, ia merendahkan umat dan meremehkannya, ia mencari-cari kesalahannya, dan memukul rata mereka semua, sebagaimana ia juga mencela orang yang mengajak para mujahidin untuk memperlakukan umat dengan kasih sayang dan belas kasihan, maka kita akan menyaksikannya berkata dengan perkataan yang mengejutkan: “umat apa yang menjadi tempat kita kembali? Apakah itu umat Islam Saudi? Atau umat ala ikhwani (ikhwanul muslimin)? Atau sururi? Ataukah hizbul ummah Kuwait? Sungguh aneh apabila ada yang berkata ‘kembalilah kepada umat!’ coba tanyakan kepadanya, umat apa? Ikhwan kah? Al Jamiyah kah? Sufi kah? Atau Al Qaeda kah? Siapakah umat yang harus menjadi tempat kita kembali?”, maka cukuplah Allah sebagai pelindung kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung dari pemikiran yang bengkok ini!

ENAM:
Kami berusaha merangkul umat untuk bersama-sama memecahkan permasalahan pokok mereka, dan yang paling penting di antaranya adalah fokus untuk memerangi kepala ular, yaitu Amerika dan anak tirinya yaitu Israel, berjihad demi membebaskan negeri-negeri kaum muslimin beserta tempat-temat suci mereka. Kami melihat bahwa dengan lenyapnya cengkeraman Amerika, maka dengan izin Allah dampaknya adalah pemerintahan murtad yang menjadi antek bagi barat yang tidak menerapkan syariat Allah akan tumbang. Kemudian membebaskan kaum muslimin dari pembagian-pembagian negara kebangsaan serta teritorial-teritorial buatan kemudian mempersatukan mereka di bawah naungan khilafah yang satu di dalam negara Islam yang satu.

Karenanya kami mewanti-wanti setiap langkah yang dapat merubah arah kompas jihad menjadi peperangan horizontal dan memanfaatkan kesungguhan para mujahidin untuk dilibatkan dalam konflik parsial, akan tetapi kami mengobarkan semangat untuk melanjutkan perjalanan di atas jalan yang sama yang telah digariskan oleh komandan mujahidin – yang dipelopori oleh Syaikh Asy Syahid Usamah bin Laden – Rahimahullah ––  dengan adanya pengalaman yang panjang serta mendalam untuk mewujudkan kemaslahatan agama, kami akan meneruskan perjalanan di atas jalan yang sama hingga kami berhasil menyempurnakan perjalanan ini dan meraih tujuan kami kami yang selama ini diidam-idamkan disertai pertolongan dan taufiq dari Allah.

TUJUH:
Kami memandang bahwa dakwah kepada Allah dan jihad di jalan Allah merupakan dua saudara kembar yang berjalan bersama dan tidak dapat dipisahkan, keduanya merupakan ibadah yang agung, dan masing-masing darinya memiliki keutamaan-keutamaan, hukum-hukum, dan prinsip-prinsip tersendiri, dan di antara keduanya tidak ada alur yang bertentangan dan berlawanan, masing-masing dari keduanya saling melengkapi satu sama lain, itu disebabkan karena keduanya berputar pada satu poros yang bernama tauhid, jadi dakwah kami ini adalah dakwah kepada Laa Ilaaha Illa Allah, jihad kami ini adalah perang untuk membela Laa Ilaaha Illa Allah, kami meyakini bahwa kami ini adalah para da’i dan pada saat yang sama kami juga adalah para mujahid, dan kami merasa terhormat dengannya. Kami memandang bahwa tidak akan ada kemenangan bagi sebuah pergerakan yang sedang berupaya untuk merubah sistem jahiliyah yang sudah merajalela terhadap umat kita kecuali dengan berkomitmen dengan kedua ibadah yang agung ini – bahkan berkomitmen dengan seluruh hukum-hukum syariat, seluruhnya sesuai dengan hukum-hukum dan tahapan-tahapannya yang telah dijelaskan di dalam buku-buku fiqh secara rinci – kami juga mewanti-wanti sikap meremehkan terhadap amalan dakwah yang disiplin terhadap syariat dan menciptakan hubungan yang bertolak belakang antara dua ibadah ini.

