Bersikap lemah lembut

DSCN0359 Jiwa seorang Muslim yang lemah lembut, merupakan refleksi dari kelembutan qalbu. Semakin lembut qalbu seseorang, maka kelemah lembutannya akan semakin tampak. Qalbu yang lembut, akan memancarkan jiwa-jiwa yang “peka”. Sebaliknya, hati yang kesat dan keras, akan melahirkan tindakan yang kasar, sembrono, bahkan brutal. Karena qalbu merupakan barometer action seseorang.

Maka tidak heran, kalau Nabi SAW menyatakan bahwa surga itu diperuntukkan bagi mereka yang memilik jiwa-jiwa yang lembut, Rasulullah Saw bersabda: Sesungguhnya Allah itu Maha Lembut, dan Dia menyukai kelembutan dalam segala urusan ”. (Muttafaq ‘Alaihi)


Beliau bersabda dalam Hadits dari `Iyadh ibn Hamâr ra., “Ahli (penghuni) surga itu tiga orang: Orang yang memiliki kekuasaan, adil dan diberi petunjuk, seorang yang pengasih dan berhati lembut kepada setiap kerabat dekatnya dan setiap Muslim, dan orang yang menjaga kehormatan dan (senantiasa) menjaga kehormatannya padahal ia memiliki kebutuhan untuk keluarganya.” (HR. Muslim).
Islam sangat menganjurkan kepada pemeluknya untuk bersikap lemah lembut terhadap sesamanya. Allah berfirman, “Wahai Muhammad, berkat rahmat Allah kepadamu, kamu bersikap lemah lembut kepada para pengikutmu. Sekiranya kamu kasar lagi keras hati kepada pengikutmu, niscaya mereka akan menjauhi kamu. Karena itu, maafkanlah orang-orang mukmin yang bersalah. (QS Ali-Imran[3]159)
Rasulullah saw bersabda, “Apabila Allah menginginkan kebaikan kepada anggota suatu keluarga maka Allah memberikan sikap lemah lembut kepada diri mereka (HR Ahmad)
“Barangsiapa memberikan kelemah-lembutan maka ia telah memberikan kebaikan. Dan barangsiapa yang tidak mau memberikan kelemah-lembutan, maka ia tidak mau memberikan kebaikan (HR Tirmidzi)
Dari ‘Aisyah ra berkata, “Orang-orang Yahudi mendatangi Nabi saw dan berkata, “Kebinasaan bagimu”. Rasul saw bersabda, “Bagi kalian juga”. ‘Aisyah berkata, “Kebinasaan bagi kalian, laknat dan murka Allah atas kalian”.
Rasul saw bersabda, “Tahan wahai ‘Aisyah, wajib bagimu untuk lemah lembut, hati-hati kamu dari sikap keras dan keji”.
‘Aisyah, “Apakah kamu tidak mendengar apa yang mereka ucapkan?” Rasulullah saw“ Apakah kamu tidak mendengar apa yang aku ucapkan, aku telah membalas mereka dan itu dikabulkan bagiku dan ucapan mereka terhadapku tidaklah dikabulkan “. (HR. Al Bukhari)

IMG_20141222_053626
Al-Qur’an mengabadikan, saat Fir’aun sudah sampai pada puncak ketaghutan dengan mengatakan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi,” maka Allah mengutus Nabi Musa dan Harun untuk memperingatkannya dan mendakwahinya seraya berpesan,
“Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (QS. Thaahaa: 44)
Yakni dengan bahasa yang mudah dipahami, halus, lembut, dan penuh adab tanpa sikap kasar, arogan, dan intimidasi dalam berkata atau bertindak brutal. Semoga dengan perkataan yang lembut ini dia jadi ingat dengan sesuatu yang bermanfaat untuknya sehinga dia melaksanakannya atau takut dengan apa yang membayakannya sehingga dia meninggalkannya.

