Etika Bekerja Dalam Islam

azzam5Dalam kitab Minhaj al qasihidin disebutkan, “Ketahuilah, Allah swt dengan kelembutan dan kebijkanya-Nya telah menjadikan dunia ini sebagai tempat kehidupan dan kematian. Manusia sebagai pelakunya di tuntut untuk mengarunginya dengan aktif dan penuh kehati-hatian, karena esensi kehidupan adalah sebuah ujian untuk menentukan yang terbaik di antara mereka dalam bekerja, beramal, berinteraksi dengan sesamanya dan Tuhannya. Oleh karena itu, Islam mendorong manusia untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Dari informasi Al-Qur’an, diperoleh bahwa bekerja adalah aktivitas yang mulia dan sangat penting bagi kehidupan manusia.

dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan (QS An-Naba 11)

Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam. Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat. (QS AL-Baqarah 198)

Wahai orang beriman, bila shalat Jumu’ah telah selesai dilaksanakan, maka berpencarlah kaian di muka bumi. Carilah rezeki dari sebgain karunia Allah. Perbanyak kalian meningat Allah supaya kalian mendapatkan keberuntungan di dunia dan di akherat (QS Al-Jumu’ah 10)

Menurut al-Bahwawi, ayat ini juga bisa diartikan jika shalat jum’at telah ditunaikan, maka bertebaranlah kalian di muka bumi untuk berdagang dan mengusahakan kebutuhan kalian.

Seusai shalat jum’at Atak Bin Malik r.a. beranjak dan berdiri di depan pintu masjid, seraya berdoa, “Ya Allah, aku telah memenuhi seruan-Mu, telah mengerjakan shalat yang Engkau wajibkan, dan kembali bertebaran di muka bumi sebagaimana yang telah Engkau perintahkan, maka anugerahkanlah rezki kepadaku karena Engkau adalah sebaik-baik yang memberi rizki.”

Ditegaskan dalam sejumlah hadis bahwa bekerja adalah suatu kewajiban yang harus dijalankan, Rasulullah saw bersabda “Mencari rezeki yang halal adalah jihad (Abu Naim) beliau saw juga bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bekerja (HR Thabrani)

Dalam hadist lain, Beliau saw bersabda, “Seorang membawa tali kemudian pergi mencari kayu bakar dan memikulnya di atas punggungnya, lebih baik daripada datang kepada orang yang sedang dikaruniai nikmat oleh Allah, lalu meminta-minta darinya, (karena akan menanggung hina baik ketika diberi maupun ditolak).

Dalam sabda yang lain, “Tiada makanan paling baik yang dimakan oleh seseorang melebihi hasil kerja tangannya sendiri, dan sesungguhnya Nabi saw, Daud telah makan dari hasil usaha tangannya (HR Bukhari)

Islam mengharuskan bekerja kepada orang yang mempunyai keluarga atau mempunyai tanggung jawab. Bahkan, Islam telah menetapkan bahwa orang yang lalai terhadap kewajibanya kepada istri, anak dan orangtua sebgai dosa besar. Diceritakan dari Wahb bin Jabir: Suatu ketika aku melihat Abdullah bin Amr bin Ash berada di Baitul Maqdis, kemudian budaknya menhgampirinya dan berkata, “Selama bulan ini –Ramadhan- aku ingin tinggal di sini. “ Abdullah kemudian menanyainya, “Apakah engkau telah menyediakan bekal makanan untuk keluargamu? Budak itu menjawab, “Tidak.” Kata Abdullah, “Jika tidak kau sediakan bekal makanan untuk keluargamu, maka pulanglah dan sediakan untuk mereka, karena aku pernah mendengar Rasulullah bersabda, “Cukuplah dosa bagi seseorang yang menyia-nyiakan tanggung jawabnya kepada keluarga yang harus ia beri makan.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a. Ketika Rasulullah melihat seseorang, beliau heran dan bertanya, “Apakah orang itu punya pekerjaan?” ketika para sehabat menjawab, “Tidak”. Maka keluarlah air mata dari kedua matanya. Kemudian beliau ditanya, “Mengapa engkau bertanya seperti itu, wahai Rasulullah? Beliau menjawab, “Sebab jika seorang mukmin tidak mempunyai pekerjaan maka ia akan mencari penghidupan dengan menjual agamanya.

