Arti Kebahagiaan

Dalam konteks manusia, manusia terbagi menjadi dua yaitu manusia yang bahagia dan manusia yang sengsara.

Allah Swt berfirman, ketika hari itu datang, tidak seorang pun yang berbicara, kecuali dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang sengsara dan ada yang yang berbahagia. Maka adapun orang-orang yang sengsara, maka tempatnya di neraka, disana mereka mengeluarkan dan menarik nafas dengan merintih, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi akhirat masih ada, kecuali orang-orang yang telah selesai menjalani adzab neraka sesuai kehendak Tuhanmu. Sungguh apapun kehendak Tuhan-Mu pasti terlaksana dengan sempurna. Dan adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam surga; mereka kekal di dalamnya selama langit dan bumi akhirat masih ada. Tetapi ada orang yang telah selesai menjalani adzab neraka kemudian masuk surga sesuai kehendak Tuhanmu. Sungguh apapun kehendak Tuhan-Mu pasti terlaksana dengan sempurna Qs. Huud [11]” 105-108)

1

Kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim cenderung lebih umum, komprehansif dan lebih sempurna dari kebahagian yang dicari oleh semua orang di berbagai belahan dunia atau diceritakan oleh para filosof, pakar sosial dan pakar lainnya. Kebahagiaan yang dicari oleh seorang muslim adalah ridha Allah dalam kondisi senang dan susah serta saat bersemangat dan lemah, kebahagiaan sepenuh hati dan jiwa sekalipun saat fakir dan sakit, kebahagiaan yang menjunjung tinggi perintah Allah yang merupakan puncak kebahagiaan seorang hamba di dunia dan Akhirat.

Bagi seorang hamba, tidak ada yang lebih bermanfaat di dunia dan akhirat daripada menjunjung tinggi perintah Tuhannya. Hanya orang yang menjunjung tinggi perintah Allahlah yang akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Raghin Al Ishfani dalam bukunya, Al Mufradat berkata, “Kebahagiaan adalah bantuan ilahi untuk manusia demi mencapi kebaikan.” Jadi, orang yang bahagia adalah orang mukmin yang mendapat taufik untuk melakukan segala kebaikan dan meninggalkan segala kemungkaran. Ia adalah orang yang dikehendaki Allah dalam ketaatan kepada-Nya, bersyukur dalam kesenangan dan bersabar dalam kesusahan. Ia juga tahu bahwa tempat kembali dan tempat mengadu hanyalah Allah, sehingga hatinya penuh dengan ridha kepada-Nya dan hati nuraninya mendorongnya untuk mencari kebahagiaan di dunia dan akhirat.

Kebahagiaan hakiki adalah karunia dari Allah yang diberikan kepada orang yang dikehendaki-Nya. Kita tidak akan mampu mendapatkan sesuatu yang berada di sisi-Nya kecuali dengan jalan taat kepada-Nya.

Ibnu Qayyim menuturkan, Ada beberpa ulama berkata, “Aku sering merenungi perbuatan orang-orang yang berakal, ternyata semua perbuatan mereka mempunyai tujuan, walau cara yang digunakan untuk menggapainya berbeda-beda. Motif mereka sama, yakni untuk menyingkirkan kesusahan dan kesengsaraan diri. Ada yang melakukannya dengan makan dan minum, berniaga dan menulis, menikah dan mendengar lagu, serta menggunakan hiburan serta permainan sesat.

Namun berbagai cara yang mereka gunakan justru mendamparkan mereka kepada lawan dari tujuan mereka. Sebab, cara yang mampu membuat pelakunya menggapai dan mengutamakan ridha-Nya. Orang yang melakukan cara ini, sekalipun tidak mendapatkan apa-apa di didunia, pasti akan mendapatkan bagian yang amat berharga di akhirat. Tidak ada yang lebih bermanfaat bagi seorang hamba daripada cara ini dan tidak ada yang lebih mampu memberi kelezatan, kegembiraan, dan kebahagiaan daripada cara ini. Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita.4

Ibnu qayyim juga berkata Allah telah memutuskan satu keputusan yang tidak bisa diubah untuk selama-lamanya. Akibat baik hanya ada dalam ketakwaan dan ganjaran baik hanya diperuntukkan bagi orang yang bertakwa. Hati ibarat lauh (lembaran) kosong sedangkan niat dan kata hati ibarat pahat yang menggoreskan tulisan diatas lembaran itu. Apakah pantas seorang yang berakal membiarkan lembaran hatinya digoreskan oleh dusta, tipu daya dan fatamorgana absurd? Kebijaksanaan, ilmu dan petunjuk mana yang selaras dengen membiarkan tulisan ini?

