Jangan Mengulur Waktu

Hasan Basri menegaskan, ”Jauhi sikap mengulur-ulur karena kamu dengan harimu bukan dengan esokmu. Apabila kamu mempunyai hari esok hari, maka bersikap cerdiklah (manfaatkanlah), seperti kau bersikap cerdik di hari ini. Dan apakah hari esok di hari. Dan apabila hari esok bukan untukmu maka kamu tidak menyesal atas kelalaian di hari ini.

Tak Beramal Nganggur, Beramal Ujub, Mana yang Utama?

IMAM SYIHABUDDIN AS SUHRAWARDI adalah ulama shalih yang juga mufti dalam masalah amalan hati. Suatu saat datang kepada beliau pertanyaan,”Wahai Tuanku, jika aku meninggalkan amalan maka aku selamanya tidak memiliki amalan, namun jika aku beramal maka aku terjangkit ujub, maka mana yang lebih utama?” Imam As Suhrawardi pun menuliskan jawabannya,”Beramalah dan beristighfarlah dari ujub.” (Thabaqat Al Auliya, hal. 263

Mencari Ilmu Dimana Saja

Orang muslim harus selalu mencari ilmu pengetahuan. Mereka harus mengisi semua waktu untuk mencari ilmu. Baik pada waktu siang atau malam, berdiam atau sedang bepergian dan tidak sedikitpun waktu yang berlalu tanpa disertai dengan ilmu kecuali ada sesuatu yang sangat penting. Waktu makan dan minum dilakukan dengan secukupnya tanpa berlebihan (Imam Nawawi)

Menanam Kebaikan

Hari-hari didunia ini seumpama ladang tempat menanam dan manusia seolah diseru dengan perkataan, “Setiap benih yang kamu tanam hari ini akan berbuah seribu kali. Karena itu apakah orang yang berakal layak berhenti atau bermalas-malasan untuk menanam? Ketahuilah waktu tak layak disia-siakan sekalipun sesaat (sedetik) (Ibnu Jauzi)

 

Berhati-hatilah dengan kata-kata nanti

Sebab utama manusia menunda-nunda untuk melakukan amal kebaikan sebelum kematiannya adalah karena dirinya terpana dengan dunia dan kemewahannya. Hingga setan melupakan dan menguasai dirinya untuk menunda-nunda amal kebaikan. Dirinya terus menunda-nunda dan mengakhirkan amal kebaikan. Hingga akhirnya, dirinya disibukkan dengan berbagai macam kesibukkan. Yang lainnya hingga waktu-waktu yang bernilai baginya tercuri oleh kesibukannya. Maka dari itu, dia akan merasakan kesedihan di sepanjang masa.

Kebanyakan jeritan yang sering diucapkan para penghuni neraka adalah adalah “nanti atau akan.” Mereka berkata, “Oh, alangkah sengsaranya orang yang menunda-nunda amal kebaikannya.” Orang yang menunda-nunda amalnya adalah orang yang akan mendapatkan kesengsaraan. Mereka tidak tahu bahwa apa yang ditunda hari ini akan tetap bersamanya di esok hari. Penundaan hanyalah akan mengikatkan dan menenggalamkan dirinya lebih dalam lagi dengan duniawi.

Barangsiapa yang mengira bahwa orang yang tenggelam ke dalam dunia (kaya raya) maka dirinya akan memiliki banyak waktu kosong (untuk melakukan kabaikan). Anggapan seperti ini adalah ilusi belaka.”

Seorang ulama shaleh berkata, “Bagaimana mungkin orang yang berlimpahkan kemewahan memiliki banyak waktu kosong untuk melakukan amal kebaikan. Justru dirinya hanya akan semakin terlempar jauh dari kebaikan

 

Sholatlah Qiyamulail

Wahai orang yang hina karena kelalaian wahai orang yang tertipu oleh angan-angan. Bahtera umurmu tenggelam dilautan kemalasan . celakalah engkau!! Orang yang terbiasa tidur tidak akan melihat sesuatu kecuali mimpi-mimpi kapankah engkau akan membuka mata tekadmu. Wahai orang yang terlelap dalam tidur panjang. Apakah engkau tidak menghirup segarnya angin waktu sahur. Apakah engkau tidak mendapatkan dinginnya hawa fajar, tidakkah kau lihat cahaya uban, apakah engkau tidak merasa tersinggung oleh cercaan zaman (Ibnu Jauzi)