DELAPAN:
Kami menegaskan akan pentingnya mempelajari ilmu fiqh politik syariat bagi para mujahidin, kami melihat bahwa pergerakan-pergerakan jihad secara umum akan dihadapkan pada beberapa kondisi yang menuntut untuk dapat bergaul dengan berbagai kalangan, berbagai negara dan berbagai etnis yang berbeda-beda, serta membutuhkan adaptasi terhadap keadaan-keadaan yang tidak stabil dan peristiwa-peristiwa yang selalu berubah-ubah, karenanya kami memandang bahwa para mujahidin, para ahli ilmu di kalangan mereka dan para pemimpinnya – masing-masing di antara mereka sesuai dengan tingkatannya, tanggung jawabnya, dan karakter tugasnya – wajib mengambil bagian untuk mempelajari hukum-hukum politik syariat dan ilmu mengenai aturan-aturan yang berkaitan dengan membatasi prioritas dan menentukan mana kemaslahatan dan mana kemadharatan. Karena fiqh jihad itu sebagian besarnya membahas fiqh kemaslahatan, dibangun di atas dasar pertimbangan terhadap kemaslahatan dan antisipasi dari kemafsadatan.

Setiap pergerakan jihad yang tidak memerhatikan pembahasan penting dari sekian pembahasan-pembahasan agama ini, dan tidak mempelajari hukum-hukumnya, maka biasanya ia akan mengalami kerugian dalam berperang dan gagal untuk meraih tujuan-tujuan dari jihad yang agung, meskipun ia berhasil meraih kesuksesan dalam beberapa pertempuran.

Pergerakan jihad itu harusnya berkembang seiring dengan kesuksesan yang berhasil ia raih, berkembang dari wilayah khusus ke arah wilayah yang lebih umum, apabila anggotanya belum terdidik, kemampuan serta kesadaran mereka belum terbangun dengan luas, mereka belum terbiasa untuk berbicara dengan orang-orang – dengan berbagai macam latar belakang dan tingkatannya – sesuai dengan kadar pemikiran mereka, mereka belum memahami metode-metode politik internasional dan cara meminimalisir musuh serta menggalang teman, persepsi yang terbangun di dalam benak mereka adalah mereka tidak mampu untuk menjalankan sistem politik dan mereka ragu apakah tindakan mereka sudah benar dan sesuai dengan prinsip syariat, bahkan mereka tidak bisa melihat dengan baik apakah tindakan mereka dapat meraih kemaslahatan yang sifatnya prioritas dan apakah tindakannya dapat menimbulkan kemafsadatan, lalu mereka tidak bisa menentukan sebuah pilihan dari dua pilihan yang sama-sama baik, dan tidak bisa menjatuhkan pilihan pada yang dampak negatifnya lebih ringan. Jika semua tahapan dan persiapan ini belum terwujud, maka mujahidin akan melakukan kesalahan politik yang fatal, sehingga dampaknya adalah buah dari perjuangan mereka yang panjang akan hilang, dan musuh akan mudah untuk memetik buah pergerakan jihad tadi di tingkat tujuan dan visi terbesar mereka.

Sayangnya sebagian orang tidak faham akan perbedaan antara praktek politik syariat yang tujuannya adalah menjaga kemaslahatan agama dengan praktek tawar-menawar yang mengorbankan agama. Sebagian yang lainnya yang dikarenakan kelalaian mereka terhadap pembahasan agung yang merupakan salah satu di antara pembahasan agama ini, berpendapat bahwa para mujahidin wajib mengatakan seluruh perkataan dan mengerjakan seluruh perbuatan yang dapat menggangu seluruh penduduk bumi, agar jumlah musuh para mujahidin bertambah dan jumlah teman dan simpatisan mereka berkurang.

