Strategi Jihad Global Al-Qaeda (Bag 2) AL-QAEDA MENJAWAB TANTANGAN ZAMAN

syekh

Oleh: Abu Ayyash Al-Indunisiy
Pembaca yang dimuliakan Allah, memasuki tahun 2013, umat Islam dikejutkan dengan pertikaian antar jamaah jihad yang terjadi di negeri Syam. Pertikaian yang dimulai dengan masuknya Jamaah Daulah yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi ke wilayah Suriah yang jelas-jelas bukan wilayah operasi mereka. Jamaah yang sebelumnya merupakan anak cabang Al-Qaeda di Irak tersebut secara tiba-tiba mengambil inisiatif sendiri untuk membentuk Daulah Islamiyah Irak dan Syam (ISIS), sekaligus menyatakan tidak lagi berada bersama Al-Qaeda.

Dalam perkembangannya, mereka bahkan berani mendelegitimasi Al-Qaeda dan melakukan kampanye hitam untuk memfitnah kepemimpinan Al-Qaeda pusat di Khurasan. Lebih dari itu di berbagai pengakuan dan siaran rilisan resmi, mereka telah berani menumpahkan darah mujahidin dan kaum muslimin karena begitu mudahnya mereka mengkafirkan kaum muslimin.

Meskipun sikap dan tindakan ISIS begitu vulgar dan brutal, (terlebih lagi pasca mereka mengumumkan “kekhalifahan” secara sepihak), Jamaah Daulah tak bosan-bosannya untuk terus memutarbalikkan fakta dan menebarkan pesona dihadapan kaum muslimin dengan menjual mimpi-mimpi indah tentang “kekhalifahan”, sembari terus menerus berupaya merampas kendali jihad global yang sebelumnya telah dinahkodai dengan sangat baik oleh Al-Qaeda. Akibatnya, tersebarlah syubhat dan keraguan terhadap kecakapan Al-Qaeda dalam memimpin jihad global, hal ini secara tidak langsung juga membahayakan kelangsungan agenda jihad global di seluruh penjuru bumi.

Namun, jika melihat kepada sirah nabawiyah, kita akan melihat bahwa begitu banyak langkah strategi Nabi SAW yang kaya akan ibrah, hikmah dan pesan bagi kita yang insya Allah dapat menjawab berbagai keraguan yang muncul terhadap langkah-langkah yang diambil oleh Al-Qaeda dalam memimpin jihad global.

Dalam risalah kali ini, kami merangkum sejumlah ungkapan yang mempertanyakan kemampuan Al Qaeda dalam memimpin jihad global dan menjawabnya berdasarkan sirah nabawiyah, siyasah syar’iyyah dan rilisan para resmi Al-Qaeda yang berkenaan dengan pertanyaan dan ungkapan tersebut.

Pertanyaan pertama: “Apakah Al-Qaeda dan pimpinannya telah berubah manhaj dengan tidak mengkafirkan syiah secara ta’yin?”

Jawab: Al-Qaeda tidak berubah sama sekali dan sikapnya jelas sejak dulu baik ketika syaikh Usamah rahimahullah masih hidup, maupun setelah beliau wafat. Jika kita melihat pendapat ulama-ulama dan buku-buku karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, kita akan mendapatkan bahwa keadaan Syiah berbeda-beda dan bertingkat-tingkat, ada yang kafir dikarenakan mempertuhankan Ali, Hasan dan Husein dan sampai kepada yang hanya sekadar mempunyai pendapat bahwa mereka bertiga memiliki keutamaan, dalam hal ini mereka ada yang kafir dan tidak, dan ini adalah pendapat yang rajih (kuat).

يقول شيخ الإسلام : (ومن أهل البدع من يكون فيه إيمان باطنًا وظاهرًا لكن فيه جهل وظلم حتى أخطأ ما أخطأ من السنة، فهذا ليس بكافر ولا منافق ثم قد يكون فيه عدوان وظلم يكون به فاسقا أو عاصيا، وقد يكون مخطئا مغفورا له خطؤه، وقد يكون مع ذلك معه الإيمان والتقوى ما يكون معه من ولاية من الله بقدر إيمانه وتقواه).              