Lisan yang berdzikir

Ibnu qayyim al-jaiziyah menjelaskan : lisan hampir tidak bisa diam. Tidak terlepas dari dua macam lisan, lisan yang selalu berdzikir dan lisan yang berkata sia-sia. Ia pasti jatuh pada salah satu dari dua perkara diatas. Seperti jiwa, apabila tidak disibukkan dengan kebenaran pasti akan sibuk dengan kebatilan. Seperti halnya hati, jika tidak ditenangkan dengan cinta kepada Allah, niscaya ia akan tenang dengan cinta kepada makluk dan itu pasti. Demikian pula halnya lisan, jika tidak disibukkan dengan dzikirullah pasti sibuk dengan perkara yang sia-sia. Itu pasti engkau alami. Pilihlah bagi dirimu salah satu dari dua pilihan diatas, tempatkanlah pada salah satu dari dua tempat tersebut

Perumpamaan dunia

Perumpamaan dunia ialah seperti seorang yang menyiapkan rumah, menghiasinya dan melengkapinya dengan segala interiornya dan isinya. Manusia diundang ke rumah tersebut. Setiapkali tamu masuk, ia dipersilahkan duduk diatas sofa yang mewah dan empuk, dihidangkan dengan piring mewah yang terbuat dari emas diatasnya makanan yang paling enak seperti daging, disuguhkan didepannya dengan tempat-tempat yang mewah, didalamnya terdapat apa saja yang yang dibutuhkannya dan dilayani oleh pegawainya. Orang yang berakal memahami bahwa itu semua ialah perhiasan pemilik rumah tersebut kemudian ia menikmati perabotan tersebut dan jamuannya. Ia tidak menggantungkan hatinya dengan rumah tersebut dan tidak menyuruh hatinya untuk memiliki perabot-perabot rumahnya. Hubungan dirinya dengan tuan rumah adalah sebatas hubungan tamu. Ia duduk di tempat yang ia disuruh duduk didalamnya, makan apa yang dihidangkan kepadanya dan tidak menanyakan yang lain. Ia menyadari tuan rumah begitu baiknya,begitu mulianya dan apa yang ia perbuat terhadap para tamunya. Jadi ia masuk ke rumah tersebut dalam keadaan mulia, meninggalkan dalam keadaan terhormat dan meninggalkan rumah dalam keadaan terhormat dan mulia dan sipemilik rumah tidak akan mencelanya.

Adapun orang bodoh ia berbicara dengan jiwanya untuk menetap di rumah tersebut, semua isi rumah berpindah tangan kepadanya, mengendalikannya sesuai dengan syahwatnya dan keinginannya. Ia menginginkan ruang pertemuan hanya dikhususkan untuk dirinya untuk memilikinya dan hanya sendiri yang diberikan. Pemilik rumah melihat yang ia perbuat dengan kemuliaan akhlaknya menghalangi untuk mengusirnya dari rumah. Tamunya dengan penuh keyakinan menguasai semua isi rumah, mengendalikan rumah dan semua isi rumahnya yang ada didalam sebagaimana pemiliknya menetap didalamnya dan menjadikan sebagai rumahnya, tiba-tiba pemilik rumah mengirim pegawainya kemudian mereka mengeluarkan dengan paksa, merampas apa yang ia sembunyikan dan tidak mendapatkan sedikitpun dari isi rumah. Ia mendapat marah besar, murka besar sama pemilik rumah, pegawai-pegawai dan pelayannnya. Sebagai orang bodoh dan tamu yang tidak tahu diri.

Abdullah bin masud berkata,”Setiap orang didunia ini adalah tamu dan kekayaannya adalah pinjaman. Setiap tamu itu pergi dan pinjaman itu harus dikembalikan!

Hasan Al Bari mengatakan,”Jangan terperdaya dengan gedung dan tempat yang bagus. Karena tak ada tempat yang lebih baik dari surga. Dan dahulu di dalam surga kita Adam as pernah hidup di surga, tapi lihatlah kondisi akhirnya! Jangan terperdaya dengan banyak ibadah yang engkau lakukan. Karena iblis dulu juga melakukan ibadah, bagaimana keadaan selanjutnya! Jangan terperdaya dengan kagum melihat orang shalih. Karena tak ada orang yang lebih mulia dari Rasulullah saw, tapi ternyata orang-orang kafir dan munafiq tidak mengambil manfaat dari kemuliaan Rasulullah

Umpamakan dunia itu sebagai perempan penyusu dan akhirat sebagai seorang ibu. Tidakkah kalian melihat bayi yang berada dalam asuhan perempuan penyusu, setelah tumbuh dewasa dan mengenal ibunya, dia akan meninggalkan perempuan penyusu itu dan kembali pada pelukan ibunya? Sesugguhknya akhirat adalah ibu kalian yang hampir saja menarik kalian.

