Futur

IMG_20141222_053626Futur adalah lambat, malas dan santai setelah bersungguh-sungguh, rajin dan semangat. Futur adalah penyakit yang menyerang para ahli ibadah, para juru dakwah dan para penuntut ilmu. Jika ssorang telah sudah terkena penyakit ini maka menjadi lemah, lamban dan malas. Bahkan bisa jadi akan putus setelah sebelumnya bersungguh-sungguh, punya samangat dan rajin.
Orang-orang yang kena penyakit ini ada tiga golongan
a. Golongan yang setelah futur mereka terputus dari amalan sama sekali. Ada banyak orang yang masuk golongan ini.
b. Golongan yang terus dalam keadaan lemah dan lamba namun tidak sampai terputus amalnya. Kebanyakan orang yang futur masuk golongan ini.
c. Golongan yang setelah futur mereka kembali lagi ke amalnya seperti sedia kala. Yang masuk golongan ini sedikit sekali.
Fenomena futur
Bermalas-malasan di dalam beribadah dan melaksanakan ketaatan
Ini adalah keadaan orang-orang munafik. Mereka adalah manusia yang paling malas, paling futur, dan paling jauh menghindar dai keaatan kepada Allah
Orang-orang munafik selalau menyangka bahwa Allah dapat ditipu. Padahal sebenarnya orang-orang munafiklah yang tertipu. Padahal sebenarnya orang-orang munafikah yang tertipu oleh anggapan mereka sendiri. Apabila orang-orang munafik shalat, mereka malakukan dengan bermalas-malasan, karena sekedar ingin mencari pujian manusia. Hanya sedikit sekali kaum munafik yang mau mengingat Allah (QS An-Nisa [4]142)
Allah menolak derma mereka, karena merka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka melakukan shalat dengan rasa malas, dan mendermakan haranya karena terpaksa. (QS AT-Taubah [9]81)
Kaum munafik yang tidak mau turut berperang untuk membela Islam merasa senang. Mereka tidak menyukai jihad dengan harta dan jiwa mereka untuk membela Islam. Kaum munafik berkata kepada kaum mukmin, “Janganlah kalian pergi berperang saat hawa panas.” Wahai Muhammad, katakanlah kepada mereka “Api Jahanam lebih panas jika kalian mau menyadari.” (QS AT-Taubah [9]81)
Rasulullah saw bersabda, “Shalat yang terberat bagi orang-orang munafik adalah shalat Subuh dan Isya. Senadainya mereka mengetahui rahasia yang ada pada keduanya, niscaya mereka akan menatanginya walau harus merangkak” (HR Bukhari Muslim)
Maknanya, shalat yang lain pun diras berat oleh mereka, bukan hanya keduanya. Termasuk bentuk fenomena ini, lali dari membaca Al-Qur’an, dan dzikir. Terasa berat untuk melaksankannya lantas ditinggalkan.
Hati terasa gersang dan keras
Bacaan Al-Qur’an dan nasehat yang diberikan tidak berpengaruh (tidak efek) lagi bagi hati. Dosa-dosa dan kemaksiatan telah menutupinya dari mendaptkan faedahnya
“Yang apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat Kami, ia berkata: “Itu adalah dongengan orang-orang yang dahulu” Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka. (QS Al-Muthaffifin 83]14)
Dan akhirnya hatinya keras sekali seperti batu bahkan lebih keras lagi seperti orang yahudi
“Kemudian hatimu menjadi keras, sehingga hatimu seperti batu, bahkan lebih keras lagi (QS Al-Baqarah 74)