Seorang muslim akan mendapatkan pahala karena memberi makan keluarganya. sabda. Menurut sabda Rasulullah

.…uang yang engkau belanjankan di jalan Allah, uang yang engkau belanjakan untuk membebasakan budak, uang yang engkau sedekahkan untuk orang miskin, dan uang yang engkau belanjakan untuk keluargamu. Tapi yang paling besar pahalanya adalah uang yang engkau belanjakan untuk keluargamu.

Diriwayatkan dari Sufyan atas-Tsauri. Berbuatlah seperi para pahlawan itu; mencari penghidupan dari yang halal dan menginfakkannya untuk keluarganya.

Ketika ada seorang yang datang kepadanya untuk belajar maka di tanya terlebih dulu, “Apakah engkau mempunyai biaya untuk hidup? Jika orang itu menjawab ada maka ia menyuruhnya belajar, dan jika menjawab tidak maka ia menyuruhnya untuk mencari penghidupan.

Diriwayatkan dari Muhamman bin Sirin, dari ayahnya: suatu ketika aku shalat  Maggrib bersama Umar bin Khatab. Seusai shalat ia langsung pergi bersama rombongan orang-orang Qurasiy. Tapi ia sempat melihat bungkusan yag aku jepit di ketiakku, dan bertanya. “Wahai Ibnu Sirin,apa ini? Aku menjawab, “Wahai Amirul Muninin, aku ke pasar untuk berdagang.: Kemudian Umar menoleh kearah rombongan orang-orang Qurasiy dan berkata, “Ini dan yang seperti ini jangan pernah menghalangi kalian untuk berdagang karena berdagang itu sepertiga dari kekuasaan.

Abu Sulaiman Ad-Darani mengatakan; Tidak bisa di katakan sebagai ibadah ketika engkau merapatkan kedua kakimu untuk shalat sementara engkau menggantungkan kehidupanmu kepada orang lain. Mulailah dengan membuat andoanan roti, kemudian menabunglah dan setelah itu beribadahlah.

Ali bin Al-Fudhail mengatakan, “Aku pernah mendengar ayahku berkata kepada Ibnu al-Mubarak, “Engkau pernah memerintahkan kamu untuk berzuhud, maka sedikit dan mencari penghidupan yang secukupnya saja. Tapi kami melihatmu datang membawa barang-barang dagngan dari Khurasan ke Saudi. Bagaimana ini?ibu al-Mubarak menjawab, “Wahai bapak Ali, aku melakukan ini karena demi menjaga kehormatan dan wibawaku, dan membantukau untuk melakukan ketaatan kepada Rabb-Ku.

Lukman Al-Hakim menasehati kepada anaknya, “Wahai anakku, perkuatkanlah dirimu dengan beriktiar mencari riski yang halal, karena sesungguhnya tidaklah seseorang menjadi fakir kecuali ia akan tertimpa tiga hal, yaitu menjadi lemah dalam beragama, lemah berfikir, dan hilangnya harga diri (wibawa) dan yang lebih parah lagi adalah manusia akan melecehkannya.”

Islam adalah agama yang menganjurkan tawakkal, bukan yang menganjurkan untuk bergantung kepada belas kasihan orang lain; Islam adalah agama yang menganjurkan berusaha, bukan yang menganjurkan untuk berdiam diri.

Umar r.a mengatakan, “Jangan malas mencari penghidupan lalu memohon, “Ya Allah, berilah aku rezki, karena kalian tahu bahwa langit itu tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.

Saudaraku tawakal merupakan aktivitas hati dan ia tidak ada hubungannya dengan sesuatu yang bersifat fisik (anggota tubuh) . Anggota tubuh kita bisa melakukan sesuatu sebagai syarat atau media untuk menggapai apa yang kita inginkan; semua syarat secara fisik harus kita penuhi, jika tidak beberti pemahaman kita tentang tawakal masih kurang

