Keadaan orang-orang shalih ketika menghadapi kematian

Mu’awiyah Sufyan, seorang sahabat Rasulullah SAW dan juga seorang pemimpin umat Islam pada saat maut menghampirinya, dia berkata, “Dudukkanlah aku.” Lalu dia di dudukan oleh orang-orang yang ada disekitarnya, kemudian Mu’awiyah membaca tasbih dan mengingat Allah, lalu dia menangis dan di dalam batinya dia berkata, “Wahai Mu’awiyah, engkau baru mengingat Tuhanmu di saat setelah tua dan tidak berdaya, kenapa engkau tidak mengingat-Nya pada saat engkau masih muda dan gagah?” Setelah itu dia menangis hingga tangisannya tersebut terdengar keras seraya berkata, “Ya Tuhan, kasihanilah orang tua yang durhaka ini yang memiliki hati yang amat keras. Ya Allah, ringankanlah dosa dari kekeliruan dan ampunilah ketergelincirannya, dengan kemurahan hatimu hitunglah amal perbuatan orang yang tidak berharap selain kepada-Mu dan tidak percaya kepada siapapun selain Engkau ini.”

Diceritakan dari Khalifah Al-Abbas yaitu Harun Ar-Rasyid hidupnya digunakan untuk berperang dalam setahun dan menunaikan haji kain kafannya pada saat meninggal, dia melihat kain tersebut dan berkata, “Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaan dariku (QS. Al-Haqqah 28-29)
Khalifah Al-Makmum lalu meletakkan Harus Ar-Rasyid di atas tanah dan menidurkannya pada posisi miring seraya berkata, “Wahi Dzat yang kerajaannya tidak akan lengser, kasihanilah orang yang kerajaannya lengser.
Saudaraku Umar bin Khatab, sahabat Rasulullah saw yang dijamin masuk surga. Saat mau meninggal sangat kuatir kalau tidak akan masuk surga. Beliau menangis hingga Abdullah bin Abbas ra datang dan berkata, “Wahai Amirul Mukminin engkau telah masuk Islam pada saat orang-orang masih kafir dan engkau telah berjihad bersama Rasulullah saw pada saat orang-orang mengkhianati beliu, engkau terbunuh dalam keadaan syahid, dan hal itu tidak ada yang meragukannya, dan Rasulullah saw meninggal dalam keadaan meridhaimu. “Umar berkata, “Coba kamu tipu, demi Allah senadainya aku memiliki ufuk timur dan barat, pasti akan aku gunakan untuk menebus kengerian ajal. Subhanallah Umar begitu banyak melakukan kebaikan dan dijamin masuk surga masih takut? Bagaimana dengan kita akhi?

Umais al-Qarni berkata, “Jadikanlah kematian sebagai bantalmu saat kamu tidur dan jadikan ia pelupuk matamu. Jika kamu bangun berdoalah pada Allah untuk memperbaiki hati dan niatmu. Kamu tidak akan pernah mampu mengobati sesuatu yang lebih berat daripada hati dan niat. Adakalanya niatmu malah berpaling darimu dan adakalanya hatimu berpaling namun niatmu datang menghampiri. Dan janganlah kamu melihat kepada kecilnya dosa tetapi lihatlah kepada keagungan Dzat yang kamu maksiati.

Ibnu Muthi memandang rumahnya terkagum-kagum dengan keindahannya lalu ia menangis dan berkata Demi Allah jika tidak ada kematian niscaya aku senang denganmu. Jika kamu bisa menjadi penolong dari sempitnya kuburan niscaya kami senang dengan kehidupan duni kemudian ia menangis dengan keras