Keras hatinya itu sampai ketingkatan tidak dapat mengambil pelajaran dari kematian atau adanya orang yang mati. Dia melewati pekuburan, namun dia merasa tidak terjadi apa-apa. Padahal sebenarnya kematian itu sudah cukup menjadi pemberi peringatan.
Yang lebih parah dari itu, saat dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an saat diperdengarkan ayat-ayat tentang janji dan ancaman, sudah tidak lagi ketakutan
Cukuplah kamu berikan peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapa saja yang mau takut terhadap ancaman siksa-Ku di akhirat (QS Qaa[50]45)
Orang-orang mukmin yang sebenarnya yaitu mereka yang gemetar hatinya ketika medengar nama Allah disebut. Dan iman mereka semakin kuat ketika Al-Qur’an dibacakan kepada mereka. (QS Al-Anfaal[8]2)
Merasa tidak bertanggung jawab terhadap beban yang ada di pundaknya.
Allah menawarkan tanggung jawab melaksanakan syariat Allah kepada langit, bumi dan gunung. Akan tetapi mereka semua menolak untuk menerimanya. Mereka merasa sangat berat menerima tanggung jawab itu. Akan tetapi manusia mau menerima tanggung jawab melaksanakan syariat Allah itu. Sungguh manusia itu suka menzhalimi dirinya sendiri lagi tidak pandai mengukur kemampuan dirinya sendiri. (QS Al-Ahzab 72)
Malas dan futur yang disebabkan oleh faktor fisik, bukan hati
Orang yang tertimpa penyakit ini sebenranya senang beribadah dan suka melaksanakannya. Bahkan dia bersedih jika melewatkannya. Namun, dia tetap dalam malas dan futurnya. Sekian malam berlalu, dia begitu ingin mengisinya dengan qiyamulail, tetapi dia tidak juga mengerjakannya, padahal dia berjaga tidak tidur, dan sadar. Dia juga berkata kepada diri sendiri, “Aku akan mengkhatamkan Al-Qur’an seakali setiap bulannya. Namun, sekian bulan berlalu, tidak sekalipun dia menghatamkannya. Dia pun senang puasa sunnah, namun jarang sekali dia melakukannya.
Inilah kedaan banyak kaum Muslimin yang tertimpa penyakit ini. Di antara mereka ada orang-orang shalih, ada orang-orang yang memperturutkan syahwatnya, dan ada pula orang-orang fasik
Wahai orang mukmin, mengapa kalian merasa sangat keberatan ketika diperintahkan kepada kalian, “Pergilah berjihad guna membela Islam? Apakah kalian lebih mencintai dunia daripada kehidupan akhirat? Padahal kesenangan dunia hanyalah sangat sedikit jika dibandingkan dengan kesenangan di akhirat. (QS At-Taubah 38)
Sebab Futur
Pertama, berlebihan dalam Din (Agama).
Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, (QS An-Nisa 171)

Allah tidak membebani seseorang melebihi kemampuannya. (QS Al-Baqarah 286)

Allah tidak membuat syariat agama yang memberatkan kalian. (QS Al-Hajj 78)

Jauhilah berlebih-lebihan dalam menjalankan agama. Hanyasanya berlebih-lebihan dalam menjalankan agama telah membinasakan orang-orang sebelum kalian (HR Nasai)

“Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim).

Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu. “Lakukanlah amal sesuai dengan kemampuanmu kerana sesungguhnya Allah tidak merasa bosan sehingga kamu sendiri merasa bosan. Sesungguhnya amalan yang paling disukai Allah ialah yang dilakukan secara rutin walau pun sedikit.” (HR. Bukhari & Muslim).
Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah.
Allah berfirman, “Makan dan minumlah, tapi jangan berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS Al A‘raf: 31).

Ketiga, memisahkan diri dari jamaah.
Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari jamaah). Jauhnya seseorang dari jamaah membuatnya mudah dimangsa syetan. Rasulullah bersabda: “Syetan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (HR. Ahmad).
Keempat, sedikit mengingat akhirat.
Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingatakan adanya hisab atas setiap amalnya. Sebaliknya, sedikit mengingat akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal.Ini disebabkan tidak adanya pemicu amal,yaitu untuk mendapatkan pahala di sisi Allah. Rasulullah bersabda: “Sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Para shahabat bertanya, “Apa yang Anda lihat wahai Rasulullah?” Aku telah melihat indahnya surge dan ngerinya neraka.” (HR. Muslim).
Kelima, masuknya barang haram ke dalam perut.
Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram. “Barangsiapa menjaga diri dari syubhat, maka ia telah melindungi agamanya dan kehormatannya. Dan barangsiapa terjerumus dalam syubhat, maka ia bisa terperosok dalam keharaman.” (HR. Bukhari no. 52, dan Muslim no. 1599).
Keenam, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan.
Wahai orang-orang beriman, sungguh di antara istri-istri dan anak-nak kalian ada yang merintangi kalian berjuang membela agama Allah. Karena itu berhati-hatilah kalian menghadapi mereka (QS Al At-Taghaabun: 14).
Wahai kaum mukmin, ketahuilah bahwa harta kalian dan anak-anak kalian hanyalah ujian keimanan bagi kalian, Allah mempunyai pahala yang amat besar bagi orang yang beriman di akhirat (QS AL-Anfaal 28)
Ketujuh, bersahabat dengan orang-orang yang lemah. Rasulullah bersabda:
“Seseorang sangat dipengaruhi teman dekatnya, maka hendaklah ia melihat (selektif) dengan siapa ia berteman.” (HR. Abu Daud).
Kedelapan, halangan dan rintangan
Jalan dakwah adalah jalan yang terbentang mulus bagi siapa saja yang hendak melewatinya. Allah telah mengingatkannya dalam firman-Nya
Wahai kaum mukmin, apakah kalia mengira bahwa kalian akan masuk surga? Padahal Allah belum membuktikkan siapa di antara kalian yang benar-benar berjihad dan rela berkurban untuk membela agama Allah (QS Ali Imran 142)
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat (QS Al-Baqarah 214)
Kesembilan, jatuh dalam kemaksiatan. .
Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi,sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Menjaga diri sendiri saja kesulitan, apalagi orang lain.
(Abu Azzam)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s