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah di dalam matan hadist iftiraq : “Diantara ahlu bid’ah ada orang yang didalamnya beriman baik secara batin dan lahir akan tetapi didalamnya ada kebodohan dan kezhaliman, sehingga ia pun berbuat kesalahan yang menyalahi sunnah, maka yang seperti ini tidak dikafirkan dan tidak pula divonis munafik, kecuali jika mereka telah mengadakan permusuhan, berbuat zhalim yang sampai pada tingkatan fasiq dan membangkang. Untuk itu, dalam keadaan seperti ini, maka orang yang salah memiliki kesempatan untuk diampuni sesuai kadar kesalahannya dan sesuai kadar keimanan dan ketakwaan pada dirinya dan bersamaan dengan itu ia masih memiliki hak atas wala’ /loyalitas dari Allah menurut kadar iman dan taqwanya.”

Maka di sini ada kalangan awam dari Syiah yang masih harus diklasifikasi. Syiah juga dikenal akan pengkhianatan dan kedustaannya terhadap Islam dan kaum muslimin, akan tetapi di dalam strategi membangun permusuhan maka syiah merupakan musuh yang ditunda dengan melihat kadar ancaman yang didapat, dan setiap tempat tentu berbeda-beda. seperti yang dikatakan Hakimul Ummah Syaikh Ayman Azh-Zhawahiri didalam Taujihatul Ummah:

“Tidak memerangi sekte-sekte menyimpang seperti Rafidhah (Syiah Imamiyah Itsna ‘Asyariah), (Syiah) Ismailiyah, (Ahmadiyah) Qadiyaniyah dan sufi yang menyimpang selama sekte-sekte sesat tersebut belum memerangi Ahlus Sunnah. Jika sekte-sekte sesat tersebut memerangi Ahlus Sunnah, maka Ahlus Sunnah hendaknya melakukan pembalasan sebatas kepada pihak yang melakukan penyerangan kepada mereka dari sekte-sekte sesat tersebut. Dengan tetap menjelaskan bahwa kita (Ahlus Sunnah) sekedar membela diri, dan kita harus menghindari dari menyerang penganut-penganut sekte sesat tersebut yang bukan tenaga tempur [wanita, anak-anak, orang jompo] dan keluarga [anak-istri] mereka yang berada di rumah-rumah mereka, rumah-rumah ibadah mereka, tempat perayaan dan perkumpulan sekte mereka. Hal itu dengan tetap terus-menerus menjelaskan dan membongkar kesesatan-kesesatan akidah dan perilaku mereka”.

Sebagaimana juga dikatakan oleh Syaikh Ayman Azh Zhawahiri : “Adapun di tempat-tempat yang berada di dalam kekuasaan dan pemerintahan mujahidin, maka sekte-sekte sesat ini diperlakukan dengan hikmah, setelah dilakukan dakwah, penyadaran dan penyingkapan syubhat-syubhat mereka, memerintahkan hal yang ma’ruf dan mencegah hal yang mungkar dengan cara yang tidak menimbulkan kerusakan yang lebih besar dari kemungkarannya, seperti jika menyebabkan mujahidin diusir keluar dari wilayah-wilayah tersebut, atau membangkitkan perlawanan mayoritas rakyat kepada mujahidin, atau menimbulkan fitnah (kekacauan) yang dimanfaatkan musuh-musuh mereka (Amerika dan sekutunya) untuk menginvasi wilayah-wilayah tersebut”. (Yayasan Media As-Sahab. Sumber: Al-Fajr Media Center)

Lihatlah, begitu bijaksananya Al Qaeda di dalam menyikapi aliran sesat, bid’ah bahkan terhadap Syiah sekalipun. Bagi penulis sendiri, Syiah tetaplah musuh yang harus diwaspadai. Hanya saja persoalannya apakah syiah itu merupakan musuh prioritas itu tergantung pada kadar ancaman di masing-masing tempat.

