Tawakal kunci sukses pembuka rezeki

burung2-terbangTawakal merupakan salah satu ibadah hati yang paling utama, salah satu akhlak keimanan yang agung. Tawakal sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Al-Ghozali merupakan salah satu pokok agama, kedudukan bagi orang yang yakin kepada Allah bahkan merupakan derajat paling tinggi bagi orang yang mendekatkan dirinya kepada Allah swt, sampai-sampai Ibnu Qayyim menyatakan bahwa tawkal adalah setengah agama dan setengah lainnya adalah kembali kepada Allah sebagaimana firman Allah swt

Hanya kepada Allah saja aku bertawakal dan hanya kepada-nya lah aku kembali (QS Hud 88)

Karena sesungguhya ibadah adalah ibadah dan minta tolong, sebagaimana firman Allah swt

Hanya kepada-Mu lah kami menyembah dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan (QS Al-Fatihah 5)

Kedudukan tawakal sangat dibutuhkan oleh para hamba Allah yang benar. Jika dilalaikan oleh sesuatu urusan, mereka segera lari kepada Allah dengan kembali kepada-Nya dan bertawakal kepada-Nya. Dengan demiian, yang susah menjadi mudah dan yang sulit menjadi gampang, seorang hamba dapat mewujudkan apa yang dia inginkan, hingga pikirannya menjadi tenang, hatinya tentram serta ridha dengan yang ditetapkan dan ditakdirkan Allah kepadanya.

Tawakal kepada Allah bisa menambah kebajikan dan berkah dalam hidup, karena tawakkal termasuk maqam atau tingkatan agung yang menjanjikan kecintaan Allah, sebgaimana firman_nya

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya (QS Ali Imran 159)

Setiap orang yang seperti mereka itu, Allah lah yang akan mencukupi keperluannya, memberikan petunjuk dan yang menjaganya dari syetan

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya (QS Ath Thalaq 3)

Derajat manakah yang lebih tinggi dari orang yang dicintai Allah swt? Imam al-Ghazali berkata, “Agungkanlah kedudukanmu dengan kecintaan kepada Allah dan pemilik cinta, inti kecukupan dari Allah ada pada orang yang melakukannya, maka Allah akan memberikan kecukupan, memenuhinya, kecintaan dan perlindungannya, maka sungguh ia telah medapat keberuntungan yang sangat besar karena sesungguhnya orang yang dicintai tidak akan di siksa, tidak dijauhkan dan tidak pula dihalangi.

Allah memerintahkan Rasul-Nya agar bertawakal

Wahai Muhammad, dan bertawakkallah kepada Allah yang hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya. (Al-Furqan 58)

Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan (QS hud 123)

Wahai Muhammad bertawakallah kamu kepada Allah, Tuhan Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang kepada semua makluk-Nya (QSAsy Syuraa 217)

Allah memerintahkan orang beriman untuk bertawakal

Rasul-rasul mereka berkata kepada mereka: “Kami tidak lain hanyalah manusia seperti kamu, akan tetapi Allah memberi karunia kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya. Dan tidak patut bagi kami mendatangkan suatu bukti kepada kamu melainkan dengan izin Allah. Dan hanya kepada Allah sajalah hendaknya orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ibrahim 11)

Jika Allah menolong kamu, maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (tidak memberi pertolongan), maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. (QS Ali Imran 160)

Jika kamu telah berketetapan hati, maka tawakallah dirimu kepada Allah. Sungguh Allah mencintai orang-orang yang bertawakal (QS Ali Imran 159)

Penjelasan Al-qur’an tentang pengaruh tawakal

Allah swt menjadikan iman sebagai syarat tawakal sebagaimana terdapat dalam firman Allah swt,

Dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS Al-Maidah 23)

Dan sesuatu yang tergantung dengan syarat akan hilangdengan ketidakadaannya, yakni jika tawakal tidak ada maka tidak ada iman.

“Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya (QS Ath Thalaq 3)

Keutamaan tawakkal dalam sunnah

Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam: “Barangsiapa yang ketika keluar rumah membaca (zikir): Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi, walaa haula wala quwwata illa billah (Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada-Nya, dan tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya), maka malaikat akan berkata kepadanya: “(sungguh) kamu telah diberi petunjuk (oleh Allah Ta’ala), dicukupkan (dalam segala keperluanmu) dan dijaga (dari semua keburukan)”, sehingga setanpun tidak bisa mendekatinya, dan setan yang lain berkata kepada temannya: Bagaimana (mungkin) kamu bisa (mencelakakan) seorang yang telah diberi petunjuk, dicukupkan dan dijaga (oleh Allah Ta’ala)?”

Artinya, diberi petunjuk kepada jalan yang benar dan lurus, diberi kecukupan dalam semua urusan dunia dan akhirat, serta dijaga dan dilindungi dari segala keburukan dan kejelekan, dari setan atau yang lainnya.

