Keyakinan

19677Wahai saudaraku, tidak sedikit orang yang mengaku beriman pada Allah tapi benarkah iman mereka telah tercermin dalam kehidupan sehari-hari? Memang sangat mudah berkata, “Aku beriman.” Akan tetapi, jika diminta membuktikan imannya hanya sedikit orang yang bisa melakukannya. Inilah yang membuat agama Islam persis seperti buih dilautan, banyak tapi tidak ada artinya karena rendahnya kualitas iman pemeluknya. Maka tak mengherankan kalau umat Islam mudah diombang- ambing oleh gerak zaman seperti halnya buih.

Ketahuilah saudaraku, jika seseorang mempunyai keyakinan yang benar pada Allah maka jiwanya akan selalu diterangi cahaya Ilahi. Namun sayang, keyakinan umat Islam pada Allah sebagian besar masih bersyarat, ketika susah mereka yakin pada Allah SWT, namun saat senang ia berpaling dari-Nya. Padahal seharusna rasa yakin kepada Allah tidak ada hubungannya dengan apapun yang diperoleh oleh seorang hamba. Artinya, jika sesoorang benar-benar yakin pada-Nya karena memang Dia-lah Dzat Yang Maha Kuasa, yang menentukan segala sesuatu dan berkuasa atas alam semesta beserta seluruh isinya, bukan karena sebab lain.

Allah SWT berfirman, “Dan tatkala orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata, “Inilah yang di janjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita. Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali iman dan ketundukan (QS AL-Ahzab [33]:22)

Saudaraku, seseorang yang benar-benar yakin kekuasaan Allah SWT maka ia tidak akan mudah berputus asa. Ia akan menerima segala bentuk ujian dengan hati yang lapang. Ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah SWT dan kembali kepada-Nya. Prinsip seperti ini akan membuat sesorang berpikir positif. Dan, ketahuilah, wahai saudaraku, pikiran positif akan membawa hasil yang positif pula.

Saudaraku, seseorang yang benar-benar yakin kekuasaan Allah SWT maka ia tidak akan mudah berputus asa. Ia akan menerima segala bentuk ujian dengan hati yang lapang. Ia mengetahui bahwa semuanya berasal dari Allah SWT dan kembali kepada-Nya. Prinsip seperti ini akan membuat sesorang berpikir positif. Dan, ketahuilah, wahai saudaraku, pikiran positif akan membawa hasil yang positif pula.

Sikap pesimis bukan sikap sejati umat Islam. Sepanjang berabad-abad bangsa Barat memeng terus menerus mengarahkan agar umat Islam tetap berada dalam belenggu kepesimisan. Tujuannya agar umat Islam kehilangan kepercayaan dirinya. Tujuannya agar umat Islam kehilangan keperpcayaan dirinya. Dan, usaha mereka pun berhasil. Sekarang cobalah lihat kanan kiri kita, maka akan mendapatkan umat Islam hanya bisa meratapi kemunduran-kemunduran yang terjadi, tanpa mau bergerak untuk memperbaikinya.

Wahai saudaraku, berlajarlah kepada Nabi Ibrahim AS, beliau pernah dimasukkan ke dalam api oleh kaum kafir karena dakwah-dakwahnya. Al Qur’an menggambarkan kejadian sebagai berikut :

“Mereka berkata, “Bakar dia dan bantulah tuhan-tuhan kalian, jika kalian benar-benar hendak bertindak (QS Al-Anbiya [21]68)

Bagaimana sikap Nabi Ibarahim AS ketika dimasukkan ke dalam api? Apakah ia berputus asa? Tidakm wahai saudaraku. Nabi Ibrahim AS yakin bahwa Allah SWT akan menolongnya. Karena keyakinan itu tertanam dalam hati maka pertolongnan Allah SWT pun datang, api yang panas berkorbar-kobar itu menjadi dingin.