Menurut mereka para mujahidin juga harus selalu berbicara dengan orang-orang dengan bahasa yang tidak dapat difahami kecuali oleh kalangan-kalangan tertentu yang terbatas, serta dengan gaya bahasa yang menyebabkan para pemuda melarikan diri dari mereka dan masyarakat menjauhi mereka. Lalu mereka mengira bahwa gaya bahasa mereka ini adalah bukti akan kekakuan aqidah mereka dan kemurnian manhaj mereka, mereka tidak tahu bahwa itu semua adalah bukti akan sedikitnya ilmu mereka, sempitnya pemahaman mereka, dan jauhnya mereka dari kelurusan dan ketoleranan ajaran yang dibawa oleh Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Itu juga membuktikan bahwa mereka mengikuti jalan para umat terdahulu yang bersikap keras terhadap diri sendiri dan terbelenggu dengan bid’ah yang mereka lakukan, lalu mereka mengalami kegagalan sehingga menuju kehancuran. Semoga Allah melindungi kita dari keburukan jalan yang membinasakan ini.

SEMBILAN:
Kami menegaskan akan pentingnya menampilkan adab dalam berbeda pendapat terhadap sesama mujahidin, karena mereka adalah orang yang paling butuh untuk mempelajari pembahasan ini mengingat mereka adalah orang yang paling banyak terkena ujian dari perpecahan. Mereka harus memahami bahwa orang-orang yang berselisih itu tidak sama semuanya, akan tetapi mereka itu memiliki tingkatan-tingkatan yang berbeda-beda, jadi harus ada perhatian bagaimana membedakan dalam berhadapan dengan masing-masing dari mereka.

Mereka juga harus tahu bahwa orang mukmin itu tidak lupa bersikap netral ketika berselisih, dan harus berlaku adil walaupun kepada diri sendiri, orang tua dan kerabat dekat. Mereka harus tahu bahwa seorang mukmin itu memiliki akhlaq yang tinggi sehingga ia tidak suka mencaci, melaknat, berkata kotor dan merendahkan orang lain, dan ia tidak akan berbuat dosa ketika ia berselisih, walaupun ia berselisih dengan orang kafir dan orang-orang murtad sekalipun. Mereka harus yakin bahwa kekuatan itu ada pada dalil bukan pada kata-kata dan menyerang kepribadian seseorang.

SEPULUH:
Kami menekankan akan pentingnya para mujahidin berkomitmen terhadap hukum-hukum Islam sebelum mereka terapkan kepada orang lain, mereka harus menjadi contoh bagi orang lain dalam hal kesetaraan di antara mereka di hadapan hukum hudud Allah, tak peduli baik mereka kecil maupun besar, kuat maupun lemah.

Mereka harus memberikan contoh terbaik dalam hal ketundukan secara mutlak di bawah hukum syariat, karena tidak masuk akal apabila mereka menjadi orang-orang yang membawa panji syariat, namun mereka memudah-mudahkan dalam menerapkan syariat Allah terhadap diri mereka sendiri atau membuat-buat alasan agar dapat mengenyampingkan hukum-hukumnya jika itu bertabrakan dengan hawa nafsu dan pendapat mereka. Bukan, para mujahidin sama sekali bukanlah seperti ini!

Akan tetapi dengan perasaan sedih yang memuncak kami justru menyaksikan ada beberapa pihak yang selalu menyerukan untuk berhukum dengan hukum Allah untuk memutuskan perkara dalam perseteruan antara pihaknya dengan pihak mujahidin lainnya, namun ia selalu bersikeras untuk berkelit darinya dengan menggunakan alasan-alasan yang lebih lemah dari pada sarang laba-laba, kami meminta kepada Allah mengembalikannya kepada kebaikan dengan kondis yang baik!

KESEBELAS:
Kami meyakini bahwa prinsip syura itu merupakan salah satu prinsip di antara prinsip-prinsip terpenting dalam pemerintahan Islam yang dibangun di atas dasar tauhid hakimiyah syariat, dan umat lah yang berhak memilih seorang pemimpin yang telah memenuhi persyaratan, terlebih lagi Ahlul Halli wal Aqdi. Dan kami tidak meilhat adanya pelanggaran di dalam hak ini berdasarkan apa yang telah disebutkan di dalam nash-nash yang menekankan urgensi dari prinsip syura, dan berdasarkan apa yang telah disebutkan di dalam atsar dimana orang “yang membai’at seseorang dengan tanpa musyawarah kaum muslimin” (Ini adalah perkataan Umar bin Khathtab Radhiyallahu Anhu yang tercantum di dalam sebuah riwayat di dalam Shahih Ibnu Hibban, jilid 2).

