Membiasakan berbuat baik

DSCN2397Saudaraku, Memulai perbuatan baik, membiasakan diri beramal shalih, awalnya selalu berat. Sama seperti memutar sebuah roda, yang pasti memerlukan tenaga lebih besar saat putaran pertama. Tapi untuk putaran kedua, ketiga, dan seterusnya, tenaga yang diperlukan akan lebih sedikit. Dan akhirnya putaran roda itu bisa berjalan, bahkan tanpa memerlukan tenaga untuk memutarnya.

Bagaimana beratnya memulai bangun malam? Bagaimana beratnya memulai puasa sunnah? Atau bagaimana beratnya mengangkat kaki untuk melakukan sholat di awal waktu berjamaah dimasjid, apalagi sholat subuh saat musim hujan dan dingin? Bagaimana beratnya memulai membaca Al-Qur’an? Bagaimana juga saat melakukan dzikir pagi dan sore? Tapi yakinlah, semuanya itu selalu hanya akan terasa berat pada saat kita baru memulainya. Jika sudah dimulai kondisinya bahkan akan berbalik, justru kita akan sulit meninggalkan kebiasaan-kebiasaan baik tadi.

Tidak heran, bila Umar bin Khatab ra pernah mengatakan, “Saat hati seseorang bersih, maka ia tidak akan merasa puas membaca Al-Qur’an. Begitu pula jika sudah menjadi rutin, maka perasaan tidak puas sperti yang dikatakan Umar bin Khatan tadi, berarti orang itulah yang justru merasakan tidak nyaman jika harus meninggalkan amal-amal ibadah yang biasa dilakukannya.

3Saudaraku, Allah SWT dan Rasulullah SAW ternyata juga sangat memuji orang yang meruntinkan amal-amal shalih. Sesuatu yang paling disesali Rasulullah adalah bila waktunya terbuang sia-sia. Bila ia lupa mengingat Allah, maka penyesalan dan keperihan hatinya melebihi kegundahan hati orang yang kehilangan hartanya.

Rasa sesal itu segera dibayar oleh Rasulullah SAW saat ia bisa melakukannya. Seperti dikisahkan Aisyah RA, Nabi SAW melakukan ibadah malam dengan tertidur atau sakit, siangnya beliau melakukan shalat dua belas rakaat (HR Ahmad dan Muslim). Rasulullah SAW juga mengatakan, “Dijadikan kesenanganku pada saat melakukan shalat (HR. Ahmad)

Saudaraku jangan menunda-nunda tanpa melakukan persiapan untuk kematian. Umur kita terlalu singkat. Jadikan tarikan nafas adalah udara yang terakhir kita hirup. Lalu kematian akan menjemputmu. Kematian seseorang akan terjadi dalam keadaan dimana ia biasa melakukan sesuatu ketika hidup. Dan ketika dibangkitkan di akhirat maka ia juga akan dibangkitkan dalam situasi itu juga.

Apa yang menjadi kebiasaan kita selama menjalani hidup? Agar yang selalu kita utamakan melewati jenak-jenak hidup kita? Jika seseorang akan dimatikan oleh Allah sesuai dengan kebiasaan yang kita lakukan selama hidup, bagaimanakah akhir hidup kita? Jika seseorang dibangkitkan Allah di ahirat sebagaimana kondisinya saat meninggal dunia, bagaiamana keadaan kita saat di bangkitkan di akhirat?5

Saudarakau, Allah itu Pencemburu, “Sesungguhnya Allah cemburu dan seorang mukmin juga cemburu. Kecemburuan Allah adalah jika seorang mukmin melakukan apa yang dilarang-Nya.” (HR. Bukhari Muslim)

Cemburu bila hamba-Nya justru mementingkan yang lain, selain-Nya. Cemburu bila hamba-Nya enggan dan malas melakukan sekedar bangun malam dan sholat di sepertiga malam. Cemburu bila melihat hamba-Nya justru lebih sering mengingat yang lain , selain-Nya.

