NASEHAT KEPADA PARA PEMIKIR DARI KALANGAN PARA PENDUKUNG DAULAH ISLAMIYAH DI IRAQ DAN SYAM DAN PEMBELAAN TERHADAPNYA YANG TENGAH MELAWAN BALA TENTARA SALIB DAN ORANG-ORANG MURTAD

abu-muhammad-al-maqdisi1
بسم الله الرحمن الرحيم
Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan al wala’ wal bara’ sebagai tali iman yang terkuat. Shalawat serta salam kepada Al Mushthafa yang telah mengajarkan kepada kita untuk meluruskan timbangan dengan adil dan tidak mencurangi timbangan.

Wa ba’du…

Al Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Jarir bin Abdillah, ia berkata:

بَايَعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فَلَقَّنَنِي فِيمَا اسْتَطَعْتَ وَالنُّصْحِ لِكُلِّ مُسْلِمٍ

“Aku berbai’at kepada Nabi untuk mendengar dan taat, maka beliau menuntunku (mengucapkan kalimat) dalam hal yang mampu aku ucapkan dan untuk menasehati setiap muslim”. Ya’qub menyebutkan dalam riwayatnya, ia berkata, ‘Sayyar telah menceritakan kepada kami’. [HR. Muslim No.85]

Lafadz hadits ini bersifat umum karena kata-kata ‘likulli’ merupakan rumus yang fungsinya adalah menjadikan umum dan menyeluruh, maka seluruh muslim masuk ke dalam cakupan hadits ini, apapun kondisinya, atau sebanyak apapun perbuatan maksiatnya, atau kezhalimannya, atau pemberontakan yang ia lakukan, atau betapa ekstrimnya dia, atau betapa semena-menanya dia, maka sesungguhnya kami memiliki hak untuk memberikan nasehat kepadanya.

Sebelumnya pada saat saya masih berada di dalam penjara, saya telah memberikan nasehat kepada Tanzhim Daulah. Saya juga menyurati mereka dan mereka menyurati saya, hingga akhirnya mereka menolak tahkim yang kami tawarkan kepada mereka, maka terputuslah komunikasi di antara kami. Dan memang haknya untuk memutuskan, karena tawaran untuk tahkim dengan syariat demi menyelesaikan sengketa antar mujahidin serta perdamaian antar kaum muslimin dan menyelematkan dari pertumpahan darah, dan mengembalikan hak-hak merupakan urusan yang dibenci dan bukan urusan yang dapat berjalan dengan mudah, bagi setiap orang yang memahami tauhid dan mengagungkan hak-haknya.

Inilah sebab-sebab pokok yang membuat kami marah dan menjadikan komunikasi antara kami terputus. Jadi yang menjadikan komunikasi terputus bukanlah celaan dari orang-orang bodoh di kalangan mereka, atau kesombongan para penulis rendahan mereka, dan hinaan serta fitnah dari para pemuda di kalangan mereka, sungguh sekali-kali tidak. Karena ini (putusnya komunikasi) terjadi sebelum adanya celaan, hinaan dan tuduhan, ia terjadi pada saat para pembesar mereka dan para pakar syariat mereka masih memanggil kami dengan sebutan Syaikhul Mujahidin dan Syaikh kami yang terhormat. Maka dari itu kami menganggap bahwa sikap kami ini disebabkan kemarahan karena Allah bukan karena diri kami.

Hingga ketika kami melihat kaum-kaum serta para thaghut bertarung untuk memperebutkan mereka, dan kami menyaksikan sendiri koalisi NATO beserta para anteknya bersatu untuk melawan mereka, kami pun terdorong untuk memberikan sikap loyalitas kami kepada seluruh muslim. Kami juga terdorong untuk membuka pintu nasehat yang baru untuk mereka, semoga Allah memberikan petunjuk kepada mereka yang merespon.