Kami memandang bahwa jihad kami ini adalah untuk menghilangkan hambatan-hambatan yang menghalangi kaum muslimin untuk dapat memilih seorang pemimpin yang memimpin mereka menggunakan pedoman dari kitab Allah. Kami tidak berjihad dengan tujuan agar dapat berkuasa secara tirani terhadap umat, namun kami berjihad agar syariat yang bersih ini dapat berkuasa ke atas kami dan umat kami. Maka dari itu kami menasehatkan kepada jamaah-jamaah jihad untuk memperbanyak musyawarah dan menghindarkan diri dari mendeklarasikan negara dan keimarahan sebelum ada proses pembelajaran dan musyawarah dengan jamaah-jamaah jihad selain mereka, serta para ulama yang tulus dan para da’i yang ikhlas dari kalangan senior yang telah lama berkorban dan para pemuka masyarakat yang baik. Begitu juga kami menasehati mereka untuk bersikap rendah hati terhadap saudara-saudara mereka kaum muslimin serta selalu siap apabila diminta untuk turun jabatan demi persatuan barisan umat.

KEDUA BELAS:
Kami memandang bahwa tidak perlu tergesa-gesa dalam mendeklarasikan negara dan keimarahan sebelum sarana pokoknya tersedia, karena syariat itu tidak ditentukan hanya karena sekedar nama dan hal-hal yang tampak saja, akan tetapi ia juga ditentukan berdasarkan hakekat dan makna. Jadi yang diminta di sini adalah agar jamaah-jamaah yang belum memiliki kekuasaan dan organisasi-organisasi yang belum memiliki kekuatan untuk tidak tergesa-gesa mengumumkan pendirian negara dan keimarahan.

Karena pengalaman yang sudah-sudah telah membuktikan bahwa jamaah-jamaah yang berhasil meraih kekuasaan secara parsial dan fluktuatif di sebuah area yang kecil dari luasnya bumi ini, sebenarnya ia masih berada di bawah dominasi kekuatan global dan di bawah ketiak penguasa jahiliyah internasional yang pada hakekatnya masih menguasainya, sedangkan ia tidak memiliki kekuasaan, karena ia tidak mampu untuk menjaga wilayah kekuasaannya dan melindungi rakyatnya, ia juga tidak berhasil memenuhi sebagian besar kebutuhan pokok sehari-hari bagi jutaan orang yang hidup di bawah naungannya, bahkan kekuasaannya cepat sekali jatuh hanya karena kedatangan orang-orang kafir yang ingin menyerangnya.

Jadi nama “Daulah” yang diberikan oleh jamaah-jamaah semisal ini akan berdampak bagi kekacauan moril dan menyebarnya rasa putus asa di kalangan kaum muslimin, dan menjadikan mereka tidak bisa menangkap gambaran yang benar terhadap negara Islam; sehingga kami memandang bahwa yang perlu dilakukan secara umum pada fase ini adalah meneruskan strategi memerangi para gerombolan (Atau yang dinamakan oleh Syaikh Ayman Azh Zhawahiri sebagai strategi “Gerombolan Di Setiap Tempat” yang tercantum di dalam tulisan beliau yang berjudul: “Fursan Tahta Raayah An Nabiy Shallallahu alaihi wa sallam”, penamaan ini serupa dengan penamaan yang dipilih oleh sebagian peneliti barat untuk menamakan strategi perang yang kita terapkan, yaitu strategi “Asymmetric Warfare” atau strategi perang yang tak terkordinasi), dan tidak perlu berusaha untuk melebarkan sayap kekuasaan di wilayah sebelum tiba waktunya, serta mengarahkan pertempuran ke arah pasukan kafir yang menyerang negeri-negeri kaum muslimin, serta fokus berusaha untuk menjatuhkan pemerintahan global dengan cara menyerang ke arah kepala ular yaitu Amerika hingga tumbang – sehingga pemerintahan jahiliyah global ikut tumbang bersamanya – dan dunia Islam dapat terlepas dari kehinaan. Maka itulah cara untuk membebaskan umat, mengembalikan kepemimpinan islam beserta para pemeluknya secara hakiki, dan menegakkan khilafah yang berjalan di atas manhaj nubuwah.

