Menejemen Umur

young to oldSaudaraku, Allah telah menciptakan manusia dalam bentuk yang paling baik, memberikan berbagai kelebihan dan memuliakan mereka di antra semua makhluk-Nya. Sudah menjadi kepastian Allah bahwa manusia akan mengalami perkembangan dan pertumbuhan dalam perjalanan hidupnya, tahap demi tahap, dari masa anak-anak menjadi remaja menapaki usia paruh baya, dan akhirnya lemah. Hal ini sudah dibenarkan dalam firman-Nya,

Allah adalah Tuhan yang menciptakan kalian semula berupa bayi yang lemah. Kemudian Allah menjadikan kalian dewasa dan kuat, setelah itu Allah menjadikan kalian tua yang kembali lemah dan beruban. Allah menciptakan apa saja yang kehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa. (QS Ar-Ruum[30]54)

Wahai manusia, Allah telah menciptakan kalian, kemudian mematikan kalian. Di antara kalian ada yang dikaruniai umur panjang sampai tua pikun, sehingga lupa akan hal-hal yang telah dia ketahui sebelumnya. Sungguh Allah Maha Mengetahui lagi Mahakuasa (QS An-Nahl[15]70)

946

Allah mengingatkan jika manusia sudah sampai umur 40 tahun sudah saatnya untuk berubah yaitu untuk senantiasa bersyukur, berlomba-lomba untuk melakukan amal shaleh, mendidik anak cucu dan bertaubat, dalam firman-Nya

Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa: “Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”. (QS Al-Ahqaf 15)

Komentar para ulama tentang usia 40 tahun
Muhammad bin al-Huasain berkata, “Jika seseorang telah mencapi usia empat puluh tahun, maka ada seorang yang menyeru dari langit, “ Waktu kematian telah dekat maka carilah bekal.
An-Nakha’i berkata, “Mereka dahulunya mencari dunia, namun ketika telah mencapai usia empat puluh tahun, mereka mencari akhirat.

Abdullah bin Dawud berkata, “Ketika telah mencapai usia empat puluh tahun, salah seorang dari mereka melipat tempat tidurnya. Yakni selalu melaksanakan shalat Tahajud sepanjang malam tanpa tidur.

Orang yang sudah berusia empat puluh tahun sudah seharusnya melakukan pembaharuan-pembaharuan; aspek keimanan, moral, dakwah budaya dan kesehatan.

Masalah yang dihadapi setiap muslim adalah kehidupan di batasi oleh tahun, hari, bahkan detik. Manusia tak mampu menambah atau mengurangi waktu barang sedetik. Sebesar apa pun tenaga yang dicurahkan seorang muslim untuk mengumpulkan kebaikan sebanyak-banyaknya, tetap saja jatah hidup di dunia ini dibatasi waktu.

Nabi saw bersabda, “Usia umatku antara 60 sampai 70 tahun. Sedikit di antara mereka yang melebihi batas itu (HR Thabrani)

Wahai orang yang telah berumur 60 tahun! Wahai orang yang hampir mendekati 60 tahun! Wahai orang yang sadar bahwa kelak ia pun akan sampai pada umur 60 tahun! Tahukah anda bahwa 60 tahun adalah umur manusia yang paling misterius desah-desah ketuaan dan kepikunan di umur itu berpadu dengan sinyal-sinyal kematian yang terus mendekat yang melahirkan nuansa yang mengharu pilu. Bagiamanakah keadaan jiwa ini tatkala menjalani masa lemah yang jauh dari ketegaran masa muda untuk menghadapi tangan-tangan kekar malaikat maut yang siap mencengkeram nyawa kita setiap saat?

Isa bin Maryam pernah lewat di hadapan serombomgan orangtua. Beliau berkata, “Hai kaum tua, tidakkah kalian mengetahui bahwa tanaman itu, bila sudah mulai memutih dan mengering serta menjadi keras, berarti sudah dekat masa penennya? Mereka menjawa, “Ya kamu benar.. “Kemudian Isa bin Maryam berkata, “Maka hendaklah kalian mempersiap kan diri, sesungguhnya telah dekat masa panen (waktu ajal) kalian.”

