Tafakur (Berpikir)

134969991721088769Sudah banyak anjuran di dalam Al-Qur’an untuk melakukan penghayatan, mengambil pelajaran, memperhatikan dan berpikir. Bukan rahasia lagi, bahwa berpikir itu merupakan kunci cahaya dan dasar bagi pengamatan. Berpikir merupakan jaring ilmu dan wadah bagi berbagai pengetahuan dan pemahaman. Kebanyakan orang sudah mengetahui keutamaan dan tingkatannya, tetapi tidak mengetahui hakikat buah dan sumbernya, demikian al-Ghazali mengatakan.

Ibnu Qayyim berkata tentang tafakur, “Dasar kebaikan dan keburukan itu bermula dari pemikiran. Sebab pemikiran merupakan dasar timbulnya kehendak dan tuntutan dalam kezuhudan, pengingkaran, kecintaan maupun kebencian. Pemikiran yang paling bermanfaat mengenai kemaslahatan akhirat dan cara memperolehnya, serta pemikiran untuk menghindari kerusakan-kerusakan akhirat dan cara menjauhinya. Empat pemikiran inilah yang merupakan bentuk pemikiran terbesar. Disamping itu ada pula empat pemikiran yang lain. Yaitu, pemikiran mengenai kemaslahatan dunia dan cara memperolehnya, serta pemikiran mengenai kerusakan-kerusakan dunia dan cara mewaspadainya.

Pada delapan bagian inilah, pemikiran orang-orang yang berakal bermuara. Dan yang paling utama pada bagian pertama adalah memikirkan berbagai karunia dan nikmat Allah, perintah dan larangan-Nya, jalan untuk mengenal Allah, nama-nama dan sifat-sifat-Nya dari Al-Qur’an dan Sunnah serta segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah dan Rasul-Nya. Pemikiran ini akan membuahkan hasil berupa kecintaan dan pengetahuan bagi orang yang melakukannya. Jika memikirkan tentang akhirat, mengagungkan secara berkesinambungan serta memikirkan tentang dunia dengan kerendahan dan kefanaannya, maka akan tumbuh dalam dirinya hasrat yang sangat kuat terhadap kehidupan akhirat dan bersikap zuhud terhadap dunia. Semakin giat ia memikirkan tentang keterbatasan kesempatan dan sempitnya waktu, maka kesungguhan dan kerja kerasnya akan semakin meningkat, serta akan muncul keinginan untuk memanfaatkan waktunya secara optimal.

Ayat-ayat di dalam Al-Qu’an yang berkaitan dengan anjuran berpikir (menghayati) tentang ayat-ayat Allah yang dibaca

Kitab (Al-Qur’an) yang Kami turunkan yan Kami turnkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran (QS Shad[38]29

Maka apakah mereka tidak memperhatikan (menghayati) Al Quran ataukah hati mereka terkunci? (QS Muhammad [47[24])

Ayat-ayat di dalam Al-Qu’an yang berkaitan dengan anjuran berpikir tentang ayat-ayat (tanda-tanda kekuasaan) Allah di penjuru Alam

Penciptaan langit dan bumi, peredaran malam dan siang, sungguh merupakan bukti-nukti kebenaran adanya Allah bagi ulul albaab, orang yang mau memikirkan kehidupan akhirat, yaitu orang-orang yang mau mengingat Allah ketika berdiri duduk atau berbaring dan mau memikirkan penciptaan langit dan bumi. Mereka berdoa, “Wahai Tuhan kami, semua ini Engkau ciptakan dengan tidak sia-sia. Mahasuci Engkau dari berbuat sia-a-sia, karena itu selamatkanlah kami dari adzab neraka. (QS Ali Imran[3]190-191)

Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan anjuran berpikir tentang berbagai nikmat dan kerunia Allah, diantaranya;

Wahai manusia, Allah adalah Tuhan yang telah menciptakan Adam dari tanah. Kemudian Allah menciptakan kalian dari setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah. Kemudian Allah keluarkan kalian menjadi bayi. Kemudian kalian dijadikan dewasa. Kemudian sebagian dipanjangkan umurnya sampai tua. Di antara kalian ada yang dimatikan pada usia baya. Agar kalian mencapi umur yang ditentukan. Semoga kalian mau berpikir dengan benar (QS Al-Mukmin [40]67)