TIGA BELAS:
Kami meyakini bahwa fanatisme golongan dan jamaah, serta berlebihan-lebihan dalam bergantung kepada sosok seseorang, nama besar, dan semboyan-semboyan yang tidak diberikan kekuasaan oleh Allah, merupakan penyakit yang tak ada obatnya apabila ia terdapat di dalam tubuh sebuah jamaah jihad. Dan apabila di dalam tubuh sebuah jamaah terdapat penyakit ini, maka jamaah tersebut akan banyak merusak dari pada memperbaiki. Karenanya kami mengingatkan saudara-saudara kami para mujahidin untuk menghindari penyakit yang mematikan ini, dan kami menghimbau agar mereka berserah diri kepada Allah, berpegang kepada sikap wala’ imani yang berasaskan Laa Ilaaha Illa Allah, mengikuti kebenaran kemanapun ia pergi, dan agar mereka tidak menolong golongan dan anggotanya tanpa memperdulikan apakah ia bera di atas kebenaran atau kebatilan.

Kami sedih ketika mendengar ada beberapa orang yang berlebih-lebihan dalam meneriakkan yel-yel yang dapat menggiring seluruh pengikut mereka untuk bersikap fanatik buta. Kami juga khawatir apabila semoboyan jamaah mereka yaitu “Baaqiyah” dapat berubah menjadi prinsip aqidah mereka dengan tanpa mereka sadari. Karena sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa keabadian itu adalah milik Rabbul Izzah Dzul Jalal wal Ikram, sedangkan seluruh jamaah dan negara, maka ia akan tumbang cepat atau lambat.

Kami juga khawatir ketika saudara-saudara kami berlebih-lebihan dalam menggelari pemimpin mereka, karena isyarat dari perkataan mereka ini menyiratkan bahwa ada pemahaman-pemahaman tertentu yang mulai tumbuh di dalam hati yang dampaknya tidak terpuji, maka cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Ia adalah sebaik-baik pelindung!

EMPAT BELAS:
Kami meyakini bahwa jihad merupakan ibadah personal yang dapat mengumpulkan umat dari berbagai belahan dunia demi meraih tujuan-tujuan syariat yang agung, serta menyatukan umat – baik yang shalih maupun yang tidak – di bawah kalimat tauhid, serta menyelamatkannya dari perpecahan, perselisihan dan fanatisme jahiliyah apapun bentuknya serta mengarahkan panahnya ke arah musuhnya sebenarnya yang memerangi mereka dari berbagai kawasan dan dari berbagai bidang, baik militer, keyakinan, pemikiran, politik maupun sosial.

Karenanya kami sangat mewanti-wanti para mujahidin untuk tidak membawa perdebatan ilmiah yang terjadi di kalangan para ulama ahlus sunnah ke medan jihad, atau mempromosikan sesuatu darinya atau berpihak pada pemikirannya, atau memonopoli jihad bagi kelompok kaum muslimin tertentu tanpa melibatkan yang lainnya, semua itu akan menimbulkan perpecahan di dalam barisan para mujahidin, serta menguras tenaganya untuk melakukan hal-hal yang bukan prioritas terpenting, serta menyibukkan mereka dari berkecimpung di medan perang, yang apabila orang-orang seperti ini ada, maka akan menyebabkan hilangnya kekuatan para mujahidin dan berkuasanya orang-orang kafir serta orang-oorang murtad, serta dihalalkannya darah, kehormatan, dan harta kaum muslimin, dan rusaknya sekolah-sekolah mereka, masjid-masjid mereka dan halaqah-halaqah keilmuan mereka.

LIMA BELAS:
Kami meyakini bahwa mendengar dan taat kepada pemimpin dalam hal yang bukan maksiat itu adalah tiang penyangga jihad, dan sesungguhnya tidak ada jihad tanpa ada jamaah dan tidak ada jamaah tanpa ada ketaatan. Kami memandang bahwa taat kepada para pemimpin dalam hal kebaikan adalah merupakan bentuk ketaatan kepada Allah Ta’ala dan ketaatan kepada Nabi Shallallahu alaihi wa sallam, ia adalah ibadah yang dapat mendekatkan diri seseorang kepada Allah.