Malik bin Dinar berkata, “Sesunggunya Allah menjadikan dunia sebagai negeri pelarian dan akhirat sebagai negeri tempat menetap, maka berbekallah untuk negeri tempat menetap kalian dan keluarkanlah dunia dari hati-hati kalian sebalum badan kalian keluar darinya (mati). Janganlah kalian membuka aib-aib kalian di hadapan Dzat yang mengetahui semua rahasia kalian. Kalian dihidupkan didunia, tetapi untuk selainnya (akhirat). Hanyasanya permisalan dunia seperti racun. Orang yang tidak mengetahaui akan memakannya dan orang yang tahu akan menjauhinya. Dunia ibarat ular, jika disentuh lembut tetapi di dalam mulutnya ada racun yang mematikan. Orang-orang yang berkal akan mewaspadainya, sedangkan anak kecil akan mendatangi dan mempermainkan uluar itu dengan tangan-tangan mereka.

 

Nasehat al ghazali

Wahai anak! Nasehat itu mudah, yang sulit adalah menerimanya; karena terasa pahit oleh hawa nafsu yang menyukai segala yang terlarang. Terutama dikalangan penuntut ilmu yang membuang-buang waktu dalam mencari kebesaran diri dan kemegahan duniawi. Ia mengira didalam ilmu yang tak bersari itulah terkandung keselamatan dan kebahagiaan, dan ia menyangka tak perlu beramal. Inilah kepercayaan filsul-filsuf.

Ia tidak tahu bahwa ketika ada pada seseorang ilmu, maka ada yang memberatkan, seperti disabdakan Rasulallah saw: “Orang yang berat menanggung siksa di hari kiamat ialah orang yang berilmu namun tidak mendapat manfaat dari ilmunya itu.”

Wahai anak! Janganlah engkau hidup dengan kemiskinan amal. Yakinlah bahwa ilmu tanpa amal semata-mata tidak akan menyelamatkan orang. Jika disuatu medan pertempuran ada seorang yang gagah berani dengan persenjataan lengkap dihadapkan dengan seekor singa yang galak, dapatkah senjatanya melindungi dari bahaya, jika tidak diangkat, dipukulkan dan ditikamkan? Tentu saja tidak akan menolong, kecuali diangkat, dipukulkan dan ditikamkan. Demikian pula jika seseorang membaca dan mempelajari seratus ribu masalah ilmiah, jika tidak diamalkan maka tidaklah akan mendatangkan faedah.

Wahai anak! Berapa malam engkau berjaga guna mengulang-ulang ilmu, membaca buku, dan engkau haramkan tidur atas dirimu. Aku tak tahu, apa yang menjadi pendorongmu. Jika yang menjadi pendorongmu adalah kehendak mencari materi dan kesenangan dunia atau mengejar pangkat atau mencari kelebihan atas kawan semata, maka malanglah engkau. Namun jika yang mendorongmu adalah keinginan untuk menghidupkan syariat Rasulallah saw dan menyucikan budi pekertimu serta menundukkan nafsu yang tiada henti mengajak kepada kejahatan, maka mujurlah engkau. Benar sekali kata seorang penyair, “Biarpun kantuk menyiksa mata, Akan percuma semata-mata jika tak karena Alloh semata”.

Wahai anak! Hiduplah sebagaimana maumu, namun ingat! bahwasanya engkau akan mati. Dan cintailah siapa yang engkau sukai, namun ingat! engkau akan berpisah dengannya. Dan berbuatlah seperti yang engkau kehendaki, namun ingat! engkau pasti akan menerima balasannya nanti.

Wahai para pencari ilmu,

jadikanlah engkau seperti ini

Imam An-Qawai Rahumullah berkata, “Orang muslim harus selalu mencari ilmu pengetahuan. Mereka harus mengisi semua waktu untuk mencari ilmu. Baik pada waku siang dan malam, berdiam atau sedang bepergian, dan tidak ada sedikitpun waktu yang berlalu tanpa disertai dengan ilmu kecuali ada sesuatu yang sangat penting. Waktu untuk makan dan minum dilakukan dengan secukupnya tanpa berkelebihan.

Contoh-contoh amalan lain seperti istirahat sebentar dilakukan untuk menghilangkan rasa capai. Istirahat dari rasa capai dan lelah adalah suatu keharusan namun jangan berlebihan.