Syaikh Hakimul Ummah juga mengatakan : “Di Iraq, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan mereka bertujuan untuk membebaskan wilayah-wilayah Sunni dari cengkeraman antek-antek Amerika dari kalangan Safawi (iran), dan hal ini tidak berbeda jauh dengan kondisi di Suriah hari ini yang terus-menerus memberangus gerakan Islam dari era Syaikh Marwan Hadid di era 60-70 an”.

Hemat penulis, begitu juga yang terjadi pada konflik Syiah dan Sunni di Pakistan, Suriah, Libanon dan konflik lainnya adalah dalam rangka membela diri dari ancaman dan serangan musuh. Al-Qaeda mempunya fiqih aulawiyat atau skala prioritas di dalam membangun strategi melawan musuh-musuhnya dan tidak mau terjebak kepada peperangan yang menghabiskan energi, lelah, lalu jatuh sementara musuh utama nya belum jatuh. Sekiranya kita dapat mengambil nesehat syaikh Abdul Aziz Ath-Thuraifi hafizhahullah :

“Tidaklah Nabi SAW berangkat menyerang Mekah kecuali setelah menghabiskan kekuatan Yahudi, dan beliau tidak membangun permusuhan dengan Persia kecuali setelah mengikat perjanjian damai dengan Quraisy. Dan tidak ada orang yang lebih membahayakan umat Islam selain orang yang tidak dapat membedakan antara bara’ sebagai aqidah dengan strategi membangun permusuhan”.

Permasalahnya adalah kita tidak mengetahui mana musuh yang harus di hantam dulu, didiamkan sementara atau ditunda sementara waktu, sehingga kita fokus terhadap musuh utama kita yaitu Amerika dan sekutunya, ingat! Salah dalam melangkah adalah kebinasaan terhadap proyek yang besar ini dan kegagalan akan membawa trauma kepada ummat.

Pertanyaan kedua: “Apakah Al-Qaeda tidak mengkafirkan dan menargetkan polisi dan tentara thogut rezim murtad di negara-negara mayoritas muslim?”

Jawab: Syaikh Abu Mush’ab As-Suri fakallahu asrah mengatakan di dalam kitab “Dakwah Muqawamah”-nya bahwa 14 eksperimen jihad melawan pemerintahan thaghut murtad di seluruh dunia Islam telah gagal, mengalami kebangkrutan, gagal dalam merealisasikan sasaran dan masuk kedalam lubang krisis. Karena pendekatan mereka bisa dikatakan tidak populer, tidak nyambung dengan logika umat seperti pendekatan Hakimiyah, Uluhiyah sebuah pendekatan komunikasi politik yang sulit dipahami oleh kebanyakan umat Islam bahwa rezim ini adalah musuh Islam. Dikarenakan adanya syubhat ihtilal /penyakit sisa penjajahan yang panjang yang mengakibatkan tata cara berfikir dan kejiwaan yang salah, sehingga telah mengakibatkan kerusakan dalam dimensi kehidupan, syubhat dan syahwat yang dilemparkan ulama-ulama suu’, baik kurikulum pendidikan dan lingkungan yang buruk, minimnya pendidik yang mumpuni menjadi pelengkap penderitaan umat ini, ditambah kejamnya rezim thagut terhadap aktifis Islam, pelecehanya terhadap Islam dan syariat Islam menyebabkan munculnya anak-anak muda bersumbu pendek, galau dan frustasi, akibatnya semakin menumbuh suburkan sikap keras (tasyadud), ekstrem (ghuluw) sehingga kejadian dan peristiwa mengatasnamakan jihad dengan sasaran target yang salah. Selain itu juga terjadi pelanggaran syar’i di sana-sini dan meniadakan dhawabith (aturan main) di dalam kaidah-kaidah syariat.