“Hai api jadilah dingin, dan selamatkan Ibrahim (QS Al-Anbiya [21]69)

Ibnu Qayyim berkata, “Ketahuilah wahai saudaraku, yakin itu merupakan bagian dari iman, tak ubahnya kedudukan ruh dari badan. Dengan yakin ini orang-orang yang memiliki makrifat menjadi terhormnat, banyak orang yang berlomba-lombha karenanya orang-orang beramal berusaha mendapatknnya dan semua isyarat mereka tertuju padanya. Jika sabar berpasangan dengan yakin, maka akan lahir kepemimpinan dalan agama sebagaimana firman-Nya.

Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami. (QS. As-Sajdah [23]24)

Allah mengkhususkan orang-orang yang memiliki keyakinan, bahwa merekalah yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan bukti-bukti keterangan sebagaimana di firmankan Allah

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. (QS Adzariyat [51]20)

Allah mengkhususkan orang-orang yang memiliki keyakinan, bahwa hanya merekalah yang bisa mengambil manfaat dari ayat-ayat dan bukti-bukti keterangan sebagaimana difirmankan Allah

 dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al Quran) yang telah diturunkan kepadamu dan Kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-Baqarah 4-5)

Allah juga mengabarkan bahwa para penghuni neraka adalah mereka yang tidak yakin

 Dan apabila dikatakan (kepadamu): “Sesungguhnya janji Allah itu adalah benar dan hari berbangkit itu tidak ada keraguan padanya”, niscaya kamu menjawab: “Kami tidak tahu apakah hari kiamat itu, kami sekali-kali tidak lain hanyalah menduga-duga saja dan kami sekali-kali tidak meyakininya”.(QS. Jatsiyah [45]32)

Yakim merupakan ruh amal hati yang sekaligus merupakan ruh anggota tubuh dan merupakan hakikat sifat shidiq serta inti islam.31334

Yakin dengan takdir

Rasulullah SAW bersabda, “Andaikata kamu menginfaqkan emas sebesar gunung Uhud untuk fisabillah. Ia tidak akan menerima (infak tersebut) hingga kamu beriman kepada takdir. Dimana kamu mengetahui, bahwa musibah yang menimpa bukanlah untuk menghinakanmu dan kehinaan yang menimpamu bukanlah musibah yangmenghempaskanmu. Jika kamu mati tidak dalam keyakinan demikian niscaya kamu masuk neraka (HR. Ahmad)

Meyakini rezeki hanya dari Allah SWT

Rasulullah SAW bersabda, Malaikat Jibril berbisik kepadaku, “Bahwa sesungguhnya satu jiwa tidak akan mati sampai rezekinya sempurna (diberikan). Bertakwalah kepada Allah, dan mintalah dengan baik-baik. Jangan sampai lambatnya rezeki mengantarkan kalian untuk meminta rezeki dengan disertai maksiat-maksiat kepada Allah SWT. Sebab sesuatu di sisi Allah tidak akan didapatkan kecuali dengan ketaatan pada-Nya (HR. Ibu Hibban dan Hakim, dihasankan oleh Al Bani)

Saudaraku yang tercinta…. ketahuilah bahwa ketika Allah SWT telah berkehendak melimpahkan rezeki padamu, lalu dirimu mencoba untuk menghindar, niscaya kamu sama sekali tidak akan bisa mengelak. Allah SWT berfirman,

Katakanlah: “Siapakah yang dapat melindungi kamu dari (takdir) Allah jika Dia menghendaki bencana atasmu atau menghendaki rahmat untuk dirimu?” Dan orang-orang munafik itu tidak memperoleh bagi mereka pelindung dan penolong selain Allah. (QS. Ahzab [33] 17)

Rasulullah SAW bersabda, “Andaikata seorang anak Adam mencoba menghindar rezeki Allah SWT sebagaimana ia lari dari maut, pasti rezeki Allah akan menghampirinya (HR. Abu Nu’aim, dihasankan oleh Al Bani)

Allah SWT menyandingkan kata rezeki dengan penciptaan

Allah-lah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki,…(QS. Ar-Rum [30]40)

Ayat ini menunjukkan bahwa rezeki itu berasal dari Allah bukan dari makhluk, Allah pun berjanji bahwa Dia adalah Dzat Maha Pemberi rezeki, perhatikan firman Allah.

   Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezeki (QS Adzariyat [51]58)

Tidak cukup dengan janji bahkan Allah memberi jaminan bahwa

Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata (Lauh mahfuzh). (QS. Hud [11]6)

Tidak hanya cukup dengan jaminan, sampai-sampai Allah bersumpah, bahwa

Maka demi Tuhan langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti perkataan yang kamu ucapkan. (QS Adzariyat [51]58)

Jadi, siapa saja yang tidak meyakini firman Allah tidak merasa cukup dengan janji Allah, tidak merasa tenang dengan jaminan Allah SWT dan tidak puas dengan janji Allah SWT, bagaimana ia bisa mengaku-ngaku sebagai muslim?

Yakin dengan Al Qur’an, dua pulah mengalahkan dua ratus

Diksiahkan dari Abu Abdillah Mardinisy Al-Magribi bahwasanya ia suatu waktu memabngkitkan semagnat pasukan espedisinya yang berjumlah tiga ratus prajurit berhadapan dengan seribu lebih pasukan Roamawi.n ia berkata kepada pasukannya yang terkesan raru-ragu bertempur dengan pasukan Romnawi, “Apa yang kalian tunggu?

Mereka menjawab, “Biarkan saja tentara Romaawi sibuk menikmati rampasan perang? Abu Abdillah mengatakan, “Bukankah Allah telah berfirman,

“Jika ada sua puluh orang yang sabar di antara kamu niscaya mereka dapat mengalahkan dua ratus orang musuh (QS. AL-Anfal : 65)

Pasukannya berkata serentak, “Wahai komandan apakah Allah yang mengatakan demikian?” Abu Abdilalh menjawab, “Ya Allah menjamin demikian tapi malah kalian duduk termangu mengadapi mereka!” Mendengar demikian, mereka menyerbu pasukan Romawi dan berhasil mengalahkan mereka.

Satu kabaikan berpahala sepulujh kali lipatnya

Seorang pengimis mengahadap Ali bin Abi Thalib ra. Ia berkata kepada puteranya Hasan atau Husain, “Pergi kepada Ibumu, katakan padanya berikan dua dirham dari enam dirhamn yang aku simpan padanya.”

Puteranya pergi dan kembali sambil mengabarkan perkataan iobunya bahwa, uang yang enam dirham yang diberikan kepada padanya adalah untuk memberi tepung. Mendengar demikian, Ali bion Abi Thalib mengnatakan, “Belum benar iman seseorang hingga apa yang ada di sisi Allah SWT ia yakini dari pada apa yang ada di tangannya. Lalu beliau menyuruh istrinya untuk memberikan keenam dirham semuanya. Setelah diterima, ia berikan  pada peminta-minta.

Tidak berselang lama, muncul seorang pria yang membawa unta untuk dijual. Lalu Amirul Mukminin menghampirinya dabn berkata padanya, “Akan kau jual berapa unta ini?” Si pria menjawab, “Seratus empat puluh dirham! Ali berkata, “Tempatkan ia, sampai aku bisa menjual lebih untuk unta ini!” si pria menambatkan untanya kemudian ia pergi. Datanglah seorang pria menghampiri Ali bin Abi Thalib, ia berkata, “Siapakah pemilik unta ini?” Ia berkata, “Siapa pemilik unta ini?” Ali menjawab, “Milikku.” “Apakah unta ini akan anda jual?, Tanya si pria, “Ya”, jawab Amirul Mukminin. “Berapa”, tanya si pria penasaran. Ali menjawab, “Dua ratus dirham.” “Baik”, dua ratus dirham sepakat saya beli, kata si pria mantap.

Terjadilah transaksi dimana si pria membeli unta dengan dua ratus dirham. Kemudian Ali bin Abi Thalib memberikan pada si pemilik unta harga seratus empat puluh dirham dan ia membawa pulang untuk istrinyha Siti Fatimah enam puluh dirham. Ketika menerima uang sebanyak itu, Siti Fatimah keheranan lantas bertanya, “Apa ini?”

Ali menjawab, ini adalah apa yang telah di janjikan melalu lisan Nabi-Nya SAW

“Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya pahala sepuluh kali lipat amalnya (QS. An’am : 60)

(Abu Azzam)

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s