Sesungguhnya hidup akan terasa hampa dari kebajikan dan berkah, jika seseorang dalam beramal hanya mengandalkan sebab musabab belaka, tanpa mau mengandalkan Allah. Dan akibatnya, ia tidak termasuk orang yang bertawakal kepada Allah dan tidak dapat menjadi seorang mukmin yang sejati, sebagaimana yang di dirmankan oleh Allah

Orang-orang mukmin yang sebenarnya yaitu mereka yang gemetar hatinya ketika mendengar nama Allah disebut. Dan iman mereka semakin kuat ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka. Orang mumin yang sebenarnya hanya kepada Tuhan mereka. Orang-orang mukmin itu senantiasa melakukan sholat dan mendermakan sebagian rejeki yang telah Allah berikan kepada mereka. Mereka itulah orang-orang mukmin yang sempurna imannya. Mereka itu kelak memperolah beberapa derajat kemuliaan di sisi Tuhan mereka, pengampunan, dan rezeki yang berlimpah di surga (QS An-Anfal 2-4)

Ibnu Taimiyah berkata, yang ditakdirkan mencakup dua hal urusan, tawakal sebelumnya dan ridha sesudahnya. Dari sisi agama dan tauhid; Barangsiapa yang bertawakal kepada Allah sebelum bekerja dan ridha dengan yang ditetapkan setelah bekerja, maka dialah orang yang melaksanakan penghmbaan dengan sebenarnya.

Bayangkanlah seorang waniata yag lemah dalam keadaan nifas saat wanita berada dalam keadaan yang paling lemah. Pohon kurma aalah pohon yang sangat kuat, batangnya kokoh tetapi Allah berfirman,

“Dan goyangkanlah pangkal pohom kurma itu ke arahmu niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu (QS Maryam 25)

Tetapi sebab lemah dapat mewujudkan hasil. Mungkin sekali buah kurama berguguran tanpa harus digoyangkan. Apa artinya penggoyangan dari wanita yang lemah terhadap pohon yang kuat? Hal ini adalah untuk mengajarkan kepada para hamba agar mengambil sebab yang paling memungkinkan. Inilah prinsip dalam masalah tawakal.

Muhammad bin Ashim berkata, “Umar bin Khatab jika melihat anak muda yang mencengangkannya maka ia bertanya pada, “Apakah kamu punya pekerjaan? Jika ia menjawab tdak, maka Umar berkata, “Turunlah derajatnya di pandanganku.”.

Ahmad bin Hambal ditanya, “Bagaimana pendapatmu tentang seseorang yang duduk-duduk dirumahnya atau di masjid, dan ia berkata, “Saya tidak akan bekerja apapun sampai datag padaku tezekiku!? Maka Ahmad bin Hambal menjawab, “Ia adalah orang yang bodoh tentang ilmu, dia membaca firman Allah,

Wahai orang beriman, bila shalat Jumu’ah telah selesai dilaksanakan, maka berpencarlah kaian di muka bumi. Carilah rezeki dari sebgain karunia Allah. Perbanyak kalian meningat Allah supaya kaian mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akherat (QS Al-Jumu’ah 10)

Seseorang bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal tentang tawakal, lalu beliau menjawab, “Tawakal adalah kebaikan, tetapi harus dibarengi dengan usaha dan bekerja sampai ia bisa mencukupi dirinya dan keluarganya dan tidak meninggalkannya.

Pada waktu yang lain Imam Ahmad kaktika ditanya, “Bagaimana orang-orang yang tidak bekerja dan mereka berkata kami bertawakal, beliau menjawab mereka adalah ahli bid’ah.

Imam Sufyan bin Said ats Tsauri ia adalah imam dalam bidang fiqih berkata, “Orang berilmu jika tidak punya penghasilan maka ia akan menjadi pelindung bagi kezaliman, orang ahli ibadah yang tidak punya penghasilan maka ia akan makan dengan agamanya, orang bodoh yang tidak punya penghasilan maka ia akan menjadi pelindung bagi orang yang fasiq.

Ibnu Jauzi berkata, “Golongan yang tidak memahami mana tawakal mengira bahwa mereka meninggalkan sebab, membiarkan anggota badan tidak mengerjakan apa-apa, sedangkan kami telah menjelaskan bahwa tawakkal adalah perbuatan hati yang tidak menafikan gerak anggota badan, seandainya setiap orang yang berusaha tidak bertawakal niscaya para nabi terhadulu tidak termasuk orang-orang yang bertawakal, padahal Nabi Adam as adalah petani, Nabi Nuh dan Zakaria adalah tukang kayu, Nabi Idris seorang penjahit, Ibrahim as Luth as petani. Nabi Saleh seoarang, Nabi Sulaiman as bekerja menanam kurma, Nabi Dawud as membuat baju besi dan makan dari buah-buahannya.

Imam Abu Jafar ath-Thbari berkata, “Tawakal hanya dimiliki oleh orang yang hatinya tidak dicampuri oleh rasa takut pada sesuatu apapun, sampai pada binatang buas yang berbahaya, musuh yang memusuhinya tidak pula pada orang yang belum dilapangkan rezekinya atau belum diberikan kesembuhan pada penyakitnya. Pada hekekatnya orang yang sudah percaya kepada Allah, yakin akan ketentuan yang telah ditentukan sejak jaman terdahulu, tidak ada cercaan atas tawakal dan mencari sebab-sebab yang ia lakukan, karena mengikuti sunnah Allah dan rasul-Nya, seungguh Rasulullah saw memiliki dua baji besinya yang ia pakai sebagai pelindung di dadanya, memakai penutup kepala, menempatkan ahli pemanah di atas gunung, menggali parit di sekililing Madinah, mengijinkan berhijrah ke Ethopia dan Madinah, beliau juga berhijrah, mencari sebab-sebab untuk makan dan minum, menyimpan cadangan makanan untukkeluarganya, belau tidak menunggunya turun dari langit, meskipun beliaulah orang yang paling berhak mendapatkannya, beliu lah yang berkata kepada orang yang bertanya kepadanya, “Apakah aku harus mengikat untaku atau aku biarkan saja. “Beliau menjawab, Ikaktlah untamu dan bertawakallah, ini menandakan bahwa penjagaan Allah tidak menghalanginya bertawakal.”


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s