Cemburu bila mendapati hamba-Nya melakukan kemaksiatan di tengah limpahan nikmat dan karunia-Nya. Cemburu bila mendapati hamba-Nya melanggar perintah-Nya. Hamba yabg mencintai Allah juga akan cemburu sesuai kadar cinta pada yang ada pada dirinya. Jika rasa cemburu tidak tersisa dalam hati, berarti cinta telah pergi, seklipun lisan seorang mengaku cinta hinhha berbusa.

Adalah dusta, bila ada yang mengaku cinta pada seseorang tapi ia tidak cemburu saat kekasihnya disakiti orang lain atau malah ia yang menyakitinya dan melecehkannya. Bagaimana mungkin seorang hamba mengaku cinta pada Allah sedang ia tidak cemburu dengan melanggar apa yang diharamkan Allah?

Saudaraku, “Barangsiapa yang menginginkan pertemuan dengan Allah maka Allahpun menginginkan pertemuan dengannya. Barangsiapa yang enggan menginginkan pertemuan dengan Allah maka Allah tidak suka bertemu dengannya (HR. Ahmad)

Tak ada seorang yang tahu kapan ia mati. Setiap kita harus berdoa agar bisa meraih khusnus khatimah. Kebiasaan beribadah dan beramal halih, akan sangat menolong kita unutk bisa merasakan hidup yang baik. Simaklah nasihat Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang berangkat ke tempat tidur dengan niat shalat malam, namun ia dikalahkan oleh kantuk kedua matanya hingga subuh, maka Allah akan mencatatkan pahala atas niatnya dan tidurnya dinilai sebagai sedekah (HR. Nasai)

Mohonlah pada Allah agar kita diringinkan oleh Allah SWT untuk selalu mengutamakan ibadah dan amal-amal shalih. Bermunajatlah pada Allah, agar kita senantiasa diberi kekuatan untuk lebih memuliakn cinta kepada-Nya dari cinta-cinta kepada yang lain. Semoga hingga akhir bhidup, kita tetap berada dalam naungan cinta kepada Allah SAW.

Apabila Allah menghendaki bagi seorang hamba suatu kebaikan, niscaya ia memperkerjannya, Rasulullah saw bersabda, Apabila Allah menghendaki bagi seorang hamba satu kebaikan, niscaya Ia memperkerjannya. Ditanya, “Apa yang dipekerjakan kepadanya? Beliau bersabda, Allah membukakan kesempatan beramal saleh baginya saat menjelang kematiannya sehingga yang disekitarnya meridhainya (HR Ahmad & Al-Hakim)

Umar bin Khatab ra sangat paham akan arti khusnul khatimah, beliau sangat sadar bahwa mati syahid adalah amal ibadah yang tertinggi. Sehingga beliau saat masih hidup selalu berdoa. Thabrani dan bin Asakir meriwayatan dari Qois bin Abi Hazem bahwa suatu hari Umar bin Khatab r.a berkhutbah di atas mimbar Nabi saw, di antra isinya, “Sesungguhnya di surga Adn terdapat satu istana yang memilik lima ratus pintu, di setiap pintu terdapat lima ribu bidadari. Tidak seorang pun dapat masuk melalui pintu tersebut kecuali seorang nabi (Umar menoleh ke kubur Nabi saw sambil berkata) sungguh engkau beruntung wahai Rasulullah saw. (Setelah nabi) adalah Abu Bakar Ash Shiddiq, kemudian Umar menoleh kepada ke kubur Abu Bakar, setelah Abubakar adalah orang yang mati syahid. Kemudian ia menoleh kepada dirinya sendiri sambil berkata, “Kapankah engkau akan mati syahid, wahai Umar? Sesungguhnya Tuhan yang pernah mengusirku dari Makkah untuk hijrah ke Madinah adalah Tuhan yang menganugerahkan mati syahid kepadaku.”

Hafsah meriwayatkan bahwa Umar r.a. pernah berdoa, “Ya Allah berikan aku mati syahid dan mati di Madinah! Harfsah bertanya, “Apakah mungkin hal itu terjadi? Umar r.a. menjawab, “Jika Allah menghendaki pasti terjadi!