Wahai para pemikir Daulah, sesungguhnya demi Allah saya kasihan dengan kalian dan para pemuda yang berdatangan untuk bergabung dengan kalian dari berbagai penjuru dunia baik secara bergerombolan maupun sendirian. Kalian memotivasi mereka dengan cita-cita dan mimpi terhadap kekuasaan negara khilafah; maka berbuat baiklah kalian dan bertaqwalah, baguskanlah niat, perkataan dan perbuatan, bertaqwalah kepada Allah dalam diri kalian, para pemuda kalian, para mujahidin dan seluruh kaum muslimin, semoga Allah menyingkirkan ujian ini dari kalian, dan membalas tipu daya musuh-musuh agama yang bersatu-padu dan membuat konspirasi untuk melawan kalian. Allah Ta’ala telah berfirman: “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan” [Qs. An Nahl: 128]. Jika kalian telah bertaqwa dan berbuat baik, maka Allah akan ada bersama kalian, sehingga tipu daya mereka tidak akan membahayakan kalian sama sekali. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.

Nasehatilah diri kalian untuk bertaubat kepada Allah dari kezhaliman, karena kezhaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, dan barangsiapa yang tidak mengasihi, maka ia tidak dikasihi. Kembalikanlah hak-hak kepada para pemiliknya dan hindarkanlah pisau-pisau kalian dari leher-leher kaum muslimin, dan jauhkanlah senapan-senapan kalian dari dada mereka.

Nasehatilah para pengikut kalian untuk mengarahkan senapan-senapan mereka ke arah dada para musuh agama, dan menghormati darah kaum muslimin serta harta dan kehormatan mereka, peringatkan dan takut-takuti mereka dari melakukan vonis kafir terhadap kaum muslimin dan ajaklah mereka untuk bersikap sopan di hadapan para pembesar, para masyayikh dan seluruh saudara-saudara mereka sesama muslim.

Nasehatilah para pemuda, dan janganlah kalian menjadikan mereka sebagai alat untuk melakukan operasi peledakan terhadap saudara-saudara mereka para mujahidin, atau menjadi kayu bakar yang dapat menyalakan api peperangan antar kaum muslimin.

Nasehatilah kaum muslimin yang awam dan bersikap lemah lembutlah kalian terhadap mereka, karena mereka telah merasakan kesengsaraan akibat serangan dan kezhaliman para thaghut, maka biarkanlah mereka merasakan kasih sayang Islam, perlihatkanlah kepada mereka kemudahan dan keleluasaan Islam, dan jagalah darah serta harta mereka di Suriah dan Iraq.

Nasehatilah seluruh mujahidin dan kaum muslimin, dan jangan mengkafirkan mereka ataupun merampas darah dan harta mereka dengan tuduhan berkhianat dan tuduhan shahawat hanya karena tudingan dan selentingan yang tidak jelas.

Lapangkanlah dada kalian untuk setiap kaum muslimin, dan tinggalkanlah perbuatan memberikan pilihan antara bai’at atau diperangi khususnya terhadap mereka yang membantu memerangi Rafidhah di Iraq dan menimpakan bencara terhadap para salibis seperti Ansharul Islam dan Jaisy Mujahidin.

Nasehatilah seluruh mujahidin di seluruh pelosok negeri, jauhilah perilaku yang dapat menyebarkan fitnah di dalam barisan mereka di medan perang lainnya, berhati-hatilah terhadap ajakan untuk memecah-belah barisan mereka dari orang-orang yang berbicara dengan mengatasnamakan kalian dan menyerukan untuk berbai’at kepada kalian di negeri yang kalian tidak memiliki kekuasaan di dalamnya, janganlah kalian tertipu dengan mereka dan perjelaslah sikap kalian terhadap mereka.

Berikanlah nasehat mengenai syariat serta hududnya, dan tegakkanlah ia dengan cara yang adil, kasih sayang, welas asih, dan menjadikannya dicintai oleh masyarakat. Fokuslah kalian terhadap penyebaran foto-foto program bantuan kalian terhadap para fakir miskin dan para janda serta anak yatim, dan program sosial kalian terhadap orang-orang yang menderita dan keadilan kalian bersama manusia dan program bantuan pangan dan program pendidikan Islam kalian lebih banyak dari pada perhatian kalian terhadap penyebaran foto-foto proses pemenggalan, pencambukan dan rajam, khususnya ketika proses tersebut dilakukan tanpa informasi (yang jelas), sehingga berubah (terkesan) menjadi penyiksaan terhadap orang yang dikenai hudud dan (muncul sikap yang) menolak hukum hudud.

