Mencintai Allah SWT Dan Mencintai Rasulullah SAW

embunMencintai Allah Subhaaanahu wa Ta’aala atas kecintaan terhadap hal-hal lainnya, merupaka suatu keharusan bia kita menginginkdan Dia selalau bersama kita. Dan inilah semestinya yang harus dimiliki oleh setiap mukmin, karena tanpa adanya rasa cinta yang kuat kepada-Nya, maka ada yang tidak beres dengan keimanan seseorang.

 

Allah berfirman
Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah (QS Al-Bawarah[2]: 165)
Wahai Muhammad, katakanlah kepada orang-orang mukmin, “Taatlah kalian kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika kalian mengingkari perintah atau larangan Allah dan Rasul-Nya, sungguh Allah tidak menyukai orang-orang kafir (QS Alimran [3] 32-32)


Al-Azhari berkta, “Kasih sayang seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menaati keduanya dan mengikuti keduanya. Sedangkan kasih sayang Alah terhdap hamba adalah dengan memberinya nikmat ampunan.
Cinta pada hamba yang sangat besar kepada Allah mendapatkan respon cinta yang semestinya dari Rabb mereka. Cinta mereka tidak berpepuk sebelah tangan, sebab Allah pun mencintai mereka. Mereka senantiasa mencintai dan merindukan Allah dan Allah pun selalu mencintai dan merundukan mereka. Senergi cnta antra hama dan Rabb-Nya ini, menghasilkan kekuatan yang maha dashyat. Sungguh, adakah senergi cinta lain yang lebih hebar dan dahsyat , dari perpaduan cinta para hamba kepada Allah dan cinta-Nya kepada para hamba.