Saudaraku, bercermin kepada genarasi salafus shalih umat ini, dimana mereka telah menorehkan contoh-contoh yang mengagumkan dalam memanfaatkan waktu, detik-detik umur dan setiap hembusan nafas untuk amal kebajikan. Dengan mengetahui jalan hidup orang-orang saleh dan kesungguhan mereka mereka dalam memanfaatkan detik-detik umur mereka dalam ketaatan, memiliki pengaruh besar dihati seorang muslim, yaitu pengaruh dalam menumbuhkan dan membangun gairah untuk memanfaatkan waktu dan memaksimalkan deti-detik usia dalam perkara-perkara yang mendekatkannya kepada Allah. Mari kita telusuri kisah indah dan uniknya mereka dalam memaksiamalkan waktu:

Para genarasi salafus shaleh umat ini sangat bersemangat untuk menjaga waktu hingga dalam keaadaan sakit dan sakratul maut

Al Biruni, (362H—440H), seorang ahli ilmu falak dan ilmu eksakta, ahli sejarah, dan menguasai lima bahasa yaitu bahasa Arab, Suryani, Sanskerta, Persia dan India. Saat detik-detik terakhir hidup beliau, tetap mempelajari masalah faraidh (waris). Lalu seorang berkata kepada beliau, layakkah engkau bertanya dalam kondisi seperti ini? Beliau menjawab, kalau aku meninggalkan dunia ini dalam kondisi mengetahui ilmu dalam persoaalan ini, bukankah itu lebih baik dari pada aku hanya sekedar dapat membayangkannya saja, tidak tahu ilmu tentangnya. Tidak lama setelah itu beliau wafat.

Ibrahim bin Jarrah berkata, “Imam Abu Yusuf Al Qadli rahimahullah sakit. Saya Menjeguknya. Dia dalam keadaan yang tidak sadarkan diri. Ketika tersadar, dia berkata kepadaku, ‘hai Ibrahim, bagaimana pendapatmu dalam masalah ini?’ Saya menjawab, ‘Dalam kondisi ini seperti ini?’ Dia menjawab, ‘Tidak apa-apa, kita terus belajar. Mudah-mudahan ada orang yang terselamatkan karenanya.’ Lalu aku pulang. Ketika aku baru sampai di pintu rumah, aku mendengar tangisan. Ternyata ia telah wafat.”

Syaikh Ibnu Taimiyah selalu menelaah dan memetapi pelajarannya saat beliau sakit atau berpergian. Ibnu Qayyim berkata, Syaikh kami Ibnu Taimiyah pernah menuturkan kepadaku, “Ketika suatu saat aku terserang sakit, maka dokter mengatakan kepadaku,‘Sesungguhnya kesibukan anda menelaah dan memperbincangkan ilmu justru akan menambah parah penyakitmu’. Maka saya katakan kepadanya, ‘Saya tidak mampu bersabar dalam hal itu. Saya ingin menyangkal teori yang engkau miliki. Bukankah jiwa merasa senang dan gembira, maka tabiatnya semakin kuat dan bias mencegah datanya sakit?’ Dokter itu pun menjawab, ‘Benar.’ Lantas saya katakan, ‘Sungguh jiwaku merasa bahagia dengan ilmu, dan tabiatku semakin kuat dengannya. Maka, saya pun mendapatkan ketenangan.’ Lalu dokter itu menmpali, ‘Hal ini diluar model pengobatan kami.’

Imam al junaid sebelum wafat, tetap beristiqamah melaksanakan ibadah meski dalam kondisi susah payah. Di hari Jumat, di hari wafatnya, Imam Al Junaid masih berusaha untuk membaca Al-Qur`an, hingga para sahabat beliau Abu Muhammad Al Jurair merasa kasihan, dan menyampaikan kepada Al Junaid,  ”Kasihanilah dirimu sendiri”. Imam Al Junaid pun menjawab, ”Aku tidak melihat orang yang lebih membutuhkan Al-Qur`an lebih dari diriku untuk saat ini. Ia lah yang memenuhi lembaran amalanku.”