Dan sesungguhnya tidak ada kemenangan bagi suatu pasukan yang tidak bersatu dalam memerangi musuhnya mereka, sedangkan persatuan sendiri tidak akan terwujud kecuali jika pasukan bersatu di bawah pimpinan seorang ketua dan mentaatinya baik di kala lapang maupun terdesak, dan di kala senang maupun susah. Karenanya kami mengingatkan diri kami serta saudara-saudara sekalian akan bahaya dari bermaksiat terhadap amir, karena setan itu menghiasi kemaksiatan di mata seorang mujahid serta menciptakan khayalan di dalam benaknya bahwa kemaksiatan yang ia lakukan terhadap amirnya adalah demi kemaslahatan yang tak ternilai harganya.

Kita semua harus tahu betul bahwa tidak ada kebaikan sama sekali di dalam langkah yang diambil oleh seorang mujahid jika ia bermaksiat, karena agama tidak dapat ditegakkan jika dibarengi dengan menghancurkan agama!

ENAM BELAS:
Kami memandang bahwa Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid – semoga Allah meneguhkan beliau di atas kebenaran – adalah amir kami, beliau adalah mahkota di atas kepala kami dan pelipur lara kami. Allah telah membenarkan perkiraan kami terhadap beliau ketika beliau mengorbankan segala apa yang beliau miliki demi membela kalimat Laa Ilaaha Illa Allah, dan melindungi para mujahidin dari kalangan muhajirin yang terasing dan terusir. Dan juga terbukti ketika beliau bersama saudara-saudara beliau yang ada di Imarah Islam Afghanistan tengah menghadapi serangan terdahsyat dari pasukan salib yang pernah disaksikan oleh sejarah, namun mereka tidak menyerah, tidak goyah, dan tidak melakukan tawar-menawar, akan tetapi mereka tetap meneruskan jihad dan pertempuran mereka demi mengusir orang-orang kafir dari tanah air mereka dan demi menegakkan syariat Allah di atasnya hingga mereka mendekati gerbang kemenangan, dan orang-orang pilihan tersebut masih terus berjalan di atas jalan ini.

Semoga Allah menolong mereka dan mengembalikan mereka ke Kabul dengan segenap kekuatan dan kekuasaan, serta menjadikan mereka sebagai sebab bagi datangnya kemenangan syariat yang nyata. Kami melihat bahwa Imarah Islam Afghanistan adalah milik setiap mujahid dan setiap muslim, di dalamnya terdapat faktor-faktor syariat, sosial dan faktor-faktor alami yang memenuhi syarat agar mereka mengambil alih kepemimpinan umat, karenanya kami mengajak kepada umat Islam untuk mendekat kepada mereka, membai’at mereka, menasehati mereka, dan mendukung mereka dengan perkataan dan perbuatan.

Kami berlepas diri kepada Allah dari setiap orang yang memecah belah persatuan kaum muslimin, dengan cara meragukan kebenaran manhaj mereka atau mengumumkan sebuah kepemimpinan baru yang tujuannya menggantikan peran mereka. Kami tidak mengklaim bahwa mereka ma’sum, mereka hanyalah manusia biasa yang terkadang benar dan terkadang salah, namun yang dilakukan pada saat terjadi kesalahan adalah memberikan nasehat kepada mereka dengan tetap menjaga adab-adab dalam memberikan nasehat, serta berbaik sangka terhadap mereka dan mengambil perkataan serta perbuatan mereka dengan sebaik-baiknya mengingat banyaknya kebaikan yang telah mereka kerjakan selama sejarah mereka dan besarnya pengorbanan mereka demi membela agama selama ini, semoga Allah mengangkat derajat mereka di dunia dan akhirat.

Karenanya ketika kami menyaksikan tersebarnya isu-isu tidak baik mengenai manhaj Imarah Islam Afghanistan, dan seruan-seruan untuk membatalkan bai’at yang telah diberikan kepada Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid – hafizhahullah – lalu membai’at kepemimpinan yang baru untuk menggantikan beliau, hati kami menjadi pedih. Kami menyaksikan sebagian dari mereka ada yang menyerukan untuk membatalkan bai’at dengan hanya memberi isyarat, namun sebagian yang lain menyatakan secara terang-terangan bahwa mereka membatalkan bai’at yang telah diberikan kepada Amirul Mukminin dan pindah kepada kepemimpinan yang baru, Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rajiun.