Firman Allah, “Wahai manusia, ketahuilah bahwa orang-orang yang menjadi kekasih Allah tidak mempunyai rasa takut menghadapi siksa akhirat dan rasa sedih kehilangan kesenangan dunia. Para kekasih Allah adalah orang-orang yang beriman dan selalu taat kepada Allah. Mereka mendapatkan kabar gembira di dunia dan di akhirat kelak. Semua janji Allah tidak ada yang berubah. Itulah kemenangan yang besar bagi kaum mukmin yang ikhlas hanya kepada Allah adalah orang yang paling lapang dadanya, serta paling gembira hatinya. Inilah surga dunia sebelum ia mendapatkan surga akhirat.”

Ibnu Qayyim melanjutkan, “Jangan anda kira bahwa firman Allah Swt yang berbunyi, “Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan dan sesungguhnya orang-orang yang durhaka benar-benar berada dalam neraka. (QS. Al Infithaar [82] 13-14)

Hanya dimaksudkan pada kenikmatan dan neraka Akhirat, tapi sebenarnya juga termasuk pada tiga fase kehidupan manusia yaitu dunia, dialam barzakh dan di surga. Bukankah kenikmatan hakiki adalah di hati dan bukankah adzab hakiki itu adalah adzab di hati? Adzab mana yang paling hebat dari ketakutan kegundahan, kesedihan, kesempitan, berpaling dari Allah, melupakan hari akhirat, bergantung kepada selain Allah dan putusnya hubungan dengan-Nya? Adzab mana yang paling hebat dari ketakutan, kegundahan, kesedihan, kesempitan, berpaling dari Allah, melupakan hari akhirat, bergantung kepada selain Allah dan putusnya hubungan dengan-Nya?

 Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya.  Maka masuklah ke dalam jama’ah hamba-hamba-Ku,  masuklah ke dalam surga-Ku. (QS Al-Fajr[89]27-30)

Ibnu Qayyim berkata lagi, “Sebaik-baik isi dunia adalah mengenal dan mencintai-Nya. Hal terlezat yang ada di dunia adalah melihat-Nya dan meyaksiakan-Nya. Mencintai-Nya dan mengenal-Nya adalah penyejuk mata, kelezatan jiwa, kebahagiaan hati, dan kenikmatan serta keksenangan dunua. Bahkan, kelezatan dunia tanpa cinta dan mengenal Allah dapat berubah menjadi kesedihan, siksa dan kesempitan. Jadi, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali dengan ridha Allah swt.

Beliau mengatakan lagi, “Tidak ada sesuatu pun yang telah bermanfaat bagi seorang hamba selain menghadap kepada Allah, sibuk menyebut ridha-Nya, merasakan kenikmatan-Nya serta mengutamakan ridha-Nya. Bahkan, tidak ada kehidupan dan kenikmatan tanpa ridha-Nya, serta tidak ada kegembiraan dari kesenangan kecuali dengan ridha Allah swt.

Orang-orang yang berbakti kepada Alah akan selalu berada dalam kenikmatan, sekalipun mereka sulit dan menghimpit. Sedangkan orang-orang yang fasik akan berada di neraka terus disksa, sekalipun dunia terasa luas bagi mereka.

Kebahagiaan itu ada pada perbuatan baik, Allah telah berjanji barangsiapa berbuat baik dan beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, maka ia akan hidup dengan kehidupan yang baik di dunia. Dan Allah akan membalas segala perbuatan baiknya di dunia dengan balasan yang berlipat ganda di akhirat. Allah swt berfirman

“Siapa saja yang beriman dengan benar dan beramal shalih dengan penuh keimanan, baik laki-laki atau perempuan. Kami pasti akan memberikan kehidupan yang baik kepadanya. Kami akan memberi balasan kepada meeka dengan pahala yang lebih baik daripada amal shalih mereka. (QS An-Nahl[16])

Akan tetapi jika sebaliknya berpaling dari Allah atau berpaling dari peringatan Allah maka akan diadzab dengan kehidupan yang sempit.

Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”.(QS Thaaha[20]124)

Ayat tersebut sifatnya umum sebab dituangkan dalam bentuk kalimat transitif verbal yang memerlukan obyek.

Sebenarnya, walaupun orang yang berpaling dari peringatan Allah itu hidup dalam berbagai kenikmatan di dunia, namum sebenarnya ia hidup dengan hati yang penuh kegeliasahan, kehinaan dan kerugian, akibat kecenderungan fatamorgana dan bayangan adzab yang akan menimpa meeka. Namun, itu semua tertutup oleh gelombang syahwat dan mabuk cinta dunia atau jabatan, walaupun mereka tidak mabuk minuman keras masih membuka peluang pelakunya untuk sadar, sedangkan mabuk karena hawa nafsu dan cinta dunia tidak akan menyadarkan pelakunya kecuali ketika ia sudah bearda di ambang kematian.

Kehidupan yang terasa sempit akan dirasakan oleh orang yang menghindar datangnya peringatan Allah, yang telah diturunkan melalui Rasululllah saw bagi kepentingan duniawinya, alam kuburnya dan hari kiamatnya.

Dalam surat Yasain disebutkan beberapa orang baik yang pernah datang dari kota yang jauh. Ia ingain menindaklanjuti pelurusan risalah yang pernah disampaikan oleh para Rasul, namun justru di bunuh oleh orang-orang kafir

Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu”. Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?  Mengapa aku akan menyembah tuhan-tuhan selain-Nya jika (Allah) Yang Maha Pemurah menghendaki kemudharatan terhadapku, niscaya syafa’at mereka tidak memberi manfaat sedikitpun bagi diriku dan mereka tidak (pula) dapat menyelamatkanku? Sesungguhnya aku kalau begitu pasti berada dalam kesesatan yang nyata. Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu; maka dengarkanlah (pengakuan keimanan)ku. Dikatakan (kepadanya): “Masuklah ke surga”. Ia berkata: “Alangkah baiknya sekiranya kamumku mengetahui. (QS Yaasiin[36]20-27)

Maka Allah mengadzab mereka orang-orang kafir setelah mereka membunuh orang shalih itu. Allah swt berfirman, Dan kami tidak menurunkan kepada kaumnya sesudah dia (meninggal) suatu pasukanpun dari langit dan tidak layak Kami menurunkannya. Tidak ada siksaan atas mereka melainkan satu teriakan suara saja; maka tiba-tiba mereka semuanya mati. (QS Yaasiin[36]28-30)

Saudaraku, apakah kaum yang berbuat aniaya seperti itu akan bahagia dengan kekufuran mereka? Apakah orang yang disebutkan dalam surah Yaasiin tersebut akan sengsara dengan ketaatannya dengan Allah?

Ketika Ibnu Taimiyah dimasukkan penjara di sebuah benteng, beliau membaca, “Kemudian malaikat memasang pintu pembatas antara kaum muslim dan kaum munafik. Bagian dalam pintu itu penuh rahmat, tetapi bagian luarnya penuh adzab (QS Al-Hadiid[57]13)

Kemudian beliau meneruskan ucapannya dengan penuh ketenangan dan keluhuran yang tinggi dan mengagumkan, “Apa yang akan dilakukan oleh musuh-musuhku terhadapku? Sesungguhnya surgaku dan tamanku ada di dalam hatiku, yang beliamana aku bepergian keduanya selalu menyertaiku. Sesungguhnya dalam diriku terdapat Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Jika kalian membunuhku maka kematianku adalah syahid. Jika kalian mengasingkanku maka maka kepergianku adalah rekreasi. Jika kalian memenjaraku maka penjaraku adalah tempat berkhalwat dengan Allah. Hakikat seseorang tahanan sebenarnya adalah orang yang terhalang dari Tuhan-Nya. Dan sesungguhnya orang yang ditawan adalah orang bisa menahan hawa nafsinya. Beliau sering berdzikir bada Sholat subuh sampai terbit matahari, dan berkata ini adalah sarapanku, jika aku tidak sarapan, aku akan lemas. (Abu Azzam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s