Ibnu ash-Shumah tatkala sadar bahwa ia telah beurmur 60 tahun yang setara dengan 21.500 hari, kontan ia berteriak, “Celaka! Aku akan menjumpai Rabbku dengan 21.500 dosa? Lalu bagiamana pula bila setiap harinya aku melakukan banyak dosa? Ia pun jatuh tersung kur, pingsan dan langsung meninggal saat itu juga. Seseorang berkata, “Sesungguhnya engkau telah melakukan lompatan hebat menuju surga Firdaus tertinggi.”

Ismail bin Ubaidillah menuturkan, “Umar bin Abdul Aziz pernah berkata kepadaku, “Hai Ismail! Sudah berapa tahun yang engkau lewati dalam hidupmu? Aku menjawab, “Enam puluh tahun di tambah beberapa bulan. Beliau berkata, “Hai Ismail, waspadalah, jangan banyak bercanda.

Wahai saudaraku, engkau telah menghabis kan usiamu dalam permainan! Orang lain berhasil meriah tujuan sementara engkau semakin jauh.. orang lain bersungguh-sungguh sementara engkau di lembah syahfat. Kapan engkau sabar dan bertaubat? Wahai orang malang andai saja engkau melihat keseriusan orang-orang yang bertobat dan kegelisahan kaum yang takut akan ancaman Allah, zakat, zuhud mereka tidak lalai pada masa muda dan tua. Allah sudah mengingatkan

Bukankah Kami telah memberikan umur panjang kepada kalian di dunia, tetapi ternya ta kalian tidak mau mengikuti petunjuk para rasul Allah yang telah mengingatkan kalian tentang siksa neraka? (QS Faathir [35]37)

Yakni bahwa pada usia tersebut, seyogyanya seseorang mulai terpuruk cintanya kepada kepasrahan, yakni kembali kepada Allah, karena usia itu merupakan sinyal berakhirnya umur manusia pada umumnya.

Kematian pasti datang membawa kebahagiaan atau kesengsaraan, tergantung persiapan anda. Karena itu, persiapan bekal duniawi yang dapat menyelamatkan anda esok di akherat. Hamba yang bertakwa selalu menasehati diri, mendahulukan tobat dan mengalahkan dorongan syahfat (ali bin abu thalib)

Rasulullah saw bersabda, “Kalau Allah menginginkan kabaikan pada hamba-Nya, Allah akan mempermanis hidupnya. Ada seorang sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud mempermanis hidupnya? Beliau menjawabm “Allah akan memberinya kesempatan untuk melakukan amal shaleh menjelang kematiannya, kemudian mencabut nyawanya dengan kondisi mengamalkan amalannya tersebut.

Ibnu Qayyim berkata, “Jika Allah menghendaki kebaikan pada diri hamba, akan Dia bukakan untuknya pintu-pintu tobat, penyesalan, kepasrahan, penghambaan, rasa butuh, permintaan tolong kepada-Nya, kejujuran kepada-Nya, ketundukan yang terus menerus, berdoa dan mendekat kepada-Nya.

Bagaimana sisa umur kita manfaatkan dengan sebaik mungkin dengan cara mengumpulkan amal sebanyak-banyaknya. Sebab, seburuk-buruk manusia adalah mereka yang diberikan umur panjang namun di isi dengan hal-hal yang mendekatkan diri kepada neraka.

Ketahuilah. Satu hari itu dua puluh empat jam. Tiap orang pada setiap hari, diberikan dua puluh empat peti mati yang berderet-deret. Kelak, ia akan membuka peti-peti tersebut. Apabila dia melihat peti itu penuh dengan cahaya dari kebaikan yang dilakukannya pada jam kebahagiaan itu dibagikan kepada para penghuni neraka, maka akan membuat mereka melupakan penderitaan neraka. Jika dia membuka peti lain yang gelap gulita dan berbau busuk menusuk yaitu jam ketika dia bermaksiat kepada Tuhan, maka dia akan sangat takut, sedih dan terhina, sehingga jika perasaan ini dibagikan kepada para penghuni surga, maka akan merusak kebahagiaan mereka. Lalu, jika dia membuka peti yang kosong, tidak berisi apa-apa yang menyedihkan atau menggembirakannya, yaitu jam ketika dia tidur lalai atau mengerjakan sesuatu yang mubah, maka dia akan menyesali kekosongan ini, layaknya seorang pedagang yang mengeta hui bahwa dia memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan sangat besar, lalu keuntungan itu luput dari tangannya.