TUJUH BELAS:
Kami memandang bahwa amal jihadi harus dibarengi dengan penyucian diri, membenahi akhlak dan memperbaiki hati, karena kitab Allah telah memerintahkan kepada kita untuk memperbanyak dzikir kepada Allah Ta’ala ketika tengah berhadapan dengan musuh, hikmahnya adalah ketika seorang mujahid disibukkan dengan membunuh dan berperang, dan yang ia saksikan di sekitarnya hanyalah tengkorak dan potongan-potongan tubuh, maka itu akan meninggalkan ekses kekejaman di dalam hati, dan itu adalah penyakit berbahaya yang dapat menyebabkan timbulnya banyak penyakit baru sehingga dapat menjadi seseorang binasa. Pergerakan jihad manapun yang tidak memperhatikan proses tarbiyah bagi pasukannya, serta proses tazkiyatun nufus mereka, maka pergerakan itu akan kehilangan bahan bakar utama dan bekal pokok untuk menyempurnakan perjalanannya menuju kejayaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Dan obat dari penyakit hati itu sendiri adalah bertaubat kepada Allah, memperbanyak membaca kitab Allah, memperhatikan shalat-shalat wajib dan sunnah, berinfaq serta berkorban untuk melakukannya, memperbanyak istighfar dan doa, membantu orang-orang miskin dan bergaul dengan mereka, melayani saudara dan para tetangga, membahagiakan hati kaum muslimin, mentaati kedua orang tua dan membuat mereka senang, serta membaca buku-buku ringan dan mengkaji tulisan-tulisan mengenai keadaan-keadaan di akhirat, mengenai motivasi ke arah surga, dan mengenai ancaman dari neraka yang semoga Allah menjauhkan kita darinya sejauh jarak antara timur dan barat, amin.

Wahai saudara-saudaraku para mujahidin!

Inilah dia sebagian dari ciri-ciri yang gamblang dari risalah kami, yang kami terima, kami fahami dan kami cerna dari mulut para masyayikh ahli jihad beserta komandan dan para ulamanya.

Saya akan mengulangnya dengan ringkasan dalam bentuk poin-poin sebagai berikut:

  1. Bersikap rendah hati kepada umat Islam, menggandengnya bersama-sama dengan kita, berusaha untuk meraih dukungan darinya setelah mendapatkan dukungan dari Allah Azza wa Jalla.
  2. Waspada terhadap bahaya dari sikap ghuluw, begitu juga tafrith, dalam permasalahan vonis kafir.
  3. Mengeksploitasi pengetahuan yang sebanyak-banyaknya dari para ulama dan berusaha untuk mempersempit jurang pemisah antara kalangan ahli ilmu dan kalangan pelaku jihad.
  4. Sangat berhati-hati dalam urusan darah kaum muslimin dan waspada untuk tidak terjerumus ke dalamnya dengan menggunakan alasan-alasan yang lemah.
  5. Mempertimbangkan situasi sulit yang tengah dialami oleh umat dan mendampinginya serta mendakwahinya secara bertahap.
  6. Menyadarkan umat akan isu pokok yang tengah ia hadapi, utamanya adalah memerangi Amerika dan yahudi.
  7. Memahami pentingnya amal dakwah dan keterkaitannya yang erat dengan amal jihad.
  8. Menegaskan akan pentingnya memahami ilmu politik syariat yang sesuai dengan konteks para mujahidin.
  9. Menampilkan adab dalam berbeda pendapat.
  10. Berkomitmen dengan hukum-hukum syariat dalam internal barisan kami serta berusaha untuk mewujudkannya dan menerapkannya pada sisi eksternal.
  11. Berpegang teguh dengan prinsip-prinsip syura dan tidak mempermasalahkan hak umat untuk memilih seorang pemimpin yang telah memenuhi persyaratan.
  12. Tidak tergesa-gesa daam mendeklarasikan negara dan keimarahan sebelum sebelum sarana pokoknya tersedia dan sebelum berhasil menghimpun kekuatan dan kekuasaan dalam batas yang cukup.
  13. Waspada terhadap fanatisme golongan dan berlebih-lebihan dalam menggelari seseorang.
  14. Waspada untuk tidak membawa perselisihan ilmiah yang terjadi di kalangan para ulama ahlus sunnah ke medan jihad.
  15. Berkomimitmen untuk mentaati paar pemimpin jika itu dalam kebaikan.
  16. Merapat ke Imarah Islam Afghanistan dan menolongnya dengan perkataan dan perbuatan.
  17. Memperhatikan proses penyucian diri (tazkiyah nufus) dan perbaikan hati.