 

Kemudian Allah menerangkan tentang ucapannya tersebut,
Dan katakanlah kepada Fir’aun, “Maukah engkau menjadi orang yang mengimani keesaan Allah? Aku akan menunjukkan kepada engkau jalan Tuhanmu supaya engkau takut kepada-Nya(QS. Al-Naazi’aat: 18-19)
Itulah kalimat yang digunakan Musa dan Harun dalam mendakwahi Fir’aun, seorang thaghut yang kafir. Kenapa ada sebagian kaum muslimin yang mendakwahi dan menasihati kawannya dengan kalimat cela, mengkhawarijkan, menyesatkan, dan uangkapan-uangkapan buruk dan kasar lainnya? Apakah dia menginginkan mengeluarkan saudaranya dari keburukan ataukah sebaliknya, menginginkan keburukan tetap kukuh pada diri sahabatnya?
Berkatalah seorang shalih saat mendengar ayat ini, “Mahasuci Engkau wahai Rabb, apabila seperti ini sikap baik-Mu kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS. Al-Naazi’aat: 24)
Maka bagimana sikap baik-Mu kepada hamba yang mengucapkan, “Mahasuci Engkau Wahai Tuhanku yang Maha Tinggi.”
Jika ini adalah kelemahlembutanmu kepada kepada Fir’aun yang telah mengucapkan, “Aku tidak mengetahui tuhan bagimu selain aku.” (QS. Al-Qashash: 38)
Lalu bagaimana kelemahlembutan-Mu terhadap hamba yang masih berucap Laa Ilaaha Illallaah (Tiada tuhan berhak disembah kecuali Allah).” Wahai saudaraku, berlemah lembutlah dan berkatalah yang baik serta jangan gampang menyematkan gelar-gelar sesat kepada saudaramu yang tergelincir.

 
Lembut ketika amar ma’ruf nahi munkar
Di dalam berdakwah, sikap lemah lembut sangatlah dibutuhkan. Dakwah akan tepat sasaran jika dilakukan dengan lemah lembut, tidak dengan paksaan bahkan kekerasan. Rasulullah Saw sebagai sauri tauladan bagi kita telah mencontohkannya dengan perilaku lemah lembutnya ketika suatu hari Rasulullah Saw beserta para sahabat berada di masjid, tiba-tiba datang suku badui mengencingi salah satu bagian masjid. Apa yang terjadi kemudian? Rasulullah sama sekali tidak marah terhadap orang tersebut. Berbeda dengan para sahabat yang langsung marah, bahkan sebagian ada yang ingin menarik dan menghajarnya.
Rasulullah Saw melarang para sahabatnya untuk berlaku kasar terhadap orang tersebut, dan Rasulullah pun membiarkannya menuntaskan hajatnya.Setelah selesai dipanggillah orang badui tersebut, Rasulullah Saw berkata dengan lemah lembut kepadanya, “ini adalah masjid, bukan tempat kencing dan buang kotoran. Sesungguhnya tempat ini untuk dzikrullah dan untuk membaca al-Qur’an.” Beliau kemudian menyuruh sahabatnya untuk membersihkan tempat yang telah dikencingi oleh orang badui tersebut.
Tutur kata yang lemah lembut dari Nabi Saw menyentuh hati si Badui, sangat berbeda dengan para sahabat yang geram terhadap sikapnya. Ia pun terkagum terhadap kehalusan budi pekerti beliau. Maka dengan kepolosannya ia berdo’a, “Ya Allah rahmatilah aku dan Muhammad dan jangan rahmati seorang pun selain kami berdua”. Dalam do’anya pun ia menyindir para sahabat yang geram terhadapnya. (HR. Imam Bukhari dan Muslim)
Mendengar doa tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tertawa dan berkata kepadanya:
“Kamu telah mempersempit sesuatu yang luas (rahmat Allah).” (HR. Al Bukhari dan yang lainnya)
Lembut kepada Istri
Rasul sangat lemah lembut terhadap istri-istri nya. Rasul tidak pernah melotot, menaikkan nada suara dan marah kepada istri nya. Beliau biasa memanggil istri-istrinya, dengan panggilan kesukaan dan panggilan yang indah. Seperti ya Humaira untuk memanggil Aisyah. Rasul juga adalah orang yang paling lembut dan banyak menemani istrinya yang sedang mengadu atau sakit. Banyak teladan Rasul yang bisa menjadi inspirasi kita dalam bersikap lemah lembut terhadap istri.