Berikanlah nasehat mengenai hukum Allah dengan cara menerima untuk tunduk terhadapnya walaupun kalian terkena dampak yang merugikan dan bukan menguntungkan darinya, jangan sampai hukum Allah dan hukum Rasul-Nya kalian perlakukan dengan zhalim, jadi pertikaian yang terjadi antara kalian dengan para mujahidin harus diputuskan di mahkamah syariat independen sehingga hak-hak dikembalikan kepada pemiliknya.

Berikanlah nasehat mengenai jihad di bumi Syam; umumkanlah bahwa kalian telah berhenti memerangi kelompok-kelompok jihad dan umumkanlah secepatnya rekonsiliasi atau perdamaian yang dapat menyelamatkan darah kaum muslimin dan dapat mengarahkan seluruh senapan ke arah dada para musuh agama, dan dapat menjadikan kalian fokus menahan serangan para salibis dan murtadin.

Berikanlah nasehat mengenai jihad dan mujahidin, janganlah kalian mencemarkan nama baik mereka (para mujahidin) dengan melakukan penangkapan terhadap orang yang diberikan jaminan keamanan oleh orang Islam, karena kaum muslimin berusaha untuk meraih kepercayaan dari orang-orang di bawah mereka. Hindari melakukan penangkapan atau pembunuhan terhadap para pekerja kemanusiaan serta para utusan lembaga internasional, dan bebaskanlah yang tertawan dari mereka sesegera mungkin, agar tampak bahwa kalian membedakan antara orang-orang yang mengangkat senjata dan yang tidak, karena hukum yang biasa berlaku mengharuskan bahwa orang-orang seperti relawan bukanlah dari kalangan orang-orang yang mengangkat senjata.

Hentikan menyebarkan pemandangan-pemandangan yang menampakkan pembunuhan serta pengambilan gambar terhadapnya, dan tinggalkan hasrat yang kuat untuk membunuh dengan cara menyembelih walaupun terhadap orang-orang kafir dan orang-orang yang berhak dibunuh sekalipun, karena Rasulullah SAW telah bersabda: “jika kalian ingin membunuh, maka perbaguslah cara kalian dalam membunuh”. Pemandangan-pemandangan menyeramkan seperti ini menjadi pegangan bagi musuh-musuh islam yang dapat digunakan untuk melawan jihad dan mujahidin serta memperburuk citra Islam dan kaum muslimin, contohnya adalah tersebarluasnya pemandangan yang berisi pembunuhan yang dilakukan oleh orang-orang bodoh dan para psikopat, hingga kami menyaksikan ada leher para mujahidin yang terpotong dan kepala mereka yang berjenggot menggelinding dalam keadaan penuh luka dan buntung.

Ingatlah bahwa jihad dan perang itu adalah perantara, sedangkan tauhid dan meninggikan kalimat tauhid itu adalah tujuan. Ingatlah kalian akan kemuliaan tujuan ini dan utamakanlah ia di atas perantara. Jadikanlah perantara sebagai pelindung dan pelayan bagi tujuan, dan janganlah menjadikan perantara itu sebagai pencemar nama baik dari tujuan.

Ingatlah bahwa Nabi Muhammad SAW tidak memerangi orang-orang munafik dan orang-orang yang mengintimidasi beliau sebelum kehormatan negara beliau menjadi sempurna. Beliau juga tidak memerangi seluruh dunia dalam sekali babat, akan tetapi beliau berdamai dengan beberapa kaum dan melakukan perjanjian dengan kaum-kaum lainnya. Beliau juga membiarkan sebagian orang dan bekerjasama dengan sebagian yang lain. Beliau menggandeng beberapa kabilah dan bersikap keras dengan kabilah lainnya. Beliau memulai dengan orang yang ada di dekatnya terlebih dahulu. Pelajarilah siyasah syariat yang beliau lakukan, karena seluruh yang ada di dalamnya adalah kebaikan, dan janganlah memperbesar ranah konflik dan memasukkan seluruh dunia dalam satu konflik melawan kalian. Janganlah menjadikan seluruh dunia merasa terancam oleh kalian dengan menebarkan ancaman-ancaman terhadap seluruh penjuru dunia, karena ini bukanlah petunjuk Nabi kalian Shallallhu alaihi wa sallam, dan bukan pula cara beliau dalam berjihad.