Ibnu Jauzi Rahimamullah berkatam “Malas untuk melakukan kebaikan adalah teman yang paling jelek. Cinta istirahat akan menghasilkan penyesalan yang akan menghilangkan semua kenikmatan. Bersungguh-sungguhlah dalam menempa jiwamu. Menyesallah atas kelalaianmu yang telah berlalu panjang. Cepatlah beribadah selagi kemauan masih bergelora, ingatlah hari-harimu yang telah kamu sia-siakan, maka hal itu cukup menjadi nasehat, menjauhkan dirimu dari hinanya kemalasan dan hilangnya kemuliaan.

Imam Ahmad berkata, “Banyak pemuda yang terlena dengan masa mudanya. Pada mulanya, mereka mempunyai kemauan dan kemampuan yang besar namun akhirnya hilang ditelan masa tua

Rumah dibawah bumi atau rumah diatas bumi?

Anak adam mempunyai dua rumah hunian; Rumah hunian yang berada di atas bumi dan rumah hunian yang berda di bawah bumi. Mereka berusaha mempercantik dan memperindah rumah hunian yang berada di atas bumi, mereka membuat pintu-pintu menghadap sebelah kiri, pintu-pintu menghadap sebelah kanan dan mereka berusaha membuat penghangat untuk musim dingin dan membuat pendingin (sekarang ac) untuk musim panas. Kemudian berusaha membuat rumah hunian yang berada di bawah bumi, ternyata malah merusaknya. Lalu ada yang datang berkata, “Sudahkah kamu berfikir? Rumah yang berada di atas bumi sementara kamu bangun dengan megah. Berapa lama kamu tinggal di dalamnya? Dia menjawab, “Tidak tahu secara persis. Dan sedangkan rumah hunian berada di bawah bumi kamu rusak, berapa lama kamu akan tinggal di tempat itu? Dia menjawab, “Aku akan tinggal di tempat itu hingga hari kiamat.” Maka orang tersebut berkata kepadanya, “Bagaimana kamu bisa merasa tidak bersalah dengan tindakanmu itu, sementara kamu seorang hamba yang berakal sehat?” (Abdullah bin Aizar)

Percaya Diri

Ibnu Jauzi mengatakan, “Tidak berarti apa-apa, bunuhlah jiwa seseorang dengan membunuh perasaannya, rendahkanlah ia, menganggap kecil fungsi dan nilai perannya. Sebab seseorang yang telah merasa berkecil hati tidak akan dapat menghasilkan karya yang besar, tidak pula dapat diharapkan kebaikan yang lebih besar. Perasaan rendah diri akan mengakibatkan seseorang tidak punya percaya diri, tidak mempunyai keyakinan akan kemampuan dan kekuatannya. Apabila melakukan perbuatan, ia akan merasa ragu akan kemampuan dan keberhasilannya. Walaupun berusaha untuk menebus kegagalan tersebut, ia akan tetap gagal. Kepercayaan terhadap diri sendiri mempunyai peran yang besar dalam membentuk jiwa seseorang, karena kepercayaan diri itulah yang menjadi penyangga utama dalam diri seseorang untuk menggapai keberhasilan dalam setiap usaha dalam kehidupan. Antara kepercayaan diri dengan kecongkakan atau kesombongan yang merupakan sikap tercela, sangatlah berbeda, perbedaan antara keduanya adalah bahwa kecongkakan hanya menyandarkan jiwanya pada khayalan-khayalan dan kesombongan yang menipunya, sedangkan kepercayaan diri sendiri diri mendasarkan jiwanya pada kemampuan diri sendiri dan bertanggung jawab atas setiap keputusan yang diambil dan perbuatan yang dilakukan, meningkatkan ketrampilan yang dimiliki dan memperbaiki persiapan-persiapan untuk meriah kesuksesan.

Ukurlah dengan amal shaleh

Qatadah berkata,”Harta benda dan anak-anak mereka adalah tipu daya Allah swt, maka jangan sekali-kali kamu mengukur manusia melalui harta dan anaknya, ukurlah dengan keimanan dan amal shalihnya

Harta Haram

Sofyan ats Tasuri berkata,”Orang yang menggunakan harta haram untuk meraih ketaatan (dari Allah swt) diumpamakan seperti orang yang mencuci pakainnya dengan air kencing. Pakain tersebut hanya dapat disucikan dengan air bersih, seperti doa yang dihapus dengan sesuatu yang halal.

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s