Allah berfirman, “Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintainya. (QS Al-Maidah [5]: 54)
Allah sangat tidak suka bila cinta seorang hamba kepada-Nya berkurang kadarnya. Allah tidak mau diduakan dalam hal mencintai-Nya, dalam artian cinta hamba itu sejajar dengan cintanya kepada hal-hal selain diri-Nya, terlebih lagi bila kadar cinta si hamba dibawah standar yang semestinya. Oleh sebab itu bila kita berharap agar Allah senantiasa bersama kita, maka nikanlah kadat cinta kita kepada-Nya, diatas kecintaan kita terhadap hal-hal lain selain diri-Nya. Sikap ini merupakan suatu keniscayaan dan harus tetap dijaga dengan istiqamah hingga akhir hayat kita. Inilah cinta sejati seorang mukmin kepada Rabb-nya. Akan tetapi bila kadar cinta kita kepada-Nya benar-benar dibawah standar, maka sesungguhnya kita semkain jauh dari Allah. Kita semakin jauh dari rahmat, nikmat dan penjagaan dari-Nya. Dalam kondisi seperti ini, kita menjadi harus waspada, sehingga sebab boleh jadi ada virus-virus yang bersemayam dalam keiamanan kita, kita akan diazab dan tidak diberti hidayah,sebagaiaman firman Allah
Wahai Muhammad, katakanlah kepada kaum mukmin. “Jika bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara kaian, istri-istri kalian, kerabat-kerabat kalian, harta kekayaan yang kalian peroleh, perdagangan yang kalian khawatirkan kehancurannya dan tempat-tempat tinggal yang kalina senagi, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta jihad untuk membela agama-Nya maka tunggulah turunnya adzab Allah menimpa kalian.” Allah tidak memberi hidayah kepada kauam yang lebih mencintai kesenangan hidup di dunia (QS At-Taubah [9] 24)
Sesungguhnya para hamba yang memiliki kadar cinta sangat tinggi kepada Tuhannya, mereka tidak begitu resah dengan apa yang mereka dapatkan dari kehidupan dunia fana ini. Hal ini dikarenakan cinta mereka yang sangat besar kepada-Nya telah mencukupi mereka dari segala bentuk kelezatan dunia dengan segala isinya. Bagi mereka, kedekatan hubungan dan sinergi cinta antara mereka dengan Allah melebihi kenikmatan dan kekuatan apa pun yang ada didunia ini.
Sahl bin Abdullah berkata, “Tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah mencintai Al-Qur’an. Dan tanda-tanda orang yang mencintai Al-Qur’an adalah mencintai Nabi saw dan tanda-tanda orang mencintai Nabi adalah mencintai Sunah dan akhirat. Tanda-tanda orang yang mencintai dirinya adalah tidak mencintai dunia. Tanda-tanda orang yang tidak mencintai dunia adalah tidak mengambil sesuatu dari dunia tersebut ecuali hanya sekedar untuk bekal yang akan mengantarkannya kepada tujuan akhirat.
Ibnu Qayyim berkata, “Orang yang mencintai akhirat akan menjadikan kenikmatan dunianya sebagai sarana mencapi kenikmatan akhiratnya. Ia akan mengisi hatinya hanya dengan ibadah kepada Allah dan siap meninggalkan sebagian kenikmatan dunia untuk memperoleh kenikmatan akhirat.
Anas meriwayatkan Rasulullah saw bersabdam “Belum sempurna iman seseorang di antara kalian, hinga dia lebih mencintai aku melebihi cintanya kepada ayah, anak-anaknya dan semua manusia (HR Bukhari & Musim)
Abdullah bin Hisyam berkata, “Kami bersama Nabi saw, dia memegang tangan Umar bi Khatab, maka Umar berkata kepadanya, “Rasulullah, sungguh engkau lebih aku cintai daripada yang lainnya, kecuali diriku. Nabi saw bersabda, Tidak, demi Allah yang hidupku dalam genggaman-Nya, hingga aku lebih engkau cintai melebihi cintamu kepada diriu sendiri. Umar pun berkata, “Demi Allah, dari sekarang, engkau lebih aku cintai, bahkan melebihi cintaku kepada diriku sendiri.” Maka Nabi saw bersabda, “Sekarang Umat, maksudnya adalah sekarang wahai Umar imanmu telah sempurna.
Rasulullah saw pernah bersabda, “Seandainya aku hendak mengambil kekasih dari penduduk bumi ini, niscaya aku akan mengambil Abu Bakar dan Umat sebagai kekasihku. Akan tetapi , sahabat kalian itu telah menjadi kekasih Allah (HR Bukhari)
Saat Nabi Ibrahim as memohon kepada Alah swt agar dikaruniai anak, maka Allah pun mengabulkannya. Akan tetapi, kasih sayang Ibrahim kepada anaknya semakin kuat dalam kalbunya, sehingga cintanya kepada Allah pun menjadi bercabang. Allah cemburu kepada kekasih-Nya dan Dia tidak menghandaki dalam kalbu kekasih-Nya ada sedikit pun tempat untuk selain Dia. Kemudian Allah memerintahkan Ibarahim agar menyembelih putranya. Perintah penyelembihan tersebut disampaikan dalam mimpi agar dirasakan lebih terkesan sebgai ujian dan cobaan baginya. Tujuan penyembelihan tersebut, sesungguhna bukanlah dimaksudkan untuk menyebelih anaknya, tetapi lebih merupakan “penyelembihan” rasa cinta yang bersemayam dalam hati Ibrahim agar hatinya murni kepada Allah saja.
Kemudian ketika Nabi Ibrahim hendak melaksanakan perintah-Nya sebagai bukti bahwa ia lebih mengutamakan cintanya kepada Alah ketimbang cintanya kepada anaknya, maka tujuan semua dari perintah penyembilihan atas anaknya digagalkan. Allah lantas mengganti “penyelembihan” putranya itu dengan penyembelihan yang besar. Sebab, Allah tidak mungkin memerintahkan sesuatu tetapi kemudian tiba-tiba mengagalkannya secara langung. Dia pasti akan membiarkan sebagaimana atau menggantinya dengan yang lain, sebagaimana Allah meneruskan syariat qurban, disunahkannya sedekah dan diwajibkannya shalat lima waktu yang pahalanya sama dengan shalat lima puluh kali yang telah dihapuskan Allah dalam harist wudsi yang artinya, “Allah tidak akan mengubah ucapnnya sedikitpun. Shalat lima waktu yang dilakukan, sebanding pahalanya dengan sahalt lima puluh kali.
Nabi Ibrahim telah berhasil menghadapi ujian cintanya kepada Allah. Tidaklah heran bila Allah menyebut beliau sebagai kekasih atau kesayangan Allah, karena kadar cintanya yang sangat tinggi kepada-Nya, melebihi cinta beliau kepada anak, istri, harta dan lainnya. Allah berfirman, “Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya (QS An-Nisa [4]125)
Abdui ad-Dardi meriyatkan dari Rasulullah saw tentang firman Allah
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka iktilah aku, niscaya Allah akan mengasihi kalian (Ali imran [3] 31)