Demikian pula, pemahaman menyamakan polisi dan tentara sebagai kelompok kafir seperti kafir asli adalah tidak benar tanpa melihat syuruth (syarat-syarat), mawani’ (penghalang-penghalang) dan tanpa melihat realita kenyataan di medan tempur atau bukan. Bahkan cara istimbath dan istidlal ulama-ulama seperti syaikh Abdul Qadir bin Abdul Aziz fakallahu asrah dan syaikh Abu ‘Ashim al-Maqdisi hafizhahullah masih menjadi perdebatan bahkan boleh dibilang keliru karena menyamakan aparat polisi dan tentara di negara-negara muslim dengan kafirnya Fir’aun, Haman dan bala tentaranya. Silahkan dikaji makalah “Al-Hukmu ‘ala Juyusy wa Syurtha Ad-Duwal, Muqtathafat Muhimati min Kalamis Syaikh Athiyatullah al-Libi Rahimahullah / Hukum tentara dan Polisi di Beberapa Negeri Muslim, Renungan penting dari pendapat Syaikh Athiyatullah Al-Libi”, begitu juga menyamakan status tentara dan polisi di negeri-negeri muslim dengan bala tentara Musailamah Al-Kadzab. Berkenaan dengan hal ini, kami memohon untuk mengkaji kembali “Nazharat fi Al-ijma’ Al Qath’i” karangan Syaikh Hasan Muhamad Qaid atau Syaikh Abu Yahya Al-Libiy rahimahullah bahwa status mereka masih diperselisihkan.

Dan diterangkan dalam makalah Risalatu Munashahabah wa Tadzkir, hal 2-3 dikatakan: “Hukum asal pada tentara pemerintahan-pemerintahan yang memerintah dengan selain hukum Allah, adalah ia seseorang tentara thaghut yang kufur, boleh memeranginya untuk meruntuhkan thaghut dan menegakkan hukum Allah, hal ini tidak menghalangi adanya individu-individu dalam tentara pemerintahan thagut tersebut yang tidak berstatus kafir akbar yang mengeluarkan dari millah ( agama Islam), karena adanya sebuah penghalang dari penghalang-penghalang kekafiran pada diri mereka yang tidak nampak jelas bagi kita”.

Jadi disini bukan hanya aspek yuridis halal atau haram membunuh polisi yang masih debatable di kalangan ulama-ulama Islam, bahkan dalam aspek politik memerangi Polisi dan tentara di negara yang aman seperti Bahrain, Qatar, Indonesia juga mempunyai aspek buruk dalam pencitraan bagi Islam, jihad dan mujahidin di mata umat Islam. Jika berkaca kepada arahan Jihad global syaikh Ayman Azh-Zhawahiri hafizhahullah yang mengatakan ketika ditanya oleh Abu Thalhah Al-Gharib: “Apakah antum mengkafirkan Tentara Arab secara kufrun nau’ (kekafiran secara umum) ataukah kufrul ‘ain (kekafiran secara personal), ataukah dalam masalah ini diperinci?”.

Beliau menjawab : “Pengkafiran terhadap tentara dan lembaga keamanan itu dilakukan dengan perincian. Adapun menurut pendapat saya bahwa para dubbats mabahist (para perwira intelijen) dalam lembaga keamanan negara yang menjadi bagian dari lembaga kontra aktivitas keagamaan dan orang-orang yang seperti mereka, yang menginterogasi dan menyiksa orang-orang Islam, mereka ini adalah orang-orang kafir secara ta’yin (perorangannya). Namun perselisihan dalam masalah ini, efeknya sangat sedikit sekali dan hanya terbatas pada hukum-hukum pribadi seperti pernikahan dan warisan. Adapun secara praktek, dalam memerangi mereka tidak ada perbedaan pendapat antara dua pendapat tersebut. Dan perselisihan dalam masalah ini ada kelonggaran. Akan tetapi yang harus benar-benar diwaspadai adalah manhaj yang dianut oleh penulis buku Watsiqatut Tarsyid, ketika dia mengkafirkan mereka secara ta’yin. Bahkan dia mengkafirkan orang yang tidak mengkafirkan mereka. Namun kemudian akhirnya, secara terpaksa atau sukarela, dia menjadi alat yang dipermainkan oleh mabahits (intelijen). Dan dalam masalah ini saya sarankan untunk mengkaji risalah Nadharat fil Ijma’ al-Qoth’i karya syaikh Abu Yahya al-Libi hafidzahullah.” (Al-liqa’ Al-Maftuh ma’a Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri, juz 1:23, Penerbit As-Sahab media. Th.1429 H. ).