Berikanlah nasehat mengenai para pendukung kalian dan para penulis yang fanatik terhadap kalian, yaitu orang-orang yang memberikan memayungi kalian, padahal mereka tidak pernah bergabung ke dalam kafilah jihad walaupun hanya sehari, maka mereka bukanlah dari kalangan pendukung manhaj ini atau termasuk darinya. Mereka tidak pernah merasakan keletihan dalam mendakwahkannya (manhaj) dan tidak pernah diuji dalam membelanya dan tidak pernah mengorbankan hidup mereka sedikitpun demi membelanya. Maka janganlah kalian berpaling kepada ajakan mereka dan tertipu oleh keberanian mereka dalam bersuara di hadapan kebatilan dan kekurang ajaran mereka; karena kebanyakan dari mereka tidak peduli terhadap kesengsaraan putra-putra aliran ini (aliran jihad) dan jihad mereka, atau hancur dan hilangnya hasil darinya. Karena barangsiapa yang tidak ikut serta dalam menanam, membajak dan menyirami, maka ia tidak peduli dengan memanen, atau terpotong atau gagal panen.

Inilah mereka dengan mengatasnamakan membela kalian, mereka berteriak-teriak, mencaci-maki, mencela, menfitnah, mengotori lisan mereka terhadap setiap orang yang menyelisihi dan mengkritik kalian, walaupun kritikan tersebut didasari karena kecintaannya terhadap jihad dan mujahidin dan keprihatinannya terhadap Islam dan kaum muslimin. Mereka mencela niat-niat dan berdusta serta memfitnah. Tidak ada seorangpun tokoh yang tersisa kecuali pasti mereka cela. Tidak ada seorangpun ulama yang tersisa kecuali pasti mereka remehkan, dan tidak ada seorangpun sesepuh yang tersisa kecuali pasti mereka caci maki. Akhlak mereka sangat tidak terpuji, dan pelanggaran-pelanggaran mereka melampaui batas, mereka meraung sedih di hadapan kalian (atas nasib umat yang didhalimi) dan mengklaim (dengan khilafah mereka akan membela kalian). Dan tidaklah wanita berduka seperti seorang penyewa. Mereka menyulut semangat (pemuda tanggung) atas nama “Daulah Islam” dan “Khilafah”.

Tidak ada yang mengerti tentang kerinduan kecuali orang yang merasakan deritanya
dan kecintaan yang meluap-luap kecuali orang menjalaninya

Tidak ada orang yang bergadang pada malam hari kecuali orang yang sedang sakit
Tidak ada api yang membakar kecuali jika ada orang yang menyalakannya

Di antara nasehat mengenai dakwah, tauhid dan jihad adalah pengumuman berlepas diri dari mereka dan dari buku-buku mereka yang kotor. Janganlah kalian senang dengan tepuk tangan, tabuhan gendang dan sorak sorai yang mereka berikan untuk kalian, karena orang yang berakal tidaklah senang dengan orang yang bertepuk tangan untuk dirinya hingga ia mengetahui siapakah yang bertepuk tangan dan apa tujuannya. Berlepas dirilah dari orang-orang yang dungu tersebut, dan pulihkanlah komunikasi kalian dengan sumber referensi kalian yang jujur dan ikhlash dalam memberikan nasehat kepada kalian walaupun mereka keras dalam mengingkari kalian. Itu harus menjadi penyebab kalian untuk menghormati mereka, dan alasan untuk menghormati mereka jika mereka tidak meridhai kalian agar kalian tidak dikorbankan, bahkan mereka terus menbuat kalian gusar (dengan klaim mereka untuk) menolong din dan jika kalian mempermalukan mereka.