 6c4e9-bs0id66ccaadjf_large

Pembuka pintu rezeki

Memperbanyak istighfar dan taubat

Ada seseorang yang mengadukan kekeringan pada Hasan Basri, maka beliau berkata, “Beristigfarlah kepada Allah, lalu ada orang yang datang mengadukan kefakirannya dan beliau m enjawab, “Beristighfarlah kepada Allah, lalu ada orang yang datang lagi mengatakan mohonlah kepada Allah agar memberikan kepadaku anak! Maka beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah. Kemudian dan yang mengeluh kebunnya yang kering kerontang, beliau menjawab, “Beristighfarlah kepada Allah. Maka orang-orang bertanya, “Banyak orang yang datang mengadukan berbagai persoalan, namun anda memerintahkan semua sama agar beristigfar. Beliau menjawab, “Aku mengatakan ini bukan dari diriku tapi dari Allah, firman Allah

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun-,niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai. (Nuh 10-12)

Dan (dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatan mu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (Huud 52)

“Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan, dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari Kiamat.” (Hud: 3).

Pada ayat yang mulia di atas, terdapat janji dari Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Menentukan berupa kenikmatan yang baik kepada orang yang beristighfar dan bertaubat. Dan maksud dari firmanNya:

“Niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu.” Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Abbas adalah, “Ia akan menganugerahi rizki dan kelapangan kepada kalian”.

Rasulullah saw bersabda, “Wahai manusia, bertobatlah kepada Allah, sebelum kamu mati. Bersegeralah melakukan amalan-amalan salih sebelum kamu kesibukan dan hubungilah antara kamu dengan Tuhan kamu dengan membanyakkan sebutan (zikir) kamu kepada-Nya dan banyak bersedekah dalam bersembunyi dan terang-terangan, nanti kamu akan diberi rezeki, ditolong dan diberi kesenangan.” (HR Ibnu Majah)

Sedangkan Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya mengatakan: “Inilah buah dari istighfar dan taubat. Yakni Allah akan memberi kenikmatan kepada kalian dengan berbagai manfaat berupa kelapangan rizki dan kemakmuran hidup serta Ia tidak akan menyiksa kalian sebagaimana yang dilakukanNya terhadap orang-orang yang dibinasakan sebelum kalian.

“Barang siapa memperbanyak istighfar maka Allah SWT akan menghapuskan segala kedukaannya, menyelesaikan segala masalahnya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka.” (HR Ahmad, Abu Daud, an-Nasai, Ibnu Majah dan al-Hakim dari Abdullah bin Abbas RA).

Berbuat baik

Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan. (QS An-Nahl 97)

Supaya Allah memberi balasan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh. Mereka itu adalah orang-orang yang baginya ampunan dan rezeki yang mulia. (QS Saba 4)

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang kafir jika berbuat baik, Allah akan balas perbuatan baik itu di dunia. Adapun orang mukmin jika berbuat baik, maka Allah akan menyimpan perhalanya di akhirat dan memberinya rezeki di dunia. (HR Muslim)

Termasuk di antara kunci-kunci rizki adalah berbuat baik kepada orang-orang miskin. Nabi saw menjelaskan bahwa para hamba itu ditolong dan diberi rizki disebabkan oleh orang-orang yang lemah di antara mereka.

Rasulullah saw bersabda, “Carilah (keridhaan)ku melalui orang-orang lemah di antara kalian. Karena sesungguhnya kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah di antara kalian.” (HR Imam Ahmad) (Abu Azzam)

Menjelaskan sabda Nabi saw di atas Al-Mulla Ali Al-Qari berkata, ‘Carilah keridhaanku dengan berbuat baik kepada orang-orang miskin di antara kalian.’

 

Takwa kepada Allah

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu. Ath Thalaaq 2-3

Ibnu katsir dalam tafsirnya mengatakan,”orang yang bertakwa kepada Allah swt dalam segala perintah dan laranganNya akan di berikan jalan keluar atau solusi  bagi masalahnya dan dilimpahi rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka

Ibnu Abbas berpendapat bahwa Allah akan menyelamatkan hamba-Nya yang bertakwa dari segala bencana yang akan menimpanya (baik dunia maupun akherat) dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya.

Ar-Rabi’ bin khatitsam berpendapat bahwa Allah akan memberikan jalan keluar bagi hambaNya dari segala masalah dan menyempitkannya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak dia ketahui

Qatadah berpendapat bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari perkara syubhat, kemduian dalam sakaratul maut dan memberinya rezeki sesuai dengan harapannya bukan seperti diangan-angankannya.

(Abu Azzam)

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s