 
Beliau bersabda, “Untuk bebuat baik dan bertakwa, tawadhu dan merasa hina di hadapan Allah.
Nabi Saw juga bersabda, “Siapa yang ingin dicintai Allah, maka dia mesti jujur dalam berkata-kata, menuaikan amanah dan tidak menyakiti tetanggannya.
Nabi saw bersabda, “Bila seorang hamba dicintai olah Allah. Allah akan memanggil Jibril dan berkata “Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan, oleh sebab itu maka cintailah dia, maka Jibril pun mencitai, kemudian jibril akan memanggil semua penduduk langit, “Sesungguhnya Allah telah mencati si Fulan, oleh sebab itu maka cintailah dia, maka penduduk langit pun mencintainya, kemduian dia diterima oleh penduduk bumi (HR Bukhari)

 

Ibnu Qayyim berkata, Allah cemburu terhadap hamba-Nya, jika hati hamba itu tidak terisi cinta, ketakutan dan harapan kepada-Nya dan sebaliknya diisi dengan hal-hal lain selain Allah. Allah menciptakan hamba untuk menyembah-Nya dan memilihnya diantara semua makhluk-Nya, dalam sebuah atsar Ilahy disebutkan, “Wahai anak Adam, Aku menciptakanmu untuk Diri-Ku dan Aku menciptakan segala sesuatu untukmu. Dengan hak-Ku dan Aku menciptakanmu untuk Diri-Ku dan Aku menciptakan segala sesuatu untukmu. Dnegan hak-Ku atas dirimu, maka janganlah engkau menyibukkan diri dengan apa yang Kuciptakan bagi dirimu dan mengabaikan tujuan Kuciptakan dirimu.
Dalam atsar yang lain disebuatkan, “Aku menciptakanmu untuk Diri-Ku, maka janganlah bermain-main dan Aku menjamin bagi dirimu dengan rezeki-Ku, maka janglah merasa payah. Wahai anak Adam, carilah Aku niscaya engakau akan mendapati Aku. Jika Engkau mendapatkan Aku, niscaya engkau akan mendapatkan segala sesuatu. Jika Aku tidak mendapatkan dirimu, niscaya engkau tidak akan mendaptkan segala sesuatu. Aku lebih baik bagi dirimu dari segala sesuatu.
Ibnu Qayyim juga berkata, “Allah juga cemburu terhdap hamba-Nya, jika lidahnya tidak digunakan untuk menyebut nama-Nya dan sibuk menyebut nama selain Allah. Ia cemburu terhadap hamba-Nya jika anggota tubuhnya tidak digunakan untuk menaati-Nya dan sibuk untuk mendurhai-Nya. Buruk amat seorang hamba jika pelindungnya cemburu terhadap hati, lidah dan anggota tubuhnya. Padahal tidak seharusnya Dia cemburu terhadap semua itu.
Allah cemburu terhadap Nabi-Nya dan para sahabat jika orang-orang munafik pergi bersama meeka, lalu menyebarkan fitnah dikalangan mereka. Oleh sebab itu, Allah melemahkan keinginan mereka.
Dikisahkan bahwa Asy-Syibly pernah mendengar seorang qari sedang membaca ayat
Wahai Muhammad, jika kamu membaca Al-Qur’an. Kami pasang tirai penyekat antara dirimu dengan orang-orang yang tidak beriman kepada hari akhirat, sehingga hati mereka tidak bisa memahami {QS Al-Isra [17]45)
Asy-Syibly berkata, “kepada qari itu, “Tahukah kamu apakah tirai penyekat itu? Tirai penyekat itu adalah kecemburuan, dan tidak ada seseorang yang lebih cemburu dari pada Allah. Dengan kata lain, Allah tidak akan menjadikan orang-orang kafir sebagai orang-orang yang layak mengetahui-Nya.
Dan tidak perlu diragukan lagi bahwa mencintai akan mengikuti dan taat kepada yang dicintai. Dengan demikian, cinta hanya untuk Allah yang Mahamulia dan Mahatinggi dan untuk Rasul-Nya saw yang senantiasa medorong agar patuh terhadap semua perintah dan menghidari semua larangan Allah.
Sesungguhnya aku telah meningalkan dua pusaka untuk kalian, jika kalian berpegang teguhdengan keduanya, pasti tidak akan sesat untuk selama-lamanya; al-Qur’an dan Sunaahku dan kedua tidak akan berpisah hingga keduanya dihadapkan ke telaga (HR al-Hakim)

Abu Azzam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s