Muadz bin Jabal saat kematian mendatanginya diwaktu sahur, ia bertutur kepada putranya, “Keluarlah, apakah fajar telah terbit? Setelah anaknya itu melihat di langit, ia menjawab, “Belum. “Jawab puttranya. Apakah fajar telah terbit? Setelah anaknya itu melihat lagnit, ia menjawab, “Ya, fajar sudah terbut.” Maka ia berkata. “Ya, fajar sudah terbit. Maka ia berkata, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari subuh menuju ke neraka. Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa aku menyukai hidup bukan karena bercocok tanam, juga bukan karena mengalirkan sungai, atau membangun istana. Tetapi untuk apa engkau menyukai hidup, hai Abdurrahman Muadz bin Jabal? Aku menyukai hidup karena tiga hal; puasa di siang hari yang panas, qiyamulail dan berkumpul dengan orang-orang alim di majelis zikir.

Ruh hin Mudrik berkata, “Sekarang berbuat baiklah sebelum kamu sakit sehingga ringgkih (lemah), kamu tua sehingga rapuh, kamu mati lalu terlupakan kamu dikubur sehingga hancur, kamu dibangkitkan dan hidup kembali, kemudian kamu dihapadapkan dan diadili, menunggu dan menerima keputusan, atas apa yang kamu perbuat dan lakukan, kamu menghilangkan dan memusnahkan sesuatu yang merusak kejelakan-kejelekanmu syahfatmu. Sekarang berbuat baiklah saat kamu dalam keadaan sehat sejahtera

Umar bin Abdul Aziz melewati kuburan. Maka ia berkata, “Wahai kematian, apa yang engkau perbuat terhadap orang-orang yang dicintai? Manakah para kekasih tercinta itu? Mana dia rekan dan teman? Mana dia saudara dan ikhwan? Manakah pendampign dan pengawal…? Wahai maut apa engkau lakukan terhadap orang-orang yang kami cintai? Tidak ada seorang pun yang hadir menjawab. Lalu dia berkata dengan air mata bercucuran. “Tahukah kalian apa yang diucapkan oleh kematian? Orang-orang menjawab, “Tidak.” Umar berkata, “Kematian menyatakan; aku memakan kedua bola mata, aku melumatkan dua mata, aku telah memishkan telapak tangan dari lengan, dan aku telah memisahkan lengan dari bahu tangan”

Rabi’ ibn Khutsaim menggali sebuah kuburan di halaman rumahnya. Setiap kali merasa hatinya keras, dia langsung memasuki kuburan itu dan berbaring di dalamnya untuk beberapa lama berulang-ulang mengatakan,…ya Tuhanku kembalikan aku ke dunia mudah-mudahan aku selalu beramal shalih selama Engkau hidupkan aku (QS Al-Mu’minun 99-100) akhirnya dia berkata, “Hari Rabi’, kamu telah kebali ke dunia maka beramallah! Dia juga pernah berkata, “Seandainya ingatan tentang kematian pergi menginggalkan hatiku sesaat saja, nicaya hatiku hancur!

Bisyr bin al-Haristz al-hafi suatu saat ada yang menegur, “Tidakkah engkau beristirahat karena Allah dimalam hari walau sejenak? Beliau menjawab, “Rasulullah melaksanakan sholat kaki sampai bengkak-bengkak padahal beliau diampuni dosanya yang dulu dan yang kemudian, lalu bagaimana aku bisa tidur sedangkan aku tidak tahu, apakah Allah mengampuni dosaku atau tidak meski hanya satu? Beliau ditanya kenapa tidak tidur! Jawabny, “Aku takut kematian menjemputku saat tidur. Beliau berkata, “Bersegeralah-bersegerlah, sesungguhnya setiap saat diwaktu pagi dan malam pergi membawa umur!

Hasan Basri ketika memberi nasihat kepada orang-orang tua, “Wahai orang-orang yang lanjut usia! Apa yang dapat diperhatikan dari tanaman yang sudah matang? Mereka menjawab, “Sudah saatnya untuk di panan.” Wahai para pemuda! Sesungguhnya tanaman terkadang mendapt bencana hamas sebelum waktu panen tiba


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s