Bab 3 Mendalami Kembali Tujuan Jihad di Dalam Al-Qur’an

89e28-islamedia-co-hamasAllah menurunkan syariat untuk dijadikan pedoman hidup bagi manusia. Sebagai pedoman hidup, ia memiliki tujuan utama untuk mewujudkan kebaikan dan kemaslahatan bagi seluruh umat manusia. Dalam kajian usul fikih, tujuan ini sering disebut dengan maqashidusy syari’ah, yaitu maksud dan tujuan diturunkannya syariat Islam.

Secara istilah, maqasidusy syariah adalah nilai-nilai dan sasaran syara’ yang tersirat dalam segenap atau bagian terbesar dari hukum-hukumnya. Nilai-nilai dan sasaran itu dipandang sebagai tujuan syariat, yang ditetapkan oleh Pembuat syariat dalam setiap ketentuan hukum. (Wahbah al-Zuhaili, “Ushul Fiqh Islami”, Juz II, Dar al Fikri: Damaskus, 1986, hal. 225)

Para ulama fikih dan usul fikih sepakat bahwa syariat diturunkan untuk kemaslahatan manusia di dunia maupun akhirat.

Imam Asy-Syatibi mengungkapkan, “Sesungguhnya syariat itu ditetapkan bertujuan untuk tegaknya (mewujudkan) kemaslahatan manusia di dunia dan Akhirat.”(Al Syatibi: Al-Muwwafaqat, Jilid I/21)

Demikianlah syariat Islam, semuanya Allah tetapkan untuk kemaslahatan manusia itu sendiri. Baik kemaslahatan dunianya maupun kemaslahatan nanti di akhirat. Oleh karena itu tentunya bagi seseorang yang menyimpulkan hukum dari nash Al-Qur’an atau hadits, harus selalu memahami maksud dan tujuan Allah di balik teks tersebut. Karena ketika ia tidak memahami maksud dan tujuan yang diharapkan oleh nash, maka akan keliru dalam menyimpulkan hukum, bahkan dalam tataran praktiknya bisa berakibat fatal.

Diriwayatkan dari sahabat Ali radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “(Suatu hari) Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus bala tentara dan mengangkat seorang Ansar sebagai komandan. Nabi memerintahkan kepada seluruh tentara untuk menaati sang komandan. Suatu saat sang komandan marah kepada prajuritnya dan berkata,’Bukankah Nabi memerintahkan kalian semua untuk taat kepadaku?’ Para prajurit menjawab, ‘Benar, Komandan!’ Komandan berkata, ‘Aku perintahkan kamu semua untuk mengumpulkan kayu bakar, lalu buatlah api dengannya. Setelah itu masuklah kamu semua ke dalamnya!’

Lalu para prajurit mengumpulkan kayu bakar dan menyalakannya. Tatkala mereka bermaksud untuk memasukinya, setiap prajurit berdiri saling memandang diantara mereka. Salah seorang dari mereka berkata, ‘Sesungguhnya kita semua mengikuti Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena ingin dijauhkan dari api (neraka), apakah kita sekarang akan memasukinya?’ Manakala mereka dalam keadaan demikian, padamlah api tadi, dan hilanglah marah sang komandan.

Lalu kejadian itu diceritakan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi bersabda, ‘Andaikan saja kamu semua memasuki api itu, niscaya kalian tidak akan pernah keluar selamanya (mati dan masuk neraka). Sesungguhnya ketaatan kepada pemimpin itu adalah dalam hal yang Ma’ruf’.” (HR. Bukhari)

Kita semua yakin bahwa sahabat adalah generasi terbaik umat ini. Riwayat di atas menggambarkan bagaimana sikap mereka dalam memahami teks atau perintah yang mereka dapatkan. Perintah menaati pemimpin jelas hukumnya wajib, namun ketika ada pemimpin yang memerintahkan kepada sesuatu yang membawa kepada kehancuran, mereka meninggalkan perintah tersebut. Hal ini bukan karena mereka membangkang, namun sikap tersebut justru menggambarkan cara pandang mereka dalam memahami syariat yaitu teks/nash yang lurus dan benar, yang mana selalu mereka sesuaikan dengan maksud dan tujuan dari perintah itu sendiri.