 
Berlemah lembut terhadap pemula
Dari Muawiyah bin Al-Hakam As-Sulami ra ia nebgatakan, “Ketika aku sedang melakukan shalat berjamaah bersama Rasulullah saw, tiba-tiba da seorang bersin, lalu aku mengucapkan, “Yarkumullah (semoga Allah meembrikan rahmat kepadamu)” kemudian orang-orang memandangku penuh keheranan. Lalu aku mengatkaan, “Kurang ajar kalian, mengapa kalian memandangku seperti itu? Setelah itu mereka menepuk-nepuk paha mereka dengan tangan-tangan mereka. Ketika aku melihat mereka, mereka tidak memperdulikanku, sehingga aku diam saja. Demi ayah dan ibuku, ketika Rasulullah saw selesai melakukan shalat, aku belum pernah melihat seorang guru yang cara mengajarkannya lebih baik dari beliau. Demi Allah, ia tidak membentakku dan mencaciku, beliau hanya mengatakan, “Sesungguhnya shalat ini tidak boleh diganggu dengan perkataan-perkataan orang, karena shalat adalah membaca tasbih, takbir dan membaca Al-Qur’an.”

 
Lembut terhadap pembantu
Anas bin Malik adalah salah satu sahabat yang membantu mengurus kebutuhan rumah tangga Rasul. Selama 10 tahun bekerja kepada Rasul, ia tidak pernah mendapati Rasulullah mengumpat, atau menyalah-nyalahkan pekerjaan yang telah ia lakukan.

IMG_20141221_205404

 

 

Lembut terhadap anak-anak
Rasulullah pernah mencium Al-Hasan bin Ali, sementara Al-Aqra’ bin Habis At-Tamimi sedang duduk di sisi beliau. Maka Al-Aqra’ berkata, ‘Aku memiliki 10 anak, namun tidak ada satu pun dari mereka yang kucium.’ Kemudian Rasulullah memandangnya, lalu bersabda, ‘Siapa yang tidak menyayangi, maka dia tidak akan disayangi.’ (HR. Bukhari Muslim).

 
Lembut kepada pengemis
Suatu ketika ada seorang pengemis dari kalangan Anshar datang meminta-minta kepada Rasulullah saw Lalu beliau bertanya kepada pengemis tersebut, “Apakah kamu mempunyai sesuatu di rumahmu?”
Pengemis itu menjawab, “Tentu, saya mempunyai pakaian yang biasa dipakai sehari-hari dan sebuah cangkir.” Rasul lalu berkata, “Ambil dan serahkan ke saya!”
Pengemis itupun pulang mengambil satu-satunya cangkir miliknya dan kembali lagi pada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW kemudian menawarkan cangkir itu kepada para sahabat, “Adakah di antara kalian yang ingin membeli ini?” Seorang sahabat menyahut, “Saya beli dengan satu dirham.”
Rasulullah saw menawarkannya kembali, “Adakah di antara kalian yang ingin membayar lebih?” Lalu ada seorang sahabat yang sanggup membelinya dengan harga dua dirham.
Rasulullah saw memberikan dua dirham itu kepada si pengemis lalu menyuruhnya menggu nakan uang itu untuk membeli makanan untuk keluarganya dan sisa uangnya digunakan untuk membeli kapak. Rasullulah saw berkata, “Carilah kayu sebanyak mungkin dan juallah, selama dua minggu ini aku tidak ingin melihatmu.” Sambil melepas kepergiannya Rasulullah saw pun memberinya uang untuk ongkos.
Dua minggu kemudian pengemis itu datang kembali menghadap Rasulullah SAW sambil membawa uang sepuluh dirham hasil dari penjualan kayu. Kemudian Rasulullah SAW menyuruhnya untuk membeli pakaian dan makanan untuk keluarganya seraya bersada, “Hal ini lebih baik bagi kamu, karena meminta-meminta hanya akan membuat noda di wajahmu di akhirat nanti. Tidak layak bagi seseorang meminta-minta kecuali dalam tiga hal, fakir miskin yang benar-benar tidak mempunyai sesuatu, utang