Jauhilah kezhaliman, karena ia adalah kegelapan pada hari kiamat dan berhati-hatilah terhadap doa orang yang terzhalimi, karena di antara doa tersebut dengan Allah tidak ada penghalang. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah berkata di dalam risalah Al Hisbah: “Balasan di dunia itu telah disepakati (kewujudannya) oleh penduduk bumi, karena sesungguhnya manusia tidak berselisih pendapat, bahwa dampak kezaliman itu sangatlah buruk, sedangkan dampak keadilan itu adalah baik. Oleh karena itu, dituturkan, ‘Allah menolong negara yang adil walaupun negara itu kafir dan tidak akan menolong negara zalim, walaupun negara itu Mukmin’. “

Ketika Amru bin Al Ash mendengar bahwa Al Mustawrid bin Syaddad berbicara dengan sabda Nabi Shallallhu alaihi wa sallam: “Hari kiamat akan datang saat jumlah penduduk bangsa Romawi menjadi yang terbanyak”. Maka Amru bin Al Ash pun berkata kepadanya, “Hati-hatilah dengan apa yang kamu katakan itu!”. Al Mustaurid berkata, “Saya hanya mengatakan apa yang aku pernah aku dengar dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa sallam”. Lalu berkatalah Amru bin Al Ash, “Jika kamu mengatakan yang demikian, sesungguhnya pada mereka ada empat perkara; mereka adalah orang-orang yang paling sabar saat terjadi fitnah, paling cepat miskin saat terjadi musibah, paling cepat menyerang setelah mundur, dan yang terbaik dari mereka terhadap orang miskin, anak yatim dan orang lemah. Yang kelima adalah yang menawan dan cantik serta paling tahan terhadap kelaliman para raja”. [HR. Muslim No.5158], disebutkan bahwa perkara-perkara ini menjadi sebab bertahan hidupnya mereka dan menjadi banyaknya mereka walaupun mereka kafir, sebaliknya “kezhaliman itu menyebabkan rusaknya peradaban”, hukum alam ini juga ditegaskan secara rinci oleh Ibnu Khaldun di dalam Muqaddimahnya.

Saya memohon agar Allah memberikan petunjuk kepada kalian dan mengembalikan kalian kepada kebenaran dengan cara yang baik, sehingga Allah memenangkan agama ini dengan tangan-tangan kalian, menjadikan kaum muslimin disayangi berkat kalian, menjadikan musuh-musuh-Nya hancur berkat kalian, dan menjadikan nasehat saya ini sebab atas terbukanya telinga yang tuli, mata yang buta dan hati yang terkunci, serta tidak menjadikannya hilang begitu saja bagaikan angin di lembah atau tiupan pada debu, dan tidak menjadikan saya serta kalian seperti apa yang dikatakan oleh orang-orang terdahulu:

Saya berusaha menasehati mereka di tepian jalan
namun mereka tidak memahaminya kecuali keesokan hari

Karena jika nasehat itu diterima, maka ia bagaikan sebuah keutamaan
namun jika ia tidak diterima, ia laksana kotoran

***

Saya mengingatkan para mujahidin secara khusus dan kaum muslimin secara umum berkenaan dengan malapetaka ini dengan firman Allah Ta’ala: “dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu. dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya” [Qs. Al Anfal: 25].

Dan dengan firman-Nya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa…” [Qs. Al Maidah: 8].

Maka berhati-hatilah wahai para mujahidin dan janganlah wahai kaum muslimin, janganlah kalian berdiri sejajar di dalam barisan para salibis beserta koalisi mereka, atau meminta dukungan dari orang-orang murtad untuk melawan kaum muslimin seberapapun besarnya kezhaliman mereka, bertaqwalah kepada Allah dan berbicaralah dengan perkataan yang benar.

Maka lihatlah mereka… Mereka merencanakan konspirasi ke atas kaum muslimin dan menyerbarkan jebakan mereka, berhati-hatilah kalian, jangan sampai kalian mendukung dan loyal terhadap mereka atau memperbanyak kekuatan mereka, ambillah pelajaran dari negeri-negeri kaum muslimin dan yang mereka perangi sebelumnya. Dan ingatlah bahwa bom-bom pintar mereka tidak bisa membedakan mana para ekstrimis, mana orang-orang yang bersikap pertengahan, ia tidak membedakan mana Daulah dan Nushrah, dan tidak membedakan mana mujahidin dan mana kaum muslimin yang tertindas.