Sejatinya, seluruh ibadah yang disyariatkan Allah mengandung maksud yang akan membawa kemaslahatan bagi hamba-Nya. Shalat misalnya, salah satu maksudnya adalah untuk menjauhkan hamba dari perbuatan keji dan mungkar, zakat disyariatkan untuk mensucikan harta dan sebagainya.

Demikian juga dengan syariat jihad, dalam Al-Qur’an Allah menjelaskan tentang tujuan-tujuan yang diharapkan Allah di balik turunnya syariat jihad tersebut. Di antara tujuan jihad yang Allah jelaskan dalam Al-Qur’an adalah:

  1. Menghilangkan seluruh bentuk kesyirikan dan menjadikan ketaatan hanya kepada Allah.

“Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya semata-mata untuk Allah. (Al-Anfal: 39)

Fitnah yang dimaksudkan adalah kesyirikan, sedangkan maksud ‘yang tersisa hanyalah agama Allah’ adalah mewujudkan ketaatan seluruhnya kepada Allah, baik dengan bentuk masuknya orang-orang musyrik ke dalam agama Islam atau mereka tunduk di bawah hukum Islam.

  1. Sebagai jalan untuk meninggikan kalimatullah dan merendahkan seruan orang-orang kafir

“Dan Allah menjadikan kalimat orang-orang kafir adalah yang paling rendah, sedangkan kalimat Allah itulah yang paling tinggi, dan Allah itu Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (At -Taubah: 40)

  1. Sebagai jalan untuk menolong agama Allah dan mewujudkan pertolongan-Nya.

“Jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” [Muhammad: 7]

“Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa,” (Al Hajj : 40)

  1. Sebagai upaya untuk menghilangkan kerusakan di muka bummarinir-al-qassam-2i

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini.” (QS. Al-Baqarah: 251)

  1. Untuk menolak kezaliman orang-orang zalim

“Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu.” (Al-Hajj: 39)

  1. Untuk menolong kaum muslimin yang lemah

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’” (An-Nisa’ :75)

  1. Untuk menyampaikan hidayah kepada manusia dan memudahkan mereka untuk masuk Islam

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong.” (An-Nashr : 1-2)

  1. Agar Allah mengetahui orang-orang yang bersungguh-sungguh dan bersabar

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan begitu saja masuk surga sedangkan Allah belum mengetahui [melihat] siapakah orang-orang yang bersungguh-sungguh di antara kalian dan untuk mengetahui siapakah orang-orang yang sabar?” (Ali Imran: 142)

  1. Sebagai jalan bagi Allah untuk memilih para syuhada

“…Dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”( Ali Imran: 140)

  1. Untuk mencapai kekuasaan (khilafah) bagi kaum muslimin di muka bumi sehingga syi’ar-syi’ar Islam bisa tegak seluruhnya

“(yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata, ‘Tuhan kami hanyalah Allah’. Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.* (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Al-Hajj: 40-41)

“Dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa…” (An-Nuur: 55)

  1. Untuk mewujudkan syariat amar ma’ruf nahi mungkar

“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Dan jihad adalah tingkatan amar ma’ruf dan nahi mungkar yang paling tinggi.