Wahai Muhammad, katakanlah kepada semua manusia. “Apa pendapat kalian sekiranya Allah menjadikan malam terus menerus sampai hari kiamat? Adakah tuhan selain Allah yang dapat menciptakan siang bagi bagi kalian? Mengapa kalian tidak mendengar seruanku? Wahai Muhammad, katakanlah kepada semua manusia. “Apa pendapat kalian sekiranya Allah menjadikan siang terus menerus sampai hari kiamat? Adakah tuhan selain Allah yang dapat menciptkan malam bagi kalian untuk beristirahat? Mengapa kalian tidak mau memikirkan kebenarn seruanku?”Hanya karena rahmat Tuhanmu, Allah menjadikan malam dan siang bagi kalian, agar dapat beristirahat dan mencari karunia-Nya dan alian mempergunakan nikamt-Nya pada jalan yang diridhaoi-Nya (QS Al-Qashash[28]71-73

Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan anjuran berpikir tentang jiwa dan intropeksi terhadapnya, diantaranya;

Wahai orang-orang mukmin! Bertakwalah (taatlah) kepada Allah. Hendaklah setiap orang menyiapkan diri untuk kehidupan akhiratnya. Bertakwalah (taatlah) kepada Allah. Allah Maha Mengethaui apa saja yang kalian lakukan. (QS Al-Hasyr[59]18)

Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun. (QS Fahtir [35]37)

Ayat-ayat di dalam Al-Qur’an yang berkaitan dengan anjuran berpikir tentang hakikat dunia

Demikian Allah menjelaskan tentang ayat-ayat-Nya (syariat-Nya) dengan rinci kepada kalian, supaya kalian mau memikirkan hakikat (kebahagiaan) di dunia dan akhirat QS Al-Baqarah[2]219-220)

Negeri akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa (taat) kepada Allah dan bertauhid, tetapi mengapa kalian tidak mau memikirkan dengan baik?  (QS Al-A’raf[7]169)

Kehidupan dunia ini bagi orang-orang kafir hanyalah bersenang-senang dan hiburan. Padahal kehidupan akhirat jauh lebih baik bagi orang-orang yang takut akan siksa Allah. Wahai manusia, mengapa kalian tidak mau menggunakan akal kalian untuk memahami betapa pentingnya menyiapkan bekal akhirupan akhirat? (QS Al-An’am[6]32)

Keutamaan dan anjuran berpikir dalam sunnah Rasulullah saw

Berpikirlah tentang nikmat-nikmat Allah dan jangan berpikir tentang Allah swt (HR Thabrani)

Ibunda Aisyah menceritakan pada suatu malam, beliau bersabda, “Wahai Aisyah biarkan aku malam ini beribadah kepada Tuhanku.” Aku berkata, “Demi Allah aku benar-benar suka berdekatan denganmu dan menyukai apa yang menyenangkanmu. Ibunda Aisyah lantas berkata “Kemudian beliau bangkit dan bersuci, lalu mengerjakan shalat. Beliau menangis terus hingga pangkuannya basah. Beliau tetap manangis hingga jenggotnya basah. Beliau tetap menangis hingga membasahi tanah. Tak lama Bilal mengumandangkan adzan, Bilal melihat beliau menangis, bertanya, ‘Ya Rasulullah, kenapa engkau menangis padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu baik yang sudah berlalu maupun yang akan datang. Beliau menjawab

Bukankah aku suka menjadi hamba yang bersyukur? Telah turun satu ayat kepadaku malam ini, celakalah orang yang membacanya tapi tidak memikirkannya

Penciptaan langit dan bumi, peredaran malam dan siang, sungguh merupakan bukti-nukti kebenaran adanya Allah bagi ulul albaab, orang yang mau memikirkan kehidupan akhirat, . (QS Ali Imran[3]190)

Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah kubur, namun tleh diperkenankan bagi Muhammad untuk berziarah kubur ibunhya, maka berziarahlah ke kubur, sebab ziarah kubur itu mengingatkan kalian pada akhirat (HR Muslim & Tirmidzi)

Orang yang berzikir (ingat) kepada Allah dalam keadaan sendirian lalu air matanya bercucuran (HR Bukhari & Muslim)

Shalatnya Rasulullah saw pada malam hari, “Bahwasanya Rasulullah saw membaca (ayat) secara perlahan-lahan. Jika beliau mendapati ayat yang di dalamnya terdapat tasbih, beliau bertasbih, jika mendapti ayat yang didalamnya terdapat permohonan, beliau berdoa, dan jika mendapati ayat yang didalamnya terdapat perlindungan, beliau memohon perlindungan.