Waspadalah kalian dari bersikap senang atas serangan para salibis dan orang-orang murtad terhadap Daulah atau bala tentaranya, karena seorang muslim yang berakal, yang memberikan porsi al wala’ wal bara’ dengan seimbang dan yang sadar akan siasat buruk para musuh tidak akan senang dengan hal itu. Barangsiapa yang tidak seperti itu, maka ia akan menyesal sepanjang hidupnya dan berkata: “pada hari ini saya memakan makanan si sapi putih”.

Pada hari ini Daulah, dan besoknya adalah giliran Nushrah, besok lusanya adalah giliran setiap kelompok yang mengangkat panji tauhid dan menolak panji at-tandiid (tandingan-tangan selain Allah,-pen).

Maka wahai kaum muslimin, jadilah kalian orang-orang yang jelas, janganlah kalian merasa enggan untuk mengumumkan dukungan kalian walaupun hanya sekedar mampu dengan doa, terhadap kaum muslimin siapapun mereka, yang diserang oleh kaum salibis dan orang-orang murtad, sebagaimana kalian mengumumkan penolakan kalian terhadap kezhaliman, sikap ekstrim dan agresi. Saya sendiri tidak memungkiri adanya perasaan ini di dalam diri kebanyakan dari kalian, khususnya kalian yang merasakan langsung kezhaliman Daulah dan kekejaman para ekstrimis yang ada di dalamnya; namun kebenaran yang ada di dalam malapetaka ini adalah memberikan pertolongan terhadap kaum muslimin walaupun hanya dengan kata-kata penyemangat dan pernyataan, atau hanya dengan doa dan lisan, walaupun mereka adalah para pemberontak yang zhalim atau para ekstrimis yang memerangi orang-orang murtad dan kaum salibis. Jadi waspadalah dari bersikap diam dan senang terhadap serangan kaum salibis dan orang-orang murtad kepada mereka, karena ini merupakan kecacatan dalam timbangan al wala’ wal bara’ dan tidak layak disandang oleh orang yang mengaku menyerukan penerapan syariat dan keadilannya. Di dalam Shahih Al Bukhari, dari Anas Radhiyallahu Anhu ia berkata: Rasulullah SAW bersabda:

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا فَقَالَ رَجُلٌ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَنْصُرُهُ إِذَا كَانَ مَظْلُومًا أَفَرَأَيْتَ إِذَا كَانَ ظَالِمًا كَيْفَ أَنْصُرُهُ قَالَ تَحْجُزُهُ أَوْ تَمْنَعُهُ مِنْ الظُّلْمِ فَإِنَّ ذَلِكَ نَصْرُهُ

“Tolonglah saudaramu baik ia zhalim atau dizhalimi. Ada seorang laki-laki bertanya; ‘ya Rasulullah, saya maklum jika ia dizhalimi, namun bagaimana saya menolong padahal ia zhalim?’. Nabi menjawab; “engkau mencegahnya atau menahannya dari kezhaliman, itulah cara menolongnya” [HR. Bukhari No.6438].

Seperti yang sudah-sudah, saya juga ingin mengingatkan Daulah untuk menghentikan kezhalimannya terhadap kaum muslimin dan menghentikan serangannya terhadap para mujahidin, yang dengannya semoga Allah menghilangkan kesedihan darinya dan membalaskan serangan, karena balasan itu sesuai dengan amalan yang dikerjakan. Janganlah Daulah menjadi fitnah bagi kaum muslimin karena berbuat zhalim terhadap mereka, sehingga merekapun melawan karena sebab kezhaliman, dan membela diri dengan mancari dukungan dari orang-orang murtad dan kaum salibis dan menjadikan mereka meminta perlindungan dari sengatan rasa panas kepada api, dan menjadikan mereka gembira atas penyerbuan dan penyerangan mereka terhadap negeri-negeri kaum muslimin.

Terakhir, saya tahu bahwa banyak dari orang-orang yang mengerti akan penyimpangan Daulah dan  mengetahui akan kezhaliman dan sikap ekstrimnya akan merasa berat hati dengan pernyataan saya ini, dan akan merasa dongkol terhadap ajakan saya untuk membela mereka yang dizhalimi oleh kaum salibis dan orang-orang yang murtad. Maka ketahuilah bahwa kezhaliman tidak boleh dibalas dengan kezhaliman, penyimpangan dari syariat tidak boleh ditindak dengan perilaku yang juga menyimpang dari syariat, atau bahkan lebih dari itu, dan sesungguhnya kecacatan dalam sikap wala’ terhadap kaum muslimin tidak boleh dibantah atau dibenarkan dengan berlaku cacat dalam bersikap bara’ dari orang-orang kafir.