Dari sini arahan masyayikh, qadah jihad dan para ulama kita mengkhawatirkan adanya fenomena orang-orang aneh yang mudah mengkafirkan. Karena sikap ekstrem atau ghuluw dalam beragama, dan sikap mereka itu ternyata berbanding lurus dengan kepentingan musuh-musuh kita. Akan tetapi sebagaimana pembahasan kita diatas bahwa itu semua dikembalikan kepada sejauh mana di tiap-tiap daerah dan wilayah mendapatkan ancaman dari musuh-musuhnya, perlawanan kita kepada rezim murtad adalah dalam rangka mempertahankan diri dari serangan musuh.

Syaikh ‘Ayman mengatakan dalam Taujihatul Ummah : “Adapun wilayah-wilayah yang memang memaksa adanya konflik (seperti) di wilayah Afghanistan, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan antek Amerika hanyalah ekses saja, dan masih bersambung dengan konflik melawan Amerika. Di wilayah Pakistan, konflik yang terjadi merupakan bagian dari konflik melawan Amerika yang bertujuan untuk kemerdekaan Afghanistan, serta menciptakan wilayah aman bagi mujahidin di Pakistan, kemudian merintis berdirinya Negara Islam dari wilayah tersebut. Di Irak, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan mereka bertujuan untuk membebaskan wilayah-wilayah Sunni dari cengkeraman antek-antek Amerika dari kalangan Shafawi Iran”.

Strategi ini masih dilanjutkan di era “Arabic Spring” [revolusi Arab yang menumbangkan rezim-rezim Arab, dimulai dari Tunisia, lalu Mesir, lalu Libya, Yaman dan berlanjut dengan revolusi Suriah] oleh Syaikh Aiman Az-Zhawahiri sepeninggal Syaikh Usamah. Hal itu bisa kita lihat misalnya dalam pesan audio yang disampaikan oleh tokoh Al-Qaeda in Islamic Maghrib (AQIM), yaitu Syaikh Ahmad Abu AbdiIlah hafizhahullah, yang dirilis pada hari Selasa, 11 Rajab 1434 H / 21 Mei 2013 M.

Di dalam pesan audio yang berjudul Risalatu Nush-hin Wa Bayanin Li Harakatin Nahdhah Bi Tunisil Qairwan itu, Syaikh Ahmad Abu Abdillah hafizhahullah menyampaikan 15 poin untuk kaum muslimin, di antaranya adalah:

Poin pertama: “Kami menegaskan kembali bahwa kami masih mematuhi arahan-arahan Syaikh dan Amir kami, Syaikh Dr. Aiman Az-Zhawahiri hafidhahullah untuk tidak menyerang
pemerintah-pemerintah yang berkuasa setelah terjadinya revolusi, dan untuk menjulurkan tangan kerjasama dengan pemerintah tersebut dalam rangka mewujudkan pelaksanaan syari’at Islam dan membebaskan negeri-negeri kaum muslimin, terutama adalah Palestina, serta menegakkan keadilan di tengah-tengah kaum muslimin.”

Poin keempatbelas: “Kami perbaharui lagi komitemen kami terhadap nasehat-nasehat Amir kami Syaikh Dr. Aiman Az- Zhawahiri, dan arahan-arahan Amir untuk wilayah kami Syaikh Abu Mush’ab ‘Abdul Wadud, untuk tidak menyerang tentara dan aparat keamanan Tunisia, kecuali dalam rangka membela diri. Dan saya berharap pemerintah Tunisia membaca pesan ini secara benar.”

Pertanyaan ketiga: “Apakah Al Qaeda melarang operasi amaliyah isytisyhadiyah atau serangan terhadap tatarrus dengan target razim murtad di negera-negara mayoritas muslim?”

Jawab : Seorang muslim yang baik akan melakukan muhasabah/introspeksi atau mengevaluasi amal-amal yang dia lakukan, baik muhasabah sebelum beramal, muhasabah saat beramal dan muhasabah setelah beramal, dan Jihad adalah puncak dari amal sholeh yang seharusnya lebih menuntut adanya kewajiban untuk bermuhasabah.