 
Lembut terhadap orang yang belum paham
Kisah Nabi ketika berdakwah ke Bani thaif, lalu beliau dicaci maki, dihina dan dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah. Akhirnya beliau menjauh dari thaif dan berdoa
” Wahai Tuhanku, kepada Engkau aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya-upayaku pada pandangan manusia. Wahai Tuhan yang Maha Rahim kepada sesiapa Engkau menyerahkan daku?Kepada musuh yang akan menerkamkan aku ataukah kepada keluarga yang engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal aku tetap dalam keridaanMu. Dalam pada itu afiat-Mu lebih luas bagiku. Aku berlindung dengan cahaya mukaMu yang mulia yang menyinari segala langit dan menerangi segala yang gelap dan atasnyalah teratur segala urusan dunia dan akirat, dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku azabMu kepada Engkaulah aku adukan hal ku sehingga Engkau ridho. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau”

IMG_20150115_115956
Demikianlah doa Baginda Rasulullahu yang penuh dengan kepasrahan dan keikhlasan kepada Allah s.w.t. Mendengar doa NabiNya ini, Allah s.w.t menurunkan Jibril AS yang langsung turun berhadapan dengan Rasulullah dan mengucapkan salam seraya berkata:” Allah s.w.t.. mengetahui apa yang telah berlaku diantara kamu dan orang-orang ini. Allah s.w.t. telah menyediakan malaikat digunung-gunung disini khusus untuk menjalankan segala perintah kamu.”
Sambil berkata demikian Jibrail menghadapkan malaikat penjaga gunung-gunung itu dimuka Baginda s.a.w, kata Malaikat ini: “Wahai Rasulullah, saya bersiap sedia untuk menjalankan perintah Tuan. Kalau dikehendaki, saya sanggup menyebabkan gunung-gunung yang berada sebelah me nyebelah di kota ini berbenturan sehingga pendu duk-penduduk dikedua-dua belah mati ter tindih. Kalau tidak, Tuan perintahkan apa saja huku man yang selayaknya diterima oleh orang-orang ini.”
Namun apa jawab Rasulullahu mendengar janji-janji Malaikat itu yang sesuai dengan nafsu amarah ini? Nabi Muhammad s.a.w. yang penuh dengan sifat rahim dan belas kasihan ini tidak mengiakan tetapi berkata:”Walaupun orang-orang ini tidak menerima Islam, saya harap dengan kehendak Allah s.w.t., keturunan-keturunan mereka, pada satu masa nanti, akan menyembah Allah s.w.t.. dan berbakti kepadaNya.”