Inilah sebagian dari aspek penting manhaj kami, jadi jangan sekali-kali ada orang yang muncul dengan membawa manhaj baru dari manhaj yang murni ini, dan jangan sekali-kali ada yang melecehkan kami dengan berkata bahwa manhaj masyayikh kami telah berubah dan menyimpang. Tidak demi Allah… inilah manhaj kami dan tidak berubah… kami memohon agar Allah meneguhkan kami di atasnya. Benar kami mengakui akan kelemahan kami dan keterbatasan diri kami, kami juga mengetahui bahwa kemungkinan untuk terjadinya kesalahan bagi kami ketika memahami suatu hukum dari hukum-hukum syariat, atau menerapkannya di dunia nyata itu ada, meskipun syariat Allah itu sendiri adalah sempurna dan paripurna terbebas dari kekurangan dan keterbatasan. Karenanya kami melihat bahwa pintu nasehat akan selalu terbuka dan kami akan berterima kasih kepada siapa saja yang menunjukkan kepada kami akan kesalahan kami dengan disertai dalil syari. Tidak ada daya dan upaya kecuali dari Allah.

Sebagai penutup, saya ingin mengajak saudara-saudaraku para mujahidin di setiap tempat, khususnya saudara-saudara saya yang ada di Jamaah Qaidatul Jihad dan para ikhwah mujahidin yang ada di Syam bumi ribath untuk merenungkan hadits Nabi Shallallahu alaihi wa sallam yang diriwayatkan oleh sayyidina Abu Musa Al Asyari Radhiyallahu Anhu, ia berkata bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ أَحَدٌ أَوْ لَيْسَ شَيْءٌ أَصْبَرَ عَلَى أَذًى سَمِعَهُ مِنْ اللَّهِ إِنَّهُمْ لَيَدْعُونَ لَهُ وَلَدًا وَإِنَّهُ لَيُعَافِيهِمْ وَيَرْزُقُهُمْ

“Tidak ada siapa pun atau tak ada sesuatu pun yang lebih bersabar atas gangguan yang ia dengar melebihi Allah, Sesungguhnya mereka menganggap Dia punya anak namun Dia memaafkan & memberi mereka rizki” [HR. Bukhari No.5634].

Maka wahai saudara-saudara tercinta! Belakangan ini kalian telah mendengar akan cacian, hinaan, tuduhan bathil, perkataan palsu dan perkataan menyombongkan diri terhadap para senior yang itu melukai hati dan pikiran kita, namun saya mengajak kalian untuk memperhitungkan semua itu di hadapan Allah kelak, tetap bersikap mulia, membalas keburukan dengan kebaikan, menghadapi kezhaliman dengan keadilan, dan meneguhkan langkah kalian di atas kebenaran, karena itu semua hanyalah buih yang akan hilang sebagai sesuatu yang tak ada harganya!

Saya mengajak diri saya dan kalian semua untuk menjadi seperti seekor lebah, atau seperti sebatang pohon kurma, yang naungannya teduh, buahnya manis, enak dipandang, dan bermanfaat bagi kehidupan kita. Semoga Allah menjadikan sifat saya dan kalian semua seperti itu, amin!

Jika ada umur panjang dan kesempatan, kita akan berbincang-bincang kembali mengenai topik di atas namun akan dituangkan secara lebih detail ke dalam makalah yang akan datang dengan izin Allah. Wallahu Al Muwaffiqi.

shalawat serta salam semoga tetap tercurahkan kepada Nabi Muhammad, serta kepada keluarga dan para sahabat beliau.

Oleh: Ahmad Faruq – semoga Allah mengampuninya –.

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s