Hal ini disadari dan dilaksanakan oleh syaikh Usamah bin Laden rahimahullah dan jajaran pucuk pimpinan tanzhim besar Al-Qaeda, perjalanan panjang jihad setelah serangan barakah 11 September 2001 sampai beliau gugur pada 2 Mei 2011, penuh dengan peristiwa dan kejadian, peperangan ini mengalami pasang surut, menang kalah, suka maupun duka, ada sisi kemajuan dan kemunduran, sisi ketepatan dan kekeliruan. Penjelasan-penjelasan para komandan Al-Qaeda yang telah kita baca pada ulasan di atas adalah cerminan muhasabah tersebut, dan muhasabah tersebut mengantarkan kepada 2 kesimpulan penting.

Pertama: mengakui beberapa kekeliruan yang terjadi dalam operasi-operasi jihad tersebut dan mengambil langkah-langkah nyata untuk memperbaiki. Kedua: Mempertahankan prestasi, kemajuan dan ketepatan yang diraih selama ini, kemudian meningkatkan, mengembangkan secara kuantitas dan kualitas.

Berkenaan dengan evaluasi ini syaikh Usamah bin Ladin rahimahullah mengatakan : “Kekeliruan operasi militer setelah meluasnya perang dan tersebarnya mujahidin di berbagai wilayah adalah, adanya ikhwah yang asyik berperang dengan musuh lokal (rezim murtad) dan kesalahan ini semakin parah akibat berbagai kesalahan perhitungan yang dilakukan oleh para ikhwah pembuat rencana penyerangan, atau akibat suatu perkara yang terjadi sebelum pelaksanaan ‘amaliyat. Ditambah lagi dalam masalah tatarus/perisai hidup, sehingga mengakibatkan jatuh korban kaum muslimin.” (Letter from Abbotabad hlm 88-89)

Untuk lebih detail mengenai persoalan tatarrus ini, silakan merujuk dan mengkaji kitab At-Tatarrus fil Jihadil Mu’ashir karya syaikh Abu Yahya al-Libi dikarenakan kondisi yang berbeda dengan kondisi saat ini, dengan batasan-batasan yang jelas.

Lalu kekeliruan yang dievaluasi adalah membunuh orang yang tidak dipahami oleh umumnya kaum muslimin bahwa orang tersebut boleh dibunuh. Oleh karena itu, jika kita berkaca kepada Sirah Nabawiyah, kita akan melihat bahwa Nabi shalallahu alaihi wassalam tidak membunuh Abdullah bin Ubay bin Salul, dikarenakan tindakan tersebut bisa mengakibatkan kerugian terhadap dakwah Nabi shalallahu alaihi wassalam. Dan hari ini kita bisa melihat hal-hal serupa, yang apabila terjadi kesalahan bisa mengakibatkan kerugian bagi mujahidin yaitu dari sisi hilangnya simpati kaum muslimin kepada mereka, yang kemudian kesalahan-kesalahan tersebut dimanfaatkan oleh musuh untuk memperburuk citra mujahidin di mata masyarakat untuk memisahkan mujahidin dari basis massanya. (Lihat penjelasan syaikh Usamah dalam Letter from Abbotabad hlm 91-92)

Syaikh Usamah bin Ladin bahkan memberikan penekanan lebih tegas pada salah satu bentuk kesalahan mujahidin, beliau mengatakan : “Adapun di antara ‘amaliyat yang memiliki dampak sangat negatif terhadap pendukung jihad adalah ‘amaliyat yang menargetkan orang-orang murtad di dalam masjid, atau di dekat masjid”. (Letter from Abbotabad: 93).

Inilah salah satu aspek kesalahan kebijakan strategis yang mengakibatkan kerugian bagi kita di mata umat Islam.