Demikianlah peti-peti waktu sepanjang umur seseorang diperhatikan. Karena itu, katakanlah kepada jiwamu, “Bersungguh-sungguhlah pada hari ini untuk mengisi peti-petimu. Jangan biarkan kosong, Jangan menyerah pada rasa malas, segan dan lemas, sehingga engkau tidak mencapai.

Dr. Muhammad Hasan bin Aqil dalam kitab ‘Ajzu Tsiqat, ”Orang yang memperhatikan se jarah akan menyimpulkan bahwa kebanyakan orang-orang shalih tidak memiliki waktu untuk memperdalam ilmu dan melakukan amal shalih nya, melainkan hanya 20 tahun. Lebih sedikit atau kurang sedikit. Bila dikaitkan dengan sabda Rasulullah yang diriwayatkan oleh Imam Turmudzi, ”Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun, ”Berarti mungkin ada kurang lebih 40 ta hun kita yang tidak digunakan dalam rangka amal shalih Illustrasinya seperti ini,

Pertama, Seandainya ada seseorang berusia enam puluh tahun biasa digunakan dalam tiga keadaan. Pertama ada orang yang menggunakan sepertiga dari 60 tahun itu untuk tidur. Ini terjadi pada orang yang tidurnya 12 jam satu hari. Berarti tidur telah memakan 30 tahun atau separuh hidup keseluruhannya. Ada juga yang tidur kurang dari 8 jam sehari tapi ini sedikit. Bagi mereka, artinya tidur memakan sepertiga waktu dari 60 tahun yakni kurang lebih 20 tahun. Kedua, sepertiga dari enam puluh tahun lainnya digunakan dalam bekerja untuk amal duniawi. Sama seperti masalah tidur, umumnya orang menghabiskan waktu 8 jam dalam 1 hari untuk bekerja. Berarti ia telah menggunakan sepertiga dari usainya atau 20 tahun untuk mencari nafkah. Artinya juga, usaianya yang 60 tahun berkurang sekitar 40 tahun, jika ditambah waktu tidurnya yang 8 jam 1 hari. Ketiga, 20 tahun sisanya, umumnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup lain seperti mengurus masalah keluarga, meme lihara anak, berkunjung ke rumah kerabat, makan, minum, pergi ketempat wisata, ke pasar dan sebagainya. Bila demikian, masih berapa lagi waktu yang tersisa agar kita bisa bersaing berlomba mencapai surga? Sebab itulah salah satu kebiasaan para salafushalih adalah mengurangi jam tidur, waktu bekerja dan waktu memenuhi kebutuhan manusiawinya. Itu dilakukan agar mereka bisa mendapatkan kesempatan lebih banyak untuk bisa berlomba mencapai kenikmatan akhirat.

Yusuf al-Qaradhawi berkata, “Hakikat umu manusia bukanlah, tahun-tahun yang ia lewati dari lahir sampai meninggal. Tapi hakikat umur manusia adalah berapa banyak jumlah amal shalih yang telah ia kumpulkan dalam neraca kebaikan. Karena itu, tidak aneh jika anda melihat seseorang yang diberikan jatah hidup di dunia lebih dari 100 tahun tapi kebaikan dan amal shalihnya sama sekali tidak ada, atau bahkan dipenuhi dosa dan maksiat. Terkadang, seseorang meninggal dalam usia muda. Tapi hari-hari yang ia lewati penuh dengan kebaikan.

Hidup anda adalah karunia. Maka gunakanlah sebaik-baiknya untuk beribadah sebelum ajalmu tiba. Agar memperoleh ridha Allah dan surga tertinggi. Tinggalkanlah sikap menunda-nunda taubat dari segala maksiat. Karena itu hanya akan memangkas umur produktif dan waktu ibadah anda. Ketahuilah, surga Allah itu mahal. Dunia bukanlah tempat peristarahatan dan persinggahan yang abadi. Ia adalah ladang ujian dan amal. Sisihkanlah waktu istirahat anda. Kurangi waktu bermain dan tidur untuk bekal di kubur. Sebab, setelah itu, tidur panjang menanti anda hingga kiamat tiba. (Abu Azzam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s