Apakah Saya Dicintai Rasulullah?

Siapapun orangnya bila ia muslim, lalu ditanya apakah anda cinta Rasulullah? Pasti jawabannya : Iya, saya cinta Rasulullah. Bahkan sekalipun dia hanya seorang muslim di KTP, atau muslim ahli maksiat.

Tapi bila pertanyaannya dibalik, kira-kira bila anda bertemu dengan Rasulullah, apakah beliau akan cinta dan senang dengan anda?

Saya yakin, pertanyaan ini susah untuk menjawabnya dan tidak akan ada yang berani menjawab: Iya, pasti saya dicintai oleh Rasulullah.

Secara umum memang, Rasulullah itu sangat mencintai umatnya. Tapi secara khusus, bila beliau bertemu dengan kita secara langsung, apakah beliau akan redha dengan sifat, tingkah laku dan amalan kita?

Lain halnya dengan seorang tabi’in yang mulia, yang bernama Rabi’ bin Khutsaim. Abdullah bin Mas’ud, salah seorang sahabat terdekat dan terbanyak mengambil ilmu dari Rasulullah pernah berkata perihal diri beliau: “Wahai Abu Yazid (kun-yah Rabi’ bin Khutsaim), andaikan Rasulullah melihat dirimu, pasti beliau akan mencintaimu. Setiap kali aku melihat dirimu aku selalu teringat akan orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah (المخبتين)”.

Para ulama hadits dan para pakar “jarh wa ta’dil” seperti Imam Asy Sya’bi dan Yahya bin Ma’in  berkata tentang dirinya: “Manusia seperti Rabi’ bin Khutsaim tidak perlu dipertanyakan lagi”.

Apa keistimewaan Rabi’ sehingga beliau mendapat pengakuan dari sahabat Rasulullah bahwa beliau adalah orang yang pasti dicintai Rasulullah?

Banyak riwayat tentang diri beliau yang perlu kita teladani, supaya kita juga menjadi orang yang dicintai Rasulullah. Sekalipun sulit, bahkan hampir mustahil untuk kita tiru sepenuhnya, akan tetapi untuk perbaikan diri, sekalipun tidak akan sampai kederjat beliau, paling kurang kita sudah berusaha untuk meniru sifat mulianya.

تشبهوا بالرجال إن لم تكونوا مثلهم إن التشبه بالرجال فلاح

“Tirulah para tokoh itu sekalipun kamu tidak akan mungkin menyamainya. Sesungguhnya meniru para tokoh itu akan menjadikanmu menang”.

Di antara sifat Rabi’ bin Khutsaim yang terukir dalam sejarah hidupnya:

1. Orang yang pernah bergaul dengannya berkata: “Aku mendampingi  Rabi’ selama 20 tahun, tidak pernah satu kalipun aku mendengar kalimat yang tidak baik keluar dari mulutnya”.

2. Yang lain berkata: “Aku bergaul dengan Rabi bin Khutsaim selama bertahun-tahun, tidak pernah sekalipun beliau membicarakan hal-hal yang biasa dipercakapkan manusia, kecuali satu kali ia bertanya kepadaku, “Apakah ibumu masih hidup?”

3. Suatu kali beliau memberikan makanan yang lezat kepada seorang yang kurang waras. Lalu orang yang melihat berkata: “Tidak perlulah memberi dia makanan seperti itu, dia tidak akan tahu apa yang ia makan”. Rabi’ menjawab: “Tapi Allah tahu”. Ini perlu kita renungkan dalam memberi.

4. Beliau selalu menyembunyikan amalannya. Suatu kali seseorang masuk ke dalam kamarnya secara tiba-tiba, sementara di pangkuannya ada mushaf al Qur’an. Dengan spontan beliau menutupinya. Yang lain menceritakan: “Tidak pernah Rabi’ kelihatan melakukan shalat sunnah di mesjid kampungnya kecuali satu kali”.

5. Anak perempuannya berkata, “Aku pernah berkata: “Ayahnda, kenapa ayah tidak tidur di malam hari, padahal orang lain tidur?” Beliau menjawab: “Ananda, neraka Jahannam tidak membiarkanku untuk tidur”.

6. Di akhir hayatnya beliau dibopong ke mesjid untuk mengerjakan shalat karena beliau terkena penyakit stroke. Ada yang berkata kepada beliau: “Kenapa anda tidak shalat di rumah saja, Allah kan sudah memberi keringanan bagi orang yang sakit? Beliau menjawab: “Aku mendengar panggilan “Hayya ‘alashshalah” (marilah untuk shalat), bila kalian sanggup datanglah sekalipun harus merangkak!”