Di saat hendak wafat, Imam Al Junaid juga berusaha untuk melaksanakan shalat dengan duduk, sedangkan kedua kaki beliau bengkak. Melihat betapa susahnya beliau melakukan gerakan shalat, para sahabat beliau pun menyampaikan,”Ada apa ini wahai Abu Qasim?!” Imam Al Junaid pun menjawab,  ”Ini adalah nikmat dari Allah, Allahu Akbar…”

Setelah selesai Shalat, Abu Muhammad Al Jurair menyampaikan, ”Anda bisa mengerjakannya dengan berbaring.” Imam Al Junaid pun menjawab, ”Wahai Abu Muhammad, ini adalah waktu mempertanggungjawabkannya.”

Saat  Ibnu Atha’, sahabat Al Junaid datang dan mengucapkan salam, Imam Al Junaid tidak langsung menjawabnya, melainkan beberapa saat setelah itu. Kemudian beliau  menyampaikan, ”Maafkan aku, tadi aku sedang membaca wiridku.” Kemudian beliau menghadapkan wajah ke kiblat kamudian wafat.

Di waktu sebelum wafat, Imam Al Junaid telah menghatamkan bacaan Al Qur`an kemudian memulai lagi membaca Al Baqarah hingga 70 ayat. (Lihat, Ath Thabaqat Al Auliya, hal. 134)

IBNU BABISYADZ adalah ulama nahwu juga perawi hadits yang wafat tahun 469 H. Para ulama mengkisahakan peristiwa wafat ulama Mesir ini. Kala itu Ibnu Babisyadz melakukan penela’ahan terhadap Al Qur’an selama 17 tahun untuk mengkaji makna dan hukumnya di masjid Amr bin Ash.

Saat itu beliau sampai kepada surat Alhakumuttakatsur, dan beliau menela’ah huruf demi huruf sambil menaiki tangga ke atas atap masjid. Tanpa disangka, tiba-tiba beliau terjatuh dari tangga dan meninggal di waktu itu. Semoga Allah merahmti. ( Ad Durar Al Muanadzdzam fi Ziyarah Jabal Al Muqaththam, hal. 283)

Begitulah kecintaan dan keasyikan seorang ulama ketika menyelami makna Al Qur`an, hingga dalam kondisi apapun enggan meninggalkannya, meski saat naik tangga.*

Amir bin Abdullah saat meregang nyawa ia mendengar azan ia berkata angkatlah aku, mereka bertanya mau kemana? Tanya orang-orang? Kemasjid! Dalam kondisi seperi ini seperti ini? Ia, menjawab Subhanallah, apakah aku tidak menjawab azan padahal aku mendengar, kemudian mereka memapah Amir bin Abdullah, beliau sempat sholat satu rakaat sja ia mati dalam keadaan sujud.

Ketika kematian datang menghampiri, Ibnu Taimiyah berkata kepada orang yang membacakan al-Qur’an di sisinya, “Bacakan al-Qur’an. Syahkhul Islam tersebut meninggal ketika al-Qur’an yang dibacakan untuknya sampai pada ayat Orang-orang yang bertakwa kepada Allah masuk kedalam surga yang mempunyai taman-taman dan sungai-sungai. Penghuni surga duduk di tempat-tempat yang disenangi di sisi Allah, Maharaja yang memiliki kekuasaan tak terkira besarnya (QS Al-Qamar [54]54-55)

Di saat Perang Badar Rasulullah saw, memberi motivasi, “Bersegeralah kalian meraih surga yang luasnya seluas hamparan langit dan bumi. Mendengar motivasi Rasul, sahabat Umar bin al-hammam al-anshari berkata, “Wahai Rasul. Benarkah luas surga itu seluas hamparan langit dan bumi? Rasul menjawab, Ya Benar, “Demi Allah. Tidak lain hanya saya hanya berharap semoga saya termasuk penghuni surga.

Rasul bersabda, “Kamu adalah salah satu penghuni surga.