 
Lembut terhadap orang ahli maksiat
Hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan di dalamnya disebutkan: “Ketika kami bersama Rasulullah saw tiba-tiba datang seseorang dan berkata: “Ya Rasulullah, celaka aku!”Beliau berkata: “Ada apa dengan kamu?”
Ia berkata: “Aku menyetubuhi istriku, sedang aku dalam keadaan berpuasa.”Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apakah kamu memiliki budak yang bisa kamu merdekakan?”Ia menjawab: “Tidak.”Beliau bersabda: “Apakah kamu mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?”Ia menjawab: “Tidak.” Beliau bersabda: “Apakah kamu bisa memberi makan enam puluh orang miskin?”Sekali lagi ia menjawab: “Tidak.”
Lalu diamlah Nabi saw. Dan ketika kami masih berada dalam keadaan hening (terdiam), di datangkanlah kepada Nabi saw sebuah keranjang yang berisi kurma. Beliau bersabda: “Mana orang yang bertanya tadi?” Ia berkata: “Saya.” Beliau bersabda: “Ambillah ini dan sedekahkanlah dengannya.” Orang tersebut berkata: “Apakah ada orang yang lebih fakir dariku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada di antara dua kampung ini rumah yang lebih fakir dari rumahku.” Tertawalah Nabi saw sampai nampak gigi taringnya, kemudian beliau bersabda: “Berikan ini kepada keluargamu.”

 

Berlemah lembut terhadap orang yang berbuat dosa
Abu Hurairah mengatakan, “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Pernah ada dua orang dari Bani Israel yang masih bersaudara. Salah seorang di antara keduanya sering melakukan perbuatan dosa, sedangkan yang lain sangat tekum dalam melaksanakan ibadah. Orang yang tekun dalam ibadahnya ini selalu melihat saudaranya itu masih saja berbuat dosa. Kemudian ia mengatakan kepadanya, “Bertauabatlah kamu,” Pada hari berikutnya ia menemukan saudaranya tersebut berbuat dosa lagi, lalu ia berkata kepadanya, “Bertaubatlah kamu.” Setelah itu saudara yang berbuat dosa itu sering berbuat dosa itu mengatakan, “Biarkan aku dengan Tuhanku, apakah kamu diutus untuk mengawasi aku? Saudara yang tekun beribadah tersebut mengatakan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni dosa-dosamu, Allah tidak akan memasukkan kamu ke dalam surga.
Beberapa bulan kemudian Allah swt mencabut nyawa mereka berdua. Lalu kedua-duanya bertemu di hadapan Allah. Kemudian Allah set berkata kepada saudara yang tekun beribah ini, “Apakah kamu lebih tahu daripada Aku? Atau apakah kamu lebih berkuasa daripada Aku? Lalu Allah swt berkata kepda saudara yang sering berbuat dosa, “Pegilah ke surga karena rahmat-Ku.” Dan Allah swt berkata kepada saudara yang tekun beribadah, “Pergilah kamu ke neraka (HR Abu Dawud)
Suatu ketika Adiy bin Arhta bin Artha’ah menulis surat kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a, ia menuliskan, “Dari Adiy bin Artha’ah; Amma Ba’du, semoga Allah swt memberikan kabaikan kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz r.a.. sesungguhnya ada beberapa pegawai sebelumku yang mencuri harta Baitul Mal dengan jumlah yang sangat banyak. Aku tidak ingin mengambil apa yang mereka ambil dari tangan mereka begitu saja, kecuali memberikan hukuman yang setimpal kepada mereka. Apabila Amirul Mukminin-semoga Allah memberikan kebaikan kepadanya-memberikan izin kepadaku untuk melakukan hal itu (menghukum dan menyiksa mereka), niscaya akan aku melakukannya.
Kemudian Umat bin Abdul Aziz r.a menjawab, : Amma Ba’du, Sungguh sangat mengagumkan atas permintaan izinmu untuk memberikan hukuman dan siksa kepada seseorang. Seolah-olah izinku kepadamu untuk memberikan hukuman dan siksa kepadanya akan menghindarkanmu dari siksa dan murka Allah swt. Lihatlah apa yang pernah aku lakukan untuk menangani kasus seperti ini. Datanglah bukti-bukti yang jelas, lalu ambilah keputusan berdasarkan bukti-bukti yang jelas, lalu ambilah keputusan berdasarkan bukti-bukti yang telah kamu temukan. Apabila pencuri tersebut mengaku atas apa yang telah ia lakukan. Apabila pencuri tersebut mengaku atas apa yang telah kamu temukan. Apabila pencuri tersebut mengaku atas apa yang telah ia lakukanm maka putuskanlah dengan pengakuannya, maka mintalah ia untuk bersumpah atas nama Allah swt yang Maha bijaksana dan biarkanlah ia pergi. Demi Allah, apabila mereka melemparkan pengkhianatan kepada Allah, adalah lebih aku sukai daripada Allah mengalirkan darah mereka. Wassalam