7. Ketika beliau sakit ada orang yang menyarankan untuk berobat. Tapi beliau menjawab: “Aku teringat kaum Ad, kaum Tsamud, dan penduduk Rasy, serta umat-umat yang sudah banyak dihancurkan Allah, mereka juga ditimpa penyakit, di antara mereka juga ada dokter, namun apa kenyataannya? Tidak seorang pun yang kekal, baik itu yang diobati maupun yang mengobati. Mereka semua mati”. Yang ini tidak perlu kita tiru, karena sudah di luar maqam kita.

8. Suatu kali kuda miliknya yang mempunyai harga sampai 20 ribu dirham dicuri orang. Teman-temannya menyarankan supaya ia mendo’akan pencuri itu agar celaka. Lalu ia berdo’a: “Ya Allah, bila yang mencuri itu orang kaya maka ampunilah ia, dan jika yang mencuri itu adalah orang miskin maka kayakanlah ia”.

9. Di lain waktu beliau dilempar seseorang dengan batu sampai kepalanya terluka dan berlumuran darah. Sambil membersihkan darah yang mengalir sampai ke wajahnya ia berkata: “Ya Allah, ampunilah ia, karena ia tidak sengaja melemparku”.

10.  Pada kesempatan lain unta kesayangan yang menjadi tunggangannya dipukul oleh budaknya karena ia berlaku agak liar. Pukulan itu tepat mengenai muka higga matanya pecah. Orang-orang sekelilingnya berkata: “Saat ini kita akan melihat Rabi’ marah”. Namun tatkala beliau melihatnya, ia hanya berkata: “Kenapa harus muka yang dipukul? Pergilah kamu, saya sudah memerdekakanmu”. Bukannya dimarahi atau dihukum, justru budaknya dimerdekakan.

11. Nusair berkata: “Suatu malam aku menginap bersama Rabi’. Lalu ia melakukan qiyamullail. Ketika beliau membaca ayat:

أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ

“Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu”. (al Jatsiyah: 21)

Beliau mengulang-ngulangnya sampai subuh. Dia tidak berpindah kepada ayat berikutnya, terus membacanya sambil menangis tersedu-sedu.

12. Suatu kali orang-orang sekelilingnya mengajak untuk duduk-duduk sambil bergurau. Beliau menolak dengan halus: “Kalau ingat kematian berpisah dari hatiku, itu akan merusak diriku”.

13. Ketika ia ditimpa sakit stroke, ia ingin makan ayam. Namun keinginan itu ia tahan sampai 40 hari. Setelah itu ia berkata kepada istrinya: “Aku ingin makan daging ayam semenjak 40 hari, tapi aku tahan. Sayangnya jiwaku enggan, ia tetap inginkan”. Istrinya berkata: “Subhanallah, apa-apaan ini, hingga kamu harus menahan dirimu dari makan ayam? Padahal Allah sudah menghalalkan itu”.

Istrinya segera pergi ke pasar dan membeli seekor ayam kemudian memasaknya. Setelah dihidangkan di depannya, tiba-tiba ada pengemis di depan pintu rumahnya. Langsung saja ia memerintahkan istrinya untuk membungkus ayam yang sudah dimasak dengan enak itu dan memberikan kepada peminta-minta.

Istrinya enggan melakukan itu. Namun dia tetap ngotot memerintahkan istrinya untuk memberikan kepada pengemis yang ada di depan rumah. Kata istrinya, “Makanlah ini, aku akan buat sesuatu yang lebih baik dan ia sukai dari pada ini”.

Rabi’ bertanya: “Apa itu?”. Istrinya menjawab: “Kita beri ia uang seharga ayam ini, dan kamu lanjutkan makan ayam itu”. Beliau berkata: “Bagus sekali. Mana uangnya?  Kemudian istrinya mengeluarkan uangnya. Selanjutnya ia mengambil ayam yang sudah dimasak, roti dan sayurannya, lantas menyerahkan semuanya kepada pengemis itu bersama uang seharga ayam.

Itulah di antara sifat dan perbuatan Rabi’ bin Khutsaim, seorang tabi’in yang mulia, hingga bila Rasulullah melihatnya, beliau akan mencintainya.

Ya Allah, rahmati kami dengan segala kekurangan ini.

(Zulfi Akmal, Al-Azhar Cairo)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s