  1. Untuk menghilangkan kebencian kaum muslimin dan sebagai obat penyejuk hati mereka.

“…Serta melegakan hati orang-orang yang beriman, dan menghilangkan panas hati orang-orang mukmin….” (At-Taubah: 14-15)

  1. Untuk mengangkat derajat kaum muslimin di dunia dan akhirat

“…Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar, (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 95-96)

  1. Agar selamat dari azab kubur dan hari pembalasan sehingga bisa mencapai surga.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?, (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keberuntungan yang besar. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.” (As-Shaf: 10-13)

  1. Untuk menunjukkan kaum muslimin kepada jalan yang lurus

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-Ankabut: 69)

  1. Untuk mendapatkan rezeki dan ghanimah.

“Serta harta rampasan yang banyak yang dapat mereka ambil. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (Al-Fath: 19)

  1. Untuk mengharap rahmat Allah

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Baqarah: 128)

  1. Untuk menyelamatkan jiwa dari kehancuran

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan….” (Al-Baqarah: 195)

  1. Untuk menjelaskan hakikat orang-orang munafik dan mereka orang-orang memiliki penyakit dalam hatinya dalam menaati syariat

“Maka apabila diturunkan suatu surat yang jelas maksudnya dan disebutkan di dalamnya (perintah) perang, kamu lihat orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya memandang kepadamu seperti pandangan orang yang pingsan karena takut mati, dan kecelakaanlah bagi mereka.” (Muhammad: 20)

“Dan apabila diturunkan sesuatu surat (yang memerintahkan kepada orang munafik itu), ‘Berimanlah kamu kepada Allah dan berjihadlah beserta Rasul-Nya’, niscaya orang-orang yang sanggup di antara mereka meminta izin kepadamu (untuk tidak berjihad) dan mereka berkata, ‘Biarkanlah kami berada bersama orang-orang yang duduk’.” (At-Taubah: 86)

  1. Untuk menakut-nakuti orang-orang musyrik, orang kafir dan munafik

“Jika kamu menemui mereka dalam peperangan, maka cerai beraikanlah orang-orang yang di belakang mereka dengan (menumpas) mereka, supaya mereka mengambil pelajaran.” (Al-Anfal: 57)

“…..(yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya….”(Al-Anfal: 60)

  1. Sebagai bentuk balasan dan azab bagi orang-orang musyrik atas kesyirikan yang mereka lakukan

“Katakanlah, ‘Tidak ada yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan. Dan kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab (yang besar) dari sisi-Nya, atau (azab) dengan tangan kami…’.” (At-Taubah: 52)

“Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu dan Allah akan menghinakan mereka dan menolong kamu terhadap mereka, serta melegakan hati orang-orang yang beriman.” (At-Taubah: 14)

  1. Untuk menghentikan kekuatan orang kafir

“…..Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya).” (An-Nisa: 84)

  1. 44662-alshabab-01Untuk membinasakan orang-orang musyrik dan menghancurkan kekuatan mereka

“Untuk membinasakan segolongan orang-orang yang kafir, atau untuk menjadikan mereka hina, lalu mereka kembali dengan tiada memperoleh apa-apa.”(Ali-Imran: 125).

“Sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk.” (At-Taubah: 20)

Demikianlah sebagian tujuan jihad yang diterangkan dalam Al-Qur’an. Karena tujuan tersebutlah Allah menurunkan syariat jihad. Bagi siapa pun yang mengemban misi tersebut, agar lebih bisa memperhatikan kembali maksud dan tujuan Allah menurunkan syariat tersebut.

Jihad tidak hanya diperintahkan untuk membunuh orang-orang kafir atau menghancurkan kekuatan mereka. Namun selain itu, jihad memiliki tujuan-tujuan yang suci lainnya, yaitu untuk menunjukkan jalan hidayah kepada manusia, mewujudkan kemakmuran, menghilangkan kezaliman, memberi kabar gembira kepada kaum muslimin, dan lain sebagainya sebagaimana tersebut di atas. Tentunya semua itu bisa terwujud dengan sempurna dalam bingkai pemerintahan Islam, yaitu khilafah.

Semoga dengan memahami seluruh tujuan jihad di atas, kaum muslimin akan lurus dalam mengemban misi jihad dan sesuai dengan harapan dan tujuan yang Allah inginkan, yaitu mewujudkan kemaslahatan bagi seluruh manusia baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s