Selanjutnya, berkenaan dengan “Alasan Menghindari Operasi Jihad di Negeri Mayoritas Muslim”, syaikh Usamah rahimahullah di dalam suratnya kembali menegaskan:

“Ada dua alasan mendasar mengapa kita harus menghindari pelaksanaan operasi militer di negeri-negeri kaum muslimin. Pertama, serangan yang dilakukan di negeri-negeri muslim akan semakin membuka peluang jatuhnya korban dari kaum muslimin. Meskipun para ikhwah telah diingatkan agar tidak terlalu longgar dalam menimbang masalah tatarrus, namun mereka masih saja belum paham batasan-batasannya, sehingga dalam realitanya masih saja terjadi sikap yang terlalu longgar dalam masalah tatarrus ini. Hal ini menjadikan kita memikul tanggung jawab di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala, itu satu persoalan, kemudian kita juga harus memikul kerugian dalam proyek lapangan dan gangguan dalam mendakwahkan jihad.

Kedua, kerugian yang sangat besar sekali yang dialami oleh para ikhwah yang berada di daerah tempat mulai dilaksanakannya program ‘amaliyat, sebagai efek dari pemberangusan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para pemuda yang terlibat dalam program jihad, atau bahkan sampai terhadap para pemuda yang hanya terlibat dalam program dakwah. Lalu ditangkaplah puluhan ribu di antara mereka sebagaimana yang terjadi di Mesir, dan ribuan orang sebagaimana yang terjadi di negeri dua tanah suci [Arab Saudi]”.

Syaikh rahimahullah menegas kembali : “Padahal masalahnya adalah masalah pilihan waktu saja, sementara persoalanya masih ditangani dengan program menguras kekuatan gembong kekafiran dan aliran kehidupan yang menjadi penyokong pemerintah murtad di fron-front jihad yang telah terbuka”. (Letters from Abbotabad hlm.95)

Lalu Syaikh rahimahullah menegaskan lagi dalam pelaksanaan teknisnya:

Sebelumnya saya telah memberikan perumpamaan khusus untuk menerangkan strategi umum Al-Qaeda ini, yakni berkonsentrasi kepada Amerika. Yaitu, bahwasanya musuh umat Islam pada hari ini adalah ibarat pohon yang jahat. Batangnya adalah Amerika yang berdiameter 50 cm. Sementara dahan-dahannya banyak dan ukurannya berbeda-beda, yang di antaranya adalah negara-negara yang tergabung dalam NATO dan juga banyak dari kalangan negara-negara di kawasan Timur Tengah. Kita hendak menumbangkan pohon ini dengan cara menggergajinya. Pada saat kekuatan kita terbatas, maka cara yang benar dan efektif untuk menumbangkan pohon ini adalah dengan memusatkan gergaji kita pada pangkal pohon yang bernama Amerika ini. Kalau pekerjaan kita yang terkonsentrasi ini telah mencapai pertengahan batang yang bernama Amerika sedalam kira-kira 30 cm, kemudian terbuka peluang bagi kita untuk menggergaji dahan yang bernama Inggris, maka kita tidak boleh menggunakan peluang tersebut selama kita masih mampu meletakkan gergaji pada pangkal pohon yang bernama Amerika tersebut. Karena hal itu akan memecah pekerjaan dan kekuatan kita. Karena jika gergaji itu tetap kita konsentrasikan pada batang yang bernama Amerika sampai tumbang, niscaya bagian pohon yang lain akan ikut tumbang, dengan izin Allah.

Kalian dapat mengambil contoh dalam masalah ini pada dampak pemotongan batang pohon yang bernama Rusia [baca: Uni Soviet] yang dilakukan mujahidin, yang kemudian disusul dengan tumbangnya seluruh cabangnya [kelompok dan negara komunis] satu persatu, sejak dari Yaman Selatan sampai Eropa Timur, tanpa kita harus berpayah-payah mengerahkan tenaga untuk menumbangkan cabang-cabang tersebut pada masa itu. Oleh karena itu, setiap anak panah dan setiap ranjau yang memungkinkan untuk diarahkan kepada Amerika dan kepada selain Amerika, maka hendaknya lebih dipilih untuk diarahkan kepada Amerika dan bukan kepada selain Amerika, baik itu NATO apalagi selain NATO. Misalnya saja kita tengah mengintai musuh di jalan antara Kandahar dan Helmand. Lalu lewat iring-iringan tank musuh; tentara Afghanistan di barisan pertama, lalu iring-iringan tentara NATO di barisan kedua, dan iring-iringan tentara Amerika di barisan ketiga. Maka hendaknya serangan kita lebih difokuskan kepada iring-iringan barisan ketiga, meskipun jumlah tentara musuh pada barisan tank yang lain lebih banyak.” (Letter from Abbotabad hlm 44-46).