Generasi salaf mengenai keutamaan dan anjuran berpikir

Ibnu Qayyim berkata, “Jika ia membacanya dengan berpikir hingga jika ia membaca satu ayat di butuhkannya untuk kesembuhan hatinya, maka ia pun mengulanginya meskipun sampai seratus kali dan meskipun hingga satu malam. Sebab, membaca ayat dengan memikirkan dan memahami itu lebih baik daripada membaca hingga khatam tapi tanpa penghayatan dan pemahaman, lebih bermanfaat bagi hati serta lebih mudah untuk menggapai keimanan dan merasakan manisnya membaca Al-Qur’an

Hasan Basri berkata Berpikir sesaat itu lebih baik daripada shalat semalaman.

Fudhail berkata, “Pemikiran itu adalah cermin yang memperlihatkan kepadamu kebaikan-kebaikan dan keburukan-keburukanmu

Dari Ka’ab, ia berkata, ‘Siapa ingin menggapai kemuliaan akhirat, hendaknya ia memperbanyak berpikir dan dengannya ia menjadi orang yang berilmu. Ridha terhdap makanan yang mencukupinya dalam satu hari, niscaya ia menjadi orang yang kaya, dan hendaknya banyak menangis saat ingat dosa-dosanya, niscaya Allah memadamkan panasnya api neraka Jahanam darinya.”

Dari Isa a.s. bahwasanya ia berkata, “Berbahagialah orang yang perkataannya menjadi peringatan, diamnya berupa pemikiran dan pandangannya sebagai pelajaran.

Luqman Al-Hakim berkata, “Sesungguhnya kesendirian yang lama itu dapat memunculkan pemikiran dan lamanya pemikiran merupakan tanda diketuknya pintu surga.”

Dari Ibnu Abbas ia berkata, “Waktu dua rakaat yang sedang (tidak lama dan tidak cepat) yang digunakan berpikir itu lebih baik daripada shalat satu malam dengan hati yang lalai.

Wahab bin Munbah berkata, “Tidaklah sekali-sekali pemikiran seseorang itu panjang melainkan ia paham, tidaklah sekali-kali seseorang itu paham melainkan ia mengetahui, dan tidaklah sekali-kali seorang itu mengetahui melainkan ia mengamalkannya.

Mughits Al-Aswad berkata, “Berziaralah ke kubur pada setiap hari dan  berpikirlah. Saksikan kejadian dengan hati kalian, lihatlah yang bergegas pergi pada dua golongan, ada yang ke surga dan ada pula yang ke neraka, serta buatlah hati dan tubuh kalian menjadi ingat terhadap neraka dengan berbagai macam siksaan dan tingkatannya.

Hasan Basri diberi secangkir air agar digunakan untuk berbuka. Begitu mendekatkan secangkir air itu ke mulutnya, ia langsung menangis dan berkata, “Saya teringat harapan penduduk neraka yang mengatakan, “Tuangkan sedikit air kepada kami (QS Al-A’raf[7]50) dan aku juga teringat jawaban yang mereka terima, “Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang yang kafir (QS Al-Araf[7]50)

Syekh Ibnu Tamiyah ra berkata, “Siapa yang menghayati Al-Qur’an seraya mencari pentunjuk darinya, maka tampak jelas baginya jalan kebenaran.

Disebutkan Sufyan Ats Tsauri sedang duduk di majlis, lalu lampu mati hingga kegelapan memenuhi kamar. Setelah itu mereka menyalakan lampu dan mendapatkan air mata Sufyan mengalir deras sekali. Mereka bertanya, mengapa? Dia menjawab, “Saya mengingat alam kubur.”

Manusia wajib merutinkan dan melamakannya karena ia akan menyampaikan kepada keridhaan Allah, kelapangan dada, ketenangan hati, melahirkan rasa takut kepada Allah, mewariskan ilmu, menghasilkan pikiran dan nasihat dari perjalanan hidup orang-orang yang terdahulu. Inilah tafakur, ia merupakan amalan hati yang agung. Kita memohon kepada Allah semoga Dia menjadikan kita semua sebagai orang-orang senantiasa berpikir, orang-orang yang berakal dan orang-orang yang mengambil pelajaran amin (Abu Azzam)

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s