Bersikap lemah lembut kepada obyek dakwah
Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta hari demi hari apabila ada orang yang mendekatinya, ia selalu berkata: “Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya.” Setiap pagi Rasulullah SAW mendatangi dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW melakukannya hingga menjelang beliau SAW wafat. Setelah kewafatan Rasulullah tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis yahudi buta itu.
Suatu hari Abu Bakar berkunjung kerumah anaknya Aisyah, Beliau bertanya kepada anaknya: “Anakku adakah Sunnah kekasihku yang belum aku kerjakan” Aisyah menjawab pertanyaan ayahnya: “Wahai ayah, engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayah lakukan kecuali satu sunnah saja”. Jawab Abu Bakar : “Apakah itu?” Kata Aisyah : “Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada disana.”
Keesokan harinya Abu Bakar pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepadanya. Ketika Abu Bakar mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak: “Siapakah kamu?” Jawab Abu Bakar: “Aku orang yang biasa”
Kata pengemis: “Bukan! Engkau bukan orang yang biasa mendatangiku. Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa yang mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut dengan mulutnya setelah itu ia berikan padaku dengan mulutnya sendiri.”
Abu Bakar tidak tahan menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu: “Aku memang bukan orang yang biasa datang padamu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang mulia itu telah tiada. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW.” Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar ra, ia pun menangis dan kemudian berkata: “Benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya. Ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia.”
Subhanallah terhadap orang kafir saja beliau bersikap lemah lembut bagaimana terhadap orang muslim yang masih mengucapkan laaillahillah.

Berlaku lembut terhadap hewan
Khalifah Umar bin Khatab r.a. berpesan kepada Panglima Amr bin Ash dan pasukan kaum Muslim. “Hendaklah kalian memperlihatkan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘aalamiin. Kalian tidak boleh menzalimi orang tua, kaum wanita, anak-anak, para pendeta, dan orang-orang yang tidak memusuhi Islam.” Kalian pun tidak boleh merusak tempat tinggal, bangunan, tanaman dan perkebunan,”kata Umar lagi.
Setelah mendengar pesan Khalifah Umar, pasukan Amr bin Ash segera berangkat ke Mesir. Saat perjalanan mereka berkemah bermalam, saat tenda-tenda dibongkar tinggal satu tenda yang tidak dibongkar. Panglima perang Amr bin Ash bertanya kepada salah seorang prajurit. Kita tidak boleh mengganggu binatang, wahai Tuan, sebagaimana pesan Khalifah Umar. Lihatlah… ada seekor burung yang telah membuat sarang burung yang telah membuat sarang diatas tenda kita, “Jawab prajurit itu sambil menunjuk ke atas tenda. Bahkan, mungkin…sejak tadi malam, burung itu sudah bertengger di tenda kita. Lalu, ia bertelur, dan kini sedang mengerami telur-telurnya, “Kata prajurit lainnya. Kalau begitu…biarkan tenda ini tetap berdiri. Kita jangan menganggu binatang,” kata Amr bin Ash,“
Subhanallah terhadap hewan saja sikap yang dilakukan begitu sayangnya bagaimana denan manusia?
Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya, dan Allah Maha Luas (pembe rian-Nya), lagi Maha Mengetahui (QS Al-Maidah5]54)

Abu Azzam
Ma’roji : http://www.voa-Islam, penggetar iman di medan jihad, merindukan bulan ramadhan dll


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s