Maka dari itu di penghujung ini saya ingin mengingatkan dengan hadits yang diriwayatkan oleh Al Bukhari di dalam Al Adab Al Mufrad, dari Al Faruq Radhiyallahu Anhu, bahwasanya ia berkata kepada Aslam: “Janganlah cintamu menjadikan keterlenaan bagimu, dan jangan pula kebencianmu menjadikan kehancuran bagimu”. Maka Aslam bertanya, “Bagaimanakah itu?”. Umar pun berkata, “Bila engkau mencintainya, maka engkau mencintainya hingga engkau terlena seperti layaknya seorang anak kecil, dan bila engkau membenci, engkau menginginkan kehancuran baginya”. Wasiat ini tidak diragukan lagi merupakan wasiat berharga dari khalifah kedua dan orang yang jika ada satu di antara umat ini yang merupakan muhaddatsun, maka Umarlah di antara mereka sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits yang tertera di dalam Shahihain, Ibnu Wahab berkata: “arti dari Muhaddatsun adalah orang-orang yang diberikan ilham”.

Ini adalah wasiat yang saya baca baik-baik pada saat-saat terjadinya perseteruan dengan orang-orang yang berselisih dari kalangan kaum muslimin, baik personal maupun kelompok, saya berandai-andai jikalau adab dalam berbeda pendapat itu di perhatikan oleh setiap muslim.

Betapa besar kebutuhan kita terhadapnya pada saat-saat genting seperti ini, ketika kami menyaksikan orang-orang yang disebabkan oleh fitnah-fitnah yang terjadi di medan perang bumi Syam, terbagi menjadi dua kelompok; kelompok yang terlena dalam kecintaan terhadap orang-orang yang ia berikan sikap fanatik, kecintaannya terhadap sesuatu menjadikannya buta dan tuli dari segala bentuk pertentangan. Mereka tidak peduli, setiap kali disebutkan beberapa saran maka mereka langsung mencacinya dengan tanpa merenungi dan melihatnya terlebih dahulu. Keterlenaan mereka ini menyebabkan mereka tidak bisa membedakan keadilan terhadap orang-orang yang menyelisihi mereka, maka mereka menerima perkataan tentang orang-orang yang menyelisihi mereka yang perkataan itu tidak mereka terima jika dikatakan terhadap jamaah mereka. Mereka juga tidak mau menyebutkan pokok kritikan di dalam memberikan kritik yang mereka gunakan untuk mematahkan kecaman dari orang-orang yang terlena dalam kecintaan, sehingga mereka pun menjadi orang-orang yang curang.

Kelompok lainnya adalah yang karena kebencian dan karena kezhaliman yang ia rasakan, maka ia pun berharap seandainya musuhnya yang masih merupakan seorang muslim mengalami kehancuran dan kekalahan, walaupun itu harus ditangan musuh-musuh agama dari kaum Rafidhah, murtadin dan salibis. Maka ini tidak diragukan lagi merupakan kecacatan dalam al wala’ wal bara’, yang menjadikan sebagian dari mereka melemahkan fatwa-fatwa terdahulu yang mengecam kerjasama dengan orang-orang kafir; kemudian mereka menerima fatwa-fatwa terkini yang mempermudah kerjasama dengan orang-orang kafir untuk melawan kaum muslimin yang berlaku zhalim.

Yang terjaga itu adalah orang yang dijaga oleh Allah.

“…berpeganglah kalian pada tali Allah. Dia adalah Pelindung bagi kalian, Maka Dialah Sebaik-baik pelindung dan sebaik- baik penolong” [Qs. Al Hajj: 78].
Ditulis oleh : Abu Muhammad Al Maqdisi
Pada tanggal 11 Dzul Qa’dah 1435 H
Diterjemahkan oleh :
logo-muqawamah-189x177

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s