Berdasarkan semua keterangan ini, dapatlah kita pahami mengapa ketika syaikh Abu Qatadah hafizhahullah ditanya tentang kabar dan perkembangan di lapangan bahwa Daulah berhasil menguasai wilayah yang luas dari Iraq dan Suriah, dan bahwa Jamaah ini memiliki perlengkapan militer yang besar berasal dari gudang-gudang persenjataan pasukan Iraq, maka di jawab oleh beliau : “Saya tidak peduli berapa banyak perlengkapan dan persenjataan mereka, karena kekuatan jamaah jihad adalah terletak pada dukungan masyarakat terhadapnya, dan ini tidak bisa dipenuhi oleh Jamaah Daulah”.

Kita telah memahami bahwa di antara strategi baru Al-Qaeda adalah tidak melakukan amaliyat di negeri-negeri kaum muslimin seperti Indonesia, Malaysia, Brunei dan yang semisalnya. Karena dampak negatif yang diterima tidak sebanding maslahat yang didapat, hal ini sesuai dengan kaidah fiqh, “Dar’ul mafaasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih.” Artinya, “Menolak mudharat (yang jelek-jelek) itu lebih diutamakan dibanding mendatangkan kemaslahatan (yang baik-baik)”.

Maksudnya adalah ketika terdapat suatu perkara yang dapat mendatangkan maslahat tapi dalam waktu yang sama juga membahayakan (medatangkan mudharat), maka operasi-operasi amaliyat yang justru mendatangkan mudharat harus segera ditinggalkan.

Syaikh Usamah rahimahullah menjelaskan bahwa operasi militer semacam ini sudah sampai kepada bahaya yang sangat besar. Karena hilangnya simpati masyarakat merupakan faktor yang melumpuhkan semua gerakan jihad, maka menurut hemat beliau adalah agar menargetkan kepentingan-kepentingan Amerika yang berada di luar negeri-negeri kaum muslimin sebagai prioritas utamanya, terutama di negeri mereka sendiri atau negeri-negeri orang kafir lainnya, dan hendaknya menghindari pelaksanaan ‘amaliyat di negeri-negeri kaum muslimin selain negeri-negeri yang mengalami agresi dan penjajahan secara langsung.

Ada dua alasan mendasar mengapa kita harus menghindari pelaksanaan ‘amaliyat-‘amaliyat di negeri-negeri kaum muslimin:

Pertama, Serangan yang dilakukan dinegeri-negeri muslim akan semakin membuka peluang jatuhnya korban dari kaum muslimin. Hal ini menjadikan kita memanggul tanggung jawab kita di hadapan Allah ta’ala.

Kedua, Kerugian yang sangat besar sekali dialami para ikhwah yang berada di daerah tempat dilaksanakan program amaliyat, sebagai efek dari pemberangusan besar-besaran yang dilakukan oleh pemerintah terhadap para pemuda yang terlibat dalam program jihad! Atau bahkan sampai terhadap para pemuda yang hanya terlibat dalam program dakwah. Lalu ditangkaplah puluhan ribu orang di antara mereka sebagaimana yang terjadi di Mesir, dan ribuan orang sebagaimana yang terjadi di negeri dua tanah suci (Arab Saudi), dan ini juga terjadi di Indonesia yang juga mengakibatkan ratusan ikhwah terutama ikhwah yang pernah mengikuti tadrib di Afghanistan dan Filipina menjadi sasaran Satgas Bom dan Densus 88 waktu itu. Bahkan di Malaysia, lembaga pendidikan yang dikelola oleh sekelompok para pelaku juga menjadi sasaran penutupan. La haula walaa quwwata illa billaah. Wallaahu a’lamu bishshawaaab.

logo-muqawamah-189x177

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s