Kemudian Umar mengeluarkan beberapa butir kuma dari kantong yang dibawanya. Ia memakannya beberapa butir saja kurma yang ia bawa. Kemudian ia berkata, “

Kalau nanti saya mempunyai kesempatan untuk menghabiskan butir-butir kurma ini, maka bagi saya rentang waktu itu adalah rentang waktu yang cukup panjang.” Kemudian ia terjun ke medan perang dan tidak lama kemudia ia mati syahid di tengah-tengah berkecamuknya peperangan.

Dalam perang Uhud, Abdullah bin Jahsy menemui Saad bin Abi Waaqqash, dan berkata, tidakkah engkau berdoa kepaa Allah? Kemudian Saad bin Abi Waqqash berdoa, Ya Rabbi, jika aku berhadapan dengan musuh, maka pertemukanlah aku dengan seorang yang kuat dan perkasa agar aku dapat menyerangnya dan dia pun menyerangku, kemudian berikanlah kepadaku kemenangan atas dirinya, hingga aku membunuhnya dan mengambil barang rampasannya. Abdullah bin Jahsy mengamini doa Sa’ad.

Setelah itu giliran Abdullah bin Jahsy giliran berdoa, Ya Rabbi datangnlah kepadaku musuh yang kuat lagi perkasa agar aku dapat menyerangnya karena Engkau dan dia menyerangku, hingga hidung dan telingaku putus? Jika kelak aku bertemu Engkau, lalu Engkau bertanya, “Karena apa hidung dan telingamu putus? Akan kujawab “Karena Engkau dan Rasul Engkau. Lalu Engkau berfirman, “Kamu benar.”

Setelah berbicara dengan Saad, Abdullah bin Jahsy menemui Rasulullah dan berkata, “Wahai Rasulullah, sebagaimana yang engkau lihat orang-orang Qurasiy itu sudah bersiap-siap. Sementara aku sudah memohon kepada Allah dan Rasul-Nya. Lalu Abdullah mengisahkan apa bunyi doanya tadi, karena Abdullah memohon kepada Rasullullah agar mengurus warisannya. Dan, Rasul pun mengiyakan.

Saad berkata kepada anaknya ketika menceritakan kejadian itu, “Wahai anakku, doa Abdullah bin Jahsy lebih baik dari doaku. Pada siang harinya aku benar-benar melihat hidung dan telinga Abdullah bin Jahsy tergantung disebuah tali.

Musthafa As Sibaai kondisi sakit yang berkepanjngan selama delapan tahun. Ia senantiasa sabar menghadapi ujian tersebut, tak pernah mengeluh, ridho dengan apa yang menimpanya, tahmid, tasbih dan istighfar senantiasa menghiasi bibirnya siang dan malam. Penyakitnya sama sekali bukan suatu penghalang bagi dirinya dalam menyampaikan dakwah.

Dalam satu ungkapan As Sibaai kepada sahabatnya berkata, “Aku dalam keadaan sakit, jelas aku merasakan sakitnya. Dan anda pun dapat melihatnya dari roman wajahku, dan dari tanganku yang tak dapat bergerak. Tapi lihatlah keagungan himah Allah di balik semua itu. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa mentakdirkan aku menjadi orang yang lumpuh…Tapi, perhatikan bagian mana yang lumpuh? Allah telah melumpuhkan bagian tubuhku sebelah kiri dan membiarkan bagian tubuh kananku tetap bergerak. Dapatkah aku tetap menulis kalau Allah mentakdirkan tubuh bagian kananku juga mengalami kelumpuhan?

Allah telah melumpuhkan bagian tubuhku sebelah kiri dan membiarkan bagian tubuh sebelah kananku tetap bergerak. Dapatkah aku tetap menulis kalau Allah mentakdirkan tubuh bagian kananku juga mengalami kelumpuhan?

Bahkan sehari sebelum wafatnya, ia masih sempat menulis tiga tulisan, Al Ulama Al Aulia, Al Ulama Al Mujahidun dan Al Ulama Asy Syuhada. Bagaimana dengan kita???

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s